FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

December 1, 2007

TEOLOGI DAN MISI

Filed under: Misi — admin @ 12:27 am

Karya: Andri Purnawan

Pendahuluan
Karya penebusan Kristus seringkali dapat disalah artikan hanya tertuju untuk orang Kristen saja. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya sikap yang menganggap dirinya sebagai umat yang paling benar dan bangsa pilihan yang diselamatkan. Sikap dan paham yang salah tersebut sangat tidak sesuai dengan konteks asia yang terdiri dari berbagai agama dan ras. Misi kekristenan yang dibawa ke Asia harus mampu menjadi misi yang menerima kemajemukan sebagai kenyataan hidup bersama. C.S. Song melihat misi Kristen di era pasca misi Barat perlu direkonstruksi ulang, agar dapat menjembatani antara Karya penebusan Kristus dengan kemajemukan agama dan ras di Asia. C.S. Song menawarkan sebuah rekonstruksi ulang, yaitu dengan menghubungkan penebusan Kristus dengan kisah penciptaan berdasarkan Kejadian pasal pertama.

Penciptaan dan misi Kristen
Dalam penciptaan terkandung unsur penebusan. Pada awal sebelum penciptaan, ada situasi yang disebut khaos/kekacauan. Allah mengubah kekacauan itu dan menciptakan suatu tatanan kehidupan yang teratur. Proses tersebut disebut penciptaan. Menurut C.S.Song perubahan dari khaos sampai terjadinya penciptaan yang menghasilkan tatanan kehidupan yang teratur, sesungguhnya telah terjadi karya penebusan. Didalam penciptaan ada sukacita karena terlepas dari kuasa khaos. Dari sinilah penebusan dipandang dalam perspektif penciptaan.
Kisah penciptaan yang terdapat pada Kejadian 1 merupakan produk penalaran religius bangsa Yahudi. Penalaran religius ini menjadi iman yang telah dipunyai bangsa Israel sebelum masa pembuangan. Pada saat peristiwa pembuangan di Babel, bangsa Israel mengalami penderitaan dan tekanan. Sangat dimungkinkan dalam situasi yang demikian bangsa Israel mengalami suatu keterkikisan spritual dan kepunahan sebagai suatu bangsa. Namun dimensi iman yang diwarisi oleh bangsa Israel sejak masa sebelum pembuangan memampukan bangsa Israel umtuk menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Iman bangsa Israel kepada Yahweh yang telah menciptakan kehidupan, membuat bangsa Israel mempunyai pengharapan untuk dilepaskan dari situasi ketertindasan di Babel. Iman itu juga yang menyebabkan terjadinya penyampaian karya keselamatan (penebusan) Allah kepada Israel. Melalui “hamba yang menderita” menurut deutro Yesaya, karya keselamatan (penebusan) Allah hendak disampaikan. Disinilah letak misi Kristen dari yang Ilahi, yang meniadakan batas-batas ras, agama dan budaya yang hendak disampaikan kepada seluruh bangsa melalui penyelamatan bangsa Israel dari pembuangan di Babel. C.S. Song melihat hal tersebut sebagai keterkaitan penebusan dengan kisah penciptaan. Dimana keselamatan Israel yang beriman kepada Yahwe memungkinkan terciptanya suatu hubungan yang baru antara Allah dengan seluruh ciptaan-Nya, melampui batas ras, bangsa, kebudayaan dan agama. Misi Kristen yang demikianlah yang sesuai dengan konteks Asia yang plural, sehingga Injil dimungkinkan untuk menyapa bangsa Asia.

C.S. Song membahas tiga bidang tempat kontruksi misi Kristen dapat berlangsung, yaitu :
a. Budaya
Manusia mengekspreikan dinamika kreatifnya dalam bentuk lukisan, pahatan, musik arsitektur, teknologi, dsb. Ekspresi manusia tersebut melahirkan apa yang disebut kebudayaan. Penciptaan yang dilakukan oleh Allah dapat dikatakan sebagai unsur kebudayaan karena di dalam penciptaan terjadi perubahan dari keadaan khaos menjadi keadaan baru yang penuh kehidupan. Penciptaan yang dilakukan oleh Allah itu merupakan asal daya kreatifitas manusia. Peristiwa penciptaan yang di dalamnya termuat unsur budaya Allah mengartikan segala sesuatu yang diciptakan Allah berada di bawah kuasa Allah. Maksud dibawah kuasa Allah adalah bahwa semua yang diciptakan merupakan hasil kreatifitas Allah yang baik adanya. Menurut Benhoefer baik disini janganlah dipertentangkan dengan kejahatan tetapi kebaikan dalam arti dibawah kuasa Tuhan. Penegasan tentang penciptaan yang berada dibawah kekuasaan Allah ini sangat penting bagi pemahaman dan penghargaan terhadap kebudayaan. Dalam konteks Asia kita diperhadapkan dengan ekspresi-eksprei kultural dan aktifitas-aktifitas yang berbeda. Misi dalam konteks Asia tentu saja diperhadapkan dengan berbagai budaya. Jika kita memahami bahwa budaya itu adalah dari Allah dan baik adanya maka kita tidak perlu menganggap bahwa budaya yang lain itu lebih negatif.

b. Sejarah
Misi Kristen dalam menghadapi dampak pluralisme sejarah dipacu untuk lebih serius menanggapi dampak-dampak pluralisme tersebut. Pada masa kini muncul suatu kebudayaan dunia yang dibangun atas dasar sains dan teknologi, bahasa yang digunakan oleh sains dan teknologi ini bersifat lugas, factual dan tanpa kandungan emosi. Manusia modern menganggap dapat menjadikan bahasa ini sebagai bahasa yang satu untuk seluruh dunia, satu sejarah, dan satu kebudayaan yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh para pendiri menara babel. Namun dalam kenyataannya hal ini sangat sulit bahkan bisa dikatakan tidak dapat terjadi karena suatu sejarah atau kebudayaan tidak bisa mewakili sejarah atau kebudayaan lain, hal ini disebabkan karena adanya realitas kepelbagaian/kemajemukan yang ada di dunia ini.
Gereja di barat melalui teologi dan praktek misinya gagal menilai kepelbagaian yang histories karena didasarkan pada interpretasi yang monolistis mengenai relasi antara penyataan dan sejarah dan dengan tujuan mengkristenkan negara-negara bukan barat.
menurut Christoper Dawson : makna sejarah tergantung dari prasyarat keharusan memeluk iman Kristen, sehingga akan sangat sulit seorang Kristen untuk menjelaskan sejarah kekristenan kepada orang yang bukan Kristen. Penulis menyanggah hal ini, baginya iman di dalam kristus bukanlah titik tolak perjumpaan antar agama melainkan sebagai titik focus melalui mana makna sejarah dipahami dan diinterpretasikan di dalam konteks kepelbagaian sejarah hal ini disebabkan karena kehadiran Kristus membuka kemungkinan bagi manusia untuk menanggapi Allah dalam konteks sejarah yang berbeda.
Yohanes memberikan pemahamannya mengenai misteri relasi antara penciptaan dan inkarnasi, menurutnya Firman Allah yang menjadi daging bukanlah suatu momen yang terisolasi dari sejarah interaksi antara Allah dengan manusia dan juga bukan akibat penciptaan ilahi melainkan sebuah pristiwa inkarnasi, Firman dengan aktif terlibat dalam proses melalui mana penciptaan itu terjadi, Firmanlah, Kristuslah yang pada momen yang tepat dalam sejarah dunia “menjadi manusia… dan diam diantara kita”.
Selama ini misi kekristenan barat menganggap bahwa yesus kristus harus diberi tempat yang lebih baik dalam pemahaman Kristen tentang sejarah atau dalam pelaksanaan misi gereja hal inilah yang membuat sejarah teologi tidak dapat disampaikan secara utuh., menurut penulis alangkah baiknya jika yesus kristus dianggap sebagai proses sejarah sebagai kelanjutan karya pencipataan. Karenanya tugas misi gereja adalah harus dapat memperluas makna-makna sejarah bamgsa-bangsa sebagai kesaksian atas karya Allah dalam penciptaan dan penebusan.

c. Politik
Menurut Canon. M. Warren kelemahan dasar misi Kristen adalah penyakit acuh terhadap implikasi politik dalam tugas dan panggilan gereja. Menurut Warren, kita seringkali memisahkan antara apa yang terjadi di dalam gereja dengan kehidupan nyata yang penuh gejolak. Isu tersebut meyebabkan keristenan terbagi di dalam dua kubu yaitu liberal dan konservatif. Hal ini menimbulkan jurang yang dapat menyebabkan perpecahan. Kubu-kubu tersebut di dalam melakukan misi-misinya saling bersaing untuk mendominasi negara-negara bukan barat. Memang sangat disayangkan bahwa panggilan misi itu bukan untuk keesaan dan solidaritas tetapi sebaliknya panggilan untuk perpecahan dan pemisahan. Pilihan antara Allah politik atau Allah gereja adalah suatu pilihan palsu karena Allah politik adalah Allah gereja begitupun sebaliknya. Gereja adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dunia politik dan tidak dapat luput dalam dunia politik. Jika berbicara tentang politik maka juga akan berkaitan dengan kekuasaan. Karya penciptaan adalah karya politis dimana di dalamnya Allah memperlihatkan Kemahakuasaan-Nya. Di dalam penciptaan juga terlihat manifestasi kekuasaan Ilahi. Allah memperlihatkan kuasa-Nya dalam penciptaan yang menghasilkan tatanan kosmos dengan semua benda dan mahluk di dalamnya. Hal ini juga dapat disebut politik kosmos. Tetapi bagaimana dengan gereja dalam menanggapi politik dan kekuasaan ini. Apakah gereja dalam misinya hanya cenderung memikirkan dirinya sendiri dan tinggal diam atau apakah akan melihat keluar. Tentu ada implikasinya di dalam misi gereja. Implikasi di dalam misi gereja adalah di satu pihak memang adalah tugas gereja untuk menyatakan kehendak dan maksud Allah di dalam dunia ini dan merefleksikan kasih dan keadilan Allah. Tetapi pada pihak lain gereja juga memiliki tugas untuk tidak tinggal diam ketika kekuasaan di dunia ini gagal merefleksikan struktur dan dinamika Allah. Dalam kehidupan kekristenan di Asia kita tidak dapat lagi melanjutkan pemikiran bahwa misi kristen terpisah dari misi politis gereja. Orang Asia harus belajar dari pengalaman bagaimana orang kristen terisolasi dari kehidupan polik negara yang seharusnya tanggung jawabya sebagai warga negara. Sebenarnya Misi Kristen itu bukan hanya menghitung jumlah orang yang bertobat dalam kamp misi yang serba aman (kamp misi kristiani) yang sebanarnya hal ini merugikan kekristenan sendiri. Kamp ini mengakibatkan adanya kungkungan batas-batas tersebut sehingga seseorang tidak dapat merasakan dinamika kreatif Allah yang sedang berkarya.

II. Pekabaran Injil Masa Kini ( Manusia berdosa dan manusia sasaran dosa )
Manusia bukan hanya berdosa tetapi juga menjadi sasaran dosa. Maksud menjadi sasaran dosa adalah manusia bisa mengalami penderitaan akibat perbuatan manusia lain yang berdosa. Pekabaran Injil di Asia harus melihat realitas manusia Asia yang menjadi sasaran dosa akibat penjajahan yang diakibatkan oleh Imperialisme Barat. Jika kita ingin membahas tentang sasaran dosa, jangan dulu menanyakan “ Oleh Siapa ? “ karena hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja mengingat hakekat yang ada pada diri manusia sebagai manusia berdosa. Pekabaran Injil di Asia harus ditujukan kepada orang miskin yang adalah sasaran dosa yang dilakukan oleh sistem ekonomi dan politik ( pemerintah dan penguasa ). Juga kepada orang kaya yang tidak terlepas sebagai sasaran dosa. Pekabaran Injil di Asia harus menyapa mereka yang menderita penghinaan dan ketidakadilan. Cara yang dapat dipakai melalui bela rasa ( ikut merasakan ). Jika kita hanya memandang manusia sebagai orang berdosa yang timbul adalah perasaan kasih sayang bukan bela rasa.

III. Sebutkanlah nama-nama kami
Misionaris dari barat seringkali menandai pertobatan seseorang itu dengan perubahan nama yang identik dengan Kristen (misal : John, Mark, Matthew, dll ). Padahal nama-nama tersebut “berbau” kebaratan dan tidak sesuai dengan nama Asia. Dalam kebudayaan Asia, nama memiliki makna terhadap identitas seseorang. Jika misionaris merubah nama orang yang bertobat itu maka orang yang bertobat itu akan menjadi orang yang asing di tengah komunitasnya. Berdasarkan hal di atas misi harus memberikan perhatian kepada pemberian nama yang kelihatannya sepele. Dari sini perlu dipertanyakan apakah memang tujuan misi itu untuk merubah nama orang-orang yang bertobat? Apakah Yesus mengajarkan hal tersebut?. Padahal di dalam pelayanan-Nya, Yesus disibukkan untuk mengubah dari yang “bukan siapa-siapa” menjadi “seseorang”.

IV. Relevansi
Masyarakat Asia dalam konteks masyarakat yang terjajah adalah masyarakat yang hidup didalam penderitaan. Penderitaan harus ditanggung bersama-sama (bela rasa) agar terwujud suatu masyarakat yang dapat bersatu. Tanpa kebersamaan, penderitaan menjadi sesuatu yang berbahaya, karena menjadi suatu kepahitan yang sewaktu-waktu dapat muncul menjadi kekuatan yang berhasrat untuk menjadikan oranglain sebagai sasaran dosa. Melalui kebersamaan (bela rasa) dimungkinkan suatu komunitas yang menderita menggalang kekuatan secara bersama-sama untuk mencapai perubahan pada kehidupan yang lebih baik. Tanpa kebersamaan (belarasa), setiap orang yang hidup dibawah penderitaan akan menjadikan orang lain sebagai sasaran dosa, lalu lingkaran penderitaan akan terus berputar sepanjang generasi, tanpa ada akhirnya!

2 Comments »

  1. To: Forum Teologi

    Sorry, friend, I’m just to know about your mainstream of theology. Can you explain it for me. I’m waiting for. Thanks a lot.

    Regards,

    Marthen

    Comment by Marthen — July 17, 2008 @ 2:03 am

  2. Inti pemberitaan Injil Kristus pada jati diri masnusia yang berdosa. Kalau seseorang lahir dan hidup sebagai orang berdosa, maka dia perlu Injil. Apapun keberadaan mereka. Entah miskin atau kaya, bule atau asia, Injil untuk kebutuhan manusia berdosa.

    Comment by d'rock — July 12, 2009 @ 10:51 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress