Dialog antar iman – praksis dan Teologi (Dupuis)
oleh: Joseph Matondang
Dupuis dalam bab 14 ini mengemukakan bahwa Teologi Kristen tentang dialog antar iman mengadopsi suatu perspektif “regnocentris”, yang menekankan pemerintahan Allah berpusat pada hidup dan misi Yesus, pemberitaan dan perbuatanNya.
Pemerintahan itu benar-benar objektivitas yang paling akhir. Permulaan Injil Markus memberikan suatu rangkuman yang terpogram akan missi Yesus, pemberitaan Kabar Baik dimana Kerajaan Allah telah datang (Mrk 1:14-15), hal yang sama juga nampak dalam pengutusan Jesus terhadap murid-muridnya ke seluruh dunia untuk memberitakan Kabar Baik (Mrk 16:15).
Gereja yang terpanggil untuk melayani Pemerintahan Allah, dan perlu diperhatikan dalam kerangka ini bahwa Pemerintahan Allah lebih luas daripada gereja. Hal yang hendak ditunjukkan oleh Dupuis dalam hal ini bahwa dialog antar iman masuk kepada missi evangelisasi gereja, latar belakang pemahaman ini baru diperoleh setelah masa Post Vatikan II.
Dalam dokumen Gereja Roma Katolik yang telah dituangkan dalam surat penggembalaan Paus “ekklesia Suam” tahun 1964 bahwa dialog antar iman sebagai dimensi missi evangelisasi gereja. Sehingga dengan dituangkannya dokumen ini menjadikan dialog antar iman mengalami perubahan yang penting sebagai bagian dari evangelisasi dalam teologi missi.
Jadi semangat dialog menunjuk kepada suatu sikap menghormati dan bersahabat yang meresapi atau harus meresapi semua aktivitas konstitusi missi evangelisasi gereja; lebih khusus lagi unsur integral dari evangelisasi dialog berarti semua hubungan antar umat beragama yang positif dan konstruktif baik individu maupun komunitas diarahkan pada saling pengertian dan saling memperkaya, dalam ketaatan akan kebenaran dan menghormati kebebasan.
Dalam pembahasan ini Dupuis akan membahas dua bagian penting yaitu : yang pertama menunjukkan tempat dialog antar iman dalam missi evangelisasi gereja. Bagian yang kedua adalah menilai tantangan yang muncul dalam dialog antar iman terhadap missi evangelisasi gereja dan juga manfaat yang dihasilkan dari dialog tersebut.
I. Dialog adalah evangelisasi (kabar baik)
Dengan mengacu pada pengajaran yang penting dari Paus Johannes Paulus II, Dupuis melihat teologi agama-agama terletak dalam penekanan akan kehadiran dan perbuatan Roh Allah di tengah-tengah para pemeluk agama-agama sehingga acuan dari Paus ini telah meletakkan dasar teologi terhadap pentingnya dialog antar umat beragama dalam missi gereja.
Jadi Paus menekankan thema Roh Kudus yang dialamatkan kepada orang-orang di Asia. Penting juga mengutip kesimpulan yang dibuat Paus seperti berikut ini :
“semua orang Kristen harus menjadi setia terhadap dialog dengan para pemeluk semua agama supaya saling pengertian dan saling kerjasama dapat bertumbuh; supaya nilai-nilai moral dapat diperkuat; supaya Allah terpuji dalam semua ciptaan. Untuk menjadikan dialog ini menjadi kenyataan dimana-mana, haruslah dikembangkan cara-cara, khususnya di Asia, benua dimana budaya dan agama kuna berasal”.
Dengan pertimbangan pemikiran Paus, maka semakin jelas makna keterlibatan gereja dalam dialog antar umat beriman dengan rekomendasi majelis gereja. Dasar teologi yang diletakkan Paus menunjuk kepada Rahasia kesatuan (Mystery of unity). Kesatuan universal berasaskan asal dan hakekat semua ciptaan, kesatuan rahasia penebusan di dalam Jesus Kristus, dan kehadiran secara aktif Roh Allah dalam doa-doa para pemeluk tradisi agama lain.
Menurut Dupuis bahwa tujuan dalam berdialog adalah supaya para pemeluk agama dapat berjalan bersama menuju kebenaran dan bekerja bersama-sama dalam projek-projek kepedulian.
Bagian kedua dalam hubungan penempatan penting dialog dalam missi dapat diuraikan seperti berikut ini Dialog adalah suatu ungkapan (expression) evangelisasi yang berbeda; suatu sikap dan spirit serta norma dan pola yang sangat diperlukan dalam missi orang Kristen, oleh karena itu bisa mengambil beberapa bentuk yaitu :
- dialog tentang hidup, keterbukaan dan milik semua orang.
- Adanya dialog tentang komitmen bersama untuk melayani dalam issu keadilan dan pembebasan manusia
- Dialog kaum intelektual dalam pertukaran pada level warisan agama masing-masing.
- Yang terakhir adalah sharing tentang pengalaman-pengalaman doa dan kontemplasi agama.
Dengan melihat bentuk-bentuk yang diuraikan pengar5ang disini, menunjukkan bahwa begitu banyak kesempatan berbagi pengalaman dengan agama lain tentang nilai-nilai injil.
Berdasar pada surat Paus dalam Redemtoris Missio dan dokumen Dialogue and Proclamation menjelaskan ada beberapa bentuk missi yang penting dalam hubungan dengan dialog antar agama.
Bentuk yang pertama dari evangelisasi adalah kesaksian; dengan cara ini missi dimungkinkan terjadi. Yang kedua menempatkan bahwa proklamasi tentang Jesus Kristus prioritas yang permanent dari missi, sehingga dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa dialog umat beragama merupakan satu cara bersaksi tentang Kristus. Dan tempat yang ketika disebutkan : sebagai perubahan terhadap kekristenan.
Theologi tentang dialog
A. Tantangan terhadap dialog
Dupuis melihat bahwa masalah Kristologi adalah pusat teologi dialog, yang tentunya menjadi pusat teologi agama-agama. Dialog berdasarkan pengamatannya hanya dapat terjadi pada persamaan tempat berpijak (equal footing) antara mitra. Dapatkah Gereja atau orang Kristen dalam pengakuannya akan memasuki dialog jika tidak mempersiapkan dirinya untuk mencabut tuntutannya yang tradisional tentang Jesus sebagai Juruselamat umat manusia secara konstitusi?
Secara terbuka bahwa dialog mensaratkan beberapa aspek yang berbeda :
1. Komitmen dan keterbukaan, dalam hal ini tidak dimungkinkan untuk mengurung satu iman tapi adanya keterbukaan terhadap orang lain yang dipandang sebagai pemberian Allah. Dialog dalam hal ini mencari pengertian dalam perbedaan dan masing-masing perbedaan akn memimpin kedua mitra yang berdialog kepada implikasi iman masing-masing. Orang Kristen tidak boleh berpura-pura tentang keyakinannya terhadap Jesus Kristus, sebaliknya harus bertanggungjawab terhadap imannya. Namun harus disadari ada perbedaan dengan orang lain- secara jujur harus menerima kedua belah pihak, sehingga dialog umat beragama menempatkan keduanya dalam posisi yang sama (equal).
Komitmen terhadap imannya sendiri dan keterbukaan terhadap orang lain haruslah dikombinasikan. Konstitusi Kristologi nampaknya merangkum keduanya. Identitas Kristen yang dimengerti disepanjang zaman dihubungkan dengan konstitusi “pengantara” dan “kepenuhan” penyataan ilahi dalam Jesus Kristus.
2. Iman pribadi dan pengalaman orang lain.
Masing-masing yang berdialog sebagai partner haruslah masuk kepada pengalaman-pengalaman orang lain. Hal ini menjadi usaha bersama untuk masuk kedalam simpati atau empati, yang menggambarkan suatu tehnik spiritual yang berisikan saling memaafkan dan pertobatan. Saling memaafkan berarti pertemuan pengalaman keagamaan kedua duanya. Hal ini menurut Dupuis tidak mungkin terjadi secara sempurna, maka dalam pandangannya melihat bahwa dialog umat beragama pertemuan untuk saling memperkaya dari pengalaman-pengalaman orang lain.
B. Hasil dari dialog.
Setelah mengemukakan beberapa pendapat dari para ahli, Dupuis tiba pada kesimpulan bahwa hasil dari dialog adalah pertama-tama harus diingat bahwa pengantara yang menghidupkan dialog kedua mitra (partners) ialah Roh Allah. Hal itu berarti mita orang Kristen tidak hanya memberi tapi juga menerima dan akhirnya bisa kita katakana orang Kristen dan orang lain “berjalan bersama menuju kebenaran”. Orang Kristen akan memperoleh sesuatu yang memperkaya imannya melalui pengalaman orang lain
Perkuliahan Teo.Agama-agama
Tanggal 9 maret 2007
Beberapa tradisi gereja dan pandangan terhadap agama-agama
Dalam kehidupan di Eropa gereja Roma Katolik pada abad-abad pertengahan, jika membicarakan orang Islam maka mereka dianggap orang kafir hal ini berdasarkan pengenalan bahwa Muhammad mempunyai 10 istri, sedangkan teologi Kristen mengatakan tidak boleh cerai dan hanya boleh memiliki satu istri dan harus setia seumur hidup sehingga pengikut Muhamad disebut kafir dan harus diusir. Ada juga tradisi yang mengatakan kenapa orang Islam tidak boleh makan Babi didasarkan pada suatu cerita dimana pada satu saat nabi Muhammad sedang berjalan-jalan lalu melihat ada orang yang dimakan babi, murid mengambil korban lalu setelah itu orang muslim dilarang makan babi. Dari cerita-cerita itu orang Eropa menganggap Muhammad palsu, sebenarnya hal ini muncul atas keterbatasan mereka atas pengenalan terhadap Islam sendiri.
Dalam perkembangan pemahaman dikemuadian hari berdasarkan pengenalan yang sudah lebih luas dan dalam maka hal di atas tidak boleh dipercaya bahwa orang Islam adalah kafir atau tidak diselamatkan. Jadi perlu ada pendalaman tentang Islam dengan sungguh-sungguh seperti halnya ada seorang Eropa yang datang ke Indonesia masuk islam untuk memahami lebih dalam dan dari dalam sendiri tentang agama Islam untuk menelitinya dengan belajar bahasa Arab. sebaliknya Kritik terhadap Neil Amstrong dianggap tidak sah karena tidak memakai bahasa Arab, sehingga pandangannya dianggap tidak berdasar dan palsu atau hanya rekayasa pikiran saja.
Di Eropa pemikiran tentang studi agama-agama baru muncul 30 tahun lalu secara terbuka. Dunia lebih dilihat secara nyata dalam pluralitas. Dalam buku Karkaenin dia mencoba untuk memahami bagaimana gereja-gereja bereaksi tentang agama-agama lain. Sehingga dia melihat gereja-gereja yang besar mulai dari Gereja Roma Katolik, Anglikan, Protestan Mainline, Metodis, herform, Baptis, Menonite,dll. Bagaimana gerakan injili dan ekumenikal menghadapi issu pluralis. Kedua aliran ini sering dibedakan padahal hal ini tidak boleh karena setiap orang Kristen adalah injili, mendasarkan hidup dan imannya berdasarkan injil.
1. Gereja Roma Katolik : Pada mulanya perlu dicatat satu hal yg penting yang berhubungan dengan agama lain adalah semboyan gereja katolik yang mengatakan “ekklesia nulla salust (est)” yang berarti di luar gereja tidak ada keselamatan, pemahaman Roma Katolik ini sampai permulaan konsili Vatikan II tahun 1963. Sebelumnya jika orang mau selamat dia harus menjadi anggota gereja dan dibaptis, jika orang Protestan mau selamat maka harus dibaptis ulang, demikian sebaliknya.
Dalam Konsili Vatikan II sudah ada pemahaman bahwa bukan hanya orang katolik yg diselamatkan, dimana orang yang hidup dengan baik akan diselamatkan. Sebenarnya sebelum Konsili Vatikan II sudah ada dorongan-dorongan dan pemahaman-pemahan ke arah tersebut dimana orang bisa mempunyai hubungan tertentu dengan Tuhan walaupun belum menjadi anggota Gereja Katolik. Hal ini muncul dari pemahaman para missionaris yang pergi ke seluruh dunia dan mereka melihat langsung bahwa dalam agama-agama lain juga ada kebaikan. Tetapi dalam satu dokumen RK 1943 dari Badan Mistik RK hanya orang yang benar-benar adalah orang Katolik akan diselamatkan, anggota Gereja, dibaptis, mengakui iman yg benar, yang meminta pengucian diri mereka akan diselamatkan. Di situ ada pikiran RK ada dosa kecil dan besar. Orang yang dikucilkan gereja (dosa besar) tidak akan diselamatkan,orang yang tidak mau mendengar gereja, tidak taat dianggap menjadi kafir. Orang yg bukan anggota RK tidak akan diselamatkan dan tetap kafir, tapi dalam Ensiklik yang sama, ada pintu terbuka bagi org yang diselamatkan kalaupun mereka belum mendengar injil, disitu Paus menulis bahwa “mereka punya hati yg penuh cinta kasih, bahwa mereka bisa mengikuti hati nurani dari anugrah dan mencari sungguh sungguh keselamatan, hanya mereka belum bertemu dengan injil akan diselamatakan”.
Dalam teks tahun 1943 sudah ada ajaran yang sebenarnya dari Konsili trente 1685 bahwa jika ada keinginan orang lain akan diselamatkan, hal itu semacam pembaptisan keinginan, atau hidup dengan baik, belum mendengar injil mungkin mereka akan diselamatkan tapi lebih baik mereka menjadi anggota gereja karena di dalam geraja sudah lengkap alat untuk penyelamatan, artinya dalam dokumen konsili ini tidak ada penolakan bahwa org yang belum mendengar injil tidak diselamatkan (ada kemungkinan diselamatkan). Itu berarti Dok. itu hendak mengatakan bhw org lain tidak mempunyai kepastian keselamatan. Tidak lagi ditakatan tidak diselamatkan. Paus juga menjelaskan bahwa orang lain juga bisa diselamatkan karena mereka sudah berhubungan dengan badan mistik gereja.
Yang kedua bahwa sebelum konsili Vatikan II secara teologis sudah ada reorientasi pemikiran ahli teologia, menurut ajaran Thomas bahwa alam disepurnakan oleh anugrah Allah sebagai pikiran yang penting di dalam org-org missionaries. Dia berkata bahwa sebenarnya ada hukum alam dan hukum alam ini berasal dari anugrah Allah. Dia menulis buku yang berjudul “Theolgiae” yang menjelaskan bahwa semua ilmu berada di bawah naungan Allah karena hukum alam berasal dari Allah sehingga keduanya adalah satu kesatuan.
Para missionaries mempunyai interpretasi bahwa jika orang lain hidup sesuai dengan hukum alam maka dia bisa diselamatkan. Mereka melihat bahwa manusia berbudaya, hidup dengan baik, sehingga mereka mempunyai kemungkinan untuk diselamatkan. Jika orang mengikuti hukum alam akan menerima anugrah Allah yang membebaskan dan menyempurnakan apa yang ada di dalam alam.
Ada kutipan “Allah menginginkan untuk menyatukan yang alami dan yang adikodrati dalam satu kesatuan yaitu di dalam Kristus sehingga orang yang hidup secara baik akan menerima anugrah dari Kristus.
Jadi ada keyakinan bahwa semua bangsa sudah mempunyaim keyakjinan bahwa Allah ada, mempunyai eksistensi dalam semua budaya dan agama, maka anugrah Allah juga hadir di tengah-tengah mereka, dan mereka masih memerlukan penyempurnaan di dalam Kristus, itulah dasar keterbukaan Konsili Vatikan II.
Hal lain lagi dalam Konsili ini adalah Paus Paulus Johannes II telah mendirikan sekreatiat untuk orang yang bukan Kristen, di kemudian hari dirubah lebih positif menjadi Kepausan untuk dialog umat beragama. Ini menjadi satu tanda bahwa RK merasa hubungan dengan orang non Kristen sangat penting. Karena ekstra ekklesia nulla salus telah dirubah melalui dokumen dalam pemulihan kekristenan oikumenisme; di sana tertulis bahwa keselamatan ada dalam RK dan juga gereja Kristen yang lain. Tapi dalam hubungan dengan agama lain sudah ada secretariat untuk memperhatikan hubungan dengan agama lain. Untuk lebih mengetahui ajaran RK tentang dialog ada buku yang diterbitkan yang bersumber dari ceramah Paus.
Misalnya Paus VI lebih terbuka dengan agama lain karena dia telah mengunjungi India dan Paus Paulus II sudah mengunjungi dunia termasuk Indonesia.
Kuasa yang paling tinggi dalam RK adalah keputusan Konsili, namun masih ada pertengkaran apakah Paus atau konsili, dalam sejarah ini bolak balik : Konsili I mengatakan bahwa Paus adalah yang tertinggi, Eks katedra. Konsili Vatikan II Paus adalah Ketua dari para uskup itu berarti bahwa paus tidak lebih tinggi dari uskup yang lain, untuk m,engambil satu keputusan harus berunding dengan uskup lain. Jadi lebih demokratis. Namun dalam konsili lain ada semacam hirarki : Paus, uskup, imam, para awam. Dan uskup yang paling tinggi.
Contoh pada masa ini orang awam dilarang membaca alkitab, karena diduga akan salah tafsir, karena ada buku kanonika II harus dengan cara teretentu mengertinya supaya jangan salah. Dan alkita hanya ada dalam bahasa latin. Dan ada sumpah anti modern, semua para pengajar mengambil sumpah untuk tidak mengejarkan hal modern, yang boleh hanya ajaran resmi yang dikeluarkan oleh paus atau pembantunya (Puri/cardinal). Di sini hirarki gereja tapi Konsili Vatikan II lebih cenderung melihat gereja adalah perkumpulan orang beriman, orang beriman adalah awam, yang dikoordinir oleh para imam, para imam dikoordinir oleh para uskup dan selanjutnya Paus. Jadi para imam dan awam memunyai fungsi yang penting. Maka dibentuklah dewan Paroki. Semacam majelis. Pada zaman ini liturgi dimana-mana adalah sama dan berbahasa Latin. Hanya imam yang mengerti bahasa Latin , awam tidak mengerti. Tapi setelah Konsili Vatikan II ada perubahan untuk memakai bahasa local, liturgy yang berbeda melalui eksperimen. Tapi dengan banyak perubahan ini maka ada pengarush di semua lapisan, terlalu banyak model-model, sering tidak cocok dengan keinginan orang tua sehingga banyak yang meninggalkan gereja. Maka sesudah 10 tahu eksperimen maka diharuskan untuk mengikuti liturgy dari pusat : untuk para imam harus berdoa lima kali sehari, pembacaan alkitab secara teratur yang diatur oleh Roma sendiri. Jadi Konsili Vatikan II merupakan puncak dari perubahan gereja Katolik untuk terbuka bagi semua agama-agama.
Dokumen Konsili adalah yang paling tinggi, ada kesan Katolik Indonesia paling taat terhadap dokumen ini karena sudah ditetapkan sebagai keputusan final yang terdiri dari : konstitusi tentang Sabda Allah, Liturgi, dogmatis, pastoral, gereja.
Ada satu dokumen tentang teologi agama-agama, yang mengatur hubungan katolik dengan agama-agama. Dalam dokumen ini dijelaskan bahwa melalui pekerjaan universal Roh Kudus akan bekerja di mana-mana bagi agama-agama lain bekerja untuk menyelamatkan orang sebagai pekerjaan Tuhan pasca Kristus kalau orang tersebut berkelakuan baik. Mereka juga bisa menerima anugrah Allah. Ada pertanyaan penting apakha dalam agama-agama lain ada keselamatan, di sini gereja bersifat ambivalen. Dalam dokumen Noxtra Citate paragraph 2 disebut RK tidak menolak apapun dalam agama-agama lain benar dan suci. Di lain pihak bahwa sinar kebenaran kerja di mana-mana melalui Roh Kudus namun bukan berarti gereja tidak mengajarkan lagi kebenaran alkitab terhadap agama-agama lain dan tetap diakui bahwa
Gereja mendorong anggotanya untuk menjadikan dialog dengan penganut agama lain berlangsung dengan bsekaligus untuk menyaksikan sinar kebenaran yang diyakini, serta melihat kekayaan yang ada dalam agama dan kebudayaan lain. Jadi di sini gereja cukup terbuka namun tetap diakui bahwa di dalam gereja RK ada kebenaran yang paling sempurna.
Ada pengakuan seorang Jesuit bahwa dalam gereja RK ada banyak aliran yang ke arah timur dan barat bagikan seorang nahkoda harus dijaga keseimbangan supaya jangan terlalu berat sebelah, harus dijaga keseimbangan supaya jangan ada yang memisahkan diri, kesatuan harus dijaga terus-menerus melalui peran nahkoda dalam hal ini tentunya Paus dan uskup-uskup harus mengingat kedua aliran yang berbeda yang tidak dapat disatukan.
Kemudian perlu juga dipedomani dalam memahami dialog antar agama menurut gereja RK dalam dokumen Dialog and mission, demikian juga dialog and proclamation. Dan kedua dokumen ini menekankan bahwa dialog adalah bagian missi dan proklamasi dan harus ditekankan bahwa missi dan proklamasi lebih penting daripada dialog itu sendiri.
2. Menurut Gereja anglikan dan Episkopal
Di dalam gereja ini ada konferensi-konferensi resmi untuk merundingkan hal-hal penting, sebenarnya tidak ada kebijaksanaan resmi tentang dialog tapi ada satu dokumen tentang dialog dengan Jahudi. Di halamn 124 dikatakan bahwa dialog dimulai dengan pertemuan dengan orang-orang. Dialog tergantung pada saling pengertian tentang kepercayaan. Ketika dialog untuk memungkinkan untuk membagi-bagi tugas komunitan dan juga kesaksian.
Orang dari agama berbeda bisa kerjasama dalam hal perdamaian, keadilan dan pembebasan. Tidak ada tulisan resmi bagaimana sebenarnya kebenaran dalam agama lain. Tapi dianjurkan bahwa orang Kristen harus melakukan dialog karena di dalam alkitab disebutkan bahwa orang harus berhubungan dengan semua orang dan budaya di dunia ini. Dan diyakini bahwa Allah bekerja dalam budaya lain sebagai suatu kesadaran bahwa Allah berbicara dengan bangsa dan budaya lain, Allah juga bekerja di luar agama Jahudi.
Seorang teolog lain berkata bahwa orang anglikan hrs mendasatri teologi mereka pada konsili oikumenis I, sebelum pemisahan Timur dan Barat ada satu Kristologi logis yang memungkinkan apakah ada sinar-sinar kebadian di dalam iman agama lain. Harus ada keterbukaan yang dikembangkan di mana gereja adalah melanjutkan gerakan Jesus memasuki rumah-rumah. Bukanlah pengecualian bahwa orang lain tidak mempunyai pengetahuan yang benar. Di dalam agama lain ada upacara-upacara yang mungkin serupa dengan yang dibuat Kristus untuk menghadirkan tanda-tanda Kristus di dalamnya. Gereja ini melihat bahwa di dalam agama lain ada jalan keselamatan, namun dibedakan ada jalan keselamatan biasa dan jalan keselamatan luar biasa. Jalan yang luar biasa ini dimengerti bahwa dalam agama-agama lain ada keselamatan, namun harus hati-hati.
Gereja anglikan juga mempunyai banyak perbedaan atau kelompok dimana sebagian sudah ada yang menahbiskan perempuan dan homo seksual untuk menjadi pelayann gereja, namun mereka dilarang untuk mempraktekkan sifat mereka yang buruk, namun di pihak lain belum menerima hal seperti itu Hal ini didasarkan atas penelitian bahwa ada gen-gen tertentu membuat orang menjadi homoseksual, yang juga dalam binatang-binatang ditemukan hal yang sama, namun hal ini bukanlah tugas teologia agama-agama.
TEOLOGI