FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

February 12, 2008

Sekilas Tentang Ordo Trappist

Filed under: Teologi Kontekstual — admin @ 12:46 am

Oleh: Jimm Song

Consuelo Del Prado, seorang Biarawati dari Peru, mengimani bahwa Spiritualitas adalah cara hidup; juga cara untuk mengikuti Yesus. Kata “mengikuti“ mengimplikasikan suatu cara hidup yang berulang kali dilakukan. Ada banyak cara untuk hidup, salah satunya cara hidup membiara. Oleh karena itu tak asing jika dalam sebuah Biara selalu ada perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus. Begitu juga hal yang terjadi dengan Ordo Pertapaan Trappist Rawaseneng. Dasar dari perbuatan-perbuatan itu adalah hidup yang dibaktikan kepada Allah, lewat ibadah liturgi, pendarasan mazmur, bekerja, sambil mempraktekkan latihan-latihan (askese) kerohanian, yang disebut dengan ”devosi”.
Maka agar dapat menghayati devosi sangat diperlukan sebuah kedisiplinan. Tanpa kedisiplinan, orang-orang akan hidup tidak teratur dan tidak bisa mengatur (diri). Di sinilah pentingnya sebuah kedisiplinan dalam membangun diri yang seutuhnya untuk bisa berdevosi kepada Allah. Agar bisa hidup dalam kedisiplinan diperlukan adaptasi atas lingkungan (biara) dan diri sendiri, di dalam sebuah proses. Di dalam proses ini seseorang akan mengikuti irama yang seimbang sebagaimana yang ditawarkan oleh komunitas. Tetapi walaupun semuanya tetap dijalankan melalui proses, selalu ada saja gangguan yang membuat diri terpengaruh oleh suasana keramaian luar biara, seperti yang dituturkan oleh bapak Gabriel S., seorang mantan Rahib Rawaseneng.
Gangguan adalah masalah terbesar dalam kehidupan berbiara. Di tengah-tengah keheningan selalu ada tawaran akan keramaian kota. Oleh karena itu diperlukan suasana hati yang benar-benar hening dalam melakukan segala aktivitas. Keheningan itu layaknya dituangkan di dalam doa, seperti yang dikatakan St. Benediktus, ”Doa adalah pengarahan seluruh pribadi kepada Allah dengan cara yang sederhana dan spontan, suatu gerakan yang timbul dari dalam hati (bukan dari kepala) bila kegiatan-kegiatan alternatif disingkirkan.”
Keheningan berkaitan dengan pengalaman rohani bersama-sama dengan Allah, artinya pengalaman oleh individual sekaligus komunal. Jadi, dalam kehidupan berbiara, masing-masing menemukan pengalamannya dengan Allah dalam kebersamaan dengan rahib yang lainnya. Sebaliknya, di dalam kebersamaan komunitas, masing-masing akan menemukan pengalaman Allah-nya masing-masing. Ini berbeda dengan aturan Biara Ordo Kartusian, yang mengkhususkan pengalaman Allah secara personal/ individu di dalam sel para rahib dibanding secara komunal.
Lebih jelasnya hubungan kebersamaan dengan Allah ini tampak dalam Perayaan Liturgi sebagai dasar dan kerangka keseluruhan hidup. Liturgi menumbuhkan kesadaran akan panggilan kita dan membangun kasih terhadap satu sama lain. Bagi para Rahib, setelah dipisahkan oleh karena adanya bermacam-macam bentuk kerja tangan, perayaan-perayaan Liturgi merupakan sarana yang menyatukan. Bagi kita sekarang ini, Liturgi menumbuhkan kesadaran akan kesatuan dengan Gereja universal. Maka kembali ditekankan peranan askese (latihan-latihan) agar dapat mencapai inti dari Liturgi ini.
Satu hal yang membuat rasa-rasanya aneh adalah soal keberadaan alat-alat elektronika (teknologi) yang berpotensi menimbulkan kebisingan di tengah-tengah keheningan Biara Trappist. Ternyata pandangan terhadap alat-alat tersebut tidaklah ekstrim suatu penolakan yang menandakan anti teknologi, melainkan memanfatkan teknologi modern dengan berusaha menjadi tuan, bukannya budak atasnya. Berarti ini terletak dalam bagaimana sikap mempergunakan alat-alat teknologi tersebut sehingga tidak mengganggu spiritualitas ordo, yaitu mengembangkan hidup rohani menuju Allah. Maka dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Ordo Trappist merupakan spiritualitas keheningan dalam mengatasi keramaian aneka pilihan yang menggiurkan di luarnya. Dan inilah mungkin salah satu cara untuk hidup mengikuti Yesus.

Bahan Acuan:

Michael Keene, Kristianitas, Jogjakarta: Kanisius 2006.

Heuken, Spiritualitas Kristen, Jakarta: Cipta loka Caraka 2002.

Tony Lane, Runtut Pijar, Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK 2001.

Eddy Kristiyanto, Sahabat-sahabat Tuhan, Jogjakarta: Kanisius 2001.

Fr. Gregorius R., OCSO, Jalan di Awal Perjalanan Seorang Rahib Rawaseneng, Dalam: SAMADI, Majalah Hidup Doa & Kerahiban, No. 17- Maret 2007.

Gabriel S., Saya Mantan Rahib, Dalam: SAMADI, Majalah Hidup Doa & Kerahiban, No. 17- Maret 2007.

Yosep H., OCSO, Mendengarkan Allah dalam Keheningan, Sekilas Tentang Spiritualitas Kartusian, Dalam: . SAMADI, Majalah Hidup Doa & Kerahiban, No. 16 – Desember 2006.

“Apa Kata Para Rahib tentang Praktek Liturgi Mereka?”, Dalam: SAMADI, Majalah Hidup Doa & Kerahiban, No. 16 – Desember 2006.

Michael Casey, OCSO, “Doa” Menurut St. Benediktus, Dalam: SAMADI, Majalah Hidup Doa & Kerahiban, No. 17- Maret 2007.

1 Comment »

  1. apakah orang awam yang sudah menikah, memiliki anak dan anak telah dewasa secara spiritual dan ekonomi, boleh menjadi rahib? kalau bisa bagaimana caranya?

    Comment by paijo — August 4, 2009 @ 11:12 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress