FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

December 29, 2007

Persahabatan dalam Perspektif Etika Kristen

Filed under: Umum — admin @ 12:12 am

Karya: iswanto

Pendahuluan

Alkisah ada dua orang ksatria yang hidup di jaman purbakala. Mereka bernama Gilgamesh dan Enkidu. Mereka bersahabat dengan akrab satu dengan yang lainnya. Suatu hari mereka berdua melakukan perjalanan ke sebuah hutan untuk menaklukkan raksasa yang bernama Humbaba. Setelah itu baik Gilgamesh maupun Enkidu mengungkapkan pernyataan yang sama. “Memang mustahil menang sendirian, tetapi persahabatan melipatkan kekuatan. Tali teranyam tak mudah diputuskan, dua singa lebih kuat dari bapanya”. Demikian sepenggal kisah dari epos pengembaraan Gilgames. Kisah tentang persahabatan bukanlah tema yang baru, bagi Gilgames relasinya dengan Enkidu tersebut mempunyai daya kekuatan yang memungkinkan dia untuk melawan dan mengalahkan Humbaba. Sehubungan dengan hal tersebut tema persahabatan inilah yang akan menjadi fokus tulisan ini, lebih tepatnya dalam rumusan pertanyaan: dimana atau bagaimanakah persahabatan dalam sudut pandang etika Kristen? Maka akan menjadi penting bila kita pertama-tama akan menggali apa itu persahabatan dan kualitas-kualitas apa saja yang akan ada di dalamnya, sudut pandang teologis terhadapnya dan tentunya relevansi bagi kehidupan Kristen.

Persahabatan

Setidaknya ada banyak definisi tentang apa itu persahabatan, tetapi karena terbatasnya ruang maka kita bisa menyebutkan semua definisi tersebut. Dalam ilmu psikologi sosial, persahabatan didefinisikan sebagai suatu hubungan antar pribadi yang akrab atau intim yang melibatkan setiap individu sebagai suatu kesatuan. Beberapa elemen pokok dari persahabatan adalah :
1. Adanya penghargaan satu sama lain lebih pada sebagai orang itu sendiri dari pada keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari persahabatan.
2. Persahabatan sebagai suatu hubungan antar pribadi lebih menekankan pada kualitas yang obyektif satu sama lain.
3. Memiliki kebebasan untuk saling memberi tanpa adanya harapan untuk memperoleh imbalan.
4. Akhirnya, mereka saling bersahabat karena keunikannya. Persahabatan selalu memperlihatkan adanya keintiman, individualitas, dan kesetiaan.
Lebih lanjut, tentang sahabat, Gallegher memberikan definisinya, adalah seseorang yang mengetahui segala sesuaut tentang dirimu dan menghendaki agar engkau sendiripun mau mengenal dia sepenuhnya, dan dia tidak dapat memahami kepenuhan hidup ini tanpa engkau. Dengan kata lain seorang sahabat menjadi “aku yang lain” (alter ego) suatu perluasan diriku sendiri, seorang yang menjadi hakikat diriku dan aku sendiri adalah bagian dari dirinya. Pandangan Katolik ini setidaknya melihat persahabatan sebagai suatu hal yang pisitif bagi kehidupan manusia. Pandangan ini setidaknya bersumber dari Thomas Aquinas yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles yang menganggap persahabatan (degan orang-orang bijak) merupakan salah satu sarana dimana mausia dapat mencaia telos-nya yakni kebahagiaan “eudaimonia”.

Suatu ide disimpulkan oleh Gilbert C. Meilander, dari pemikiran Aristoteles dalam Nichomaccan Ethics, tentang persahabatan. Persahabatan memiliki dua kualitas yang tidak dapat dipisahkan, yakni preferensial dan mutual. Persahabatan itu sifatnya memilih-milih. Artinya, orang tidak akan menganggap semua orang sebagai sahabatnya. Ada tingkatan tertentu sampai orang menerima orang lain sebagai sahabat. Dan menurut Aristoteles, bentuk persahabatan yang tertinggi timbul dari interaksi dari dua klasifikasi “When those who are equal choose one another as friends, not merely for the sake af pleasure of adventage, but because of the other’s character”.

Selain bersifat memilih, persahabatan juga bersifat mutual, saling menguntungkan. Persahabatan tidak bisa satu arah, maka yang terjadi adalah reciprocity atau simbiosis mutualisme.

Gambaran persahabatan dalam Perjanjian Lama

Dalam kitab 1 Samuel 17:58 – 18:1-5 kita setidaknya mendapatkan gambaran tentang persahabatan antara Daud dan Yonathan. Hubungan mereka itulah merupakan counter atas hubungan yang terjadi antara Saul dengan Daud. Pola hubungan antara Saul dan Daud bersifat subordinasi dan Daud tak lebih sebagai property bagi Saul. Sehingga ia (Saul) dapat dengan sekehendak hatinya dapat memerintah Daud bahkan untuk berperang sekalipun. Sedangkan hubungan Daud dengan Yonatan merupakan hubungan yang setara yang ditandai dengan berpaduan jiwa mereka. Bahkan Yonathan memberikan jubahnya serta perlengkapannya kepada Daud (18:4). Oleh Brueggemman tindakan tersebut dinilai sebagai aksi yang dramatis, dimana hal itu dapat dilihat sebagai pengalihan hak Yonatan kepada Daud untuk mengklaim tahta kerajaan. Dan justru Yonatanlah yang berperan sebagai pelindung Daud, bukan Saul, sang raja yang seharusnya melindungi rakyatnya. Persahabatan antara Daud dan Yonatan bukan saja merupakan ikatan manusiawi semata, ada dimensi transenden di dalamnya dimana mereka menyatkaan bahwa Tuhan ada diantara mereka (Daud dan Yonatan) sampai selama-lamanya (1 Samuel 20:23).

Pada kitab Amsal kita juga menemukan banyak ayat yang memberikan nada-nada yang positif tentang persahabatan. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran”. (Amsal 17:17) “…ada juga sahabat yang lebih karib dari saudara” (Amsal 18:24) “Seorang sahabat memukul dengan maksud baik…” (Amsal 27:6). Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa Perjanjian Lama juga memberikan tempat bagi persahabatan antar manusia, yang tentunya didasari keyakinan bahwa Allah yang berada di dalam persahabatan tersebut.

Sikap Yesus terhadap persahabatan
Seorang teolog Katolik yang terkemuka, Hans Kung berpendapat bahwa yang khas dari etika Kristen adalah kenyataan bahwa semua tuntutan etis dipahami dalam terang keteladanan Yesus Kristus yang tersalib. Karena itu pembicaraan dalam etika Kristen tak dapat dipisahkan dari pribadi dan karya Yesus Kristus. Dalam hubungannya dengan persahabatan, Markus 2:1-12 mengisahkan Yesus yang sedang memberitakan firman di sebuah rumah di Kapernaum. Tetapi kemudian gangguan datang ketika dari atap rumah turunlah sebuah tilam dengan orang yang lumpuh di dalamnya. Ketika Yesus melihat iman mereka …” (2:5) terjadilah kemudian mujizat penyembuhan. Persahabatan menghasilkan mujizat. Kepedulian akan sahabat yang sakit tidaklah membuat sahabat yang lain berpangku tangan dan berdiam diri saja. Persahabatan menginginkan apa yang baik bagi kebutuhan sahabatnya dan sebba itu Yesus menghargai persahabatan yang demikian.

Sedangkan pada bagian lain Injil, yaitu injil Yohanes. Lazarus disebut sebagai sahabat Yesus (TB LAI : dia yang Engkau kasihi). Pada pasal 15:14-15, Yesus menyebut para muridNya sebagai sahabat-sahabatNya. Ia tidak lagi memandang kedudukan para murid sebagai hamba-hamba melainkan Yesus menganggap meerka dalam kedudukan yang setara dengan Dia, yaitu sebagai sahabatNya. Dalam hal ini persahabatan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia dimulai dari dan melalui karya Yesus Kristus. Sebagaimana persahabatan tidak bisa satu arah, Yesuspun menghendaki demikian dengan berkata kepada para murid “kamu adalah sahabatKu”, jikalau kamu berbuat apa yang Ku-perintahkan kepadamu (15:14) dan perintah itu sebagaimana kita pahami sekarang tertuang dalam hukum Kasih.

Persahabatan dalam Etika Kristen

Pada tahun 1960-an muncullah buku yang provokatif, situation ethics: the new morality, yang ditulis oelh Joseph Fletcher (1905-1991) seorang teolog Kristen Protestan yang menjadi guru besar etika sosial pada Episcopal Theology School di Cambridge, Massachussets. Bagi Fletcher satu-satunya prinsip moral adalah kasih (agape) dan agae inilah yang juga menjadi norma mutlak dalam etikanya (etika situasi). Sehingga bagi Fletcher philia (catatan kata “philos” sahabat) tidak penting dan tidak mempunyai tempat dalam etika Kristennya. Tentu tidak semua teolog dan ahli etika setuju dengan pendapatnya tersebut. Tetapi setidaknya pandangan bahwa agape bertolak belakang dengan philia mempunyai pengaruh tersendiri, dengan anggapan agape tidaklah pilih kasih, sebagaimana Bapa di surga yang memberikan matahari baik kepada orang jahat maupun orang baik dan menurunkan hujan kepada orang benar maupun orang tidak benar (Matius 5:45) sedangkan philia bersifat preferensial, memilih-milih. Agape ditunjukkan kepada semua orang bahkan musuh sekalipun sedangkan philia tidak demikian. Pandangan yang demikian seolah-olah melihat bahwa tidak ada korelasi antara agape dan philia, bahwa keduanya bertentangan sama sekali. Universal dan partikular. Tetapi Agustinus menolak pandangan tersebut, dengan tepat ia mengungkapkan hubungan antara keduanya dalam teologi Kristen :
All men are to be loved equally. But since you cannot do good to all, you are to pay special regard to choose who, by the accidents of time, or place, or circumstance, are brought into closer connection with you. For, suppose that you had a great deal of some commodity, and felt bound to give it away to somebody who had none, and that is could not be given to more than one person; if two persons presented themselves, neither of whom either from need or relationship a greater claim upon you than the other, you could do nothing than fairer than choose by not to which you would could not given to both. Just so among men, since you cannot consult for the good of then all, you must take the matter as decided for you by a sort of lot, according as each man happens for the time being to be more closely connected with you.

Dan bagi Agustinus hanya Allah sajalah sumber persahabatan. “Sebab tidak ada persahabatan benar kalau tidak direkatkan olehMu antara dua makluk yang dihubungkan menjadi satu berkat kasih yang dicurahkan di dalam hati kami oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kami”. Persahabatan sebagai anugerah (karya) Allah juga ditegaskan oleh Bonhoefer dan lebih bersifat Kristosentris “for Jesus Christ alone is our unity. He is our peace” through him alone do we have access to one another, joy in one another, and fellowship with one amother”.

Implikasi Ekklesiologis dari persahabatan

Persahabatan mutual merupakan persahabatan yang berorientasi pada kepentingan orang lain, tidak mementingkan keuntungan pribadi karena mengasihi sahabat adalah serupa mengasihi diri sendiri, hal ini dimungkinkan karena “orang menginginkan kebaikan sahabatnya demi sahabatnya itu, sahabatnya harus tetap seperti adanya” konsekuensinya, seseorang akan menginginkan hal yang paling baik bagi sahabatnya, karena setiap orang mengingknkan kebaikannya sendiri diatas semua. Salah satu yang menjadi ciri khas persahabatan adalah spend time together maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah dimana hal itu dapat diwujudnyatakan, meluangkan waktu bersama setidaknya bisa dimulai di gereja. Gereja bukanlah sekedar tempat melakukan ritus-ritus keagamaan melainkan juga tempat dimana persahabatan bisa diwujudnyatakan, dan gereja juga merupakan persekutuan dari sahabat-sahabat dalam Kristus. Bagaimana seharusnya terbangun sikap mental dan pluralisme yang menerima perbedaan dan terwujudnya persahabatan yang lintas kultural adalah suatu realitas yang harus dan hendak diciptakan dalam gereja, sehingga gereja setidaknya dapat menerapkan kebajikan politis etis yang membawa perubahan hakiki. Ini tentunya bisa menjadi counter atas realitas sosio historis yang buruk suatu bangsa.

Di atas disebutkan bahwa salah satu ciri kas dari persahabatan adalah meluangkan waktu bersama. Dengan kata lain untuk bersahabat maka kita harus ada untuk orang lain. Demikian juga dengan gereja, gereja benar pada dirinya sendiri jika dia “ada” exists bagi orang lain. Sebagaimana pernyataan Bonhoeffer, “The church is the church only when it (the church) exists for others…. The church mus share in the secular problems of ordinary human life, not dominating, but helping and serving. It (the church) must tell men of every calling what it means to live in Christ, to exist for others. Persahabatan menyadarkan kita bahwa kit ahadir untuk orang lain, tetapi yang diperjuangkan oleh gereja bukanlah sekedar peaceful coexistence tetapi juga peaceful proexistence dimana keberadaan kita dan keberadaan yang saling menguntungkan saling mendukung.

1 Comment »

  1. pemaparan yang apik ^_^ tulisan ini mampu membawa kita pada sebuah kesadaran akan arti “kau sebagai sahabatku”

    Comment by merry malau — September 6, 2008 @ 11:59 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress