FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

November 29, 2007

KUASA UNTUK MELAYANI

Filed under: Tafsir — admin @ 12:12 am

Tafsiran 1 Petrus 5: 1-4
Karya: Iswanto

Pendahuluan
Dalam dunia politik terdapat dictrum yang terkenal yaitu “Power tends to corrupt”, dimana ada kekuasaan maka kecenderungan untuk menyalahgunakan ataupun menyelewengkan kekuasaan tersebut selalu membayangi. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita harus menjauhi kekuasaan dan bersikap a-politis. Kekuasaan dan politikpun juga bisa kita temukan dalam kehidupan bergereja kita. Gereja sebagai organisasi memungkinkan didalamnya terdapat pengaturan dan pembagian kekuasaan. Dan berkenaan dengan hal ini kita juga perlu menyadari bahwa politik bukanlah kegiatan yang terjadi hanya di luar gereja saja. Politik adalah kegiatan yang bisa terjadi dalam komunitas manapun, besar maupun kecil, karena secara sederhana politik adalah sebuah upaya pengaturan kehidupan bersama. Dengan landasan ini maka gerejapun dapat disebut sebuah realitas politik, sebuah polis. Ini berarti di dalam gereja kita juga bisa menemukan sebuah bentuk dan kegiatan politik.

Kepedulian akan masalah-masalah diatas juga bisa kita temukan dalam Surat Petrus, secara khusus! Petrus 5:1-4 merupakan kepedulian penulis Surat Petrus terhadap masalah kekuasaan dalam kehidupan berjemaat. Dan tulisan ini merupakan upaya tafsir guna mendapatkan dan menggali makna dari teks tersebut. Dan pada bagian akhir, relevansi ataupun implikasinya bagi kehidupan bergereja kita saat ini merupakan penutup tulisan ini.

Latar Belakang Surat 1 Petrus
Surat 1 Petrus dalam penggolongannya dimasukkan dalam kategori surat-surat Katholik, surat ini dimaksudkan untuk secara umum, artinya untuk semua jemaat Kristen di mana saja. Kalau kita memperhatikan pasal 1:1-2 dan 5:12-14, maka dapat diterima kalau dikatakan bahwa 1 Petrus adalah surat yang dikirim kepada alamat (penerima) yang jelas dan pengirimnya pun jelas, walaupun dengan perantaraan Silwanus sebagai penulis. Menurut 1 Petrus 1:3, rasul Petrus bersurat kepada orang-orang pendatang, yaitu orang-orang yang dipilih dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Kristus. Tetapi penerima/pembaca surat 1 Petrus adalah orang-orang Kristen non Yahudi (ps. 1:14, 18; 2:29; 4:3) di bagian selatan propinsi Galatia (Ikonium, Listra, Derbe). Tetapi di sana terdapat juga orang-orang Yahudi (Kis. 13, 14); jadi ungkapan “orang-orang pendatang yang tersebar di sama” harus dimengerti sebagai anggota dari umat Allah yang tersebar di dunia sebagai pendatang, karena kediaman mereka yang sebenarnya adalah di sorga (bdk. Gal. 16:16, Flp. 3:20, Ibr. 13:14, 1 Ptr 1:17; 2:11).

Tafsiran 1 Petrus 5:1-4
Ayat 1 : “Aku menasigatkan kamu para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak”.
Kata ………….(kata kerja orang pertama tunggal present active indikatif) yang oleh TB LAI diterjemahkan dengan menasehatkan bisa juga diterkemahkan dengan bermacam pengertian antara lain : memohon, meminta, mendesak, memberikan semangat, mengundang, menuntut. Dari banyaknya pengertian tersebut maka kata menasehatkan bukan hanya menunjukkan aktivitas verbal saja seperti seorang atasan memberikan petunjuk kepada bawahannya. Konteks menasehatkan tersebut memposisikan (penulis) Petrus dalam tiga fungsi : teman penatua, ini menunjukkan bahwa ia memposisikan diri setara/sederajat dengan para penatua tersebut, sehingga menasehatkan tersebut tidaklah bersifat subordinasi, dari atasan kepada bawahan, dari senior kepada yunior melainkan dari seseorang yang mempunyai kedudukan yang sama. Jabatan penatua bukanlah suatu jabatan yang baru muncul dalam kalangan gereja. Penatua-penatua sudah terdapat dikalangan bangsa Israel, dimana mereka bekerja disegala bidang kehidupan masyarakat (Mis. Bil 11:16-30, 1 Raj. 20:8; 21:11, Ul. 25:7). Dan “para penatua” adalah suatu jabatan yang menunjukkan imamat istimewa selain imamat umum; saksi penderitaan Kristus, ini lebih menunjuk pada otoritas dari nasehat itu, walaupun dalam kedudukannya yang setara sebagai sesama penatua tetapi (penulis) Petrus memposisikan diri sebagai orang yang saksi dari penderitaan Kristus. Saksi merupakan istilah yuridis dalam suatu proses pengadilan, dalam upaya pengumpulan bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan yang seadil-adilnya, maka hakim mengundang dan penyumpah sejumlah orang sebagai ………. (= saksi; dibedakan antara saksi yang memberatkan dan saksi yang meringankan terdakwa), sehingga kesaksian merupakan bagian yang penting dalam proses pengadilan dan berberan dalam menentukan keputusan akhir. Begitulah istilah yang semula digunakan di ruang pengadilan telah berkembang menjadi sebuah konsep yang sentral dalam iman Kristen. Dan sebagai saksi mata maka (penulis) Petrus berwibawa menegur para penatua dan mengatur jabatan mereka. Jadi setidaknya walaupun dalam kedudukannya yang setara tetapi (penulis) Petrus bukannya tanpa otoritas tertentu; seseorang yang akan mendapatkan bagian dalam kemuliaan, sebagai saksi penderitaan atau lebih tepat sebagai saksi yang turut merasakan penderitaan Kristus ini berkaitan dengan ………kemuliaan. Penderitaan dan kemuliaan setidaknya juga menunjukkan pada pengharapan, ditengah situasi jemaat di Pontus, Galatia, Kapodokia, Asia Kecil dan Bitinia, dimana surat Petrus ini ditujukan, yang sedang mengalami penderitaan (1:6-7; 3:14, 17; 4:1, 12-14; 5:8, 9) kepada mereka (penulis) Petrus hendak memotivasi warga jemaat untuk hidup dalam pengharapan akan masa depan yang pasti.

Ayat 2 : “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena kamu mencari keuntungan, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri”.

Sebagai para pemimpin atau golongan yang “berkuasa” dalam kehidupan jemaat, (penulis) Petrus menasehatkan atau lebih tepat memerintahkan mereka untuk menggembalakan. Gambaran tentang gembala merupakan gambaran yang tidak asing lagi, dalam Perjanjian Lama, Tuhan digambarkan sebagai sosok gemala ini bisa kita temukan dalam kitab Mazmur 23, yang merupakan gambaran figurative. Dalam 2 Samuel 5:2, sosok gembala dipakai untuk menunjuk pada kedudukan raja (Daud). Perintah untuk menggembalakan adalah suatu gambaran aktivitas dalam rangka menuntun domba-domba supaya tidak tersesat melainkan membimbing mereka ke padang dimana domba-domba tersebut tercukupi kebutuhannya selain itu gembala juga berkewajiban melindungi domba-dombanya dari serangan pemangsa seperti serigala. Perintah ini juga pernah diucapkan Yesus kepada Petrus “Gembalakanlah domba-dombaKu” (Yohanes 21:15-17) dan perintah tersebut dalam kaitannya dengan mengasihi Yesus Kristus.

………………(TB LAI : “jangan dengan paksa) agaknya lebih tepat jika diterjemahkan dengan “jangan dengan terpaksa” (terjemahan ini dekat dengan NRS “not under compulsion”) ini dimungkinkan melihat kondisi sosial jemaat tersebut, ditengah situasi penderitaan setidaknya sedikit yang bersedia untuk menjadi pemimpin jemaat, selain beresiko jabatan tersebut setidaknya mungkin malah “menambah” penderitaan tersebut dan akan terjadi bahwa dikemudian hari jabatan ini terasa membebankan. Karena itu yang dituntut adalah kesukarelaan dari mereka, …………, menunjukkan pelaksanaan kewajiban dengan gembira dan atas keinginan sendiri. Ini semua ditunjukkan hanya kepada Allah saja.

Pada ayat ini (penulis) Petrus juga mengingatkan akan kemungkinan bahaya materi, yang terwujud dalam keserakahan. Jabatan sebagai pemimpin setidaknya membuat mereka dekat dengan akses keuangan yang terkumpul dari kantong jemaat tersebut, untuk menghindari hal tersebut maka “pengabdian diri” dituntut dari para pemimpin tersebut.

Ayat 3 : “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu”.

Selain bahaya seperti tersebut diatas, (penulis) Petrus juga mengingatkan akan bahaya lain dari kekuasaan yang mereka pegang………………. Lebih menggambarkan pada upaya seseorang yang secara berlebihan menunjukkan kuasa yang dimilikinya secara berlebihan (otoriter). Apakah ini merupakan gejala yang sudah terjadi di tengah-tengah jemaat atau merupakan antisipasi (penulis) Petrus akan situasi yang mungkin saja akan terjadi? Secara psikologis ada kemungkinan bahwa seseorang yang hidup dalam kondisi yang tertindas dan menderita bisa mengidentifikasikan dirinya sebagaimana penindas. Sebagai contoh, Indonesia merupakan negara bekas jajahan Belanda, dan dalam banyak hukum tata negara, Indonesia banyak “mengkopy” sistem hukum Belanda yang diterapkannya selama menjadi penjajah, sehingga justru ada banyak deskriminasi dalam sistem adopsi tersebut. Sebagaimana dalam ilmu etika dikenal bahwa mentalitas seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan/kondisi sosial dimana dia hidup. Maka setidaknya (penulis) Petrus hendak mengantisipasi hal tersebut. Keadaan yang terjadi pada jemaat yaitu penderitaan bahkan mungkin sampai kepada penyiksaan, sehingga dapat dimengerti apabila mereka dihinggapi oleh suatu ketakutan lalu mempunyai suatu mentalitas orang-orang yang tidak berdaya, orang-orang yang dibenci oleh dunia sekitarnya, orang-orang yang beranggapan dan berperasaan selalu dalam bahaya dan penderitaan, orang-orang yang selalu didiskriminasi singkatnya suatu persecuted mentalitas. Mentalitas seperti inilah yang hendak ditolak dengan suatu ekklesiologi yang jelas dari 1 Petrus, yang ini diharapkan dapat menjadi suatu counter atas realitas sosio histeries yang tidak menguntungkan saat itu.

Para penatua harus memberi kepada umat, suat teladan dalam pelaksanaan tugas yang mereka emban. Seperti Kristus merekapun harus berjalan di depan kawanan domba-domba yang mereka pelihara, memberikan contoh dan jejak langkah sebagai petunjuk terbaik kepada mereka, sebagaimana yang diungkapkan (penulis) Petrus pada pasal 2:21 “sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya”. Untuk memimpin orang-orang bawahan dengan baik, maka seseorang harus selalu membeir contoh tentang pelaksanaan tugas tiap-tiap hari. Ini tentunya juga didasari pada perintah Yesus sendiri “Barnagsiapa ingin menjadi yang terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semua”. (Markus 10:44)

Ayat 4 : “Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu”.

………..(Gembala Agung) merupakan istilah yang dipakai secara umum dalam kalangan jemaat untuk menunjuk pada Yesus Kristus (bdk. Ibrani 13:20 untuk istilah ini). Kedatangan Yesus Kristus berkaitan dengan mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu yang tentunya akan diterima para pemimpin jemaat ini. Tentunya dengan pengandaian bahwa mereka menuruti dan melaksanakan nasehat-nasehat yang diberikan kepada mereka sebelumnya. ……….. (mahkota) disini merupakan gambaran yang berasal dari bidang olah raga di dunia Yunani kuno. Menurut kebiasaan saat itu, juara dalam pertandingan olah raga memperoleh suatu mahkota dari daun-daunan atau bunga-bungaan sebagai tanda kemenangannya. Mahkota itu merupakan mahkota yang tidak dapat layu, dalam pasal 1:24-25, dikatakan bahwa semua mahkota hidup (KJV : Flesh) dikiaskan seperti rumput yang dapat layu hal tersebut dikontraskan dengan firman Allah yang tetap untuk selama-lamanya (tidak dapat layu). Dengan demikian maka firman Allah merupakan suatu hidup yang kekal, sehingga mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu merupakan suatu anugerah hidup kekal yang diberikan kepada mereka. Gembala-gembala yang setia akan menerima suatu mahkota, yang kemuliaannya tetap untuk selama-lamanya (bdk. 2 Tim. 4:8; Yak 1:12; Wah 2:10; 4:4).

Relevansi 1 Petrus 5:1-4
Penulis surat Petrus bukanlah hendak menolak sistem hirarki yang ada dalam kehidupan jemaat, walaupun ada bahaya-bahaya dari sistem tersebut, penulis surat Petrus hendak memberikan dasar yang kuat dan tepat dari cara berpolitik tersebut. Itu semua dengan meninggalkan kepentingan diri sendiri (self-interest) dan ini merupakan politik alternative atas realitas sosio histories yang tidak menguntungkan saat itu. Dalam penderitaan dan penindasan gereja diharapkan menciptakan suatu kehidupan berjemaat yang kondusif, ini semua tentunya sangat dipengaruhi dari pola kepemimpinan yang ada dalam jemaat.ketika lembaga-lembaga duniawi diperintah dengan sikap otoriter bukan itu yang harus terjadi pada pemimpin-pemimpin Kristen, kekuasaan justru merupakan kesempatan dimana seseorang menjadi pelayan bagi orang lain. Keberadaan bagi orang lain untuk membantu dan melayani merupakan bagian dari hakikat gereja, sebagaimana yang diungkapkan seorang teolog Jerman, Dietrich Bonhoeffer, “The church is ger true self when she exists for humanity…..she must take her part in the social life of the world, not lording it over men, but helping and serving. She must tell men whatever their calling what it means to live in Christ, to exist for other…”. Dengan demikian kekuasaan yang ada bukanlah untuk menguasai orang lain, melainkan dengan pelayanan guna mewujudkan sebuah konstruksi alternative dari dunia.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress