FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

August 22, 2007

“Pusaran” Angin Puting Beliung adalah “Pusaran” Kontemplasi Kehidupan

Filed under: Artikel — admin @ 5:43 pm

Tulisan ini merupakan sebuah jurnal kontemplasi dalam mata kuliah Spiritualitas Kristen
Oleh : Jimm Song

Waktu itu hari Minggu, saya dan beberapa teman sedang berada di Auditorium untuk mempersiapkan ibadah Kampus yang akan dilaksanakan Senin besoknya. Tetapi persiapan itu malah terbengkalai oleh angin puting beliung yang menghantam banyak sekali gedung-gedung di sekitar daerah Lempuyangan. Saya dan teman-teman masih melihat angin itu seperti pusaran berbentuk tabung membawa daun-daun dan benda-benda lain bersamanya. Oh, baru kali ini saya melihat langsung di depan mata. ”Ini bencana,” kata saya dalam hati. Lalu bagaimana saya memaknai bencana? Bukankah itu kehendak alam? Bagaimana mungkin saya mempersalahkan alam yang mengakibatkan penderitaan bagi orang-orang banyak? Di sinilah saya merenungkan sebuah Teologi Bencana.
Saya tidak mau terjerumus kepada permasalahan mencari siapa yang harus bertanggung jawab. Bukankah itu kebiasaan (jelek) manusia jika ada sesuatu yang menimpa dirinya? Saya malah ingin membongkar konsep-konsep orang-orang banyak tentang bencana yang mengakibatkan penderitaan bagi dirinya. Melihat kenyataan yang terjadi, saya tidak menyalahkan Tuhan walaupun saya sempat kaget melihat beberapa pohon besar tua yang tumbang dan gedung serta rumah banyak yang rusak berat oleh angin tersebut. Saya hanya bertanya dalam hati, “Di mana Kau Tuhan? Apa Kau sekarang berada menemani orang-orang yang kesusahan ini?” Penderitaan yang diakibatkan bencana saya hayati sebagai kehadiran Allah untuk menderita bersama orang-orang yang ditimpa bencana. Allah, saya hayati ada bersama-sama para penderita bencana itu. Dia ada di samping mereka, menggendongnya, memberikan ketenangan batin sejenak bagi orang yang stres karena rumahnya hancur, dan sebagainya. Namun, hanya Allah-kah yang ada dalam penderitaan mereka? Bagaimana dengan saya, apakah tinggal diam saja membiarkan Allah bekerja sendirian? Bagi saya, penderitaan orang-orang merupakan panggilan untuk memberikan apa yang bisa saya perbuat bagi mereka. Allah memang Maha Kuasa, Dia bisa bekerja sendirian, tetapi bukan itu yang diharapkan-Nya. Dia mengajarkan untuk ber-bela rasa, bekerja bersama-sama dengan Dia di tengah-tengah orang yang menderita. Berarti bela rasa yang diinginkan Allah adalah suatu tindakan nyata atau aksi sosial. Ini menandakan bahwa kontemplasi tidak hanya bicara tentang hubungan antara individu dengan Allah. Hal itu memang seharusnya demikian, tetapi jika tidak disertai sebuah tindakan nyata terhadap orang lain merupakan kesia-siaan. Dengan begitu, kontemplasi mempunyai sifat individu yang mengimplikasikan hubungan diri sendiri dengan Allah dan orang lain. Kontemplasi yang hanya berefleksi, tanpa disertai aksi adalah sia-sia.
Apa yang menjadi dasar kontemplasi ini adalah cinta, sebagaimana Kristus memberikan cinta-Nya sehingga mau menderita. Tanpa Kristus sebagai patokan dalam ber-kontemplasi, refleksi dan aksi kita terasa kurang bergairah.
Bagi saya, keheningan merupakan salah satu cara mengupayakan suatu kontemplasi yang bergairah. Di tengah-tengah penderitaan, ada sebuah keheningan di dalam diri yang terdalam (inner life) sebagai penghayatan akan kehadiran Allah sebagai yang ikut menderita. Seperti pusaran angin puting beliung, keheningan berada dalam pusaran diri yang terdalam, membawa semua pengalaman yang telah dilaluinya, menggodoknya, sehingga menebarkan aroma kesadaran akan kehadiran Allah dalam diri dan kehidupan keseharian. Ini merupakan suatu spiritualitas keheningan dalam mendengarkan suara Allah menyapa manusia di tengah-tengah kehidupan yang menderita.
Biasanya orang-orang yang menderita suatu bencana lekat ingatannya dengan Allah, tetapi sesudah bencana berangsur-angsur pulih, ingatannya kepada Allah mampet lagi. Menurut saya, hal ini bisa terjadi karena orang-orang menganggap Allah sebagai objek yang semata-mata bisa dimintai tolong. Allah tidak dipandang sebagai Subjek yang sebenarnya bisa saja mau atau tidak mau menolong manusia. Oleh sebab itu, bagi penderita bencana, sangat diperlukan suatu anamnesis (ingatan) akan kebaikan Allah yang solider, yang menderita bersama-sama dengan mereka. Anamnesis ini akan sebaliknya membentuk sikap solider kepada Allah itu. Maka Allah tidak menjadi Allah yang hilang saat bencana pulih kembali, melainkan Allah yang selalu hadir di dalam pusaran kehidupan, sebagai kontemplasi umat manusia kepada-Nya.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress