FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

June 4, 2008

ALLAH, MANUSIA DAN EKOSISTEM

Filed under: Umum, Teologi Kontekstual, Tafsir — admin @ 11:33 pm

Suatu Tafsiran Naratif Terhadap Kejadian 2 : 4b – 25 dan Relevansinya
Yulius Rato, Johny Sitorus, Margaretha Apituley
A. Pendahuluan

Persoalan ekologi dalam negara Indonesia dewasa ini menjadi sebuah wacana aktual yang mendapat sorotan hangat dari berbagai kalangan. Berkaitan dengan itu, maka berbagai upaya dalam mengatasi dan mengantisipasinya pun terus digalakkan sebagai sebuah keprihatinan, kepedulian dan juga pertanggung-jawaban iman kepada Allah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa upaya untuk mencari asal-muasal berbagai persoalan ekologi juga terkait dengan penghayatan atau pemaknaan terhadap ajaran-ajaran agama yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan itu berarti, ajaran Gereja pun tidak luput dari pengamatan dunia yang gelisah untuk memperbaiki kondisi ekologi tersebut.
Memang Kejadian 1 : 28 sering menjadi sorotan masyarakat untuk memposisikan Gereja sebagai pihak yang harus bertanggung jawab terhadap berbagai persoalan ekologi yang terjadi akhir-akhir ini. Namun bagi kami penafsiran-penafsiran terhadap teks tersebut sering tidak dilakukan secara holistik. Karena itu kami mencoba mengkaji Kejadian 2 : 4b - 25 dengan memakai pendekatan naratif dimana bagian ini dilihat sebagai kilas balik yang terperinci (flashback) atau penjelasan yang terperinci dari kejadian 1:1-2:4a terutama tentang proses penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Tetapi juga harus diakui bahwa dalam narasi Kejadian 2 : 4b - 25 ada bagian-bagian tertentu yang membedakannya dari kejadian 1 yaitu setting dari penciptaan tersebut yang berlangsung di padang belantara (2:5), penciptaan binatang dari tanah (2:19) dan tugas yang diberikan Allah kepada manusia (5:15) yang akan dirinci dalam bagian analisa teks.

B. Analisa Sastra.
Jenis sastra narasi Kejadian 2 : 4b-25 dapat dikategorikan dalam cerita berbingkai, dimana keseluruhan cerita itu diawali dan berpuncak pada fokus yang sama, yaitu manusia. Manusia menjadi prioritas utama dalam cerita awal penciptaan taman Eden dan diakhiri oleh cerita manusia yang bersukacita karena menemukan pasangan yang seimbang dengan dirinya untuk hidup dan bereksistensi dalam taman itu. Karena bentuknya yang demikian, Lempp menyimpulkan bahwa narasi itu merupakan suatu cerita sebab (aitiologia), yaitu cerita yang dibuat dengan tujuan untuk menerangkan sebab musabab satu hal yang lazim dalam masyarakat. Ciri khas sebuah cerita aitiologia adalah kata “sebab itu” ditempatkan di akhir dari sebuah narasi (band. Kej 2:24). Dalam hal ini, mau menjelaskan kenyataan mengapa di tengah masyarakat yang patriakhal seperti di Israel, dalam kenyataan seorang laki-laki akan meninggalkan hubungan dengan ayah, ibu dan saudara-saudaranya, dan menyatu dengan perempuan yang menjadi isterinya dan tidak sebaliknya.
Sekalipun demikian, tidak berarti dalam sebuah cerita seperti itu, narasi yang barada di tengah ceita itu tidaklah penting. Justru itu akan semakin penting karena menjadi alasan dari tujuan akhir cerita itu. Dalam hal ini, cerita tentang bagaimana manusia dan taman Eden dibentuk mendapat makna dan dimaknai oleh persekutuan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah tangga.
Jenis narasi Kejadian 2:4b-25 akan menjadi lebih jelas jika dibandingkan dengan pembagian teks itu menurut Walter Lempp. Pembahagiannya adalah sebagai berikut:
• Ayat 4b- 7 : Pembentukan tubuh manusia yang dihidupkan dengan nafas
Allah.
• Ayat 8-9 : Pembangunan taman Eden.
• Ayat 10- 14 : Keempat sungai yang keluar dari taman Eden untuk
Menghidupkan dunia di dalam dan luar taman Eden.
• Ayat 15-17 : Tugas pemeliharaan dan perintah yang diberikan Tuhan
kepada manusia.
• Ayat 18-25 : Pembentukan perempuan yang diberikan kepada Adam.

C. Komponen-Komponen Narasi dari Kejadian 2 : 4a – 25 :
1. Penokohan :
• Tuhan Allah : Pencipta (2:7,18,21), Penguasa (2:16) dan Pemberi mandat bagi mahluk hidup yang diciptakannya (2:15-17). Merupakan Allah yang hidup, sumber kehidupan bagi manusia (2:7) dan bekerja (Deus Faber)-(2:8-9) untuk memelihara kehidupan manusia (menyediakan tempat untuk manusia tinggal dan menyediakan kebutuhan jasmani dan rohani mereka)-(2:8-9). Kepada-Nyalah manusia mempertanggung-jawabkan kuasa dan kebebasan yang diberikan kepadanya (2:17). Dia menghendaki manusia hidup dalam kebersamaan atau suatu persekutuan baik dengan sesamanya maupun dengan mahluk hidup yang lain dalam mengerjakan mandat yang diberikan-Nya (2:18).
• Manusia : makhluk hidup yang diciptakan Allah dengan tangan Allah sendiri (2:7). Merupakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki diciptakan lebih awal dari debu tanah dan hidup karena nafas hidup yang berasal dari Allah (2:7); sedangkan perempuan diciptakan kemudian dari tulang rusuk dan daging laki-laki (2:21-23) serta menjadi mitra kerja laki-laki yang sepadan dengannya (penolong). Perbedaan bahan dasar penciptaan ini tidak berarti bahwa laki-laki lebih hina karena diciptakan secara langsung dari tanah dan berkuasa atas perempuan karena dari dirinya perempuan diciptakan. Tetapi keduanya merupakan suatu kesatuan yang utuh, setara dan juga mahluk fana. Mereka belum mempunyai pengetahuan tentang yang baik dan jahat serta tidak memiliki hidup kekal (2:7, 9,16). Mereka juga mempunyai peranan khusus yang diberikan Allah yaitu sebagai penguasa, pengelolah dan pemelihara bumi (2:15). Merupakan homo faber (mahluk yang bekerja) karena diciptakan oleh Deus faber (Allah yang bekerja)-(2:8-9). Namun kebebasan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepadanya ada dalam batas-batas tertentu yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah (2:17). Merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa manusia yang lain bahkan kelangsungan hidupnya sangat tergantung juga dalam relasinya dengan Allah – sesama – tanah (2:15-25). Namun kebersamaannya dengan sesama manusia yang lain bersifat ambigu adanya (baik dan buruk) jika kebersamaan itu diartikan secara eksklusif (2:7,18-25). Manusia juga bermitra dengan binatang dalam mengerjakan mandat yang berasal dari Allah (2:19). Memiliki rasa sayang (cinta) kepada lawan jenisnya, merupakan mahluk seksual dan mandiri (2:23-25). Manusia diciptakan dalam kondisi telanjang tetapi keduanya tidak merasa malu akan keberadaannya itu karena belum memiliki pengetahuan tentang yang baik dan jahat (2:25).
• Binatang : digambarkan bersama manusia mempunyai peranan dalam mengusahakan dan melestarikan bumi (2:19). Binatang juga merupakan penolong yang tidak sepadan dengan manusia (2:20).

2. Latar (settings) :
Tempat terjadinya peristiwa-peristiwa dalam kisah ini berlangung di dua tempat yaitu :
• Bumi : digambarkan seperti padang belantara (2:5-7). Belum ada semak dan tumbuh-tumbuhan karena Tuhan Allah belum menurunkan hujan dan belum ada orang untuk mengusahakannya. Jadi gambaran ini merupakan kondisi tohu wabohu yang berbeda dari Kej.1:2 yang berupa samudera raya. Meskipun demikian tanah sudah mengandung unsur basah (air) yang menguap dalam bentuk kabut. Ini mengindikasikan bahwa sebenarnya bumi sudah bisa menghasilkan kehidupan (lumut) tanpa campur tangan manusia untuk mengolahnya terlebih dahulu tetapi melalui penekanan pada keterlibatan manusia hendak menegaskan hubungan yang vital antara manusia dengan bumi. Bumi juga merupakan tempat manusia dan segala mahluk hidup dan bereksistensi. Bumi juga digambarkan sebagai lahan pertanian. Bumi dalam kaitan dengan tanah merupakan bahan dasar pembentukan manusia dan binatang.
• Taman eden : merupakan nama tempat di sebelah timur dimana Allah membuat sebuah taman bagi manusia sebagai tempat untuk mereka tinggal dan bekerja (2:8,15). Di kemudian hari nama tempat itu dipakai sebagai nama dari taman tersebut menjadi taman eden (2:15). Taman ini ditanami oleh Tuhan Allah dengan berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan (2:9). Jadi taman itu tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan jasmani manusia tetapi juga kebutuhan rohani (mengandung unsur estetika). Selain itu, pada tengah taman ini juga Tuhan Allah menanami pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat yang tidak bisa dinikmati secara bebas oleh manusia kecuali yang berada di bagian pinggir taman (2:16-17). Taman ini merupakan sumber dan pusat kehidupan bagi dunia sekitarnya (2:10-14). Dalam taman tersebut mengalir satu sungai yang terbagi menjadi 4 cabang (Pison, Gihon, Efrat dan Tigris) dimana dua (Efrat dan Tigris) di antaranya secara geografis dapat ditelusuri dan ditemukan lokasinya di bumi ini yaitu di Mesopotamia. Hal ini mengindikasikan bahwa taman tersebut benar-benar ada di bumi dan bukan di sorga. Selain itu juga penuh dengan batu-batu berharga (2:11-12). Taman ini juga menjadi tempat untuk manusia membangun kebersamaan/kemitraan dalam rangka menjalankan perintah Tuhan Allah dengan sesamanya dan mahluk yang lain (binatang)-(2:18-25).

D. Analisa Teks.
Semula, ketika akan memilih teks sebagai tugas tafsiran ini, kelompok memilih batasan teks berdasarkan pembahagian yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)), yang diberi judul “Manusia dan taman Eden” yang perikopnya dimulai dari ayat 8-25. Namun ketika menganalisa teks ayat 8, kami menyadari bahwa sesungguhnya pembahagian seperti itu kurang lengkap, karena untuk memahami ayat 8 dan seterusnya dengan baik, tidak bisa dilepaskan dari ayat 4b-7, yang merupakan perikop yang menjadi latar belakangnya. Karena itu kelompok memutuskan untuk menafsir narasi manusia dan taman Eden haruslah dimulai dari ayat 4b.
Untuk mempermudah analisa narasi Kej.2:4b-25, kami akan mengelompokkan ayat-ayatnya berdasarkan pembahagian yang dibuat oleh Lempp seperti di atas.

1. Kejadian 2: 4b-7.
Pada pasal 2 : 8 diawali dengan kata sambung “selanjutnya” (Ibr: wa) , yang memperlihatkan bahwa perikop tafsiran kami ini tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya, terutama Kej. 2 : 4b - 7. Karena itu sebelum menafsirkan ayat 8, kami harus memperhatikan kesaksian 2 : 4b - 7 di atas.
Ayat 4b, merupakan pernyataan awal narator tentang kisah penciptaan dunia oleh Allah. Dalam pernyataan itu, terkesan bahwa bumi sebagai yang mempunyai hubungan yang erat dengan manusia mendapat perhatian utama daripada langit. Formulasi pernyataan narator tentang “bumi dan langit” (Ibr:‘erets wesyamayim) dalam ayat 4b ini, sebagai ungkapan yang menunjuk pada ‘dunia’ ini berbeda dengan “ … menciptakan langit dan bumi - hasyamayim weha’arets” (Kej.1:1). Mungkin dalam bahagian ini peranan manusia dalam taman Eden hendak lebih ditonjolkan, berbeda dengan dalam Kejadian 1:1 yang lebih menekankan peranan Allah dalam penciptaan dan penataan dunia. Namun penonjolan terhadap peran manusia tidak menjadikan manusia sebagai pusat dari segala-galanya sehingga mengorbankan ciptaan yang lain (alam) tetapi peran yang saling menguntungkan dan menghidupkan seperti yang akan tergambarkan secara terperinci dalam tafsiran kami di ayat-ayat selanjutnya.
Setelah itu, dalam ayat 5 dan 6 nampaknya narator menjelaskan keadaan bumi dan langit pada saat diciptakan. Narasi ini dimaksudkan untuk lebih memperjelas kesaksian penciptaan dalam pasal 1 yang lebih bersifat umum. Disaksikan bahwa pada saat itu belum ada kehidupan. Setting padang belantara (padang gurun? ) - (Ibr ; tohu wabohu) dalam kej 1:2 masih terasa. Sekalipun ada kabut (Ibr:’edh ) yang membasahi tanah yang dapat memungkinkan adanya tumbuhan yang paling sederhana seperti semak, sebagai tumbuhan liar yang biasanya dapat tumbuh dengan sendirinya di tempat yang sulit. Namun tumbuhan seperti itupun belum ada. Mengapa?, alasan narator sederhana tetapi jelas, “…belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu”. Bagi kami, ini juga memperlihatkan penekanan narator yang kedua, yang perlu mendapat perhatian, yaitu dalam penciptaan dunia ini, tanah dan manusia mempunyai kedudukan sentral dan sangat berhungan satu dengan yang lain dalam rencana penciptaan alam semesta ini. Hubungan itu terletak pada pekerjaan manusia pertama sebagai petani dan tanah sebagai lahan pertanian, tempat dimana manusia mencerminkan eksistensinya sebagai manusia bumi/tanah. Sesungguhnya tanah telah memungkinkan lahirnya kehidupan seperti semak-semak liar karena tanah waktu itu sudah basah, namun Allah belum menciptakan tumbuhan apapun, karena manusia sebagai pengolah dan pemelihara tanah serta segala yang ada di atasnya, belum diciptakan. Terkesan bahwa dengan sengaja Allah menunda kehadiran segala kehidupan di atas bumi, sampai manusia sebagai pengusaha dan pengelolanya diciptakan.
Kemudian dalam ayat 7, narator menjelaskan “ketika itulah …” (Ibr: wa ). Di saat tanah masih kosong itulah Allah membentuk manusia. Dalam ayat ini nampak sekali kedua penekanan hubungan tanah dan manusia, yang disebutkan di atas, ditegaskan kembali dalam ayat ini dengan cara yang berbeda, yaitu manusia yang diciptakan Allah itu berasal dari debu tanah (Ibr. ha’adhama). Dua hal penting dalam kesaksian ini adalah: Pertama, bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah. Kata “membentuk” berasal dari Ibr: yatsar. Itu berarti bahwa dari hal bagaimana kejadiannya, manusia sama dengan makluk yang lain. Tetapi berbeda dengan kesaksian Kejadian 1 dimana binatang hanya diciptakan dengan Firman Allah (Kej. 1 : 20, 24). Kesamaan cara dan bahan penciptaan manusia dan bintang seperti ini mau menekankan hubungan manusia dan binatang yang sangat erat dalam rangkan mengusahakan dan melestarikan bumi. Memang ada persoalan, bagaimana debu tanah itu dapat dibentuk? Itu hanya mungkin jika debu tanah itu dibasahi dan menjadi kental, itu mungkin karena kabut yang naik ke atas bumi menyebabkan tanah menjadi basah, kemudian dapat dibentuk sesuai dengan rencana Allah. Di sini kami setuju dengan EGS, bahwa sesungguhnya keadaan tanah ketika diciptakan mengandung unsur basah. Kedua, bahan yang digunakan untuk menciptakan adalah debu tanah (Ibr: adamah), dan karena itu dalam bahasa Ibrani manusia disebut ha’adam. Penamaan itu bagi kami bukan hanya sebuah permainan kata belaka, tetapi mengandung kebenaran yang sangat dalam tentang hubungan antara tanah dan manusia yang dikehendaki Allah. Bahwa keadaan hidup manusia di hadapan Allah akan mempengaruhi keadaan tanah dimana ia hidup. Di kemudian hari terbukti bahwa karena memberontak terhadap Allah, tanah dikutuk oleh Allah sehingga tidak menghasilkan secara penuh seperti sebelumnya (Kej. 3:17). Hal menarik yang sempat kami amati dalam kesaksian ini adalah bahwa bahan yang darinya manusia dibentuk itu, yaitu tanah yang lembab/basah adalah termasuk dalam apa yang disebut sebagai potensi “tohu wabohu”. Dalam tafsiran ayat 4b telah dijelaskan bahwa bumi (termasuk tanah) yang digambarkan sebagai padang belantara merupakan representasi dari kondisi tohu wabohu berbeda dengan Kej. 1 yang digambarkan dalam bentuk samudera raya (air). Ini berarti tanah adalah potensi tohu wabohu dan dipakai oleh Allah sebagai bahan dasar pembentukan manusia. Kami melihat di sinilah potensi manusia bisa menjadi yang menentang kehendak Allah. Sehingga dalam cerita selanjutnya, Allah selalu melihat “ tidak baik (Ibr: lo’-tobh), kalau manusia itu…”. Dalam bahagian ini Allah dipersonifikasikan sebagai seorang tukang periuk yang dengan terampil memanfaatkan tanah untuk membentuk sebuah patung.
Kemudian pada tanah yang dibentuk menjadi patung manusia itu, ditiupkan nafas hidup lewat hidungnya.Di sini sekali lagi narator menjelaskan hakekat manusia yang unik dalam penciptaan Allah. Setelah dibentuk, Allah “meniupkan” (Ibr: wayyippakh). Dalam terjemahan kata ini secara sadar kemi berbeda dengan terjemahan LAI yang menterjemahkan dengan kata ”menghembuskan”. Kami membayangkan bahwa tentu dalam hal meniupkan lewat hidung manusia, Allah menggunakan mulut-Nya sendiri dan bukan lewat hidung Allah, sebab bagaimana hidung dengan hidung bisa sejajar untuk mengalirkan napas?. Mulut adalah salah satu organ tubuh yang sangat pribadi dan mengandung unsur kehormatan. Lewat mulut itulah Allah meniupkan nafas-Nya. Keunikan dan keistimewaan ini bisanya tidak pernah diperhatikan dalam penafsiran, padahal kenyataan itu memperlihatkan hubungan yang sangat pribadi dan istimewa antara Allah dan manusia. Tentu ini berbeda dengan tafsiran EGS yang tidak melihat hal itu sebagai keistimewaan manusia dibandingkan dengan binatang.
Selanjutnya jelaslah apa yang ditiupkan Allah ke dalam manusia adalah “napas hidup” (Ibr: nišmath khayîm). Penjelasan itupun bagi kami mengandung makna bahwa Allah adalah Allah yang hidup karena Ia memiliki nišmath khayîm. Dan itu dibagikan juga kepada manusia sebagai gambar-Nya, sehingga manusia memiliki sebagian yang dimiki Allah dan mencerminkan separuh dari hakekat Allah sebagai Allah yang hidup. Bagi kami, ini yang menyebabkan sebagai manusia, mereka tidak pernah dapat melepaskan diri dari Allah dan sekaligus Allah tidak dapat melupakan manusia sekalipun manusia membenci dan membelakangi Allah. Sebab dengan meniupkan napas itu berarti bahwa manusia hidup karena Allah dan Allah hidup juga di dalam manusia. Dengan demikian dalam diri manusia terkandung sekaligus watak tohu wabohu dan gambar Allah, tanah yang basah dan nišmath khayîm. Ini memperjelas kesaksian Kejadian 1:27, yang tidak menjelaskan asal-usul manusia dibentuk dan menjadi makluk hidup.
Dan narator berkomentar sebagai penutup dan kesimpulannya tentang manusia” demikianlah, manusia itu menjadi makluk yang hidup”. Bagi kami kesimpulan itu sangat padat dan di sana mengandung penjelasan tentang hakekat manusia yang sesungguhya. Bahwa sebagai makluk yang hidup, manusia tergantung pada Allah dan bumi, yaitu debu tanah dan nafas Allah. Kehidupan manusia ditentukan oleh Allah dan tanah. Hidup manusia hanya benar berdasarkan kehidupan Allah sebagai pencipta dan tanah sebagai bahannya. Jika hubungan manusia dengan kedua pihak tadi rusak maka manusia tidak dapat lagi menjadi seperti yang diharapkan Allah. Itu akan menyebabkan manusia yang hidup akan mati (karena napas hidupnya kembali kepada Allah sebagai sumber hidupnya? ) dan tubuhnya kembali menjadi debu tanah sebagai asalnya. Hal itu bisa juga dihubungkan dengan bencana alam, ekologi, dan sosial yang sedang terjadi saat ini. Dimana rusaknya hubungan dengan Allah, merusak hubungan manusia dengan alam dan lingkunganya. Atau sebaliknya, jika manusia merusak hubungannya dengan tanah dan lingkungannya, pasti akan berdampak pada hubungannya dengan Allah sebagai Pencipta. Hal ini tentu akan menarik jika dihubungkan dengan pergumulan para teolog Indonesia tentang bencana alam dan sosial yang sedang melanda wilayah Indonesia akhir-akhir ini (Teologi Bencana).

2. Kejadian 2: 8-9.
Kata “selanjutnya” (Ibr : wa) dalam ayat 8 juga mengandung makna bahwa babak awal narasi sebagai persiapan telah selesai. Kini kita akan memasuki narasi berikutnya, yaitu Allah membuat sebuah taman di Eden. Komentar ini memperlihatkan bahwa Eden mulanya adalah nama sebuah tempat tertentu di bumi ini. Nanti dalam ayat 15, setelah Allah membuat sebuah taman di tempat itu, baru Eden menjadi nama taman Allah terseut, bukan lagi sekedar nama sebuah tempat.
Rupanya karena lokasi taman itu telah tersedia, Allah tinggal menanam (Ibr: natta) pohon-pohonan dalam lokasi itu sehingga membentuk sebuah (Ibr: gan) yang bisa berarti ” taman” atau “kebun”. Kami lebih setuju untuk menerjemahkan gan dengan taman bukan kebun untuk lebih menekankan aspek keindahan lokasi sekaligus kegunan lokasi tersebut bagi kehidupan manusia.. Bagi kami, kata kebun hanya menunjuk pada salah satu aspek kegunaan lokasi tersebut, yaitu tempat dimana terdapat tumbuh-tumbuhan yang dibutuhkan oleh manusia. Dengan kata lain, semua taman bisa bermanfaat sebagai kebun tetapi tidak semua kebun bisa berfungsi sebagai taman. Dalam kesaksian ini nampak bahwa Allah digambarkan sebagai yang bekerja, dan bukan memerintah seperti dalam Kejadian 1. Dalam peristiwa Eden ini, Allah seperti seorang ahli taman, yang dengan tangann-Nya sendiri menanam dan menata lokasi itu menjadi sebuah taman yang indah. Dalam aktivitas seperti itu, tentunya dapat dibanyangkan bahwa tangan Allah atau bahkan tubuh yang lain menjadi kotor karena tanah yang lengket seperti ketika seorang petani sedang bekerja.. Ini membawa konsekwensi bahwa jika Penciptanya adalah Allah yang bekerja (Deus Faber), maka manusia juga adalah makluk yang bekerja (homo faber). Mungkin di Indonesia, yang sebagai negara agraris, tetapi pekerjaan dan hal menjadi petani dinilai lebih rendah dan kasar, kesaksian itu menjadi menarik karena Allah sendiri dalam Alkitab adalah bekerja sebagai seorang petani, yang tentunya petani yang terampil yang tangan dan tubuh-Nya menjadi kotor oleh tanah dan mungkin juga berkeringat karena aktifitas-Nya yang melelahkan dan memuaskan itu.
Pertanyaan yang sering muncul adalah di manakah letak kebun Eden itu? Ada pendapat yang mengatakan bahwa tempatnya di sebelah timur, sebagaimana pendapat pembaca implisit di zaman dulu, yaitu sebelah timur Israel. Mungkin di Iraq atau di Armenia. Eden, artinya bahagia, makmur, yang oleh LXX menyebutnya dengan paradeisos, yang kemudian berkembang menjadi Firdaus, yang berarti Taman Allah. Karena itu muncullah pemahaman yang mengatakan bahwa Firdaus adalah taman Allah, yang tempatnya di Gunung Allah yang tinggi di Sorga. Kemudian ketika manusia jatuh dalam dosa, mereka dibuang ke bumi dan kini taman itu dijaga oleh kerup (Yeh. 28: 11-19). Di kemudian hari, ide taman Allah itu berkembang menjadi taman Firdaus yang berada di Sorga, seperti yang terdapat dalam ucapan Yesus kepada penjahat yang disalibkan di sebelah kanan-Nya (Luk. 23:43). Tetapi pemahaman taman Eden yang sesungguhnya akan menjadi jelas dalam tafsiran ayat 10.
Dalam ayat 9 disebutkan bahwa di kebun itu terdapat pelbagai pohon buah-buahan yang buahnya menarik untuk dipandang (Ibr. nekhm?dh lemar’eh) dan baik untuk dimakan (Ibr. tôbh lema’ªk?l). Dari pernyataan itu jelas bahwa sifat buah-buahan pohon itu dalam hubungannya dengan manfaatnya bagi manusia. Namun perlu ditegaskan bahwa sekali lagi aspek keindahan dan daya tarik yang dapat menyenangkan juga mendapat perhatian. Ini berhubungan dengan terjemahan kami pada kata gan dengan taman bukan kebun. Ini memperlihatkan bahwa sekalipun pohon-pohon itu di tamam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani manusia, namun kebutuhan rohani, dalam hal ini keindahan, ikut menjadi pertimbangan ketika Allah menanam dan menumbuhkan pohon-pohon itu.
Di antara pohon-pohon itu Allah juga menanam dua pohon yang unik, yaitu “pohon kehidupan” (Ibr: ets hakhayim) dan “pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat” (Ibr: ets hada’ath tobh wara). Melalui rumusan itu narator sudah mulai memperlihatkan adanya pembagian bahkan pembatasan wilayah hak dan kekuasaan dalam taman itu. Ada pohon yang berada di pinggir tetapi ada yang berada di tengah-tengah (Ibr: bethok) taman itu. Di sini narator hendak memperihatkan bahwa wilayah yang diperbolehkan bagi manusia hanya terbatas di pinggir dan tidak meliputi seluruh taman itu. Sebab pohon yang di tengah taman itu adalah milik Allah. Bahwa posisi pohon itu berada di tangah taman adalah menunjuk pada sesuatu yang penting, yaitu sebagai pusat taman itu. Jika tanaman di pusat taman itu tidak boleh diraba apalagi dimakan, maka itu berarti hak manusia terbatas di dalam taman itu dan tidak meliputi segala sesuatu. Hak manusia bukan meliputi seluruh taman itu, tetapi terbatas hanya pada buah pohon yang berada di pinggir sedangkan buah pohon yang berada di tengah-tengah (Ibr: bethok) tidak boleh yang di tengah taman. Jika pohon itu dipahami sebagai simbol kuasa, maka kuasa manusia dalam taman itu sangat terbatas dan hanya benar jika didasarkan pada kedaulatan Allah. Ini juga berhubungan dengan terjemahan kata dengan bebas di ayat 17 di bawah ini.

3. Kejadian 2:10-14.
Dalam ayat 10 secara implisit disebutkan bahwa Allah juga membuat sungai (bukan air) – (Ibr: nâ?r) sebagai tempat untuk mengalirkan air guna membasahi taman itu. Rupanya kabut saja tidak cukup untuk membuat pohon-pohon dalam taman itu menjadi hidup dan subur, tetapi membutuhkan air yang cukup banyak dari sebuah sungai untuk menghasilkan daun dan buah . Jika mulanya air dari dalam bumi hanya nampak ke permukaan tanah dalam bentuk kabut, maka kini Allah seperti membuka sedikit tingkap di bawah bumi, sehingga air yang mulanya hanya berada di bawah dapat membual sebagai sebuah mata air yang mengaliri airnya melalui ke empat sungai yang ada. Empat sungai itu mungkin menunjuk pada arah aliran sungai-sungai berdasarkan 4 arah mata angin, sehingga semua taman itu, malah sampai ke luar dibasahi oleh air yang mengalir melewati 4 sungai itu. Jadi taman Allah menjadi sumber dan pusat kehidupan bagi dunia sekitarnya (omphalos) seperti yang ditafsirkan EGS.
Yang menarik dalam ayat ini adalah sungai itu diberi nama, seperti nama-nama sungai yang secara konkrit dapat ditelusuri keberadaannya di daerah sebelah timur Israel waktu itu. Khususnya pada sungai Efrat dan Tigris adalah nama sungai yang terdapat di daerah Mesopotamia.Sedangkan Sungai Gihon dan Pison masih belum ada kesepakatan. Tetapi bagi kami hal itu penting dalam hubungan dengan apakah taman Eden itu adalah taman Allah di Sorga, atau yang ada di bumi ini. Nama-nama sungai yang jelas di atas membuktikan bahwa menurut narator taman Eden itu adalah taman yang berada di bumi ini bukan di Sorga seperti pemahaman taman Firdaus.
Selanjutnya dalam ayat 10 disampaikan bahwa setelah taman itu selesai, Allah mengambil (Ibr: yiqqakh) manusia yang telah dibentuknya itu dan menempatkannya (Ibr : yannikh?hû) ke dalam taman itu. Tujuannya jelas bahwa supaya mereka mengusahakan (Ibr. : ‘?bhedhâ) dan memelihara (Ibr: ??mar) taman itu. Kesaksian ini penting bagi kami, guna mengingatkan manusia bahwa taman itu bukanlah hasil jerih-payahnya, tetapi jerih payah Allah yang dianugerahkan kepada manusia dengan tujuan yang jelas, yaitu mengusahakan. Kedua kata itu mengandung makna bahwa dengan “mengusahakan ” (Ibr. : ‘?bhedhâ) diharapkan supaya kehadiran manusia dalam taman itu semakin lama semakin membawa perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Dan dalam kata “memelihara” (Ibr. ??mar) mengandung makna mempertahankan apa yang telah ada. Itu berarti diharapkan bahwa dengan hadirnya manusia maka taman eden akan semakin indah, atau paling kurang tetap indah dan tidak boleh menjadi kurang indah dari sebelumnya. Dalam hal ini ayat 14 ini dapat dipahami sebagai koreksi terhadap perintah menguasai dan menaklukkan manusia terhadap seisi dunia ini dalam Kejadian 1:28. Sebab di sini manusia dipanggil untuk mengolah dan melestarikan bukan menguasai dan menaklukkan. Itu berarti aspek perlindungan ekologi mendapat perhatian serius dalam ayat 14 ini.

4. Kejadian 2: 15-17.
Kemudian dalam ayat 16 Allah memberikan perintah kepada manusia itu. Kata “perintah” (Ibr. tsaw) memperlihatkan bahwa dalam hal itu Allah berada pada posisi penguasa taman itu yang akan memberi tugas kepada manusia. Tugas itu sendiri dapat dipahami sebagai pendelegasian kuasa pada manusia dalam taman itu. Dan oleh pelaksanaan tugas itulah manusia menghidupi dan mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia.
Bentuk terjemahan perintah dalam ayat 16, kami lebih setuju seperti pada terjemahan LXX “semua pohon dalam taman itu dapat/boleh kau makan buahnya” dan karena itu menolak terjemahan LAI yang menambahkan kalimat “dengan bebas” sebagai yang dipengaruhi oleh doktrin kehendak bebas manusia. Ini bertentangan dengan prinsip kami bahwa kewenangan manusia dalam taman itu dibatasi oleh kehendak Allah sebagai pemilik yang sah atas taman Eden. Kehadiran manusia dalam taman itu menjadi bebas dalam batas-batas yang diatur oleh Allah sebagai Pencipta. Jadi pendelegasian itu bersifat bebas sekaligus terbatas. “Semua buah… boleh kau makan… tetapi pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu jangan kau makan buahnya” Jadi ada yang diperbolehkan sebagai wujud kebebasan manusia itu, namun ada batas kebebasan, yaitu jangan (Ibr: lo’). Jangan di sini mengandung arti bahwa itu bukan hak manusia tetapi yang oleh anugerah-Nya yang bebas mendelegasikan pada manusia.
Ada satu kejanggalan dalam ayat ini adalah bahwa yang dilarang hanya pohon pengetahuan hal baik dan jahat sedangankan pohon kehidupan tidak disinggung. Apakah itu berarti hanya pohon pengetahuan itu yang dilarang sedangkan pohon kehidupan itu boleh dimakan. Sebab untuk hidup yang kekal, manusia tidak hanya dapat memperolehnya lewat buah pohon itu, tetapi juga dengan cara yang lain, yaitu penerus keturunan manusia. Atau yang harus diutamakan adalah kata pohon di tengah bukan jenisnya untuk pengetahuan atau kehidupan.( band. Bahan kuliah EGS terhadap Kejadian Pasal 4).
Rupanya larangan itu sangat keras dan berbahaya jika dilanggar, yaitu pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Mati disini tidak bisa dipahami secara harafiah, yaitu lawan dari hidup, tetapi lebih mencerminkan ungkapan yang bernada ancaman yang keras. Misalnya seseorang yang mengancam temannya dengan mengatakan “Awas! jika engkau melakukan hal itu, sampai mati saya tidak memaafkanmu”. Kata sampai mati dalam kalimat itu, memperlihatkan ancaman yang keras sebagai bukti kebencian yang akan diterima oleh temannya itu. Itu jelas dalam kejatuhan manusia, akhirnya manusia tidak benar-benar langsung mati. Dan kalaupun nantinya mereka mati bukan karena memakan pohon pengetahuan itu, tetapi karena pada dasarnya mereka mahluk fana yang pasti akan mati suatu saat. Hukuman yang diperoleh malah hanya kesusahan dan penderitaan yang membuat manusia bisa mati atau ingin cepat mati. Jadi dalam dosa, mati bukan saja akibat penderitaan tetapi juga bisa menjadi jalan kelepasan dari penderitaan.

5. Kejadian 2: 18-25.
Dalam ayat 18 disaksikan bahwa Allah menilai manusia itu seorang diri saja dan itu tidak baik dalam pandangan Allah. Ini berhubungan dengan pelaksanaan panggilan manusia dalam taman Eden masih dilihat sebagai sesuatu yang belum lengkap. Komentar Allah dalam ayat itu dibuktikan lewat percobaan dimana manusia diperhadapkan dengan binatang jadi bukan berdasarkan sikap apriori saja. Mula-mula Allah menciptakan binatang dan berharap mungkin seluruh atau paling tidak satu di antara binatang itu ada yang dapat mendampingi manusia dalam kehidupannya sehari-hari sehingga ia dapat tetap menjadi manusia. Tetapi ternyata tidak ada satupun yang sepadan (Ibr. ‘ezer knegddo) dengan manusia itu. Karena itu Allah bermaksud untuk menciptakan manusia yang sepadan sebagai penolong baginya. Penolong di sini tidak berkonotasi negatif sebagai pembantu tetapi lebih dari sebagai mitra kerja dalam menjalankan tugas yang Tuhan Allah berikan kepada mereka. Jadi di sini juga tergambar hubungan yang erat antara perempuan dengan lingkungan alam (ecofeminisme). Dimana kelesatarian ataupun kerusakan lingkungan juga berhubungan dengan sikap manusia umumnya kepada perempuan. Ketika perempuan tidak dipahami sebagai mitra laki-laki dalam panggilan manusia di alam ini yang berdampak pada pelecehan, kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan akhirnya juga menyebabkan pengrusakan terhadap alam. Oleh sebab itu untuk memulihkan alam maka orang harus bersikap adil dan menempatkan perempuan pada posisi sebagai mitra bukan sekedar pendamping atau pembantu saja. Caranya, adalah Allah membuat manusia itu tidur nyenyak (Ibr. tarddema). Manusia benar-benar tidak sadar dan tidak tahu apa yang sedang dilakukan Tuhan terhadapnya. Ini berhubungan dengan penciptaan dunia, Allah tidak membutuhkan campur tangan dan nasihat pihak yang lain selain diri-Nya sendiri, termasuk manusia. Sehingga dunia ini adalah milik Allah secara mutlak karena itu hanya kehendak Allahlah yang boleh terjadi. Ketika itulah Allah mengambil salah satu rusuk (Ibr. ‘akhath mitsal’othâw) manusia, menutupnya dengan daging dan kemudian membangun seorang perempuan. Kata yang diterjemahkan “rusuk” adalah Tsela (plural Tseloth). LXX, pleuroos, “rusuk”. LXX dan versi-versi kuno memahaminya sebagai tulang rusuk, tetapi kami lebih cenderung memakai penafsiran EGS yang menafsirkannya sebagai bagian samping dari laki-laki, yang terdiri dari baik daging maupun tulang, bukan hanya tulang (rusuk) saja. Di ayat 23 laki-laki itu mengatakan “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (‘etsem m?’ªts?may, ûbh??? mibbe??rî), bukan “tulang rusukku”. Dan patut dicatat, bahwa dengan diambilnya sebagian dari laki-laki untuk menjadi perempuan, laki-laki tidak menjadi hanya sebagian saja, karena sebagian yang diambil itu dipulihkan kembali oleh Tuhan. Mungkin ungkapan itu akan menjadi jelas ketika seseorang menyebut kekasihnya dengan belahan jiwaku. Jiwa dalam kalimat itu bukan segi kehidupan manusia yang tidak nampak, tetapi sebagai wakil dari tubuh manusia juga. Lalu perempuan itu dibawa kepada laki-laki. Laki-laki itu sangat berbahagia. Hal itu nampak dengan sikapnya yang berpuisi seperti seorang yang sedang jatuh cinta, mencari kekasihnya dan tiba-tiba menemukannya. Tulang dari tulangku dan daging dari dagingku menggambarkan hubungan yang sangat dalam dan kuat antara dua orang yang saling mencintai. Kidung Agung mengungkapkan bahwa cinta itu kuat seperti maut (KA. 8:6). Nanti akan jelas dalam sikap Adam yang sepertinya jadi bodoh ketika Hawa berbuat dosa. Manisnya cinta Adam dan Hawa membuat sikap kritis Adam menjadi tidak berfungsi dengan baik. Dan dalam pemahaman itu pula akan menjadi jelas, mengapa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Seorang laki-laki yang seharusnya tinggal dengan orang tuanya, karena tarikan cintanya pada perempuan mampu merenggangkan hubungan anak-orang tua pada laki-laki itu. Satu daging adalah ungkapan persetubuhan sebagai aktivitas seksual manusia. Di sini manusia disaksikan sebagai mahluk yang seksual dan seks itu termasuk dalam ciptaan dan rencana Allah. Jadi seks bukanlah akibat dosa. Namun harus ditegaskan bahwa aktivitas itu terjadi dalam rumah tangga bukan di luar rumah tangga (kumpul kebo)
Kemudian disaksikan bahwa keduanya telanjang namun tidak malu. Ini lebih disebabkan karena mereka masih menjadi mahluk yang belum memiliki pengetahuan moral, yang baik atau jahat, karena mereka belum memakan buah pohon itu. Baru setelah makan, mereka malu karena sudah tahu membedakan mana yang baik dan jahat, mana yang membanggakan dan memalukan. Karena itu semakin seseorang berbudaya semakin cepat dan gampang ia merasa malu apabila ia berbuat kesalahan.
Namun terhadap semua kesaksian Alkitab yang kami tafsirkan di atas, teks yang sangat menggelisahkan kami adalah firman Allah dalam ayat 18 “Tidak baik” (Ibr. lo’-tobh) kalau manusia itu seorang diri saja”. Dari sudut pandang bahwa seluruh teks kitab Kejadian sebagai sebuah narasi, justru sangat mengagetkan kami bahwa firman Allah itu diucapkan tidak lama setelah komentar narator dalam kejadian 1:31 “ Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (tôbh m’?dh)..” Kami bertanya,” apakah firman Allah dalam kej 2:18 tadi bukanlah sebuah pernyataan teologis tandingan yang sengaja hendak mengoreksi pernyataan Kej 1:31 tadi. Kami melihat teologi dalam kej. 1:31 terlalu optimis terhadap ciptaan dan kehidupan dunia terutama manusia, sedangkan teologi dalam Kej 2:18 lebih realistis. Sebab setelah Allah menciptakan perempuan dari Adam, mulanya Adam bersukacita dan berkata ”Inilah tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku (Ibr: ‘etsem me‘atsamay, ûbh?š?r mibbš?rî)…” tetapi ketika jatuh dalam dosa ia berkata perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah…”. Artinya, ternyata bukan saja manusia seorang diri itu tidak baik, tetapi juga ketika memiliki pasangan juga tetap tidak membawa kebaikan, malah karena pasangan itulah dunia menjadi rusak. Dan seterusnya Alkitab menyaksikan bahwa Manusia tidak pernah baik di hadapan Allah sampai Allah menyesal telah menciptakan manusia. Malah, hukuman pun tidak mampu membuat manusia menjadi baik.
Dalam koreksi itu, kami memahami bahwa persekutuan, entah suami-istri, keluarga, bangsa, suku dan agama bisa menjadi baik jika tidak bersikap ekslusif, tetapi tetap terbuka bagi Allah dan sesama. Persekutuan yang tertutup akan senantiasa mengandung kejahatan untuk melawan semua hal yang ada di luar persekutuan itu. Adam-Hawa, Peristiwa menara Babel dan ekslusifisme Israel, Nazi Jerman adalah persekutuan-persekutuan manusia yang mengandung bahaya bagi pihak yang lain.

E. Relevansi

Lingkungan adalah suatu kesatuan yang dibentuk oleh tiga komponen, yaitu lingkungan fisik (abiotic environment), lingkungan hayati (biotic environment) dan lingkungan sosial yang terdiri dari lingkungan sosial, ekonomi, budaya (cultural environment). Ketiganya saling mempengaruhi dan saling tergantung dalam membentuk suatu kualitas hidup tertentu. Namun dewasa ini, realitas keseimbangan lingkungan tidak tercapai dengan baik karena berbagai aktivitas manusia yang tidak tertanggung-jawab dan oleh sebab itu menjadi wacana aktual yang hangat dibicarakan oleh berbagai kalangan karena dampaknya dirasakan oleh semua orang. Meskipun demikian, persoalan lingkungan tidak mudah dituntaskan malah semakin meningkat dan memprihatinkan kelestarian bumi dan manusia yang berdiam di dalamnya.
Menurut hasil penelitian Robert Muller, setiap menit, 21 ha hutan tropis musnah dirambah tangan-tangan rakus manusia; setiap menit 50 ton humus tanah dikikis habis oleh angin dan air; setiap jam, 685 ha lahan subur berubah menjadi padang pasir; setiap jam 60 kasus penyakit kangker menggerogoti tubuh manusia akibat penipisan lapisan ozon; setiap hari 25.000 orang mati karena kekeringan atau pencemaran air; setiap hari 10 ton sampah radio aktif dihamburkan oleh ratusan pabrik nuklir; dan banyak lagi litani kebobrokkan akibat kerakusan manusia yang teruntai terkait. Semua realitas ini juga semakin dipertegas dengan begitu banyak persoalan lingkungan yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini, misalnya : kasus pembakaran hutan, illegal loging, illegal fishing, banjir dan persoalan sosial yang lainnya.
Dalam buku Teologi Bencana, Phil Erari memperkenalkan istilah Ecocida yang dikutipnya dari F.J. Broswimmer, yang berarti tindakan berencana untuk menguras dan menghancurkan seluruh lingkungan alam, yang berlangsung baik secara lokal dan global. Di sini sesungguhnya kerusakan ekologi bukan lagi disebabkan oleh ketidaktahuan dan ketidaksengajaan manusia. Tetapi dilakukan secara sengaja dan terencana, yang memperlihatkan kebutaan manusia sebagai akibat kebutaan yang sangat hedonis, memikirkan efek lain, baik bagi manusia umumnya maupun terhadap Allah sebagai Pemilik alam yang sesungguhnya.
Lynn White Jr. menegaskan bahwa akar historis dari krisis ekologi yang kita alami sekarang adalah pandangan orang Kristen yang arogan terhadap alam dan hal ini didasarkan pada perintah Tuhan kepada manusia untuk memenuhi dan menaklukan bumi (Kej. 1:28). Menurutnya, dalam teologi Kristen alam dipandang hanya sebagai unsur ciptaan yang keberadaannya hanyalah untuk mendukung kebutuhan manusia. Alam pada dirinya sendiri tidak memiliki banyak arti dan baru mempunyai arti jika ia memberikan apa yang diperlukan oleh umat manusia. Jadi perintah Allah tersebut dianggap sebagai sebuah legitimasi status manusia sebagai penguasa alam karena mereka adalah wakil Allah yang bertanggung jawab atas seluruh ciptaan-Nya. Namun pengertian tanggung jawab lebih mengarah kepada sesuatu yang subordinatif yaitu sejauh unsur-unsur alam tersebut melayani kebutuhan manusia. Oleh sebab itu di dalam perkembangan pemikiran teologi selanjutnya nampak bahwa ada begitu banyak upaya yang dilakukan untuk mengubah image manusia yang berkuasa atas alam dengan menekankan unsur pengelolahan, bukan menguasai. Namun hal ini belum menampakan hasilnya. Karena pengelolaan masih sering diartikan bahwa manusia adalah pemilik sumber daya alam dan mencerminkan suatu pola hubungan yang subordinatif. Alam dipahami sebagai sumber yang menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Sebagai sumber maka sudah selayaknya jika alam digali dan dimanfaatkan. Jadi sepertinya, perubahan istilah dari ‘menguasai’ menjadi ‘mengolah’ saja belum cukup untuk mencegah sikap arogansi manusia terhadap alam. Menurut Singgih, penafsiran terhadap teks tersebut yang lebih menekankan aspek kekuasaan harus dibekukan terlebih dahulu. Apalagi dalam pengkajiannya ternyata kekuasaan manusia tidak meliputi semua mahluk yang mengindikasikan bahwa kekuasaan manusia atas alam ciptaan Tuhan ini terbatas adanya.
Dalam penafsiran Kejadian 2 : 4b – 25, kami menemukan bahwa sesungguhnya kedudukan manusia dalam alam ini bukanlah raja atas alam semesta, tetapi ia adalah hamba yang menjadi mitra Allah untuk melestarikan dunia ini. Memang manusia diberikan kebebasan untuk menikmati apa yang telah ada di dalam alam tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak boleh dilakukan dan disentuhnya, yang hanya boleh dilakukan oleh Allah sendiri. Itu berarti bahwa panggilan dan kebebasan manusia itu terbatas dalam rencana Allah untuk kelestarian dunia bukan menghancurkannya. Dengan demikian perlulah perspektif baru dalam memahami kesaksian Kejadian 1:28 yakni dalam hubungan dengan kesaksian yang lain seperti Kejadian 2 : 9, 17, yang sekarang dilihat sebagai penjelasan terperinci dari Kejadian 1. Yaitu perspektif yang holistik yang menjadikan alam sebagai bagian integral dari karya penciptaan Allah maupun karya penyelamatan Allah.
Selain itu dalam pengkajian tersebut, kami menemukan bahwa manusia dan alam mempunyai posisi yang sejajar di hadapan Allah sebagai mahluk hidup yang diciptakan oleh Allah. Berkaitan dengan hal ini maka manusia tidak boleh mengangap dirinya lebih tinggi dari mahluk lainnya sehingga cenderung bertindak secara sewenang-wenang demi kelangsungan hidup manusia tersebut. Dalam menerjemahkan perannya sebagai delegasi Allah untuk mengusahakan dan memelihara bumi ini, manusia harus menyadari bahwa ia tidak diberikan kebebasan yang tanpa batas tetapi kebebasan yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah sebagai pemberi mandat (lih.tafsiran ayat 9, 17). Tanggung jawab itu terimplementasi dengan baik ketika ia juga mampu menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidupnya dengan alam dan sesamanya. Karena itu retaknya hubungan manusia dengan alam dan sesamanya juga mengindikasikan adanya keretakan hubungannya dengan Allah, Sang Pemberi mandat tersebut. Antara manusia dan alam mesti tercipta hubungan yang saling menghidupkan dan menguntungkan.
Begitu juga dalam menerjemahkan panggilannya untuk bersekutu dengan sesamanya, manusia juga harus menyadari bahwa individualisme secara ontologis tidak selamanya buruk dan persekutuan dengan sesamanya tidak selamanya baik. Sebab individualisme juga memacu orang untuk mandiri dan kreatif. Sebaliknya persekutuan atau kebersamaan yang dimaknai secara berlebihan juga bisa menjadi sebuah potensi konflik dalam menghancurkan panggilannya dan ketaatannya kepada Allah. Karena itu, manusia sebagai seorang individu atau persekutuan harus memaknai hidupnya dalam tanggung jawab untuk saling menghidupkan supaya Allah dipermuliakan (lih.tafsiran ayat 18).
Sebagai solusi bagi pemulihan dan pelestarian alam semesta ini, kami teringat akan issu teologis yang masih hangat, yaitu ecofeminisme. Dari istilah itu tergambar hubungan yang erat antara perempuan dengan lingkungan alam ini. Menurut pemahaman itu kelestarian ataupun kerusakan lingkungan berhubungan dengan sikap manusia umumnya terhadap perempuan. Ketika perempuan tidak dipahami sebagai mitra laki-laki dalam panggilan manusia di alam ini, laki-laki bertindak sendiri yang berdampak pada pelecehan, kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan yang akhirnya menyebabkan pengrusakan terhadap alam itu. Karena itu untuk memulihkan alam orang harus bersikap adil dan menempatkan perempuan pada posisi sebagai mitra bukan sekedar pendamping atau pembantu yang setia saja (lih.tafsiran ayat 18).

Daftar Pustaka
Harefa Octhavianus dan Tumpal L. Tobing (ed.), Krisis Ekologi : Tantangan, Keprihatinan dan Harapan, GMKI Cabang Jogjakarta dan Pendeta Mahasiswa BKS PGI-GMKI Lokal Jogjakarta : Jogjakarta, 1996
Komisi International Untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Buku Pegangan bagi Promotor Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan, Kanisius : Jogjakarta, 2000.
Lempp Walter, Tafsiran Alkitab Kejadian 1:1-4:26, BPK Gunung Mulia : Jakarta, 1987.
Muller R., New Genesis, Building Up Our Planet, dalam The Cord No.3, 1990.
Ngelo Zakaria J. (ed.), Teologi Bencana, Oase INTIM : Makasar, 2006
Setio Robert, Paradigma Ekologis Dalam Membaca Alkitab, dalam Forum Biblika No. 14, 2001.
Singgih E. G, Catatan Perkuliahan Metode Tafsir untuk Program Pasca Sarjana Teologi UKDW, Jogjakarta, 2007.
Wright Christopher, Hidup Sebagai Umat Allah : Etika Perjanjian Lama, BPK. Gunung Mulia : Jakarta, 2003.
Zain, Susan Mohammad, Kamus Modern Bahasa Indonesia, Grafika : Jakarta, 1958

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress