MEMAHAMI GELAR KRISTOLOGIS ANAK ALLAH DALAM KONTEKS INDONESIA YANG MAJEMUK
Oleh SGR Sihombing
PENGANTAR
Pertanyaan mengenai “Siapakah Yesus Kristus?” adalah pertanyaan yang penting sekali dijawab oleh setiap orang beriman. Yesus sendiri telah mengajukan pertanyaan itu kepada murid-muridNya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, yang lalu dijawab Petrus : “Engkau adalah Mesias” (Mrk 8:29) atau Marta: “Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh. 11:27). Dalam teologi, bidang kristologi memiliki tugas menjawab: siapakah Yesus yang lahir dan hidup pada waktu dan tempat tertentu itu, yang kemudian diimani sebagai Allah yang menyatakan diri kepada manusia, yang disebut Anak Allah? Kristologi adalah teologi tentang Kristus1. Jelasnya bahwa kristologi menaruh perhatian terhadap masalah hubungan antara yang ilahi dan apa yang insani dalam pribadi Yesus Kristus2. Jadi kristologi adalah suatu upaya menjelaskan pokok iman Kristen tentang Yesus Kristus3.
Refleksi teologis atas pengajaran dan perbuatan Yesus melahirkan pemahaman kristologis yang dinyatakan melalui berbagai ungkapan, gelar dan gambar figuratif Yesus. Para penulis Perjanjian Baru (PB) misalnya, masing-masing memberikan dan mengekspresikan gambar dan figur Yesus sesuai dengan sudut pandang dan pemahaman iman mereka. Di dalam PB, nama Yesus memiliki kepelbagaian gelar misalnya sebagai Mesias, Anak Allah, Penyembuh penyakit, Gembala yang baik dan lain sebagainya, yang menunjukkan keragaman perbuatan dan pelayanan Yesus pada masa hidupnya. Pokok pemberitaan gereja purba bukan lagi tentang Yesus yang historis, yang mengajar, menyembuhkan dan memberitakan Kerajaan Allah, tetapi sudah menjadi “Yesus yang menderita dan disalibkan itu telah bangkit kembali.” Semua peristiwa, cerita yang diberitakan tentang Yesus di dalam PB, seolah-olah merupakan kata pengantar terhadap berita pokok itu: “Yesus Kristus, orang Nazareth, yang telah kamu salibkan, telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati” (Kis 4:10). Ini berarti bahwa pemahaman terhadap Yesus sebagai Kristus yang diimani mendapat tempatnya di dalam kehidupan Yesus setelah kehidupannya yang historis. 4. Kristologi sejatinya harus memperlihatkan bahwa iman akan Kristus (Kristus kerygmatis) mempunyai akar dalam hidup Yesus dari Nazareth (Yesus yang historis)5.
Pertanyaan tentang “siapakah Yesus bagimu” tidak hanya dijawab murid-murid angkatan-angkatan pertama, tetapi juga mengundang setiap angkatan orang beriman dan setiap murid untuk memberikan jawaban sesuai dengan kebutuhan dan konteksnya masing-masing6. Tepat jika dikatakan dalam kristologi, umat Kristen bergumul dengan Yesus Kristus, dan apa yang sebenarnya digumuli ialah: relevansi Yesus Kristus sepanjang sejarah, sejauh mana makna dan arti tokoh Yesus bagi manusia7. Sebagai murid Yesus, sudah seharusnya kita pun dapat memahami gelar Anak Allah yang dikenakan kepada Yesus serta merelevansikannya dengan tepat dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dengan mayoritas umat beragama Islam.
GELAR KRISTOLOGIS ANAK ALLAH
Nama Yesus — bentuk Yunani dari nama Ibrani Yehosyua — berarti “TUHAN menolong, yaitu menolong umatNya”8. Para penulis PB benar-benar menyadari arti ini (Mat. 1:21). Yesus adalah nama pribadi Juruselamat. Gelar Anak Allah yang dikenakan kepada Yesus mengungkapkan kedudukan dan hubunganNya dengan Allah9. Di dalam alam pemikiran Yahudi-Palestina, gelar ‘anak Allah’ dapat mengacu kepada, dengan urutan yang makin meningkat, setiap orang dari antara anak-anak Israel; atau khususnya kepada mesias rajani atau oknum sorgawi. Dengan kata lain, gelar ‘anak Allah’ senantiasa dipahami sebagai kiasan di banyak lingkungan Yahudi Di dalam tulisan-tulisan Yahudi, pemakaian gelar ini tidak pernah diartikan bahwa orang yang menyandangnya mengambil bagian di dalam kodrat ilahi. Penerapan mula-mula gelar Anak Allah kepada Yesus dikaitkan dengan dua faktor hidup-Nya sebagai kharismatis pembuat mujizat dan pengusir setan, dan kesadaran-Nya bahwa Ia berada dalam suatu hubungan yang khusus dengan Allah, Bapa SorgawiNya10. Yesus sendiri pasti tahu hubunganNya yang khas dengan Allah, yang dalam doa-Nya disapa begitu akrab sebagai Abba (Mrk 14:36) Dengan latar belakang inilah patut kita pahami bila Yesus memakai istilah “Anak” untuk menyatakan hubunganNya dengan Allah sebagai Bapa (Mat. 11:27; Luk 10:22).
Hubungan Yesus dengan BapaNya adalah hubungan yang istimewa sebab melebihi hubungan antara orang tua dengan anaknya atau melebihi hubungan Allah dengan seorang nabi dan melebihi hubungan antara Allah dengan orang-orang beriman sebab Yesus adalah Anak Allah yang tunggal (Yoh 1:14, 18; 3:16,18), Anak yang dikasihi (Mrk 1:11; 9:7) Bagi orang Yahudi gelar Anak Allah pada Yesus hakekatnya menyinggung perasaan karena Yesus menyamakan diriNya dengan Allah, tetapi justru itulah yang dimaksud dengan gelar Anak Allah bahwa sepatutnyalah Yesus Kristus diberi hormat yang sama besarnya dengan Allah Bapa (Yoh 5:23)11. Kenyataan menunjukkan bahwa Yesus sangat berhati-hati mengungkapkan hubungan-Nya yang khas dengan Allah, namun jelas para penguasa Yahudi mendakwa Dia membuat pernyataan demikian (Mrk 14:6; Luk 22:70)12.
Kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah (Luk 10:21-22; Mat 11:27) telah menimbulkan pertentangan yang pahit dengan para permuka agama Yahudi. Mereka merasa terhina dan sampai hari ini banyak orang yang berpendapat bahwa sebutan itu menghujat Allah. Apabila ada anak, maka mesti ada ibu juga, tetapi Allah yang Esa itu tidak mungkin beristri. Di benak para pengikut Kristus, hubungan biologis tak pernah terpikirkan, terbayangkan pun tidak. Yang hendak dititik beratkan dengan gelar “Allah Bapa” dan “Anak Allah” ialah hubungan yang unik antara Allah dan Yesus. Melalui Yesus, Allah melibatkan diriNya secara langsung dalam urusan manusia, sebab Yesus bukan sekedar jurubicara atas nama Allah, seperti halnya Musa dan semua nabi dalam sejarah Israel kuno13.
Injil Lukas 1:35 mencatat sabda malaikat bahwa Maria akan melahirkan Anak Allah. Di sini kelahiran dan ke-Anak-Allah-an dikaitkan, namun bukan berarti bahwa seakan-akan Yesus setengah manusia, dan setengah Allah melalui hubungan Allah dan Maria (ini suatu gagasan kekafiran!), melainkan dalam arti bahwa Anak itu lahir berdasarkan kuasa dan kekuasaan Allah sendiri. Dapat dikatakan bahwa gelar Anak Allah berlaku sejak kelahiran, tetapi berlaku secara penuh dan definitif sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus (bnd. Roma 1:3-4)14.
Dalam kisah tentang pencobaan Yesus, dicatat tantangan Iblis yang diulang dua kali, “Jika Engkau Anak Allah … “ (Mat. 4:3,6; Luk 4:3, 9); dalam hal ini pusat serangan dalam pencobaan ialah kesadaran Yesus sebagai Anak15. Atau dengan kata lain bertujuan mempertimbangkan apa saja yang akan dikerjakan dalam misi Yesus dan bagaimana Anak Allah seharusnya berhubungan dengan Bapa-Nya16. Hal hubungan inilah yang maha penting. Apakah Yesus akan memakai kuasaNya yang ajaib untuk memuaskan rasa laparNya, ataukah menerima masa berkekurangan ini dengan penuh percaya sebagai kehendak BapaNya? Apakah Yesus akan memaksa Bapa-Nya bertindak dengan menuntut penyelamatan secara ajaib; ataukah yakin bahwa bantuan Bapa-Nya nyata dan tersedia, tanpa perlu mengujinya? Apakah Yesus akan mengambil jalan pintas menuju pengenapan tujuan mesianis, walaupun itu berarti tidak setia kepada Bapa-Nya? Iblis tidak meragukan kedudukan Yesus atau masa depan-Nya melainkan mencobai Dia agar menyalahgunakannya. Namun ternyata Yesus mengutamakan hubungan pribadi dengan Bapa-Nya berdasarkan ketaatan, percaya dan kesetiaan mutlak di atas segala sesuatu lainnya. Dengan demikian Yesus mengatasi godaan untuk memilih jalan pintas. Yesus benar-benar menunjukkan bahwa ia adalah “Anak Allah”17.
Pemakaian gelar Anak Allah dalam PB menurut Darmawijaya menampilkan keunikan pribadi Yesus. Yesus bukan sekedar satu dari anak-anak Allah. Ia adalah Anak Allah yang tunggal, yang sejati (bnd. Yoh 3:16; Rm 1:3). Keunikan itu terutama muncul karena hubungan dengan Allah yang amat dekat/erat. Yesus dan Allah, BapaNya adalah satu (Yoh 10:30). Anak itu menjalankan kehendak Bapa-Nya (Yoh 5:19-20). Ia diajari oleh Bapa-Nya (Yoh. 8:28). Bapa-Nya ada padaNya dan Dia ada pada BapaNya (Yoh 10:38) Apa yang dikatakan Bapa kepada Anak itulah yang diteruskanNya ( Yoh 12:50) melihat sang Anak berarti melihat Bapa (14:9-11). Anak diserahi tugas, dipercaya oleh Bapa dengan penuh wibawa. (Mat. 11:27; Luk 10:22) Bapa menyerahkan kuasa kepada Anak dengan penuh kuasa (Yoh 3:35).
Pada waktu Anak tergantung di salib, Ia sadar melaksanakan kehendak Bapa ( Yoh 13:3) terutama Bapa menyerahkan tugas pengadilan, penilaian (Yoh 5:22) Anak mendapatkan wibawa penuh dari Bapa sehingga mampu membawa orang kepada Bapa (bdk. Yoh 10:15; 14:6). Anak menjadi sasaran iman yang menye-lamatkan. Orang yang percaya kepada Anak mendapatkan hidup ilahi (Yoh 3:16,36; 6:40). Menolak Anak berarti kehilangan hubungan dengan Bapa. Mengakui Anak berarti bersama Bapa (1Yoh 2:22-23). Bila orang mengakui Yesus Anak Allah, Allah beserta Dia (1Yoh 4:15). Yesus memulai karya, melaksanakan dan mengakhirinya dalam ketaatan penuh kepada Allah Sebagai Anak Allah, Yesus mengenal Bapa dan menjalin hubungan pribadi itu secara mendalam, sehingga seluruh sikap-Nya terhadap Allah dibangun karena-Nya. Yesus sepenuhnya memahami Bapa (Mat. 11:27)18.
RELEVANSI DALAM KONTEKS INDONESIA MAJELUK
Gelar kristologis Anak Allah jelas berkaitan juga dengan ajaran trinitas dan soteriologi19 yang telah disalahmengerti oleh banyak orang, khususnya umat Islam bahwa orang Kristen memiliki banyak allah (politeisme) dan menolak pemahaman bahwa Allah mempunyai Anak yang dapat memberikan keselamatan kekal yang tentu menjadi batu sandungan yang serius dalam kehidupan masyarakat yang majemuk20. Selain itu, disengaja atau tidak bahwa umat beragama dengan doktrinnya masing-masing merasa dirinya yang paling benar dalam soal keselamatan. Dalam kekristenan, gelar kristologis Anak Allah telah menjadikan orang Kristen meyakini bahwa hanya merekalah yang diselamatkan. Harus diakui bahwa kristologi Anak Allah sebagaimana yang dikatakan Paul F Knitter21, telah menjadi eksklusif atau absolut mulai pertengahan abad ke-2 dan mencapai puncaknya sampai abad ke-5 yang mengakibatkan sikap konfrontatif terhadap agama dan kepercayaan lain. Perlu dipahami baik bahwa gelar kristologis Anak Allah adalah bahasa kasih yang bermaksud menguatkan arti Yesus bagi kehidupan beriman jemaat dan bukannya dalam pengertian menolak atau menghakimi agama dan kepercayaan lain22.
Bukan tidak mungkin rumusan kristologis Anak Allah sukar dipahami oleh umat beragama lain karena rumusan kristologis Anak Allah dan dogma trinitas berlatar belakang pemahaman filosofis-ontologis sebagaimana yang dilakukan para teolog gereja purba dalam konsili-konsili ekumenis sejak Nicea 325, Konstantinopel 381 dan Chalcedon 451. Dari diskusi kristologis inilah lahir pengakuan gereja sebagaimana kita warisi sekarang bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang diimani dan dipertahankan secara apologetis. Di satu pihak pengakuan iman yang apologetis ini bermanfaat positif menjaga kemurnian pemahaman Injil dan pengakuan yang rasuli terhadap Yesus Kristus, namun di pihak lain telah mendatangkan segi negatif di mana sikap gereja menjadi eksklusif. Gereja akhirnya menjadi kaku dalam formula-formula dogmatisnya dan sulit membuka diri untuk dapat dimengerti orang lain23. Di sinilah pentingnya, gereja dan setiap orang percaya untuk berdialog secara terbuka untuk menjelaskan pengertian gelar kristologis Anak Allah kepada umat beragama lainnya sebab faktor bahasa teologi Gereja telah membuat jurang pemisah.Istilah anak Allah sendiri tidak hanya dapat dikenakan kepada Yesus, tetapi juga kepada malaikat (Kej 6:2,4; Ayb. 1:6; 2:1; 38: 7; Mzm 82:6; Dan. 3:25) atau manusia (Bil 21:29; Kel 4:22; Im. 14:1-2; Yes 31:9; Rm 9:4; Gal 3:6-25; Kol 1:15)24. Bahasa teologis kristologi Anak Allah hanya dapat dimengerti bahwa Yesus sebagai Anak Allah memiliki relasi yang unik25, akrab, mesra, intim dengan Bapa-Nya dalam konteks iman, dan bukan secara geneologis.
Tentu kita tidak dapat memaksakan pemahaman kristologis Anak Allah bagi orang lain. Sama seperti sikap mereka, kita pun tidak dapat memahami, misalnya keilahian Krisna atau Alquran. Dalam konteks Indonesia yang majemuk tugas kita bukan memberikan pernyataan-pernyataan teologis-filosofis yang definitif, dan bukan terutama menyisihkan yang lainnya26 melainkan mendorong aksi kongkret bersama memberantas kemiskinan ( jumlah orang miskin adalah 39,1 juta orang (17,75%) Kompas 19/02/2007) yang membelit bangsa ini sesuai perintah Yesus, Anak Allah: “Karena orang-orang miskin selalu ada padaMu, dan kamu dapat menolong mereka bilamana kamu menghendakinya.” (Mrk. 14:7)
DAFTAR PUSTAKA
Boehlke, Robert R. Siapakah Yesus sebenarnya?, cet. ke-9. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Boland, B. J. Intisari Iman Kristen, cet. Ke-20, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.
Darmawijaya, St. Gelar-gelar Yesus, cet. ke-3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.
Dister, Nico Syukur. Kristologi, sebuah sketsa, cet. ke-3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990.
Drewes, B. F. Satu Injil Tiga Pekabar: terjadinya dan amanat injil-injil matius, markus dan lukas, cet. ke-3. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1989.
Eckardt, A. Roy. Menggali ulang Yesus Sejarah: Kristologi masa kini. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid 2, cet. ke-6. Jakarta: Yayasan Bina Kasih /OMF, 2002.
France, R. T. Yesus Sang Radikal: Potret manusia yang disalibkan. Jakarta: BPK Gunung Mulia,1996.
Groenen, Cletus. Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus pada umat Kristen, cet.ke-2. Yogyakarta: Penerbit Kanisus, 1988.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru I. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen, cet. ke-6. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
Harris, Murray J. Jesus as God: the New Testament use of theos in reference to Jesus, Michigan: Baker Books House, 1992.
Hick, John & Knitter, Paul F. Mitos keunikan agama kristen, Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2001).
Johnson, Elizabeth A. Kristologi di Mata Kaum Feminis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.
Knitter, Paul F. Introducing Theologies of Religions. New York: Orbis Books,
2002.
Lohse, Bernhard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989.
Migliore, Daniel L. Faith seeking understanding: an introduction to Christian
Theology. Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1991.
Yewangoe, A.A. Kontekstualisasi pemikiran dogmatis di Indonesia: buku penghormatan 70 tahun Prof. DR. Sularso Sopater, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
1 Nico Syukur Dister, Kristologi, sebuah sketsa, cet. ke-3, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990), 21.
2 Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 90
3 Darwin Lumban Tobing, “Kristologi Non-Apologetis: Kristologi Hermeneutis di dalam konteks
Postmodern”, dalam A.A. Yewangoe dkk., Kontekstualisasi pemikiran dogmatis di Indonesia: buku
penghormatan 70 tahun Prof. DR. Sularso Sopater, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 45.
4 Darwin Lumban Tobing, Kristologi …, 46.
5 Nico Syukur Dister, Kristologi …, 25.
6 Elizabeth A. Johnson, Kristologi di Mata Kaum Feminis, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), 17.
7 Cletus Groenen, Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus pada
umat Kristen, cet.ke-2, (Yogyakarta: Penerbit Kanisus, 1988), 14-15.
8 Harun Hadiwijono, Iman Kristen, cet. ke-6, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), 320
9 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid 2, cet. ke-6, (Jakarta: Yayasan Bina Kasih /OMF, 2002), 589.
10 A. Roy Eckardt, Menggali ulang Yesus Sejarah: Kristologi masa kini, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1996), 32-33
11 B. J. Boland, Intisari Iman Kristen, cet. Ke-20, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), 33-34
12 Ensiklopedi …, 592.
13 Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus sebenarnya?, cet. ke-9, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 16.
14 B. F. Drewes, Satu Injil Tiga Pekabar: terjadinya dan amanat injil-injil matius, markus dan
lukas, cet. ke-3, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1989), 268.
15 Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 347.
16 R. T. France, Yesus Sang Radikal: Potret manusia yang disalibkan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1996), 41-42.
17 R. T. France, ibid.
18 St. Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus, cet. ke-3, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991), 57-61.
19 Daniel L. Migliore, Faith seeking understanding: an introduction to christian theology,
(Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1991), 140.
20 Budyanto, “Mempertimbangkan Ulang Ajaran tentang Trinitas”, dalam A.A. Yewangoe dkk.,
Kontekstualisasi pemikiran dogmatis di Indonesia: buku penghormatan 70 tahun Prof. DR.
Sularso Sopater, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 407.
21 Paul F. Knitter, Introducing Theologies of Religions, (New York: Orbis Books, 2002), 151-152.
22 Ibid.
23 Darwin Lumban Tobing, Kristologi …, 49-50.
24 Sinclair B. Ferguson and David F Wrihgt, New dictionary of theology, (Illinois: Inter-Varsity Press,
1988), 651-653.
25 Murray J. Harris, Jesus as God: the New Testament use of theos in reference to Jesus, (Michigan:
Baker Books House, 1992), 87.
Murray J Harris menjelaskan dengan lengkap pengertian keunikan Yesus sebagai Anak Allah:
“He is unique (a) in relation to the Father because (i) both before and after his incarnation he was in the most intimate fellowship with his Father (John 1:18), (ii) he was the sole and matchless Revealer of the Father’s love (John 3:16; 1 John 4:9), and (iii) his origin is traceable to God the Father (John 1:14, cf. 1 John 5:18); and (b) in relation to human beings, because he is the object of human faith, the means of eternal salvation and the touchstone of devine judgement (John 3:16,18).”
26 John Hick & Paul F Knitter, Mitos keunikan Agama kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2001), 308.
TEOLOGI