Studi Mazmur 2:11
Karya: Iswanto
Pendahuluan
Kitab mazmur merupakan salah satu kitab yang populer di tengah-tengah kehidupan jemaat. Selain mudah ditemukan dan enak dibaca, kita juga sering mendengarkan lagu-lagu pujian, baik dalam ibadah maupun kaset-kaset rohani, yang bait-baitnya merupakan kutipan dari kitab Mazmur. Ini menunjukkan bahwa kitab Mazmur selain populer juga mempunyai tempat yang penting dalam ibadah kita, baik ibadah secara umum maupun pribadi. Tetapi tulisan ini bukan hendak membahas kita Mazmur itu sendiri secara luas dan umum, melainkan hanya memfokuskan diri pada pembahasan tertentu. Pembahasan kita berangkat dari kitab Mazmur 2:11, secara lebih khusus pada frase kedua, dan tulisan-tulisan ini hendak membahas hal-hal yang berkaitan dengan terjemahan maupun penafsiran yang ada sehubungan dengan ayat tersebut dan pada relevansi teologis merupakan bagian akhir dari tulisan ini.
Mazmur 2:11
Teks ibrani dalam Mazmur 2:11 seperti yang tercetak dalam Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS) adalah sebagai berikut :
……………………..
Diterjemahkan oleh TB dan BIS LAI sebagai berikut :
Beribadah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar (TB) Berbaktilah kepada Tuhan dengan takwa, sujudlah di hadapanNya dengan gemetar (BIS)
Dua versi terjemahan bahasa INDonesia diatas terkesan mempunyai arti yang sepadan satu sama lain, teapi jika kita bandingkan dengan terjemahan harfiah teks Ibrani diatas kita akan menemukan sedikit perbedaan terutama pada frase kedua kalimat Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan bersukacitalah dengan gemetar. Sebelum membahas lebih lanjut kita juga akan memperhatikan beberapa terjemahan dalam versi bahasa Inggris :
KJV : Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling
ASV : Serve Jehovah with fear, and rejoice with trembling
NIV : Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling
NIB : Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling
RSV : Serve the LORD with fear, with trembling
BBE : Give worship to the LORd with fear, kissing his feet and giving him honour
Dari beberapa terjemahan versi bahasa Inggris diatas, kita menemukan hanya terjemahan versi The Bible in Basic English saja yang tampaknya lebih dekat dengan terjemahan versi Indonesia. Perbedaan terjemahan Indonesia dengan kebanyakan terjemahan lainnya tentu dengan maksud dan alasan tertentu. Untuk menganalisa perbedaan tersebut maka kita perlu memperhatikan kata ……………. (kata kerja qal imperative maskulin jamak) dengan memperhatikan terjemahan konkordan kata tersebut.
Frase …………..
Kata …………. merupakan kata kerja yang berasal dari akar kata ……….kata dasar ini, selain bisa diartikan bersukacita rejoice paling tidak mempunyai makna yang bermacam-macam seperti : hidup/live, menyembah/worship, menjadi takut be afraid. Dalam bentuk kata benda kata ……….muncul tiga kali yaitu dalam Ayub 3:22, Amsal 22:24, dan Hosea 9:1, baik LAI maupun terjemahan lainnya menerjemahkan dengan sukacita atapun kegembiraan. Sedang kata ……. selain dalam Mazmur 2:11, kata ini sendiri dalam Alkitab Ibrani setidaknya muncul tiga kali yaitu dalam Mazmur 32:11, Yesaya 65:18, dan Yesaya 66:10 dimana ketiga ayat tersebut menunjukkan sukacita manusia atas karya Tuhan. Baik terjemahan Indonesia maupun Inggris memberikan terjemahan dengan arti sukacita kepada tiga ayat diatas sedangkan kata “dengan gemetar” …………. berasal dari kata dasar …………….. dalam Keluaran 15:15 penduduk Kanaan gemetar ………… mendengar karya Allah, orang-orang kafir gentar …………… menyaksikan keagungan Sion (Maz. 48:7), orang-orang berdosa diliputi kegentaran …….. berada dekat kehadiran Allah.
Maka jika kita konsisten dengan terjemahan harfiah yang konkordan tentulah terjemahan frase kedua ayat 11 haruslah “bersukacitalah dengan gemetar” tetapi tentunya para penerjemah TB LAI mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam bekerja dan terjemahan yang dihasilkan tersebut. Jika kita memperhatikan frase pertama ayat 11 “Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut” memang secara logis akan sulit jika hal tersebut langsung dikaitkan dengan perintah “bersukacitalah dengan gementar” karena bagaimana orang yang “takut” bisa sekaligus disuruh bersukacita. Kesukaan tidak dapat disesuaikan dengan ketakutan terhadap murka Allah. Pedapat ini setidaknya berangkat dari asumsi bahwa ………. pada frase pertama dipandang sebagai ketakutan manusia dalam perjumpaannya dengan Allah. Sebagaimana dalam Ibrani 12:28 perasaan takut timbul karena ada pandangan bahwa Allah adalah api yang menganguskan. Sebagai alternatif kita sebenarnya bisa menerjemahkan kata ………….. dengan kata “hormat”. Menurut Meno Soebagjo istilah “hormat” digunakan untuk mengungkapkan sikap pantas manusia dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan hubungan baiknya yang erat dengan Allah, Tuhan, Yang Illahi, ataupun Dewa. Dengan demikian sebenarnya kita bisa menerjemahkan ayat 11 demikian “beribadahlah kepada Tuhan dengan hormat dan bersukacialah dengan gementar”.
Tetapi yang menjadi permasalahan kita adalah kenapa oleh TB LAI dipakai kata-kata “ciumlah kaki-Nya dengan gemetar”. Apakah frase tersebut merupakan gambaran dari arti harfiah dari bersukacita? Tidak mudah untuk menjawab hal ini. Tentunya kita juga harus memperhatikan catatan Lembaga Biblika Indonesia yang terdapat dalam Alkitab terbitan Ende 1977/1978 tentang ayat 11 “Teks Ibran ayat ini nampaknya rusak. Banyak perbaikan dan terjemahan yang diusulkan para ahli”. Kata-kata ciumlah kakinya sebenarnya dekat dengan kata-kata yang ada pada ayat 12 ……. terjemahan Indonesia ini merubah kata (aram) …… (= anak, atau : yang suci, yakni gulungan kitab Taurat) menjadi “kaki”. Mencium kaki seorang raja sebenarnya merupakan simbol dari penaklukan. Dalam ukiran relief bangsa Syaria menggambarkan sang raja yang menaklukkan bangsa lain, dan sebagai wujud hormat bangsa taklukan tersebut maka para bangsawannya mencium kaki sang raja tersebut sebagai raja baru. Penghormatan ini hendak menunjukkan loyalitas mereka kepada snag raja. Sejajar dengan hal tersebut, hormat kepada “raja di bumi” dihadapan raja Yehuda di Sion menjadi suatu hormat yang ditujukan kepada Yahweh. Jika makna ini yang dipakai dalam ayat 11 terjemahan TB LAI maka memang sewajarnya kalau kata bersukacitalah memang tidak ada kena-mengenanya, jika tetap dipertahankan maka justru akan menimbulkan kebingungan pembacanya. Mana mungkin orang yang kalah perang dan menjadi jajahan bangsa lain bisa disuruh bersukacita.
Kemungkinan lain adalah memaknai frase “ciumlah kaki-Nya dengan gemetar” merupakan perwujudan dari kesukacitaan itu. Frase 11b dianggap mempunyai arti yang sama dengan ayat 12a sehingga hanya perlu diungkapkan satu kali. Berangkat dari konteks masyarakat kerajaan maka mencium kaki raja merupakan suatu kesukacitaan bagi rakyat biasa (dalam hal ini subyek/yang mencium kaki bukanlah orang jajahan atau yang kalah perang melainkan rakyat biasa dari suatu kerajaan) karena raja dianggap sebagai keturunan dewa atau Yang Ilahi. Adalah suatu kehormatan yang luar biasa jika raja berkenan untuk dijamah, dalam hal ini dicium kakinya. Dalam Injil kita juga menemukan peristiwa ini yang hanya terdapat dalam tulisan Lukas ketika seorang perempuan berdosa mengurapi kaki Yesus dan ia mencium kaki-Nya (ini tidak terdapat dalam injil sinoptis maupun Yohanes). Unsur sukacita dalam tindakan mencium kaki Yesus ini tidak bisa dilepaskan dalam kaitannya dengan perikop sebelumnya, dimana para murid Yohanes atas suruhan gurunya menanyakan identitas Yesus. Sebagaimana kutipan Yesaya 61:1-2 yang sebelumnya juga dikemukakan Yesus pada Lukas 4:18-19 Yesus menyatakan identitas-Nya, kemudian Ia mengkritik orang-orang sejaman-Nya yang tidak menerima dan mengenal-Nya. Kemudian perikop pembasuhan dan perempuan yang mencium kaki Yesus muncul. Tentu perempuan berdosa tersebut “diandaikan” telah mengenal identitas Yesus dan apa yang dilakukannya bisa mencerminkan sukacita karena ia bisa menghampiri dan mencium kaki Yesus.
Tetapi bagi pembaca sekarang tentu akan sulit memahami bahwa “ciumlah kaki-Nya dengan gemetar” merupakan gambaran dari suatu ekspresi sukacita. Dalam konteks sekarang mungkin gambaran mencium kaki lebih merupakan tindakan merendahkan diri (baik atas kemauan sendiri ataupun paksaan orang lain). Apalagi jika ini dikaitkan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan, pembacaan sekilas yang tampak adalah dimensi takut dan hormat saja sedang ekspresi sukacitanya “terdegradasi”. Cona kita perhatikan ayat 11-12a, “beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan…” apalagi jika kita bandingkan dengan terjemahan bahasa Jawa terbitan Kanisius, Yogyakarta 1980 “Ngabdia Yakwe kanthi wedining ati, ngaras pada Dalem mawa getering rasa…” padahal jika kita perhatikan terjemahan harfiah kita diatas tadi setidaknya kita mendengarkan adanya dimensi sukacita dalam ayat 11 ini. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa selalu ada dilema dalam menerjemahkan suatu teks tertentu.
Tafsiran Mazmur 2:11
Dari perbedaan terjemahan yang ada tentu hal tersebut paling tidak juga akan mempengaruhi tafsiran yang akan dihasilkan. Sehubungan dengan Mazmur 2:11 perbedaan terjemahan pada frase kedua ayat tersebut paling tidak juga dikarenakan bagaimana penerjemah/penafsir memperhatikan hubungan antara frase pertama dan kedua, apakah itu merupakan pengulangan pikiran yang sama memakai dua kumpulan kata-kata yang berbeda tetapi berhubungan erat (A = B) ataukah frase kedua merupakan perlawanan dari frase pertama (A ? B).
Para penafsir yang mempertahankan frase kedua dengan terjemahan “ciumlah kaki-Nya” memandang hal tersebut sebagai sebuah figurative sense yang hendak menunjukkan suatu penghormatan kepada Tuhan sebagaimana ungkapan Weiser “… is applied to God in a truly human fashion and probably derived from the costum of kissing the foot of the king as an act of homage”. Hal ini dilihat dalam kesejajarannya dengan frasepertama, sehingga frase pertama dan kedua jika kita tempatkan dalam koteks ibadah akan lebih berarti sebagai suatu ibadah yang kidmat, dalam hal ini nuansa sukacitanya terduksi. Penafsiran ini dilandaskan bahwa mazmur ini ditujnjukkan pada raja-raja tahlukan (2:10) dengan memperhatikan bahwa ayat ini merupakan bagian dari Mazmur raja, yang dibacakan dalam penobatan suatu raja Israel. Biasanya apabila ada pergantian tahta raja-raja tahlukan mengadakan permufakatan untuk memberontak. Kepada merekalah seruan (imperative) ini ditujukan, yaitu agar mereka tahluk dan menundukkan diri kepada sang raja baru tersebut.
Tetapi para penafsir yang mempertahankan frase kedua dengan “bersukacitalah dengan gemetar” setidaknya mempunyai pendapat yang berbeda dengan kesimpulan di atas. Sukacita dilihat sebagai suatu menaifestasi dari kegembiraan dan penghargaan karena Allah berkenan untuk menjadikan mereka pelayan-Nya. Disini setidaknya dipertahankan ketegangan dalam frase pertama dengan frase kedua. Seruan “bersukacitalah dengan gemetar” mau mengungkapkan sekaligus kegembiraan seseorang yang mengabdi kepada Tuhan, Allah Israel, dan kegentaran seorang yang menolak-Nya.
Ketegangan antara takut dan sukacita ini diungkapkan sebagai hal yang saling mengisi sebagaimana pendapat Spurgeon “a sacred copund, there must ever be a holy fear mixed with the Christian joy. Fear, without joy is torment; and joy without holy fear would be presumtion”. Tetapi jika kita memakai terjemahan “beribadahlah kepada Tuhan dnegan hormat dan bersukacitalah dengan gemetar” dan memaknai hormat tersebut sebagaimana uraian Meno Soebagjo, maka sebenarnya yang ada bukanlah “takut” akan kehadiran Allah yang dianggap dapat menghanguskan orang, melainkan suatu sikap pantas yang juga diimbangi dengan sukacita. Dan bila kita menempatkannya dalam konteks ibadah cukup menarik bahwa ada aspek kidmatnya, sebagai ungkapan dari hormat tetapi juga sekaligus ada tempat bagi ekspresi sukacita.
Beribadah dengan kidmat sekaligus bersukacita
Sementara ini (atau bahkan mungkin sudah lama), gereja-gereja mainstream dalam ibadahnya dikritik oleh sebagian orang sebagai ibadah yang kaku, sebaliknya juga gereja-gereja kharismatis juga dianggap dalam ibadah mereka hanya menekankan aspek emosional saja dan kurang memberi perhatian pada aspek rasionalitas dalam ibadah mereka, tepatkah kritik itu? Tentu diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut tentang hal, tetapi kita juga tidak seharusnya mengabaikannya. Dalam suatu ibadah PA, ada seorang dosen yang menegur para mahasiswa yang secara pontanitas mengisi pada acara ibadah PA tersebut. Ini memang setidaknya mengasumsikan bahwa ibadah itu haruslah kidmad dan khusuk, kita juga bisa memaklumi ini sebagai suatu pola pikir budaya tertentu dalam memandang ibadah. Tetapi jika kita perhatikan ungkapan pemazmur 2:11 dalam konteks ibadah maka justru ibadah haruslah ada dua unsur itu sekaligus. Ketika ibadah kita pahami sebagai perayaan kehadiran Allaht entu hal tersebut membuat kita hormat kepada-Nya sekaligus bersukacita karena Dia berkenan menghampiri kita. Demikian pula dalam ibadah kita saat ini tentu juga harus memuat dua aspek tersebut. Spontanitas terkadang juga merupakan ungkapan sukacita tersendiri, walaupun memang harus diperhatikan muatannya, dan memang hal itu selayaknya mendapat tempat dalam ibadah kita. Tetapi ini bukan berarti mengharuskan ibadah gereja-gereja “main stream” menjadi ibadah yang kharismatis atuapun sebaliknya, yang kharismatis menjadi “mainstream”. Melainkan bagaimana dimensi misteri dari ibadah tersebut tetap menjadi bagian dalam ibadah kita. Misteri dimana kita bisa sekaligus tunduk hormat dan bersukacia dihadapan Allah dan misteri dimana Allah yang Maha Kudus berkenan menemui umat-Nya untuk bersekutu bersama. Dan bagaimana menempatkan misteri tersebut dalam ibadah kita, tentu juga merupakan pergumulan kita bersama dalam hidup bergereja.
TEOLOGI