“Tanganku Sendirilah Yang Memaku Engkau, Tuhan…”
(Sebuah Refleksi Jumat Agung, Yesus yang Tersalib)
Oleh: Jimm Song
Saya akan memulai refleksi dengan sebuah cerita :
…………..
Tiba-tiba terdengar suara orang banyak berteriak, “Dasar pencuri! Mampus kau, wajar kalau kau dihukum mati!” Di keriuhan suara itu terdengar pula suara seorang perempuan menangis seraya meminta pertolongan. Tapi kepada siapa ia minta tolong, sebab orang banyak di sekelilingnya semuanya mencercanya. Orang banyak ini menyeret si perempuan ke suatu tempat, tampaknya itu tempat hukuman gantung. Hakim dan kru-krunya ternyata sudah menunggu di situ, ingin menyaksikan jalannya hukuman mati. Tapi apa sebab si perempuan sampai-sampai ke tempat hukuman gantung? Ternyata ia dituduh sebagai pencuri oleh sekelompok orang yang sedang pesta makan dan minum di sebuah taman. Katanya sih, dulu di suatu tempat terjadi malapetaka penyakit kulit yang mengerikan. Hanya beberapa orang yang sembuh. Oleh karena itu, orang-orang yang kena penyakit berdatangan ke tempat orang yang sehat untuk meminta pertolongan dan pelayanan atas diri mereka. Orang-orang yang sakit terbagi atas dua golongan masyarakat, yaitu golongan rendahan atau miskin dan golongan atasan atau makmur. Namun tampaknya pertolongan dan pelayanan oleh orang sehat sengaja terfokus pada golongan yang terakhir ini. Justru golongan yang pertama mereka abaikan dan terlantarkan.
Tibalah suatu hari, dimana segala penyakit kulit yang diderita orang-orang sembuh. Betapa bahagia orang-orang golongan atasan atas kesembuhan itu, maka diundanglah orang-orang yang segolongan untuk merayakannya. Tak lupa juga orang-orang yang melayani mereka sewaktu sakit. Mereka pun makan dan minum dengan berbagai jenis hidangan menu, bernyanyi-nyanyi saking senangnya. Tiba-tiba hadirlah seorang ibu dan anak perempuannya meminta sedikit makanan mereka. Tampaknya ibu dan anak itu kelaparan sekali, pakaiannya sangat kotor dan bau. Begitu melihat kedua perempuan ini meminta-minta, mereka segera mengusirnya ke luar taman. Namun saking laparnya, si ibu perlahan tunduk, dan mengambil remah-remah makanan yang jatuh di lantai, dekat meja. Melihat itu, salah seorang dari mereka berteriak, mengatakan si ibu pencuri. Tidak tanggung-tanggung mereka menyeret si ibu dan anaknya, dan membawanya ke pengadilan. Agar semuanya berjalan dengan lancar, mereka ini langsung menyewa dua pengacara sekaligus, bukan untuk si ibu dan anak, namun untuk mereka sendiri. Di pengadilan si ibu tidak bisa berkata apa-apa, apa lagi berbuat apa-apa. Dengan segala macam tetekbengek argumentasi mutakhir, pengacara langsung meminta hakim agar menjatuhkan hukuman mati! Hakim tidak bisa menolak, dia memukul palu tanda hukuman mati dijatuhkan pada si ibu. Dari pengadilan, orang-orang atasan disertai orang banyak menyeret si ibu ke tempat hukuman mati, yaitu hukuman gantung.
Sekarang si ibu berada di tiang gantungan. Tangan dan kakinya diikat. Di lehernya terbalut seutas tali yang bisa mengangkat dua kali lipat berat tubuhnya. Kemudian hakim yang dari tadi hadir di situ menawarkan kepada si ibu sekiranya dia ingin mengucapkan kata-kata terakhir sebelum ajal menjemputnya. Mendengar itu, perlahan si ibu mengangkat kepala yang sedari tadi tertunduk lesu, dengan tegar ia berkata, “Biarlah kesalahan-kesalahan mereka (orang-orang atasan) ini juga kutaruh di atas kepalaku agar nanti jika kalian menemukan kesalahan mereka, sehingga harus mereka dihukum mati, mereka akan bebas dari itu, sebab akulah yang akan menanggung semuanya. Maka sekarang, biarlah aku dihukum mati berkali-kali lipat. aku rela menerimanya,”
…………
Cerita inilah yang sempat terlintas dalam renungan saya ketika menghayati Paskah, khususnya Jumat Agung. Dalam Injil Sinoptik saya menemukan bahwa Yesus adalah orang yang mengajarkan kebaikan, jujur, penolong, selalu berbuat adil, penyayang orang-orang, dengan kata lain orang BAIK. Tapi saya menemukan dalam kuliah Teologi Perjanjian Baru bahwa hukuman “salib” hanya diperuntukkan bagi orang yang dianggap biadab, pelaku tindakan kriminal, dan pemberontak negara, dengan kata lain, orang JAHAT. Muncul pertanyaan dalam hati: mengapa Yesus yang BAIK itu dianggap JAHAT sehingga harus disalibkan? Bukankah di sini terjadi ketidakadilan? Masakan orang BAIK dianggap JAHAT, padahal dalam kenyataannya Dia itu memang orang BAIK. Oleh karena itu saya berpikir dan berimajinasi, bagaimana jika saya dihadirkan pada saat-saat Yesus berada di pengadilan. Maka saya akan membela Yesus dengan segala argumentasi dan bukti-bukti yang kuat agar mereka (orang Yahudi dan Romawi) tahu bahwa Yesus tidak bersalah, sehingga tidak jadi dihukum mati. Namun saya menjumpai masalah: jika Yesus tidak disalibkan, maka kesalahan manusia, juga kesalahanku tidak akan terampuni (atau istilah orang-orang Kristen: tertebus)! Saya kemudian memilih alternatif lain: saya akan diam saja di pengadilan walaupun dengan hati yang perih, saya tetap tidak bisa angkat bicara membela Yesus yang saya tahu tidak JAHAT itu. Berarti saya membiarkan Ia disalib karena berpikir tentang penebusan dosaku. Saya menjumpai masalah lagi di sini: membiarkan Yesus disalib berarti saya menyetujui ketidakadilan berdiri tegak dengan tangan di pinggang di depan mata, padahal sebenarnya saya tidak ingin membiarkannya. Itu sama saja saya telah “meluruskan jalan” bagi ketidakadilan itu sendiri! Saya mulai terjebak dalam pikiran bak buah Simalakama.
Selanjutnya bagaimana? Saya tidak mau larut dalam pikiran yang harus memilih salah satu pilihan sulit. Oleh karena itu saya kembali ke “alam” saya saat ini. Berarti saya meninggalkan imajinasi tentang kehadiran saya di pengadilan Yesus. Saya kemudian sadar, dalam realita kehidupan saat ini pun ternyata selalu ada “aroma” ketidakadilan. Dan “aroma” ketidakadilan itulah yang saya “lukiskan” lewat cerita di awal tulisan ini.
Banyak orang-orang miskin selalu ditindas orang-orang kaya secara tidak langsung terjadi di Indonesia , saya lukiskan dengan pembagian dua golongan secara dramatis, yaitu golongan rendahan dan golongan atasan (yang banyak harta). Orang-orang kaya di Indonesia juga sebenarnya hanya sibuk melayani orang-orang segolongannya saja, dan kurang memperdulikan orang-orang miskin, saya lukiskan dengan pelayanan yang berat sebelah orang yang sehat terhadap orang golongan atasan, serta perjamuan makan antara orang golongan atasan. Kemudian hukum yang diselewengkan di Indonesia dengan menimpakan hukuman yang tidak setimpal pada orang-orang miskin tak berdaya dibanding dengan koruptor-koruptor yang kaya raya. Saya lukiskan hal itu dengan seorang ibu yang akan dihukum mati hanya karena mengambil remah-remah makanan orang atasan, dan tindakan orang atasan menyewa dua pengacara sekaligus dalam persidangan. Semua ini menunjukkan bahwa hukum telah diselewengkan dan dikendalikan oleh orang-orang yang punya uang saja.
Sedangkan dari segi feminisnya, sangat banyak terjadi pelecehan fisik maupun moral terhadap perempuan di Indonesia, saya lukiskan sebagai si ibu, saya tempatkan sebagai tokoh utama dalam cerita, dimana ia dianggap mengganggu pesta dan seenaknya saja diseret dan dijatuhi hukuman mati. Tetapi saya menemukan keunikan perempuan di Indonesia. Meskipun banyak terjadi pelecehan terhadap mereka, hal itu tidak membuat mereka diam ditelan “ombak” kuasa laki-laki, sebaliknya mereka berdiri tegar, mampu menerima kenyataan, dan berusaha menyamakan posisinya, menjadi setara dengan laki-laki. Dengan begitu, secara tidak langsung mereka telah memaafkan perbuatan laki-laki agar jangan terulang lagi. Mereka menyadarkan kaum laki-laki, bahkan kaumnya sendiri atas ketidaksetaraan gender, penindasan terhadap orang miskin, terlebih diri mereka sendiri. Nyatalah, bahwa diantara orang-orang tertindas dan miskin, perempuanlah yang paling tertindas dan paling miskin. Hal ini saya lukiskan dengan perkataan terakhir si ibu menjelang akhir ajalnya di tiang gantungan. Dengan tegar ia mengucapkan kata-katanya itu. Ia memaafkan orang atasan yang melecehkannya dan menyadarkan orang banyak.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak ada bedanya konteks Yesus dan konteks kehidupan saat ini, sama-sama ada ketidakadilannya. Dengan begitu saya berpikir bahwa dalam suasana ketidakadilan pun Yesus sanggup menyatakan keadilan, yaitu sikap “ke-mau-an-Nya” mati di kayu salib. Ia justru mau mati untuk menunjukkan dan menyadarkan orang-orang agar tindakan ketidakadilan tidak terulang lagi. Agar orang BAIK dipandang BAIK, dan bukannya dituduh sebagai JAHAT. Maka tindakan ke-mau-an Yesus mati di kayu salib, bagi saya, justru ingin menyudahi sikap ketidakadilan yang selama ini berjalan dengan mulus. Dengan kata lain, biarlah satu mati asal semua yang lainnya tersadarkan! Di sinilah letak ke-Ibu-an Yesus. Sikap ke-mau-an-Nya memaafkan, dan menyayangi semua orang, memeluk mereka agar “tombak” ketidakadilan tidak mengenai orang-orang banyak yang berada dalam pelukan-Nya, melainkan diri-Nya sajalah yang menahannya hingga nyawa pun melayang.
Sampai di sini saya mulai menemukan akhir renungan. Dalam kehidupan keseharian pun, dari hal-hal yang sederhana atau hal kecil, saya (atau bahkan kita) juga tidak luput dari ketidakadilan itu. Saya sering tanpa sadar telah berbuat ketidakadilan kepada sesama. Oleh karena itu, saya merenungkan bahwa saya sebenarnya hadir pada saat Yesus di pengadilan bukanlah sebagai pembela Yesus dan/ atau sebagai orang yang diam saja, melainkan ikut berpartisipasi menuduh Yesus sebagai yang JAHAT, ikut meludahi dan mencerca Yesus. Bahkan saya ikut serta pada waktu penyaliban-Nya. Sayalah yang mengambil paku. Dan tanganku sendirilah yang memaku Yesus di kayu salib! Bukankah berbuat tidak adil kepada sesama berarti berbuat tidak adil kepada Yesus?
Saat-saat terakhir kulihat wajah ke-Ibu-an-Nya mengatakan bahwa jika orang-orang menemukan kesalahanku nantinya, maka aku tidak akan dihukum karena Ia sudah mengambil hukuman itu dan meletakkannya pada diri-Nya. Maka saat itulah aku semakin paham makna ke-mau-an-Nya mati di kayu salib! Bagiku Ia adalah Ibu yang tidak tega melihat anak-Nya disalahkan dan dihukum! Ia telah mengajarkanku untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak adil kepada sesama. Sederhana memang tapi penuh makna.
TEOLOGI
Puisinya bagus juga bang
Comment by epistemology — January 5, 2008 @ 3:36 pm
terlalu melodramatik!
Comment by gide — January 12, 2008 @ 3:07 pm
thanx,your poem very helpfull for me.
Comment by t0,,,, — April 23, 2008 @ 4:03 am