Sejarah Kelam
Josman P. Sinaga.
Tanggapan pada karya tulis berjudul: Tragedi 1965 dan Teologi Kristiani
Bagi saya sejarah adalah kisah yang mengajarkan bagaimana hidup di masa yang akan datang. kalau sejarahnya kelam maka kita diharapkan tidak mengulangnya lagi, kalau sejarahnya menjadi prestasi yang gemilang maka harus dipertahankan bahkan kalau bisa di tingkatkan. dalam sejarah bangsa kita begitu banyak sejarah yang kelam, tidak hanya kelam kita juga tidak bisa memastikan benarkah ini sejarahnya? istilah orang ahli itukah the History atau hanya history. salah satu sejarah kelam dalam kehidupan berbangsa kita adalah tragedi 65. tetapi sayangnya kita mengulangnya lagi dalam peristiwa mei 98. sejarah kelam yang demikian sepertinya menjadi sebuah tonggak untuk memulai pembaruan bagi bangsa ini. tonggak berdirinya orde baru ditandai dan dimuali dengan peristiwa yang sangat memilukan hati, dan tonggak berdirinya era Reformasi menurut saya tidak jauh berbeda.
lalu dimana teologi kristen berbicara? apakah ini merupakan bagian dari tanggung jawab kita? saya sedikit pesimis tentang peranan kekristenan dalam masalah bangsa yang tidak berhubungan dengan urusan intern gereja, maaf. atau kalaupun dibahas tidak lebih dari sekedar wacana dalam forum teologi atau seminar teologi yang menjadi konsumsi orang-orang tertentu dan kemudian menjadi pintar sendiri.
mungkin kita perlu dan harus membangun sikap kita secara teologis dalam menghadapi pergumulan yang tidak mungkin adalah menjadi pergumulan salah satu dari anggota gereja kita. tetapi sejauh mana itu berdampak, apalagi membangun kembali sebuah sejarah, kok bagi saya rasanya terlalu berlebihan. ok. kalau kita hanya berorientasi pada penyampaian kerygma dan penerimaan yang tulus mungkin bisa dilakukan, itupun sangat sulit. tetapi pasti, untuk menunjukkan bahwa Allah masih ada sama seperti dulu ada dan tetap ada. yang memberikan hujan kepada semua orang dan yang mengasihi orang tertindas dan terbuang. saya pikir kalau teologi kita bisa diwujudkan samapai titik ini, bisa dikatakan ini adalah prestasi yang sangat mengagumkan
Namun dibalik semua sikap pesimis itu tentu kita harus tetap bersikap.
teologi kekristenan berdasarkan kasih, kasih yang nyata terhadap sesama, yaitu menjadi menjadi sesama. oleh karena Allah menunjukkan meneladankan bahwa Dia adalah kasih. kasih ini harus nyata di wujudkan kepada orang-orang yang terbuang. orang lapar di berikan makan, orang harus diberikan minum dsb. dalam kasus tragedi 65, mereka lapar dan haus. lalu makanan dan minuman apa yang cocok bagi mereka? bagaimana kita bersikap kepada mereka? sikap berpihak pada yang tersisih adalah sikap yang pasti diambil oleh gereja secara teologis? memang mungkin sudah saatnya gereja bergerak lebih jauh dalam menunjukkan keberadaannya sebagai pembawa damai sejahtera, di mana setiap orang yang berteduh di dalamnya akan mendapatkan air segar yang menyejukkan hati dan mendapatkan pelukan hangat sebagai tanda persaudaraan dalam kasih.
namun kelemahan teologi kita terletak pada kasih yang begitu besar sehingga terkadang kita bingung, apakah kita mengasihi semua orang atau kita tidak berani mengasihi seseorang walaupun orang itu menderita. keberpihakan pada orang tersisih bukankah tergantung siapa yang sedang tersisih, kalau dulu mereka dalam semua kepahitannya adlaah tersisih,namuan sekarang dalam era baru dan terbuka, jangan-jangan mereka sedang menyisihkan kelompok lain yang dulu menyisihkan mereka. paulo preire mengatakan bahwa ketika orang yang tertindas naik menjadi pemimpin maka akan besar kemungkinan mereka akan memposisikan diri menjadi penindas.
lalu bagaimana teologi kita berbicara tentang masalah ini? saya lebih memilih untuk benar-benar mendasarkan teologi kriten pada kasih AGAPE. di mana kita akan bersikap kasih dan penuh penerimaan pada setiap orang, sebab Yesus juga bersikap demikian. dia tidak membela orangnya, tetapi menerima imannya, dia menghujat habis-hasbisan sikap yang penuh kejahatan dan melawan Allah tetapi mengasihi orangnya dengan kasih yang sama terhadap orang lain. berpihak dalam teologi kristen bukan berarti mendukung orangnya, tetapi membela harkatnya sebagai ciptaan Allah, sebagai gambar dan citra Allah, bukan membela orangnya.
rekonsiliasi akan sangat tepat tujuan kalau kita memberikan makan pada laparnya, dan minum pada hausnya. penerimaan dengan ketulusan kepada semua orang adalah perdamaian sejati yang mampu mewujudkan damai sejahtera Allah di bumi yang semakin tua ini.
TEOLOGI