“Ada COKLAT di Mimbar Gereja”
Oleh : Jimm Song
Inilah untuk pertama kalinya saya berkotbah di mimbar gereja, semenjak studi di Teologi. Suatu pengalaman cukup berharga. Waktu itu hari Minggu pagi pukul 10.30, saya masih bersiap untuk berangkat ke gereja. Saya duduk di kursi ruang tamu, rumah tempat saya tinggal, merenungkan bagaimana nanti saat kotbah di mimbar. Jantung saya agak berdebar kencang, maklum, ini kali pertama berkotbah di mimbar. Namun di tengah-tengah renungan, saya ingat berdoa, memohon agar Kristus memberikan ketenangan dan menyertai saat berkotbah nanti.
Beberapa jam sebelum berangkat ke gereja saya minta tolong kepada Imam, anak Pak Samiran (keluarga tempat saya tinggal), agar mengambil satu buah coklat yang matang dari pohon, di belakang rumah. Dia heran, dan menanyakan mau saya apakan coklat itu nantinya. “akan saya bawa ke gereja”, kata saya…. Memang jauh hari sebelumnya saya sudah merancang suatu kotbah yang bisa “mengena” ke hati dan kehidupan para jemaat. Suatu kotbah yang kira-kira ‘kontekstual’ dengan cara memakai coklat sebagai alat peraga di mimbar. Saya berpikir, alangkah baik jika menerangkan perikop dengan memakai buah coklat, karena juga mayoritas jemaat merupakan petani coklat. Perikop kotbah saya ambil dari Roma 12:9-12, dan pengantar ke perikop dari Roma 12:4-8. Saya memberi tekanan pada “persekutuan (satu tubuh) di dalam Kasih Kristus”. ….. Kemudian Imam jadi mengambil buah coklatnya. Maka jadilah coklat saya bawa ke gereja.
Sekarang semakin dekat giliran saya untuk naik ke mimbar. Jantung semakin berdebar-debar. Bahan kotbah yang sudah dioret-oret jauh-jauh hari semakin tak karuan lagi saya bolak-balik. Waktunya telah tiba. Jemaat bernyanyi menyambut firman Tuhan. Lagu sebentar lagi sudah mau habis. Saya naik ke mimbar dan diam-diam memandang wajah para jemaat satu persatu. Sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa mereka hanyalah orang-orang petani yang tak tahu soal teologi! Jadi kenapa saya harus gemetar dan takut? Mengapa pula jantung harus berdebar?
Tapi saya berpikir lagi. “Justru karena mereka petani yang mungkin tak tahu soal teologi maka saya bertanggungjawab memberitahukannya kepada mereka.” Lagi pikir saya. “Mengapa aku memandang mereka berdasarkan petani yang mungkin diremehkan pola pikirnya? Bukankah mereka manusia juga? Sama seperti aku seorang manusia yang berdiri di mimbar ini? Dengan begitu ketakutanku, ke-gemetaran jantungku tidak berdasar! Untuk apa aku takut?. Berarti aku harus menempatkan diri sama seperti mereka, sama-sama manusia!”
Dengan pergumulan yang sedikit memerlukan waktu, ketakutan dan ke-gemetaran bisa segera diselami dan diatasi. Alangkah gembiranya hati saat semuanya itu teratasi. Ternyata merasakan kedekatan rohani terhadap jemaat saat berkotbah merupakan hal yang sangat penting. Begitulah yang saya rasakan.
Saya memulai bicara dari mimbar. “Kasih Kristus adalah Coklat Kehidupan! Persekutuan Kristus bagaikan kumpulan biji coklat di dalam daging buahnya (sambil menunjukkan biji di dalam buah coklat yang saya pegang). Orang-orang yang hidup di dalam Kristus dan melakukan Kasih, adalah seperti biji-biji coklat yang dijemur di panas terik matahari. Biji-biji itu harus dijemur setiap hari agar menjadi benar-benar kering. Dan jika demikian, hasilnya akan lebih berkualitas. Begitu jugalah orang-orang Kristen yang hidup di dalam Kristus, yaitu harus menerima, dengan mengundang /menghadirkan Kristus setiap saat, seperti biji-biji buah coklat itu, agar ia dapat hidup di dalam Roh Kristus serta tingkah lakunya pun selalu yang diinginkan oleh-Nya. Kalau sudah demikian, maka ia pun bisa melakukan Kasih kepada sesamanya di dalam persekutuannya. Persekutuan itu membutuhkan sikap menerima sesama dan sikap berbagi dengan sesama.”
Kira-kira begitu inti kotbah saya dengan menggunakan coklat sebagai alat peraga. Tampaknya jemaat merespon dengan baik dan tidak bosan dengan kotbah itu. Wah, syukur kepada Tuhan. Ternyata saya bisa menyampaikan kotbah dengan sikap tenang.
Menyelami dan melewati pergumulan yang sedikit agak berat di atas mimbar membuat saya semakin berpikir bahwa tidaklah mudah sebenarnya memberitakan kabar sukacita itu kepada jemaat. Tidak asal ceplas-ceplos saja. Bukan saja soal pertanggungjawaban tafsiran Alkitabnya, melainkan terutama bagaimana saya menjawab pertanyaan: apakah saya sendiri sanggup melakukan apa yang akan/ telah saya katakan dari atas mimbar itu ?
Setidaknya pertanyaan yang sangat sederhana inilah yang menjadi titik tolak saya merenungkan arti menjadi seorang pengikut Tuhan. Ternyata bukan soal Coklatnya, melainkan sesuatu di balik Coklat itu.
TEOLOGI
Senang Jimm Song berusaha menyajikan kotbah yang sangat kontekstual dengan jemaat setempat dan mencoba untuk menyederhanakan kotbah dengan cara sendiri sehingga jemaat dapat dengan mudah memahami kotbah yang disampaikan.Buah coklat adalah benda yang selalu bersentuhan dengan jemaat karena jemaat adalah petani coklat. Saya setuju, bukan soal Coklatnya, melainkan sesuatu di balik Coklat itu. Namun untuk memahami sesuatu di balik coklat tentu kita harus memahami ilustrasi coklatnya. Untuk mendapatkan biji-biji coklat yang berkualitas yang siap diolah tentu harus dijemur terlebuh dahulu, terserah mau dijemur dimana, yang penting biji coklatnya bisa benar-benar kering. Kalau ilustrasi tentang persekutuannya dengan menggunakan biji-biji coklat yang masih terbungkus dalam buahnya, saya kira masih tepat. Namun apa hubungan ilustrasi biji-biji coklat yang mengalami proses pengeringan sampai biji benar-benar kering dengan orang-orang Kristen yang hidup di dalam Kristus, yaitu harus menerima, dengan mengundang /menghadirkan Kristus setiap saat agar ia dapat hidup di dalam Roh Kristus serta tingkah lakunya pun selalu yang diinginkan oleh-Nya ? Bukankah lebih tepat sasaran ilustrasi ini ke arah proses hidup yang akan dijalani oleh orang Kristen, dengan menggunakan proses pengeringan biji coklat sampai biji itu berkualitas bahkan sampai menjadi coklat yang berkualitas yang siap dikonsumsi oleh masyarakat? Demikian halnya dengan kehidupan orang Kristen. Hampir sama dengan ilustrasi pemurnian emas. Tapi, kalau Jimm Song bisa melihat dari sisi yang berbeda dengan mengarahkan ilustrasi ini ke arah pertobatan (penerimaan Kristus), mohon dijelaskan. Mungkin saya bisa dapat input. Terimakasih
Comment by Ance — March 28, 2008 @ 9:38 pm