Otoritarianisme vs Equalisme
Karya: Iswanto
Pendahuluan
Berangkat dari teks I Samuel 17:58; 18: 1-5 kita melihat dari narasi terseut adanya tema tentnag suatu relasi yang diangkat, dengan pendekatan sosiologis-ideologis, saya mencoba untuk mendeskriksikan hubungan/relasi yang ada dari tokoh-tokoh pada perikop tersebut serta menganalisa pola hubungan yang terjalin antar para tokoh. Pembahasan pertama adalah pada relasi dari Saul dengan Daud, dan selanjutnya, relasi antara Yobatan dengan Daud, serta perbandingan antara dua pola interaksi yang dibangun dalam kaitannya dengan kehidupan bersama. Secara garis besar, tulisan ini akan menyelidiki dari hubungan/relasi tersebut mana yang kira-kira menjadi ‘ideologi dominan” yang menjadi pemahaman umat Israel dalam teks tersebut, serta ‘counter ideologi” bagaimana yang ditampilkan oleh penulis kitab Samuel dalam memberi koreksi atas pengaruh pandangan yang dominan dipegang saat itu. Pada akhir tulisan, kesimpulan dan refleksi akan menjadi penutup tulisan ini.
Teks I Samuel 17:58 sampai 18 : 15
Dan Saul berkata kepada dia [Daud], “Anak siapakah engkau, hai anak muda [hamba]? Maka Daud berkata, “Anak budakmu, Isai, orang Betlehem itu”.
Dan saatnya berlalu ketika dia [Daud] selesai berbicara dengan Saul, sejak itu jiwa Yonatan terpadu dengan jiwa Daud, dan Yonatan mengasihinya seperti jiwanya.
Maka Saul mengambil dia pada hari itu dan tidak memberikan kembali ke rumah bapaknya.
Maka Yonatan dan Daud mengikat perjanjian dengan ia mengasihinya seperti jiwanya.
Jiwanya menanggalkan jibahnya itu yang ia pakai dan memberikannya kepada Daud dan sampai baju perangnya, pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.
Dan Daud pergi ke semua tempat kemana Saul mengirim dia, dia mengerjakan dengan berhasil, sehingga Saul mengangkat dia atas tentara-tentara itu dan hal itu baik dimata seluruh bangsa itu dan di mata hamba-hamba Saul.
Saul – Daud : Paradigma kerja
Sebelum membahas interaksi Saul dengan Daud, adalah menarik bila kita memperhatikan kitab Hakim-hakim 19-21 yang menceritakan tentang perbuatan noda di Gibea oleh suku Benyamin yang merupakan suku dari Saul, terhadap gundik Betlehem-Yehuda, merupakan tempat tinggal dan suku Daud. Perbuatan noda tersebut mengakibatkan peperangan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel, pasukan perang yang pertama maju dari suku-suku Israel adalah suku Yehuda. Pada akhirnya suku Benyamin kalah, dan hal ini menjadikan suku Benyamin menyandang predikat suku yang terkecil dan terhina ( I Samuel 9:21), selain itu pada pasal-pasal di atas kita melighat tema bahwa suku lain sebagai saudara masih begitu kuat, hal ini muncul pada Hakim-hakim 19:23; 20:13, 23, 28; 23:28, dari sinilah kita akan berangkat.
Pada pembahasan kita, interaksi Saul dengan Daud dimulai dari pasal 17:58. DI ayat ini Saul bukan saja bertanya tentang orang tua Daud melainkan sebenarnya bertanya tentang stautus Daud. Pertanyaan Saul pun memposisikan Daud sebagai budak dengan memanggil dia anak muda. Padahal seseorang menjadi/diposisikan sebagai budak adalah karena dia kalah perang (Ul 20:10-11; Yos 9:21), justru Daud yang baru saja mengalahkan orang Filistin/Goliath malah diposisikan Saul sebagai budak serta dalam alur cerita. Kita juga menemukan bahwa Daud sebelumnya telah diurapi oleh Samuel menjadi raja ( 1Samuel 16). Dan lebih jauh lagi, Saul membawa dan melarang Daud pulang ke rumah. Setelah Saul memposisikan Daud sebagai budak, Saul berusaha untuk memiliki dan menjadikan Daud propertinya, hal tersebut menghilangkann kebiasaan Daud yang selalu pulang ke rumah bapaknya (1 Sam 17:14). Sebagai budaknya Saul juga berhak menyuruh Daud pergi berperang dan berhak memberikan Daud pangkat atau tidak (18:5). Di sini kita melihat baha Sal menjadikan Daud, budak tetapnya, hal ini tentu bertentangan dengan kepercayaan Israel bahwa seseorang bisa menjadi budak tetap harus berangkat dari keinginan sendiri dari budak tersebut dan bukan karena paksaan tuannya (keluaran 21:6).
Dalam sosiologi, kemauan Saul untuk mengadakan dan memelihara relasi dengan Daud mungkin bisa disebut Zweckwille, yaitu kemauan rasional yang hendak mencapai tujuan dan pada akhirnya ini akan menimbulkan paradigma kerja, dimana komunikasi antar manusia dipaami menurut model pekerjaan. Karena itu paradigma ini melihat alam/orang lain sebagai obyek yang harus dikuasai, maka dalam relasi ini disifatkan sebagai berikut :
a. Tipe relasi superordinasi, relasi atasan dengan bawahan ( 1Sam 17:58).
b. Dimana ada relasi superordinasi, kita boleh mengandaikan bahwa pihak atasan mengontrol tingkah laku pihak bawahan melalui instruksi, pemerintah dan larangan (1 Sam 18:2).
c. Pengontrolan ini dianggap oleh pihak atasan menjadi kewajibannya dan sah menurut hukum (1 Sam 18:5).
Yang menarik dalam hubungan/apa yang dilakukan Saul terhadap Daud direspon oleh umat Israel dan hamba-hamba Saul sebagai hal yang baik (1 Sam 18:5). Hal ini menandakan bahwa relasi tersebut menjadi suatu pandangan yang umum dan dominan saat itu.
Yonatan – Daud : Paradigma Komunikasi
Berbeda dengan Saul, hubungan Yonatan dengan Daud diawali dari terpadunya jiwa mereka; dari hal yang batiniah dan bukan karena lahiriah, dorongan batin berupa perasaan ini disebut Triebwill. Interaksi ini dilanjutkan dengan kasih Yonatan kepada Daud seperti bagaimana dia mengasihi dirinya, sehingga hubungan tersebut bisa diandaikan bahwa mereka mengikat perjanjian, hal ini saya mengerti sebagai pengandaian karena sebenarnya perjanjian antara Yonatan dan Daud baru kita ketahui secara lengkap pada 1 Samuel 20. Ini bukan saja merupakan hubungan antara dua orang saja karena pada 1 Samuel 20:23 dinyatakan Tuhan ada diantara mereka, hubungan Yonatan dengan Daud merupakan hubungan yang menyertakan Tuhan. Selanjutnya kasih Yonatan kepada Daud diwujudnyatakan dengan cara memberikan jubah yang dipakainya, baju perang, pedang, panah dan ikat pinggang.
Brueggman berpendapat bahwa aksi dari Yonatan pada 1 Samuel 18:4 ketika memberikan kepada Daud jubah dan kapaian perang merupakan aksi dramatis dimana hal itu dapat dilihat sebagai pengalihan hak Yonatan kepada Daud untuk mengklaim tahta kerajaan. Saya kurang sependapat dengan pernyataan tersebut, karena simbol bagi suksesi lebih cocok ketika Saul mengenakan pakaian perangnya kepada Daud (1 Sam 17:39) walaupun pada akhirnya Daud menanggalkannya, serta saat itu penunjukan atas raja Israel bukan berdasarkan garis keturunan melainkan penunjukan oleh Tuhan, “maka hanya raja yang dipilih Tuhan, Allahmu yang harus kau angkat atasmu (Ulangan 17:15). Saya berpendapat bahwa apa yang dilakukan Yoatan merupakan perwujudan kasih Yonatan kepada Daud sebagaimana ia mengasihi dirinya. Mungkin yang dilakukan Yonatan setara dengan perwujudan kasih dalam Matius 5:40 dengan memberikan baju dan jubah.
Paradigma komunikasi, mungkin ini menggambarkan dengan tepat interaksi antara Yonatan dengan Daud, dimana pihak lain diakui sebagai subyek dan bersiat dialogal. Pelaku tindakan komunikatif memiliki orientasi pada pencapaian pemahaman. Dalam hal ini sukses tidak menjadi ukuran; sebagaimana dalam tindakan rasional bertujuan dan tindakan ini tidak bersifat egoisentis. Keberhasilan tindakan ini justru tampak pada tercapainya saling pemahaman kedua belah pihak komunikasi.
Raja atau sahabat
Menarik bila kita membandingka kedua pola interaksi diatas dan bagaimana seseorang seharusnya hidup dalam masyarakat sosial, raja yang diharapkan dapat menjadi penyelamat (1 Samuel 10:27), yang tentu juga diharapkan Daud dan Saul. Justru pada perikop kita dan pada kisah selanjutnya kita menyaksikan bahwa Saul menjadi seorang raja yang otoriter, dan karena kedudukannya mulai terancam oleh populeritas Daud, ia mulai membenci dan berusaha membunuh Daud. Persahabatannya dengan Daud pada akhirnya terputus karena Daud dilihatnya sebagai ancaman. Disisi lain kita juga mendapati Daud yang melarikan diri karena ancaman tersebut. Raja tidak lagi menjadi penyelamatku, raja yang seharusnya menjadi pelindungku justru mengancam nyawaku, mungkin demikianlah yang menjadi keluhan Daud.
Tetapi Daud bukanlah tanpa pelindung, walaupun bukan raja pelindungan melainkan sahabatnya, yaitu Yonatan. Raja yang sebenarnya sebagai penyelamat digantikan fungsinya tersebut oleh seorang sahabat, hal tersebut dilandasi oleh kasih (1 Samuel 18;1,2) Yonatan mengasihi Daud sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri, apa yang dilakukan Yonatan dengan Daud, menurut saya merupakan suatu rekonsiliasi dari sejarah nenek moyang mereka, dimana dalam Hakim-hakim 21 terjadi keretakan antara suku-suku Israel. Pengakuan Daud yang menempatkan Yonatan sebagai saudaranya setelah kematian Yonatan (2 Samuel 1:26) menunjukkan bahwa tema persaudaraan antar suku Israel kembali diangkat, dan itu semua ditunjukkan bukan dalam interaksi dari Saul dan Daud sebagai raja dan hamba melainkan dari interaksi Yonatan dan Daud sebagai dua orang yang setara kedudukanya dan saling mengasihi.
Penutup
Tindakan dan interaksi yang dilakukan Saul terhadap Daud mungkin merupakan hak seorang raja seperti yang tertulis dalam 1 Samuel 8:11-17, tetapi hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh penulis kitab Samuel. Walaupun hal tersebut sudah menjadi ideologi dominan bukan berarti tidak ada conter ideologi. Interaksi Yonatan dengan Daud merupakan kritik atas paradigma kerja, dimana orang lain dianggap sebagai obyek untuk dimiliki, dieksploitasi dan dipasung kebebasannya, maka terjadilah komunikasi yang terdistorsi seacra sistematis. Interaksi dengan sesama/orang lain hendaknya diwujudkan dalam tindakan-tindakan komunikatif, sehingga menciptakan interaksi yang bersifat geniune. Persahabatan Yonatan dengan Daud merupakan model bagi pembaca sebagai suatu hubungan alternatif yang ditawarkan oleh penulis kita Samuel untuk melawan hubungan dominasi yang otoriter. Bila hubungan antar manusia hanya atas dasar mekanisme saling menguntungkan, manusia tidak lagi dilihat sebagai subyek atau pribadi yang saling berbagi cipta, dicaplok demi rasa aman dan keuntungan sendiri. Hal tersebutlah yang hendak ditentang lewat interaksi Yonatan – Daud.
Kunci untuk mengatasi kesulitan dalam usaha mewujudkan komunitas adalah komunikasi, yaitu upaya bersama untuk mewujudkan kesatuan. Kesatuan bukan keseragaman, bukan pula peleburan yang lemah pada yang kuat, sehingga otonomi masing-masing lenyap, kesatuan adlah communio, dimana setiap anggota komunitas menghargai komunikasi antar pribadi dengan keyakinan Tuhan ada di atanra aku dan engkau sampai selamanya. Dan hal tersebut haruslah dimulai dengan keterpaduan jiwa sebagaimana terpadunya jiwa Yonatan dengan jiwa Daud.
TEOLOGI