FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

January 7, 2008

(EKSES) KEKERASAN DALAM OKA

Filed under: Teologi Praktis & Pastoral, Teologi Kontekstual — admin @ 1:04 am

Transformasi Konflik
Askaria Tiaristhy, Gideon Hendro Buono, Krishermawan Santoso, Lipta Febriastutie, Priska Natalia br. Sembiring

PENDAHULUAN
Habermas menyatakan bahwa ada dua bentuk rasionalitas yang sangat mendasar yaitu rasionalitas sasaran dan rasionalitas komunikatif . Namun secara tegas, dia menyatakan bahwa dari antara keduanya seharusnya rasionalitas komunikatif memegang peranan yang lebih dominan. Wajar saja, sekalipun Habermas setuju dengan pendapat bahwa dalam kenyataannya objektivitas senantiasa menjadi layar asap kepentingan-kepentingan terselubung (artinya tidak ada yang namanya sesuatu bebas nilai) sehingga pada akhirnya sejarah memiliki hukum perkembangan atau tujuan objektif, namun tidak boleh demikian saja hal itu diterima sebagai usaha pelegitimasian segala macam cara untuk mencapai tujuan bahkan dengan pengorbangan manusia. Oleh karena itu penting sekali baginya supaya kepentingan yang ada tidak dilekatkan sedemikian rupa dengan penguasaan, namun perlu adanya saling komunikasi di dalamnya, karena itulah kunci mewujudkan kehidupan yang manusiawi . Namun dialog yang terjadi dalam proses komunikasi ini bukanlah dialog yang terbungkus dalam ‘sistem’ yang selama ini ada, namun dialog dalam ‘dunia kehidupan’ . Ini penting, karena mungkin sekali dialog itu tidak hanya berhenti pada penyelesaian masalah yang ada dalam sistem itu, tetapi juga sangat mungkin menyangkut transformasi dari sistem itu sendiri.
Pandangan yang demikian sangat penting untuk dilihat dalam proses transformasi konflik secara umum, dan secara khusus dalam konflik bernuansa kekerasan yang sempat mewarnai kegiatan OKA (Orientasi Kehidupan Akademika) 2006 UKDW. Karena OKA yang diharapkan bisa menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk memperdalam pemahamannya mengenai kehidupan akademik, tidak seharusnya diwarnai nuansa kekerasan, mengingat bahwa dalam tujuan OKA sendiri terdapat kata ‘adaptasi tanpa usaha perploncoan’ dan salah satu materinya adalah tentang hak asasi manusia. Tidak sedemikian sederhana memang karena kenyataannya banyak faktor manusiawi yang mendasari tindakan dan aksi kekerasan itu yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor personal, namun juga menyangkut sistem yang ada di belakangnya.
Kelompok akan fokus pada kekerasan yang terjadi, sehingga jika ada hal-hal yang juga menonjol selain kekerasan kelompok tidak akan memberikan ruang cukup lebar. Dalam pembuatan papar ini kelompok melakukan penelitian dengan angket dan wawancara dari kedua belah pihak dan oknum-oknum yang terlibat dalam proses OKA 2006. Namun kelompok tidak akan memaparkan hasil angket dan wawancara seperti halnya yang dilakukan di surat kabar-surat kabar, satu sisi supaya kelompok tidak dianggap sebagai wartawan surat kabar kampus yang baru saja beredar, namun karena ini mata kuliah transformsi konflik, kelompok akan mengungkap konflik yang ada dari sudut pandang transformasi konflik.
Kekerasan dan OKA
Pemahaman konseptual sangat penting sebelum memulai pembahasan mengenai kekerasan dalam OKA ini. Kelompok akan mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai kekerasan dan OKA, dan sejauh mana seharusnya kaitan antarkeduanya.
Mendefinisikan kekerasan secara harafiah mau tak mau seperti membentenginya dengan konsep-konsep yang rawan, karena kenyataannya pemahaman akan kekerasan ini sangat beragam. Secara sederhana saja, kekerasan bukanlah sesuatu hal yang patut dibanggakan karena di dalamnya terdapat unsur dehumanisasi yang menimbulkan dampak yang tidak hanya personal namun bisa juga sampai ranah kultur. Bahkan secara berani Krisni Noor Patrianti menyatakan adanya realitas bahwa generasi muda sekarang dibesarkan dalam budaya ini, karena adanya anggapan bahwa kekerasan dalam cara paling mudah untuk mencapai tujuan secara efisien . Namun tanpa harus mendefinisikan secara eksplisit kekerasan merupakan fenomena politik dan sosiologis yang bersifat universal . Ia dapat berlangsung pada level individual, kolektif, institusi, maupun sistem secara keseluruhan. Kekerasan bisa berlangsung secara horisontal pada masing-masing level, tapi bisa juga berlangsung secara vertikal atau kombinasi di antara kedua. Penyebabnya bisa sangat beragam mulai dari konsep libido dalam psikologi yang juga menyangkut keinginan untuk berkuasa - terutama jika politik yang berjalan adalah politik kekuasaan bukan politik komunikasi atau moralitas maka mau tak mau cara termudah adalah kekerasan - sampai dengan aspek peniruan atau mimetic desire (Rene Girard) . Sejauh mana akibatanya bisa sangat beragam, namun yang jelas jika tidak tertangani secara serius pasti destruktif. Kali ini kelompok tidak akan mencoba membuat definisi reformatif atas kekerasan, karena kenyataannya kekerasan sangat luas, dan tidak adil jika kelompok membatasi kekerasan ini dalam sebuah batasan definisi sepihak kelompok yang sebelumnya tidak dibagikan kepada minimal orang-orang yang terkait dalam proses OKA 2006 UKDW. Kelompok hanya ingin menyatakan bahwa dalam kekerasan ada usaha dehumanisasi yang dilakukan secra sadar atau tidak karena sudah terbiasakan. Ekses artinya melampaui batas atau berlebihan, membatasi keberlebihan kekerasan adalah hal yang agaknya mustahil, karena itu kelompok terkesan malu-malu memasukkan kata ekses dalam judul paper ini. Namun jika dikaitkan dengan OKA maka ekses kekerasan itu adalah tindakan kekerasan yang seharusnya tidak dilakukan dalam OKA, padahal OKA sendiri seharusnya tidak diwarnai muatan kekerasan. Jadi yang kelompok anggap sebagai ekses kekerasan di sini adalah ketika kekerasan dalam OKA tidak lagi mencapai tahap kekerasan simbolik, namun sudah mencapai tahap kekerasan paling primitif, kekerasan fisik.
Sedangkan tentang OKA, supaya tidak melebar ke mana-mana sudah ada panduan tentang kegiatan Orientasi Kehidupan Akademika (bukan akademis/akademik seperti yang banyak dipahami orang) ini. Mengutip dari panduan tersebut, OKA dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa mahasiswa baru memiliki pemahaman tentang bagaimana kehidupan di sebuah perguruan tinggi, karena itu diperlukan kesiapan-kesiapan dalam bidang-bidang kompetensi, adaptasi, dan sistem pengajaran yang tepat, kesemuanya sedini mungkin untuk percepatan proses pemahaman makna program studi yang dimasuki dan adaptasi dengan lingkungan. Tujuannya adalah memeperkenalkan suasana kehidupan akademika dan kampus agar mahasiswa baru dapat melakukan adaptasi dengan cepat tanpa nuansa perploncoan. Kegiatan ini bersifat wajib untuk mahasiswa S-1 UKDW tanpa terkecuali. Selain itu yang cukup penting adalah bentuk kegiatannya, yaitu dengan ceramah, latihan keterampilan, diskusi, tugas mandiri, permainan dan simulasi, kunjungan langsung, dan penyelenggaraan pameran .
Melihat itu maka sebenarnya tidak seharusnya tindak kekerasan muncul dalam OKA, apalagi kekerasan fisik dengan alasan apa pun, termasuk pembentukan mental. Apalagi mengingat bahwa salah satu materi yang dibawa dalam OKA (sesuai dengan panduan OKA) adalah hak asasi manusia, Jika terjadi tindak kekerasan, maka ada sebuah inkonsistensi dalam OKA itu sendiri.
OKA 2006 DAN TRANSFORMASI KONFLIK
Transformasi konflik berarti penciptaan visi dan pemberian tanggapan terhadap pasang surut konflik sosial sebagai kesempatan yang diberikan oleh hidup demi terciptanya proses perubahan konstruktif yang mereduksi kekerasan dan mengembangkan keadilan dalam interaksi langsung dan dalam struktur-struktur sosial, serta merespon masalah kehidupan nyata dalam relasi antarmanusia . Sehingga transformasi konflik pada akhirnya memandang konflik sebagai sesuatu yang normal dalam hubungan antar manusia dan juga merupakan penggerak perubahan karena itu John Paul Lederach juga menyatakan bahwa konflik adalah anugerah , sehingga tidak perlu lahir ketakutan berkonflik atau paranoia akan keterlibatan dalam konflik. Transformasi konflik melihat konflik sebagai jendela akan penemuan sebuah nilai yang selama ini tampaknya terkesampingkan atau terbenam, entah karena kurang terperhatikan secara mendalam, penolakan, atau karena alasan-alasan lain. Sehingga pemahaman ini tidak sepenuhnya sama (atau bahkan sama sekali berbeda) dengan pandangan konflik dari sudat pandang resolusi konflik yang sedang menjamur di kalangan individu sampai internasional. Karena resolusi menganggap bahwa konflik adalah masalah (tidak diinginkan) yang harus diselesaikan dan dijawab dengan bagaimana mencari jalan keluar dari masalah ini . Sehingga resolusi konflik terkesan jauh lebih pragmatis dari transformasi konflik. Alasan ini yang membuat kelompok yakin untuk mengambil jalur transformasi konflik dan bukan resolusi dalam penanganan kekerasan yang terjadi dalam OKA. Bukan kok karena mata kuliahnya berjudul transformsi konflik dan yang mengajar adalah Pak Paulus yang notabene ketua PSPP dan juga setuju dengan konsep transformasi konflik.

Peta Konflik
Kecenderungan hipersemiotis semakin menjalar tanpa disadari pada zaman ini, media yang seharusnya merepresentasikan realitas tak jarang justru realitas (termasuk disinformasi iklan-iklan ) dan mimpi sekadar menjadi ungkapan keinginan yang tidak terpenuhi . Pada akhirnya apakah hubungan hipersemiotika dengan OKA 2006 dan kekerasan? Hubungannya sangat dalam yaitu ketika kabar burung menjadi komoditi yang laku keras, yang semakin ia jauh dari fakta ia semakin sensasional, dan kabar burung ini begitu saja diterima tanpa usaha komunikasi yang matang dan rechek yang menjamin keseimbangan dan kebenaran fakta. Banyak orang yang berusaha berbicara atas OKA ini tanpa kejelasan konseptual dan faktual yang cukup matang, sehingga pada akhirnya yangh terjadi adalah penilaian yang tidak tepat sasaran karena salah pendiagnosaan. Karena itu, tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, kelompok mewawancarai orang-orang yang berhubungan dengan OKA 2006 dan menempatkannya dalam kajian yang jujur dan seimbang, tentunya dalam kawasan transformasi konflik. Yang kelompok soroti adalah para ‘pimpinan’ UKDW, panitia OKA, dan perserta dari fakultas Teologi.
a. Setelah terbentuk, panitia OKA mengajukan proposal OKA 2 bulan sebelum OKA berlangsung, dan keputusan dari Universitas pendanaan sebesar 39 juta rupiah (Rp 60.000,00 x 650 orang peserta, ini berbeda dengan dana yang harus dibayarkan oleh peserta OKA sebesar Rp 65.000,00 artinya jika full Rp 65.000,00 diberikan kepada panitia dana akan mencapai Rp 42.250.000,00, alasan pihak rektorat untuk pemotongan dana ini adalah untuk meningkatkan kreativitas panitia dalam usaha pencarian dana) akan didanai oleh Universitas. Panitia akhirnya merencanakan anggaran dana hanya sebatas 39 juta rupiah, supaya tidak sibuk mencari dana lagi, dan mereka sudah mengadakan kontrak dengan pihak-pihak konsumsi, sound sistem, dekorasi, dll, yang jika dibatalkan uang muka hilang. Namun ketika penerimaan dana, setelah Tes Masuk ke-5 UKDW, 3 Minggu sebelum kegiatan OKA, dana yang diterima oleh panitia hanya sebesar Rp 31.800.000,00 karena jumlah peserta hanya mencapai 530 orang, jadi ada kekurangan 7,2 juta. Panita kelabakan harus mencari dana, dengan waktu yang relatif singkat. Akhirnya mereka menemukan sponsor dari Djarum dam Konimex, Djarum tidak meminta imbalan apa pun (selain promosi tidak langsung tentunya), tetapi konimex meminta kompensasi tutup botol fit up dan bungkus nano-nano. Akhirnya dibuatlah keputusan peserta harus membawa tutup botol fit up dan bungkus nano-nano dalam OKA, tanpa pengkomunikasian mengenai sponsorship ini. Panitia diberi pengarahan oleh salah satu dosen untuk berhati-hati dan waspada terhadap anak teologi pada saat briefing panitia.
b. Setelah menerima keterangan tentang OKA, malam sebelum OKA, angkatan 2006 Teologi berkumpul di Kapel Asrama untuk membicarakan kelengkapan OKA. Beberapa anak angkatan 2005 juga ikut bergabung di situ, dan memberikan masukan untuk tidak takut kepada panitia, dan jika ada kekerasan atau tindakan pembodohan berani melawan. Karena mereka tidak menemukan tutup botol fit up maka mereka menggunakan tutup botol aqua yang ditulisi Fit Up.
c. OKA hari pertama, keributan kecil terjadi antara Norman (2005) yang menyebut dirinya pengantar adik-adik angkatan 2006 dengan seksi keamanan, karena Norman menghalangi pemeriksaan kelengkapan yang akan dilakukan oleh seksi keamanan terhadap Theologi 2006. Puncaknya adalah Norman dipindahkan dari penghalangannya, bagi seksi keamanan mereka menjalankan tugas, bagi Norman pemindahan tubuhnya adalah bentuk kekerasan. Malam harinya aliansi anti kekerasan (yang terdiri dari beberapa mahasiswa teologi angkatan 2000, 2001, 2002, dan 2005) menyebarkan selebaran supaya Theologi 2006 tidak takut melawan jika terjadi pembodohan dan kekerasan. Aliansi ini juga datang ke Asrama untuk memberikan briefing dengan tema serupa kepada Teologi 2006.
d. OKA hari kedua, Aliansi anti kekerasan memasang 2 buah spanduk yang berbunyi kurang lebih berbunyi (aliansi anti kekerasan ketika kami tanya sudah agak lupa isi spanduknya) “Jangan ada kekerasan dalam OKA” dan “Kembalikan OKA pada tujuannya, jangan ada pembodohan”, antara aliansi dan seksi keamanan sempat terjadi ricuh sejenak hingga terjadi penyobekan spanduk. Namun bisa ditenangkan. Pada saat sesi salah satu anak perempuan dari teologi diingatkan oleh panitia karena duduknya yang mengangkat kaki (dianggap tidak sopan) dan tidak memperhatikan ke depan karena sepanjang sesi melihat sinis kepada salah seorang anggota seksi keamanan, mahasiswi ini menjawab dnegan agak sinis, seksi keamanan masih terkendali. Mahasiswi ini lalu menyurati salah seorang anak teologi menyatakan ingin pulang karena sudah malas mengikuti acara, temannya manjawab untuk tidak pulang menunggu sebentar lagi.Pada pergantian acara 2 orang ini maju ke depan, berbicara mengenai:
1. Mengapa ada pilih kasih dari panitia, peserta harus mematuhi peraturan tetapi panitia tidak (salah satu panitia tidak mengikuti aturan yang dibuat).
2. Mengapa masih ada pembodohan dalam OKA, misalnya terjadi pada OKA 2005.
Namun ini berhasil ditenangkan oleh salah seorang seksi acara, acara berjalan dengan tenang hingga berjalan sesi. Pada sesi berikutnya terjadi pemanggilan salah seorang anak teologi ke sayap kiri auditorium oleh 2 orang seksi keamanan untuk menanyakan mengapa berani melawan panitia, apakah ingin menjadi jagoan. Perang mulut ini membuat ribut dan mengganggu unit-unti sekitar sayap kiri auditorium, sehingga orang-orang di LPPM meminta salah satu dosen TI staf LPPM untuk keluar dan menenangkan (saksi mata kami utnuk kejadian di sayap kiri). Memang ada pemukulan, tetapi bukan pemukulan yang sangat keras, oleh salah satu anggota seksi keamanan terhadap anak Teologi ini. Si pemukul dan si anak teologi langsung ditahan supaya tidak terjadi pemukulan lagi, si pemukul ditahan oleh saksi mata, anak teologi ini ditahan oleh salah satu seksi keamanan supaya tidak terjadi perkelahian. Beberapa panitia turun, anak teologi lepas dan segera berlari ke dalam auditorium, merebut mic dari pengisi acara (DWPh) dan menyatakan bahwa dirinya telah dipukul oleh panitia dan mengajak semua anak teologi keluar dan memboikot acara OKA, di situlah terjadi keributan dan perkelahian. Korbannya anak teologi dan seksi kemanan, tetapi sudah tidak jelas siapa memukul siapa, siapa dipukul siapa. Anak-anak Theologi lalu dikumpulkan di di ruang B 2.3 oleh PR III, 5 orang dosen theologi juga ikut. Semua nadanya menenangkan, PR III menjelaskan tentang sponsorship. Theologi pulang, OKA terus jalan.
e. Hari ketiga OKA di kampus tidak dijalankan dengan anak Teologi, anak Teologi OKA di asrama.
f. Beberapa hari kemudian diadakan resolusi damai dan rekonsiliasi antara panitia dan beberapa perwakilan dari Theologi 2006 di ruang PR III, sama-sama memaafkan dan damai.
Metode Transformasi Konflik
Dalam Transformasi konflik dikenal 2 lensa yang bisa didugakan untuk menganalisis konflik yang terjadi, yaitu lensa episode yang menyoroti sesuatu yang berjangka pendek, dan lensa pusat getar yang lebih ke inti: struktur, identitas, sistem, kultur. Lensa episode adalah isu, isi, dan kontroversi dalam waktu tertentu, inilah yang disebut dengan krisis yang tampak di permukaan. Sedangkan Lensa Pusat getar adalah konteks relasional, motif, kepentingan, yang bisa tampak dari pola yang selalu kelihatan dan berulang.
Lensa Episode (OKA 2006):
a. Kurangnya komunikasi tentang konsep-konsep OKA panitia dan peserta serta dari panitia kepada peserta dan dari peserta kepada peserta yang lainnya, sehingga kelancaran dalam berlangsungnya OKA tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan
b. Anak Theologi 2006 yang memang sebelum OKA telah bersama-sama tinggal di asrama yang membuat relasi antara mereka dengan Theologi angkatan atas sehingga apapun yang diberikan oleh mereka diterima secara langsung oleh Theologi 2006 tanpa mengkritisi apa makna yang ada dibalik ungkapan tersebut. Atau mungkin ini sudah terpola dari awalnya terutama oleh lingkup pendidikan sebelumnya yang tidak terbiasa mengungkapkan pendapat dan hanya menerima sacara pasif apapun yang disampaikan oleh orang-orang yang dianggap berkompeten.
c. Demikan juga dalam kepemimpinan panitia OKA yang dirasakan kurang dalam hal komunikasi, sehingga aspek profesionalitasan mereka tidak terwujud secara penuh yang meliputi aspeek kompeten, mandiri, dan komitmen.
d. Iklim yang sudah kurang sehat antara panitia dan perserta OKA 2006, hal ini terjadi karena secara tidak sadar terjadi hierarki kekuasaan serta mengangap bahwa peserta OKA adalah objek dari OKA tersebut dan bukan secara bersamaan menjadikan mereka subjek OKA.
Lensa Pusat Getar:
a. Identitas dari teologi yang eksklusif terutama adalah fasilitas asrama dan fakultas yang tersendiri dari fakultas-fakultas lain. Hal ini mungkin juga diakibatkan oleh perubahan dari STT menjadi Universitas yang tidak berjalan dengan baik sehingga masih terlihat eksklusifitasan theologi dibanding dengan fakultas lain, apakah ini juga dikarenakan pada dewan pendiri yang tidak menyadari akan dampaknya dikemudian hari. Hal ini membuat mahasiswa theologi secara tidak sadar menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain, tetapi di lain pihak (mahasiswa fakultas lain) memandang theologia rendah dikarenakan sdikap yang cenderung arogansi.
b. Sistem OKA yang di dalamnya ada dan diparadigmakan bahwa kekerasan yang terjadi di dalamnya adalah hal yang wajar, dan ini pada akhirnya menuntut selalu adanya seksi keamanan – lalu bagaimana fungsi satpam yang berada di universitas, bukankah kegiatan OKA tersebut berjalan dan diadakan dalam ruang lingkup universitas - Ini juga dibentuk oleh kultur di Indonesia dengan alasan menjaga keamanan dan stabilitas keadaan.
c. Kesetaraaan antara panitia dan peserta dalam kegaitan apa pun seringkali kurang disadari, hal ini terlihat dalam tata tertib yang dibiuat, jika dicermati lebih lanjut terlihat jelas bahwa peserta dijadikan sebagai objek dari OKA tersebut. Ketika berbicara tentang tanggungjawab, hal inilah yang berbeda dan membedakan tetapi kedudukan semuanya dalam OKA tersebut adalah setara.
Dilema dari konflik yang menuntut usaha transformasi konflik:
a. Bagaimana menjembatani perbedaan konsep antara peserta, panitia dan universitas tentang OKA, serta mendialogkannya dengan baik.
b. Bagaiamana merubah pandangan mahasiswa mengenai eksklusifitas yang pada akhirnya sudah membudaya dalam mahasiswa Fakultas Theologi
Usulan Transformasi Konflik atas (ekses) kekerasan dalam OKA (pada umumnya, khususnya OKA 2006):
a. Persiapan OKA yang lebih matang dengan penanaman dan pemahaman ide yang lebih matang kepada panitia mengenai OKA yang bebas kekerasan. Selama ini kebanyakan masalah mucul karena adanya ketidakpahaman akan konsep-konsep tentang OKA. Panitia OKA juga dibuat seimbang antara fakultas-fakultas yang ada sehingga setiap fakultas mempunyai peluang dalam penganbilan keputusan, jadi tidak terjadi penuntutan pembatalan terhadap sebuah keputusan tertentu begitu saja, ketika keputusan sudah terbentuk dan disetujui forum yang bertanggungjawab.
b. Konflik yang terjadi antara 2006 dan panitia diarahkan untuk menjadi wahana belajar pendewasaan
c. Menghilangkan kesan eksklusif yang berlebihan pada Teologi yang menjadikannya seperti Israel di UKDW. Sekaligus menghilangkan image jelek dari beberapa orang fakultas lain kepada teologi. Kenyataan ini sudah ada, mungkin cara yang bisa ditempuh adalah dengan dialog dalam kasih, dan penuh pemahaman.
d. Perwujudan keteladanan dosen kepada mahasiswa di dalam fakultas apa pun, menurut refleksi yang dikatakan oleh Bapak Paulus Sugeng Wijaya dalam Dies Natalis ke 44 UKDW, diharapkan keteladanan ini bisa memberikan dampak perubahan yang serupa pada perilaku moral mahasiswa, sehingga pada akhirnya membentuk mahasiswa yang bisa dengan tepat mengambil keputusan etis.
e. Menata ulang sistem OKA yang anti kekerasan. Pemberian ide yang tepat, dialog dan diskusi antara semua bagian dan unit yang terdapat dalam Duta Wacana.
f. Meningkatkan sistem komunikasi antar personal dan antar komunitas dalam hal ini panitia dan peserta.

PENUTUP
Mau tak mau menyatakan bahwa OKA 2006 UKDW tidak diliputi nuansa kekerasan, seperti diungkap oleh beberapa orang panitia , adalah naif, tetapi menyatakan semata-mata kekerasan terjadi karena panitia berniat dengan tulus melanggengkan tradisi dan sistem perploncoan yang marak dalam pintu gerbang perkuliahan seperti umumnya yang terjadi di mana-mana(?), mengekor apa yang diungkap oleh beberapa mahasiswa teologi angkatan 2006 adalah tidak sepenuhnya benar, sembrono, dan sangat berkesan apologetis. Keterbatasan pemahaman, pemulungan ide tanpa hasrat mendalam untuk mengetahui historisitas dan tujuannya, kurangnya dan kesalahpahaman proses komunikasi, serta beberapa faktor lain yang telah diungkap di atas mau tak mau tak boleh begitu saja dikesampingkan dalam melihat dan memahami proses kekerasan dan konflik yang mewarnai OKA 20006 UKDW.
Akhirnya peran transformasi konflik semakin mendesak diperlukan, tidak sekadar menjaga hubungan baik antar orang-orang yang terlibat dalam proses kekerasan itu, namun untuk menemukan jalan keluar yang seimbang dan mampu mewadahi berbagai kepentingan membangun demi kelanggelang dan penyempurnaan nilai dan tradisi mendasar yang telah dibangun UKDW dalam usaha penemuan, penanaman, dan penetapan identitas UKDW sebagai sebuah Universitas, Kristen, dan Duta Wacana. Usaha resolusi damai yang telah dilakukan antara peserta dari Fakultas Teologi 2006 dengan panitia tanpa disertai pemberian pemahaman dan penanaman ide tentang kekerasan, perploncoan, OKA, dan unsur-unsur di sekitarnya secara mendasar, hakiki, integratif, konsisten; serta perubahan dalam sistem UKDW dan paradigma para ‘penguasa’ UKDW akhirnya hanya menjadi bangunan sederhana yang rawan praktik pengulangan tindak serupa. Atau lebih parah akan menjadi bom waktu yang sipa meledak kala ketidakpuasan yang selama ini terjalin dalam benak memperoleh jalan untuk keluar. Sekadar penyelesaian dan penutupan masalah adalah tindakan yang tidak pernah tuntas jika tidak pernah ada usaha untuk menggoyang luka-luka batin yang ada untuk membarukan secara konstruktuf interaksi dan relasi personal serta struktur sosial yang melatarbelakanginya secara konsisten dan berkesinambungan.
Semoga saja tindak kekerasan yang menjadi perhatian selama ini dipandang secara seimbang, sehingga justifikasi yang berlebihan apalagi berat sebelah tanpa usaha penemuan fakta dan pemahaman konseptual bisa terhindarkan atau setidaknya tereduksi. Tidak hanya itu tetapi antara OKA, Fakultas Teologi, dan UKDW bisa menjalin relasi konstruktif demi masa depan yang diharapkan semakin cerah.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress