Multi Level Marketing
Life style dalam belief system yang lahir dari pergumulan jaman ini.
refleksi teologis terhadap sebuah gaya hidup budaya populer
Oleh: Raharjo Widhipangreksa
1. Pendahuluan
Dalam masyarakat modern, beberapa komunitas berusaha membangun identitas dalam gaya hidupnya dan meningkatkan popularitasnya. Tulisan ini merupakan refleksi dari pengalaman pribadi dalam berjumpa dan bergaul bersama dengan beberapa orang dari komunitas Multi Level Marketing (MLM) yang terus berupaya mempopulerkan gaya hidup (life style) yang direkayasa dengan nilai-nilai yang diyakininya kepada masyarakat.
Gaya hidup dalam komunitas MLM sangat khas bahkan ada fenomena “misi” yang berusaha menumbuhkan keyakinan diri pada setiap orang (prospect). Hal ini memancing tanggapan dari sebagian agamawan atau moralis dengan kritik dan koreksi terhadap manipulasi gaya hidupnya: “Di balik gaya hidup yang menarik itu sebenarnya sistem MLM ini tidak etis dan tidak sejalan dengan iman agama yang benar”. Sekalipun begitu , komunitas ini sama sekali tidak mau dilihat bertentangan dengan agama yang ada . Para pelaku bisnis ini nampaknya tetap yakin bahwa nilai-nilai yang menjiwai MLM adalah kepedulian, kasih dan kebenaran. Mungkinkah para pebisnis MLM sebenarnya memahami dan peduli tentang Allah dan menjalani bisnis ini dalam terang iman agamanya secara baru?
Tinjauan dan analisa dalam tulisan ini bukan merupakan penilaian etis terhadap sistem bisnis MLM, hal ini dengan pertimbangan dan pengakuan atas keterbatasan / ketidak-mampuan diri untuk menghidupi nilai-nilai seperti yang dianut komunitas inti MLM. yang hidupnya sudah benar-benar percaya dan bergantung dalam sistem MLM yang diikutinya, sebagai sumber penghidupan dan aktualisasi pribadinya. Namun akan ditinjau ungkapan- ungkapan pergumulan manusia di balik fenomena MLM, yang nampaknya menyiratkan teologia masyarakat jaman ini, kemudian mencoba memahaminya sebagai jalan masuk untuk membangun teologia Kristen yang kontekstual.
Pendekatan tulisan ini memahami MLM sebagai gaya hidup komunitas yang dibentuk oleh belief system. Bagaimana mereka mampu eksis dan berkembang dalam MLM, khususnya bagaimana belief system MLM bekerja dalam pergumulannya? Nampaknya belief system ini mirip dengan bangunan iman dalam bentuk sebuah model “agama”. MLM juga akan ditinjau sebagai respons masyarakat yang lahir dari kebutuhan spiritualitas yang ada dalam konteks pergumulan jaman ini. Mungkinkah belief system MLM telah menjadi alternatif model transformasi untuk penyelesaian pergumulan hidup dalam ranah nyata, yang isomorfis dengan ranah ajaran tradisi iman agamanya? Kemudian analisa tersebut akan membawa kepada refleksi teologis bagi iman Kristen dan gereja untuk berdialog dengan fenomena “agama MLM”.
2. Gaya hidup rasional sebagai hasil pergumulan jaman ini
Gaya hidup adalah pola-pola tindakan khas yang juga berfungsi dalam interaksi sebagai ciri-ciri masyarakat modern. Identitas dibentuk dalam sikap, nilai, cita-cita dan cita rasa yang merupakan karakteristik kelompok sosial. Gaya hidup merupakan seperangkat praktek masuk akal sebagai tanggapan terhadap konteks tertentu . Salah satu konteks masyarakat modern adalah ekonomi, yang merupakan pilar kehidupan yang vital bagi setiap orang. Menghadapi pergumulan ini maka masyarakat modern telah mengembangkan gaya hidup yang bukan sekedar menahan diri terhadap konsumsi namun sebaliknya secara kreatif sebuah gaya hidup konsumsi justru dijadikan sistem yang berusaha menjawab kebutuhan ketersediaan finansial.
Sementara populasi manusia terus menerus bertambah, agaknya manusia modern telah menemukan pola ekonomi pengembangan jaringan yang berusaha menemukan relevansinya dengan konteks perkembangan populasi manusia. Demikian juga tuntutan keahlian yang tinggi sebagai syarat memperoleh pekerjaan karena semakin pesatnya ilmu dan teknologi, hanya mampu dipenuhi segelintir orang saja. Sehingga ini memicu pencarian alternatif pekerjaan yang tidak membutuhkan persyaratan akademis. Di sisi lain kesempatan memperoleh pendidikan sekolah sangat terbatas karena biaya yang tinggi bahkan biaya sekolah meningkat dengan jenjang pendidikan semakin panjang, hal ini juga menjadi pergumulan sebagai konteks masyarakat jaman ini. Sehingga pola pendidikan praktis yang ringkas dan langsung mendapat kerja yang menghasilkan (learning by doing) menjadi dambaan banyak orang.
Ekonomi telah menjadi pergumulan universal masyarakat jaman ini sehingga bisnis menjadi penting. Namun dunia selalu berubah, apalagi dalam bisnis tidak ada yang mampu memastikan kelangsungan bisnis yang abadi. Perubahan gaya hidup sangat mempengaruhi perekonomian dan perubahan dapat terjadi begitu cepat sehingga mampu merombak tatanan bisnis yang ada. . Dalam konteks masyarakat yang cepat berubah ini, nampaknya bisnis MLM adalah cara cerdas sebagai usaha menjamin kelangsungan dan kesetiaan konsumsi dalam wujud membangun jaringan
Di samping itu, secara kreatif MLM mengusahakan konsumsi produk yang sebagai gaya hidup yang penting. Gaya hidup konsumsi bukan sekadar memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai ekspresi identitas baik sosial maupun personal untuk menciptakan image agar penampilannya lebih dipercaya. Dalam sistem bisnis MLM, gaya hidup yang penuh semangat, salam atau yell-yell khusus, sikap, cara berpakaian dan berbicara mutlak diajarkan. Bahkan dengan gaya mereka berusaha menjadikan hidupnya terintegrasi di manapun mereka berada, gaya hidupnya berusaha konsisten dan mandiri. Lingkungan kerja profesionalnya tidak terpisah dengan lingkungan pergaulannya, di manapun mereka berada tetap menyandang status bisnisnya.
Mungkin juga nampaknya di tengah gejolak penyelewengan kekuasaan politik seperti korupsi, kolusi dan nepotisme ini, masyarakat mendambakan persaingan bisnis yang lebih jelas, tegas sehingga mampu mereduksi kesewenang-wenangan penguasa dan menekan kemungkinan korupsi, kolusi dan nepotisme . Masyarakat modern telah mengutak-atik kreatifitasnya sehingga lahirlah sistem bisnis MLM.
MLM merupakan hasil budaya masyarakat modern menghadapi pergumulan jaman ini yang dipopulerkan dan dipasarkan secara kreatif untuk mendatangkan profit, ditujukan bagi massa publik konsumen. MLM tersebar secara global, menembus batas-batas geografis, bahasa dan perbedaan-perbedaan primordial maupun sosial.
3. Belief Sistem yang menjawab pergumulan
Gaya hidup dapat dipandang sebagai suatu ekspresi dari ideologi, sikap, nilai-nilai atau iman (belief). Sehingga ekspresi kehidupan beriman (belief) atau moralitas juga berkaitan dengan gaya hidup. Sebaliknya, pengaruh budaya populer juga mampu menciptakan belief system dalam kemasan tertentu yang dapat lebih diterima secara universal. Modernisasi memberikan pengaruh kuat pada kehidupan spiritualitas, dan mewarnainya dengan pemahaman yang muncul dalam budaya mutahir. Spiritualitas dibangun dengan seperangkat harapan yang merupakan bentuk usaha pengendalian hidup terhadap ketidak-pastian sosial dalam pergumulannya.
Menjalani gaya hidup MLM bukanlah tanpa pergumulan. Disamping pergumulan hidup secara umum, sistem bisnisnya sendiri sering dipermasalahkan. Sejak saat pertama berafiliasi, mereka perlu belajar memiliki keyakinan (belief) untuk bertahan bahkan bertumbuh dalam MLM. Tentunya mereka akan berhadapan dengan banyak resistensi baik dari dalam diri maupun resistensi dari orang-orang / “prospek” yang dijumpainya. Sekalipun berhadapan dengan banyak kritik bahkan rasa antipati terhadap sistem ini, nampaknya mereka yang “berhasil”, telah mampu membuktikan nilai kebenaran gaya hidup MLM.
Gaya hidup MLM adalah produk budaya yang memiliki seperangkat “bahasa” spiritual yang berfungsi mengarahkan identitas kehidupan kelompoknya dalam status masyarakat modern. Dalam bahasa ini pemahaman spiritualitas mereka dibawa dan dimotivasi dalam cita rasa tertentu kemudian menjadi semacam “agama” baru. Mereka membentuk komunitas dengan belief system dalam perayaan-perayaannya (seminar motivasi) dan melalui ciri-ciri gaya hidupnya itu, mereka dikenali .
Dalam menghadapi pergumulan hidup dengan situasi yang kompleks, manusia membutuhkan pemahaman belief untuk mendukung penentuan tindakan yang diambil. Sering kali agama yang dianut seseorang hanya dapat berfungsi memberikan arahan, yang sifatnya tidak begitu jelas dan persis sesuai dengan konteks pergumulan kompleks jaman ini. Sedangkan di jaman serba instant ini nampaknya ada kebutuhan akan spiritualitas yang dapat menjadi acuan praktis untuk menentukan tindakan secara akurat, jelas, tegas dan effisien . Masalahnya kitab suci sebagai sumber acuan agama yang dianut adalah produk budaya masa lalu, sehingga tidak aplikatif secara langsung dan akurat dalam konteks pergumulan saat ini. Sementara itu, masyarakat modern secara kreatif telah mencoba membangun belief system dalam konteks jaman ini seperti halnya yang terwujud dalam sistem bisnis MLM.
Dalam belief system ini, jiwa dari bisnis MLM ditumbuhkan dengan memberi motivasi dan pembekalan yang akan membangun kepribadian dalam gaya hidup sebagai aktualisasi diri. Belief system dikelola dengan sebaik-baiknya dalam “liturgi ibadah MLM” seminar motivasi, dengan “kitab suci” buku-buku bacaan wajib yang ditulis “rasul MLM” tentang konsep kebenaran “iman MLM”. Ada semacam “panggilan pertobatan” dengan upaya transformasi pola pikir yang dikelola dalam belief system supaya mereka menghidupinya. Nilai tujuan hidup “keselamatan dan damai sejahtera Allah” diidentikkan dengan tujuan hidup “kesejahteraan” yaitu memperoleh “kebebasan finansial”.
Pergumulan ekonomi yang kompleks dalam kehidupan nyata, dapat dipahami dengan pendekatan yang ditawarkan MLM. Di dalamnya belief system dibangun dengan prosedur pemahaman sebagai model transformasi. Rekayasa penyederhanaan rumusan masalah dilakukan dengan memetakannya pada sebuah model sehingga mudah dipahami. Dengan aturan dan nilai-nilainya, maka model ini dapat menuntun langkah untuk menyederhanakan masalah yang dihadapi dalam berbagai macam pergumulan hidup. Yaitu dengan memetakannya dalam kerangka berpikir spiritualitas MLM yang lebih ringkas, jelas dan berkaitan langsung dengan sikap hidup. Dengan kata lain model transformasi dalam belief system MLM adalah sebuah katalisator yang mempermudah dan mempercepat pemahaman hidup untuk pergumulan (perekonomian) manusia jaman ini.
Tentunya sistem ini tidaklah sempurna, sebagaimana ada banyak kritik tajam, sikap antipati bahkan himbauan untuk menghentikannya . Namun demikian, layak diakui bahwa belief system MLM cukup positif dalam membangun pribadi yang mandiri dengan pola berpikir yang tangguh dalam menghadapi pergumulan secara bertanggung jawab . Keberhasilan para pebisnis MLM tidak akan pernah tercapai tanpa terlebih dahulu membangun “spiritualitas” dan menjaga kepribadian mereka. Sebab apa yang mereka tawarkan lebih ditentukan oleh kepercayaan, trustworthiness yang dibangun. Bukan hanya sekedar direct selling dengan kualitas produk yang istimewa, tetapi mereka lebih menekankan nilai kehidupan yang sedang mereka bangun bersama dalam belief systemnya.
4. Iman Kristen diterjemahkan dalam pergumulan jaman ini
Sumber pemahaman iman Kristen yang utama adalah Alkitab. Namun untuk memahaminya tidaklah mudah menentukan secara pasti apa maksud dari bacaan Alkitab. Itulah sebabnya pada umumnya pemahaman umat Kristen lebih bergantung pada penafsiran para pengkotbah. Salah satu contoh ayat-ayat Alkitab tentang hal mengumpulkan harta yang tidak mudah dipahami apalagi diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan adalah
Matius 6 :19-24
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Perikop ini dapat ditafsirkan untuk mendukung nilai-nilai yang dijunjung dalam komunitas MLM . Dalam konteks pemahaman jaman ini, di mana semua orang mengakui kebutuhan akan uang, rasanya pemahaman perikop ini punya kaitan yang signifikan, namun maksud pesannya memang tidak begitu jelas. MLM telah menawarkan sarana pemahaman konsep iman ini dalam belief system yang berkaitan dengan pergumulan hidup yang nyata .
Perintahnya adalah “kumpulkanlah bagimu harta disurga!”. Apa yang dimaksud dengan harta disurga? Sedangkan di surga rasanya tidak akan ada uang. Mungkin lebih masuk akal bahwa yang dimaksud harta surgawi adalah juga yang mewujud di dunia ini. Harta surgawi maksudnya adalah harta yang tidak bisa rusak oleh ngegat dan karat juga tidak bisa dicuri. Walaupun dirampok habis, harta surgawi masih ada, tetap abadi. Inilah yang dipahami oleh komunitas MLM dengan memiliki sistem yang bekerja bagi kita, dengan membangun jaringan bisnis atau menanam modal (uang) investasi . Harta surgawi ditafsirkan sebagai jaringan yang akan memberi dana abadi dengan kebebasan finansial. Perintahnya adalah kumpulkanlah , jika gagal berbisnis coba lagi, jika hilang cari lagi dan kumpulkan.
Manusia tidak bisa mengabdi kepada Allah dan Mamon (uang), Jika begitu maka ia akan mengasihi yang satu dan membenci yang lain. Mungkin ini dapat ditafsirkan sebagai orang yang munafik dengan bergaya membenci uang. Padahal setiap orang di jaman ini butuh uang, rasanya tidak realistis jika membenci uang. Jadi mengabdi pada Allah, dengan mata yang terang secara jujur yaitu mengakui kebutuhan manusia akan uang. Mata yang terang yaitu memperhatikan sesama dan melihat prospek untuk mengupayakan bersama-sama (membentuk jaringan) terwujudnya kesejahteraan. Dengan demikian Mamon sudah ditaklukan dalam sistem MLM sebab “uang bekerja untuk manusia, bukan manusia bekerja untuk uang”. Mamon bukan dihindari tapi digunakan untuk mengabdi pada Allah.
Mungkin contoh di atas menggambarkan pemahaman yang ditawarkan MLM. Belief yang dibangun MLM lebih mudah dimengerti karena sesuai dengan konteks pergumulan saat ini jika dibandingkan bunyi ayat-ayat alkitab dalam Matius 6 :19-24 tentang mengumpulkan harta di surga. Dapat dipahami bahwa MLM lebih mampu mengutak-atik belief systemnya untuk kesesuaian yang diharapkan, karena lahirnya memang dalam pergumulan masa kini. Bahkan dengan belief system MLM, juga telah menyediakan sarana untuk mengekspresikan imannya, dan mempraktekannya dalam wujud nyata, yaitu membangun jaringan. Kehadiran gereja dalam masyarakat rasanya memang perlu berdialog dengan belief system ini dan melihat pergumulan teologis yang ada di baliknya dalam konteks ekonomi dan budaya populer yang sangat vital bagi kehidupan jemaat bahkan bagi seluruh umat manusia.
5. Tanggapan teologis terhadap belief system MLM.
Teologi perlu peka dan terus belajar dari tantangan budaya yang dihadapi seiring dengan berubahnya iklim intelektual. Masyarakat modern secara kreatif telah membangun agama implisit, yang membentuk komunitas dengan belief system dan nilai-nilai moralnya dalam kemasan yang up-to-date, yang diantaranya adalah MLM. Gap antara belief MLM dengan tradisi iman Kristen memang disadari oleh gereja. Namun mengubah sistem jaringan sebagai daya tarik yang unik dalam bisnis MLM itu menjadi sesuai dengan christian landscape rasanya kurang realistis. Sayang rasanya, jika reaksi gereja hanya berfungsi sebagai alat penilaian bahwa sistem ini “tidak etis”. Bahkan sebenarnya sikap teologisnya sebatas himbauan untuk melawan, menghentikan budaya populer MLM . Reaksi ini nampaknya sekedar berusaha melawan popularitas dan pengaruh yang terus bertumbuh dari ilmu pengetahuan dan semacam “filosofi” sekular yang praktis. Jika begitu, walaupun dikemas dengan dialog tinjauan etis, sikap ini tidak begitu jauh berbeda polanya dengan pendekatan apologetik yang pada dasarnya adalah cara taktis untuk menarik dan membatasi diri. Padahal teologi dapat juga belajar dari perkembangan pola pikir masyarakat di balik budaya MLM itu.
Dalam menghadapi perubahan budaya, maka gereja perlu berusaha menyusun sebuah landasan teologi baru yang sesuai. Sehingga ekspresi iman Kristen menjadi akomodatif terhadap pergumulan jaman ini. Ekspresi iman Kristen dapat dilihat sebagai sebuah sistem budaya “berbahasa” yaitu semacam tata cara pembahasaan sebuah spiritualitas. Bahasa adalah sarana mengekspresikan diri. Namun “kosakata” di dalam suatu bahasa akan terus bertambah sesuai dengan perkembangan budaya dan bahkan juga bisa terjadi pergeseran makna. Pola-pola pembinaan rohani hendaknya dikembangkan dengan “kosakata” yang juga menyentuh pergumulan fisik yang nyata dalam masyarakat. Perkembangan budaya itu dapat menjadi kosakata ekspresi iman Kristen. Bahkan gereja tidak perlu rigid untuk bersama berdialog, mendukung serta mengarahkan pengembangan bisnis jemaat dengan pembinaan spiritualitas bisnis.
Gereja juga dapat mengusahakan agar sistem dalam MLM berjalan beriringan dengan kebenaran Kristus. Jemaat yang telah menghidupi spiritualitas bisnis MLM, bukanlah musuh yang harus dihentikan bisnisnya. Bisnis ini dapat dipandang perannya sebagai Katalisator yang mempercepat kesiapan jemaat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Semangat hidupnya dapat terbentuk melalui MLM, bahkan dalam kondisi kebebasan finansial, ada banyak kesempatan untuk mewujudkan “damai sejahtera Allah”. Sebab dalam kondisi ekonomi yang buruk, perhatian hanya akan tersedot pada hal-hal yang emergency sehingga sulit untuk diajak berwacana. Rasanya masih mungkin untuk membina kesadaran dan kehendak bebas pebisnis MLM yang berhasil untuk menggunakan kebebasan finansialnya bagi kemanusiaan. Proyek kemanusiaan ini bukan hal baru untuk membangun citra suatu bisnis. Komitmen bisnis dibangun dengan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Sehingga mereka bertanggung jawab juga pada lingkungan sosial dan lingkungan alam, secara seimbang.
Misi gereja ditantang untuk berdialog dengan belief system MLM agar kehendak bebas dapat ditumbuhkan bukan hanya secara korporat tapi juga pelaku bisnis MLM secara pribadi lepas dari sistem bisnisnya. Sehingga tradisi iman Kristen dan belief system dalam komunitas budaya MLM dapat saling belajar, saling mengoreksi, dan saling memperlengkapi untuk membangun bersama kebaikan bagi setiap orang dan menolong mereka yang menderita. Gereja juga perlu mengembangkan teologi ekonomi jemaat yang mengarah kepada pembinaan dan pembekalan spiritualitas untuk maju, berjuang dan bertanggung jawab dalam karier ataupun bisnis. Perlu dipikirkan bentuk misi terhadap kebutuhan masyarakat jaman dengan pergumulan ekonomi yang kompleks. Belief system MLM tidak semata-mata dipandang sebagai sumber nilai-nilai yang bertentangan dengan iman Kristen, namun juga sebagai sumber metode berteologi atau menjadi alat untuk mengekspresikan iman Kristen secara baru, kreatif, dan praktis untuk membangun kesejahteraan masyarakat di dalam kesadaran kehendak bebasnya.
Daftar Buku Referensi
Budiman, Hikmat
2002 Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Chaney, David
2004 Lifesstyle: sebuah pengantar komprehensif terj Nueaeni. Yogyakarta : Jalasutra
Grote, Jim & john McGeeney
2006 Cerdik seperti Ular, Etika Bisnis dan Politik Kantor, Yogyakarta: Kanisius
Hill, Allexander
2001 Bisnis yang Benar, Etika Kristen dalam Dunia Bisnis, Bandung: Yayasan Kalam Hidup
Kiyosaki, Robert T
2002 The Cashflow Quadrant, Jakarta: Gramedia
Life@Work Co
2000 Enam Belas Pemimpin Ternama Berbicara Tentang Keunggulan Dalam Berbinis.
Niebuhr, H Ricard
1975 Christ and Culture New York : Harper & Row
Romanowski, William D
2001 Eyes Wide Open: Looking for Godin Popular Culture Grand Rapid: Brazos Press
Agama dilihat sebagai kerangka budaya berbahasa sebagai alat untuk membentuk pola pikir manusia atau bahkan keseluruhan cara hidup. Agama bukan kepercayaan tentang kebenaran dan kebaikan, atau hanya sekedar ekspresi simbolis saja. Tetapi agama dilihat sebagai sebuah fungsi idiom untuk mendeskripsikan kenyataan dan merumuskan kepercayaan, juga ekspresi karakter dan perasaan yang sentimental.
TEOLOGI
salam
Tema sangat menarik. Banyak orang yakin bisnis MLM mendorong nilai tambah keluarga,sekaligus membentuk etos kerja yang memanfaatkan setiap jengkal waktu. Menurut mereka etos ini searah dengan nilai-nilai kristen.
Sayang penjabarannya berliku-liku, seperti pada pendahuluan mengulang-ulang kalimat dengan makna yang sama. Tapi saya berterimakasih kepada saudara Raharjo yang sudah menlis tema menarik ini. Semoga anda mau menulis terus. GBU
R.vensla
Frankfurt
Comment by r.vensla — September 24, 2008 @ 2:50 am