Injil Lain yang Ditolak Paulus dan Argumentasi Kerasulannya
Tinjauan sosiologis otoritas Paulus dalam pertentangan antar pemikiran dari kelompok-kelompok di jaman Perjanjian Baru.
Galatia 1 : 1 – 12
oleh : Raharjo Widhipangreksa
Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, Galatia 1:6
I. Pengantar
Dalam perkembangan gereja saat ini, ada beberapa kecenderungan untuk merumuskan ajaran yang benar, namun secara tidak langsung mengekspos kelemahan konsep dari kelompok yang berbeda. Tokoh pemimpin yang karismatik dirasa cukup penting demi solidnya kelompok dengan ajaran tertentu. Klaim otoritas pemimpin dengan pengalaman “berjumpa Yesus” mulai lazim ditunjukan pada banyak orang dalam beberapa kelompok Kristen tertentu. Bahkan pengalaman “perjumpaan” itu menjadi identitas Kekristenan. Namun apakah memang masalah identitas Kristen memerlukan legalitas? Bagaimana dengan pemahaman iman yang berbeda-beda? Pemahaman selalu berangkat dari pengalaman-pengalaman yang membentuknya. Tulisan ini mencoba mengangkat pergumulan tentang adanya pertentangan ajaran yang mewarnai surat Galatia, untuk memberikan wawasan bagi Kekristenan dalam memahami keberagaman pemahaman mengenai iman.
Pada pasal permulaan dari surat Galatia, sudah nampak permasalahan pokok yang diangkat Paulus dalam jemaat di Galatia yaitu adanya “injil” lain yang ditentangnya. Pertentangan ini muncul akibat perselisihan pemikiran dari beberapa kelompok yang berbeda. Pemikiran ini dianut oleh kelompok tertentu pada saat itu sebagai ajaran tentang kehidupan. Tentunya terjadi interaksi dalam masyarakat saat itu, dan ajaran-ajaran ini dapat saling mempengaruhi. Namun ajaran-ajaran yang berbeda itu tidak begitu saja melebur, sebagaimana umumnya gejolak sosial, terjadi juga tarikan ketegangan yang berusaha memperjelas identitas masing-masing kelompoknya. Tulisan ini berusaha memahami bagaimana komunitas Kristen saat itu ikut serta dalam dinamika sosial ini. Bagaimana konteks sosial yang mungkin mempengaruhi Paulus dalam menentukan sikapnya, menolak ajaran tertentu akan dianalisa dalam tulisan ini.
Dengan menyadari konteks sosialnya maka teks Galatia (khususnya Galatia 1:1-12) dapat ditafsirkan dengan pemahaman yang cukup,mengenai klaim kerasulan Paulus dan injil sesat yang ditolaknya. Adakah memang injil yang diajarkan Paulus sungguh dari Allah atau ajaran Paulus sesungguhnya lebih ditentukan posisi sosialnya terhadap berbagai ajaran yang ada? Bagaimana injil itu dapat diklaim diterimanya dari Yesus?
Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. Galatia 1:12
II. Latar belakang audience
Kepada siapa surat ini dialamatkan tentunya berpengaruh juga pada pendekatan yang digunakan Paulus untuk menjelaskan argumentasinya. Surat ini ditulis Paulus kepada jemaat-jemaat Galatia (ay:2). Nama Galatia bisa digunakan untuk menyebut dua masyarakat yang berbeda. Dalam pengertian etnis Galatia mengacu pada keturunan Celtic (Gauls) yang berdiam di Asia Minor bagian utara.
The people who first became known as Galatians came from the barbarian tribal stock known as Celts, one branch of which Julius Caesar knew in France as the Gauls. Some of these had invaded Macedonia and later Asia Minor in the third century B.C. in order to establish themselves there. In popular speech, these Gauls were distinguished from the West-European Gauls by the term “Gallo-Graecians,” from which the name “Galatians” comes.
Nama ini juga biasa digunakan dalam pengertian geopolitis untuk wilayah selatan pemerintahan Roma provinsi Galatia.
With the coming of the Romans, conditions did not change markedly for these Galatians. True, they were conquered by the Roman Consul Manlius in 189 B.C., but even then they were permitted to maintain much of their independence and to be governed in part by their own princes. This system worked so well from the Roman point of view that later, upon the death of Amyntas, the territory of the Galatians was incorporated into a much larger Roman province to which the old ethnic name, Galatia, was extended.
Kepada kelompok Kristen manakah sebenarnya surat Paulus ini ditujukan? Dalam pengertian yang mana Galatia ini dimaksudkan oleh Paulus? Secara natural jika disebut orang Galatia maka lebih tearasa bermakna etnis, masyarakat Celtic . Namun Paulus tidak mengujungi
tempat ini sampai perjalanan misinya yang ke dua (56M) dan ketiga (58M) . Pengajaran Paulus ini mirip dengan apa yang dikatakan dalam kitab Roma yang ditulis pada akhir perjalanan misinya yang ketiga. Penelitian ahli arkeologi Sir William Ramsay menyimpulkan bahwa surat Galatia ini ditulis sekitar 48M Pada saat perjalanan misi Paulus yang pertama. Galatia yang dimaksudkan masih belum bisa dipastikan tapi setidaknya ada gambaran tentang audience surat ini yaitu salah satu dari dua kemungkinkan itu.
Paul can hardly have written to both areas, because the letter implies that the churches of Galatia were all founded at about the same time. But in the light of Paul’s missionary journeys, this is impossible for both north and south Galatia.
Gambaran jemaat Galatia yang dituju surat Paulus ini mempunyai ciri budaya Greeko-Roman. Ada dua tipologi pola kebudayaan yang biasanya dipakai sebagai pendekatan untuk memahami masyarakat Greeko-Roman, yaitu pola keagamaan legalis, lahiriah yang bersifat etnis yang cenderung diidentikan dengan Yudaisme dan pola ideologi universal berdasarkan akal, bebas, individualis dan mengarah pada yang spiritual dari pada lahiriah, yang identik dengan pola pikir Hellenisme. Namun cara berpikir dan pola kebudayaan masyarakat Greeko-Roman sulit dipastikan dengan polarisai pembedaan yang tegas antara Yudaisme dan Hellenisme. Dimungkinkan juga terdapat pemahaman yang bercampur dan saling mempengaruhi. Di dalam konteks budaya seperti ini jemaat Galatia lahir, mereka yang sepaham membentuk kelompok yang mempunyai unsur cultic dengan model organisasi dan kepemimpinan. Kehadiran tokoh pemimpin cukup berarti dengan otoritas tertentu. Paulus juga adalah salah satu pemimpin kelompok yang ada, tentu sebagai pemimpin dalam relasi dengan kelompoknya yang membutuhkan legitimasi.
III. Latar belakang Paulus dan pemikirannya.
Surat Galatia ini ditulis oleh Paulus, sebagaimana disebutkan bukan hanya pada awal surat (ay:1) namun juga pada bagian akhir surat Galatia. Penelitian gaya literatur, metode argumentasi, muatan teologi, dan tradisi, memberikan indikasi kuat yang meyakinkan bahwa Paulus sendiri yang menulisnya . Surat Galatia dari awal sampai dengan akhir, Paulus beberapa kali memberikan catatan autobiografinya yang sesuai (asli) sebagai pekabar injil bagi orang non Yahudi. Pada pasal-pasal permulaan surat Galatia, Paulus menegaskan status keberadaannya sebagai rasul dengan latar belakang kehidupan masa lalunya , agaknya perlu juga mempertimbangkan latar belakangnya.
Masa Kecil Paulus di Tarsus
Ada kemungkinan Paulus hanya lahir di Tarsus tetapi dibesarkan sampai masa dewasanya di Yerusalem dengan pendidikan hukum Musa yang cermat oleh seorang guru besar Gamaliel . Ada penafsiran lain tentang kebanggaan Paulus menyebutkan Tarsus sebagai tempat kelahiran karena di kota ini masa kecilnya dan tempat ia memperoleh pendidikan awalnya . Kota Tarsus adalah kota perguruan tinggi yang juga pusat pemerintahan dan perdagangan. Tetapi Paulus tidak bangga akan budaya Yunani yang menyembah berhala. Sementara Paulus tinggal di Tarsus ia belajar seni membuat tenda, karena setiap pelajar diharapkan juga belajar perdagangan praktis selain mereka belajar di sekolah. Ini adalah sesuatu yang sangat berharga bagi hidupnya kemudian untuk mencari nafkah selama pekerjaan misinya.
Pendidikan Paulus dalam Agama Yahudi
Orang tuanya memutuskan agar sejak kecil Paulus belajar hukum Yahudi agar menjadi guru Yahudi nantinya. Kemudian ia segera dikirim ke Yerusalem, yaitu kota pusat agama Yahudi untuk dididik oleh Gamaliel, cucu sekaligus pengganti Rabbi besar Hillel. Pengajaran tradisi Hillel lebih maju, dan ini bentuk Yudaisme yang liberal dibanding tradisi pesaingnya Shamai. Shamai sama sekali menolak keberadaan orang-orang non Yahudi dalam rencana Allah. Sekalipun tradisi Hillel juga mengagungkan statusnya sebagai orang Yahudi tapi tradisi ini terbuka terhadap keberadaan orang-orang non Yahudi bahkan secara positif juga memberikan pengajaran yang mempertobatkan (evangelize) mereka. Tidak heran ini adalah konsep Gamaliel dimana Paulus melandasi pola pikir awalnya, sehingga nantinya Paulus memahami panggilannya bagi orang-orang non Yahudi dalam kekaisaran Roma.
Masih ada kesan sifat eksklusif Paulus tentang agama Yahudi, paling tidak ia mengakui pernah bangga menjadi orang Farisi yang taat. Kelompok Farisi meyakini bahwa sejarah diatur oleh Allah yang puncaknya adalah kedatangan Mesias untuk memimpin umatNya. Tapi kelompok Farisi menolak bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Berangkat dari kerangka berpikir Mesias yang dijanjikan, akhirnya Paulus mengakui bahwa Mesias sudah datang dalam hidup dan karya Yesus. Kutipan kitab agama Yahudi (Perjanjian Lama) untuk membuktikan poin teologinya adalah hasil nyata pendidikan Paulus sebagai seorang Farisi. Paulus juga telah berusaha menjadi seorang Farisi yang baik dan menjaga semua hukum Taurat. Namun akhirnya Paulus sadar bahwa ia tidak akan pernah sempurna oleh hukum Taurat dan inilah yang membawanya memahami arti pentingnya karya Allah yang sempurna bagi manusia melalui hidup, salib dan kebangkitan Yesus Kristus.
Filsafat Yunani dan gaya retorika
Filsafat Stoicism kemungkinan adalah filsafat yang paling dekat dengan pendapat Paulus. Filsafat ini mengidentifikasikan Allah dengan “alasan” yang ditemukan pada alam semesta.
Pengajaran Stoicism sangat berpengaruh membentuk etika tentang tugas dan keutuhan manusia. Dengan kesadarannya manusia akan menjadi baik, dan ini mengerakkan manusia untuk melakukan tugasnya. Kota Tarsus adalah tempat dimana filsof-filsof stoicism yang besar ada. Dari masa kecilnya kemungkinan Paulus telah mengenal filosofi stoicism. Rudolf Bultmann mencatat bahwa penjelasan yang digunakan Paulus beberapa kali mengadopsi argumentasi Stoicism. Baik pertanyaan-pertanyaan retorika maupun penggunaan ilustrasi dari atletik, bangunan gedung, atau kehidupan yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, secara umum adalah gaya filsafat Stoicism. Ada kemiripan cara Paulus menyampaikan ajarannya dengan Filsafat Stoicism. Namun ada perbedaan prinsip yang mendasar antara ajaran Kekristenan Paulus dan filsafat Stoicism yaitu.
1. Stoicism berdasarkan spekulasi filosofis tentang alam semesta dan manusia. Allah sesungguhnya adalah penalaran manusia yang abstrak. Sedangkan Kekristenan berdasarkan fakta historis tentang hidup, mati dan kebangkitan Yesus.
2. Stoicism percaya bahwa Allah ada dan menyatu dalam wujud fenomena alam, kadang-kadang dalam energi api bahkan didalam alasan. Sedangkan Kekristenan percaya bahwa Allah turun ke dunia yang secara pribadi terwujud di dalam Kristus.
3. Stoicism menemukan keselamatan dalam kepenuhan diri, dengan cara menemukan misteri diri dan hidup dalam harmoni dengan alam semesta tujuan hidup manusia adalah dalam kesesuaian dengan alam. Sedangkan menurut Paulus, keselamatan tidak bergantung usaha manusia, tapi dalam penebusan dosa oleh Yesus Kristus.
4. Stoicism tidak mempercayai kehidupan masa yang akan datang. demikian umumnya manusia tidak akan mampu mencapai kematangan moral dan kesempurnaan hidup. Tubuh manusia akan hancur dalam siklus sejarah, memang dapat dilahirkan kembali atau menjelma dalam siklus kehidupan. Tapi Kekristenan menurut Paulus menegaskan bahwa dunia ini akan berakhir yang ditentukan dengan kedatangan Kristus, kemudian dunia baru akan muncul.
Dalam lingkungan masyarakat Hellenis ilmu filsafat cukup digemari, selain pengetahuan teoretisnya, ketrampilan praktis retorika juga dipelajari. Sekolah-sekolah dengan gaya Yunani dan Gymnasium dapat ditemukan di hampir setiap kota di Asia. Situasi seperti ini berpengaruh secara positif kepada pemuda-pemuda yang berdiam di kota itu. Paulus yang pernah menjadi salah seorang penduduk kota Tarsus juga mengenal gaya retorika dengan baik. Sekalipun seandainya ia tidak pernah mempelajarinya di sekolah formal, namun pengaruh masyarakat kota itu telah membentuknya memahami gaya retorika.
Agama Misteri.
Pada jaman itu ada kombinasi ide dari beberapa agama timur Zoroastrianism atau Yudaisme dengan tradisi agama Mesir, Yunani dan Roma yang kemudian menjadi agama misteri. Agama ini menawarkan kepuasan emosi melalui pemikiran filosofis yang mengatasi mental manusia. Salah satunya kemudian menjadi dekat dengan Kekristenan yang disebut Gnosticism karena agama ini mengklaim akan menunjukkan jalan kepada “pengetahuan rahasia” (gnw/sij = pengetahuan) untuk memiliki keselamatan. Baik Gnosticism maupun Kekristenan menawarkan keselamatan dan keduanya mempunyai ritus inisiasi dan sakramen perjamuan. Agama misteri ini masuk juga kedalam gereja dan menimbulkan masalah.
Perbedaan antara kedua ajaran ini, adalah agama misteri selalu siap bahkan bersemangat untuk bercampur aduk dengan agama yang lain. namun hal inilah yang ditentang Kekristenan, sebab Kekristenan tetap mempercayai bahwa kebenaran yang sempurna telah dinyatakan kepada manusia oleh Kristus saja.
Dari uraian di atas nampak bahwa Paulus dengan ajaran Kekristenannya berhadapan dengan kepelbagaian ide yang ada dalam masyarakat Greeko-Roman. Dalam interaksinya bisa ada kemiripan tapi juga pertentangan ide. Paling tidak ada tiga tipologi pemikiran yang melatar belakangi konteks sosial di jaman Paulus yaitu Yudaisme, Yunani dan agama misteri.
Pertobatan Paulus.
Pertobatan Paulus merupakan salah satu peristiwa besar yang diceritakan alkitab bagi sejarah Kekristenan. Juga dalam surat ini Paulus menegaskan peristiwa penyataan Yesus kepadanya menjadi inti dari kekuatan argumentasinya untuk menjalankan misi (ay:12). Sebelum bertobat Paulus adalah penganiaya jemaat, banyak sekali orang-orang Kristen yang mati dan dipenjarakannya. Ketika ada laporan tentang kelompok besar orang Kristen di kota Damsyik, kira-kira 240 km jauhnya dari Yerusalem, Paulus memutuskan pergi ke sana. Dengan otoritas penuh ia membawa surat izin untuk menangkap semua orang Kristen di kota itu. Dalam perjalannya tiba-tiba sebuah cahaya membutakan matanya hingga rebah ke tanah. Dalam kebutaannya, Paulus mendapat pengalaman pribadi dengan Yesus Kristus yang memang benar dan berkuasa. Selama tiga hari Paulus tidak dapat melihat dan tidak makan ataupun minum, tapi ia terus berdoa. Pengalaman ini mengubah kehidupan Paulus sepenuhnya. Hidupnya telah diubahkan setelah pertemuannya dengan Kristus. Penyataan Yesus inilah yang diangkatnya sebagai otoritas injil yang dikabarkannya. Paulus memulai hidup barunya yang berbeda, dari penganiaya jemaat menjadi pekabar injil Kristus dan perintis jemaat Kristen.
IV. Paulus menghadapi masalah
Dalam surat ini Paulus terkesan ingin segera mengangkat inti permasalahan yang menyangkut dirinya kepada jemaat Galatia. Paulus menyebutkan namanya dan menegaskan dari sejak awal suratnya bahwa ia adalah seorang rasul. (ay:1) Legalitas kerasulannya menggunakan kata Yunani yaitu “ouvk avpo, = bukan dari , ouvde. dia, = dan bukan melalui manusia, ini berarti tanpa pengantara, langsung dari sumbernya yaitu oleh Yesus Kristus. Kemudian Paulus menyertakan siapa yang bersama dengannya. (ay:2) “Saudara” adalah kata yang digunakan untuk menyebut anggota kelompok Kristen saat itu, mungkin ia hendak mengingatkan pembacanya bahwa ia bukan tanpa pendukung. Ada juga kesan tergesa-gesa karena nama mereka tidak disebutkan.
Salam yang diberikan dalam surat ini, tanpa ekspresi syukur atas keadaan spiritual dari pembacanya seperti umumnya pada suratnya yang lain. (ay:1-5) Seakan Paulus sedang merasakan hal serius yang membuatnya cukup kecewa pada jemaat Galatia. Mungkin Paulus menulisnya dengan emosi, walaupun Paulus tetap mengawali suratnya dengan doa berkat dan kasih Karunia (ay:3).
Paulus merasa perlu melakukan pembelaan terhadap tuduhan dari orang-orang yang bersebrangan dengan dia. Ada pertentangan tentang ajaran injil antara kelompok-kelompok yang berseberangan dengan apa yang diajarakan Paulus (ay:6). Paulus mengingatkan bahwa Allah telah memanggil kalian (kale,santoj u`ma/j), dalam kasih karunia Kristus (evn ca,riti Cristou). Menurut Paulus kasih karunia Allah telah hadir, sekalipun manusia masih berdosa. Ada empat intrepretasi evn ca,riti, yaitu sebagai instrumental (alat) “oleh kasih karunia”, sebagai manner (cara) “dalam kasih karunia dan pengampunan”, purpose (tujuan) “agar hidup dalam anugerah”, place (tempat) “dalam lingkup bulatan Anugerah”. Sehingga hukum Taurat (tradisi Yahudi) tidak lagi berperan dalam menentukan keselamatan hidup manusia . Injil lain yang dimaksud Paulus kemungkinan adalah ajaran Kristen yang berbeda dengan konsep evn ca,riti Cristou, yaitu anugerah cuma-cuma oleh Kristus. Kesannya ajaran injil lain itu dari kelompok Kristen yang masih menekankan aturan tradisi Yahudi.
Pertentangan ajaran
Tidak bisa dipastikan kelompok mana yang menjadi lawan Paulus, namun kesan dari isi seluruh surat Galatia mengarah bahwa Paulus sedang berhadapan dengan pemikiran legalis yang diajarkan oleh orang Kristen Yahudi yang mempertahankan tradisi. Kelompok ini telah mengangkat argumentasi yang menyanggah pengajaran Paulus. (ay:7) Jemaat Galatia mulai goyah (kacau) karena apa yang diajarkan Paulus diputarbalikkan oleh ajaran yang disebut injil lain ini. Agaknya injil lain itu bahkan “menyerang” diri Paulus mengenai otoritasnya
sebagai seorang rasul yang dirasakan sangat penting bagi Paulus. Sehingga Paulus menjadi gusar dan mengutuk siapapun juga, yang mengajarkan injil yang berbeda darinya. (ay:8-9)
Kelompok Kristen Yahudi mengklaim lebih mempunyai otoritas dengan pemimpin mereka yang lebih terhormat yaitu murid-murid Yesus, dan mereka masih tetap menjunjung tradisi Yahudi. Karena Kekristenan berakar dari tradisi Yahudi, maka setiap orang Kristen, sekalipun bukan orang Yahudi harus ikut tradisi Yahudi. Sedangkan Paulus yang memahami panggilannya bagi orang-orang non Yahudi dalam kekaisaran Roma tidak menganjurkan orang non Yahudi untuk melakukan aturan tradisi Yahudi.
Otoritas Paulus sebagai rasul
Agaknya tuduhan terhadap otoritas Paulus sudah menggoncangkan pendirian jemaat Galatia. Jemaat Galatia secara rasional memandang kedudukan Paulus tidak sekuat kedudukan para murid Yesus yang di Yerusalem. Kalau Paulus bukan rasul maka tidak punya hak untuk memberikan ajaran kepada jemaat Kristen artinya jemaat tidak perlu memperhatikan apa yang diajarkannya. Paulus memang bukan termasuk kedua belas murid Yesus, namun ia tidak merasa rendah diri. (ay:10) Paulus justru mempertentangkan otoritas kerasulan dalam konsep legalitas yang dari manusia atau yang langsung dari Allah. Nampaknya Paulus ingin membuktikan bahwa kerasulannya tidak ditentukan oleh gugatan mereka dengan legalitas dari manusia. (ay:11-12) Paulus menyatakan bahwa ia telah bertemu dengan Yesus sendiri secara pribadi, dan inilah yang memberikan Paulus otoritas untuk menjadi rasul yang mengabarkan injil. Sebelum Paulus menyanggah pengajaran yang berseberangan, ia menunjukkan pengalamannya dengan Yesus, dan membuktikan bahwa yang diajarkannya berasal dari Kristus sendiri. Paulus sebenarnya sedang memperjuangkan legitimasi kerasulan yang berperan
penting secara institusional bagi kelompoknya agar tetap berpegang teguh pada ajarannya sebagi injil yang benar . Tulisan Paulus cukup bijak memberikan argumentasi yang jelas bahwa ia tidak membutuhkan otoritas dari Yerusalem atau dari manapun, karena yang dilakukannya benar dan seturut dengan kehendak Allah.
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Galatia 1:10
Paulus telah bertemu secara pribadi dengan Kristus dan telah menjadi hamba Kristus. Penyataan Kristus secara pribadi diangkat sebagai bukti landasan bahwa apa yang diperbuatnya adalah kehendak Allah, dan juga membuktikan landasan otoritas kerasulannya. (ay:11-12)
V. Gaya argumentasi Paulus
Dalam pembelaan dirinya Paulus menggunakan gaya argumentasi sebagaimana orang yang berpendidikan. Agaknya Paulus juga memahami gaya retorika dengan kemampuan yang baik, ada ciri gaya retorika dalam surat-suratnya. Paulus menyusun suratnya secara sistematis, mengikuti gaya surat-menyurat pada jamannya. Memang surat menyurat telah menjadi alat komunikasi yang efektif pada jaman itu.
Gaya retorika yang umum saat itu dapat dibedakan menjadi tiga jenis . Yang pertama yaitu retorika suasana pengadilan (yudisial) dengan isu yang disampaikan yaitu sisi tuduhan dan sisi pembelaan. Yang kedua retorika suasana rapat (deliberatif) yang menyampaikan sisi bujukan dan sisi larangan, dan ketiga retorika perayaan (epideiktis) yang menyampaikan sisi pujian dan sisi celaan. (Namun dalam prakteknya bisa semua itu tergabung jadi satu). Retorika inilah yang kemudian dikenal sekarang dengan argumentasi.
Paulus bukan sekedar berbicara mengenai pembelaan ajaran teologisnya, namun status kerasulannya sebagai hal yang mendasar. (ay:8) Kesannya Paulus terdesak sebagai tertuduh
(seperti dalam pengadilan), sehingga ia membuat pernyataan yang sangat defensif. Pernyataan yang intinya bersifat sangat pribadi karena dimulai dari pembelaan diri sendiri.
Dalam surat ini Paulus mampu mengenali konteks audiencenya dan memaparkan pembelaannya dengan membawa pembacanya memahami pengesahan otoritasnya sebagai Rasul. Pengaruh pola pikir Yudaisme yang menuntut otoritas kerasulan yaitu sebagai murid Yesus telah dipahami Paulus. Sehingga Paulus perlu membuat argumentasi supaya posisinya dapat dipahami sejajar sebagai murid Yesus. Yaitu bahwa Paulus menerima injil bukan dari manusia tapi langsung dari Yesus. Dari sudut pandang lain, pengaruh pikiran masyarakat Hellenis yang mengutamakan “perjumpaan” pribadi dengan yang ilahi sebagai puncak dari religiositas yang tertinggi, juga mempunyai peran penting untuk mendasari argumentasi Paulus ini. Nilai agama mistik yang mewarnai pola pikir audiencenya merupakan jembatan untuk memahami argumentasi Paulus. Namun demikian, agaknya penyataan dari Yesus ini cederung dalam pemahaman sebagai penyataan khusus rasul, dan bukan dianjurkan untuk dilalami setiap orang Kristen. Argumentasi Paulus sebagaimana dalam pengadilan (retorika yudisial), mengungkap kronologi pengalaman istimewanya langsung dengan Yesus Kristus. Hal ini cukup penting sebagai argumentasi untuk memperkuat otoritas kerasulannya yang sebenarnya independent tidak ditentukan oleh persidangan para murid Yesus di Yerusalem..
Paul’s apostleship (1:12) and narrates the history of his previous apostolic work (1:13–2:14) in three sections. The first section deals with the beginnings of his life as a Jew (1:13–14), his vocation (1:15–16a), and his early mission (1:16b–24). The main point here is to underscore his independence from the authorities of the church at Jerusalem.
Namun Paulus juga memahami keberadaan audiencenya, sehingga ia merasa perlu juga memperhatikan otoritas sidang pimpinan jemaat di Yerusalem dengan menyertakan penjelasan tentang persidangan para Rasul di Yerusalem pada pasal berikutnya. Paulus perlu
membangun argumentasi kerasulannya dulu, sebelum menjelaskan kebenaran injil yang diajarkannya berkaitan dengan Yudaisme sebagai akar Kekristenan pada perikop selanjutnya. Paulus berhasil memberi agumentasi yang kuat untuk membuktikan posisi teologisnya, bukan hanya dengan cara argumentasinya namun dengan contoh dari sikap hidupnya yang sungguh berubah sejak ia mengenal Yesus. Argumentsi yang sulit disangkal adalah kenyataan bahwa jemaat Galatia menjadi Kristen karena iman di dalam Yesus bukan kepada para rasul dan keselamatan dipercayai bukan karena pengetahuan dan ketaatan akan hukum Taurat tapi oleh kasih Allah dalam pengorbanan salib Yesus.
V. Kesimpulan
Dalam perikop Galatia 1-12 ini kaitan antara budaya masyarakat yang ada saat itu cukup memperjelas kemungkinan alasan atau setting dari penulisnya. Pertentangan antar pemikiran yang ada dapat dianalisa menjadi kerangka pemahaman, bagaimana posisi penulisnya pada saat itu. Surat Galatia dapat dipahami sebagai respon penulisnya (Paulus) terhadap gejolak sosial yang ada. Demikian juga dapat ditelusuri kaitan dengan konteks pengalaman masa lalunya. Paulus mengklaim bahwa injil yang diberitakannya pasti benar karena bukan dari manusia melainkan dari Yesus sendiri (ay:12). Ia juga menjelaskan bahwa hidup sebagai hamba Kristus tidak lagi mencari kesukaan manusia dan tidak dibatasi oleh aturan manusia, (ay:10) Namun pendekatan sosiologis ini mendapati bahwa latar belakang kehidupan Paulus dan posisi sosiologis dalam masyarakat Greeko-Roman saat itu berkaitan dengan pengajarannya. Walaupun demikian ada pesan yang sangat esensial dari surat ini, yaitu karunia Allah melalui Yesus Kristus telah memerdekakan pola pikir dari segala belenggu aturan atau keterikatan budaya apapun dan membawanya pada pengertian dan hikmat Tuhan. Sekalipun ada kaitan yang jelas antara injil yang diajarkan Paulus dengan posisi sosialnya, namun posisi teologi pengajaran Paulus jelas bahwa keselamatan manusia bukan didasarkan oleh usaha manusia dengan aturan-aturannya. Paulus memang memahami latar belakang sosiologis audience dan juga dirinya tapi sebagai orang percaya yang sudah dimerdekakan oleh Kristus
ia tidak lagi berorientasi pada pendapat-pendapat manusia. Dengan kata lain, ajaran Paulus bukan sekedar menyatakan posisinya dalam kepelbagaian ajaran yang ada. Sekalipun jelas dari mana ajaran Paulus berangkat tidak terlepas sebagai produk budaya yang ada saat itu, namun ada hikmat Tuhan yang ingin dinyatakannya.
Agaknya ajaran Paulus lebih ditentukan dari pengalaman pribadinya bertemu dengan Yesus ketika dalam perjalanannya ke Damsyik sebagai penganiaya jemaat. Peristiwa itu benar-benar merombak arah hidupnya sehingga hidupnya sungguh-sungguh diserahkan untuk melakukan kehendak Allah (ay:10). Paulus melandasi ajarannya dengan komitmen bahwa pikirannya dan seluruh hidupnya hanya untuk kesukaan Allah karena ia menerima injil bukan dari manusia tapi oleh penyataan Yesus Kristus. Keselamatan hanya karena iman kepada Yesus Kristus, sang juruselamat sebagai wujud inisiatif kasih Allah pada manusia.
.
VI. Refleksi teologis bagi gereja saat ini
Perbedaan yang ada pada gereja-gereja sekarang memang mempunyai potensi yang mengarah pada pengkristalan identitas dan pengkutuban. Demikian juga yang ada di dalam jemaat. Dari sedikit pengalaman mencermati kehidupan jemaat saat menjalani pre-internship di GKI Soka Salatiga yang multi etnis dan budaya, dapat dipahami akar ketegangan perbedaan pemikiran yang ada dari latar belakang budaya yang membentuknya.
Deversivikasi visi (=kehendak) memang berpotensi menghanyutkan kehidupan jemaat ke arah “pemisahan” kehidupan pelayanan jemaat. Visi yang berbeda dan kurang dapat berpadu, berakibat sense of belonging terbagi-bagi/terpisah-pisah dan mendorong sikap yang eksklusif. Maka sikap yang dibutuhkan yaitu masing-masing pihak dengan kerendahan hati membuka diri terhadap perbedaan masing-masing konteks pemahaman. Kemudian memahami ukuran “legalitas alkitabiah” dengan sikap saling menghargai, menghormati dengan kebesaran hati memahami pihak lain yang mempunyai kekhasan identitasnya namun tetap berorientasi pada kehendak Allah, menyukakan hati Allah bukan manusia. Seperti apa yang dijelaskan Paulus bahwa hidup orang Kristen sebagai hamba Kristus tidak lagi mencari kesukaan manusia dan jangan aturan manusia membelenggu pola pikir kita,
Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Galatia 1:10
Namun demikian latar belakang kehidupan baik budaya, pendidikan, status ekonomi dan pergumulan hidup jemaat sangat penting untuk dipahami. Demikian juga iman Kristen memang akan dirasa relevan jika menyentuh pergumulan hidup dan berangkat dari konteks kehidupan
Daftar Pustaka
Balch, David & Stambaugh, John
Dunia Sosial Kekristenan Mulu-mula. BPK Gunung Mulia. Jakarta 1997
Baxter, J. Sidlow
Menggali Isi Alkitab 4, Roma – Wahyu, yayasan Komunikasi Bina Ksih / OMF, Jakarta 1992
Drane, John
Paul, an illustrated documentary on the life and writings of a key figure in the beginnings of Christianity, Sutherland, Albatross books 1984
Electronic Zondervan NIV Bible commentary
Electronic Dictionary: The Anchor Bible Dictionary, (New York: Doubleday) 1997, 1992. Freedman, David Noel, ed.
Kalangit, Wenas
Surat Galatia sebuah retorika Forum biblika, Jurnal Ilmiah Populer No 9 -1999, Lembaga Alkitab Indonesia,
Meeks, Wayne A.
The First Urban Christian. The Social World of The Apostle Paul. Yale University Press, London 1983,
Stamm, Raymond T,
Galatians Text exegesis, Exposition, dalam The Intrepreter’s Bible : Volume 10 , Nashville :Abingdon Press, 1980. Halaman 445
Verner, David C
The house Hold of God, the social world of the pastoral epistel, California, Sholars Press Chico 1983
TEOLOGI