FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

June 14, 2008

Di balik Kerudung Hitam, Rambut pun Tak Lagi Hitam …

Filed under: Teologi Kontekstual — admin @ 12:51 am

Oleh: Jimm Song

Sewaktu mau berangkat pulang ke Jogja, sambil berguyon teman-teman berkata pada saya, ”Bruder, ’ga jadi tinggal di sini?” Sambil guyon juga saya menjawab, “Kalau aku tinggal, bagaimana nasib cewek-cewek kalian nantinya?” Namun di tengah guyonan itu, dalam hati saya merenung dan mulai berimajinasi, bagaimana seandainya saya benar-benar tinggal di tempat para rahib ini. Tapi itu tidak mungkin, pertama-tama saya memang takut melihat cara hidup para rahib yang serba ketat itu, tetapi di sisi lain lebih mendalam saya bertanya: apakah saya benar-benar ber-komitmen. Saya takut apakah komitmen untuk menghabiskan hidup di pertapaan Rawaseneng benar-benar bulat dan teguh.
Apa di balik kerisauan saya atas komitmen itu sebenarnya lebih menyangkut soal kebebasan hidup. Dalam logika, saya berasumsi tentang ketiadaan kebebasan di dalam biara: jadwal ibadah, bekerja, makan, tidur, dan sebagainya berdasarkan peraturan ketat, dan hal yang sama itu juga dilakukan setiap hari. Jujur saja, saya tidak tahan akan suatu kedisiplinan. Saya ingin bebas dan lepas. Tetapi apakah kebebasan selalu identik dengan ketidakdisiplinan? Bukankah kedisiplinan selalu menyebabkan suatu kebosanan? Pertanyaan saya terjawab oleh penuturan pengalaman Fr. Benito saat memberikan ceramah di Rawaseneng. Menurut penuturan beliau, kedisiplinan tidak identik dengan ketidakbebasan, terutama kebosanan (rasa bosan). Di mana pun kita berada, rasa bosan selalu ada. Berarti persoalannya bukanlah masalah tempat di mana kita berada dan aturan yang berlaku di tempat itu, melainkan masalah bagaimana kita mengatasi kebosanan itu. Di dalam biara Trappist, kedisiplinan merupakan dasar pengalaman akan Allah, tetapi jikalau tidak dihayati secara mendalam akan menjadi gangguan dalam menghayati pengalaman akan Allah, yang bisa mengarahkan orang-orang mengingkari panggilannya menjadi seorang rahib.
Saya sendiri tidak ingin menjadi rahib, melainkan ingin belajar berdisiplin dari para rahib. Inilah pengalaman yang saya gumuli selama mengikuti retret. Pemikiran saya dibukakan menjadi suatu pemahaman akan spiritualitas yang berdisiplin, dalam mengalami perjumpaan dengan Allah. Pengalaman berjumpa dengan Allah ini ternyata tidak hanya terdapat dalam ranah ibadah saja, melainkan dalam bekerja. Jadi ora et labora, berdoa dan bekerja. Ini memberikan saya pemahaman bahwa selalu ada waktunya untuk berdoa dan bekerja. Tidak melulu berdoa saja sampai-sampai lupa waktu untuk bekerja, atau sebaliknya tidak melulu bekerja sampai-sampai lupa untuk berdoa.
Pengalaman beribadah bersama-sama para rahib Trappist ini membuat saya sadar akan sebuah komunitas yang di dalamnya terdapat suatu kebersamaan. Sewaktu bekerja, para rahib terpisah satu sama lain, namun pada waktu ibadah mereka kembali di dalam kebersamaan menghadap Allah. Berarti terdapat tiga hubungan kebersamaan dalam ibadah, yaitu individu dengan Allah, komunitas dengan Allah, dan individu dengan individu di dalam komunitas. Allah hadir di setiap kehidupan orang-orang. Hal ini menjadi keyakinan saya selama mengikuti ibadah. Spiritualitas ini saya namakan dengan spiritualitas Liturgis. Namun spiritualitas Liturgis bagi saya tidak hanya soal berkumpul beribadah di dalam sebuah ruangan sebab bisa saja kita masih mendahulukan kepentingan individual dibanding kebersamaan, melainkan eksistensi sebuah semangat yang terdapat di dalamnya. Semangat itu adalah semangat kebersamaan dalam bekerja bersama orang lain, atau bekerja membantu orang lain, menganggap orang lain sebagai keluarga (family). Jadi seperti Spiritualitas Liturgis dalam biara Trappist yang secara konkret menolong orang lain melalui hasil kerja tangan para rahib maupun merangkul masyarakat sekitar untuk bekerja bersama-sama menghasilkan sesuatu dari pekerjaannya, begitulah semangat spiritualitas yang saya rasakan.
Mengingat sebuah komitmen, saya terpana melihat cara hidup para rahib di Rawaseneng ini. Siapa yang menyangka mereka betah tinggal di situ sampai rambut memutih, bahkan sampai napas terakhir. Tapi itulah komitmen, selalu mengandung sebuah keteguhan hati. Keteguhan hati semakin menjadi kenyataan dengan berjalannya waktu dalam sebuah proses. Terkadang saya sendiri terlalu mengutamakan tujuan akhir dalam bertindak sehingga mengesampingkan proses. Akibatnya, saya sering kehilangan keteguhan hati. Saya mudah terombang-ambingkan berbagai macam pilihan sehingga jatuh dalam kebingungan. Saya sering berpikir, berkomitmen memang mudah karena tinggal hanya diucapkan saja, tetapi sangat sulit dilakukan secara konkret. Namun kesulitan bukan untuk dihindarkan, melainkan untuk dihadapi secara mantap! Lalu apa yang akan selalu membuat keteguhan hati menjadi mantap? Saya rasa rahasia itu terdapat di dalam keheningan yang dijalankan Ordo Trappist ini.
Bagi saya yang menghayati keheningan selama retret, saya menjadi terlepas dari ketidaksadaran kehidupan sehari-hari akan Allah, menjadi sadar akan Allah yang benar-benar hadir dalam setiap kehidupan yang saya jalani. Dalam arti, terdapat suatu refleksi akan hidup yang baru saja saya jalani. Tanpa refleksi, tak mungkin saya menyadari bahwa diri saya telah melakukan apa yang salah/ keliru di mata Tuhan. Refleksi membuat saya mengambil jarak terhadap kehidupan sehari-hari, dan mulai merasakan riak bisikan Allah di dalam diri. Untuk mendengar suara Allah terkadang kita harus menutup telinga dengan memasangkan kerudung hitam Trappist di kepala, agar ”suara-suara ramai” yang mengganggu tidak terdengar. Tetapi juga sampai kapan kita bertahan untuk tidak mendengar suara-suara ramai itu, hingga rambut pun tak lagi hitam, terpulang pada sejauh mana keteguhan hati menghayati keheningan dalam mengalami perjumpaan dengan Allah.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress