LUKAS DAN YUDAISME
Karya: Andri Purnawan
PENDAHULUAN
Memang tidak mudah menggali pandangan injil Lukas terhadap Yudaisme. Lukas yang merupakan salah satu dari 3 injil sinoptik dalam kanon PB ini memberikan tekanan yang sedikit berbeda dengan injil-injil yang lain, yaitu :
• Penekanan terhadap kenyataan bahwa Yesus adalah juru selamat ilahi dalam arti universal. hal ini dibuktikan dengan advokasi Yesus kepada orang-orang lemah tanpa memandang ras, seks, ataupun jasa. Yesus yang menawarkan keselamatan kepada orang Samaria ( Luk. 9:52-56, 10:30-37 ; 17:11-19 ), dan kepada yang non-Yahudi ( Luk. 2:32; 3:6-8; 4:25-27; 7:9; 17:11-19 ), kepada pria maupun wanita, kepada orang-orang yang berdosa dan tersisih, dan juga kepada yang terhormat ( Luk. 7:36, 11:37; 14:1), serta kepada orang yang miskin dan yang kaya.
• Lukas menggambarkan lebih banyak-dibanding injil lain- betapa Yesus sering pergi menyendiri untuk berdoa. Hal ini menujukkan hubungan Yesus dengan Allah yang tak terbatasi oleh tradisi-tradisi, namun merupakan hubungan pribadi yang sepenuhnya merupakan inisiatifnya.
• Lukas lebih banyak mengangkat harkat wanita dibannding injil-injil yang lain. Hal ini ditunjukkan banyaknya cerita tentang pembelaan Yesus terhadap wanita, yang pada saat itu oleh orang Yahudi pada khususnya, dan non-Yahudi pada umumnya sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan direndahkan.
Nampaknya ketiga hal di atas akan menjadi hal yang cukup menarik apabila dijadikan bahan observasi tentang pandangan injil Lukas terhadap Yudaisme dan nilai-nilainya.
YUDAISME DALAM PERSPEKTIF LUKAS
Pada Lukas 1 : 1 disebut-sebut nama Teofilus, yang kepadanya injil ini diperuntukkan. Teofilus sendiri kemungkinan besar adalah pejabat yang memiliki kehormatan tinggi dari kalangan masyarakat Romawi , yang di kalangan mereka, kekristenan pada saat itu lebih terkenal sebagai salah satu sekte dari agama Yahudi. Oleh karena itu bisa dipahami jika ada indikasi penekanan dari Lukas ( yang menulis injil ini, dan kemungkinan besar bukan orang Yahudi ) tentang legalitas kekristenan sebagai sebuah kepercayaan yang ilahi yang merupakan penggenapan janji Allah dari Perjanjian Lama. Ringkasnya Lukas hendak menekankan bahwa Kekristenan adalah keyakinan baru yang berbeda dengan Yudaisme yang memiliki pandangan yang dianggap lebih partikularis pada masa itu.
Pada saat itu agama Kristen sudah cukup tersebar luas di wilayah negara Roma. Tentu saja umat Kristen merupakan suatu minoritas kecil, namun demikian agaknya sudah mendapat cukup banyak pengikut di semua lapisan masyarakat termasuk lapisan atas.
Sidang pembaca Lukas adalah suatu jemaat yang berbahasa Yunani dan mereka bukan keturunan Yahudi. Kata-kata yang berasal dari bahasa Yahudi ( Ibrani, Aram )tidak terdapat dalam Lukas ( kecuali Amen). Berbagai macam persoalan sekitar hukum Taurat, menjadi hangat di kalangan jemaat Kristen keturunan Yahudi ( atau yang “blesteran” ) tidak disinggung dalam Lukas seperti dalam Matius maupun Markus. Sepertinya masalah semacam itu tidak ada lagi pada sidang jemaat Lukas. Lukas sendiri tentu tahu tentang ketegangan dan bentrokan yang –menurut tradisi- pernah ada antara Yesus serta jemaat-Nya dengan orang-orang Yahudi. Tetapi hal itu merupakan masa lampau yang kurang aktual bagi sidang pembaca. Sehingga dalam Lukas, nada-nada anti Semitisme/Yahudi kurang tajam meskipun di sana sini dituliskan bahwa orang-orang Yahudi dari golongan tertentu menolak Yesus.
1. Yohanes Pembaptis dan Yesus
• Lukas merupakan satu-satunya injil yang menceritakan dan menggambarkan secara lengkap figur Yohanes Pembaptis, bagaimana ia dilahirkan hingga hubungan kekeluargaannya dengan Yesus. Dikatakan bahwa Yesus masih mempunyai hubungan keluarga dengan Yohanes Pembaptis. Tentunya Lukas mempunyai tujuan tersendiri menuliskan itu semua. Menurut saya hal tersebut merupakan sebuah lambang yang hendak dikemukakan oleh Lukas. Lukas hendak mengatakan bahwa Yohanes-yang bisa dikatakan merupakan tokoh besar ( Yahudi ) pada saat itu,- masih dalam satu ikatan darah dengan Yesus yang merupakan aktor utama perjanjian baru. Dengan kata lain secara tidak langsung hendak dikatakan bahwa keduanya diutus oleh oknum yang sama yaitu Allah dan berasal dari satu Oknum yang sama ( Lukas 1 : 39-45 ). Dan dari sana terkesan bahwa Lukas tidak menganggap Yahudi ( era PL ) sebagai sesuatu yang bersebrangan ataupun sebagai sebuah keyakinan yang kuno sifatnya.
• Dikisahkan bahwa Yohanes sebagai perintis jalan bagi Allah ( Luk. 3:3-6 ) yang membabtiskan Yesus itu pada perkembangan selanjutnya mempunyai pengikut tersendiri. Walaupun kurang jelas apakah aliran Yohanes, namun yang jelas berbeda dengan Yesus. Hal itu dibuktikan bahwa kedua tokoh tersebut telah memiliki murid sendiri-sendiri. Mengapa Yohanes tidak menjadi pengikut Yesus..??? Dalam hal ini seakan-akan dikesankan bahwa Yohanes adalah seorang utusan yang tidak bertanggung jawab kepada Yesus, namun kepada Bapa.
Dari kedua hal di atas nampak sekali bahwa sebenarnya penulis Lukas hendak menyatakan bahwa sebenarnya Yudaisme ( yang diwakili Yohanes ) dan Kekristenan ( yang diwakili Yesus ) adalah dua sisi keyakinan yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Hal yang sangat ditekankan adalah kehadiran Yesus memulai sebuah tahapan baru dalam sejarah umat Allah. Tahap yang lama berlangsung sampai Yohanes Pembaptis ( Luk. 16 : 16 ).
2. Yesus dan orang-orang Farisi
Yesus yang ditampilkan dalam Lukas adalah sosok yang penuh kasih. Kalaupun Yesus bisa mengecam manusia dan mengancam dengan hukuman, namun malah pada saat itu Ia didorong oleh rasa kasihan ( bdk. Luk. 23:28 dst. ; 13:34 dst. ) Yesus digambarkan sebagai sosok yang suka bergaul dengan mereka yang dianggap orang berdosa ( Luk. 7:37 ; 15:1; 18:9, dst. ). Malah pada mereka yang menangkap( Luk. 22: 51 ) dan menganiaya-Nya (Luk. 23 : 34 ) Yesus tetap baik hati. Yesus tidak segan juga makan bersama orang Farisi ( Luk. 7:36 dst. ; 11:37) dan ahli taurat yang simpatik dengan Yesus. Seorang anggota Sanhedrin ada di pihak Yesus ( Luk. 23:50). Nada kecaman terhadap lawan-lawan-Nya kurang pedas dan tegas dari pada nadanya Matius dan Markus.
Namun demikian bukan berarti tidak ada pernyataan-pernyataan Yesus (yang ditulis Lukas) yang berisi kecaman kepada para ahli Taurat ( Luk. 6: 1-11 ). Di sana-sini juga dituliskan perdebatan Yesus dengan orang-orang Farisi, dan hal itu adalah dalam rangka menunjukkan bahwa kehadiran Yesus yang sebagai pembaharu itu banyak mendapat tantangan dari tradisi dan keyakinan yang sudah mengakar dan membudaya sebelumnya. Dan hal ini menujukkan bahwa sebenarnya Yesus juga mengalami ketegangan dengan stuktur sosial religuis pada saat itu.
3. Yahudi yang menyalibkan Yesus
Dalam perikop-perikopnya yang terakhir, yang mengisahkan tentang pra kematian Yesus hingga kematiannya, Lukas terkesan mengalami perubahan tentang pandangannnya terhadap Yudaisme. Para farisi dan ahli taurat dipandang seakan sebagai pemutus tali persaudaraan era PL dan era PB. Tradisi yang begitu kuat dan mencengkeram para pemimpin agama telah mengkondisikan mereka semakin terpisah dari Yesus. Perubahan-perubahan yang Lukas lakukan dalam kisah penderitaan dengan jelas menunjukkan bagaimana ia memahami penderitaan Yesus sebagai suatu suatu pembunuhan menurut hukum oleh orang Yahudi. Suatu tuduhan palsu diajukan di hadapan Pilatus ( 23:3). Pilatus awalnya tidak menemukan kesalahan Yesus dan mencoba membebaskannya ( 13:4,13-16). Namun karena tekanan kalayak ( 23 :25) akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada ‘kehendak khalayak’ mereka. Karena itu para Imam Agung dan penguasa Yahudilah yang telah mengakibatkan kematian Yesus.
Dalam hal ini Lukas terkesan hendak mengurangi kesalahan sang Gubernur yang juga orang Romawi tersebut . Namun nampaknya suatu kesalahan besar jika kita harus menafsirkan perubahan yang dilakukan Lukas ini sebagai bukti dari anti Semitisme ( gagasan untuk memusuhi orang Yahudi ). Sebenarnya tujuan Lukas yang terutama adalah berdamai dengan Imperium Romanum. Dan hal ini akan sulit dilakukan jika Lukas menuliskan sebuah cerita yang di dalamnya banyak menuduh dan menyalahkan orang Romawi .
Karena itu tujuan yang dikejar oleh Lukas bukanlah menjelek-jelekkan orang Yahudi melainkan menyatakan bahwa orang-orang Romawi tidak bersalah, dan karena hal itulahmuncul kesan bahwa ke-Yahudian mendapat tekanan hebat. Meskipun penyaliban digambarkan sebagai pembunuhan resmi oleh orang-orang Yahudi, Lukas tetap menekankan bahwa hal itu merupakan kehendak Allah, dan maksudnya adalah untuk memuliakan Kristus ( 24:26).
KESIMPULAN
Netral…!!!, yah itulah kata yang paling tepat dikenakan pada Lukas dalam hal pandangannya mengenai Yudaisme.Mulai dari itikad baik untuk menyatakan bahwa era Perjanjian Lama yang diwakili oleh Yudaisme dan Perjanjian baru yang diwakili oleh kehadiran Yesus merupakan saudara yang dari satu Oknum dan yang saling menggenapi hingga kepada sebuah kenyataan objektif yang diberikan pemaknaan baru dan dimanfaatkan sebagai strategi pengabaran injil. Hal ini bisa dipahami karena penulis injil Lukas ini kemungkinan bukan orang Yahudi , sehingga lebih melihat ketegangan antara Yesus dan Yudaisme beserta struktul sosial religiusnya dengan lebih positif.
Lukas tidak menentang, namunjuga tidak mendukung. Seruan yang berisi kritik terhadap tradisi kuno dengan pandangannya konservatif juga banyak mewarnai tulisan Lukas. Dan hal itu masih dalam rangka menyatakan bahwa Yesus yang ia beritakan merupakan sosok yang hadir dengan gaya berbeda dengan pranata sosial yang ada pada saat itu. Dengan kata lain Lukas hendak menekankan bahwa kehadiran Yesus mencairkan kekakuan budaya dan religi yang terkesan telah mempersulit relasi manusia dengan penciptanya.
REFLEKSI TEOLOGIS
Berawal dari sebuah pemikiran yang positif dan menuju kepada kesadaran kritis, itulah Lukas. Walaupun Lukas menulis injil setelah mendengar dan merasakan pait getirnya tantangan beberapa golongan orang-orang Yahudi terhadap Kekristenan, Lukas tidak begitu saja menggeneralisasi pandangannya terhadap Yudaisme. Di sisi lain keberaniannya untuk mengkritik sebuah golongan masyarakat yang besrta pranatanya yang sudah mapan seharusnya patut dijadikan potret teladan bagi kita. Obyektif, berani, dan cerdik, itulah hal yang disumbangkan Lukas bagi kita dalam menghadapi sebuah tantangan sosial dan religius. Amien.
TEOLOGI
syalom,,,,,,,,,, ma’f saya mau tanya ,pengaruh dan hubungannya yudaisme dalam perjanjian baru itu seperti apa ya??????????
trim’s……….
Comment by monica — October 10, 2009 @ 8:37 pm