CHRIST AND CULTURE – H. Richard Niebuhr
Suatu Tipologi yang Analitis
Oleh: Benyamin, Dora, Grace, Hadyan, Martin, Mixon, Safnat
Pendahuluan.
Berbicara tentang relasi kekristenan dan peradaban merupakan sebuah topik yang memunculkan perdebatan dari berbagai sisi hingga saat ini, yang telah melibatkan para sejarawan, teolog, negarawan, dsb. Perdebatan ini sangat membingungkan dari berbagai sisi, yang mencoba menjelaskan ketegangan antara peradaban Kristen dan masyarakat sekuler non-Kristen. Perdebatan ini tidak bisa dijawab hanya dengan menggunakan satu jawaban tunggal dari kekristenan, tetapi hanya mungkin melalui sebuah seri tipe-tipe jawaban sebagai sebuah strategi untuk menjawabnya. Persoalan ini muncul karena: Adanya sikap intoleran. Kekristenan mengklaim dirinya dalam posisi eksklusif.
Definisi Kristus. Orang Kristen yang disebut “pengikut Kristus” memahami Yesus Kristus sebagai guru agung dan pemberi hukum moral yang sangat mempengaruhi pikiran. Kekristenan adalah sebuah hukum baru dan sebuah agama baru yang diproklamasikan oleh Yesus. Bagi sebagian orang Kristen yang lain, kekristenan utamanya adalah bukan pengajaran baru ataupun hidup baru, tetapi komunitas baru, yaitu Gereja Katolik yang kudus. Dalam konteks PB, Yesus Kristus adalah sejarah aktual, yang tidak dapat dibandingkan dengan siapapun (Socrates, Plato, Aristoteles, dsb). Persoalan yang muncul adalah: (1) adalah sebuah ketidakmungkinan untuk mengklaim kebenaran dengan hanya menyatakan dalil dan konsep yang ditanamkan dalam wujud seseorang; (2) adalah sebuah ketidakmungkinan mengatakan segala sesuatu tentang pribadi seseorang (Kristus) tanpa dihubungkan dengan sudut pandang tertentu dari gereja, sejarah dan budaya yang dilakukan untuk menguraikan dia.
Definisi Kebudayaan. Bagi para teolog, kebudayaan didefinisikan sebagai sebuah fenomena tanpa interpretasi teologi, sebab penafsiran tentang teologi hanya dibahas dalam kekristenan. Bagi yang lain, kebudayaan adalah sesuatu yang sekuler yang tidak mempunyai hubungan positif maupun negatif dengan Yesus Kristus. Juga ada yang tetap bertahan pada suatu pengetahuan yang rasional dari Tuhan atau hukum-Nya. Ada juga teolog seperti para antropolog berpendapat bahwa iman Kristen secara integral berhubungan dengan kultur Barat, seperti pandangan Ernst Troelstch. Troelstch percaya bahwa agama Kristen/umat Kristen dan kultur barat menjadi sangat erat hubungannya. Kebudayaan juga adalah prestasi manusia, dimana didalamnya dapat dibuktikan berbagai hasil usaha manusia seperti pendidikan, sains, filsafat, pemerintahan, hukum, teknologi, dsb. Akhirnya, pengertian kebudayaan juga harus diarahkan pada sifat pluralistik yang adalah karakteristik dari semua kultur/budaya.
Tipologi hubungan antara Kristus dan kebudayaan yang dibuat Niebuhr dari problematika tersebut adalah tipe antagonis (Oposisi/Radikal, Christ Against Culture), tipe akomodatif (The Christ of Culture), tipe sintetik (Christ above culture), tipe dualis (Christ and culture in paradox), tipe tranformatif (Christ The Transformer of Culture)
BAB 2. Christ Against Culture
Pada dasarnya, topik Kristus melawan kebudayaan menggambarkan suatu sikap yang radikal, yang benar-benar menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini termasuk di dalamnya kebudayaan. Di sini, Kristus dipertentangkan dengan kebudayaan. Dalam sikap radikal ini, kekristenan menganggap dirinya sebagai suatu komunitas yang suci. Sedangkan dunia dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan harus ditolak dan dihindari.
Mengenai hal “Kristus Melawan Kebudayaan, ada beberapa pemikiran yang dikutip yaitu:
Surat I Yohanes.
Dalam Surat I Yohanes tidak ada pernyataan bahwa Orang Kristen wajib berpartisipasi di dalam pekerjaan di lembaga sosial. Penulis dalam surat I Yohanes lebih memfokuskan perhatian pada masalah “akhir” dunia. Ia yakin bahwa akhir “dunia” kelihatannya sudah begitu dekat sehingga tidak ada kesempatan untuk menganjurkan poin tersebut. Semua orang wajib berada di dalam kesetiaan pada Yesus Kristus dan setia pada persekutuan/persaudaraan dengan sesama Kristen, tanpa perhatian kepada budaya yang fana itu.
Pemikiran Tertulianus
Pemikiran Tertulianus mirip dengan I Yohanes. Pernyataannya tampak radikal juga. Dalam buku-bukunya seperti : Pengajaran duabelas rasul, Gembala Hermas, Surat Barnabas, Surat pertama Klemens ia memperesentasikan kekristenan sebagai jalan hidup yang sungguh terpisah dari kebudayaan. Kekristenan merupakan komunitas baru dan terpisah dari lainnya. Di sini nampaknya ada nada eksklusif bahwa Allah telah dan hanya memilih Yesus Kristus dan kita (umat Kristen) menjadi orang-orang yang terpilih/khusus. Segala sesuatu diciptakan dan ada untuk kepentingan umat Kristen (sangat sentralistis). Seperti yang dikatakan oleh Harnack mengenai kepercayaan pada awal kekristenan yaitu:
a) Orang-orang kita lebih tua daripada dunia ini
b) Dunia diciptakan untuk kepentingan kita
c) Dunia diadakan untuk kepentingan kita; kita memperlambat penghakiman dunia
d) Segala sesuatu di dunia ini adalah subyek untuk kita dan harus melayani kita
e) Segala sesuatu di dunia ini, mulai dari awal, pertengahan hingga akhir dari keseluruhan sejarah dinyatakan bagi kita dan kebohongan transparan di depan mata kita
f) Kita akan turut mengambil bagian dalam penghakiman dunia dan diri kita akan menikmati kebahagiaan kekal.
Tertulianus adalah seorang Trinitarian yang memahami bahwa Allah, yang menyatakan dirinya di dalam Yesus Kristus, adalah pencipta dan juga Roh; tetapi di dalam konteks itu ia tetap mempertahankan keabsolutan dari Yesus Kristus sebagai “Kepala tertinggi dan Raja anugerah dan disiplin, penerang dan pelatih dari umat manusia, anak-Nya sendiri.
Penolakan Tertulianus pada klaim kebudayaan adalah persesuaian yang tajam. Menurut Tertulianus, konflik yang dihadapi oleh orang-orang percaya adalah bukan dengan alam tetapi dengan kebudayaan dimana di dalam kebudayaan terletak dosa utama. Tertulianus sangat dekat dengan pemikiran bahwa dosa asal diwariskan kepada masyarakat dan bahwa adat-istiadat merupakan hal yang jahat yang melingkupi seorang anak sejak kelahirannya dan dalam pendidikan/latihannya meniru segala sesuatu. Menurutnya, hanya jiwa saja yang tetap baik. Alam semesta dan jiwa yang benar-benar secara alamiah itu baik. Bagi Tertulianus korupsi adalah sifat yang dikandung manusia secara alami (merupakan bagian dari kebudayaannya), dan sesungguhnya kejahatan yang dilawan oleh manusia sebenarnya ada di dalam kebudayaan mereka sendiri. Menurut Tertulianus, agama-agama suku/pagan dengan politeisme mereka dan pemujaan terhadap berhala, dengan kepercayaan dan ritus-ritus, dengan sensualitas dan komersialisasi mereka, adalah sesuatu yang jahat dan membuat loyalitas/kesetiaan kekristenan kepada Allah menjadi terancam dan berada dalam bahaya.
Penolakan Tolstoy terhadap kebudayaan
Di samping Tertulianus, ada seseorang yang juga mengambil sikap yang radikal dengan jalannya sendiri. Orang itu adalah Leo Tolstoy. Bagi Tolstoy, Yesus Kristus adalah pemberi hukum terbesar dimana perintah-perintahnya sesuai dengan kebenaran alamiah manusia dan dengan alasan tuntutan tidak korupsi. Perubahannya berpusat pada realisasi bahwa Yesus benar-benar akan memberikan manusia hukum yang baru dan hukum tersebut akan menjadi dasar dari sesuatu yang alami. Literatur dimana Tolstoy interpretasikan sebagai hukum yang baru, secara khusus terdapat dalam seperlima pasal menurut Injil Matius, dan dengan keras ia patuh pada hal itu dan membuat perubahannya menjadi suatu peristiwa yang radikal sekali.
Permasalahan Teologi
Ada indikasi di dalam gerakan Kristus melawan Kebudayaan bahwa kesulitan kekristenan menghadapi dilema mereka adalah bukan hanya secara etika tetapi juga secara teologi; dan perlu diingat bahwa jalan keluar secara etika lebih banyak bergantung pada pengertian teologi sebagai wakil Kitab Suci. Permasalahan teologinya adalah:
a) Masalah akal budi dan wahyu/penyataan. Di sini ada kecenderungan di dalam gerakan radikal untuk menggunakan kata “akal budi” untuk menunjuk pada metode-metode/cara-cara dan isi/kandungan pengetahuan yang bisa ditemukan dalam masyarakat kebudayaan; “wahyu/penyataan” menunjuk pada pengetahuan Kristen tentang Allah dan tugas/kewajiban yang datang dari Yesus Kristus yang tinggal di dalam masyarakat Kristen. Definisi ini sangat menganggap buruk akal budi dan mengagungkan/memuliakan wahyu.
b) Pertanyaan tentang alam dan dosa semua dihubungkan dengan jawaban dari pertanyaan Kristus dan Kebudayaan. Jawaban yang masuk akal yang nampaknya sangat radikal, yaitu bahwa dosa berlimpah-limpah di dalam kebudayaan, tetapi kekristenan mengusir kegelapan dengan terang dan itu adalah alasan yang masuk akal untuk pemisahan dari dunia sebagai bentuk pemeliharaan pada komunitas yang suci dari korupsi. Budaya korupsi dimana seorang anak dibesarkan, bukanlah korupsi karena budaya yang tidak terdidik, tetapi ini merupakan tanggung jawab dari sejarah dosa yang panjang.
c) Masalah menyangkut hubungan antara kepatuhan kepada hukum dan kasih karunia Allah
d) Masalah pengertian tentang Allah Tritunggal
BAB 3. The Christ of Culture
Ketika Injil datang pada suatu kebudayaan maka disana ada orang-orang Kristen. Orang Kristen ini lalu terpisah (ber-oposisi) dengan kelompok radikal atau yang mengutamakan keberadaban (civilization). Tidak ada ketegangan yang berarti antara mereka dengan dunia, hukum masyarakat dengan Injil, anugerah atau kemampuan manusia dan perbincangan antara etika keselamatan dengan etika sosial. Ini menggambarkan bagaimana mereka dapat memahami Kristus melalui kebudayaan. Sikap ekstrim mengintepretasi Kristus ke dalam kebudayaan dan berusaha meng-eliminasi ketegangan antara Kristus dengan dunia sosialnya (helenistik), diwakili oleh Kristen Gnostik.
Menurut Burkitt (h.86) figur Yesus adalah esensial, tanpa Yesus sistem akan rusak, dimana “Gnostik” memperdamaikan Injil dengan pengetahuan dan filosofi saat itu. Mereka menjauhkan Injil agar tidak terlibat dengan ide Yahudi yang barbar dan tertinggal tentang Allah dan sejarah, membangkitkan ke-Kristenan pada tingkat kepercayaan kepada pengetahuan intelijen juga meningkatkan daya tariknya. Pengetahuan tentang Yesus Kristus sebagai individu dan spiritual dalam kehidupan budaya menjadi puncak pencapaian kemanusiaan. Gnostik mengakomodasikan ke-Kristenan pada budaya (Kristus sebagai penyelamat jiwa yang kosmis), dan bersikap selektif baik terhadap budaya maupun Kristus. Ke-Kristenan diintepretasi sebagai agama ketimbang sebagai gereja atau mengintepretasi gereja sebagai asosiasi religius ketimbang masyarakat baru. Dimana Kristus memunculkan kebenaran agama juga Tuhan, sebagai obyek penyembahan namun bukan sebagai Tuhan dari semua yang hidup, bukan anak dari Bapa yang mempresentasikan pencipta dan pengendali segala sesuatu. Gnostikisme memegang konsep ke-Kristenan hanya sebagai agama dan menolak etikanya.
Ilustrasi modern terbaik tentang The Christ of culture oleh Albrecht Ritschl, didasari dengan Kristus dan budaya, dimana semua kinerja budaya bersumber pada konfliknya terhadap alam dan kemenangan personal, eksistensi moral tercapai sebagai “goal”nya (wujud kerajaan Allah). Pendapat ini mengandung dualitas yakni antara pekerjaan Allah dan pekerjaan manusia. Allah dan manusia mempunyai tugas yang sama untuk merealisasikan kerajaan; dan pekerjaan Allah dalam komunitas manusia terwujud melalui Kristus dan melalui kesadaran daripada ketiadaannya. Kristus kebudayaan merekonsiliasi ke-Kristenan dan budaya, diintepretasi sebagai penuntun manusia dalam seluruh pekerjaannya untuk menyadari kenyataan dan mempertahankan nilai-nilai juga sebagai Kristus yang dipahami dari ide-ide kebudayaannya. Kerajaan Allah tidak lain adalah persaudaraan antar manusia, “Allah” adalah sesuatu yang berdampak kepada kemanusiaan, segenap referensi ditujukan kepada manusia dan pekerjaannya. Jika Ritschl mengintepretasi Yesus melalui budaya, dengan elemen-elemen yang kompatibel dengan Kristus. Menurut Niebuhr, Ritschl belum menemukan atau menyelidiki bangunan seperti apakah yang dapat mempertemukan Kristus dengan tendensi kapitalistik, nationalistik atau materialistik. Jika dia memakai ke-Kristenan sebagai pemaknaan akhir, ia memilih akhir yang kompatibel dengan ke-Kristenan ketimbang berbagai “goal” dari budaya kontemporer.
BAB 4, Christ Above Culture
The church of the center
Permasalahan antara Kristus dan budaya dalam pandangan Niebuhr menurut saya didekati dari satu keyakinan teologis dimana Yesus Kristus sebagai Anak Allah, Bapa yang menciptakan langit dan bumi. Dengan formulasi ini kita diantar memasuki diskusi tentang Kristus dan budaya. Suatu konsepsi tentang alam dimana seluruh kebudayaan itu berada, dan mana yang baik dan benar datang dari satu orang yaitu Yesus Kristus yang taat, dan dengan siapa ia tidak dapat dipisahkan. (hal 117)
Dengan keyakinan ini antara Kristus dan dunia tidak dapat secara sederhana dikatakan saling menentang. Dunia tidak dapat dipandang sebagai kenyataan yang tidak baik. Oleh karena itu ketaatan orang kepada Allah tidak berarti memisahkan Yesus Kristus dari Sang Pencipta, atau sebaliknya, tetapi ketaatan kepada Allah di dalam Kristus, dan Kristus di dalam Allah. Ketaatan tersebut harus konkret, nyata dalam kehidupan manusia secara alami, dan menjadi budaya manusia.
Ide pergerakan gereja juga datang dari berbagai keyakinan tentang universalitas dan radikalnya dosa. Ide ini yang diperdebatkan oleh katolik dan Protestan dengan thomist dan Lutheran. Menurut Niebuhr ada tiga bentuk kelompok yang bergerak di dalam pusat gereja yang dinamakannya dengan, sintetis, dualist,dan conversionist.
The Synthesis of Christ and Culture
Ketika orang Kristen setuju dengan masalah Kristus dan budaya, mereka akan selalu tidak setuju dengan hubungan “ini atau…” tetapi dengan hubungan a’ini dan …”. Sintesis yang meyakini antara Kristus dan budaya mengakui Tuhan sebagai Tuhan atas alam ini juga di luar alam. Penggabungan Kristus dalam pandangan yang menghilangkan waktu ini membedakan Allah dengan manusia dengan cara mentuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan, dan penyembahan kepada ketuhanan yang lain yaitu Yesus Kristus. Ia adalah manusia dengan dua nature yang membingungkan tetapi tidak dapat dipisahkan. Menurutnya Kristus menjadi pemisah bagi kebudayaan orang percaya. Orang Kristen tidak dapat berkata “salah satu Kristus atau budaya” karena kita setuju dengan Allah dalam semua hal. Kita juga harus tidak berkata “keduanya Kristus dan budaya” walaupun di sana tidak ada perbedaan antara mereka, kita harus berkata “keduanya Kristus dan Kebudayaan” dalam kesadaran penuh tentang dua keberadaan, dua hukum, dua akhir, dan dua situasi.
Penjelasan Niebuhr mengenai Kristus di atas kebudayaan diangkat nya dari pandangan Clement yang melihat bahwa Krsitus baginya adalah Kristus yang tidak menentang kebudayaan, tetapi menggunakannya sebagai instrument dalam pekerjaannya memberkati manusia dari apa yang tidak dapat diusahakan sendiri oleh manusia. Kristus mendorong manusia untuk mendesak diri mereka sendiri dalam kebudayaan dan intelektual mereka sendiri untuk dipersiapkan bagi kehidupan mereka dimana mereka tidak hanya memperhatikan diri mereka sendiri, kebudayaan mereka, dan kebijaksanaan mereka. Kristus bagi Clement adalah keduanya yaitu Kristus dan budaya dan Kristus di atas semua budaya.
Synthesis in Question
Dalam pandangan saya kenyataan tentang dualistic yang ditunjukkan oleh Niebuhr akan tetap ada dalam kehidupan manusia (orang percaya). Jalan yang ditunjukkan untuk memandang kebudayaan itupun sudah dibuka. Saya setuju dengan cara pandang Niebuhr ini yang tidak coba untuk memaksakan orang untuk melihat Kristus dan secara bersamaan juga menghilangkan atau melupakan budaya yang ada menurut kondisi orang itu sendiri, dengan mencoba menciptakan suatu budaya baru yuang justru asing baginya. Upaya semacam ini menurut saya yang coba untuk ditunjukkan Niebuhr pada awal bab ini. Bagi saya upaya membedakan mana yang lebih benar antara Kristus dan kebudayaan akan membuat orang hanya terjebak dalam sikap radical yang ekstrim dan menjadikannya terasing dari dunianya sendiri.
Dalam konteks Indonesia saya melihat adanya kecenderungan-kecenderungan semacam ini. Martin Lukito Sinaga (penuntun:437) menunjukkan bahwa sebetulnya kita perlu untuk memahami secara mendalam lagi apa sebetulnya makna yang terkandung di balik kata “Indonesia”. Selama ini kita (gereja) sering terjebak untuk melihat etnisitas sebagai maslah yang terbesardan belum final sehingga perlu untuk terus dikaji. Tetapi sebetulnya kata Indonesia sendiri mengandung makna cultural yangsangat dalam. Dari empat pemetaan yang dibuat tentang kebudayaan, tipe ke-3 (klasikal, dimana kebudayaan dilihat sebagai warisan leluhur) terbukti sangat dekat dengan praktek masyarakat Indonesia. Sayangnya praktek ini sering bersekongkol dengan penguasa dan menghadiahkan ilusi “integritas social”. Menurut saya ini merupakan tantangan besar bagi kita. Karena jika bertolak dari tipa klasik ini maka kebudayaan itu akan lebih terlihat sebagai folk culture karena lebih merupakan warisan leluhur walaupun di dalamnya justru kebudayaan modern itu juga ikut bercokol (sehingga dapat menjadi hal yang menarik bagi para penguasa). Dari sini Isu penting yang harus digumuli di dalamnya adalah bagaimana pandangan dualisme itu dipergunakan dalam konteks Indonesia sekarang ini (jika memang tipe klasik yang paling mendekati) menjadi perenungan untuk melihat apakah Kristus memang berada di atas kebudayaan Indonesia?
BAB 5. Christ and Culture in Paradox
Kritik terhadap kaum Dualis.
Kaum Dualis dalam gerakan mereka mengedepankan perlawanan terhadap dua aliran pemikiran dalam pembahasan tentang masalah “Kristus dan Kebudayaan”. Pada satu pihak aliran Dualis sangat menolak kaum Radikal, yang memandang bahwa kebudayaan adalah sungguh-sungguh jahat, dan tidak layak dipakai dalam upaya berteologi. Tetapi pada pihak lain, kaum Dualis juga sangat membantah aliran Sintesis atau kaum Kultural, yang memandang bahwa kebudayaan mengandung nilai-nilai yang rohani.
Bagi kaum Dualis, tema yang utama adalah: Allah dan Manusia; Perdamaian dan Penebusan; Anugerah dan Dosa. Anugerah adalah milik dan atribut Allah, sedangkan Dosa adalah milik dan atribut manusia, yaitu suatu keadaan yang sangat jahat, bejat dan busuk. Akibat Dosa, maka manusia tidak punya jalan lain untuk keluar dari keadaan itu, selain oleh anugera Allah dan pekerajaan Allah. Kaum Dualis sangat melawan pemahaman tentang keterlibatan manusia terhadap penyelamatan dirinya. Sebab manusia dan seluruh dimensi hidupnya, termasuk kebudayaan adalah sesuatu yang “sakit” dan tidak berguna sama sekali. Anugerah Allah adalah segalanya-galanya.
Dalam posisi pemahaman seperti itu, menurut Niebuhr kaum Dualis tampali secara paradoks. Kaum Dualis pada satu pihak, sama dengan kaum Radikal, yang melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang tidak berguna, penuh dosa dan layak ditolak serta dijauhi. Bahkan sama-sama memeliharan kekristenan sebagai hukum atau ideologi pembenaran untuk semua orang. Sementara pada pihak yang sama, kaum Dualis juga berjuang bersama dengan kaum Sintesis (Kultural) dan percaya bahwa dalam kebudaayaan ada nilai-nilai positif, misalnya pemahaman mereka tentang hukum Allah adalah alat untuk mengusik kesadaran manusia agar berbalik dan bertobat.
Dualis Paulus.
Tema utama pada Paulus adalah Kebenaran Allah dan Kebenaran manusia. Yesus adalah sentral dari kebenaran itu. Dalam tindakan pembenaran itu, Ia adalah yang mulia, tetapi sekaligus yang hina-dina. Melalui karya-karya Yesus, jaman baru diresmikan, karya-karya (kebudayaan ) manusia diadili, dan hidup baru diperkenalkan atau disampaikan. Hidup baru bukan saja persoalan hari esok, atau kemari, tetapi adalah persoalan hari ini, kini dan di sini. Karya revolusi Allah ini adalah karya yang sedang berlangusung dan akan tetap berlangsung.
Melawan kaum Radikal, menurut Paulus manusia harus masuk dan hidup dalam kebudayaan yang telah dibaharui dalam karya Yesus itu. Manusia tidak dapat keluar dan menjauhi kebudayaan, tetapi harus tetap berada untuk sekaligus membaharuinya setelah dibaharui oleh Kristus. Melawan kaum Sintesis, menurut Paulus, yang harus terjadi adalah Kristus yang menebus kebudayaan dan bukan kebudayaan untuk Kristus. Dalam kaitan ini menurut Paulus fungsi dari hukum adalah unuk menelanjangi Dosa dan bukan untuk upaya pembenaran manusia.
Sedangkan Dualis-nya Paulus, menurut Niebuhr adalah terlihat pada pandangannya tentang Etika. Ada “Etika Hidup Baru” dan “Etika menjadi Baru” (pencegahan perbuatan dosa). Dualis itu dapat terlihat dalam bagan di bawah ini:
I II
Etika Hidup Baru Etika Menjadi Baru
Etika Budaya Kristen Etika hidup dalam budaya
Perjumpaan dengan Allah Perlawan dengan kuasa gelap
Bertemu Kemurahan Menjauhi Murka
Budaya diselamatkan Menyelamatkan Budaya
Hidup dalam Anugerah Hidup dalam agama
Datang dari Allah Pergi untuk bersaksi
Hidup Baru Mengendalikan supaya Baru.
Kritik kepada Marcion.
Menurut Niebuhr, dualistis Marcion terletak pada pandangannya tentang yang ilahi. Ada “ilahi yang adil”, tetapi tidak sanggup mengendalikan dunia ini. Tetapi ada juga “ilahi yang baik”, yang dapat menyelamatkan dunia dan manusia. Dari pandangan ini ada dua macam, etika dalam Marcion. Ada “etika untuk menjadi baik” dan “etika untuk menjadi selamat”. Kedua etika ini sama-sama menekankan tentang kehidupan yang menjauhi dunia dan kebudayaan, supaya mendapatkan kehidupan baru. Dalam pengertian ini, maka menurut Niebuhr, pandangan Marcion adalah lebih berorientasi kepada sikap eksklusif, ketimbang pada radikal, atau dualis, apalagi sistesis.
Justifikasi (pembenaran) ? reformed menekankan hal ini. Contoh pengakuan iman : lahir, mati dan dibangkitkan (menghilangkan hidup dan pelayanan Yesus).
Sanctifikasi (pengudusan) ? disinilah dibicarakan hidup dan pelayanan Yesus
H.R.Niebuhr (selanjutnya dalam catatan ini saya sebut dengan Niebuhr), menyatakan bahwa dosa itu tidak total. Sifat dosa universal, telah merusak semua keadaan.
- Ada 2 gambaran tentang dosa :
Kertas yang sudah hancur disobek-sobek, menjadi bagian yang sangat kecil.
- maka keadaan ini sangat sulit dipersatukan kembali
- inilah dosa total
- akibatnya menghasilkan dualistis, disinilah Reinhold Niebuhr.
- mengganti semua budaya menjadi yang baru
- menarik eskatologi terlalu jauh
Kertas yang hanya diremuk-remuk
- dosa itu tidak total
- tetapi ada pembengkokan
- jadi tidak perlu mengganti, hanya melakukan pelurusan
- Bagi Niebuhr ialah memperbaiki bukannya mengganti.
- Ada 3 hal yang dinyatakan Niebuhr :
1. Penciptaan- Penebusan. Kedua-duanya merupakan suatu yang terus menerus terjadi.
Sampai sekarang, Tuhan menciptakan dan kristus terus menebus. Dari dulu Kristus ikut dalam penciptaan dan dalam penebusan. Itulah yang disebut dengan transformasi.
2. Kejatuhan
Ada pembengkokkan.
3. Sejarah
Tuhan hadir dalam sejarah yaitu drama/interaksi antara manusia dengan Tuhan.
Di dalam penciptaan ada dosa (pembengkokan), kemudian dilakukan pelurusan (penebusan). Ini semua terjadi terus menerus dalam hidup manusia.
- R.H.Niebuhr punya sikap positip terhadap dunia. Kalau kita tidak punyai sikap positif terhadap dunia, maka kita akan menjadi sectarian dan eksklusif.
- Kejatuhan (dosa) isinya ialah :
a. penyembahan berhala
Jika manusia menyembah Tuhan maka dia benar. Tetapi jika kalau dia menyembah yang bukan Tuhan, maka dia sudah berbelok.
b. Nafsu
manusia diciptakan Tuhan untuk berbuat kasih. Tetapi oleh karena manusia dikuasai nafsu, maka ia tidak lagi berbuat kasih.
Yoh.14 :6, sering dipahami hanya sebagai epembenaran. Perhatikan kata Aku, berarti itu merujuk kepada`seluruh kehidupan Yesus.
Injil Yohanes : kita percaya dan itu selalu berkaitan dengan melakukan.
Mengapa kita melihat kitab Yohanes sebagai suatu yang dogmatis ? Karena kita melihat oleh pengaruh Filsafat Yunani. Tetapi kalau dibaca dari pengaruh Perjanjian Lama, akan difahami secara etis.
Calvin melihat dunia lebih positif
Luther melihat dunia negative, lebih menekankan kebebasan
Masalah utama yang dapat dikritik dari pandangan R.H.Niebuhr :
R.H. Niebuhr Muda :
- dunia dipandang terlalu positif
- sangat tegas dan jelas. Kriteria yang dipakai ialah Yesus (seperti rosestanstone ? membuat yang tidak jelas menjadi jelas.
TIPOLOGI
Kristus Kebudayaan
Permasalahnnya, R.H. Niebuhr melihat kristus terpisah dari kebudayaan, masing-masing berdiri sendiri. Cara pandang seperti ini menghasilkan paradigma :
1. melawan
2. menerima
3. campuran
* di atas
* paradoks (mengapa ini menjadi di tengah, RH.Niebuhr mau melawan, menyangkal pendapat abangnya Reinhold Niebuhr.
* transformasi (pembaharuan)
Catatan:
Kebudayaan :
• Tidak boleh dilihat sebagai 1 keutuhan dengan dirinya, tetapi harus dilihat dari berbagai kebudayaan. Artinya,, kalau kita bicara kebudayaan, tidak bisa bicara secara keseluruhan tetapi satu persatu. Contoh : budaya perang, budaya pendidikan.
• Kebenaran : Kristus Juruselamat, ini mutlak. Epistemologi : cara mengetahui kebenaran itu yang tidak mutlak, karena hal itu manusiawi.
• Karena saya mengakui Kristus Juruselamat, maka hidup dan jalan saya harus melihat dia.
• Dari sumber teks yang sama, toh konteks seakan membawa untuk menentukan sikap teologis kepada kebudayaan
BAB 6. Christ the Transformer of Culture
Didasarkan atas 3 pendapat teologis :
1. Kebajikan Allah melalui daya cipta terdapat dalam kebudayaan manusia.
2. Kebudayaan boleh jadi berdosa, namun yang diperlukan bukan peninjauan kembali yang apokaliptis atau suatu ciptaan baru tetapi yang dibutuhkan adalah pertobatan. Diungkapkan dalam pemahaman Agustinus yang membedakan antara civitas Dei dengan civitas Terena, sebagai realitas yang ada yang tidak bisa dilupakan. Dilanjutkan dengan pemahaman tentang PREDESTINASI yang ingin menunjukkan bahwa Allah mengasihi dunia untuk memampukan dunia mengasihi-Nya
3. Sejarah akan menjadi interakasi dinamis yang terbuka antara Allah dan umat manusia.- Pemahaman ini dipahami oleh Maurice dengan mengutarakan konsep dalam DOA BAPA KAMI yang mengatakan ” datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Pandangan Injil
Yohanes mengungkapkan ucapan Yesus yang terakhir di atas kayu salib ”Sudah selesai” ini bukan berarti bahwa dunia dengan budayanya menjadi tidak berarti atau selesai. tetapi dengan ucapan itu tertangkap maksud bahwa Tuhan mentransformasi segala sesuatu. Dimana Allah memandang sejarah telah dihadirkan dalam perjumpaan dengan melalui KRISTUS.
Pemahaman Yohanes tentang ”DAGING” dan ”ROH” sangat jelas menunjukkan adanya perbedaan. Tetapi dengan INKARNASI Kristus itu dipahami sebagai 2 realitas yang bisa direlasikan. Dengan IMAN dalam Allah maka dapat direlasikan antara material dan spiritual.
Pemahaman Agustinus
Dia melihat bahwa Allah melihat segala sesuatunya baik dalam penciptaan, pertama terbaik bagi Allah sebagai sumber dan pusat.
Konsep tentang Allah Anak yang mengasumsikan keberadaan kemanusiaan yang tidak merusak keilahian. Yesus mentransformasi emosi bukan dengan mensubstitusi alasan untuk emosi tetapi dengan melawan dan mengalahkan ketakutan, nafsu dan sukacita dengan objek kebenaran.
Moral berkembang dalam perlawanan budaya bukan didesak anugerah –anugerah baru, tetapi PERTOBATAN dalam KASIH.
Konsep tentang KEBANGKITAN DAGING – menggambarkan bahwa secara eskatologis kehidupan dalam kemuliaan bukan memisahkan antara yang ROH dan materi fisikal.
Pemahaman Maurice
Pemahamannya didasari pada seluruh pemikiran Yohanes, yang dimulai dengan fakta bahwa Yesus datang ke dalam dunia datang kedalam milik-Nya. Kristus adalah kepada semua insan – Beberapa orang yang percaya maupun yang tidak percaya.
Dalam pemikiran Maurice tidak ada dualistik antara ROH dan Material.
BAB 7 Kesimpulan
Ditengah relativitas yang tidak dapat dihindari, kita tetap membatasinya dengan keputusan dan alasan-alasannya yang pada dirinya terkait dengan pengalaman kita sebagai seorang yang partikular didalam waktu yang partikular dengan tugas yang partikular pula.
Relativitas diberbagai aspek, antara lain dalam pengetahuan bukan berarti tanpa sesuatu yang absolut. Setiap orang memandang kepada Kristus Yesus yang sama dalam iman akan membuat pernyataan tentang apakah Kristus baginya; namun pendapatnya yang relatif tidak akan dibingungkan oleh Kristus yang absolut (h.238).
MAJALAH PENUNTUN Menurut Natan Setiabudi, eksistensi GKI hingga saat ini dibentuk oleh perpaduan 3 (tiga) kebudayaan, yaitu: kebudayaan Tionghoa, kebudayaan [pribumi] Indonesia, dan kebudayaan Barat modern (dalam hal ini budaya Belanda) yang pada akhirnya menjadi saluran bagi penyampaian Injil dalam bentuk Calvinisme Belanda. Proses pertemuan dan perpaduan ketiga kebudayaan ini akhirnya berdampak pada perelatifan ketionghoaan dan sebaliknya penonjolan keindonesiaan. Oleh Natan Setiabudi, istilah “perelatifan” disini dimengerti sebagai: (1) keseluruhan ketionghoaan diletakkan dalam perspektif baru, (b) unsur-unsur tertentu dari budaya Tionghoa ditinggalkan, dan (c) sisa minimal dari ketionghoaan yang dapat disumbangkan bagi kekayaan masyarakat Indonesia yang pluralistik. Proses interaksi antar kebudayaan yang melahirkan perelatifan ketionghoaan (dalam Diagram 1 oleh Natan Setiabudi): Pembentukan masyarakat Peranakan yang membaur dengan masyarakat pribumi, dengan motivasi dasar mencari kekayaan. Pada prinsipnya perelatifan ketionghoaan disini dapat diidentifikasi sebagai sikap akomodatif terhadap kebudayaan setempat. Pertemuan Calvinisme Belanda dengan budaya Tionghoa yang berdampak pada perelatifan budaya Tionghoa. Ini merupakan sikap konfrontasi (oleh Injil) terhadap budaya Tionghoa. Pemahaman bahwa “masuk agama Belanda, berarti menjadi Belanda” menyebabkan muncul kesadaran akan ketionghoaan, namun di sisi lain pembaharuan nilai oleh Injil membawa konsekwensi ketionghoaan harus dipahami secara “baru”. Dalam hal ini terjadi sintesis kebudayaan/nilai (sikap sintetik), tetapi sekaligus menekankan supremasi Injil (Kristus di atas kebudayaan). Keadaan sosial politik (1950-an) menjadi latar belakang perelatifan ketionghoaan dalam bentuk pembauran/asimilasi (status kewarganegaraan) masyarakat, sekaligus sebagai argumentasi bagi nilai Injil yang universal yang menuntut perelatifan ketionghoaan. Agak sulit untuk diidentifikasi karena lebih memiliki argumentasi politik [perhatikan tanggapan Chris Hartono hlm 435], namun pada prinsipnya supremasi Injil (Kristus di atas kebudayaan) masih tetap menjadi alasan mendasar bagi perelatifan ketionghoaan. Kurun waktu 1960-an dst, dapat dipahami sebagai sikap transformatif gereja (maupun kebudayaan Tionghoa), karena komunitas GKI lebih bersifat inklusif sekaligus transformatif terhadap berbagai interaksi antar nilai ketionghoaan dan keindonesiaan yang berpangkal pada pemahaman bahwa GKI adalah suatu gereja Indonesia.
Timur Citra Sari
( Srikandi Belajar Memanah: Suatu Kritik Atas Patriarkhat Dalam Budaya Pewayangan Jawa), Hlm. 446-454.
Citra Sari, dalam tulisannya hendak memberi jawab atas persoalan gerakan feminis di Indonesia, yang pada satu pihak tidak populer, dan karena itu, hanya dikenal dengan istilah-istilah: “Wanita dan Pembangunan”, “Peran Ganda”, dan “Mitra sejajar”. Bahaya yang lebih fatal lagi, ialah bahwa feminisme malah dipandang secara negative sebagai yang mengandung semangat individualistis dan pemBaratan.
Padahal kisah-kisah pewayangan dalam budaya Jawa, contohnya tentang “Srikandi Belajar memanah”, justru sangat mendukung adanya semangat dan gerakan feminis. Srikandi dalam kisah pewayangan itu, akhirnya dapat berperan sebagai seorang panglima perang, sebagai suatu peran yang umumnya hanya dimainkan oleh kaum laki-laki. Karena itu, menurut Citra Sari kesadaran feminisme itu sebetulnya adalah juga kesadaran dalam nilai-nilai dan semangan ke-Indionesia-an. Fakta dari adanya kisah-kisah pewayangan ini, harus menjadi motivasi bagi kesadaran feminisme di tengan-tengah budaya patriarkhat di Indonesia.
Romo Dick Hartoko: Penting bahwa gereja membedakan antara inti agama dan kebudayaan, antara inti agama dan “mantelnya”. Bagi dia ini merupakan wujud inkulturasi atau kontekstualisasi.
Eka Darmaputera: Tidak ada manusia yang tidak beriman dan tidak berbudaya, memang ada yang tidak beragama, tetapi sebenarnya itulah “iman” mereka. Atau ada orang-orang yang kita anggap tidak Ber”adab”, tetapi sebenarnya itu pulalah “budaya” mereka.
Gerrit Singgih: Kita memakai berbagai pendekatan bukan berarti membenarkan berbagai pendekatan, Ber-teologi dalam Konteks Indonesia.
Bagaimana kelompok menanggapi tipologi yang dibuat Niebuhr dalam diskusi Teologi dan Budaya Populer?
Pandangan Bernard Adeney tentang Hubungan Kristus & Budaya dalam pandangan Niebuhr.
tipologi-tipologi Niebuhr adalah alat untuk pemikiran analisis saja. Dan dirasa kita tidak harus memilih salah satu dari kelima tipe tersebut. Daripada memperbaharui (mentransformasi) budaya, kita harus juga melawan budaya dalam aspek tertentu.
Pandangan Gerrit, Kristus mentransformasi budaya bukan berarti KOMPROMI tetapi dalam transformasi ada 2 hal besar yang menjadi yaitu proses KONFRONTASI tetapi juga KONFIRMASI.
Permasalahan
Menganalisa Budaya memerlukan sikap : (Rancang Bangun Teologi Lokal p. 70. Schreiter)
1. Harus holistik – (p.70) ; Artinya tidak bisa terpusat hanya pada satu bagian budaya dan mengeluarkan bagian lain dari bagiannya
2. Pembentukan jati diri – (p. 72) ; artinya Berbicara pada kekuatan yang membentuk jati diri. 2 tugas utama Teologi :
a. mengungkakan jati diri orang percaya
b. menolong menghadapi perubahan sosial yang dialami komunitas itu.
3. Berbicara pada perubahan sosial; artinya Pendekatan itu harus mampu menghadapi dinamika perubahan.
Pieris
Gereja tidak hanya harus mengajar tetapi harus terus belajar.
Masalah etnisitas di gereja Indonesia bukanlah masalah yang final. Alasannya makna ”Indonesia” itu sendiri mempunyai makna kultural yang didalamnya, sehingga gereja Etnis harus mengintegrasikan diri ke dalamnya.
Niebuhr seorang pietis (Calvinis) yang sangat menekankan Christosentris
Berbeda dengan Pieris yang melihat budaya dengan pendekatan kedua dari Niebuhr – Kristus dari Budaya = Akomodasi.
Relativitas diberbagai aspek, antara lain dalam pengetahuan bukan berarti tanpa sesuatu yang absolut. Setiap orang memandang kepada Kristus Yesus yang sama dalam iman akan membuat pernyataan tentang apakah Kristus baginya; namun pendapatnya yang relatif tidak akan dibingungkan oleh Kristus yang absolut (h.238).
Menurut Malcolm Brownlee memilih tipologi kelima ” Transformasi Budaya” yang menurutnya mewakili pendekatan Niebuhr
Tipologi Ernst Troeltsch yang dikembangkan oleh Niebuhr
1. Bagi sebagian teolog mengatakan bahwa pada esensinya kebudayaan itu tanpa TUHAN (godless) murni sekuler. Dan mempunyai keduanya relasi negatif dan positif terhadap konsep iman (the God of Jesus Christ)
2. Teolog yang lain, kebudayaan bersifat godless juga tetapi cenderung negative –Anti Tuhan atau berhala.
3. Berdasarkan pemahaman natural, pengetahuan rasional akan Allah atau hukum-Nya.
Charles Schriven; dikutip Gerrit Singgih; Iman dan Politik
” Dalam era reformasi di indonesia secara tidak langsung menanyakan apakah ada bukti bahwa orang Calvinis yang menerapkan sikap transformatif menghasilkan transformasi atau malah menghasilkan kompromi.
Penuntun p.352
Pendapat Eka Darmaputera
Karya H.R Niebuhr ”Christ & Culture” telah memaparkannya dengan amat jelas. Yaitu betapa sepanjang sejarah gereja dapat dijumpai sikap yang amat beraneka ragam mengenai hubungan antara Kristus dan kebudayaan, satu amat berbeda bahkan bertentangan dengan yang lain, namun semua mengklaim diri sebagai sikap yang paling teologis dan alkitabiah.
Keabsolutan YESUS yang dipahami
Pemahaman KRISTUS itu Absolut. dan dia memahami 5 epistemologi (yang tidak ABSOLUT)
Setelah meninjau seluruhnya, maka kelompok sepakat untuk bersikap bahwa kelima tipologi yang ada dipakai untuk pertimbangan penting bagi masing-masing kita dalam bersikap kepada budaya populer.
Lalu ada pertanyaan, bagaimana teologi-teologi dari para teolog mempengaruhi konsepnya dalam menghubungkan antara Kristus dan Budaya, maka manakah yang lebih berpengaruh antara teologi seseorang atau kebudayaan seseorang?
Kelompok rupanya melewatkan pertanyaan:
Bagaimana kita memakai tipologi Niebuhr ini untuk menilai sikap teologis kita terhadap budaya populer?
Penting: Definisi budaya menurut Niebuhr di hal 32. Terpengaruh oleh Calvinisme bahwa iman bersifat personal. Bagaimana ini terjadi didunia yang komunal.
Pendekatan pada alam melalui budaya:
Produktivitas juga mempertahankan sustainibilitas
Diskusi Kelas:
Diantara dua kubu ekstrim yaitu yang Antagonis/opposition sampai pada Agreement (The Christ of Culture)
1. Pendekatan Antagonistik (Christ Against Culture): either or or, seperti Ke-Kristenan dengan Yudaisme, Tradisi monastic, sekte-sekte, aktivis anti kapitalis, anti komunis/sosialis, anti-industrialisasi/modernisasi, anti-nasionalisme.
2. Pendekatan Agreement (The Christ of Culture); Jesus is Chief Executive Officer (CEO), Pahlawan budaya, Khotbah di bukit = Demokrasi, Ajaran Yesus = komunis, Injil = peradaban barat
3. Pendekatan Synthetic (Christ Above Culture); sebagian dari hukum Allah tertampung dalam hukum alam (tidak seluruhnya). Thomas Aquinas – Natural Law. Mengenal Kristus sebagai bagian puncak dari kebudayaan
4. Pendekatan Dualistik (paradoks), teologi Luther (berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan berikan kepada Allah yang menjadi milik Allah)
5. Pendekatan Konversionis (Calvinis, Agustinus), manusia berdosa (pendekatan hukum khas Calvin), budaya mentransmisikan dosa, media untuk meneruskan dosa, bagaimanapun bertentangan keduanya tidak dapat dipisahkan, tidak bisa melarikan diri (escapisme yang mengandaikan ada Allah yang transhistoris) dari kebudayaan untuk hidup dalam Kristus, Kristus PEMBAHARU (transform) kebudayaan. Yahya Wijaya, kebudayaan tidak sepenuhnya berpengaruh kepada suatu pribadi, karena tiap individu tetap tidak seragam.
Masalah kata:
REFORMASI = pemurnian
TRANSFORMASI = perubahan (change) dari sesuatu yang kecil menjadi lebih besar
TEOLOGI
Berbicara tentang relasi kekristenan dan peradaban merupakan sebuah topik yang memunculkan perdebatan dari berbagai sisi hingga saat ini. Kerajaan Allah tidak lain adalah persaudaraan antar manusia, “Allah” adalah sesuatu yang berdampak kepada kemanusiaan, segenap referensi ditujukan kepada manusia dan pekerjaannya.
Comment by Jonathan Haryanto — March 16, 2009 @ 2:18 am
saya sangat senang membaca artikel ini. semoga dapat bermanfaat
Comment by DR.Ir. R. Julius Eri — November 27, 2009 @ 12:27 am