FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

November 1, 2007

KAUM MINORITAS DALAM DEMOKRASI – Humayun Kabir

Filed under: Islam di Indonesia, Artikel — admin @ 9:11 am

Dari Buku: Charles Kurzman (ed), Wacana Islam Liberal
oleh: Martin Krisanto N.

Dalam konteks kaum Muslim sebagai minoritas di India, Kabir mengutarakan beberapa hal yang berkenaan dengan demokrasi;

Masyarakat dan keadaan sekitarnya selalu berubah, sebuah masyarakat yang monolitis mungkin tidak mampu bereaksi terhadap sebuah situasi baru dengan kesuksesan gemilang. Akan tetapi, dalam masyarakat yang heterogen, akan ada satu atau beberapa elemen di dalamnya yang mampu memberi respons terhadap situasi baru tersebut dan membantu mempertahankan masyarakat secara keseluruhan.

Menurut Kabir, upaya sadar untuk memisahkan fungsi keagamaan dan fungsi keduniawian pertama kali berasal dari ucapan Yesus Kristus (Kurzman: 2003, h.233). Tentang perkataan: “Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan” ini merupakan kemunculan negara sekular secara teoritis. Maka perkembangan perbedaan agama dan budaya pada gilirannya saling mengakomodasi. Ide negara sekular inilah yang telah lama berkembang pada sejarah India (Hindhu – Budha).

Demikian halnya yang terjadi pada sejarah perkembangan Islam setelah Nabi wafat, antara kelompok yang menekankan negara agama dan seiring semakin luasnya wilayah kerajaan Islam serta munculnya persoalan praktis dan pemikiran politik Muslim yang harus menyediakan tempat bagi warga non-Muslim. Pada proses inilah ide dhimmi muncul untuk mengakui keberadaan kaum non-Muslim, yang artinya: orang-orang yang dilindungi yang harus membayar pajak khusus, jizyah, karena mereka tidak berperan serta dalam mempertahankan negara (membayar kebebasan wajib militer). Sementara umat Islam diwajibkan berjihad untuk mempertahankan negara dan dibebaskan dari pajak ini. Dalam prakteknya, jizyah bereputasi buruk dan memiliki karakter yang menyakitkan hati karena diterapkan hanya bagi non-Muslim.

Apapun teorinya, kabir secara tegas menyatakan bahwa kekuasaan pemerintah akan bertahan hanya jika ada akomodasi bagi para penganut agama lain yang tinggal pada wilayah kekuasaannya. Belajar dari pertumbuhan Islam di India, kemanapun orang Arab pergi, pasti ada asimilasi budaya yang lebih besar dan sikap saling memberi dan menerima antara komunitas (berbeda dengan Turki yang baru saja memeluk agama Islam). Jumlah orang-orang Muslim lebih besar di daerah-daerah di bawah pengaruh Arab, dimana kaum sufi, ulama dan para fakir mengajar. Demikian pula perkembangan agama Hindu di India yang telah memiliki pandangan yang jauh ke depan, sebagai pihak mayoritas tidak menerapkan konsep negara agama (Hindu) karena secara jeli melihat keadaan khas India dan juga perkembangan ilmiah dunia modern. Keuntungan dapat diraih oleh semua pihak baik mayoritas dan minoritas.

Kondisi semacam ini bukan berarti tanpa ada konflik baik agama maupun status sosial (kasta). Disamping itu ada perbedaan prinsipial antara ajaran agama Hindu dan Islam, dimana Islam menekankan untuk meluruskan kembali penyimpangan kebenaran oleh Nabi terakhir. Sementara akar ke-eksklusivan Hindu berada pada konsep kasta, pada prinsipnya tiap-tiap agama memerlukan perubahan sikap dan karakter dalam memaknai kitab, nabi (avatar) serta simbol-simbol agamanya masing-masing jika ingin bertumbuh dengan sehat.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress