Hamba Tuhan yang Menderita
(Sebuah Tafsiran terhadap Yesaya 52:13 - 53:1-12)
Margaretha Apituley
I.Pendahuluan
Kitab Yesaya secara keseluruhannya dibagi menjadi tiga bagian yaitu Proto- Yesaya (Ps. 1- 39), Deutero-Yesaya (Ps. 40 – 55) dan Trito-Yesaya (Ps. 50 – 66). Pembagian ini dilatar-belakangi oleh perbedaan latar belakang sejarah, corak sastra, inti berita dan penulisnya . Yesaya 52:13 - 53 :1-12 merupakan bagian dari Deutero-Yesaya dan juga merupakan salah satu perikop dari empat perikop (42:1-9;49:1-13;50:4-9;52:13-53:12) yang oleh para penafsir pada umumnya dinamakan ‘Nyanyian-Nyanyian Hamba Tuhan’ , yang melukiskan panggilan yang Tuhan percayakan kepada hamba-Nya (42:1-9; 49: 1-13) dan akibat pelayanan hamba itu yang melahirkan penderitaan bagi dirinya tetapi mendatangkan keselamatan bagi orang banyak. Karena itulah ia dinyatakan benar dan ditinggikan (50:4-9; 52:13-53:12). Namun teks-teks itu tidak memberikan identitas yang jelas atau khusus tentang siapa yang dimaksudkan dengan Hamba Tuhan tersebut kecuali dengan menyebutnya abhddi, “hambaKu”, dalam sebuah perikop yang bentuk sastranya merupakan orakula dari Allah Israel kepada sang nabi. “HambaKu”, jadinya berarti hamba Tuhan.
Selama ini penafsiran terhadap kisah hamba Tuhan yang menderita lebih didominasi oleh perspektif Perjanjian Baru yang menyejajarkan tokoh tersebut dengan dengan Yesus. Tetapi benarkan hamba yang dimaksud adalah Yesus yang menderita itu atau seorang tokoh individu lain atau tokoh kolektif atau pula individu yang mewakili kolektifitas tertentu?. Menurut Singgih dan Claus Westerman, pencarian identitas tokoh hamba ini akan terus menjadi sebuah wacana yang belum final bahkan membuka banyak kemungkinan kesimpulan yang rapuh. Karena itu, dalam pengkajian terhadap teks ini, kami tidak menekankan pada upaya untuk menemukan identitas hamba Tuhan tersebut tetapi terutama pada apa yang dilakukannya dalam perikop ini.
II. Konteks dan Latar Belakang Sejarah :I
a. Konteks Teks .
Kisah ini dimulai (52:13-15) dengan pernyataan dari Allah tentang ya?Khîl (keberhasilan) ‘abhddî (hamba) yang menderita dalam mengerjakan tugasnya sehingga ia y?r?m (TB-LAI: ditinggikan, TB-BIS : disanjung, RSV & KJV : shall be exalted), wniš?’ (TB-BIS : disanjung, TB-BIS: ditinggikan, RSV : lifted up, KJV : extolled) dan weghbhah (TB-LAI: dimuliakan, TB-BIS menghilangkannya, RSV : shall be very high, KJV : be very high). Selanjutkan digambarkan bahwa penderitaan yang membuat orang banyak š?memû (TB-LAI: tertegun, BIS : terkejut, RSV & KJV : As many were astonished) itu karena k?n-miškhath (TB-LAI: begitu buruk rupanya, BIS : rupanya dirusak, RSV : his appearance was so marred, KJV : his visage was so marred) dan tidak menyerupai m?’îš (TB-LAI & BIS: manusia, RSV: human, KJV: man) dan mibn? ’?dh?m (anak manusia). Sedangkan keberhasilannya akan membuat bangsa-bangsa yatseh (TB-LAI: tertegun, BIS: heran, RSV: startle, KJV: sprinkle) dan raja-raja yiqppetsû…ppîhem (mengatupkan mulutnya) sebab mereka akan melihat dan memahami segala yang belum pernah mereka tahu. Namun hal itu melahirkan kekwatiran dan ketakutan bagi mereka.
Pada ayat 2-3 digambarkan lagi tentang kondisi kesengsaraan hamba itu seperti; kkayôn?q (TB-LAI : taruk, BIS : tunas, RSV : a young plant, KJV : a tender plant) yang tumbuh di hadapan Tuhan dan ‘wekhašre? (Ibr : a root, TB-LAI : tunas, RSV & KJV : a root) dari tanah yang kering. Ia l?’-th’ar (TB-LAI : tidak tampan, BIS : tidak indah, RSV & KJV : hath no form), wl?’ h?dh?r (TB-LAI : tidak semarak, RSV &: KJV : comeliness) dan wel?’-mari’eh (TB-LAI : rupa pun tidak, BIS : menarik, RSV & KJV : no beauty) sehingga mereka ingin memandang dan menginginkannya. Tidak hanya itu, hamba tersebut juga nibhzeh (TB-LAI:dihina, BIS:menghina, RSV & KJV: despised), wakhªdhal (TB-LAI: ditolak, BIS: menjauhi, RSV & KJV : rejected), mak’?bhôth (TB-LAI : penuh kesengsaraan, BIS: menanggung kesakitan, RSV & KJV: sorrows), wîdhû‘a (TB-LAI: biasa menderita kesaikitan, BIS: biasa menanggung kesakitan, RSV & KJV : acquainted with grief), sehingga orang ûkemastt?r (TB-LAI: menutup muka, BIS: tidak mau memandang, RSV: hide their faces, KJV: hid as it were our faces) dan bagi bangsa-bangsa dan raja-raja pun dia khªšabhnuhû (TB-LAI: tidak masuk hitungan, BIS: tidak mengindahkan, RSV & KJV: esteemed him not).
Pada ayat 4-7, digambarkan bahwa hamba itu menderita karena n???’ dan sebh?l?m (menanggung dan memikul) kh?l?y?nû (TB-LAI & BIS : penyakit, RSV & KJV : griefs), ûmak’?bh?nû (kesengsaran), mipš?‘?nû (TB-LAI: pemberontakan, BIS: dosa-dosa, RSV & KJV: transgressions) dan m?‘ªôn?th?nû (kejahatan) mereka. Padahal mereka menduga bahwa ia kena tula.
Mûsar šelôm?nû (TB-LAI & BIS:ganjaran yang menyelamatkan, RSV : the chastisement that made us whole, KJV: the chastisement of our peace) ditimpakan padanya dan oleh ûbhakhªbhur?thô (TB-LAI, BIS: bilur-bilurnya, RSV & KJV: his stripes) kita disembuhkan. Ia membiarkan dirinya ditindas, tidak membuka mulut, dan kelu seperti domba yang mau dibantai dan dicukur. Meskipun demikian tidak ada orang yang memikirkan nasibnya. Ia mati dan mereka menganggapnya kena negha‘ (TB-LAI : tulah, BIS: dosa, RSV & KJV: stricken). Kuburannya dibuat di antara> re??‘îm (TB-LAI : orang-orang fasik, BIS: orang jahat, RSV & KJV: the wicked) dan ‘?šîr (Ibr : rich, TB-LAI : penjahat-penjahat, BIS:orang kaya, RSV & KJV : a rich man), meskipun ia tidak melakukan kh?m?s dan mirmâ (kekerasan dan tipu).
Penderitaannya merupakan kh?phêts (TB-LAI:kehendak, BIS:menghendaki, RSV: the will, KJV: pleased) Tuhan dan bila ia menyerahkan dirinya sebagai korban ‘?š?m (TB-LAI: penebus salah, BIS: penghapus dosa, RSV & KJV: offering for sin) maka ia akan melihat zera’ (TB-LAI: keturunannya, BIS: panjang umur, RSV: his offspring, KJV: his seed), ya’ªrîkh y?rîm (TB-LAI: umurnya akan lanjut, BIS: keturunan, RSV & KJV: prolong his days), dan melaluinya kehendak Tuhan terlaksana. Ia juga akan melihat terang dan menjadi yi?bb?‘ (puas). Dan melalui hikmat ia membenarkan banyak orang dan memikul kejahatan mereka. Selain itu, Allah juga akan menganugerahkan kepadanya] bh?rabîm (TB-LAI : orang-orang besar sebagai rampasan, BIS : orang banyak sebagai hadiah, RSV & KJV : a portion with the great) dan we’eth-‘ªtsûmîm … š?l?l (TB-LAI: orang-orang kuat sebagai jarahan, BIS : bagian bersama orang-orang benar, RSV & KJV: the spoil with the strong) ganti nyawanya yang telah diserahkan ke dalam maut dan terhitung di antara we‘eth-pp?še‘îm (TB-LAI: pemberontak-pemberontak, BIS: orang jahat, RSV & KJV : the transgressors) serta n???’ (TB-LAI : menanggung, BIS: memikul, RSV & KJV : bare) dosa orang banyak dan yaphggî‘a (berdoa) bagi yang memberontak.
b. Latar Belakang Sejarah
Sebagai bagian dari Deutero-Yesaya maka Yesaya 52:13-53:12 juga dialamatkan kepada orang-orang Yahudi yang berada di pembuangan Babel yang berjumlah kurang lebih 4.600 jiwa (Yer. 52:28-30). Mereka berasal dari golongan atas di Yerusalem dan negeri-negeri sekitarnya (kaum bangsawan, imam dan pegawai tinggi, beberapa ahli dan tukang serta tuan-tuan tanah di daerah sekitar kota). Mereka tinggal dalam satu komunitas di dekat Babel dan diizinkan untuk melakukan aktivitas seperti membangun rumah, bertani, berdagang, memelihara agama dan budaya sendiri namun mereka tetap terikat dalam aturan-aturan penguasa Babel. Mereka juga masih membangun komunikasi dengan saudara-saudaranya di Yehuda (salah satu provinsi Babel) dan masih mengingat kebesaran bangsanya serta megidam-idamkan pembangunan baru.
Pemberontakan Yehuda terhadap Babel setelah Babel menaklukan Asyur (waktu itu Yehuda menjadi taklukan Asyur) menyebabkan mereka dibuang, dimusnahkannya kota Yerusalem dan Bait Suci (587) serta ditiadakannya takhta raja-raja keturunan Daud. Setelah wafatnya Nebukadnezer, stabilitas kerajaan Babel menjadi sangat rawan karena ada pertentangan golongan di dalamnya (antara kalangan para imam dewa-bulan sebagai penguasa pada saat itu dengan imam kota Babel, penganut Marduk). Kesempatan inilah yang dipakai Koresy (Raja Iran selatan) untuk menaklukan Babel (538).
Sebagai raja yang bijaksana, ia menghormati agama-agama bangsa-bangsa taklukannya, ia mendirikan kembali Bait Suci yang runtuh dan mengizinkan orang buangan kembali ke negeri asalnya dalam kerajaan yang luas tersebut. Masa ketika orang Yahudi sudah menderita selama 40 tahun lamanya di bawah pemerintahan Babel dan juga masa dimana kepercayaan mereka kepada Allah berada dalam goncangan yang hebat. Mereka mempertanyakan janji, harapan dan kuasa Tuhan di tengah penderitaan tersebut (bnd. Yes. 40:27; 49:14, 24). Tetapi juga masa dimana sebagian dari mereka telah mengalihkan kepercayaannya kembali kepada dewa-dewa alam yang tetap terpelihara dalam kepercayaan Palestina, budaya dan dewa-dewa Babel (Yes. 46:1-9) bahkan ada yang tetap percaya kepada Tuhan tetapi tetap menaruh harapannya kepada kuasa-kuasa lain (Yes. 57:3-13).
Sedangkan yang masih setia tetap berpikir yang positif terhadap penderitaanya dan memaknai penderitaan tersebut sebagai cara Allah mendidik umat-Nya agar mereka diselamatkan (bnd. Yes. 25-27 dan 33-35).
c. Struktur Penulisan Yesaya 52:13-53:12
Dalam rangka menafsir teks ini maka kami menggunakan struktur yang dibuat oleh Gerrit Singgih yaitu :
1. Tuhan mengumumkan mengenai keberhasilan hamba-Nya, yang sangat berbeda dengan apa yang diasumsikan oleh banyak orang (Yes 52:13-53:1).
2. Sekelompok orang (dari bangsa-bangsa dan raja-raja) memberikan kesaksian mengenai Hamba Tuhan (Yes 53:2-10).
3. Tuhan memberikan ganjaran kepada Hamba Tuhan (Yes 53:11-12)
III. Tafsiran Yesaya 52:13-53:12.
I. Pasal 52:13-53:1.
Penulis kitab ini memulainya dengan memakai kata seru yaitu hin?h (behold/lihatlah!). Pengertian tersebut dipakai secara konsisten oleh RSV & KJV sedangkan TB-LAI & BIS: sesungguhnya. Mencermati kata hin?h sebagai kata seru dalam konteks kalimatnya (ay.13) maka kata ini bermaksud untuk menarik perhatian bangsa-bangsa dan raja-raja terhadap perkataan Tuhan tentang keberhasilan hamba-Nya yang akan dinyatakan.
TB-BIS dan LAI menggunakan kata sesungguhnya dalam menerjemahkan kata hineh. Mungkin hal itu tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan yang akan dinyatakan Tuhan bagi hamba-Nya tetapi lebih dari itu pengenapan janji Allah kepada hamba tersebut melalui Abraham (bnd. Yes. 41:8, 51:2). Pada kedua teks tersebut, ada seruan dari Tuhan kepada Israel sebagai keturunan Abraham yang dikasihi dan diberakti oleh Allah. Bahwa mereka tetap dikasihi oleh Allah dan karena itu kondisi mereka yang penuh penderitaan di pembuangan akan dipulihkan. Jadi dengan kata lain, penderitaan (pembuangan) yang merupakan kehendak Allah supaya hamba tersebut diselamatkan bukan tujuan akhir Allah tetapi sarana yang juga dipakai Allah untuk pengenapan janji-Nya kepada hambanya. Melalui kata hineh ini juga penulis hendak menggambarkan kondisi psikologi Israel di pembuangan Babel yang berada dalam penderitaan, kebingungan, keragu-raguan dan keputusasaan terhadap janji-janji Allah (Yes. 40:27; 49:14, 24) sehingga ada yang tidak lagi setia kepada Allah (Yes. 46:1-9; 57:3-13). Penulis hendak menegaskan bahwa janji Allah tersebut masih tetap berlaku dan bukan sebuah cerita omong kosong serta menegaskan eksistensi Allah dan perannya dalam sejarah kehidupan Israel. Penderitaan Israel tidak akan menghalangi rencana Allah untuk menjadikannya sebagai bangsa pilihan yang membawa berkat bagi semua bangsa di dunia. Ini berarti kami lebih cenderung memakai terjemahan LAI dan BIS. Tetapi keberhasilan (yaSKhîl ) macam apa yang akan dinyatakan kepadanya?
ya?Khîl dalam konteks teks merupakan kata kerja hiphil imperfek yang mengindikasikan bahwa keberhasilan hamba Tuhan bukan karena kemampuannya sendiri tetapi karena Allah yang telah menyebabkan. Ini berarti hamba tersebut sesungguhnya tidak mampu menjalani penderitaannya dan Allah yang akan menganugerahkan keberhasilan itu baginya. Namun keberhasilan seperti apa yang dimaksudkan dalam teks ini? Menurut EGS, kata ya?Khîl ini bermakna agak luwes, bisa berarti “pandai/bijaksana”, “berhasil” maupun “beruntung” (Naipospos). Orang yang bertindak pandai, biasanya berhasil. Konteksnya keberhasilan dalam arti mempertahankan keberadaan dalam situasi yang amat sulit. Jadi peninggian, penyanjungan dan pemuliaannya bukan dalam kerangka kesuksesan yang luar biasa sebagai berkat yang berkelimpahan, melainkan sebagai ketekunan menjalani dan melampaui penderitaan bersama yang lain sehingga akhirnya situasi berubah secara drastik dari keadaan gelap menjadi keadaan terang. Telah digambarkan dalam latar belakang historis (konteks makro) bahwa di Babel, bangsa Israel diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas sehari-hari seperti yang pernah dilakukan di tempat asal mereka yaitu membangun rumah, bertani, berdagang, dan menjalankan aktivitas agamanya namun tidak berarti mereka bebas dari aturan-aturan pemerintah Babel yang mengikat. Di Babel itu juga mereka mengalami tekanan psikologis dan krisis kepercayaan kepada Allah. Karena itu keberhasilan yang dimaksudkan mengarah pada pemulihan situasi dimana Allah akan mengakhiri penderitaan mereka di pembuangan (52:1-3, 9-12). Dalam teks, kita menemukan adanya 3 kata kerja pasif yang dipakai oleh penulis dalam menggambarkan konsekuensi yang akan diterima dari keberhasilan hamba tersebut yaitu : ditinggikan (y?rûm), disanjung (niš?’) dan dimuliakan (gh?bhah) . Jadi kemuliaan hamba itu bukan semata hasil usahanya tetapi merupakan anugerah Allah yang akan diberikan kepadanya (dalam proses penggenapan). Namun kemuliaan tersebut tidak akan memposisikan hamba itu pada posisi yang sama atau melebihi Allah.
Apa yang akan mereka alami ini akan membuat semua orang’ ??memû ( Ibr : to be desolate (sedih, muram), TB-LAI : tertegun, BIS : terkejut, RSV : were astonished, KJV : were astonished). Sedangkan Singgih mengusulkan untuk menggantikan terjemahannya menjadi ‘ngeri’ dalam arti merasa jijik dan mual. Kami lebih menyetujui versi BIS, RSV, KJV dan juga usulan Singgih karena jika dikaitkan dengan ayat 15 maka sesungguhnya penulis ingin membandingkan kesengsaraan hamba tersebut yang menyebabkan banyak orang terkejut karena ngeri (ay.14) dengan keberhasilan hamba tersebut yang akan membuat raja-raja dan bangsa-bangsa tercengang (heran). Berdasarkan hal ini, kita bisa menemukan perspektif banyak orang terhadap pembuangan Babel itu sendiri. Dimana pembuangan itu telah menyebabkan Israel kehilangan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Mereka juga merasa sangat terbeban dengan pandangan dan penilaian orang lain terhadap penderitaan mereka tetapi melalui campur tangan Allah, Israel akan dipulihkan (bnd.Yes. 54; 55;56). Ini berarti kesengsaraan Israel yang sangat memilukan hati memiliki bobot yang sama dengan keberhasilan mereka yang akan sangat menggembirakan Israel tetapi menghebohkan dunia.
Pada Ps. 53 : 1 setting berubah. Bukan Tuhan lagi yang berbicara tetapi raja-raja dan bangsa-bangsa yang menyebut dirinya dengan memakai kata ‘kami’. Terkesan mereka tercengang dan merasa sangsi terhadap reaksi orang lain ketika mendengar berita tentang pemulihan Israel serta mengaitkannya dengan kekuasaan Tuhan. Tetapi mengapa harus tercengang dan sangsi? Ada berbagai kemungkinan alasan yang kelompok pikirkan :
• Raja-raja dan bangsa-bangsa ini adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Karena itu, kesaksian mereka tentang Allah yang memulihkan dan melepaskan Israel dari penderitaannya patut dipertanyakan. Di samping itu juga mereka adalah penjajah yang menyebabkan penderitaan Israel.
• Tidak semua orang Israel di pembuangan Babel adalah orang-orang yang masih setia kepada Allah setelah hidup di tengah penderitaan selama 40 tahun. Karena itu, penolakan terhadap berita tersebut pasti juga akan berasal dari orang Israel sendiri.
• Penderitaan hamba itu sangat parah dan tidak memiliki kemungkinan untuk pulih.
• Sedangkan pengaitan dengan kekuasaan Tuhan memberi kesan adanya rasa takut yang meliputi bangsa-bangsa dan raja-raja tersebut dalam hubungan dengan status mereka sebagai penjajah Israel yang tidak mungkin lepas dari penghukuman Allah tersebut (kekuasaan Tuhan yang akan dinyatakan). Namun jika pembuangan Israel adalah kehendak Allah untuk menyelamatkan Israel (bnd. Yes. 52:10) berarti mereka (bangsa-bangsa dan raja-raja) juga dipakai (menjadi alat) dalam rencana tersebut?
Dalam bagian ini kami menemukan kebebasan kehendak Allah dalam sejarah kehidupan manusia dimana Allah juga melibatkan orang lain yang tidak mengenal-Nya tanpa memandang batas primordial dalam rancangan keselamatan-Nya. Bahkan raja-raja sebagai representasi
II. Pasal 53:2-10.
Kondisi hamba Tuhan yang menderita tersebut digambarkan dalam berbagai bentuk :
• Sebagai ; kkayôn?q ( Ibr. A young plant, TB-LAI : taruk, BIS : tunas, RSV : a young plant, KJV : a tender plant) yang tumbuh di hadapan Tuhan dan ‘wekhašre? (Ibr. A root, TB-LAI : tunas, TB-BIS tidak menerjemahkan, RSV & KJV : a root) dari tanah yang kering. Taruk adalah tunas tumbuhan/pucuk yang tumbuh pada cabang dahan atau batang kayu. Sedangkan tunas adalah tumbuhan muda yang baru timbul dari (tunggul ‘pangkal pohon yang masih tinggal tertanam di dalam tanah sehabis ditebang, dituai dan disabit’; dan batang kayu yang ditebang). Dari pengertiannya taruk dan tunas mempunyai arti yang sama yaitu sebagai tumbuhan muda yang baru tumbuh tetapi yang membedakan keduanya adalah tempat dimana tumbuhan muda itu tumbuh. Taruk tidak tumbuh pada cabang atau dahan yang merupakan sisa penebangan sedangkan tunas tumbuh pada batang sisa penebangan. Berdasarkan pengertian ini dan jika dikaitkan dengan makna teologis yang terkandung di dalamnya maka kami lebih setuju dengan RSV yang secara konsisten menggunakan arti dari kata ibrani kkayôn?q (a young plant/tunas) serta RSV dan KJV dalam mengartikan kata ‘wekhašre? (root). Mengapa demikian ? karena Israel dalam pembuangan Babel adalah mereka yang dibentuk oleh Allah melalui penderitaan atau kesengsaraannya. Ibarat pohon yang ditebang dan meninggalkan tunggulnya (sisa). Dari tunggul pohon itu muncullah tunas baru yang juga merupakan representasi dari Israel yang dipulihkan. Jadi Israel yang dipulihkan tersebut bukan bangsa yang baru dan tidak memiliki hubungan dengan sejarahnya di masa lampau baik pengalamanya, budaya, agama dll, tetapi merupakan Israel yang diperbaharui. Diperbaharui ini mengindikasikan bahwa Israel tetap memiliki identitasnya tetapi dengan hidup yang baru (berkenan kepada Allah). Mereka bertumbuh pada akar dari tanah yang kering. Tanah yang kering adalah tanah yang tidak potensial bagi kehidupan tumbuhan dan manusia. Ini berarti di pembuangan Israel benar-benar hidup dalam penderitaan tetapi justru melalui penderitaan itulah mereka lebih berakar dalam iman mereka kepada Allah.
• Seorang laki-laki yang l?’-th’ar (TB-LAI : tidak tampan, BIS : tidak indah, RSV & KJV : hath no form), wl?’ h?dh?r (TB-LAI : tidak semarak, RSV &: KJV : no comeliness) dan wel?’-mari’eh (TB-LAI : rupa pun tidak, BIS : tidak menarik, RSV & KJV : no beauty) yang membuat orang mengingininya. Ukuran seperti ini juga masih berlaku sampai sekarang dimana orang yang tampan/cantik biasanya menjadi pusat perhatian, diingini dan dicintai oleh banyak orang (bnd. plesetan anak-anak muda sekarang ‘pacar yang tampan bisanya menjadi milik banyak orang’). Namun penderitaan itu membuat hamba (Israel) tersebut tidak memiliki daya tarik atau pesona apa-apa. Padahal mungkin dulunya ia menjadi rebutan bangsa-bangsa dan raja-raja karena potensi yang ia miliki. Tetapi sekarang hamba tersebut tidak diperhitungkan sama sekali dan semua yang ia miliki telah dihancurkan bahkan menanggung beban psikologi yang sangat berat ketika berhadapan dengan orang banyak (dihina, dihindari). Kondisi Israel di pembuangan dapat digambarkan dalam peribahasa Habis Manis Sepah Dibuang.
Pada ayat 3c-6, digambarkan tentang penderitaan hamba itu sebagai pengorbanan untuk menanggung dosa dunia. Menurut EGS Awalnya para pembicara menggunakan kata dia untuk menggambarkan kondisi hamba Tuhan tersebut, tetapi sejak ayat 3c kata kita mulai dipakai yang mengindikasikan bahwa teman-teman dari para pembicara sudah diajak masuk dalam lingkup perenungan. Bahkan penderitaan hamba Tuhan itu tidak lagi dilihat sebagai suatu ganjaran yang begitu saja ditimpakan Tuhan kepadanya, melainkan sama dengan apa yang diderita oleh para pembicara dari bangsa-bangsa lain tersebut. jadi ada identifikasi yang terjadi oleh karena penderitaan yang dialami bersama (makna dari ungkapan “penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya”). Jadi Israel tidak menanggung penderitaan sebagai ganti bangsa-bangsa. Menurut EGS , bentuk kongkrit dari penderitaan hamba Tuhan tersebut menimbulkan intepretasi yang berbeda dari para ahli:
• Ada yang menganggap penderitaanya sebagai penyakit yang menyebabkan rupa orang berubah.
• Ada yang menghubungkannya dengan siksaan yang dialami. Berarti penderitaan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang lain (terkandung dalam pengakuan bangsa-bangsa bahwa dia tertikam oleh karena pemberontakan kita)
• EGS sendiri berpendapat bahwa pendapat-pendapat tersebut ada benarnya, apalagi jika dihubungkan dengan hamba Tuhan sebagai metaforis dari Israel.
Kami setuju dengan pendapat EGS jika hamba tersebut merupakan metaforis dari Israel karena penderitaan hamba tersebut juga merupakan hukuman Allah atas dosa-dosanya (Yes. 40:2) dan juga karena siksaan dari bangsa-bangsa yang menjajahnya. Jadi pengakuan bangsa-bangsa bahwa dia tertikam karena pemberontakan kita tidak berarti hamba tersebut tidak berdosa tetapi merupakan sebuah kesadaran terhadap semua tindakan yang telah dilakukan kepada Israel yang mendatangkan penderitaan panjang bagi mereka. Pemaknaan inilah yang menyebabkan penulis sayir ini membayangkan bahwa penderitaan Israel akan membawa keselamatan bagi bangsa-bangsa tersebut dan bukan pembalasan dendam. Menurut EGS, hamba tersebut menjadi “Penyembuh yang Terluka” karena ia terluka untuk membawa kesembuhan bagi bangsa-bangsa yang juga terluka. Penderitaannya itu akan disembuhkan dengan cara menyembuhkan luka bangsa-bangsa tersebut.
Berdasarkan perspektif ini maka upaya pengeneralisasian pengorbanan Yesus di salib dengan hamba Tuhan yang menderita harus dipertimbangkan lagi. Karena jika secara metaforis hamba Tuhan yang menderita merupakan representasi dari Israel maka jelaslah bahwa dalam hal-hal tertentu pengorbanan Yesus dan hamba Tuhan yang menderita tersebut tidak dapat disejajarkan bahkan tidak dapat dibandingkan. Misalnya, Yesus–orang benar yang dinyatakan berdosa-menanggung dosa dunia-untuk keselamatan yang bersifat universal; sedangkan hamba Tuhan yang menderita-orang berdosa yang menanggung dosa dunia-untuk keselamatan yang bersifat universal. Selain itu menurut EGS, hamba tersebut menderita bukan sebagai penganti bangsa-bangsa (yang juga menderita) tetapi demi bangsa-bangsa.
Pada ayat 7 – 9, menggambarkan tentang reaksi hamba Tuhan tersebut terhadap penderitaannya. Sepertinya hamba itu menerima dengan pasrah, diam, bisu, tanpa mengeluh, tanpa protes, dan tanpa memberontak terhadap semua yang dilakukan atas dirinya. Padahal apa yang terjadi atas dirinya itu bukan hanya untuk kepentingannya. Jadi hamba Tuhan itu benar-benar tidak berdaya dalam menghadapi penderitaannya. Pembuangan telah menyebabkan lumpuhnya semua dimensi kehidupan Israel (sosial, ekonomi, politik, agama dll). Sedangkan Perjanjian Baru menggambarkan reaksi Yesus terhadap penderitaan-Nya dalam versi yang beragam. Kisah Para Rasul 8:32-33 mengutip Yes. 53:7-8. Dan ini berarti Yesus dilihat juga sebagai Hamba Tuhan yang menderita tanpa pengeluhan apapun. Berbeda dengan reaksi Yesus yang digambarkan dalam Injil Yohanes. Dimana Yesus digambarkan berdaya dalam menghadapi penderitaan-Nya. Karena ketika Yesus hendak dikorbankan (disalibkan), Dia tidak menerima begitu saja semua tuduhan dan perlakuan orang-orang Farisi, imam-imam besar, penguasa dan orang banyak pada saat itu tetapi Dia berargumentasi dan mengkritisi mereka meskipun pada akhirnya Yesus juga disalibkan (Yoh. 18:20, 22). Di samping itu sepertinya Yesus sebenarnya memiliki kesempatan untuk menghindar atau menghentikan penderitaan-Nya tetapi itu tidak dilakukan-Nya (Yoh. 13:21, 27, 36-38). Ia menjalani penderitaan-Nya dan kematian-Nya dengan taat dan sukarela sesuai kehendak Bapa-Nya.
Berbagai versi tentang reaksi Yesus terhadap penderitaannya tersebut menunjukkan keberadaan Yesus sebagai manusia biasa dan juga Anak Allah. Sebagai manusia biasa maka kemanusiaanya itu tidak dapat dihilangkan dari diri-Nya ketika berhadapan dengan situasi-situasi yang berat dan terpojokkan. Karena itu penafsiran reaksi Yesus terhadap penderitaannya baik dalam keadaan berdaya atau tidak berdaya pada dasarnya sah-sah saja tetapi sudah pasti dalam penggunaannya maka para penafsir harus menyadari bahwa teks tersebut dibaca dari kaca mata kitab tertentu yang juga mempunyai sudut pandang tertentu pula.
Pertanyaanya adalah apakah sikap hamba tersebut tidak membuka ruang bagi langengnya sebuah tindakan kekerasan? Bukankah diam tidak selamanya adalah emas? Menurut kami, cerita ini memang memperlihatkan kevakuman hamba tersebut dan keyakinan serta pengharapan akan interverensi Allah yang sangat besar. Dan ini sah-sah saja sebab Allah yang kita imani adalah Yang Maha Kuasa. Namun supaya kita tidak terjebak dalam sikap yang apatis terhadap persoalan kita dan orang lain maka kami pun hanya bisa menawarkan alternatif penyelesaian dimana solusi yang kita pakai haruslah berdasarkan konteks yang kita hadapi. Bagi kami, diam atau bersuara, memakai kekerasaan atau bukan kekerasan dalam menghadapi sebuah persoalan sangat ditentukan pada konteksnya.
Pada ayat 8, penderitaan hamba tersebut digambarkan juga sebagai seorang narapidana yang baru keluar dari tahanan (penjara), dihukum dan tidak dipedulikan oleh orang lain. Dia masih hidup tetapi dianggap sudah mati. Bahkan dalam kondisi tak bernyawapun ia masih diperlakukan sebagai orang fasik dan penjahat. Padahal kesalahan apalagi yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah meninggal? Jadi ini sebuah sindiran penulis terhadap bangsa-bangsa dan raja-raja yang menjajah Israel. Karena itu ayat 9c yang seolah-olah memperlihatkan kesan kontradiktif bahwa hamba tersebut tidak berdosa (tidak melakukan kekerasan dan tidak menipu) harus dimengerti dalam konteks kalimatnya. Israel tidan mati dalam pengertian sesungguhnya tetapi secara metaforis. Dan hal ini berbeda juga dengan Yesus yang benar-benar mati (secara jasmani dan menanggalkan semua kemanusiaa-Nya) untuk penyelamatan dunia.
VI. Pada ayat 10 – 11, digambarkan bahwa penderitaan hamba tersebut adalah h?ph?n (RSV: it was the will of the LORD, KJV: it pleased the LORD, TB-LAI: TUHAN berkehendak, BIS: Tuhan menghendaki) Tuhan dan penderitaan tersebut merupakan korban ’?š?m (korban penebus salah). Persoalannya adalah apakah kehendak Allah memuat substansi tentang rencana Allah? Sebab jika demikian maka ketidaktaatan dan penderitaan Israel ada unsur kesengajaannya. Pada ayat 10e, terdapat penekanan kalimat bahwa “kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya”. Ini berarti bahwa penderitaan Israel bukan semata-mata merupakan hukuman Allah bagi mereka tetapi di balik itu Allah telah memiliki rencana dengan mereka. Yaitu dengan menjadikan mereka sebagai korban ’?š?m bagi dunia. Termasuk dalam kategori korban ini adalah dosa berubah setia kepada Tuhan, mungkir mengenai barang yang dititipkan sesama kepadanya, merampas barang, memeras, menemui barang hilang tetapi tidak mengumumkannya, bersumpah dusta, pokoknya segala sesuatu yang menyebabkan orangnya dapat dikatakan berbuat dosa (Im 6:2-3, dalam teks Ibrani Im 6:15-16) dan dengan demikian harus mempersembahkan kambing jantan (band catatan kuliah dari Pak Gerrit Singgih). Jadi korban ini dilaksanakan dalam kaitan dengan ganti rugi. Menurut EGS, kalau keadaan Israel di pembuangan dianggap sebagai sesuatu yang merugikan Israel, maka ’?š?m dipersembahkan oleh bangsa-bangsa yang melakukannya untuk keperluan Israel. Kongkritnya hal itu adalah pembebasan bagi Israel.
Hal yang paling menarik lagi adalah hamba Tuhan (Israel) ini sesungguhnya tidak mempraktekan korban ’?š?m seperti dalam tradisi aslinya dimana seekor kambing dikorbankan tetapi telah terjadi spiritualisasi korban melalui pembaharuan kehidupan. Hamba itu mati bukan dalam pengertian yang sesungguhnya tetapi merupakan kiasan bagi proses penanggalan dosa dan pembaharuan hidupnya. Jadi pembaharuan hidup mereka menjadi korban bagi penyelamatan dunia.
Dan keselamatan yang akan dia dapatkan jika ia mau berkorban untuk semua orang adalah : melihat keturunannya, umur panjang, menjadi alat yang dipakai oleh Allah untuk merealisir rencana Allah, melihat terang, menjadi puas, dibenarkan dan membenarkan banyak orang dengan hikmatnya, mendapat ‘ªkhaleq-lô bh?rabîm (RSV & KJV: a portion with the great) dan ‘eth-‘ªtsûmîm yekhal?q š?lâl (BIS: bagian bersama orang-orang benar). Hal ini sejalan dengan makna korba ’?š?m bahwa Israel akhirnya mendapat ganti rugi atas semua penderitaannya. Semua berkat yang didapati oleh hamba tersebut pada akhir penderitaannya menujukan pemuliaan dirinya oleh Allah. Dan hal ini sama dengan Yesus dimana kematiaanNya di kayu salib tidak merendahkan Dia tetapi malah semakin meninggikan Dia sebagai Tuhan.
III. Pasal 53: 11-12
Allah semakin memperlihatkan wujud kongkrit pengorbanan hamba Tuhan yang menderita tersebut bagi keselamatan semua orang yang dilakukan melalui pengorbanan nyawanya, dihina, menanggung dosa dan berdoa bagi mereka. Sepertinya dalam teks Hamba Tuhan yang menderita ini, telah tercampur makna korban khattat dan ’?š?m. Dan menurut Singgih (catatan perkuliahan) percampuran ini terjadi di kemudian hari ketika generasi-generasi Israel tidak bisa lagi membedakan bentuk-bentuk upacara korban. Menurut kami hal ini juga dipicu oleh lamanya masa pembuangan yang harus mereka jalani di Babel.
IV. Kesimpulan
• Berdasarkan penggalian nilai dari Yesaya 52:13-53:12 maka dapat disimpulkan bahwa pengorbanan Hamba Tuhan yang menderita ini tidak boleh diidentikan dengan pengorbanan Yesus di salib secara keseluruhan apalagi jika Hamba tersebut diasumsikan sebagai Israel yang berada dalam pembuangan Babel.
• Penderitaan Hamba Tuhan tersebut juga bukan sebagai pengganti bangsa-bangsa tetapi demi keselamatan bangsa-bangsa yang juga menderita. Ini berarti penderitaannya adalah wujud soledaritas Israel dengan penderitaan bangsa-bangsa lain meskipun ia sendiri berada dalam keadaan terluka dan butuh pemulihan. Perspektif ini sekaligus menyadarkan orang-orang Kristen untuk tetap solider dengan penderitaan orang lain yang tidak seagama, sesuku, sebudaya dll meskipun dalam kenyataannya banyak orang Kristen juga berada dalam posisi sebagai korban. Hal menarik dari perikop kajian ini adalah pemulihan itu bisa terjadi ketika dalam kapasitas sebagai korban sekalipun kita bisa solider dengan penderitaan orang lain.
• Allah memiliki kehendak yang bebas dalam sejarah hidup manusia dan Dia berkarya dalam rancangannya untuk kebaikan kita. Karena itu penderitaan juga menjadi sarana yang dipakai oleh Allah dalam menyatakan sesuatu yang baru dan baik bagi kita serta sarana bermisi di tengah dunia ini. Oleh sebab itu, penderitaan tidak boleh dipandang dalam kaca mata yang negatif saja. Interverensi Allah dalam pergumulan hidup manusia yang berat tidak harus membuat kita bersikap apatis terhadap pergumulan hidup sendiri dan orang lain tetapi harus dimaknai dalam rangka pemberdayaan diri demi pemulihan bersama.
Daftar Pustaka
Brueggemann Walter, Isaiah 40-66, Westminster Jhon Knox press: Louisville, Kentucky, 1998
Claire - Marie- Barth-Frommel, Kitab Yesaya 40-55, BPK. Gunung Mulia : Jakarta, 2007
Collins, J. John, Yesaya, dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Dianne Bergant & Robert J. Karris (Ed.), Kanisius: Yogyakarta, 2002.
Damamain Yafet, Ibrani Bahasa Kitab Suci PL (diktat kuliah), 1997.
Groenen C., Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, Kanisius: Jogjakarta, 1992
Guthrie Donald, Teologi Perjanjian Baru Jilid 2, BPK. Gunung Mulia : Jakarta, 1993
Lasor W.S, D.A.Hubbard & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama I : Taurat dan Sejarah, PT. BPK. Gunung Mulia: Jakarta, 1993
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka : Jakarta, 1988
Singgih G.E, Dunia yang bermakna : Kumpulan karangan tafsir Perjanjian Lama, PERSETIA : Jakarta, 1999
Singgih, E.G, Penyembuh yang terluka : Komunitas kristiani dan perjuangan mematahkan lingkaran kekerasan di Indonesia (makalah), 19 September 2000.
TEOLOGI
apa yang menjadi latar belakang budaya kitab yesaya ?
Comment by akbar — March 8, 2010 @ 7:13 am
apa yang menjadi latar belakang budaya? dan mengapa tidak disebutkan
Comment by akbar — March 8, 2010 @ 7:14 am