Revolusi Indonesia, Muhammad Natsir (1955)
Dari buku: Charles Kurzman (ed), Wacana Islam Liberal
oleh: Martin Krisanto N.
Perjuangan melawan kekuatan politik yang terjadi sejak 1905 terus-menerus berlangsung melawan persenjataan kolonial, kekuatan non-materialnya adalah pendirian pada perintah Allah yaitu melawan segala bentuk eksploitasi manusia oleh manusia. Karakter bangsa yang lembut ber-metamorfosis dan berubah secara radikal menjadi berani luar biasa seakan menyimpan sekian rasa kekecewaan yang siap meledak. Seruan “Allah-u Akbar” membuka kunci di hati banyak orang, menggerakkan, membangkitkan kekuatan bagi segenap lapisan masyarakat yang ada pada saat itu. Potensi ini dapat dimanfaatkan oleh pemimpin yang menyadarinya atau sebaliknya dapat meledak dan menjadi pembakaran, untuk itu dicarilah jalan dengan 2 pertanyaan yang harus dijawab demi generasi berikutnya: Arti apa yang akan kita berikan kepada negara kita? Bagaimana kita memberi arti pada kemerdekaan?
Arti kemerdekaan, pertama adalah bersyukur kepada Allah yang pada waktu singkat (5 tahun) memberikan karunia yang besar berupa kemerdekaan (implikasi dari ajaran Islam: berterima kasih atas sebuah rahmat adalah kewajiban). Ekspresi rasa syukur adalah dengan membuat kemajuan, meningkatkan yang belum baik, menguatkan apa-apa yang belum kuat, menyempurnakan apa yang belum sempurna. Selain alam yang bersahabat tentulah kebudayaan yang tinggi serta karakter yang bagus dan watak yang tasamuh (pengikut-sertaan, kesabaran), dasar toleransi dimana perselisihan dan kekerasan bukan ciri khas kita. Tanah air kita masih segar dan memiliki kualitas geografis yang memadai untuk membuat jalan sendiri di masa depan.
Sebagai masyarakat Muslim, seperti yang telah ditanamkan oleh Nabi Muhammad saw., meskipun peperangan yang baru selesai itu menyebabkan pertumpahan darah dan sama sekali destruktif. Meskipun demikian, Nabi menganggapnya sebagai peperangan berskala kecil, jihad ashghar. Lalu ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa masyarakat akan memasuki fase perkembangan revolusi yang disebut jihad akbar, yang lebih besar, dimana tidak ada pedang, tembakan, saling membunuh. Tetapi lebih sulit dari jihad sebelumnya, yakni perjuangan untuk mengembangkan kepribadian jihad al-nafs. Kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Ini merupakan kepemimpinan yang revolusioner, yang menghapuskan setiap bentuk eksploitasi manusia oleh manusia dan menghapuskan kemiskinan dan kesengsaraan.
Secara praktis, menghapuskan kemiskinan adalah setiap individu harus menggunakan kekuatan atau tenaga untuk meningkatkan dan melipatgandakan produksi, meningkatkan penghasilan, sehingga mampu mengangkat kualitas hidup dan membagikan kekayaan serta kebutuhan pokok secara baik. Ajaran Islam menentang penimbunan yang tidak produktif, dan mendukung peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan umum, modal harus diproduktifkan dan tidak dimotivasi secara eksklusif oleh dorongan mengejar keuntungan melainkan memberi perhatian besar pada pengembangan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tentang HAM, Manusia diajarkan untuk memperjuangkan haknya. Ia harus berusaha keras memperoleh haknya. Orang-orang yang menguasai hak-hak tersebut tidak akan begitu saja mau menyerahkan secara sukarela kepada orang yang pantas memiliki hak tersebut: ia akan mempertahankan apa yang ia yakini sebagai miliknya. Sebagai konsekuensi dari kesadaran hak ini dan kesadaran lainnya yang tidak berhak, akan muncul pertentangan antara para pemegang hak tersebut dengan orang yang berhak. Pendekatan Islam yang diletakkan oleh Nabi Muhammad saw.: “tidak sempurna iman seseorang bila ia tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Maka kelompok majikan dan kelompok pekerja bukan dua kelas sosial melainkan factor-faktor industri yang mempunyai fungsi, tanggung jawab dan bagian sendiri. Tiap individu mempunyai dua jenis kewajiban: fardlu ‘ain – kewajiban individu kepada Tuhan dan tidak bisa diwakilkan dan ditransaksikan.(ibadah salat, puasa, haji), fardlu kifayah – dilakukan untuk masyarakat, atas nama masyarakat sebagai aspek sosial, ekonomi dan politik. Keduanya tak terpisahkan. Dan berikut dengan bagaimana menjaga diri agar tidak masuk dalam fanatisme, fasisme (rasa patriotisme yang sempit dan berlebih-lebihan), totalitarianisme dan rasisme.
TEOLOGI
Perpaduan antara semangat keislaman dan nasionalisme saya rasa bisa membawa Indonesia menuju negara yang bermoral dengan kemerdekaan
Comment by Subandi — May 2, 2008 @ 12:32 am
Keterpurukan bangsa Indonesia lebih banyak disebabkan karena anak bangsa (baca terutama pajabat) tidak kuat melakukan Jihad Akbar, lemah melawan diri sendiri, melawan hawa nafsu keserakahan, kepada kekuasaan, kekayaan dll. Jihad akbar adalah potensi universal yang dimiliki setiap manusia (micro cosmos), tinggal bagaimana mengexplore dan mendayagunakan potensi tersebut untuk melawan diri sendiri yang telah terkontaminasi oleh alam luar.Pendayagunaan potensi tersebut adalah pilihan manusia, konsekuensi dari pilihan tersebut akan dipanen sesuai dengan kadar atau ukuran (takdir) yang ditentukan oleh Tuhan atas pilihan tersebut. Keterpurukan bangsa ini adalah hasil pilihan sebelumnya, tetapi pertanyaannya apakah pilihan tersebut secara sadar atau dibawah presure, baik presure yang kadar ringan atau berat. Timbul pertanyaan selanjutnya kenapa mereka tidak sanggup melawan presure tsb., mungkinkah karena kebutuhan hidup atau takut miskin, takut kehilangan jabatan dst.Jawabnya tentu sangat panjang dan beragam. Yang pasti semangat jihad akbar harus dikumandangkan terus apapun keyakinannya karena sangat relevan dalam situasi bangsa kita yang merana ini. Terimakasih (zh)
Comment by Zamris Habib — May 18, 2008 @ 9:04 pm
Revolusi konstitusi demokrasi independen menuju Indonesia baru” terinspirasi dari ide penulis sebagai penganggas, perumus dan konseptor yudisial reviewe UU 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Di Mahkamah Konstitusi dan telah berhasil menghancurkan tirani oligarki Parpol yang anti rakyat dengan dikabulkannya calon independen didalam setiap pesta demokrasi diseluruh Indonesia.“
Buku ini mengajak kita berdiri, bangkit, berlawan, dan berjuang merebut kedaulatan hakiki sebuah kemerdekaan”!!! karena Jawaban tentang kata” revolusi belum selesai.” (Soekarno) justru akan terjawab dalam buku ini.
Isi buku ini pengalaman nyata dari sebuah Negara kaya raya, yang bertekuk lutut dibawah kaki penjajah “neoimprialisme pada wujud barunya yang bernama globalisasi”.
Membaca buku ini akan membentuk sebuah kepribadian yang kokoh suatu bangsa untuk mengajak semua elemen “ berpikir kerakyatan” untuk sadar akan tanggung jawab kerakyatan dan kebangsaan yang selama ini terjajah, terhisap, dan tertindas.
Buku ini merupakan pengalaman penulis secara langsung dengan rakyat untuk membentuk sebuah ideology kerakyatan bukanlah ideology plagiat/import seperti ideology lainnya.
Kenapa negeri ini belum bisa menjawab revolusinya,? jawabannya sangat mudah karena kita belum memiliki kompas yang bernama ideology.
Hampir semua ideology di Indonesia adalah sebuah rangkuman dari ideology bangsa asing yang tidak akan pernah cocok dan pantas untuk bangsa Indonesia.
Membaca buku ini berarti sebuah pengalaman, tantangan, bahkan mungkin bisa menjadi bahaya besar karena penulis menyajikannya secara terang-terangan dan terbuka dan bisa jadi membaca buku ini merupakan langkah awal memerdekakan pikiran, perasaan, dan badan menuju kemerdekaan yang sesejati-jatinya dan kemerdekaan itu adalah kemerdekaan rakyat Indonesia
penulis
Sudarjo (081917194789)
Comment by Sri Sudarjo — December 29, 2008 @ 11:06 pm