FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

October 17, 2007

Respon pada Buku “Pasca-Indonesia Pasca-Einstein”

Filed under: Artikel, Budaya Populer — admin @ 8:56 am

Budaya Populer dan Teknologi
Respon terhadap buku “Pasca-Indonesia Pasca-Einstein” karangan Y.B. Mangunwijaya
Oleh: Martin Krisanto N.

Hal. 66-67.
Sains dan teknologi demi kodratnya akan menggiring kita ke keseragaman, tetapi sekaligus kebutuhan anti-seragam, anti-massa dan anti-berbaris akan semakin beraksi. Orang akan semakin mencari yang unik, yang memberi simbol kemerdekaan diri melawan kebudayaan massal dunia teknologi dan industri.

Teknologi yang bersifat “Netral” menurut Mangunwijaya tidaklah netral pada prosesnya. teknologi menjadi wahana bagi pemilikan dan penguasaan alat-alat produksi oleh perorangan atau swasta yakni Kapitalisme dan masyarakat atau negara yakni komunisme, bahkan dapat tumbuh menjadi kekuasaan otonom yang melepaskan diri dari kedaulatan manusia dan semakin bertingkah totaliter. Tentu beliau menyarankan untuk tidak bersikap benci sekaligus tidak memuja-muja.

Respon: Memang baik apa yang dikritisi oleh beliau, sementara berusaha meletakkan diri tidak pada kedua ekstrim. Namun kecurigaan terhadap pemilikan dan penguasaan alat-alat produksi masih dilatar belakangi pemahaman sosialis (lebih menyoroti permasalahan high tech sebagai high cost), sehingga ruang gerak antara kapitalisme dan komunisme belum cukup lebar selain permasalahan distributif. Bagaimana dengan yang high tech – low cost, sehingga efisien dalam menciptakan demand?

Tanggung jawab kitalah untuk mem-filter teknologi ke dalam kebudayaan, mana yang diterima dan diasimilasi dan mana yang ditolak. Yang lebih penting adalah makna dan dampaknya bagi kebudayaan (positif dan negatif). Karena seperti yang dikatakan R. Morrison bahwa “mereka (kaum teknolog) begitu pandai membawa Anda ke Paris dalam tiga jam saja, tetapi sangat tidak mampu memberitahu apa yang akan Anda lakukan setibanya disana ” Yang terutama adalah perlu dikaji jiwa apa yang pada hakikatnya tersembunyi di dalam fenomen teknologi in concreto dari Barat yang datang kemari itu? Transfer teknologi merupakan suatu transfer kebudayaan, seperti pernyataan Toynbee: Sinar kebudayaan yang terlepas bagaikan elektron yang terlepas atau penyakit menular yang tersesat, dapat membawa maut apabila ia dipisah dari susunan tempat sebelumnya ia berfungsi, lalu lepas berdiri sendiri, keluar dan mengembara di dalam lingkungan lain. Berkaitan dengan para cendekiawan sains dan teknolog maka segi-segi filsafat, teologi serta implikasi religius, moral serta etika ikut bermain didalamnya. Salah satu watak teknologi yakni sentralistis (Galbraith), yang menurut beliau perlu diteliti. Yang jelas teknologi ikut membongkar budaya kapitalisme (juga sosialisme walau beliau tidak menyatakannya secara eksplisit)

Respon: Sikap terhadap teknologi sebagai salah satu produk “budaya populer” perlu dicontoh, setidaknya argumentasi beliau mengimplikasikan bagaimana sebuah produk budaya populer mampu mentransformasi budaya itu sendiri. Walaupun gambar budaya seperti yang dikatakan pada topik “Budaya yang Menculik kita” sebagai budaya pasca-Indonesia yang sudah berbudaya populer (walau tidak sepenuhnya dan ada ketegangan), dalam kalimat diatas, kata “Barat” masih muncul seakan-akan jiwa dari teknologi itu miskin akan muatan khas lokalnya? Ataukah beliau bermaksud berempati terhadap kecurigaan masuknya budaya barat yang sesungguhnya masih ada sebagai budaya feodal di Indonesia?
Menerima teknologi membawa persoalan, menurut Mochtar Lubis, “kemajuan teknologi telah tidak dibarengi dengan kemajuan kebudayaan”. Lalu kita diajak untuk mempertimbangkan usulan Fujimoto: 1) Teknologi yang sepadan, berdasarkan usaha yang swadaya, dan tidak tergantung pada para ahli saja; 2) prinsip desentralisasi; 3) prinsip kerjasama dan bukan persaingan 4) sadar akan tanggungjawab sosial dan ekologi. Demikian pula apa yang diusulkan Ivan Illich dengan teknologi yang bersifat convivial (hidup bersama atau memberi kesempatan kepada orang lain untuk menghidupi kehidupan yang ia pilih sendiri) untuk menjawab sifat sentralisasi.

Respon:
Apakah justru tidak sebaliknya bahwa teknologi bersifat desentralisasi?

Bagai mata koin yang bersisi dua; satu sisi yaitu sikap yang eksploratif, mencari bertanya, menelusuri melampaui batas-batas. Sisi lain yaitu menempatkan sains dan teknologi sebagai bagian yang integral. Untuk itu membutuhkan iklim atau tanah yang; berjiwa sekuler (bukan sekularisme) atau jiwa yang mendewasakan diri, dimensi rasionalitas, jiwa universal, memberi penghargaan kepada kepribadian (team-work), meritokrasi ( jasa), struktur dan iklim sosio-politik dan sosio-ekonomi yang faktual.

Respon:
Bagi saya, sains dan teknologi bagaikan musik “Instrumentalia” yang dapat menghanyutkan (negatif) atau menyejukkan (positif), sementara makna yang disampaikan tetap membutuhkan persepsi yang sekurang-kurangnya mempunyai kemiripan antara penciptanya, pemainnya dan pendengarnya agar berdayaguna pada gilirannya..

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress