IDEOLOGI PEMBAHARUAN
“ Sebuah Kritik Ideologi Terhadap Yesaya 6 : 10 – 13 dan Relevansinya “
oleh: Margaretha M. A. Apytuley
I. PENDAHULUAN.
Pembaharuan adalah sebuah proses yang terjadi secara alami atau direkayasa dan mengarah kepada suatu situasi yang semakin baik atau sebaliknya. Meskipun demikian, idealnya sebuah pembaharuan bertujuan untuk mengubah suatu situasi dari yang tidak baik menjadi lebih baik dari situasi semula.
Nabi adalah seorang utusan Allah yang terpanggil untuk menyuarakan kehendak Allah dalam rangka pembaharuan sebuah kehidupan. Ini berarti Yesaya juga mengemban amanat yang sama dan hal tersebut tergambar sangat jelas dalam Yesaya 1 : 16 – 17 :
“ Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan; kendalikanlah orang kejam; belahlah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda.”
Namun diskripsi lebih lanjut yang terdapat dalam Yesaya 6 : 9 – 10 memperlihatkan adanya sesuatu yang kontradiktif dalam substansi panggilan dan pengutusan Yesaya tersebut, sebagai berikut :
“ Kemudian Firman-Nya : pergilah dan katakanlah kepada bangsa ini : dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti : jangan ! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap : jangan ! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.”
Jadi jelaslah bahwa ada perubahan yang sangat radikal dalam substansi panggilan dan pengutusan Yesaya yang awalnya bermaksud melakukan pembaharuan menjadi sebaliknya bahkan semakin memperparah keterpurukkan umat dalam dosa. Bukankah hal itu justru tidak mendukung semangat pembaharuan tersebut? Pertanyaannya adalah mengapa demikian? Apakah narasi ini memperlihatkan keraguan kelompok tertentu terhadap otoritas Yesaya sebagai nabi yang diutus oleh Allah dan sengaja ingin menyingkirkan Yesaya karena keradikalannya terhadap pemerintahan Yehuda melalui muatan nubuat yang memperlihatkan pro-kontranya Yesaya dengan pemerintahan Yehuda saat itu? Atau sebaliknya merupakan strategi Yesaya atau kelompok yang berada di belakang Yesaya untuk mempertahankan eksistensi Yehuda sebagai sebuah kerajaan kecil di tengah pergolakan politik secara internal maupun eksternal saat itu tetapi dengan sebuah sistem pemerintahan yang baru dan berpihak kepada rakyat kecil? Atau mungkin juga ada ideologi lain di balik narasi ini yang belum terungkap dan bertujuan untuk menguntungkan kepentingan tertentu?
Bagi saya, banyak kemungkinan pertanyaan yang sesungguhnya bisa lahir ketika siapa pun membaca teks ini secara mendalam. Tetapi konteks narasi atau historis teks ini yang akan melegitimasi kebenaran ideologi yang terkandung di dalamnya.
Oleh sebab itu, perubahan dalam substansi panggilan dan pengutusan Yesaya ini merupakan sebuah studi yang sangat menarik untuk ditelusuri. Berdasarkan kegelisahan itulah maka studi terhadap kedua teks di atas akan dikaji lebih lanjut melalui kritik ideologi.
II. MENEMUKAN IDEOLOGI DI BALIK TEKS.
1. Konteks Historis :
Dalam rangka menemukan ideologi yang terkandung di balik teks ini maka penelusuran terhadap konteks sosio-politik pada abad ke-8 sM dari kitab Yesaya terutama pasal 1 – 39 yang dikenal dengan Proto-Yesaya adalah persyaratan awal yang harus dijejaki.
Pada parohan pertama abad ke – 8 sM, Israel utara yang berada di bawah pemerintahan Yerobeam II (782-753 sM) dan Yehuda pada masa pemerintahan Uzia menikmati masa makmur raya. Kondisi ini tercipta karena beberapa faktor pendukung yaitu :
• Letak Israel Utara sangat strategis untuk usaha komersial karena berbatasan dengan Fenisia dan Aram. Demikian juga Yehuda karena hubungan dagang lintas lautan dengan Arabia Selatan (Sebna dan Ofir). Meskipun di satu sisi, perkembangan ini membawa dampak positif bagi Kerajaan Israel Utara dan Yehuda tetapi di sisi yang lain, muncullah kaum kapitalis (golongan pedagang yang kaya) yang sangat mempengaruhi para pemimpin dan pejabat sehingga menimbulkan gejolak-gejolak sosial dan kemerosotan moral, jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin, pelecehan keadilan dan kebenaran (Yes. 2 – 4 ).
• Lemahnya Kerajaan Aram dan alpanya campur tangan Asyur di wilayah barat untuk waktu yang agak lama.
Namun masa kejayaan yang hanya menguntungkan kaum elite pemerintahan dan kaum kapitalis tetapi merugikan masyarakat kecil ini berubah menjadi awan gelap ketika Tiglat Pileser III pada tahun 745 sM menduduki takhta Asyur dan berambisi untuk mengadakan ekspansi ke barat. Ini berarti negara Aram, Fenisia, Israel dan Yehuda bahkan Mesir terancam keselamatannya. Inilah zaman dimana Yesaya dipanggil menjadi nabi yaitu pada tahun 742 sM di Yehuda. Masa dimana takhta Yehuda berada di bawah kepemimpinan Raja Yotam setelah Raja Uzia meninggal (6:1). Namun anehnya, di dalam narasi kitab Yesaya ini, Yotam hanya disebut secara eksplisit sebagai ayahnya Ahas yang tidak mempunyai peranan apa-apa (7:1). Padahal dari sisi historis dia juga ikut memerintah Yehuda dan menentukan arah politik luar negeri Yehuda sebelum kepemimpinan Ahas (750-731 sM) atau setelah wafatnya Raja Uzia. Hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan : mengapa demikian? Apakah penulis Yesaya terlalu memihak dan berusaha melindungi Yotam supaya tidak dipersalahkan sebagai pihak yang menyebabkan kehancuran Yehuda dan sebaliknya bersikap radikal terhadap Ahas? Seitz menegaskan bahwa para nabi Israel kuno biasanya memperlihatkan kritikannya yang sangat keras terhadap aliansi asing. Karena itu bisa dipahami jika penulisnya lebih mengarahkan perhatian kepada pemerintahan Ahas yang berhadapan dengan gejolak politik luar negeri yang sangat dasyat dan mengancam stabilitas keamanan Yehuda.
Menghadapi ekspansi Asyur tersebut, Raja Pekah dari Israel Utara bersama Raja Rezim dari Aram mengadakan suatu koalisi untuk melawan Asyur (750-731) tetapi Yotam dari Yehuda menolak untuk bergabung (15:37) sehingga menimbulkan kemarahan raja-raja tersebut. Malahan putranya, Ahas (735-715) menghadapi ancaman serius ketika raja-raja tersebut mengepung Yerusalem (Yes. 7). Perang ini disebut perang Syiro-Efraimi (734-733 sM). Meskipun invasi tersebut gagal, namun hal ini tampaknya mengurangi pengawasan Yehuda atas Edom sehingga mereka memberontak terhadap Yehuda dan mengambil alih pelabuhan serta industri-industrinya di Elat (Ezion-Geber) di teluk Aqaba. Bahkan penulis kitab Tawarikh menyatakan bahwa orang Filistin juga ikut serta dengan mendesak perbatasan barat Yehuda (2 Taw. 28:18). Jadi kondisi Yehuda benar-benar terancam karena tekanan dari utara, selatan dan barat.
Dalam rangka mengantisipasi koalisi Pekah-Rezim, Ahas meminta bantuan Asyur dan diresponi dengan baik meskipun Yesaya menentang kebijakan Ahas tersebut (Yes. 7 & 8). Pertanyaannya : mengapa Yesaya menentang kebijakan Ahas jika di satu sisi kebijakan itu melahirkan damai bagi Yehuda dari ancaman Israel Utara, Aram dan Filistin? Bukankah hal itu baik dan kondusif bagi politik luar negeri Yehuda? Memang jika permintaan bantuan Ahas terhadap Asyur ini dikritisi dari sudut pandang Yesaya maka sesungguhnya kebijakan tersebut diprediksikan akan menyebabkan terjadinya singkretisme agama, krisis moral dan krisis rasa nasionalisme serta patriotisme masyarakat Yehuda terhadap bangsanya sendiri. Tetapi jika kebijakan tersebut ditinjau dari sudut pandang Ahas maka sesungguhnya kritikan Yesaya terhadap Ahas belum tentu bisa dinyatakan sebagai sebuah kebenaran absolut. Karena tanpa damai apakah rakyat bisa menjalankan kehidupannya dalam berbagai dimensi hidup dengan baik? Bagi saya, sikap radikal Yesaya terhadap Ahas tersebut pasti dilatar-belakangi oleh ideologi tertentu yang akan diungkapkan dalam paparan selanjutnya.
Penyerbuan Tiglat Pileser kepada Israel Utara dan Aram mendatangkan kelegaan terhadap Yehuda, walaupun hal itu harus dibayar dengan mahal karena Yehuda akhirnya menjadi jajahan Asyur. Yehuda yang awalnya bersikap mengalah terhadap Asyur selama beberapa dasawarsa juga mulai meperlihatkan nafsu pemberontakannya karena sekalipun serbuan Asyur kepada Yehuda bisa ditangguhkan melalui pembayaran upeti dan memberikan rasa nyaman tetapi masa depan Yehuda tetap suram. Sumber daya Yehuda telah dihabiskan ketika bertempur melawan Aram dan Israel Utara serta harus membayar upeti untuk mencegah pertempuran. Moral mereka patah karena tidak ada pimpinan yang memiliki tujuan yang jelas dan kepercayaan mereka kepada Tuhan Allah melemah oleh masuknya agama-agama asing dan penyimpangan dari ibadat kepada Allah. Bahkan rasa patriotisme dan nasionalisme Yehuda sebagi sebuah negara mulai terkikis karena Asyur memakai strategi percampuran penduduk ke dalam negara-negara jajahannya dalam rangka mengurangi pemberontakan. Dalam rangka mengeluarkan diri dari cengkraman Asyur ini, Yehuda juga melakukan dua kali pemberontakan (pada tahun 705 sM & 701 sM) dengan bantuan Mesir tetapi keduanya tidak berhasil (ps 36 – 37).
2. Ideologi Di Balik Teks.
Jika teks Yes. 6 : 9-10 dibaca dalam konteksnya seperti yang diuraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya teks ini ditulis dalam rangka mempertahankan eksistensi Yehuda sebagai kerajaan kecil yang berada di ambang kehancuran melalui pembaharuan secara evolusioner . Upaya tersebut terjadi dalam situasi ancaman instabilitas politik dari dalam maupun luar negeri, ekonomi, budaya dan agama :
• Bahwa masyarakat kecil atau kelompok tertentu mulai merasa tidak puas dengan kebijakan atau strategi pemerintahan dan kaum kapitalis yang mengorbankan mereka selama ini sehingga mulai memperlihatkan gerakan-gerakan anti pemerintahan. Ini berarti stabilitas pemerintahan dalam negeri Yehuda sangat tidak kondusif untuk menyelenggarakan sebuah pemerintahan yang baik.
• Tekanan dari Raja Pekah dan Raja Rezim karena komitmen Yehuda untuk tidak bersatu dengan mereka dalam melawan Asyur serta tekanan yang berasal dari Filistin. Juga pemberontakan Edom yang berdampak pada melemahnya stabilitas perekonomian Yehuda.
• Ahas sendiri berada dalam posisi yang sangat ambigu terhadap Asyur. Dimana di satu sisi, pertolongan Asyur memberikan rasa nyaman kepada Yehuda dari ancaman Israel Utara, Aram, Edom dan Filistin tetapi di sisi lain Yehuda harus menjadi koloni Asyur dengan segala kewajiban yang harus dipenuhi sebagai sebuah kontrak sosial yaitu melalui pembayaran upeti dan keterbukaan untuk menerima bangsa-bangsa lain dengan agama-agama mereka yang berdampak pula pada krisis rasa nasionalisme dan patriotisme Yehuda. Menurut saya, dalam menyikapi persoalan ini maka kita harus benar-benar berhati-hati untuk mengkleim bahwa tindakan Ahas untuk bekerja sama dengan Asyur adalah tindakan yang sama sekali salah dan tidak mempunyai arti apa-apa. Karena pada prinsipnya rasa damai tersebut juga dirasakan oleh semua masyarakat. Pertanyaannya : apakah hanya kalangan elite pemerintahan Yehuda yang dirugikan dalam pembayaran upeti secara terus-menerus kepada Asyur? Menurut saya kedua-duanya dirugikan dalam kewajiban membayar upeti tersebut karena suplai dana negara dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan juga berasal dari para pejabat dan rakyat (pajak). Tetapi jika hal tersebut disikapi dari sisi ekonomi maka sesungguhnyalah rakyatlah yang sangat menderita dibandingkan dengan para pejabat. Pertanyaannya : apakah semua rakyat Yehuda menderita saat itu? Bukankah kaum kapitalis yang makmur dan jaya serta berhasil mempengaruhi pemerintah Yehuda juga adalah rakyat biasa? Berdasarkan perspektif ini maka kita bisa menyimpulkan bahwa tidak semua rakyat Yehuda adalah orang-orang yang menderita. Oleh sebab itu rakyat yang menderita sesungguhnya adalah mereka yang menjadi korban kebijakan para elite pemerintahan Yehuda dan kaum kapitalis.
Kondisi politik inilah yang diamati dan dianalisa oleh penulis Yesaya. Dalam perspektifnya, Yehuda hanyalah kerejaan kecil yang tidak mungkin bisa bertahan dalam menghadapi gejolak politik secara internal maupun eksternal tersebut. Sebab lambat namun pasti, kerajaan ini juga akan hancur. Karena tidak ada lagi kekuatan yang mampu mengubah birokrasi pemerintahan Yehuda dan mengeluarkannya dari cengkraman Asyur. Oleh sebab itu, strategi yang dipakai dalam rangka mempertahankan eksistensi Yehuda sebagai sebuah kerajaan kecil di tengah-tengah gejolak politik dalam dan luar negeri adalah dengan menghancuran Yehuda. Kehancuran tersebut sekaligus merupakan strategi pembaharuan secara evolusioner. Artinya :
• Semakin banyak dan meningkatnya tindakan-tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan hukum maka akan semakin cepatlah kehancuran stabilitas kehidupan masyarakat Yehuda dalam berbagai dimensi. Semakin cepat kehancuran tersebut maka makin cepat juga lengsernya pemerintahan yang korup dengan segala kebijakan politiknya. Jadi keamanan dalam konteks Yehuda saat itu hanyalah sarana melanggengkan pemerintahan yang korup dan kondisi masyarakat yang terpuruk karena itu harus dihancurkan sampai meninggalkan sisa (6:13).
• Kehancuran Yehuda tersebut juga memungkinkan pemerintah Yehuda untuk tidak lagi merancang pemberontakan terhadap Asyur. Sebab sangat tidak efektif dalam status sebagai sebuah kerajaan kecil menantang kerajaan adi kuasa pada saat itu. Malahan pemberontakan itu sendiri mungkin hanyalah tameng untuk mempertahankan kekuasaan kaum elite pemerintahan dan kroni-kroninya sementara rakyat kecil dikorbankan. Sebab jika dalam situasi yang aman dan jaya saja masyarakat kecil telah dikorbankan apalagi dalam konteks penderitaan?
• Kehancuran Yehuda juga memungkinkan Asyur untuk tidak memandang Yehuda sebagai sebuah kekuatan besar atau potensi konflik yang mengancam stabilitas keamanan kerajaan Asyur seperti kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang bisa muncul sewaktu-waktu. Persoalannya adalah apakah hanya Yehuda saja yang membutuhkan Asyur? Ataukah sebaliknya keterbukaan Asyur untuk menjalin kerja sama dengan Yehuda karena Asyur juga memiliki kepentingan dengan Yehuda yaitu sebagai bumper terhadap Mesir? Fakta historis membuktikan bahwa meskipun Yehuda bekerja sama dengan Mesir dalam rangka pemberontakan terhadap Asyur sebanyak dua kali (705 sM & 701 sM) tetapi pemberontakan tersebut tetap dapat diatasi oleh Asyur dengan membawa kemenangan yang gemilang. Artinya : Asyur tidak membutuhkan Yehuda sebagai bumper dalam menghadapi Mesir. Karena dari sisi kekuatan dan strategi politik sepertinya bangsa Asyur lebih kuat dari bangsa Mesir. Dan kalau pun Yehuda pada akhirnya menjadi bumper terhadap Mesir berarti posisinya seperti telur di ujung tanduk. Artinya mungkin Yehuda yang lebih banyak menderita.
• Kenyataan membuktikan bahwa ketika Yehuda bekerja sama dengan Mesir dan Asyur atau tidak hanya memberikan rasa aman yang semu bagi mereka karena sesungguhnya penderitaan mereka malah semakin bertambah. Oleh sebab itu, pilihan untuk menghancurkan Yehuda dilatar-belakangi juga oleh ideologi bahwa hanya Allah saja yang dapat diandalkan dan bukan kekuatan manusia dengan segala fasilitasnya. Allah adalah penguasa dan pencipta yang sanggup melakukan apa saja sedangkan manusia adalah ciptaan-Nya yang terbatas dalam berbagai hal. Hal inilah yang paling penting dan mampu untuk meyakinkan kelompok yang ada di belakangnya atau yang diperjuangkannya merasa sangat yakin bahwa misi tersebut masuk akal dan pasti akan berhasil. Padahal mungkin jika diukur dari ratio manusia hal menciptakan sebuah masa depan baru di tengah kehancuran melalui sebuah kehancuran adalah sesuatu yang sangat diragukan (irational).
Jadi dalam teks ini kehancuran/kekerasan dilihat secara positif yaitu sebagai sarana pembaharuan suatu tatanan kehidupan berbangsa yang lebih baik dan sarana mempertahankan eksistensi diri sebagai bangsa kecil di antara bangsa-bangsa lain.
Logiskah ideologi Yesaya ini? Bukankah kehancuran/kekerasan tidak selamanya membawa pembaharuan? bahkan kehancuran/kekerasan tersebut juga ikut mengorbankan masyarakat yang tidak bersalah? Tetapi apakah benar masyarakat Yehuda secara keseluruhan tidak bersalah dalam hal ini? Dan mungkinkah Tuhan mendatangkan kehancuran bagi orang-orang yang sudah sangat menderita? Bukankah hal tersebut juga melipatgandakan penderitaan mereka?
Hal ini justru sangat menarik karena biasanya kejahatan dihancurkan untuk mendatangkan perubahan namun malah terjadi sebaliknya kejahatan dibiarkan dan diperparah untuk mendatangkan kehancuran demi sebuah pembaharuan. Tetapi kita juga bisa belajar dari pengalaman bermasyarakat selama ini bahwa konflik (kekerasan) bersifat ambigu adanya karena konflik juga merupakan sarana yang mendatangkan pembaharuan dalam masyarakat ketika jalan damai tidak bisa memberikan solusi yang diharapkan. Bagi saya, mengkritisi hal ini bukan merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Tetapi sepertinya dalam perspektif Yesaya masyarakat secara keseluruhan (masyarakat biasa, pimpinan agama, pimpinan masyarakat dll) juga ikut bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan di suatu Negara yaitu melalui pengawasan secara menyeluruh. Oleh sebab itu jika masyarakat tidak kritis atau tidak bersuara dan malah terkesan membiarkan, bermasa bodoh dan menikmati situasi demikian berarti mereka juga terlibat secara tidak langsung dalam melanggengkan kejahatan tersebut.
Jadi Yesaya menghendaki mereka menjadi orang-orang yang berprinsip, memiliki sikap, tidak plin-plan atau mampu mengambil sebuah keputusan dengan berbagai resiko yang akan didapati. Karena itu, meskipun usaha tersebut gagal pada akhirnya hal itu tidak menjadi masalah sebab yang sangat dipentingkan adalah keterlibatan masyarakat untuk mengkritisi proses penyelenggaraan pemerintahan tersebut.
Berdasarkan diskripsi di atas, apakah ada kelompok tertentu yang berkepentingan di balik perumusan panggilan dan pengutusan Yesaya ini ?
Menurut saya, sisi historis dari narasi ini mengindikasikan bahwa kekuatan besar yang ada di balik narasi ini dan berkepentingan adalah mereka yang tetap menghendaki agar Yehuda tetap bertahan sebagai sebuah bangsa pilihan Allah di tengah pergolakan politik bangsa-bangsa pada saat itu tetapi dengan pemerintahan yang baru. Mereka yang menentang birokrasi pemerintahan Yehuda saat itu, yang bersikap mendua dalam penetapan berbagai kebijakan pemerintahan dan lebih berpihak kepada pejabat dan masyarakat yang selama ini menjadi korban kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik pemerintah - kaum kapitalis serta yang tidak menghendaki adanya singkretisme kepercayaan.
III. RELEVANSI.
Perlakuan ketidakadilan dan ketidakbenaran yang teraktualisasi dalam berbagai kasus dan berimbas kepada masyarakat kecil di dalam negara Indonesia dan gereja dewasa ini merupakan sebuah wacana aktual yang menjadi pusat perhataian banyak pihak. Bersamaan dengan itu, semangat dan kegelisahan untuk melakukan pembaharuan juga terus disuarakan meskipun terkadang berbentur dengan birokrasi pemerintahan dan gereja yang sangat mapan sehingga nyaris tak terdengar. Memang dalam rangka melakukan sebuah pembaharuan terhadap suatu tatanan kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak semudah membalik telapak tangan karena pembaharuan merupakan sebuah proses yang butuh waktu, daya dan dana. Bahkan sebuah gerakan pembaharuan yang baik pun membutuhkan perencanaan yang matang dan pertimbangan yang komprehensif sehingga idealismenya bisa tercapai dengan baik.
Pembaharuan yang dilakukan Yesaya bermaksud untuk memperjuangkan dan mengembalikan hak-hak rakyat yang hilang dan dimanipulasi oleh pemerintah untuk kepentingannya, serta dalam rangka memurnikan kepercayaan dan membangkitkan rasa nasionalisme Yehuda. Dan semangat yang terkandung di dalamnya mengisyaratkan bahwa sebuah pembaharaun tidak boleh hanya menjadi sebuah aksi atau wacana yang menyentuh aspek eksternal semata tetapi harus terjadi secara holistik (menyentuh aspek eksternal dan internal) sehingga hakikat, fungsi, dan eksistensi dari sebuah kehidupan bisa ditemukan kembali. Terhadap hal tersebut maka mungkinkah pembaharuan secara evolusioner yang dilakukan oleh Yesaya dengan melegitimasi kekerasan sebagai alternatif penyelesaian masalah dapat diterapkan dalam konteks bergereja, berbangsa dan bernegara kita? Apalagi kenyataan membuktikan bahwa kekerasan juga bersifat ambigu dan malah meninggalkan dendam yang merupakan potensi kekerasan yang sulit berakhir. Memang hal ini terkesan sangat ideal dan sulit terealisir tetapi bukan berarti tidak dapat dipakai sama sekali. Bahkan kekerasan itu sendiri juga bukan merupakan alternatif terakhir atau satu-satunya dalam penyelesaian sebuah masalah. Sebab solusi alternatif yang baik harus dibangun dalam dialog dengan konteks persoalan itu sendiri. Atau alternatif yang kontekstual. Artinya konteks yang menentukan bisa – tidaknya sebuah alternatif penyelesaian masalah digunakan. Konteks Yesaya memungkinkan kekerasan tersebut dipakai sebagai alternatif satu-satunya dalam penyelesaian persoalan Yehuda tetapi belum tentu efektif bagi konteks yang lain dengan persoalan yang lain pula. Mengapa? Karena setiap konteks memiliki karakter persoalan yang berbeda-beda dan oleh sebab itu mesti didekati juga dengan cara yang berbeda pula. Namun pengalaman Yesaya mengindikasikan bahwa kekerasaan tidak selamanya buruk tetapi bersifat ambigu. Karena itu kemampuan membaca dan menganalisa konteks dan karakter persoalan yang dihadapi adalah prasyarat untuk menentukan bisa-tidaknya sebuah solusi diterapkan.
Pembaharuan secara evolusioner dalam perspektif Yesaya menyadarkan kita untuk bersikap kritis terhadap suatu sistem yang tidak lagi menghidupkan. Bersamaan dengan hal itu juga, gereja pun terpanggil untuk membuka diri terhadap sebuah pembaharuan. Dan harga yang harus dibayar adalah pengorbanan dari semua pihak baik waktu, fasilitas, dana dan daya. Tanpa pengorbanan maka perubahan hanya menjadi sesuatu yang mengambang dan sulit didaratkan pada kenyataan. Demikian juga gereja dan negara Indonesia tidak akan bisa mencapai target perubahan secara maksimal jika semua pihak tidak siap dan tidak bersedia untuk berubah dan berkorban. Atau melakukan perubahan yang hanya menyentuh aspek eksternal semata. Hal ini disadari sebagai sesuatu yang sangat idealis apalagi dalam berhadapan dengan struktur birokrasi pemerintahan dan gereja yang mapan. Tetapi jika hal ini tidak dilakukan sama sekali berarti gereja dan negara juga ikut melanggengkan kebusukan hidup bergereja dan bernegara secara internal dan eksternal. Dan itu berarti mengingkari panggilannya sebagai sarana pendaratan syalom Allah bagi dunia.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Bergant Dianne & Robert J. Karris (ed.)Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Kanisius: Jogjakarta, 2002.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M – Z, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta, 2000
Lasor S.W, D.A.Hubbard & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama I : Taurat dan Sejarah, BPK. Gunung Mulia : Jakarta, 1993
Lasor S.W, D.A.Hubbard & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama II : Sastra dan Nubuat, BPK. Gunung Mulia : Jakarta, 1994
Seitz R. Christopher, Interpretation A Bible Commentary for Teaching and Preaching : Isaiah 1 – 39, Jhon Knox Press : Louisville, 1993
Widyapranawa H. S., Kitab Yesaya Pasal 1-39, BPK. Gunung Mulia: Jakarta, 2003
TEOLOGI