FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

February 17, 2008

Nuansa Apokaliptisisme dalam Yaumul Qiyamah

Filed under: Islam di Indonesia, Agama dan Masyarakat — admin @ 9:30 am

Karya: Martin Krisanto N., Kategori: Pilihan Mahasiswa

Definisi
“Apocalypse” is a genre of revelatory literature with a narrative framework, in which a revelation is mediated by an otherworldly being to a human recipient, disclosing a transcendent reality which is both temporal, insofar as it envisages eschatological salvation, and spatial, insofar as it involves another, supernatural world; such a work is intended to interpret present, earthly circumstances in light of the supernatural world and of the future, and to influence both the understanding and the behavior of the audience by means of divine authority

Tujuan Penulisan
Studi mengenai apokaliptisisme sebagai suatu penelitian jenis sastra yang mempunyai peluang mempengaruhi para pembacanya dan tidak berlebihan jika dapat memberikan semangat perubahan bagi kehidupan. Apokalip berasal dari kata apokalupto (Yunani) yang berarti membuka tabir. Paper ini mencoba meneliti nuansa apokaliptik dalam beberapa buku islami lalu mencoba mendialogkannya dengan teks-teks alkitab lalu berupaya menginteraksikan dengan konteks tertentu di Indonesia.

“Yaumul Qiyamah”
Yusuf al-Wabil, MA
Berdasarkan hadis: Allah menciptakan dua al-Masih yang kontradiktif yakni Isa a.s. yang ash-Shiddiq (yang benar/suka kebenaran) menyembuhkan dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah sedang Dajjal adalah al-Masih kesesatan, adhalil al-Kadzdzab (yang sesat lagi pembohong), pembawa huru-hara paling besar kepada manusia dengan kejadian-kejadian yang luar biasa (hujan)dan menghapus bumi selama empat puluh hari.
Makna kata “Dajjal” ialah “al-Kholath” yang mencampur, mengacaukan, membinggungkan. Dajjal adalah seorang anak laki-laki dari anak Adam, seorang muda berkulit merah, pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, dan matanya ini tidak menonjol keluar juga tidak tenggelam, seolah-olah buah anggur yang masak (tak bercahaya) dan matanya sebelah kiri ditumbuhi daging yang tebal pada sudutnya. Di antara kedua matanya terdapat tulisan huruf kaf, fa’, ra’ secara terpisah, atau tulisan “kafir” secara bersambung/berangkai, yang dapat dibaca setiap muslim yang bisa menulis maupun yang tidak bisa menulis. Ia mandul dan tidak punya anak.
Masalah kemunculannya pada waktu lampau masih kontroversial, sebagian mengatakan bahwa salah satu dari banyak Dajjal itu adalah Ibnu Shayyad. Walau Nabi s.a.w telah menemuinya, namun memilih untuk berdiam diri karena beliau tidak mendapatkan wahyu yang menerangkan apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Jika Umar r.a. pernah bersumpah di sisi Nabi s.a.w. bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, beliau tidak mengingkarinya. Nabi s.a.w. menceritakan pengalaman Tamim Ad-Dari, seorang nasrani yang telah berbai’at masuk Islam. Dalam suatu perjalanan dengan perahu, Tamim bersama orang-orang berpenyakit kulit dan lepra terhempas ombak selama sebulan di laut, kemudian mereka mencari perlindungan ke sebuah pulau di tengah lautan. Di sana mereka berjumpa seekor binatang yang bulunya sangat lebat hingga tak kelihatan mana qubulnya dan mana duburnya, karena lebat bulunya (binatang itu mengaku adalah al-Jassasah). Binatang itu menyuruh mereka untuk menemui orang yang berada di dalam biara, singkat cerita ternyata orang itu mengaku dirinya al-Masih (Ad-Dajjal) yang akan keluar berkelana dimuka bumi selama empat puluh hari kecuali Makkah dan Thaibah (Madinah) karena dijaga malaikat. Ada pendapat pula yang mengatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang besar\ (yang bakal muncul pada akhir zaman). Keluar dari arah Timur, dari khurasan, dari kampung Yahudiyyah kota ashbahan. Dajjal muncul diantara penciptaan dan kiamat, karena kiamat tidak dapat diprediksikan. Dajjal memiliki surga dan neraka, surga baginya adalah neraka dan neraka baginya adalah surga. Dia melintasi bumi dari satu tempat ke tempat lainnya dengan kecepatan yang luar biasa, bagaikan hujan yang ditiup angin kencang. Dia juga melakukan pembunuhan dan berkata akan menghidupkan kembali (yakni pengakuan Dajjal sebagai tuhan).
Bagi madzhab Ahlus-Sunnah dan semua ahli hadis, ahli fiqih dan para pemikir, Dajjal merupakan sosok nyata yang dengannya Allah menguji hamba-hambaNya. Dia diberi berbagai kemampuan dengan kuasa Allah S..w.t, menghidupkan orang mati yang dibunuhnya, munculnya kemakmuran dunia dan kesuburan, surga dan neraka, sungai (sungai air & api), hujan dan memerintah bumi untuk menumbuhkan tumbuhan. Lalu Allah menjadikannya lemah dan batallah urusannya, lalu ia dibunuh oleh Isa a.s. dan Allah meneguhkan hati orang-orang yang beriman. Tentu Nabi s.a.w. memberikan petunjuk-petunjuk agar orang-orang terhindar dari Dajjal dan huru-hara besar itu. Dajjal terkandung pada Al-Qur’ an sebagai matahari terbit dari barat, keluarnya binatang dari perut bumi. Ketika huru-hara itu semakin merajalela, serta tidak ada yang selamat darinya kecuali sedikit saja dan orang-orang yang beriman, turunlah Isa a.s. di menara Syargiyyah di Damsyiq, lalu hamba-hamba Allah yang beriman berkumpul sekelilingnya, lantas Isa berjalan bersama mereka menuju Dajjal. Melihat Isa lalu Dajjal mencair seperti garam, kemudian Isa mengejar dan membunuh dengan badiknya dan pengikut-pengikut Dajjal berantakan lantas dikejar dan dibunuh oleh orang-orang mukmin. Allah menyelamatkan orang-orang beriman dari kejahatannya dan kejahatan para pengikutnya melalui tangan Ruh Allah dan kalimat-Nya. Yaitu Isa Ibnu Maryam a.s. dan pengikut-pengikut beliau yang beriman.
Tanda-tanda kiamat dibagi menjadi dua, yakni kiamat kecil (Shughra) dan Kiamat Besar (Kubra). Tanda-tanda kiamat kecil meliputi kejadian yang biasa terjadi seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalela minuman keras, perlombaan bangunan. Tanda-tanda ini telah muncul dan berlalu dan sedang berkembang terus menerus sekaligus bersamaan dengan tanda-tanda kiamat besar (yang belum muncul sampai sekarang). Sedangkan munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa a.s., keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, gempa bumi di tiga wilayah, keluarnya binatang dari perut bumi dan api yang mengumpulkan manusia adalah tanda-tanda kiamat besar. Sedangkan tanda-tanda kiamat kecil antara lain adalah: Terutus dan Wafatnya Nabi s.a.w., penaklukkan Baitulmaqdis yang terjadi tahun 16 H, kematian dalam jumlah besar karena penyakit pada tahun 18 H, perang Jamal, perang Shiffin, perang Hurrah, perang melawan orang Yahudi, munculnya orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, munculnya api Hijaz pada tahun 654 H yang datang dari timur Madinah, perang dengan Turki dan orang non-Arab, perzinaan, minuman keras, bermegah-megahan dengan Masjid, banyak gempa bumi, tanah longsor, kerusuhan, mimpi-mimpi orang Mukmin menjadi kenyataan.
Apa yang dipaparkan tadi ditujukan bukan untuk mencocokkannya dengan kisah-kisah dalam pemahaman iman Kristen, melainkan melihat nuansa apokaliptik yang bercirikan: semua hal yang belum terjadi toh dapat dijelaskan berdasarkan apa yang telah ada dalam pengalaman manusia setidaknya didunia Arab. Ciri lainnya adalah sarat akan muatan kekerasan dan akhir dari semuanya tetap tidak dapat dijelaskan. Nuansa sosio-politis dan kosmologis bermunculan. Segala tanda-tanda sangat kental mengindikasikan kenyataan masyarakat (realitas sosial) masa kini.
“Kiamat – Tanda-tanda Menurut Islam, Kristen dan Yahudi”
Manshur Abdul Hakim
Buku ini lebih mendetail membahas mengenai Dajjal sebagai orang pertama yang ditunggu dan paling berbahaya, lalu Nabi Isa sebagai orang kedua dan keluarnya Ya’juuj dan Ma’juuj sebagai penjahat terakhir di bumi. Kiamat yang terjadi secara tiba-tiba, tanda pertamanya adalah munculnya Dajjal, ciri-ciri seperti dibuku sebelumnya dengan tambahan bahwa kedua kakinya renggang atau bengkok, dilahirkan dari kedua orang tua yang telah tiga puluh tahun lamanya mendambakan anak. Lahirlah Dajjal yang buta sebelah mata dan telah dikhitan, ayahnya tinggi kurus, hidungnya panjang seperti paruh burung, ibunya bertubuh besar dengan payudara yang sangat besar. Kendaraan Dajjal bukan kendaraan biasa, seekor keledai yang jarak antara kedua telinganya empat puluh hasta (lebih dari dua puluh meter), disini Nabi s.a.w mengilustrasikan sebuah kendaraan modern yang lebih cepat dari kecepatan suara. Tanda kemunculan Dajjal adalah diawali kemunculan al-Mahdi al-Muntazhar yang memimpin umat Islam meraih kemenangan menghadapi musuh-musuh baik dari pihak timur dan barat sampai ke tempat paling penting. Pada saat itulah Dajjal muncul untuk memerangi al-Mahdi. Menurut Manshur barangkali Dajjal sebagai setan terbesar tinggal di Segitiga Bermuda, ini sebagai ijtihad, bukan fakta yang sesungguhnya. Selain Mekah dan Madinah, ia tidak dapat masuk ke Masjidil Aqsha dan Masjid ath-Thuur. Nama Dajjal tidak eksplisit di Al-Qur’an.
Menurut Manshur, ciri-ciri Dajjal muncul dalam Alkitab seperti: Yesaya 9:4-17, Zakaria 11:16-17 digambarkan buta mata kanannya, mereka yang tidak beriman kepadanya maka dia akan mencegah hujan turun bagi mereka. Demikian pula ucapan Isa dalam Injil Markus 13:12 sebagai tanda-tanda keluarnya Dajjal pada akhir zaman. Gempa di Timur, Barat dan di Jazirah Arab merupakan gejala alam seperti gerhana dan terkait dengan kemaksiatan seperti budaya telanjang, porno, dsb. Serta ditiupnya sangkakala.
Era bahagia dalam Bibel (alkitab) didasarinya dari kitab Yesaya 11:1-9 dan Wahyu 20:1-10 dengan komentar: “Dari mimpi terlihat jelas bagaimana akidah (kepercayaan) kaum Kristen tentang kedatangan Isa yang kedua kalinya ketika dia berkuasa selama seribu tahun, lalu muncul Ya’juuj dan Ma’juuj, kemudian riwayat mereka dan Iblis serta Dajjal tamat-walaupun mereka menafsikan Ya’juuj dan Ma’juuj sebagai Dajjal”

“Isa & Al-Mahdi di Akhir Zaman”
DR. Muslih Abdul Karim, M.A.
Pembahasan tentang turunnya Isa al-Masih di akhir zaman tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tentang al-Mahdi. Dajjal dengan tujuh puluh ribu tentaranya yang bertameng dan terdiri dari orang Yahudi dan wanita. Isa a.s. turun waktu shalat subuh dan seusai shalat Isa mengambil tombak dan pergi memburu Dajjal. Setelah Dajjal melihatnya, ia segera menghilang bagaikan serbuk arang larut dalam air. Isa a.s. menusukkan tombaknya ditengah dada Dajjal dan bala tentaranya pun kalah. Imam al-Mahdi sebagai pemimpin umat Islam di saat Isa bin Maryam turun dari langit, lalu keduanya sama-sama menjalankan syariat Nabi Muhammad s.a.w. Al-Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk dibidang kepemimpinan dan kenegaraan, melaksanakan syariat Allah dan berlaku adil dimuka bumi. Namun tetap kita tidak dapat menentukan waktu kedatangannya seperti kemunculan Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj (mereka adalah dua umat besar yang diutus Allah untuk merusak bumi) yang ketiga-tiganya dibunuh oleh Isa a.s. Kondisi dunia saat al-Mahdi akan muncul diawali dengan pertempuran dahsyat.

“Kiamat – Surga & Neraka”
Renungan bagi mereka yang lalai – UQ. Lukman Hakim
Secara tegas dalam buku ini dinyatakan bahwa bencana yang dibawa Dajjal bukanlah bencana alam yang berupa gempa bumi dan yang terjadi ditiga tempat itu adalah gerhana total tiga tempat (memang mustahil, tapi harus diyakini). Bencana yang dimaksud adalah bencana fitnah dan jalan kesesatan dari ajaran Allah Swt. Tentang Hari Kebangkitan, bahwa manusia menuju padang Mahsyar untuk dibagi ke dalam kelompok yang memisahkan antara yang mukmin, yang tidak jelas (ragu) dan yang kafir. Pada akhirnya terdapat dua tempat yakni surga atau neraka. Yang menarik bagi penelitian ini adalah apa yang ada disurga berdasarkan hadis. Makanan dan minuman ahli surga yang bebas kotoran dan penyakit, dikawinkan dengan bidadari cantik yang masih perawan, bermata jeli dan umurnya sebaya, sangat cantik, suci dalam arti tidak mengalami haid, beranak, buang air besar/kecil, meludah, berdahak dan keluar mani. Pakaian dan perabotan ahli surga, disediakan istana-istana, tempat-tempat duduk di kebun, diberi permadani yang indah, tempat-tempat tidur dari sutera dihiasi emas dan permata.

“Ramalan Rasulullah Tentang Akhir Zaman”
Muhammad Nuh An Nasirani
Jika baru saja dengan tegas dikatakan bahwa bencana yang dimaksud bukan bencana alam, maka buku ini berbeda. Bencana alam yang akhir-akhir ini sering melanda negeri ini, seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang dan lainnya adalah pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Dan kiamat akan jauh lebih dahsyat dari berbagai bencana alam itu. Dan ini adalah akibat yang harus ditanggung karean aniaya manusia terhadap manusia dan terhadap alam. Sementara Dajjal dan turunnya Isa a.s. juga dipaparkan.
Yang menarik bahwa kali ini gejala-gejala menuju kiamat lebih jelas menyentuh permasalahan moralitas dan agama, seperti: hilangnya ilmu agama, tidak perduli haram dan halal, kejahatan (kemaksiatan) dan pembunuhan merajalela, peperangan merajalela, tidak ada yang mau menerima shadaqah, telanjang sudah menjadi hal yang biasa, dan sebagainya.

“Merenungi Hari Kebangkitan Manusia dari Kubur”
Syaikh Harits Al-Muhasibi
Agak berbeda dari buku-buku diatas, hari kiamat adalah dimana Nabi s.a.w. menjadi orang pertama yang keluar dari bumi, bangkit dari kubur disambut oleh Jibril, menunggangi Buraq dan beliau duduk di atas batu Baitul Maqdis seraya memandang kepada semua makhluk, sedang mereka berdiri seperti belalang yang bertebaran. Setelah Isa a.s. datang, Mikail memanggil Jibril, maka menangislah Isa dan Jibril (karena haru), demikian pula Nabi s.a.w. melihat mata orang-orang saleh. Orang yang pertama kali berjalan pada hari kiamat adalah Ibrahim.

Apokaliptisisme
Pemikiran mengenai masa depan bukanlah suatu yang nyaman dibicarakan di kalangan gereja-gereja konservatif maupun tradisional, bisa jadi dikarenakan teologi yang sistematik yang lebih mudah diingat, dilakukan tanpa perlu terlalu kritis, dan terkesan lebih tertata rapih untuk mengukur kehidupan seorang Kristen yang notabene di kategorikan sebagai Kristen yang saleh, ataukah ada sebab lainnya?.
Sementara diskusi mengenai masa depan lebih banyak di dominasi oleh nuansa eskatologis, yakni tentang harapan, cita-cita yang diagungkan. Jika berbicara mengenai pengelihatan-pengelihatan dan mimpi-mimpi seperti pada kitab Daniel dan Wahyu, maka yang timbul lebih mengarah pada kegamangan pengertian di mata jemaat pada umumnya. Sehingga menarik apabila pada teologi alkitab mengangkat topik ini sebagai agendanya, maka lambat laun akan membantu pemahaman mengenai apokaliptisisme.
Apokaliptisisme adalah sesuatu yang rasional, erat berhubungan dengan realitas dimana naskah tersebut dituliskan dan terlebih lagi mempunyai kedekatan dengan tragedi. Sikap yang diambil bukanlah terjadi akibat ke frustasian atau depresi tertentu, atau merupakan sikap pasif menerima krisis. Justru benar bahwa sikap apokaliptik memilih untuk berontak namun tidak dengan kekerasan, serta lebih disibukkan dengan menyingkapkan tabir dengan upaya mempengaruhi pendengar dengan wibawa ilahi. Sikap subversif yang dipilih, maksudnya adalah menyerang dengan jalan damai dan rahasia.
Kedekatannya dengan tragedi tidak berarti berakar pada kaum marginal, melainkan dapat dimunculkan oleh kaum elit sosial atau budaya atau ekonomi atau agama tertentu. Bisa muncul dari pusat suatu masyarakat maupun dari pinggiran masyarakat. Tragedi dapat timbul oleh kekuasaan represif sehingga apokaliptisisme muncul sebagai reaksi tanpa kekerasan dengan harapan yang tidak jauh dari kenyataan yang tengah dihadapi. Kitab Daniel yang diperhadapkan pada penguasa tirani Antiokhus IV Epifanes pada dunia Siria-Helenis, sementara kitab Wahyu pada masa kekuasaan Domitianus pada masa kekuasaan Romawi sebagai “Monster-monster”.
Semangat apokaliptik, merupakan tema studi yang patut di angkat kembali mengingat bahwa transformasi bahkan revolusi dapat terjadi olehnya. Dimana kenyataan yang ada dan sedang dialami memang merupakan krisis yang tidak mungkin dihindari, namun krisis tersebut ada untuk menggugah dan memicu perwujudan suatu kenyataan yang lebih baik dan menjanjikan bagi realitas masa depan, ini merupakan suatu keyakinan. Banyak pertanyaan yang bakal timbul atas pernyataan tadi, maka studi apokaliptik akan berusaha membangun berbagai pendekatan terhadap teks-teks yang ditengarai bersifat apokaliptik agar setidaknya dapat menemukan beberapa pijakkan teologis untuk dapat menjelaskan maknanya ketika harus bertemu antar konteks.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa fungsi dari teks antara lain, seperti kitab Daniel dengan nuansa agrikultural; membuat gambaran tentang manusia yang ideal dan bagaimana peranan Tuhan dalam menentukan sejarah manusia. Kitab Wahyu pada masyarakat urban; penggambaran pertempuran antara yang jahat dan yang baik, yang baik semula kalah namun akhirnya menang, perlawanan yang baik tidak melibatkan manusia melainkan Tuhan dan mahluk surgawi-lah yang melakukan. Kitab ini juga memunculkan berbagai krisis nyata masyarakatnya baik secara sosial maupun moral serta membayangkan akhir zaman sudah dekat. Kedekatan pada tragedi tidak serta merta pada situasi yang serba kacau, malahan terjadi pada situasi yang mapan.

Apokaliptisisme dalam Injil Lukas
Nuansa apokaliptik dapat diamati jika kita memperhatikan denyut penceritaan dari kitab Lukas ini, maka secara singkat rentetan alurnya adalah demikian: Yesus memasuki kota Yerusalem lalu masuk bait Tuhan pada akhir pasal19 dan setelah terjadi ketegangan dengan para pedagang lalu Dia tiap-tiap hari mengajar (19:47), lalu Yesus menyampaikan skenario BapaNya, dan disela-selanya Dia memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan jebakan imam-imam kepada, ahli-ahli taurat, tua-tua untuk mendukung penyampaianNya. Perumpamaan demi perumpamaan membuat orang-orang disitu terpikat (19:48) dan heran (20:26), tak ketinggalan orang Saduki. Ditengah penyampaianNya ia mengangkat muka (21:1) dan mengatakan bahwa seorang yang memberi dari kekurangan bahkan semuanya telah memberi lebih banyak daripada orang yang memberi dari kelimpahannya lalu ada sekelompok orang yang tengah berdiri dan terkagum-kagum melihat bangunan bait Tuhan. Disinilah Lukas memulai sentuhan apokalip-nya.
“… tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain: semuanya akan diruntuhkan” pasal 21:6, menimbulkan pertanyaan “… bilamanakah itu akan terjadi?”. Tanda-tanda yang diberikan adalah peperangan, pemberontakan, tapi bukan berarti sudah dekat (ay. 9). Akan terjadi peperangan antar bangsa, gempa bumi, wabah penyakit, kelaparan dan hal-hal lain yang mengejutkan. Sentralitas kehidupan keagamaan mereka pada bait Allah perlahan digeser kepada situasi-situasi yang lebih luas. Ayat 13 & 14 tentang bersaksi dan ketetapan hati akan ditenggelamkan perlahan-lahan oleh perhatian yang diserap kepada hal-hal yang lebih mengancam pilar-pilar kehidupan mereka (bait Allah, bencana, penyakit, dsb) bahkan ditambah lagi dengan tragedi yang juga bakal muncul dalam keluarga (ay. 16-17). Bisa jadi, jaminan hidup yang sepintas pada ayat 18-19 juga dapat dilewatkan begitu saja. Ketegangan dalam mendengar akan bertambah ketika “Yerusalem” (ay. 20-24) yang mereka banggakan ternyata juga berada diujung tanduk. Keruntuhan pada narasi masa lalu dengan mudahnya akan muncul, dibayangi dengan penjelasan tentang mengungsi, kesesakkan, pembantaian juga disebutkan. Tidak cukup sampai situ saja, goncangan ditambah pada tingkat kosmik (ay.25) menggenapi naik turunnya grafik dengan trend memuncak pada ketakutan luar biasa dan tiba-tiba cerita itu seakan dipatahkan oleh “terkuaknya” problema aktual dengan sesuatu yang tidak cukup jelas pada waktu itu. Apakah itu Mesias? Ya, bisa jadi karena setidaknya penceritaan mengingatkan mereka sekilas tentang Babel dan masa-masa berat dibawah tekanan kekuasaan Antiokhus IV Epifanes (Daniel 7:13).
Teknik narasi semacam ini menciptakan suasana psikologis yang bisa mengarah kepada kejelasan “happy ending” secara konseptual disatu sisi dan ketidak jelasan – bahwa pertanyaan “bagaimana dan kapan” tetap tidak terjawab. Yang cukup jelas bahwa parameter yang dibicarakan bukanlah sesuatu yang sama sekali jauh didepan dan tidak bisa dibayangkan, melainkan justru segala hal yang telah dan sedang dialami dalam hidup sehari-hari (ay. 29-30). Tanpa disadari, pertanyaan yang diajukan bukan tanpa bayangan sama sekali. Bisa jadi walau tetap bisa berbeda-beda namun mempunyai keselarasan esensi, bahwa ada penyelamat di saat yang kritis itu. Motif penulisan bisa jadi agak berbeda dengan situasi di Daniel. Lukas menyerang ketenangan pendengar atau pembaca dengan jalan damai bahwa Mesias itu ada dimasa depan, namun menyisakan kenyataan bahwa Yesus ada bersama-sama mereka, menjadi suatu rahasia terbuka sebagai kerajaan Allah yang sudah dekat.
Tuntutan kepekaan (kekritisan) sebagai ciri khas Injil nampak cukup jelas, bahwa tanda besar dan tanda kecil semuanya tetaplah tanda kedatangan Yesus kedua kali. Tuntutan normatif pada bagian ini tidak menjadi tema utamanya. Berjaga-jaga lebih menyentuh masalah intelejensia yang memperkuat karakter yang teliti dan cermat untuk menyokong pondasi nilai-nilai kebajikan yang masih ada. Narasi ini juga menguak beberapa kenyataan hidup yang terkadang tidak dapat dijelaskan, walau jawabannya harus kembali kepada konsep imannya masing-masing.

Dialog
Paper ini tidak bermaksud memperdebatkan apakah Isa a.s. yang dimaksud adalah Yesus Kristus. Kemunculan sosok penyelamat atau tokoh heroik pada rangkaian panjang suatu narasi merupakan parameter nuansa apokaliptik yang cukup penting. Baik secara eksplisit pada alkitab maupun secara implisit pada al-Qur’an dan hadis, ini merupakan pesan pengharapan kepada pembaca, bahwa separah apapun keadaan saat ini yang dijalaninya toh pada akhirnya nanti akan diselesaikan secara baik. Ini merupakan skenario besar dari kuasa ilahi yang setidaknya dapat nampak pada kedua agama yakni Islam dan Kristen sebagai agama monotheistik. Dengan kesimpulan sementara dari bahan yang diteliti bahwa sumber narasi seakan tetap mempertahankan ke”tidak jelas”annya tentang akhir zaman sebagai salah satu ciri apokalip.
Dajjal, Ma’ juj dan Ya’ juj sebagai sosok destruktif yang siap menghancurkan segalanya, nuansa ini juga terjadi pada narasi alkitab dengan munculnya berbagai makhluk bagaikan monster yang ganas dan destruktif. Setidaknya analogi lain yang mengikutinya adalah bagaimana pada akhirnya simbol-simbol perusak yang secara berturutan itu muncul, maka pada akhirnya dimusnahkan oleh tokoh akhir sebagai wakil atau utusan dari yang ilahi. Dan menarik bahwa tokoh akhir tersebut tidaklah sendirian baik al-Mahdi dan Isa a.s. maupun Anak Manusia dan para malaikat. Setidaknya ini menunjukkan bahwa terbentuknya komunitas juga bukan atas supremasi sosok yang tunggal, bisa jadi agar ini tidak menandingi sosok ilahi atau Tuhan yang tunggal.
Perbedaan antara Dajjal dan “monster” adalah bagaimana figur manusia yang dimaksud lebih ditafsirkan sebagai manusia sesungguhnya dengan muatan norma negatif (merusak) dengan kemampuan supranatural. Sementara “monster” lebih ditafsirkan sebagai realita yang bisa jadi merupakan kekuasaan manusia yang tamak, dengan kekuatan politis dan mungkin terus menerus dapat muncul. Dan penelitian ini melihat bahwa langkah tafsir tersebut juga meluas lebih dari kedua hal tadi. “Monster” ini lebih dekat secara analogis dengan tanda-tanda kiamat kecil. Allah sebagai pengutus Dajjal untuk, ini berbeda dengan “monster” yang seakan muncul dalam mimpi Daniel. Dari Allah? Perlu langkah tafsir dan berteologi yang cukup panjang untuk argumentasi ini.
Jika diskusi panjang diatas tadi dikenakan pada konteks, maka sebetulnya cara pandang sebagian orang yang senantiasa menaruh kecurigaan kepada norma-norma buruk yang berkembang sebagai penyakit ideologis dapat terakomodasi pada nuansa apokaliptik. Harapan mereka dan daya juang mereka untuk mempertahankan diri dapat cukup diwadahi pada konsep Dajjal dan turunnya Nabi Isa diatas. Pergumulan mereka lebih bersifat agamawi pada dataran normatif, terkadang tudingan ditujukan kepada pihak luar yang dianggap menyusupkan kebobrokan moral misalnya: modernisme, sekularisme, kapitalisme atau globalisme. Nuansa ini setidaknya dapat menimbulkan perasaan imun ketika mereka taat melakukan perintah-perintah yang diberikan oleh agama. Bagi sebagian orang konsep bencana juga dapat dengan cepat diterjemahkan sebagai peringatan Tuhan pada kebobrokan iman dan moral manusia, baik itu tsunami di Banda Aceh ataupun gempa bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 baru lalu. Ini menandakan bahwa disatu sisi akhir zaman memang tidak dapat dipastikan namun bukan berarti tidak masuk akal, posisi tengah ini mirip dengan pemahaman Kristen tentang akhir zaman.
Suasana pertempuran antara yang jahat dan yang baik, yang baik sudah hampir kalah namun pada akhirnya mendapatkan kemenangan dan disambut dengan keharuan, dan bayangan akan akhir zaman yang dekat merupakan ketiga hal yang menjadi ciri dari kitab Wahyu dapat dikenakan pada buku-buku yang diteliti. Sedikit perbedaan, bahwa kitab Wahyu dalam penceritaan perlawanan tidak melibatkan manusia (Tuhan & mahkluk surga yang melakukan) sementara buku-buku tadi menceritakan bahwa Isa a.s. dan al-Mahdi (manusia) –lah yang melakukan perlawanan. Istilah-istilah derugatif pada kitab Wahyu yang dipakai istilah “babel” untuk menjelekkan Roma tidak muncul. Kekuasaan penindas sudah terhisap kepada konsep moralitasnya, seperti: Pemimpian yang Dhalim, Penguasa yang malas melakukan Salat, dihormati karena harta, dan sebagainya.

“Kelemahan” Apokaliptisisme
Sebagai penutup, jika kita perhatikan pada kitab Daniel dan Wahyu, juga Injil Lukas tadi maka simbol-simbol kekerasan ramai bertebaran dalam penceritaan. Pedang, darah, peperangan, membunuh, kematian, dan sebagainya muncul disana-sini. Seakan-akan sebuah keharusan bahwa masa kejayaan harus didahului oleh kekerasan, walaupun tidak sebagai gerakan yang menganjurkan kekerasan. Bisa jadi situasi penderitaan yang menjadi alasan, juga bisa mitos peperangan antar kekuatan atau juga sastra-sastra lama apokaliptik (penghukuman). Apakah kekerasan sebagai strategi? Walaupun bukan pilihan terbaik tapi tetap diperlukan demi perdamaian? Masih perlu digumuli lagi. Ideologi apokaliptik yang memberitakan sesuatu yang tidak pernah terjadi toh tidak pernah kehilangan pamor dalam agama. Jika disana-sini ada kemiripan antara buku-buku tadi yang mewakili ideologi Islam tertentu dengan ke-Kristenan, apakah berpeluang untuk dapat bersatu? Biarlah energi yang diberikan oleh ideologi ini setidaknya dapat menggerakkan para pembaca narasi-narasi apokaliptik.
Padang Mahsyar adalah tempat dimana orang-orang dipilah–pilah berdasarkan perlakuan akhir untuk memasuki surga dan neraka. Yang menarik apa yang dijelaskan mengenai surga bukanlah sesuatu hal yang asing, istana, taman, emas, permata, wanita cantik, dan sebagainya adalah citra-citra yang duniawi, bukan semata-mata surgawi dan tak dikenali. Demikian halnya mengenai Yerusalem baru yang penuh dengah bangunan megah (Wahyu 21) dengan arsitektural yang luar biasa, bukanlah suatu yang mustahil jika gambaran-gambaran ini hendak memunculkan kembali “babel” atau “Imperium Roma” dengan bentuk yang lebih ideal baik secara etika maupun materialnya. Akhir yang sudah diprediksikan jelas disatu sisi memilah – dipisahkan oleh tembok dan pintu gerbang yang besar (ay. 12), disisi lain ada kesan lebih inklusif – gerbang itu dibuka pada siang hari (ay. 25). Namun tetap bahwa yang dari luar memberi hormat kepada yang didalam (ay. 27) entah karena mereka boleh saja menikmati namun tetap sebagai “tamu”. Setidaknya akhir zaman merupakan kontinuitas dari keseluruhan masa, lalu, sekarang dan mendatang.

3 Comments »

  1. Ass.wr.wb.
    Sebelum saya menceritakan pengalaman saya yang berikut ini, saya memohon agar kita sebagai muslim agak sedikit melapangkan dada untuk menerima atau tidak menerima cerita saya berikut ini.Apakah ini suatu kenyataan ataukah tidak terserahlah kepada yg mendengarnya, kalau seandainya bapak keberatan untuk menerimanya dan menghapusnnya, untuk pribadi saya, juga saya tidak ada masalah,karena menurut hakikat saya,mendengar atau melihat cerita ini akan menimbulkan kebencian, penghasutan, pencacian dll,jadi saya serahkan saja kepada akal manusia yg sehat untuk menimbang baik atau buruknya.

    Beginilah ceritanya:
    Pada tanggal 3 bulan juli th 2008 masuk bulan rajab malam jumaat lalu setelah maghrib muncul makhluk bersayap yg sayapnya seperti mutiara-mutiara yg bertebaran di muka bumi ,begitu besarnya beliau dari pandangan saya,yg berjarak kira-kira 5 meter dari hadapan saya,keindahaan beliau tidak terlukiskan.
    Perkataan beliau yg pertama adalah: Tuliskan!lantas sekali lagi Tuliskan!
    Saya cepat mengambil kertas dan pena kemudian duduk kira-kira satu meter dari hadapan beliau.
    Perkataan beliau yg kedua:Assalamualaikum.
    Saya jawab wallaikumsalam.
    Perkataan beliau yg ketiga:saya Jibril,Tuliskan!
    Saya akan datang bersama Isa almasih kedunia bersama sembilan wali-wali dan bersama 200 lebih malaikat-malaikat.
    Waktu sudah sangat singkat, mulai tahun 2010 banyak kejadian yg akan merampas jiwa manusia.
    Perkataan beliau yg keempat:apa yg engkau inginkan? menyebarkan firman-firman Allah S.W.T, jawab saya.
    Perkataan beliau yg kelima:ada lagi?InsyaAllah, Allah S.W.T akan memberikan petunjuk kepada kami,jawab saya.
    Perkataan beliau yg keenam:baiklah! lantas beliau mengambil kedua belah tangan saya,beliau menyuruh saya berzikir.
    -Allahhuakhbar33x
    -Subhanallah33x
    -Alhamdulillah33x
    -Allah S.W.T33x
    -Laillahhailallah33x
    -Laillahhailallahmuhammadarasulallah33x
    Perkataan beliau yg kesepuluh:ingat!
    1.jangan engkau sombong
    2.bersabarlah
    3.sayang kepada kedua orang tua
    4.jangan engkau membuat kesalahan
    Beliau tunduk sejenak, lantas beliau berkata,saya musti kembali dan menyapa saya assalamualaikum, saya jawab wallaikumsalam Jibril a.s, dia membuka sayapnya lantas terbang begitu cepatnya.

    Saya beranggapan bahwa ini hanyalah sebagai amanah.
    Marilah kita menyimak cerita ini bersama dengan akal yg sehat menurut Alquran dan hadits-hadits rasulallah Muhammad S.A.W.

    Wassalam

    Comment by D. — July 29, 2008 @ 7:06 am

  2. Mbak, Buk, Mas, Pak D, terimakasih atas tuntunannya. Saya akan mencoba melakukan amanah ini. Wallaikumsalam wr.wb.

    Comment by andohar purba — July 30, 2008 @ 1:20 am

  3. TolonG tmbahin pngertian’y dri yaumul Qiyamah

    Comment by priYo — July 23, 2009 @ 5:54 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress