FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

March 23, 2008

Tragedi 1965 dan Teologi Kristiani

Filed under: Teologi Kontekstual — admin @ 7:27 pm

Indro Suprobo, Resist Book Jogjakarta.

Apa yang sesungguhnya terjadi setelah peristiwa subuh 1 Oktober 1965 adalah sebuah tragedi manusia dan kemanusiaan. Bahkan M.R. Siregar almarhum menyebutnya sebagai holokaus terbesar yang terjadi setelah Nazi (M.R. Siregar, 2007). Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan manusia Indonesia menjadi korban dan seringkali tanpa mengetahui apa yang menjadi kesalahan. Yang paling membuat terkesima adalah kenyataan betapa hampir semua orang beragama, baik orang biasa maupun para pemuka, dapat melakukan tindakan yang sesungguhnya melukai peradaban. Pada saat itu, agama-agama menunjukkan wajah kontradiktifnya yang sempurna.

Para korban politik tahun 1965 selanjutnya harus menjalani hidup di bawah bayang-bayang kegelapan stigma. Kuasa politik pemenang menempatkan mereka di sudut pengap sebagai para penjahat dan pengkhianat. Tak mengherankan apabila kehidupan para korban sangat rentan kehilangan harkat, martabat dan sanjungan hormat. Mereka, yang sebenarnya adalah sesama dan saudara, telah diciptakan menjadi kaum tak berkisah yang dipinggirkan dalam sejarah.

Mantra Politik dan Pewarisan Ingatan
Untuk melanggengkan kuasa peminggiran ini, politik pemenang telah memproduksi sebuah mesin kebudayaan yang disebut pewarisan ingatan (Budiawan, 2004). Ia bekerja di wilayah kesadaran dan pemikiran yang menjagai dakwaan abadi bahwa kaum komunis dan perempuan Gerwani adalah penjahat dan pengkhianat yang tak pernah pantas mendapatkan hormat. Pewarisan ingatan ini menjadi mantra politik yang menangkap kesadaran, mempengaruhinya, menyihir, menelikung dan mengarahkannya untuk bekerja berdasarkan sekaligus demi kepentingan kekuasaan. Bagi kekuasaan, mantra politik ini membawa segala kekayaan, namun bagi para korban, ia menjerumuskannya ke dalam segala kemiskinan.

Mantra politik tahun 1965 senyatanya menjadi kekuatan yang mematikan bagi para korban. Ia membunuh seluruh pengharapan akan kehidupan dan melukai harkat martabat kemanusiaan. Mantra politik yang substansinya adalah sebuah dakwaan itu, sebenarnya tak bersambung dengan kenyataan. Visum et repertum yang dihasilkan oleh para dokter ahli Roebiono Kertopati, Frans Pattiasina, Sutomo Tjokronegoro, Liauw Yan Siang, dan Lim Joe Thay atas jenasah para perwira korban Lubang Buaya menjadi bukti nyata bahwa dakwaan itu tak berdasar fakta (Dhakidae, 2003). Namun aneh tapi nyata, dakwaan itu selalu saja dijaga setia, diuri-uri agar lestari dalam seluruh kesadaran generasi kemudian melalui pewarisan ingatan. Ini berarti bahwa kekuatan yang mematikan, yang mengancam kehidupan dan meminggirkan kemanusiaan tetap dilestarikan serta terus-menerus menganugerahi penderitaan bagi para korban.

Tantangan Teologi
Kenyataan penderitaan para korban yang senyatanya tak pernah mengetahui alasan dan kesalahan sebagai akibat dari kekuatan mesin pewarisan ingatan yang mematikan, meminggirkan dan mengancam kehidupan merupakan kenyataan yang mau tidak mau menantang teologi kristiani. Dalam perspektif teologi kristiani, segala daya dan kekuatan yang mengancam kehidupan (peminggiran, diskriminasi, penindasan, dan pemiskinan) yang bekerja secara struktural dikategorikan sebagai kekuatan dosa dan secara teknis teologis disebut sebagai dosa struktural.

Kehadiran teologi kristiani sudah sangat jelas dan tegas membawa mandat untuk menciptakan dan memperjuangkan struktur rahmat. Berhadapan dengan struktur dosa yang meminggirkan dan mengancam harkat martabat kemanusiaan, teologi kristiani memiliki sikap dasar yang tak bisa ditawar yakni preferential option for the poor, berpihak kepada para korban peminggiran dan ketidakadilan. Keberpihakan dan keterlibatan kristiani untuk menata masyarakat manusia di sini dan pada saat ini, serta perlawanan kristiani terhadap segala ketidakadilan yang mengganggu perdamaian antara umat manusia, tidak hanya secara alkitabiah dapat dibenarkan tetapi harus dialami sebagai ibadat sekular yang dituntut oleh inti biblis kristianitas (Pieris, 1996).

Dengan demikian, menghadapi kenyataan peminggiran, stigmatisasi, pewarisan ingatan yang mematikan hormat terhadap harkat martabat kemanusiaan, dan penciptaan kaum Indonesia tanpa kisah dalam sejarah, teologi kristiani jelas-jelas tak bisa memilih untuk bersikap netral. Dalam realitas semacam itu, netralitas teologi kristiani hanya akan membawanya menjadi alat peneguh peminggiran, stigmatisasi, pelanggengan pewarisan ingatan, penindasan terhadap harkat martabat kemanusiaan dan menjadi karib bagi kaum status quo yang selalu setia menjagai dakwaan abadi (John Bowden,2005).

Rekonsiliasi
Gerakan sosial yang menjadi praksis teologi kristiani dalam konteks semacam ini adalah menyediakan ruang luas bagi kaum korban politik 1965 untuk membuka kisah tentang dan bagi sejarah dari perspektif mereka yang selama ini terpaksa menjadi kaum kalah. Kemerdekaan dan hak mereka sebagai kaum berkisah musti diangkat penuh hormat sehingga boleh kembali menjadi kaum berkisah yang memiliki andil untuk menguntai sejarah. Musti dibuka ruang luas untuk berkisah tentang mengapa, apa yang sesungguhnya terjadi, apa yang dialami, apa yang dipikirkan dan diharapkan sebagai cita-cita masa depan. Seluruh kisah ini akan menjadi sebuah proses konsientisasi, yakni proses membebaskan pikiran dan kesadaran dari telikungan gelap dakwaan dan pencitraan oleh pewarisan ingatan. Meminjam istilah Budiawan, konsientisasi ini disebut sebagai proses mematahkan pewarisan ingatan. Dalam terminologi teologi kristiani, proses ini disebut sebagai penyelamatan, pemerdekaan atau pembebasan. Pada gilirannya, semua ini merupakan langkah fundamental bagi rekonsiliasi.

2 Comments »

  1. Bagi saya sejarah adalah kisah yang mengajarkan bagaimana hidup di masa yang akan datang. kalau sejarahnya kelam maka kita diharapkan tidak mengulangnya lagi, kalau sejarahnya menjadi prestasi yang gemilang maka harus dipertahankan bahkan kalau bisa di tingkatkan. dalam sejarah bangsa kita begitu banyak sejarah yang kelam, tidak hanya kelam kita juga tidak bisa memastikan benarkah ini sejarahnya? istilah orang ahli itukah the History atau hanya history. salah satu sejarah kelam dalam kehidupan berbangsa kita adalah tragedi 65. tetapi sayangnya kita mengulangnya lagi dalam peristiwa mei 98. sejarah kelam yang demikian sepertinya menjadi sebuah tonggak untuk memulai pembaruan bagi bangsa ini. tonggak berdirinya orde baru ditandai dan dimuali dengan peristiwa yang sangat memilukan hati, dan tonggak berdirinya era Reformasi menurut saya tidak jauh berbeda.
    lalu dimana teologi kristen berbicara? apakah ini merupakan bagian dari tanggung jawab kita? saya sedikit pesimis tentang peranan kekristenan dalam masalah bangsa yang tidak berhubungan dengan urusan intern gereja, maaf. atau kalaupun dibahas tidak lebih dari sekedar wacana dalam forum teologi atau seminar teologi yang menjadi konsumsi orang-orang tertentu dan kemudian menjadi pintar sendiri.
    mungkin kita perlu dan harus membangun sikap kita secara teologis dalam menghadapi pergumulan yang tidak mungkin adalah menjadi pergumulan salah satu dari anggota gereja kita. tetapi sejauh mana itu berdampak, apalagi membangun kembali sebuah sejarah, kok bagi saya rasanya terlalu berlebihan. ok. kalau kita hanya berorientasi pada penyampaian kerygma dan penerimaan yang tulus mungkin bisa dilakukan, itupun sangat sulit. tetapi pasti, untuk menunjukkan bahwa Allah masih ada sama seperti dulu ada dan tetap ada. yang memberikan hujan kepada semua orang dan yang mengasihi orang tertindas dan terbuang. saya pikir kalau teologi kita bisa diwujudkan samapai titik ini, bisa dikatakan ini adalah prestasi yang sangat mengagumkan
    Namun dibalik semua sikap pesimis itu tentu kita harus tetap bersikap.
    teologi kekristenan berdasarkan kasih, kasih yang nyata terhadap sesama, yaitu menjadi menjadi sesama. oleh karena Allah menunjukkan meneladankan bahwa Dia adalah kasih. kasih ini harus nyata di wujudkan kepada orang-orang yang terbuang. orang lapar di berikan makan, orang harus diberikan minum dsb. dalam kasus tragedi 65, mereka lapar dan haus. lalu makanan dan minuman apa yang cocok bagi mereka? bagaimana kita bersikap kepada mereka? sikap berpihak pada yang tersisih adalah sikap yang pasti diambil oleh gereja secara teologis? memang mungkin sudah saatnya gereja bergerak lebih jauh dalam menunjukkan keberadaannya sebagai pembawa damai sejahtera, di mana setiap orang yang berteduh di dalamnya akan mendapatkan air segar yang menyejukkan hati dan mendapatkan pelukan hangat sebagai tanda persaudaraan dalam kasih.
    namun kelemahan teologi kita terletak pada kasih yang begitu besar sehingga terkadang kita bingung, apakah kita mengasihi semua orang atau kita tidak berani mengasihi seseorang walaupun orang itu menderita. keberpihakan pada orang tersisih bukankah tergantung siapa yang sedang tersisih, kalau dulu mereka dalam semua kepahitannya adlaah tersisih,namuan sekarang dalam era baru dan terbuka, jangan-jangan mereka sedang menyisihkan kelompok lain yang dulu menyisihkan mereka. paulo preire mengatakan bahwa ketika orang yang tertindas naik menjadi pemimpin maka akan besar kemungkinan mereka akan memposisikan diri menjadi penindas.
    lalu bagaimana teologi kita berbicara tentang masalah ini? saya lebih memilih untuk benar-benar mendasarkan teologi kriten pada kasih AGAPE. di mana kita akan bersikap kasih dan penuh penerimaan pada setiap orang, sebab Yesus juga bersikap demikian. dia tidak membela orangnya, tetapi menerima imannya, dia menghujat habis-hasbisan sikap yang penuh kejahatan dan melawan Allah tetapi mengasihi orangnya dengan kasih yang sama terhadap orang lain. berpihak dalam teologi kristen bukan berarti mendukung orangnya, tetapi membela harkatnya sebagai ciptaan Allah, sebagai gambar dan citra Allah, bukan membela orangnya.
    rekonsiliasa akan sangat tepat tujuan kalau kita memberikan makan pada laparnya, dan minum pada hausnya. penerimaan dengan ketulusan kepada semua orang adalah perdamaian sejati yang mampu mewujudkan damai sejahtera Allah di bumi yang semakin tua ini.
    terima kasih. Josman P. Sinaga.

    Comment by Josman — March 25, 2008 @ 11:40 am

  2. Permisi Jos. Sedikit komen aja. Mengapa tidak membandingkan korban 65 dengan kaum sisa Israel? Siapa itu samaria? Bagaimana sikap Yesus terhadap orang Samaria? Bagaimana perspektif teologisnya? Mungkin bisa lebih tajam dengan sudut analisis ini. Ayo, teruslah berkarya.

    Comment by andohar purba — July 28, 2008 @ 9:29 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress