EROS = Asmara (LAI)
Martin K. Nugroho
Pertanyaan:
Siapa yang paling seksi diruangan ini? Mungkin dengan mudah kita menyebutkannya dalam hati atau berkata “Hapus! Hapus! Cukup!” sebagai upaya mencegah pikiran yang melayang “nggak fokus, deh!”
Sejauh mana perilaku seksual yang Anda perhatikan tengah terjadi disekeliling Anda?
• Dalam lingkungan kerja/perkuliahan
• Dalam lingkungan Gereja
• Dalam keluarga Anda
Jika sepintas lalu Anda konsensus, maka perilaku dominan (pos/neg)?
Pandangan Anda tentang Seksualitas? Tentang Gairah–Nafsu–Dorongan seksual ?
Pandangan tentang Seksualitas:
Seksualitas menurut ajaran gereja? Manakah yang lebih banyak kita dengar? Gereja mengklaim secara ketat dengan perintah “Jangan berzinah” lalu oleh Matius 5:27-28. “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. (28) Tetapi Aku (Yesus) berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”. Dengan kata lain bahwa kita semua “pernah” berzinah.
Sekarang kita telusuri kata Eros dalam Alkitab? Eros tidak terdapat pada kitab Perjanjian Baru. Amsal 7:1-27, perhatikan kata eroti pada ayat 18.
Kata “tak berpengalaman” pada ay.7 dapat dipakai sebagai landasan bahwa setiap orang haruslah bertumbuh dan berkembang (mengalami perubahan/pertobatan yang cukup stabil). Dalam hal ini ditekankan tentang kematangan seksualitas: Bahwa seseorang dapat mengendalikan dorongan-gairah seksual atau nafsu birahinya. Apa yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan?
1. Menghindari hal-hal yang dapat memacu libido (rangsangan nafsu) adalah baik namun bukan semata-mata menghindari / menjauhi, ingat resikonya bahwa bisa jadi tidak siap ketika secara mendadak harus berhadapan dengan gairah seksual kita sendiri yang terangsang oleh stimulasi dari luar: TV, majalah, internet. Anda harus sadar benar penyebab mengapa Anda menghindar: pemikiran tentang seksualitas = tabu bisa saja berdampak kurang baik pada masa depan kehidupan seksualitas keluarga. Haruslah disadari bahwa eros atau dorongan seksualitas diciptakan Tuhan dengan tujuan yang mulia adanya, sehingga perlu mengarahkan dorongan seksual ini secara positif, yaitu bukan dengan jalan menghindari saja namun membatasi diri dengan sumber-sumber yang sehat dan bertanggung jawab, misalnya: buku-buku seksologi rohani, pendidikan seks, atau psikologi “Selamatkan pernikahan Anda, sebelum pernikahan itu dimulai” (walau umumnya malu jika dipergoki teman sedang membaca buku seksualitas).
2. Sebaliknya juga bukan berarti menantang diri dengan sengaja. Karena bagaimana .Anda tahu bahwa diri Anda sudah siap menghadapi diri Anda sendiri? Di satu sisi kita tidak perlu menghindari secara berlebihan, mis: disodori teman kita buku porno, disisi lain kita juga tidak mencari buku porno itu dengan sengaja. Ketika rangsangan datang bersama dengan apa yang sedang kita hadapi (yaitu buku porno itu) maka merupakan kesempatan baik bagi kita untuk mengukur kemampuan kita dalam mengendalikan libido pada tubuh kita secara utuh.
Apa yang dimaksud dengan terkendali? Yang jelas Anda tahu bahwa Anda sedang terangsang secara seksual, dan Anda yang memutuskan untuk menahan bahkan meredakannya (terutama yang dari dalam), sehingga menjadi tuan atas eros Anda.
3. Apa yang dapat menjamin “kendali” dalam diri Anda itu? Dimanakah sumber kendali yang paling kokoh? Sepertinya sulit dijawab.
Pertama: : sadarkah bahwa Anda butuh teman, ini berarti bisa siapa saja (keluarga/bukan keluarga, psikiater, sesama jenis maupun bukan sesama jenis / pacar Anda, mereka yang kehidupan seksual-nya sehat ataupun tidak sehat, dari suku yang sama atau berbeda)
Kedua: : Yang terpenting bahwa spiritualitaslah yang menjadi sumber terkokoh dalam mengendalikan diri kita. Mengintegrasikan (men-terpadu-kan) kehidupan spiritual dengan seksualitas, bagaimana caranya? Karena seringkali kita memisahkan antara seksualitas dengan spiritualitas. Kita malu untuk membuka kehidupan seksual kita dihadapan Tuhan (melalui doa)
Ketiga: : Menyatukan kembali kehidupan spiritual dengan kehidupan seksual, karena spiritualitas inilah yang akan memberi jaminan pengendalian. Dengan tetap sadar bahwa ini merupakan tantangan yang berat , karena kita lebih sering mempersalahkan lingkungan yaitu orang-orang disekitar kita ketimbang bercermin untuk memeriksa diri kita. Kita lebih suka menyalahkan media pornografi maupun pornoaksi sebagai lambang kegagalan kita. Jangan pernah menyerah, karena kesanggupan Anda hari ini akan menentukan keseluruhan hidup Anda saat ini dan yang akan datang .
Saya rekomendasikan Anda untuk menonton film tentang Yesus yang berjudul “The Last Temptation of Christ” yang dibuat berdasarkan buku karya Nikos Kazantzakis, “bahwa substansi ganda dalam diri Yesus (100% Manusia dan 100% Ilahi) dihayatinya sebagai misteri yang sulit dan terlalu dalam untuk dipahami. Bersumber pada kesukacitaan dan penderitaan yang terus menerus, menggambarkan peperangan tiada ampun antara roh dan daging yang memakai jiwa saya sebagai medan tempur”. film ini tidak dibuat berdasarkan Injil tetapi merupakan penjelajahan fiksi dari konflik spiritual yang abadi.
Goal! “Memantapkan Spiritualitas dalam Seksualitas”
Racikan Bahan-bahan “Dapur” seputar “EROS”:
Terminologi Teologis;
1. Seks: sebagai kata benda adalah jenis kelamin, pria atau wanita, berkaitan dengan persoalan seksual, nafsu seksual secara biologis . Sebagai kata sifat maka seks adalah berkenaan dengan jenis kelamin atau perbedaan jenis kelamin, berkenaan dengan pendidikan seks. Maka hal-hal yang berkenaan tentang pendidikan seputar perbedaan jenis kelamin tidak hanya seputar seksologi namun juga berkenaan dengan psikologi, sosiologi, juga teologi. Ini berkaitan dengan masalah peranan dari manusia secara utuh.
2. Eros: (Gairah?), mencintai sesuatu, cinta dalam arti ingin, atau bergairah, yang lebih kita kenal dengan kata “Erotis”, sebutan dewa cinta. Eros ditemukan dalam septuaginta yaitu pada Amsal 7:18 dan 30:16 . Eros dalam pembahasan cinta maka akan dikaitkan dengan jasmani atau seks, dan ini berkaitan erat dengan the excess of charity atau pemberian yang berlebihan (gairah cinta), Cinta yang melampaui batas. Disamping itu kita patut mendengar pendapat Denys the Areopagite yang menulis; “This love is not the true love, but an idol or rather a degeneration of authentic love”. Menarik bahwa cinta semacam ini bukanlah cinta sejati, melainkan cinta otentik yang mengalami kemerosotan nilai.
3. Spiritualitas dan keimanan: Menurut saya kedua kata ini bukanlah kata yang asing bagi kita yang berada dilingkungan ke-Kristenan, namun perlu diwaspadai bahwa “kedagingan” yang banyak dijelaskan oleh Paulus dalam surat-suratnya sering kali dipandang terpisah (dikotomis) dengan hal-hal rohani. Pandangan semacam inilah yang menghambat kematangan sisi kedagingan kita, sementara pemahaman kerohanian kita hanya berhasil berperan dalam alam pemikiran dan gagal berperan dalam tingkah laku jasmani (= kedagingan) yang nyata sehari-hari. Pemahaman iman kita hanya merupakan imajinasi dan angan-angan ideal belaka.
4. Masturbasi: Masturbasi adalah salah satu gejala epidemik (terjadi di mana-mana, dalam budaya apapun, dalam segala lapisan masyarakat dan agama manapun) Maka baik atau buruk ? Menurut data yang terkumpul maka jumlah pria yang masturbasi lebih banyak dari wanita, walaupun dapat saja orang-orang yang menjadi sukarelawan penelitian adalah orang yang umumnya mengalami masalah seksual dan cenderung menyerah agar memperoleh pertolongan. Frekuensi masturbasi bertambah bersama dengan tekanan yang dialami oleh jiwa seseorang, bukan berarti masturbasi adalah penyebab tekanan pada jiwa. Sebaliknya adalah akibat dari schizophrenia tahap dini.
Catatan lainnya bahwa menghentikan masturbasi tidak akan berakibat apapun pada diri kita, tidak benar jika ada pendapat yang mengatakan bahwa dorongan seksual seperti “tekanan uap panas” yang siap meledak sewaktu-waktu bila tekanan mencapai titik tertentu. Karena sesungguhnya ketika kita berkata “Ini tak tertahankan” atau “Desakannya terlalu kuat” sesungguhnya diri kita sedang dibodohi oleh badan jasmani kita.
Banyak yang mengatakan bahwa masturbasi adalah onani, setelah membaca Onan dalam Kejadian 38:4-10, sesungguhnya Onan tidak masturbasi tetapi yang dia lakukan adalah coitus interruptus. Yang dipermasalahkan oleh Allah sesungguhnya adalah motif dibalik kelakuannya itu, bukan apa yang dia lakukan. Masturbasi bukan stimulasi oleh orang lain (intrapersonal) melainkan interpersonal. Masturbasi terkait dengan masalah keterasingan atau ketersendirian dan kesepian, sementara tujuan seksualitas adalah membangun kekokohan hubungan. Keduanya adalah sangat bertentangan. Masturbasi bagi Freud adalah “keterlibatan dalam fantasi seksual bawah sadar”, teori tentang odipus (odipus adalah penyebab) belum didukung oleh ahli-ahli terdahulu dan masih butuh waktu untuk mengembangkan.
Pendek kata, para ahli seksologi, filosofi, budaya, psikologi, klinis, teologi mempunyai caranya yang khas untuk membantu seseorang keluar dari belenggu kebiasaan masturbasi. Dengan demikian berikut ini adalah sebuah dalil yang ditawarkan melalui pendekatan teologis bagi kita; yakni: “Sebaiknya Anda berhenti masturbasi jika Anda belum bisa mempertanggung jawabkannya di mata Tuhan” jangan dengarkan suara-suara yang kedengarannya indah seperti: “Kitakan mahluk yang lemah, jadi sesungguhnya ini kan wajar!” maka kita sedang memojokkan spiritualitas dan resikonya bahwa sendi-sendi kehidupan iman kita akan juga digerogoti perlahan-lahan.
Yang bisa kita lakukan ketika “suara-suara negatif itu mulai bergema dalam pikiran kita” adalah menceritakan permasalahan Anda dengan orang yang bisa dipercaya mengarahkannya, tentu ada persiapan / dikomunikasikan sebelumnya, langkah lainnya jika ini gagal maka beri kesempatan Roh Kudus agar mempengaruhi Anda lebih intensif yaitu dengan mengkomunikasikan kepada-Nya.
Untuk apa kita membuang waktu kita sia-sia disudut-sudut ruangan sempit, bukankah waktu juga pemberian Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk bertanggung jawab atasnya? Jangan pernah menyerah pada diri Anda sendiri.
TEOLOGI
Di milis hkbp beberapa tahun lalu dibahas mengenai masturbasi, berdasarkan tesis Pdt DTA. Harahap di STTJ lihat:http://groups.yahoo.com/group/hkbp/message/17149 Diskusinya jadi berpanjang-panjang dan bahkan menjadi olok-olok.. Ringkasnya menurut saya begini, ada jurang yang cukup dalam antara kegiatan akademik dengan tindakan praktis. Meskipun harus tetap dilihat bahwa penggiat akademik melakukan penelitian lapangan. Saya kira tulisan ekspresi teologis akademik tidak boleh langsung jatuh pada benar/salah dan boleh/tidak boleh. Mungkin jauh lebih baik menemukan solusi yang konkret berdasarkan analisis dan pendekatan masalah. Masturbasi? Benar seperti tulisan martin di atas melibatkan banyak bidang di luar teologi, dan saya mencari-cari seberapa besar bidang-bidang itu mempengaruhi analisis teologis yang ditawarkan.
Saya membaca sedikit buku-buku sigmund freud, bahwa masturbasi yang dilakukan kebanyakan anak merupakan ekspresi melawan tekanan trauma anak dan kekerasan yang dialaminya. Mungkin perlu disurvei seberapa intens anak yang hidup normal dengan anak jalanan dan anak korban keretakan keluarga melakukannya. Apakah dengan menawarkan management spiritual hal ini dapat diatasi? Atau tulisan seperti ini hanya dibatasi pada kasus tertentu misalnya: masukan bagi kaum pemuda normal yang berpenghasilan di atas Rp 1.5jt/bulannya?
Comment by andohar purba — July 30, 2008 @ 3:04 am
coba kita bikin tafsir kitab kidung agung, bagaimana cinta dan erotik bisa menjadi bahan spiritual
Comment by said — November 15, 2008 @ 3:12 pm