Untuk Mengenang Perempuan itu, Matius 26:6-13
Sebuah Analisis Naratif terhadap Matius 26:6-13
Karya: Sergina
I. Pendahuluan
Dalam lingkungan Yesus, laki-laki dan perempuan mempunyai peranan yang sama. Itu tentu tidak berarti bahwa dalam kedudukan pada zaman Yesus, dalam segala bidang menjawab masalah yang kini kita hadapi. Perbedaan budaya yang ada menjadi masalah yang sering kali membedakan perempuan dan laki-laki. Padahal orang bisa berkembang dalam relasi sebagai saudara, tanpa perlu membedakan seseorang karena ia perempuan atau laki-laki.
Kedudukan dan peranan perempuan dalam masyarakat bukan hanya menjadi pembicaraan, tetapi juga sangat berpengaruh dan berperan. Perempuan berperan besar dalam kehidupan keluarga/rumah tangga: mengurus suami dan anak, memasak, mencuci, mengatur keuangan, membeli kebutuhan keluarga, dan masih banyak lagi. Belum lagi jika perempuan tersebut mempunyai pekerjaan di lingkungan publik, maka dia mempunyai peran yang lebih banyak lagi. Ini tentu saja sangat menarik sebab perempuan sering kali dipinggirkan atau dinomorduakan dalam kehidupan masyarakat, padahal ternyata mereka sangat berperan dalam kehidupan manusia. Perempuan pun terkadang menerima saja keterpinggiran atau pendiskriminasian mereka oleh masyarakat. Mereka dibatasi untuk terlibat dan berperan aktif dalam masyarakat. Namun yang menarik adalah meski terbatas, kekuatan perempuan bisa sangat nyata.
Tulisan ini mencoba untuk menafsir Matius 26:6-13 mengenai tindakan yang dilakukan oleh seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya oleh penulis Injil Matius, dengan menggunakan metode kritik naratif (analisis naratif). Kemudian mencoba memahami kembali perikop ini dalam keberadaan perempuan masa kini.
II. Analisis Naratif terhadap Matius 26:6-13
Injil Matius bisa dikatakan terdiri dari dua bagian, yaitu “cerita” dan “uraian tentangnya”. “Cerita” Injil Matius mengenai kehidupan Yesus mulai dari Ia dikandung dan dilahirkan, sampai pada kematian dan kebangkitanNya. “Uraian” Injil Matius merupakan sarana yang dengannya cerita tentang kehidupan Yesus dituturkan. Perikop Matius 26:6-13 merupakan salah satu cerita dalam Injil Matius sehingga penulis mencoba menafsir perikop ini berdasarkan metode kritik naratif (analisis naratif). Metode naratif berfokus pada kisah-kisah dalam Alkitab yang merupakan sebuah cerita dan berusaha menjelaskan arti dan makna cerita tersebut.
a. Plot/Alur
Plot dari Matius 26:6-13 dapat dilihat dengan terlebih dahulu memperhatikan waktu, tempat, dan tokoh yang akan menunjukkan terjadinya perubahan adegan dalam cerita ini.
Adegan – ayat 6, Waktu: Pengenalan, tempat: Betania, di rumah Simon si kusta. Tokoh: Yesus, murid-murid.
Adegan – ayat 7, waktu: Seorang perempuan datang kepada Yesus dengan membawa buli-buli berisi minyak dan meminyaki kepala Yesus., tempat: Di rumah Simon si kusta., tokoh: Yesus, seorang perempuan, murid-murid.
Adegan – ayat 8-12, waktu: Reaksi murid-murid dan Yesus terhadap tindakan perempuan tersebut., tempat: Di rumah Simon si kusta, tokoh: idem
Adegan – ayat 13, waktu: Kesimpulan Yesus, tempat dan tokoh idem
Dengan demikian, plot dari kisah ini yaitu:
Adegan 1 (ayat 6): adegan ini diawali dengan sampainya Yesus di rumah Simon si kusta, di Betania.
Adegan 2 (ayat 7): lalu datang seorang perempuan dengan membawa buli-buli yang berisi minyak wangi yang mahal dan meminyaki kepala Yesus dengan minyak tersebut.
Adegan 3 (ayat 8-12): kisah ini dilanjutkan dengan reaksi dari para murid yang beranggapan bahwa hal yang dilakukan oleh perempuan tersebut merupakan sebuah pemborosan. Menurut mereka, minyak itu dapat dijual dan uang hasil penjualannya diberikan kepada orang-orang miskin. Namun Yesus menunjukkan reaksi yang berbeda dari para murid. Bagi Yesus, hal yang telah dilakukan perempuan tersebut merupakan perbuatan yang baik kepada diriNya dan persiapan untuk penguburanNya.
Adegan 4 (ayat 13): solusi definitif (jalan keluar yang menentukan) pada akhirnya yaitu Yesus berkata kepada mereka bahwa apa yang dilakukan perempuan tersebut merupakan suatu perbuatan baik yang patut untuk diingat dan diberitakan kepada orang-orang percaya di seluruh dunia.
b. Karakterisasi
• Yesus
Dalam adegan 1, karakter Yesus belum begitu jelas. Tetapi jika Yesus datang ke rumah seorang yang mengidap penyakit kusta, bisa dikatakan bahwa Yesus mau menyembuhkan Simon si kusta dari penyakitnya dan juga bisa menggambarkan sikap Yesus yang tidak membeda-bedakan orang, terbuka, dan mau melayani atau menyembuhkan siapa saja.
Adegan 2, Yesus tidak berperan apa-apa. Sedangkan dalam adegan 3, Yesus digambarkan sebagai seorang yang baik hati, bijaksana, penuh kasih, dan pembela bagi perempuan. Demikian juga pada adegan 4, Yesus kembali ditampilkan sebagai seorang yang bijaksana, baik hati, dan penuh kasih.
• Perempuan
Perempuan baru muncul dalam adegan 2 dan ia digambarkan sebagai seorang yang murah hati karena rela memberikan minyak wanginya yang mahal untuk meminyaki kepala Yesus. Selain itu, karakter perempuan yang tersirat yaitu setia, tidak egois, dan berani. Dalam adegan selanjutnya, perempuan masih menjadi tokoh namun hanya berperan pasif.
• Murid
Murid-murid sebenarnya telah muncul dari adegan 1 dan 2, namun mereka belum mempunyai peran. Baru dalam adegan 3, murid-murid muncul dengan reaksi keras yang menolak tindakan yang dilakukan oleh perempuan tersebut. Murid-murid tampak gusar dan marah sehingga hal ini menggambarkan murid-murid sebagai seorang yang keras hati, sombong, tidak memiliki kasih, dan pelit. Walaupun sebenarnya maksud penolakan mereka juga baik karena mereka tidak ingin menghambur-hamburkan uang (minyak wangi) untuk hal yang tidak begitu penting, namun pikiran mereka terlalu sempit. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan perempuan tersebut merupakan pelayanannya kepada Yesus.
Berdasarkan kisah ini, tokoh-tokoh bisa digolongkan ke dalam tiga jenis karakter. Tokoh yang bisa digolongkan dalam round characters adalah murid-murid. Mereka digambarkan sebagai tokoh yang menentang perbuatan baik yang dilakukan oleh perempuan, namun di sisi lain, sebenarnya maksud mereka menentang hal tersebut adalah baik sebab mereka peduli kepada orang-orang miskin.
Sementara tokoh yang termasuk dalam flat character yaitu Yesus sebab Dia tidak menunjukkan perubahan dari karakternya. Sepanjang kisah ini, Yesus digambarkan sebagai seorang yang baik hati, bijaksana, dan penuh kasih. Dan yang tergolong stock character yaitu perempuan, sebab tampaknya yang penting baginya adalah tindakan yang dilakukannya kepada Yesus, apakah tindakannya itu diterima oleh Yesus dan murid-muridNya atau tidak, tampaknya tidak menjadi penting baginya. Dia hanya ingin melayani Yesus dengan apa yang dia miliki.
c. Sudut Pandang Tokoh
Setelah menganalisa karakter dari tokoh-tokoh dalam cerita ini, maka sekarang penulis akan menganalisa sudut pandang para tokoh. Adegan 1 dan 2 dari kisah ini diwarnai oleh sudut pandang narator, sedangkan adegan 3 dan 4 merupakan sudut pandang tokoh.
• Sudut Pandang Murid-murid
Adegan 3: melalui ucapan langsung yang dikatakan murid-murid dalam ayat 8-9, “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin”. Ungkapan ini merupakan reaksi ketika mereka melihat perempuan yang datang meminyaki kepala Yesus dengan minyak yang mahal. Dari sudut pandang murid-murid, tampaknya mereka merasa bahwa perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh perempuan tersebut merupakan pemborosan atau membuang-buang uang. Bagi mereka, menolong orang miskin dengan memberikan mereka uang dari hasil penjualan minyak wangi tersebut adalah jauh lebih berguna.
• Sudut Pandang Yesus
Adegan 3: perkataan Yesus dalam ayat 10-12, “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuhKu, ia membuat suatu persiapan untuk penguburanKu.” Dari perkataan Yesus, Yesus beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh perempuan tersebut adalah pekerjaan baik. Yesus menyebut tindakan perempuan itu adalah perbuatan yang baik. Sedang mereka yang jahat dalam kisah ini yaitu laki-laki yang menampilkan kekurangan besar yaitu: tidak adanya kepekaan terhadap sesama, terhadap kaum miskin, yang masih tetap ada bila mereka hendak membantu mereka dengan perbuatan baik. Penghargaan terhadap perempuan ini menandakan bahwa dalam kehidupan Yesus, perhatian terhadap sikap perempuan seperti itu merupakan hal yang sangat diperhatikan. Tersirat bahwa bagi Yesus, perempuan itu memberikan sesuatu yang paling berharga dari yang dia punya dan hal itu dilakukannya karena kasihnya kepada Yesus. Menurut Barclay , kasih tidak pernah dihitung; kasih tidak pernah berpikir seberapa kecil yang patut diberikan; hasrat kasih yaitu memberi tanpa batas. Selain itu, hadiah bukan benar-benar hadiah jika kita dapat memberikannya dengan mudah; sebuah hadiah benar-benar menjadi hadiah hanya ketika ada pengorbanan di belakangnya; dan ketika kita memberi jauh lebih banyak dari yang dapat kita berikan. Selain itu, Yesus menafsirkan tindakan perempuan tersebut sebagai persiapan untuk penguburanNya, sebab itu akan segera terjadi atas diriNya. Dan tindakan kasih dan penyerahan diri kepada Yesus akan menghasilkan manfaat yang besar bagi orang miskin. Allah menghadirkan orang-orang miskin di tengah-tengah kita untuk menyatakan bahwa kesempatan untuk berbuat baik bagi mereka tidak akan pernah dilalaikan atau dilupakan. Sebab ada beberapa hal yang dapat kita lakukan setiap waktu; dan ada beberapa hal yang hanya dapat kita lakukan sekali dan ketika kita kehilangan kesempatan itu maka kita tidak akan mendapatkannya lagi selamanya.
Adegan 4: Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” Menurut Yesus, perbuatan baik perempuan itu akan mendorong orang lain untuk melakukan perbuatan yang menyatakan kasih dan melayani sesama, serta akan diingat dalam penyebaran Injil ke seluruh dunia. Perempuan itu mencurahkan minyak yang mahal sebagai pernyataan kasih yang begitu besar yang merupakan perbuatan baik dan dalam dunia ini, sedikit hal baik yang dilakukan oleh manusia yang dapat meninggalkan kenangan perbuatan kasih, seperti perempuan tersebut.
d. Sudut Pandang Narator
Cara lain pengarang atau penulis untuk mengiring pembaca yaitu melalui narator – suara dari pengarang untuk menceritakan kisah. Hampir setiap cerita selalu diawali dengan narasi yang sangat menentukan respon dari pembaca. Sudut pandang narator berperan besar dalam menentukan alur cerita dan akan sangat mempengaruhi pembaca.
Dalam adegan 1, kisah ini diawali dengan penjelasan narator bahwa Yesus berada di rumah Simon si kusta di Betania. Kemudian adegan 2, narator mengisahkan seorang perempuan yang tiba-tiba datang melayani Yesus dengan meminyaki kepala Yesus dengan minyak yang mahal. Nampak bahwa perempuan ini melakukan hal tersebut sebagai tanda kasihnya kepada Yesus, dan mungkin juga sebagai pengakuannya bahwa Yesus adalah Raja (bdk. I Sam 10:1; I Raj 1:38-39; II Raj 9:4-10). Penulis Injil ini tidak menyebutkan nama dari perempuan tersebut, seperti yang terdapat dalam cerita yang mirip dalam Yohanes 12:1-8.
Dalam adegan 3, narator menggambarkan murid-murid yang gusar atas tindakan yang dilakukan oleh perempuan. Tampaknya narator ingin membedakan laki-laki dan perempuan. Perempuan digambarkan lebih baik dari pada laki-laki oleh narator. Perbedaan ini sangat mengejutkan. Laki-laki berdalih dengan melegitimasi tindakan kasih yang dermawan, sedangkan perempuan menunjukkan semangat kemuridan yang sebenarnya. Kemudian Yesus dikisahkan oleh narator sebagai pembela bagi perempuan. Yesus mendukung tindakan yang dilakukan oleh perempuan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan perbuatan baik yang harus diingat dan dilakukan.
e. Setting
Jemaat di sekitar Matius terdiri dari orang Yahudi, yang mengenal adat istiadat dan peraturan Yahudi (17:24-27; 23:2; 24:20), tetapi mereka sudah terlepas dari persekutuan sinagoge (rumah ibadat Yahudi). Walaupun begitu, jemaat masih mempunyai kontak dengan saudara Yahudi yang lain (13:51, 52) dan mereka mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus sungguh-sungguh Mesias yang menggenapi PL. Selain warga Yahudi, juga ada warga dari antara bangsa-bangsa yang bukan Israel. Lebih jauh, jemaat Matius sebagian besar terdiri dari orang-orang yang sederhana. Orang-orang kaya seperti halnya pemuda kaya, tidak masuk ke dalamnya. Orang-orang penting seperti Zakeus dan Nikodemus tidak disebut-sebut. Lewi si pemungut cukai diceritakan karena ia adalah pendosa. Khotbah mengenai orang miskin dan orang-orang kecil sangat banyak dalam Injil Matius. Orang lemah adalah pewaris dan warga kerajaan yang ideal. Orang yang tidak menerima mereka dan tidak mencontoh mereka akan tinggal di luar. Sikap yang menonjol dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat adalah sombong, sedang yang menjadi ciri khas pengikut Kristus adalah kerendahan hati. Perhatian khusus Allah kepada orang-orang miskin, pendosa, dan lemah yang dinyatakan dalam PL oleh para nabi, tidak dihapus atau dilenyapkan melalui kedatangan Yesus, melainkan digenapi secara sempurna.
Kehadiran Yesus menimbulkan kontroversi bagi banyak orang. Selama pelayananNya, Yesus terlibat dalam konflik dengan para pemuka agama, terutama karena kritik-kritikNya yang pedas mengenai segala tradisi rekaan mereka sendiri yang mengalihkan manusia dari tujuan hukum Allah yang sebenarnya. Yesus menyerang orang yang munafik, yang menggantikan hukum Musa dengan tradisi. Pernyataan-pernyataanNya bahwa Dia adalah Mesias, mendorong para pemimpin bangsa Yahudi untuk menangkap dia. Mereka takut jika Yesus akan menjadi pusat pemberontakan orang banyak terhadap Roma. Dan ini akan mengundang tindakan penumpasan yang keras sehingga mereka akan kehilangan kedudukan. Jadi, ketika Yesus tiba di Yerusalem dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (Mat 21:12), sikap Yesus itu menyebabkan mereka berusaha untuk menangkap dia. Mereka bahkan mengajak salah seorang murid Yesus yaitu Yudas untuk bekerja sama. Sehingga akhir hidup Yesus diwarnai dengan banyaknya kebencian, pengkhianatan, dan tipu daya. Namun penempatan kisah tentang perempuan ini di tengah peristiwa penangkapan dan kematian Yesus, seolah-olah merupakan sinar terang atau cahaya dalam kegelapan dunia yang harus selalu dikenang.
III. Memahami Kembali Matius 26:6-13 dalam Keberadaan Perempuan Masa Kini
Nama perempuan yang meminyaki kepala Yesus dalam perikop Matius 26:6-13 ini memang tidak disebutkan atau dituliskan oleh penulis Injil Matius. Namun seperti yang dikatakan Yesus bahwa perempuan tersebut melakukan perbuatan baik, sehingga perbuatannya pun diingat atau dikenang dalam pemberitaan Injil di seluruh dunia. Tanpa harus diketahui namanya, tanpa banyak basa-basi, tanpa peduli dengan reaksi orang-orang yang ada di sekitarnya, perempuan tersebut melakukan perbuatan baik dan melayani Yesus.
Tidak bisa dipungkiri bahwa sepanjang pelayanan Yesus, perempuan adalah orang yang sangat memperhatikan dan memikirkan kehidupan dan kebutuhan jasmani Yesus. Yesus disibukkan dengan pelayananNya pada orang-orang yang membutuhkan sehingga Ia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan diriNya sendiri. Dan perempuan-perempuan itulah yang senantiasa memikirkan kebutuhan finansial Yesus (mis. Luk 8:1-3). Sehingga kehadiran mereka sangat berarti bagi Yesus dan sangat mendukung pelayanan Yesus. Perempuan-perempuan melayani Yesus dengan segenap kemampuan dan kekayaannya, mereka memperhatikan kebutuhan makanan dan minuman Yesus, dan setia mendampingi Yesus dalam perjalananNya. Bahkan hingga kematian dan kebangkitan Yesus, perempuan-perempuan pun masih setia pada Yesus. Ada kemungkinan juga selama berkarya, Yesus menginap di rumah perempuan-perempuan itu.
Meskipun nama-nama mereka tidak disebut, mereka mempunyai peranan yang besar dalam rangka keikutsertaan mereka melakukan karya Allah di tengah dunia ini. Ikut dalam karya Allah tanpa perlu diketahui nama atau identitasnya. Pelayanan kita tidak perlu diketahui oleh banyak orang atau digembar-gemborkan sehingga kita menjadi populer karenanya. Perempuan yang meminyaki kepala Yesus atau perempuan-perempuan lain yang melayani Yesus tidak pernah diketahui namanya dengan pasti. Namun kehadiran dan karya mereka sangat penting bagi pelayanan Yesus dan bagi orang banyak. Mereka ingin berbuat yang terbaik bagi Yesus untuk mewujudkan cinta kasih mereka kepada Yesus. Apa yang mereka lakukan bukan demi kepentingan diri mereka sendiri tetapi demi orang yang mereka kasihi. Mereka tidak peduli dikenal atau tidak, yang terpenting adalah melakukan yang terbaik bagi Yesus.
Sepanjang sejarah, perempuan selalu dilekatkan dengan stereotip-stereotip yang menyebabkan mereka selalu dianggap lemah, harus berdiam diri, tidak percaya diri, makhluk kelas dua, bergantung pada laki-laki, dan sebagainya. Perempuan sering kali menanggung beban hidup yang berat namun mereka tetap berjuang demi kehidupan keluarganya dan orang yang dikasihinya. Misalnya, di sektor domestik ada begitu banyak perempuan yang berkarya demi kemanusiaan dan kehidupan keluarga. Perhatian dan penghargaan, serta pengakuan yang terakumulir dalam peringatan Hari Ibu setiap tahunnya, seharusnya mampu menggelitik dunia untuk mengakui dan menghargai karya unik dan mulia perempuan sebab di tengah-tengah kehidupan yang kian gersang akan kedamaian dan cinta kasih, dunia dan bangsa kita membutuhkan pengasuhan, perawatan, belaian kaum perempuan yang dilakukannya dalam keheningan.
‘Diam adalah Emas’ sangatlah tepat bagi para perempuan yang memilih untuk berada dalam keheningan. Diam bukan berarti pasif dan pasrah, namun mampu bertindak dalam keterbatasan yang dimiliki dengan ketulusan dan cinta yang besar. Megawati Soekarno Putri adalah tokoh perempuan yang menganut prinsip ‘Diam adalah Emas’ karena sikapnya yang jarang bicara, dan terkesan terlalu berhati-hati sehingga dipandang lamban dan tidak responsif terhadap dinamika persoalan publik, walaupun beliau memilih diam bukan karena mengalami kekerasan. Namun karya Megawati ini memberi spirit bagi kaum perempuan Indonesia bahwa perempuan memiliki potensi yang unik: ia tidak perlu berteriak-teriak untuk memperlihatkan potensi dan kemampuan yang ada dalam dirinya, melainkan melalui tindakan dalam keheningan pun, perempuan dapat berkarya, dapat berhikmat dalam bertindak, berusaha sendiri dalam kasih setia, mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi keluarga. Sosok lain yang bisa menjadi contoh bagi kaum perempuan yaitu seorang ibu yang bernama Rosalind B. Penfold. Dia adalah seorang perempuan yang terperangkap kekerasan dalam rumah tangga, namun dalam penderitaannya itu, dia mampu menulis sebuah buku yang berjudul “Love Me Better: A Graphic Memoir”. Buku ini merupakan testimony visual yang luar biasa, ia menampilkan banyak tanda tentang penyiksaan yang dialaminya hari demi hari. Namun di atas segalanya, inilah kisah perempuan yang berjuang meraih dan menemukan kekuatan untuk membebaskan diri, dalam keheningannya menerima segala bentuk kekerasan. Cerita di sekitar peran perempuan tidak pernah lepas dari perjuangan untuk kehidupan, kemanusiaan, keadilan yang disertai dengan pengorbanan dan penderitaan. Hal ini pun dapat dihayati dalam kisah perjalanan hidup Ibu Teresa yang akan meyakinkan kita akan keunikan karya perempuan. Ibu Teresa yang lahir di Albania dengan nama keluarga Agnes Gonxha Bojaxhiu berasal dari keluarga bersahaja dan hidup dalam bimbingan ibunya, seorang janda yang bekerja keras dan berhati sosial. Itulah sebabnya, sejak remaja ibu Teresa sudah belajar bagaimana memperhatikan mereka yang papa, yaitu para janda miskin, anak-anak jalanan, perempuan korban kekerasan. Karyanya yang penuh cinta memampukan orang-orang yang sekarat tersenyum bahagia sembari mengucapkan terima kasih. Hendrikus Nayuf, S. Th dalam tulisannya di Jurnal STT INTIM mengatakan:
Sumpah pertama yang menjembatani Suster Teresa untuk bergaul dan mengembalikan kemanusiaan dari manusia yang tidak manusiawi, diawali melalui keheningan. Menurut Suster Teresa, untuk mencintai mereka yang haus akan cinta, untuk menemukan Yesus pada lorong-lorong Calcutta, dan untuk membawa mereka yang sekarat pada tatanan manusiawi-religius, keheningan itu sangatlah penting. Mungkin tidak ada doa tanpa keheningan: keheningan mata, keheningan telinga, keheningan mulut. Keheningan membiarkan doa mengarah pada kasih dan kebaikan hati. Kasih mengarah pada kerendahan hati, kerendahan hati membawa sukacita dalam melayani Tuhan”
Ungkapan Ibu Teresa yang sangat terkenal yaitu “Kita tidak mampu melakukan hal-hal besar, namun kita bisa mengerjakan hal-hal kecil dengan kasih yang besar”. Seperti halnya yang dilakukan oleh perempuan tanpa nama, yang meminyaki kepala Yesus dengan kebisuan atau keheningannya. Inilah yang menjadi spirit bagi kaum perempuan bahwa dalam keheningan, perempuan mungkin tidak dapat melakukan banyak hal, namun perempuan telah dan dapat melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu karena kasihnya kepada keluarganya. Keheningan yang diajarkan oleh Ibu Teresa adalah keheningan yang berlandaskan kasih dan kerendahan hati untuk melayani sesama dan tentunya melayani Tuhan. Kobaran cinta ibu Teresa harus menghangati cinta para perempuan masa kini sehingga mereka pun mampu berkarya walau penderitaan dan ketidakadilan selalu menjadi bagian hidup mereka.
Berdasarkan hal-hal inilah dan setelah membaca dan menafsir Matius 26:6-13, perempuan diajak untuk memahami kembali arti keberadaannya di tengah dunia ini, untuk memperbaharui pemahaman tentang dirinya sendiri yang selama ini telah dibentuk oleh masyarakat. Perempuan diajak untuk dapat menghadapi dan mengatasi situasi yang tidak menguntungkan bagi dirinya secara positif dan bijaksana. Untuk melakukan hal-hal tersebut, perempuan sendirilah yang dapat melepaskan dirinya dari segala keadaan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Sehingga jika perempuan ingin maju, ia tidak perlu menunggu apalagi menuntut agar diberikan kesempatan dan kedudukan. Perempuan juga tidak perlu meminta pengakuan dari pihak lain, khususnya laki-laki, karena pengakuan tersebut akan datang dengan sendirinya ketika perempuan mampu menunjukkan atau membuktikan arti kehadirannya di tengah-tengah kehidupannya – keluarga, gereja, dan masyarakat. Dengan demikian, perempuan tertantang untuk meningkatkan kualitas dirinya. Seperti halnya perempuan tanpa nama yang dikisahkan dalam Mat 26:6-13 yang melayani Yesus dengan apa yang dimilikinya menunjukkan kualitas iman dan kasihnya kepada Yesus, sehingga ia dikenang sepanjang sejarah pemberitaan Injil dan perbuatannya harus selalu diingat oleh kaum perempuan masa kini, bahwa yang terpenting dalam melakukan sesuatu, untuk melayani, dan menunjukkan cinta kasih dalam wujud nyata adalah ketulusan hati, bukan demi mendapatkan pujian atau sanjungan dari orang lain.
IV. Penutup
Pada masa sekarang, ada banyak orang yang ikut serta dalam pelayanan, namun sedikit yang benar-benar melakukannya dengan ketulusan hati dan karena kasih. Mungkin selama ini kita sudah melakukan pelayanan bagi sesama, gereja, dan masyarakat. Tetapi apakah semua yang kita lakukan itu sungguh-sungguh kita tujukan padaNya? Tidak jarang kita melayani diri sendiri, bukan melayaniNya. Kita melayani agar mendapat pengakuan, kehormatan, atau menjadi terkenal. Pelayanan yang cenderung menuntut imbalan dan sanjungan bukanlah pelayanan yang sejati sebab sesungguhnya bukan Dia yang kita layani, tetapi diri kita sendiri. Dalam hal ini, kita diajarkan untuk melayani dengan tulus, penuh kasih, dan tanpa pamrih, seperti perempuan yang meminyaki kepala Yesus dan perempuan-perempuan lain yang melayaniNya.
Daftar Pustaka
Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2000.
Barclay, William, The Gospel of Matthew Volume 2, Kentucky: Westminster John Knox Press, 1975.
Drewes, B. E., Satu Injil Tiga Pekabar, Jakarta: BPK-GM, 2001.
Fiorenza, Elizabeth Schussler, Untuk Mengenang Perempuan Itu, Jakarta: BPK-GM, 1997.
Forum Biblika: Jurnal Ilmiah Populer No. 9, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1999.
Hare, Douglas R. A., Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching, Kentucky: John Knox Press, 1993.
Jurnal STT INTIM Makassar Edisi No. 6, 2004.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Kingsbury, Jack Dean, Injil Matius Sebagai Cerita, Jakarta: BPK-GM, 2000.
Pr, Darmawijaya, Perempuan Dalam PB, Yogyakarta: Kanisius, 1991.
Pr, I. Suharyo, Pengantar Injil Sinoptik, Yogyakarta: Kanisius, 1988.
Powell, Mark Allan, What is Narrative Critiscm, Minneapolis: Fortress Press, 1990.
Sophia: Jurnal Berteologi Perempuan Indonesia, Jakarta:Perwati, 2000.
Wainwright, Elaine Mary, Toward A Feminist Critical Reading of the Gospel according to Matthew, Berlin: Walter de Gruyter & Co., 1991.
TEOLOGI
Hy KGina, nice to read ur biblical analize paper. Mo diskusi nih, data tentang kesetaraan gender pada zaman Yesus didapat dari mana ya? Jangan sampai itu hanya bagian lain dari ketidaksetaraan yang dijabarkan dalam peran-peran lokal kaum perempuan (misalnya keluarga/rumah tangga)?
Comment by fady D — May 13, 2008 @ 6:28 pm
Hi Fadi… Nice to meet u here.
Ttg data kesetaraan gender pada zaman Yesus, Fadi bisa baca buku Woman and Widow in New Testament.
Memang tdk dpt dipungkiri bhw patriarki mrpkan budaya yg mendominasi
dan melatarbelakangi penulisan Alkitab, ttp menarik krn buku itu
menjelaskan bgmn perempuan pun sebenarnya mempunyai peranan.
Anw, gimana studi lanjutnya? Da msk? Kpn mulai kuliah?
Ksh email Fadi ya… Ok, keep in touch.
GBU
Comment by Gina — May 14, 2008 @ 8:09 pm
Oh iya, Fadi juga bs baca buku dr Carolyn Osiek yg judulnya
Families in The New Testament World. Atau bukunya Wayne Meeks, The First Urban Christians.
Ok… Best of Luck.
Comment by Gina — May 15, 2008 @ 12:13 am
OH begitu ya.. Wah menarik nih, saya pernah baca artikel ttg Widow (kalo tidak salah itu janda kan). Itu melambangkan ketidakmampuan/ketakberdayaan perempuan. Nanti saya liatkan buku referensinya ya. Baru dilanjutkan diskusinya tentang the function of widow as symbol in bible. OH ya, mengenai mba mega yang diambil sebagai sampel. Konsep diam adalah emas. Wah ini murni politik nih. Gender hanya dijadikan tumpangan untuk memuluskan kepentingan2 politik (tapi saya juga pendukung mba mega, he2). Mba Mega cukup diliat saja sebagai pemimpin karismatis, jangan diberi lagi embel2 pemimpin perempuan. Karena bukan karena “perempuan”nya dia memimpin, tapi karena “karisma”nya. Bias gender bisa terjadi kalo “pemimpin perempuan” ditempatkan (dimengerti) pada posisi kontras dengan “pemimpin laki-laki”.
Comment by Fady — May 18, 2008 @ 3:55 am
HY sista’, mf baru direply. Baru mampir lagi ke warnet nih. Iya saya mulai prakulx akhir juni nanti. Skarang lagi kursus bahasa Ingris, utk isi waktu. Saya pilih UKSW karna bidang kajian saya sosiologi protestantisme (lanjutan skripsi lalu, saya tulis tentang teologi pembebasan pada aplikasi budaya dan konteks kemiskinan Timor). Jadi ya, di UKSW terakreditasi A untuk bidang itu dan memang dispesifikasikan oleh PERSETIA untuk pengkajian bidang sosiologi agama. Oh ya gimana kabar kuliah ka’Gina, k’Pius, kLady, dll basudara alumni di UKDW? Titip salam untuk semua. Ini Email saya: fransdillak@yahoo.co.id. Keep in touch with me!
Comment by Fady — May 18, 2008 @ 4:02 am