APAKAH YESUS ALLAH?
fides reformata perspective
Menanggapi Danny Meilandy
oleh : Pdt. Rudolfus Antonius
Membaca Gloria edisi 285/Minggu IV Januari 2006 hal 31 membuat saya tergelitik. Sangat menarik, sebuah tabloid Kristen memuat – dalam rubrik ‘Refleksi’ – tulisan seorang yang menyebut dirinya ‘kristolog muslim dari Madura’. Tulisan tersebut adalah buah karya dari Sdr. Danny Meilandy, yang bertajuk “Apakah Yesus Allah”.
Bagi saya, hal ini sangat menggembirakan. Nampaknya kita, setidak-tidaknya saudara-saudara di tabloid Gloria, membuka pintu dengan berlapang dada dan berbesar jiwa, untuk berdialog dengan kawan-kawan yang berkepercayaan lain. Kita ingin mendengarkan secara langsung pandangan mereka tentang pokok-pokok keyakinan kita. Dan sebaliknya, kita juga bersedia dengan santun dan gembira mengemukakan dan menjelaskan isi keyakinan kita kepada mereka. Setiap pihak berkesempatan mengapresiasi pandangan dan keyakinan pihak lain, pun mengkritisi dengan penuh rasa hormat. Itulah, saya kira, yang akan mempercerdas umat beragama. Besar harapan saya hal yang sama juga dilakukan oleh kawan-kawan di tabloid muslim.
Terus terang, saya sangat menghargai buah pikiran Sdr. Danny Meilandy. Sebagai ‘kristolog muslim’, Sdr. Danny coba mendekati Kristologi dengan datang langsung kepada Alkitab. Kawan kita ini melakukan tafsir terhadap teks-teks sebuah kitab suci yang diyakini sebagai firman Allah oleh umat kristiani.
Kendati demikian, sebagai seorang Kristen yang oleh anugerah-Nya semata dipanggil untuk menjadi gembala sebuah jemaat, terdoronglah saya untuk membuat beberapa catatan terhadap buah karya Sdr. Danny Meilandy. Tujuan saya, pertama, menjernihkan pemahaman kita bersama tentang Kristologi kristiani sendiri, yakni yang berakar dalam kesaksian Alkitab dan diekspresikan dalam formula-formula pengakuan iman bapa-bapa Gereja sebagaimana dianut oleh Gereja Kristen yang historik, serta ditegaskan kembali oleh para reformator Protestan.
Kedua, saya bermaksud menunjukkan bahwa pendekatan yang selektif terhadap teks-teks Alkitab akan menghasilkan konsepsi yang pincang, yang lebih merupakan karikatur daripada kebenaran yang dimaksudkan oleh Alkitab sendiri. Kawan kita Danny mengaku diri sebagai kristolog muslim. Ia berkristologi dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab dengan menggunakan prapaham tentang Yesus yang sudah ada dalam benaknya sebagai seorang muslim yang tentu saja menganut Al-Quran sebagai firman Allah dan ajaran Islam tentang Yesus. Karena itu tak heran, pendekatannya terhadap Alkitab selektif. Ia menggunakan ayat-ayat yang mendukung prapahamnya. Ayat-ayat tersebut dicabut dari konteks sastrawi dan teologisnya, lalu ditafsirkan menurut prapahamnya. Sementara ayat-ayat yang tidak bersesuaian dengan prapahamnya dilewati,atau malah dinyatakan tidak otentik – dengan merujuk pada referensi yang tidak dibaca secara utuh. Menurut pendapat saya, ‘proyek’ kristologi semacam ini tidak konstruktif, juga tidak jujur. Seorang kristolog hendaknya terdorong untuk mengenal atau bahkan lebih mengenal figur Kristus, baik melalui pernyataan iman gerejawi, maupun – kalau memungkinkan – dari sumber-sumber yang terdini tentang Yesus. Boleh-boleh saja seorang kristolog menggunakan metode kritis terhadap Alkitab, misalnya dengan menelusuri traditiongeschichte alias sejarah tradisi iman di balik teks-teks Perjanjian Baru. Analisis-historis, analisis-bentuk, analisis-sumber-sumber juga sah digunakan. Akan tetapi seorang kristolog sejati tidak akan membaca sebuah teks untuk menyesuaikan teks tersebut dengan prapahamnya sendiri. Sesungguhnya, ia tidak akan semakin mengenal figur Kristus. Ia hanya sekadar tahu tentang sejumlah ayat tentang Yesus yang bila dicabut dari konteks sastrawi dan teologisnya sesuai dengan prapahamnya sendiri.
Ketiga, saya merindukan semakin banyak umat Kristen bergairah untuk belajar teologi. Tentu, hal ini bukan berarti setiap orang Kristen harus menempuh pendidikan formal di sekolah tinggi theologia. Tetapi setiap orang Kristen berhak mengerti dengan sungguh-sungguh pokok-pokok kepercayaannya, sebagai bagian dari amaran Kristus “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22.37). Juga, setiap orang Kristen wajib bersiap sedia “pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”. Tentunya harus “dengan lemah lembut dan hormat” (1Pet 3.15). Dengan belajar teologi, baik teologi sistematika (dogmatika) maupun biblika, kita semakin mengenal kepada Siapa kita percaya dan mengerti apa yang kita percaya, bahkan menghidupi keyakinan kita dengan bersaksi penuh gembira.
Berikut beberapa catatan saya tentang tulisan Sdr. Danny, “Apakah Yesus Allah”.
1. Data-data tekstual yang menyebutkan perbedaan antara Yesus dengan Allah
Kawan kita Danny menginventarisir dan menafsirkan data-data yang menunjukkan perbedaan antara Yesus Kristus dengan Allah. Hal itu disajikannya seraya mengatakan bahwa Alkitab ‘sangat teliti dalam membedakan antara ALLAH ini dengan Yesus Kristus’ (Terimakasih, Bung Danny, pengakuan Anda tentang ketelitian Alkitab – setidaknya soal perbedaan antara Yesus dan Allah – adalah konstruktif untuk berdialog). Data-datanya sebagai berikut:
… Allah lebih besar daripada Yesus (Yoh 14.28), Allah lebih baik daripada Yesus [?] (Mrk 10.18), Yesus berteriak memanggil Allah (Mrk 15.34), Yesus bersyukur kepada Allah (Mat 11.25), Yesus diutus oleh Allah (Yoh 17.3), Yesus tidak mengetahui hal-hal yang diketahui oleh Allah (Mrk 13.32), Yesus berada di sebelah kanan Allah (Luk 22.69), Yesus menerima wahyu dari Allah (Yoh 8.26, 17.8), Yesus disetir oleh Allah [?] (Yoh 5.30), Yesus takluk di bawah Allah (1Kor 15.28), Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah (Luk 23.44-46), dan ketika Allah mengeluarkan suara-Nya dari dari sorga, Yesus berada di sungai Yordan (Mrk 1.10-11).
Perlu kita pahami bersama, bahwa Gereja Kristen yang historik, baik itu Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, Gereja-gereja Asia Barat, dan Gereja-gereja Reformasi, meyakini perbedaan antara Allah dengan Yesus Kristus. Allah, yang sering disapa ‘Bapa’ oleh Yesus, jelas bukan pribadi yang sama dengan Yesus Kristus. Perbedaan pribadi antara Allah Sang Bapa dengan Yesus Kristus merupakan keyakinan iman yang am. Hanya para bidatlah yang mengajarkan bahwa Allah Sang Bapa merupakan pribadi yang sama dengan Yesus Kristus. Dan Gereja Kristen yang historik menentang hal itu.
Gereja Kristen yang historik juga tidak menolak kesaksian Alkitab bahwa Allah Sang Bapa lebih besar daripada Yesus Kristus. Menurut Alkitab, bahwa Sang Bapa lebih besar daripada Kristus merupakan salah satu bentuk relasi antara Sang Bapa dengan Kristus. Itulah relasi antara Yang Mengutus dan Yang Diutus. Sebagai Yang Diutus, kedudukan Yesus adalah sebagai Mesias, ‘Yang Diurapi’ atau yang ditahbiskan alias dinobatkan oleh Allah. Tatkala Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Allah menahbiskan Yesus (Mat 1.11) sebagai Mesias Raja (‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi’, bdk. Mzm 2.7) dan Mesias Hamba (‘kepada-Mulah Aku berkenan’, Yes 42.1).
Mengekspresikan penghayatan akan perutusan-Nya, Yesus sendiri gemar menyebut diri-Nya ‘Anak Manusia’, suatu istilah yang sarat-makna. Ditinjau dari akarnya di dalam tradisi apokaliptik (berawal dari Dan 7.13-14), Yesus menggunakan sebutan itu untuk mencirikan kemesiasan rajawi-Nya. Sedangkan bila ditinjau dari penggunaan sehari-hari, sebutan itu lebih mencirikan kemesiasan hambawi-Nya, yang solider dengan sesama yang tertindas, bahkan mengalami kehinaan sebagai yang tertindas guna menjadi tebusan pengganti bagi banyak orang (lihat Mrk 10.45).
Selaku Mesias, Yesus memang menjalani dua tahap. Pertama, tahap perendahan-Nya, di mana aspek hambawi-Nya lebih mengemuka, sementara aspek rajawi-Nya agak terselubung. Kedua, tahap peninggian atau pemuliaan-Nya, di mana aspek rajawi-Nya lebih mengemuka. Tahap perendahan itu berlangsung seumur hidup-Nya sampai kematian-Nya, sedangkan tahap peninggian berlangsung sejak kebangkitan-Nya, yang disusul dengan kenaikan-Nya ke sorga dan pencurahan Roh Kudus (simak Mat 28.18, juga Kis 2.22-36).
2. Arti gelar Tuhan untuk Yesus
Kawan kita Danny menjabarkan arti gelar ‘Tuhan’ yang lazim kita pergunakan untuk menyapa Yesus Kristus. Menilik bahasa aslinya, kurios, kawan kita ini mengemukakan bahwa sebutan itu sepadan dengan gelar ‘Tuan’ dalam bahasa Indonesia atau ‘Gusti’ dalam bahasa Jawa.
Kurios bisa digunakan untuk menyapa ‘orang-orang yang terhormat seperti: Kaisar, Raja, Dokter, Filsuf dan orang terpandang lainnya’. Bisa digunakan untuk menyapa dewa-dewa Yunani, seperti ‘Zeus, Bacchus (Dyonisus)’. Rupanya, ‘ratusan dewa lainnya juga disebut Kurios’. Bahkan, ‘kepada ALLAH (ELOI) pun mereka menyebut-Nya dengan panggilan Kurios’. Akhirnya, ‘Sebutan Kurios ini juga merupakan sapaan sopan terhadap sesama manusia’. Danny merujuk pada Luk 16.8, yang ‘dalam bahasa Yunani menceritalam bahwa seorang pembantu memanggil majikannya dengan sebutan Kurios’.
Implikasinya jelas. Mestinya – menurut Sdr. Danny – Yesus itu disapa ‘Tuan’, bukan ‘Tuhan’. Bung Danny pun menyayangkan ‘kata Kurios yang berarti Tuan ini diterjemahkan Tuhan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)’.
(Bagi saya ini menarik sekali, LAI, sebuah lembaga penerjemah dan penerbit Alkitab yang terdiri dari sejumlah pakar dalam bahasa-bahasa asli san sejarah kuna Alkitab yang sanggup menelisik penggunaan suatu kata secara diakronik maupun sinkronik, disesalkan oleh Sdr. Danny. Bukan tidak mungkin Sdr. Danny memiliki kepakaran yang mengungguli kaum penerjemah LAI).
Saya setuju dengan observasi Danny terhadap penggunaan kata kurios, tuan. Bahkan saya tidak keberatan kalau Cak Danny menyebut Yesus itu ‘Tuan Yesus’. Akan tetapi saya menyayangkan, Danny tidak membahas mengapa Yesus sampai disebut kurios oleh Gereja Kristen Perdana (the early Church) dan Perjanjian Baru. Lalu muatan apa yang terkandung di dalam kata kurios itu, manakala Gereja Kristen Perdana dan Perjanjian Baru menggunakannya. Observasi istilah secara sinkronik dan diakronik Danny tentu saja baik, namun harus dilengkapi dengan penelusuran terhadap perkembangan pemahaman Gereja Kristen Perdana tentang Yesus sebagaimana terekam di dalam Perjanjian Baru.
Selanjutnya sobat kita ini merujuk pada versi Alkitab King James (KJV) alias Authorized Version (AV) dari tahun 1769, yang di dalamnya ‘Yesus disebut Lord (Tuan) bukan God (Tuhan), Yesus Lord (Tuan) bukan Lord God (Allah)’. Menarik juga. Tapi saya menemui kesulitan untuk menyetujui Bung Danny. Persoalannya, bagaimana Sdr. Danny bisa yakin bahwa kata ‘Lord’ dalam KJV secara semantik harus diartikan ‘Tuan’ dan bukan ‘Tuhan’, sedangkan ‘God’ berarti ‘Tuhan’, dan ‘Lord God’ berarti ‘Allah’?
Bagaimana misalnya dengan Yoh 20.28 saat Tomas si bimbang akhirnya percaya kepada Yesus dan menyapa Sang Guru “Ya Tuhanku dan Allahku”? Bukankah dalam KJV kita membaca: And Thomas answered and said unto him, My Lord and my God. Sedangkan dalam Novum Testamentum alias Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, pada ayat yang sama kita membaca: avpekri,qh Qwma/j kai. ei=pen auvtw/|\ o` ku,rio,j mou kai. o` qeo,j mou (garis-bawah dari saya, RA). Perhatikan: Tomas memang memanggil Yesus dengan sebutan kurios, bahkan kurios-ku, my Lord. Baiklah, terjemahkan saja dengan ‘tuanku’. Tapi ia juga menyebut Yesus [o` qeo,j mou], my God. Diterjemahkan ‘Allahku’? Itu LAI. Diterjemahkan ‘Tuhanku’? Bukti tekstual ini menganulir ‘pembuktian’ Danny dari KJV. (Lebih menarik lagi, Yesus tidak membantah atau mengoreksi sapaan Tomas terhadap dirinya, o` ku,rio,j mou kai. o` qeo,j mou.)
Kita boleh mengindra, nampaknya terjadi kekacauan semantik dalam penggunaan kata ‘tuan’, ‘Tuhan’, dan ‘Allah’. Kekacauan semantik terjadi ketika orang mencampuradukkan penggunaan kata-kata tersebut tanpa mempedulikan bagaimana dua tradisi religius yang berbeda, yakni Kristen Indonesia dan Muslim Indonesia, memahami kata-kata tersebut. Bung Danny menerapkan pemahamannya sebagai seorang muslim Indonesia terhadap kata-kata yang dipergunakan dengan pengertian yang berbeda dalam tradisi Kristen Indonesia. Akan segera kentara bahwa Gereja Kristen Perdana menghayati kurios sebagai gelar mesianik Yesus dari Nazaret: ku,rioj VIhsou/j Cristo.j eivj do,xan qeou/ patro,j, Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil 2.11, TB-LAI)
3. Yesus dan Allah adalah satu
Mengutip Yoh 10.30, 38, Sdr. Danny berkata, “Kebanyakan orang Kristen awam mengartikan dua ayat diatas secara hurufiah bahwa Allah Yang Mahakuasa berada di dalam tubuh manusia Yesus Kristus.”
Perlu kita kemukakan bahwa pandangan bahwa ‘Allah Yang Mahakuasa berada di dalam tubuh manusia Yesus Kristus” bukanlah keyakinan Gereja Kristen yang historik. Bahkan Gereja Kristen yang historik menentangnya sebagai bidat. Sebut saja bidat Apolinaris, yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus itu berbadan dan berjiwa manusia, tetapi didiami oleh Roh Yang Ilahi. Katakan juga versi karikatur kristologi Nestorian, bahwa Yesus Kristus adalah dua pribadi dalam satu tubuh, pribadi insani dan pribadi ilahi.
Lanjut Danny: “Kalau dua ayat ini digunakan sebagai alasan pemenuhan bahwa Yesus Kristus adalah Allah maka alasan yang demikian sangatlah tidak berdasar, sebab dikatakan pula dalam Alkitab bahwa tidak hanya Yesus yang bisa satu dengan Allah tetapi murid-murid Yesus (Yoh 17:21) dan kitapun bisa satu dengan Allah (1Yoh 4.15).” Dan, “Menyatu bukan secara dzat (esensi) tetapi dalam visi dan misi karena terbukti saat Yesus berada di sungai Yordan Allah tetap berada di sorga dan mengeluarkan suara-Nya (Mrk 1.10-11).”
Kita dapat menyetujui Sdr. Danny bahwa dalam ayat-ayat itu kesatuan antara Yesus Kristus dan Allah adalah kesatuan visi dan misi. Kita pun dapat bersatu dengan Allah dalam visi dan misi. Tapi tetap ada perbedaan. Kesatuan visi dan misi Yesus dengan Allah karena secara hakiki Ia adalah ‘Anak Tunggal Allah, yang berada di pangkuan Bapa’ (Yoh 1.18), yang ‘telah turun dari sorga … untuk melakukan kehendak Dia, yang telah mengutus Aku’ (Yoh 6.38). Sedangkan kita bersatu visi dan misi dengan Allah melalui iman yang menjadikan kita milik Kristus. Inilah ajaran unio mystica atau persatuan spiritual antara orang percaya dengan Kristus dan karena itu dengan Allah pula, yang mungkin luput dari observasi Sdr. Danny.
4. Yesus adalah Jalan Kebenaran
Bagaimana dengan klaim Yesus bahwa Dia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup dalam Yoh 14.6? Bung Danny berkomentar: “Menurut ayat diatas tujuan akhir kita dalah Bapa dan Yesus hanyalah jalan menuju ke sana.”
Menarik. Jelas, Sdr. Danny melemahkan klaim Yesus yang tidak ada taranya itu. Berarti Yesus hanyalah jalan menuju Allah. Padahal, “Setiap nabi yang pernah ada misinya adalah untuk mengajak umat manusia berada di jalan Allah, sehingga bisa dekat dan sampai kepada Allah.”
Baiklah. Tetapi mengapa hanya Yesus yang pernah menyatakan diri-Nya sebagai jalan menuju Allah? Mengapa nabi-nabi agung lainnya tidak? Barangkali Bung Danny kurang teliti dengan kata-kata yang ditulisnya sendiri. Sebab – sesuai dengan kata-kata Danny sendiri – “setiap nabi yang pernah ada misinya adalah untuk mengajak umat manusia berada di jalan Allah…” Padahal, bukankah Yesus sendiri menyebut diri-Nya jalan? Tanpa menyangkali perbedaan antara Yesus dan Allah, bukankah jelas bahwa Yesus memiliki kualitas yang berbeda – lebih tinggi – daripada nabi-nabi agung penunjuk jalan itu?
Lalu, dengan cerdik Danny memberikan tafsiran terhadap klaim Yesus itu: “Dan pernyataan Yesus bahwa tak seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui dia ini sangatlah tepat sekali karena dialah satu-satunya nabi saat itu sedang nabi Zakaria dan Yohanes Pembaptis sudah mati terbunuh.”
Lagi, tafsiran yang menarik. Akan tetapi perlulah kita renungkan mengapa Yesuslah satu-satunya nabi yang menyebut Allah ‘Bapa-Ku’ dan berulangkali menyebut diri-Nya Anak dari Sang Bapa? Mengapa Zakaria dan Yohanes Pembaptis tidak, demikian pula semua nabi agung? Apalagi dalam bahasa Arami, bahasa yang lazim digunakan oleh Yesus dan masyarakat-Nya, kata Bapa, Yun, path,r, pat?r, adalah abba, suatu sapaan akrab-mesra meski sarat hormat. Kecuali Yesus, tidak ada nabi agung yang menyapa Allah dengan panggilan itu. Setelah Yesus, orang-orang Kristen memanggil Allah sebagai Bapa atas dasar Yesus Kristus, unio mystica itu (simak Rom 8.14-17).
Juga, luputkah Mat 11.25-27/Luk 10.21-22 dari pengamatan Cak Danny? Bukankah dalam Mat 11.27 itu Yesus berkata kepada Allah: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”
Lagi-lagi benar, Yesus adalah pribadi yang berbeda dengan Allah, Sang Bapa. Tapi posisi Yesus dalam hubungan manusia dengan Allah sangatlah unik, tidak terbandingkan dengan nabi-nabi agung lainnya. Siapakah nabi agung yang pernah mengatakan “semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku?” Musakah? Tidak. Siapakah nabi agung yang pernah berkata “tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Daudkah? Yesayakah? Yeremiakah? Zakhariakah? Yohanes Pembaptiskah? Kejujuran akan menjawabA: tidak ada! Hanya Yesus saja!
5. Yesus duduk di sebelah kanan Allah
Mengenai ‘Yesus duduk di sebelah kanan Allah’ (Luk 22.69), sobat Danny menyitir pandangan Pdt. Jusuf BS: “Pada waktu Putra Manusia (Yesus) bangkit dari kematian, Ia kembali di sebelah kanan Allah Bapa dalam posisi sebagai Allah.” Lalu komentarnya, “Kalau keberadaan Yesus di sebelah kanan Allah menyebabkan penyebutan Allah kepada Yesus, lalu bagaimana dengan tentara-tentara sorga yang disebutkan juga di dalam Alkitab bahwa mereka pun berada di sebelah kanan Allah? (1 Raj 22.19)”
Saya setuju dengan sobat Danny bahwa perihal duduknya Yesus, Anak Manusia itu, di sebelah kanan Allah, tidak dapat menjadi dasar untuk menyatakan Yesus sebagai Allah. Naiknya Yesus ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah harus dipahami dalam konteks mesianik. Kemesiasan Yesus adalah kemesiasan hambawi yang menderita dan kemesiasan rajawi yang memerintah sorga dan dunia selaku mandataris Allah. Sebagai Mesias Hamba, Ia menjalani tahap kehinaan dan penderitaan sampai mati di kayu salib. Tahap pemuliaan-Nya mulai saat kebangkitan. Kenaikan-Nya ke sorga berarti pentakhtahan-Nya sebagai Mesias Rajawi. Dengan kata lain, Yesus naik takhta sebagai Mesias Rajawi. Sedangkan duduk di sebelah kanan Allah berarti Sang Mesias, mandataris kepercayaan Allah itu, memerintah atas nama Allah (lihat Mzm 110.1; 1Kor 15.24-28). Jadi, bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah tidak menunjukkan bahwa Dia Allah, tetapi menunjukkan kedudukan-Nya sebagai Mesias Raja yang memerintah demi Allah.
Sedangkan mengenai ‘tentara-tentara sorga yang disebutkan juga di dalam Alkitab bahwa mereka pun berada di sebelah kanan Allah’, kita perlu memperhatikan seutuhnya kesaksian Nabi Mikha bin Yimla: “Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya.” Kita dapat segera mafhum, itulah gambaran tentang TUHAN sebagai Raja yang dikawal oleh segenap bala tentara sorga, ‘ada yang di sebelah kanan dan ada juga yang di sebelah kiri-Nya’.
6. Yesus menebus dosa manusia
Kawan kita Danny menyoal keyakinan Kristen bahwa Yesus menebus dosa manusia. Ia mengutip Yoh 6.54, 56 dan Mat 26.28. Katanya, “Beberapa ayat di atas memang berisikan cara atau jalan keselamatan, tetapi apakah dengan minum darah dan makan daging Yesus dalam arti kata yang sesungguhnya? Ingat, menurut Alkitab darah jenis apapun itu adalah haram (Im 7.26). Juga dalam menyampaikan ajarannya Yesus selalu menggunakan kata-kata perumpamaan yang bahkan kadang murid-muridnya sendiri saja kebingungan mengartikannya …”
Sempat tersenyum geli juga saya membaca kata-kata Danny, apalagi ketika sobat kita ini mengutip Im 7.26 sembari mengingatkan kita bahwa dalam menyampaikan ajarannya Yesus selalu menggunakan kata-kata perumpamaan. Aha, memang Yesus sering mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Tapi tidak selalu. Kita semua mafhum tentang hal itu. Tentu saja kita setuju bahwa Yoh 6.54, 56 merupakan kiasan. Baik. Makan daging Anak Manusia dan minum darah Anak Manusia adalah kiasan. Tapi soalnya, yang tidak dijelaskan oleh Danny, kiasan tentang apa? Kiasan tentang iman alias penyerahan hidup secara total kepada Yesus Kristus. Simak saja dari uraian Yesus sendiri menurut konteksnya.
Orang-orang Yahudi mengagung-agungkan mukjizat pemberian manna kepada nenek moyang mereka sementara mengembara di padang gurun di bawah pimpinan Musa. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa faedah manna bersifat sementara. Manna adalah makanan jasmani, tidak memberikan hidup yang kekal atau keselamatan kepada orang-orang yang memakannya. Tidak demikian halnya dengan roti hidup, demikian Yesus mengumpamakan diri-Nya (6.35, 48, 51). ‘Roti hidup’ adalah roti yang telah turun dari sorga (6.51, 58). Faedahnya kekal, memberikan hidup yang kekal bagi setiap orang yang memakannya. Tentulah ‘roti hidup’ itu merupakan kiasan. Ya, kiasan tentang Yesus. Kalau begitu, ‘memakan roti hidup’ tentunya kiasan pula.
Jadi, apa arti ‘memakan roti hidup’? Di sinilah kita perlu mengerti tentang paralelisme, suatu cara bertutur yang menggunakan istilah-istilah yang berbeda namun bermuatan hampir sama guna mengekspresikan kekayaan pikiran sang pembicara. Dalam 6.58, Yesus berkata, “Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Dalam 6.35, “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Kita lihat kesejajaran: ‘makan roti ini’, ‘datang kepada-Ku (Yesus)’, ‘percaya kepada-Ku (Yesus). Juga: ‘ia akan hidup selama-lamanya’, ‘ia tidak akan lapar lagi’, dan ‘ia tidak akan haus lagi’.
Simak lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab, daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia… barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”
Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai roti hidup, kemudian bicara tentang daging dan darah-Nya. Dengan begitu Yesus menyatakan bahwa Ia datang ke dunia untuk memberikan diri-Nya secara total melalui pengurbanan yang mencapai puncaknya pada sengsara dan kematian di kayu salib. Ya, Yesus memberikan diri-Nya secara total untuk keselamatan manusia berdosa. Sungguh, Dialah ‘roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia’ (6.33). Datang kepada Yesus, percaya kepada-Nya, itulah artinya ‘makan daging dan minum darah’ Anak Manusia. Melalui percaya atau iman itulah kita beroleh keselamatan alias hidup yang kekal.
Danny juga mengutip kata-kata penetapan Perjamuan Kudus dari Mat 26.28: “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” Di sinilah dikemukakan secara ringkas tentang jalan pengampunan dosa bagi umat manusia. Kristus menyebut darah-Nya sebagai darah perjanjian. Bukankah itu mengingatkan kita pada upacara kuno yang dipimpin Nabi Musa manakala ia mengikat perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel? Bacalah Kel 24.1-8. Perhatikan ay 8: Kemudian Musa mengambil darah itu (lihat ay 5, darah lembu jantan) dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini (lihat ay 7).”
Apakah artinya kata-kata Yesus dalam Mat 26.28? Allah mengadakan perjanjian dengan banyak orang berdosa. Perjanjian itu mengikatkan orang-orang berdosa dengan Allah. Mereka menjadi umat-Nya. Dengan kata lain Allah menerima orang-orang berdosa untuk menjadi umat-Nya. Penerimaan itu bercirikan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Adapun dasar pengampunan tersebut adalah darah Yesus. Hal ini berkenaan dengan sifat Allah yang mahakudus-adil dan kasih. Dengan kasih-Nya Ia bersedia menerima orang berdosa, namun kekudusan dan keadilan-Nya yang tidak berkompromi dengan dosa itu harus terlaksana pula. Yesus Kristuslah satu-satunya yang dapat memenuhi tuntutan kekudusan dan keadilan Allah. Melalui sengsara dan kematian-Nya di kayu salib, Ia menanggung murka Allah sebagai demi orang-orang berdosa. Sengsara dan kematian-Nya itu diungkapkan dengang kata-kata “Inilah darah-Ku, darah perjanjian”. Karena tuntutan kekudusan dan keadilan Allah terpenuhi, bukan oleh orang-orang berdosa, tetapi oleh Yesus Kristus, maka Allah menerima orang-orang berdosa, mengampuni mereka dan menjadikan mereka umat-Nya. Nah, setiap kali kita merayakan Perjamuan Kudus, kita diingatkan akan kata-kata dan karya Yesus Kristus: pengampunan atas dosa-dosa kita semata-mata berdasarkan pengurbanan Kristus.
Itulah ajaran Yesus. Sangat dalam? So pasti. Kata Danny, “bahkan murid-muridnya sendiri saja kebingungan mengartikannya…”
Wah, Yesus pun menyadari hal itu. Karena itu Ia berkata kepada mereka: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yoh 16.12). Syukurlah, Yesus menjanjikan datangnya Roh Kebenaran, yang ‘akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran … segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku” (16.13-15).
Yesus juga pernah berkata kepada murid-murid-Nya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (14.25-26). Puji Tuhan! Roh Kudus itulah yang kemudian menerangi rasul-rasul Kristus sehingga mereka mengerti betul ‘peristiwa Yesus’, sehingga mereka dapat memberitakan kebenaran tentang Kristus dan karya-Nya sebagai kabar baik!
Danny pun tak lupa menyinggung soal Rasul Paulus: “…apalagi Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus dan tidak pernah belajar ilmu Injil dari Yesus? Paulus mengajarkan bahwa penebusan dosa bisa diperoleh hanya cukup dengan beriman kepada penyaliban Yesus mencucurkan darahnya di salib (Efesus 1:7). Sedang Yesus mengajarkan bahwa penebusan dosa itu adalah dengan menyesal dan bertobat kepada Allah (Mat 4:17, Luk 15:7).”
Klise sebetulnya, mempersoalkan perbedaan Paulus dengan Yesus seolah-olah ada pertentangan di antara mereka. Itulah faham liberal tempo dulu gaya Adolf von Harnack. Syukurlah, penelitian yang kian mendalam tentang Perjanjian Baru dan Kekristenan Perdana justru memperlihatkan yang sebaliknya. Agaknya Danny tidak tahu tentang konsep paradosis alias tradisi iman injili yang sangat kuat di Gereja Kristen Perdana itu. Bahkan Paulus pun tunduk pada paradosis itu. Ajarannya harus diuji apakah selaras dengan paradosis atau pengajaran Injil murid-murid Kristus sendiri. Siapapun, termasuk dirinya, tidak boleh mengajarkan hal lain, entah memodifikasi entah bertentangan dengan paradosis itu. Simak misalnya 1Kor 15.3-7, yang berisikan paradosis Gereja Kristen. Simak juga Gal 2.6-10 dan Gal 1.6-10. Tidak ada alasan untuk menuduh Paulus membikin ‘injil’nya sendiri, yang berbeda bahkan bertentangan dengan Yesus dan rasul-rasul-Nya yang lain.
Yesus sendiri juga memandang diri-Nya sebagai tebusan pengganti: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.” Kata yang digunakan untuk ‘tebusan’ adalah lu,tron avnti. (lutron anti). Sementara lu,tron berarti sarana penebusan atau sarana pembebasan, preposisi-genitif avnti berarti ‘bagi’, ‘pada tempat’, ‘alih-alih’, ‘demi kepentingan’, ‘karena’. Gunakan kata-kata itu dalam kalimatnya. Maksud kata-kata Yesus jelas: Ia sendiri menyadari tujuan kedatangan-Nya, yakni untuk menjadi Penebus, dan dengan demikian menjadi jalan satu-satunya bagi manusia berdosa untuk datang kepada Bapa.
7. Yesus Firman yang jadi manusia
Last but not least, Sdr. Danny mengomentari Yoh 1.1, 14. Katanya, kedua ayat tersebut ‘tidak menunjukkan ucapan Yesus’. Sebab, katanya ‘setiap perkataan Yesus dalam Alkitab selalu diberi tanda kutip dan ayat ini tidak ada tanda kutipnya.’
Saya setuju bahwa kedua ayat terebut bukan ucapan Yesus. Tapi mohon perhatikan catatan teknis ini: dalam teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani alias bahasa aslinya, kita tidak akan menjumpai tanda kutip yang menandai kalimat langsung. Jadi meskipun tujuannya benar, dasar keberatan Danny tidak relevan.
Selanjutnya lagi Sdr. Danny menggunakan pendekatan yang sangat selektif untuk membuktikan bahwa faham yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri. Kata Danny, “Tetapi apakah Yesus mengajarkan hal yang demikian kepada muridnya bahwa firman itu adalah Allah? Kalau menurut Yesus sendiri firman itu berarti ucapan yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4). Memang firman itu selalu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah tetapi secara esensi (dzat) firman itu bukanlah Allah itu sendiri sebab menurut Yesus Allah itu adalah Roh” (Yoh 4:24).
Tentu saja benar Yesus pernah berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Benar pula bahwa firman itu selalu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Juga benar bahwa menurut Yesus Allah adalah Roh.
Tetapi apakah itu berarti Yoh 1.1, 14 bertentangan dengan ajaran Yesus hanya karena berbeda dengan data-data yang dikumpulkan, diseleksi, dan disajikan oleh sobat Danny? Juga, apakah kalau bukan ucapan Yesus sudah pasti salah? Bagaimana kalau ternyata ‘Kristologi Firman’ dalam Yoh 1.1-14 (bukan hanya ayat 1 dan 14) merupakan formulasi yang mengekspresikan penghayatan Yesus sendiri akan diri-Nya sekaligus iman Gereja kepada-Nya?
Suatu formulasi meski dengan kata-kata yang berbeda namun mempunyai kandungan arti yang sama dengan yang dimaksud oleh Yesus sendiri? Bukankah berkali-kali Yesus – dalam Injil Yohanes – menyatakan diri-Nya “Akulah Dia” (ego eimi, misalnya Yoh 6.20; 8.58; 13.19), suatu ungkapan yang kendati tidak menghapuskan perbedaan pribadiah antara diri-Nya dengan Sang Bapa, tetapi sekaligus juga menyatakan bahwa Ia memiliki kualitas esensial yang sama dengan Sang Bapa? Bukankah Yesus jugalah yang mengatakan kepada orang-orang Yahudi: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” ? Bukankah Ia menyatakan dengan tegas: “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku?”
Ketika Gereja Kristen Perdana mengidungkan syair pujian tentang Yesus Kristus dengan menyebut Dia Sang Firman, jelas Gereja Kristen Perdana menghormati Dia sebagai Jurubicara yang terakhir, final, dari Allah, yang menyatakan seutuhnya siapakah Allah bagi kita, karya-Nya demi keselamatan kita, dan kehendak-Nya atas kita (bdk. Yoh 1.18 dan Ibr 1.1-2).
Lalu kata Danny: “Yesus juga tidak pernah mengajarkan bahwa firman telah menjadi manusia, malah sebaliknya, Yesus mengakui bahwa dirinya hanyalah penerima firman seperti layaknya nabi-nabi yang lain. Yesus berkata kepada Allah: Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka (Yoh 17:8). Yesus juga bilang sama murid-muridnya: Aku telah memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15:15). Jadi Yesus itu juga menerima firman atau wahyu dari Allah seperti layaknya nabi-nabi yang lain.”
Pertanyaan saya, dalam kapasitas apakah Yesus menyampaikan firman Allah? Dalam kapasitas sebagai Dia yang diutus Bapa. Baik. Dia adalah Sang Anak yang datang dari sorga ke dalam dunia karena diutus oleh Sang Bapa. Benar, Yesus menerima firman dari Allah dan menyampaikannya kepada umat. Benar, Yesus berdiri dalam jalur tradisi kenabian dari Musa sampai Yohanes sang pembaptis. Tapi kalau kita jujur, kita juga harus mengakui bahwa Yesus membawa klaim yang melebihi para nabi agung. Tidak ada seorang pun di antara para nabi agung adalah Sang Anak dan berani-beraninya mengklaim relasi personal yang sangat khusus dengan Allah sehingga memanggil Allah Abba, Bapa. Tidak ada seorang pun di antara nabi agung yang mengklaim diri ‘Akulah Dia’ (ego eimi), juga mengklaim kendatipun untuk zaman mereka sendiri ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Tidak ada seorang pun di antara para nabi agung yang berani menyatakan: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu” dalam menyampaikan firman Allah. Mereka hanya berani berkata, “Demikianlah firman TUHAN…” Apakah perbedaan ini luput dari pengamatan Danny? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Yang jelas, minat selektif yang dikontrol dengan prasuposisi tertentulah yang kita lihat dari ‘kristologi’ Bung Danny.
Lalu tibalah kita pada ‘analisis kritis’ Danny mengenai otentisitas Yoh 1.1-18.
Katanya,
“Setelah diselidiki asal-usulnya ternyata Yohanes 1:1-18 ini bukan dibuat oleh Yohanes murid setia Yesus tetapi merupakan hymna Platonis yang baru dikutip dan diedit kemudian dimasukkan sebagai pembuka Injil Yohanes. Siapa yang mengatakan demikian? Catatan kaki The New Testament of the New American Bible, 1970 hal 203 dan kesaksian bapa gereja Santo Agustinus dalam bukunya The Confession of St. Augustine.
Catatan kaki The New Testament of the New American Bible, 1970 hal.203 menuliskan:
Yohanes 1:1-18, pembukaan ini merupakan hymne berbentuk syair mungkin berasal dari karya bebas, yang kemudian baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai pembuka Injil.”
Baiklah. Mari kita cek langsung dari referensi yang dirujuk oleh Danny:
Prolog ini menyatakan tema-tema utama Injil ini: kehidupan, terang, kebenaran, dunia, kesaksian, dan praeksistensi Yesus Kristus, Logis yang berinkarnasi, yang menyatakan Allah Sang Bapa. Asal-muasalnya, barangkali ini merupakan sebuah hymne Kristen awali. Paralel terdekatnya adalah hymne-hymne kristologis lainnya, Kol 1.15-20 dan Fil 2.6-11. Intinya (Yoh 1:1-5,10-11,14) berstruktur puitis, dengan frasa-frasa pendek yang dikaitkan dengan “paralelisme tangga”, yang di dalamnya kata terakhir dari frasa yang satu menjadi kata pertama dalam frasa selanjutnya. Prose sisipan (setidaknya Yoh 1:6-8,15) berkenaan dengan Yohanes Pembaptis.
Bagaimana? Pembaca sendiri bisa menilainya. Sebagai orang Kristen yang tidak menafikan penelitian historis-kritis terhadap Alkitab, saya meragukan kejujuran Sdr. Danny. Kita tidak menemukan kalimat yang ditulis Bung Danny! Astaga, Bung Danny mengintrodusir ‘penemuan’ –nya sendiri dengan mengatasnamakan para sarjana New American Bible yang memiliki kompetensi akademik luar biasa itu!
Selanjutnya, nah ini dia, nama bapa gereja Agustinus dibawa-bawa:
Dan bapa gereja Santo Agustinus mengatakan: Buku filsafat platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. di dalamnya saya baca (Pertanyaan saya: siapa yang membaca, Augustinus atau Danny? Mengertikah Danny bahasa Latin?), walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya sama, didukung dengan berbagai argumen, bahwa: Padamulanya adalah firman, dan firman itu bersama Tuhan, dan firman itu adalah Tuhan. (tanggapan saya: lagi-lagi kekacauan semantik! Pasalnya, dalam bahasa Latin kata yang diterjemahkan dengan ‘Tuhan’ adalah Dominus, sedangkan kata yang diterjemahakn untuk ‘Allah’ adalah Deus?). Segala sesuatu dijadikan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan. (Persoalannya, mana kutipan dari yang buku filsafat Platonis itu?). Kemudian penyalin kitab Yohanes mengadopsi hymne ini, menempatkannya sebagai pembuka Injil lalu merubah kalimat firman itu adalah dari Tuhan menjadi firman itu adalah Tuhan (Pertanyaan saya: adakah buktinya? Lalu, kapankan penyalin kitab Yohanes itu mengintrodusir nyanyian Platonik ini? Berasal dari tahun berapakah nyanyian Platonik itu? Sementara itu kita memiliki fragmen Injil Yohanes yang memuat prolog dari tahun 125 M, sekitar tiga puluh tahunan setelah Injil Yohanes ditulis. Padahal, sangat mungkin yang dimaksud oleh Augustinus adsalah tulisan-tulisan Plotinus [penggagas Neo-Platonisme, 204-270] dan Porphyrius [233-304], yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh C. Marius Victorinus. Perhatikan: beda lebih dari seratus tahun setelah salinan tertua dari Injil Yohanes yang memuat Yoh 1.1-18!)
Mari baca Confessions Pasal 9 paragraf 13-14a secara lengkap! Kita menemukan Bapa Gereja Agustinus sedang memperbandingkan faham tentang Logos alias Sang Firman dalam ‘kitab-kitab Platonik’ dengan Kekristenan. Augustinus memang menjumpai adanya kesamaan, misalnya tentang keberadaan kekal Sang Firman dan kesehakikatan Sang dengan Allah. Akan tetapi Augustinus juga menemukan perbedaan! Dalam buku-buku Platonik tidak terdapat ajaran bahwa Sang Firman menjadi manusia, datang kepada umat manusia yang telah diciptakan dan menjadi milik kepunyaan-Nya. Tidak juga terdapat ajaran bahwa sementara banyak orang yang menolak Sang Firman yang telah menjadi manusia itu, setiap orang yang menerima Dia, yakni percaya kepada Sang Firman yang telah menjadi manusia, dikaruniai kuasa atau hak untuk menjadi anak-anak Allah. Itu yang berkenaan dengan prolog Injil Yohanes. Ia juga membandingkan bacaan Platonik itu dengan hymne tentang Kristus dalam Fil 2-5-11. Perbedaan mencolok segera ia temukan. Faham Platonik tidak mengajarkan bahwa Kristus yang kekal itu rela merendahkan diri, turun ke dunia, menjadi manusia yang menghamba dengan setia kepada Allah, bahkan sampai mati di kayu salib. Silakan Saudara sendiri menyimaknya (edisi terjemahan: Augustinus, Pengakuan-pengakuan [Yogyakarta/Jakarta: Kanisius/BPK-Gunung Mulia, c.u. 1999] 193-194).
Dari awal mula Kau hendak memperlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati, dan betapa besar kerahiman-Mu apabila Kautunjukkan kepada manusia jalan kerendahan hati, melihat kenyataan bahwa Firman-Mu telah menjadi daging dan diam di antara manusia. Oleh karena itulah Kauberikan kepadaku, dengan perantaraan seorang laki-laki yang bongkak pongah bukan main, beberapa buku karangan para filsuf dari aliran Platonis, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin.
Di sana kubaca – sudah tentu tidak dengan kata-kata yang sama, tetapi maknanya sama benar, didukung oleh alasan yang banyak dan rumit – bahwa padamulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Dia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia; terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Meskipun jiwa manusia memberi kesaksian tentang terang itu, jiwa itu bukanlah terang itu; Firman Allah itulah Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang yang sedang datang ke dalam dunia. Dia telah ada di dalam dunia ini dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Namun, yang ini, yaitu bahwa Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya; tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya, hal itu tidak kubaca dalam buku-buku itu.
Begitu pula kubaca dalam buku-buku itu bahwa Firman, yaitu Allah, diperanakkan bukan dari daging, bukan dari darah, bukan oleh keinginan seorang laki-laki, bukan pula oleh keinginan daging, melainkan dari Allah. Akan tetapi, bahwa Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kami, dalam buku-buku itu tidak kubaca.
Memang sewaktu membaca-baca tulisan-tulisan itu, telah kutemukan dalam berbagai ungkapan dan bermacam-macam bentuk bahwa Anak, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang dirampas, sebab dari kodrat-Nya memang demikianlah Dia. Akan tetapi, bahwa Dia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, dan dalam keadaan sebagai manusia Dia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib, dan bahwa itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dari antara mereka yang mati dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan dalam kemuliaan Allah, Bapa”, hal itu tidak terdapat dalam buku-buku itu.
Apa yang dapat kita katakan? Bukan tidak mungkin terdapat kesamaan formal di antara Platonisme dan Kekristenan. Perlu kita ketahui, faham tentang Logos bercorak Platonik juga sudah digagas oleh Philo, cendikiawan Yahudi di Alexandria. Manakala Gereja Kristen Perdana mengekspresikan imannya tentang Kristus, bukanlah hal yang mengherankan apalagi salah apabila mereka melakukannya secara kontekstual. Toh isi pemahamannya sangatlah berbeda. Platonisme, Gnostisisme, dan Neo-Platonisme sangat merendahkan aspek jasmaniah atau ragawi dari manusia. Itulah sebabnya mereka hanya menerima keberadaan spiritual dari Sang Firman. Akan tetapi Gereja Perdana, juga Yohanes, bukan hanya mengagungkan Kristus yang pra-eksisten, dengan menyebut-Nya Logos alias Sang Firman, tetapi juga bersaksi dengan penuh sukacita bahwa Sang Firman itu telah menjadi manusia dan dengan demikian menyatakan siapakah Allah bagi kita, karya-Nya demi keselamatan kita, dan kehendak-Nya atas kita.
Sisipan karya Platonik? Suatu kesimpulan yang dangkal dan dari sesat-pikir karena tidak cukup memahami latar-belakang sejarah pemikiran dan agama-agama pada zaman Gereja Kristen Perdana!
Penutup: Apakah Yesus Allah?
Sekarang tibalah saatnya kita – meski secara ringkas – menegaskan penghayatan dan pemahaman iman kita tentang Yesus Kristus.
Apakah Yesus Allah?
Apabila yang dimaksud dengan Allah adalah Sang Bapa yang mengutus-Nya ke dalam dunia, jelas, Yesus bukanlah Allah! Yesus adalah Sang Anak, pribadi yang berbeda dengan Sang Bapa. Yoh 1.1 sendiri – yang dikritisi secara imajinatif oleh Danny – membedakan keduanya. “Padamulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Apabila kita mengindahkan tata bahasa Yunani, kita menemukan bahwa kata Firman didahului kata sandang penentu ho. Jadinya, ho logos, Sang Firman. Lalu untuk kata Allah, kata yang pertama didahului kata sandang penentu ho pula. Jadinya, ho theos, Sang Allah. Sedangkan untuk yang kedua, ‘Firman itu adalah Allah’, kata Allah tidak didahului oleh kata sandang penentu. Sehingga bisa diterjemahkan sebagai berikut: Padamulanya adalah Sang Firman; Sang Firman itu ada bersama-sama dengan Sang Allah; dan Sang Firman itu adalah Allah. Catatan kaki New American Bible sendiri berkomentar:
‘Bersama-sama dengan Allah’: preposisi Yunani di sini menyiratkan adanya komunikasi dengan yang lain. ‘Adalah Allah’: tidak memiliki kata sandang penentu untuk ‘Allah’ dalam bahaasa Yunani, menunjukkan predikasi daripada identifikasi.
Apakah artinya predikasi dan bukan identifikasi? Jelas, Sang Firman bukan Sang Allah alias Sang Bapa (bdk 1.18). Tetapi Sang Firman bersama dengan Sang Allah memiliki kesamaan substansial. Hukum Granville Sharp dalam tata bahasa Yunani mengajarkan bahwa kata sandang penentu mengidentifikasikan suatu kata benda, sedangkan kata benda yang tidak berkatasandang penentu menunjukkan natur dari sesuatu yang ditunjuknya. Berarti, Sang Firman memiliki natur ilahi, sebagaimana halnya Sang Allah alias Sang Bapa. Tetapi Sang Firman bukan pribadi yang sama dengan Sang Allah alias Sang Bapa. (Demikian juga Sang Firman dan Sang Bapa bukan pribadi yang sama dengan Roh Kudus. Inilah Ketritunggalan Allah: esa dalam natur ilahi, tiga dalam pribadi).
Keilahian Sang Firman ditunjukkan oleh Yohanes dengan beberapa hal. Pertama: padamulanya (ay 1 dan 2). Kapankah ‘padamulanya’ dalam ay 1 itu? Lalu kapankah ‘padamulanya’ pada ay 2? Kalau Sang Firman ada padamulanya, dan Ia ada bersama-sama dengan Sang Allah (juga) padamulanya, bukankah itu berarti Sang Firman kekal sebagaimana Sang Allah itu kekal? Itulah keilahian Sang Firman. Kedua: Sang Firman menciptakan segala sesuatu (ay 3). Ketiga, Sang Firman ‘mengeksegesis’ atau menyatakan seutuhnya tentang siapakah sebenarnya Sang Allah kepada umat manusia (ay 18). Siapakah yang dapat melakukan itu kecuali Dia yang sehakikat dalam keilahian-Nya dengan Sang Allah? Keempat, ‘Firman itu telah menjadi manusia dan berdiam di antara kita’. Kata berdiam di sana, ‘berkemah’ adalah salinan bahasa Yunani dari bahasa Ibrani PL yang menunjukkan kehadiran Yahweh di tengah-tengah umat-Nya. Bukankah Yahweh hadir di tengah-tengah umat-Nya melalui Kemah Suci manakala mereka mengembara di padang pasir selepas dari Mesir menuju Tanah Terjanji? Bukankah Ia hadir pula di tengah-tengah umat-Nya melalui Bait Suci pada masa Kerajaan? Kini Sang Firman menjadi manusia, itulah kehadiran ilahi di tengah-tengah umat manusia.
Menurut Alkitab, Allah yang esa senantiasa berada sebagai Bapa dengan Firman dan Roh-Nya. Memang, ketika berkata-kata tentang ‘Allah’ pada umumnya Alkitab merujuk pada Sang Bapa. Dialah Allah. Akan tetapi, Allah tidak pernah tanpa Firman dan Roh-Nya. Allah tanpa Firman dan Roh-Nya bukanlah Allah yang hidup dan benar. Suatu saat dalam sejarah, Ia mengutus Sang Firman untuk menjadi manusia, itulah Yesus Kristus. Kemudian Ia mengutus pula Roh Kudus-Nya untuk memimpin setiap orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan dan ditebus oleh Kristus agar mereka percaya kepada Sang Juruselamat. Bahkan, Roh itu berdiam di dalam diri setiap orang yang telah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan (Gusti) dan Juruselamat, untuk menyertai dan menguduskannya. Luar biasa.
Jadi, apakah Yesus itu Allah? Yesus bukan Allah, Sang Bapa. Tetapi Dia adalah Sang Anak alias Sang Firman, yang ilahi sepenuhnya seperti Allah Sang Bapa. Dalam bahasa kredo, Allah Sang Putera.
Salam persahabatan untuk Bung Danny Meilandy!
TERPUJILAH ALLAH!
TEOLOGI
Aku peraya kepada Allah Bapa
Aku percaya kepada Yesus Kristus putera Allah (bukan Allah Sang Putera, apalagi Allah Putra dan Allah Anak)
Aku percaya kepada Roh Kudus (bukan Allah Roh Kudus)
Allah bukan Yesus, Yesus Bukan Allah, Allah bukan Roh Kudus, Roh Kudus bukan Yesus, Yesus bukan Roh kudus dan Roh Kudus bukan Yesus. Mereka berapa? Mbuh? Boten ngertos. Grejo iku opo? Persekutuan umat yang menyatu di dalam Allah Bapa, Yesus Krestus dan Roh Kudus. Adakah gereja yang demikian? Mbuh? Pak Pendeto Rudolfus Antonius, pengen nanya. Apakah gerejo tempat anda mengembala persis seperti pengertian grejo yang saya pahami di atas? Bagi saya hal itu lebih penting dari pada gugatan, diskusi nyoal krestus, versi orang lain. Wallikumsalam wr.wb, dan damai sejahtera turun juga atasmu.
Comment by andohar purba — July 30, 2008 @ 1:48 am
Kristolog muslim mustahil, karna berteologi tanpa iman kepada Tuhan Yesus dan bimbingan Roh Kudus. Akibatnya, Kristologinya compang camping dan Alkitab dimutilasi demi ego pribadi. Barangkali hanya cari sensasi mengutak atik akidah Kristen. Tidak ada kompromi dgn ajaran sesat. GBU.
Comment by segars — October 9, 2008 @ 1:32 am
kristologi penting bagi agama kristen sebab di sana letak inti ajaran yang membedakan agama kristen dengan agama sebelum dan sesudahnya (yudaisme dan islam). Namun kristologi di dalam kekristenan sendiri apakah pernah mencapai titik pembahasan yang tuntas? Jika bukan kekuatan politis kekaisaran Romawi yang memfasilitasi adanya pembahasan kristologi kristen dalam beberapa konsili selama beberapa ratus tahun maka pembahasan kristologi ini tidak akan pernah habis.
lalu tiba-tiba ada segilintir manusia congkak atas dasar pertimbangan politis dari pada teologis yang didukung oleh pemerintah memutuskan apa yang harus dipercayai oleh gereja dan selebihnya dianggap sebagai bidat atau bahkan anti kristus dan seakan-akan kelompok trinitas ini menjadi pewaris kebenaran allah tentang ajaran kristologi yang paling benar di atas bumi.
trinitas itu dogmatika ajaran agama yang bersifat politis dan bahkan sinkretis dalam sejarahnya. (silakan membuat studi literaturnya sendiri).
jadi pandangan saya apapun “makanannya” konsep kekristusan tetap menjadi sentral bagi konsep penyelamatan khususnya bagi 3 agama samawi Yahudi, kristen dan islam. apakah kemudian yesus adalah kristusnya? walahualam.
Comment by amos — October 12, 2008 @ 10:55 am
Saya pengikut yesus kristus.menurut saya Yesus itu bukan Allah.Yesus adalah Tuhan orang kristen dan bukan Allah.saya mengerti mengapa ada kata Allah didalam alkitab Indonesia.baik kita telusuri awalnya alkitab sampai indonesia mengapa nama Allah bisa masuk kedalam alkitab….?saya pernah bertanya kepada tukang sayur dia adalah sorang muslim, dia mengenal siapa Tuhan nya.”Tanya saya: Mang, Tuhan mas amir(anggap saja namanya)siapa namaya?Tuhan
mas namanya Allah”…selanjutnya saya tanya “Terus Tuhannya orang kristen siapa mas? lalu jawabnya “kalo Tuhan orang kristen mah Yesus Pa…lalu saya tanya lagi trus mas kok orang kristen nyembah Tuhan Muslim juga,terus jawabnya,,,wah… pa saya mah ngga ngerti yang kaya gitu…yang saya ngerti hanya itu saja, jangan yang aneh-aneh pa…saya ngga ngerti…” saya berpikir dalam hati, mengapa seorang tukang sayur yang beragama muslim tahu benar siapa Tuhanya dan Tuhan yang disembah orang kristen, tapi mengapa orang kristen tidak mengenal siapa yang harus disembahnya….saya lebih terkesima dengan orang muslim yang tahu siapa Tuhan nya…dari pada orang kristiani yang katanya pengikut Yesus Kristus… semoga dapat jadi bahan sharing saudara.amin Tuhan Yesus memberkati
Comment by laurence — October 13, 2008 @ 8:56 am
dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuanku, diri ini percaya bahwa segala yang terjadi adalah kehendak Alah semata. Aku yakini imanku dan kuasa Tuhan atas hidupku, karena KasihNYa aktivitas kehidupan masih berlanjut. Mengapa kita mempertanyakan YESUS….???
Buat apa…??? KAsihNYA…, CintaNYa…, PengorbananNYA..,sungguh TAKTERhingga…tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Kebenaran tetap kebenaran bagi yang percaya dan meyakini. Dan KEYAKINAN tidak bisa diPERDEBATKAN, karena EGO yang berbicara Dan Kepuasan batin yang bersuka ria atas akuan argumennya. Keyakinanku Kayakinanmu Benar adanya, tapi….lebih baik dijalankan dengan kasih tulus suci tanpa kekerasan dan Kedamaian biar bersemi dibumi persada ini. AMIN.
Comment by eka — October 13, 2008 @ 8:49 pm
bro.. diskusi ini cukup berat karena kita semua terbatas untuk memahami Allah. kita tidak akan pernah berhasil mendefinisikan Allah dengan pasti dan merumuskannya.
tapi bukan berarti kita tidak bisa mengenal Allah. diskusi ini baik bro agar umat Allah (beragama) dapat saling memahami satu sama lain.
Allah boleh kita panggil sebagai Bapa di dalam iman kepada darah penebusan dosa Yesus sang Anak, sang firman yang menjadi manusia. ini jelas kontroversi bro… tapi Inilah anugerah Allah itu. bahwa yang maha mulia mau menjadi sama dengan kita. ini sangat kontrovesi. dua hal yang extreme berbeda yaitu Allah yang maha suci dan manusia yang terbatas, tapi kedua hal itu diimani ada dalam pribadi Yesus. orang kristen perlu menyadari dan memahami kontroversi ini. tentu ini tidak sesuai bagi umat Muslim yang mempunyai gambaran Allah yang berbeda.
namun demikian kita tahu bahwa iman kristen tumbuh dari pengenalan akan Allah, karena mengalami anugerah Allah dalam hubungan pribadi dengan Allah yang unik dalam iman kepada Yesus. pengalaman unik ini membawa orang Kristen mampu mengimani dua hal yang extrim berbeda.
kalau dua hal yang sangat extreme berbeda bisa diterima bahkan diimani tentu orang kristen juga mampu menerima perbedaan yang tidak ekstrim, misalnya perbedaan pemahaman Allah dari sesama manusia. pemahaman sesama manusia yang sama-sama terbatas seperti kita.
biarlah rasa saling menghargai itu tetap ada diantara orang beriman.
karena oleh kasih karunia Allah kita diterima menjadi anak-anak Allah Yoh 1:12, tentu ini juga memampukan kita untuk menerima yang lain dengan kasih melalui keterbukaan, penghargaan, dan ketulusan.
Comment by arif budiman — October 26, 2008 @ 6:59 pm
diskusi ini rasanya lebih menjadi konsumsi para teolog. walaupun memang teologi bukan monopoli para teolog. tapi untuk meninjau dan memahami diskusi pada topik ini perlu mengerti bahasa yunani yang garmatikalnya tentu lebih terstruktur dari bahasa inggris apalagi bahasa indonesia. kalau penafsiran hanya mengandalkan alkitab terjemahan bahasa indonesia akan jadi sangat spekulatif untuk bicara dogma. (kecuali untuk kepentingan refleksi)
namun apa yang dilakukan saudara Dany yang berangkat cukup baik dalam menafsir alkitab sebagai sumbangan bahan berwacana dari paradigma Islam. penafsiran terhadap teks perlu disadari tidak lepas dari pengaruh subjektifitas, itu syah-syah saja. namun permainan tafsirnya perlu membuka diri bahwa tafsiran ini berangkat dari paradima tertentu. sehingga bahasa penafsiran yang dipakai tidak terlalu percaya diri sebagai kebenaran yang pasti(namanya juga tafsir).
jika penafsiran alkitab ditinjau dari paradigma Islam ada baiknya kalau memungkinkan metode tasir (tinjauan kritis secara historis, sosiologis, sastra, budaya, ideologi dll) ini di perbandingkan dengan penerapan metode tafsir ini terhadap kitab suci Al-Quran, agar kita dapat belajar bersama saling mengenal dan saling memahami.
selamat berdiskusi semuanya.
Comment by sabar — October 27, 2008 @ 4:36 am