FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

March 29, 2008

INJIL LUKAS

Filed under: teologi sistematik, Teologi Kontekstual, Tafsir — admin @ 12:33 am

JURNAL TEOLOGI PERJANJIAN BARU
Karya: Andri Purnawan

Komplit dan sistematis. Itulah kesan penulis setelah meneliti injil Lukas. Rasanya tidak ada kitab dalam Perjanjian Baru yang menggambarkan Yesus dengan begitu hidup sebagai sahabat dan juruselamat manusia selain injil ini. Bahkan Willi Marxsen lebih suka injil ini disebut sebagai “Riwayat Hidup Yesus” . Lukas menyatakan dalam pendahuluannya (Luk.1 :1-4) bahwa ia melakukan penelitian intensif mengenai sejarah Injil, agar ia mampu menulis laporan yang dapat dipercaya. Namun Lukas tidak bermaksud menulis sejarah atau biografi, ia tidak menulis injil untuk dipakai sebagai pedoman historis, namun juga sama sekali bukan hasil spekulasi-spekulasi falsafati atau hasil penelitian yang kering. Berikut ini adalah uraian mengenai Injil komplit dan sistematis ini.

A. PROFIL YESUS.
Dari awal sampai akhir Lukas memusatkan perhatian kepada Yesus, yang datang untuk ‘mencari dan menyelamatkan yang hilang’ (19:10). Di dalam Lukas, Yesus diproklamasikan sebagai Anak Allah, yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menyelamatkan orang berdosa. Pernyataan diri Yesus sebagai Juruselamat dan Anak Allah Yang Mahakuasa merupakan tema pokok Injil ini. Sejak awal Lukas menceritakan bahwa malaikat datang menemui Maria, memberitakan kelahiran Juruselamat dan memerintahkan kepada Maria menamainya Yesus (=Yosua=Juruselamat). Juga dikatakan bahwa Ia akan menjadi besar dan dipanggil “Anak Allah Yang Maha Tinggi” (1:31-32). Di tempat lain Lukas juga menceritakan sejarah Yohanes Pembaptis dan itupun adalah dalam rangka meyakinkan pembaca bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Pekerjaan Yohanes Pembaptis adalah merupakan persiapan (1:17 dan 3:16) bagi kedatangan-Nya, yang oleh suara Tuhan dari sorga (narator), diumumkan sebagai Anak Allah yang kekasih dan kepadaNyalah Tuhan berkenan (3:22). Setelah pasal 4 dan selanjutnya Lukas menunjukkan bagaimana Yesus menyatakan dirinNya sendiri makin lama makin jelas sebagai Anak Allah dalam arti khusus dan mutlak, dan sebagai Dia yang memanggil dan menyelematkan orang yang hilang ( bnd 4:18-21,43 ; 5:8-10,31,32 ; 7:47-50; 8:28; 9:1,18-20; 21:27,33; 22:69,70; 23:43,46; 24:5,6,15,36-38,25-53).

B. TEMA KUNCI dan PESAN TEOLOGIS
Yesus sebagai Juruselamat Ilahi dalam arti universal. Yesus menawarkan pengampunan dan penebusan secara bebas kepada semua orang-tak tergantung ras, seks,ataupun amal. Perjumpaan Yesus dengan orang Samaria (mis.10:30-37) dan non-Yahudi(mis.2:32; 3:6; 24:47) maupun dengan orang Yahudi (2:10,dsb); kepada pria maupun wanita, kepada mereka yang terbuang dan tersisihkan dari masyarakat (3:12; 5:27-32; 23:43; dsb), juga kepada orang terhormat (7:36; 11:37; 14:1), kepada orang miskin (1:53; 7:22), maupun kepada orang kaya (19:2; 23:50). Selain itu berhamburan dalam Injil ini mengenai kepiawaian Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit adalah hendak untuk menekankan bahwa Yesus memiliki kuasa menyembuhkan baik secara rohani maupun jasmani.

Dari kenyataan di atas penulis menangkap sebuah teologi baru. Allah di dalam Injil Lukas digambarkan sebagai Allah yang berotoritas, namun juga bersahabat dengan manusia. Bahkan konsep yang berdosa harus dihukum juga dipatatahkan oleh Lukas. Allah yang pengasih yang datang untuk mencari yang berdosa, bukan yang benar (perumpamaan orang sakit yang memerlukan dokter), serta Allah yang menembus batas religius, batas budaya, batas ras maupun seksual. Kisah di dalam Lukas mematahkan konsep umat pilihan, struktur masyarakat yang patrilineal, dan keselamatan yang partikularis.

C. MORALITAS YANG TERBENTUK DARI TEOLOGI LUKAS
Kehadiran Yesus yang di awal digambarkan sebagai Juruselamat dan Anak Allah yang begitu Agung tiba-tiba berubah menjadi seorang Juruselamat yang merakyat. Di satu sisi Yesus ditampilkan sebagai sosok yang memiliki kedudukan tinggi, namun di sisi lain juga ditampilkan secara khas sebagai sahabat orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat (9:51-56,dsb). Antara yang melangit dan yang membumi, memiliki otoritas Allah dan dekat dengan kelas bawah. Itulah moralitas ideal yang hendak dikemukakan oleh Lukas.
Bagaimana implementasi dan aplikasinya ? Jaman Yesus dan Lukas sudah berakhir. Namun spiritualitas Yesus yang disajikan oleh Lukas tentu sangat relevan untuk diaplikasikan dalam konteks bergereja di Indonesia. Yang memiliki masyarakat yang plural. Dari kebrobrokan struktur hingga penyimpangan-penyimpangan di masyarakat terjadi. Ini merupakan medan yang sangat baik untuk mendewasakan gereja. Gereja dituntut untuk mensyukuri anugerah keselamatan dari Allah dengan menjadi Yesus-Yesus baru. Gereja harus memiliki otororitas, kewibawaan, namun juga merakyat, berkarya secara konkret, menghadirkan angin segar bagi siapa saja yang di sekitarnya. Gereja harus meletakkan kepalanya di atas awan dan memijakkan kakinya di dalam lumpur. Menjangkau semua kalangan dan menembus batas, termasuk batas-batas feodalisme dan partikularis masih marak di dalam gereja.

1 Comment »

  1. Thx bro untuk ulasannya yang ringkas , padat, jelas dan tepat sasaran. Cuma kayaknya lebih bagus kalo disertai contoh yang konkret mengenai proyek2 apa yang harus dilakukan greja untukmemenuhi hal ini.
    Thanks untuk usahanya
    GBU

    Comment by gospelman — April 25, 2008 @ 9:18 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress