FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

August 25, 2008

Perubahan Paradigma dalam Teologi (Hans Kung)

Filed under: filsafat — admin @ 9:41 am

Kade Gunaraksawati Mastra

Bagian I
Perubahan Paradigma dalam Teologi
Bahan pemikiran untuk diskusi
Oleh: Hans Kung

Hans Kung, seorang teolog Katolik, adalah profesor Teologi Ekumenis dan Direktur Institut Penelitian Ekumene di Universitas Tubingen. Tulisan ini merupakan salah satu makalah yang dipresentasikan dalam simposium internasional mengenai ekumene dan interdisipliner ilmu di Universitas Tubingen pada tahun 1980 yang dikembangkan lebih lanjut saat mengajar di sekolah teologi di Universitas Chicago pada tahun 1981. Hans Kung melakukan pendekatan filsafat ilmu yang berefleksi pada sejarah perkembangan teologi untuk memperlihatkan cara dan ciri terwujudnya gagasan-gagasan teologis baru di teologi dengan mengambil kesejajaran dengan terjadinya teori-teori, hipotesa-hipotesa baru dalam sains alam, untuk mengatasi permasalahan konflik-konflik atau pertentangan-pertentangan teologis sebagai wacana untuk mewujudkan ekumene di kalangan teolog-teolog dan gereja-gereja.
Hans Kung mencoba memahami situasi teologi masa kini sebagai suatu perubahan dalam paradigma, dengan secara kreatif menggunakan definisi ‘paradigma’ Thomas Kuhn sebagai kerangka pemikirannya, yaitu ‘suatu perangkat keseluruhan daripada keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, tehnik-tehnik yang dipergunakan bersama oleh para anggota dari suatu masyarakat’.
Hans Kung mempertanyakan apakah suatu pola atau ‘paradigma’ bisa ditemukan dalam teologi Kristen walaupun adanya berbagai perbedaan ragam teori-teori, metode-metode dan struktur-struktur yang ada pada teologi pada masa kini. Ia mencoba untuk menerapkan teori perubahan paradigma pada keseluruhan teologi Kristen, untuk melihat bagaimana suatu paradigma atau model pemahaman teologi digantikan oleh paradigma teologi lain yang baru, dengan perbandingan yang terjadi di dunia sains.
Sejarah Kristen ditafsirkan sebagai suatu rangkaian suksesi paradigma-paradigma; paradigma apokaliptik Kristen-Yahudi dari masa awal; paradigma Katolik Roma pada abad pertengahan; paradigma Protestan Injili pada masa Reformasi; dan paradigma modern daripada pencerahan; dan paradigma paska-pencerahan atau paska-modern – yang masih sedang terbentuk. Melihat sejarah gereja sebagai rangkaian daripada paradigma-paradigma yang berubah bisa membantu kita untuk mengenali krisis-krisis yang membawa ke kemunculan daripada cara-cara baru dalam berpikir, menilai dan bertindak dalam gereja. Dan dengan ini, penolakan-penolakan yangn dihadapi oleh gagasan-gagasan pemikiran yang baru ini bisa lebih mudah dipahami.
Masa depan ‘paradigma paska-modern’ dijelaskan sebagai ‘pencerahan daripada pencerahan’, di mana akan ada tanggung jawab sains; di mana teknologi dan industri akan melayani kemanusiaan; di mana demokrasi sosial akan dibentuk untuk mewujudkan keadilan dan kebebasan dunia secara luas.

1. Inovasi dalam teologi dan teori sains.

Hans Kung menganalisa permasalahan sejarah Kekristenan pada masa lalu dan masa kini dalam kaitannya dengan teori pengetahuan, yang sekarang merupakan pengetahuan mengenai pengetahuan (science of science), teori mengenai teori (theory of theory), yang nantinya akan digunakan untuk refleksi praktek teologi pada masa kini.
Hans Kung mengemukakan bahwa sepanjang masa di mana-mana, teologi tradisional sangat berprasangka terhadap teologi-teologi baru. Dalam sejarah, baik dalam Katolik maupun Kristen, para teolog tradisional memandang penggagas-penggagas teologi baru sebagai penyesat, musuh gereja dan negara, orang yang dipengaruhi oleh setan dan keras kepala dalam mempertahankan kesombongan dan pandangan kaku mereka. Penggagas-penggagas teologi baru dihakimi bahkan adakalanya dianiaya dengan segala macam cara, dikecam dan dihabisi, secara fisik maupun moral. Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan perkembangan sejarah sains dalam penerimaan masyarakat ilmuwan terhadap teori sains baru.
Hans Kung menggunakan perbandingan yang terjadi dalam masyarakat sains alam dalam perkembangan teori-teori baru sains alam untuk menggagas bahwa konflik-konflik atau pertentangan atas gagasan-gagasan teologi-teologi baru pada abad ini – sebagaimana halnya dalam sains – secara epistemologi adalah pergantian suatu paradigma atau model pemahaman teologi yang telah ada dengan paradigma atau model pemahaman teologi yang lain yang baru. Perbandingan yang tidak lazim antara teologi dan sains alam – khususnya dengan fisika dan kimia – digunakan untuk mencermati permsalahan-permasalahan teologi dengan lebih tajam, khususnya mengenai perkembangan teologi baru.
Menurut Hans Kung, perkembangan epistemologi selama 50 tahun yang terakhir bergerak dari analisa abstrak, positivisme-logis (Lingkaran Wina) dan rasionalisme kritis (falsifikasi Popper) , linguistik yang dianggap tidak memadai dan telah melalui banyak perbaikan untuk kembali lagi menggunakan historis-hermeneutik (sejarah), penyelidikan psikologis-sosiologis (masyarakat penyelidik), dan faktor subyektivitas manusia kembali, yang selama ini bermanfaat bagi disiplin-disiplin ilmu kemanusiaan khususnya teologi. Hal ini merupakan penyeledikan pengetahuan yang merupakan perpaduan dari teori pengetahuan, sejarah pengetahuan dan sosiologi pengetahuan. Pada masa sekarang ilmu-ilmu sains alam dan sains kemanusiaan, khususnya dalam teologi, saling ada keterkaitan (lintas ilmu), sebab walaupun ada perbedaan dalam metodologi, setiap sains alam memiliki cakrawala pemahaman yang merupakan dimensi hermeneutika, seperti dikemukakan oleh Georg Gadamer. Dalam sains alam sekalipun, objektivitas yang paling mutlakpun tetap melibatkan unsur subyektivitas manusia, si pengamat itu sendiri. Dan kesimpulan para ilmuwan sains dan para teknisipun tidak luput dari unsur hermeneutika, karena kesimpulan-kesimpulan yang dibuat dibatasi pada poin-poin yang mengharapkan adanya jawaban, sebab dengan cara demikianlah suatu pertanyaan dirumuskan. Fisika modern, yang terkait dengan teori relativitas dan mekanika kuantum, telah menunjukkan bahwa kesimpulan-kesimpulan sains alam hanya memiliki nilai di dalam kondisi-kondisi atau asumsi-asumsi yang dirumuskan secara jelas dan tidak di luar dari rumusan kondisi-kondisi tersebut. Dalam penelitian-penelitian fisika, perubahan pada pilihan metodologi akan merubah objek yang diteliti – apa yang disingkapkan selalu dari satu sudut pandang atau satu aspek tertentu. Semua ini relevan untuk mengkritisi teologi ekumenis, yang dapat dilihat lebih dari sekedar kontroversi teologi di antara denominasi-denominasi yang berbeda.

2. Perubahan Paradigma

Menurut Hans Kung, hipotesa-hipotesa dan teori-teori baru dalam sains alam tidak lahir semata-mata karena verifikasi (seperti pendapat positivisme-logis Lingkaran Vienna) ataupun falsifikasi (seperti pendapat rasionalis-kritis Popper), melainkan merupakan hasil daripada penggantian suatu model penafsiran atau “paradigma” yang secara umum telah diterima oleh suatu model penafsiran atau paradigma yang baru, yang disebut dengan ‘perubahan paradigma’. Perubahan ini tidak terjadi seketika seperti halnya bila menekan tombol (paradigm switch), namun melalui proses panjang yang tidak sepenuhnya rasional maupun tidak-rasional, dan lebih sering revolusioner daripada evolusioner. Hans Kung menerjemahkan istilah “paradigma” dalam teori Kuhn sebagai model penafsiran, model penjelasan atau model pemahaman.
Hans Kung mengklasifikasikan model paradigma menurut daya cakup pengaruhnya atas: model makro untuk solusi-solusi yang jangkauannya global, model meso untuk solusi-solusi menengah dan model mikro untuk solusi-solusi detil.

Bidang Model Makro Model Meso Model Mikro

Sains alam: - model Ptolemaeus - teori gelombang cahaya - penemuan sinar x (radiasi)
- model Copernicus - teori dinamika panas - teori elektro magnetik Maxwell
- model Newton
- model Einstein

Teologi - Alexander - Yunani - doktrin penciptaan - dokrtin dosa asal
- Agustinus - Latin - doktrin anugerah - kesatuan hipo-statik
- Thomas -abad pertengahan - pemahaman sakramen
- Reformasi
- Penafsiran Kritis Modern

Menurut Hans Kung, sains alam dan sains kemanusiaan bisa saling melengkapi untuk memberikan pandangan baru, misalnya sains alam dapat diperluas dengan menggunakan pengamatan sains humanis seperti histografi sastra, musik, seni visual, politik, dan sebaliknya permasalahan-permasalahan yang muncul dalam sains alam dapat menyingkapkan aspek-aspek baru pada sains humanis, khususnya pada teologi.
Hans Kung menggunakan istilah ‘model’ sebagai ‘paradigma’ untuk menekankan ciri pemikiran yang dilandasi asumsi-asumsi dan batasan tertentu, dan melihat realitas secara objektif dengan perbandingan pemikiran dan variasi tertentu. Karena baik untuk para ilmuwan sains maupun teolog, fakta-fakta dan pengalaman-pengalaman selalu diatur dan ditafsir secara subyektif, setiap pengamatan dilakukan dari luar model pemahaman (sains dan pra-sains).
Sebagaimana halnya teori-teori klasik seperti teori Newton dan Aquinas, yang sudah teruji dan dulu dianggap memadai namun kini sudah tidak memadai lagi dan perlu perbaikan, maka tidak ada alasan untuk menjadikan suatu metode, proyek, model, paradigma sebagai sesuatu yang mutlak; sebab akan selalu ada alasan-alasan untuk terus menerus memulai suatu penemuan baru, untuk selalu dikritisi dan dikontrol secara rasional, dalam perjalanan melalui pluralisme, menuju kebenaran yang lebih mulia.

3. Kesejajaran antara sains alam dan teologi

Hans Kung mencoba menunjukkan beberapa persamaan serta perbedaan antara sains alam dan teologi, sebagai acuan untuk menyikapi permasalahan dalam teologi.
Hans Kung mengamati 5 kesejajaran sebagai berikut:
(a) Sama seperti dalam sains alam, masyarakat teologi memiliki ‘sains normal’ dengan penulis-penulis klasik, buku-buku teks, guru-guru, yang ditandai oleh pertumbuhan pengetahuan yang sifatnya kumulatif, pemecahan permasalahan-permasalahan (teka-teki) yang masih tersisa serta penolakan terhadap segala sesuatu yang bisa mengakibatkan perubahan atau penggantian paradigma yang telah terbentuk.
Hans Kung memakai sebagai titik acuan pengamatan Kuhn terhadap sains alam bahwa dalam prakteknya para siswa menerima model-model pemahaman tertentu lebih disebabkan oleh otoritas dari buku-buku teks yang mereka pelajari dan guru-guru besar yang mereka dengarkan, daripada dari hasil pembuktian.
Pada jaman dulu, dalam sains alam fungsi ini dilakukan oleh karya-karya klasik seperti Fisika Newton, Almagest Ptolemy; di jaman modern Principia dan Opticks Newton, Kelistrikan Franklin, Kimia Lavoisier, Geologi Lyell dan sebagainya. Sedangkan dalam teologi, teologi Kristen dikenali sebagai berbeda dari teologi luar yang bukan Kristen seperti teologi mistis-kultus (dongeng-dongeng dan kesaksian dewa-dewi) serta teologi filosofis (doktrin tentang Tuhan), dan dimulai di kitab Perjanjian Baru oleh Yohanes dan Paulus. Disamping kesaksian rasul-rasul, penulis-penulis klasik terkemuka seperti: Irenaeus pada abad ke 2, Tertullian di Barat dan Alexandrian, Clement dan Origen di Timur pada abad ke 2 juga menghasilkan teologi dalam diskusi komprehensif dengan budaya pada masa mereka.
Dengan demikian teologi harus dipahami kembali sebagai apa yang disebut Tracy sebagai dialektik dari tantangan dan tanggapan. Buku-buku teks dalam pengertian baku baru muncul di abad pertengahan setelah teologi disahkan sebagai salah satu disiplin perguruan tinggi dan sejak itu paradigma-paradigma atau model-model pemahaman teologis lebih mudah dibuat.
Hans Kung memberikan contoh proses penggantian model penafsiran atau paradigma satu teologi klasik, yaitu teologi Aquinas, sebagai suatu rangkaian suksesi teologi-teologi.

Latar belakang teologi-teologi yang ada sebelum kemunculan teologi Aquinas yakni di Timur, karya-karya teologi sistematika seperti Pegegnoseos (Fountain of Wisdom) dari John Damascene, khususnya bagian ke tiga, ‘An Exposition of the Orthodox Faith’ memberikan ringkasan teologi timur, yang berpengaruh sampai ke Yunani dan Slavia Timur sepanjang abad pertengahan sampai masa sekarang. Di Barat, teologi Latin yang menganut paham Agustinus dibawa ke para cendekiawan (skolastik) abad pertengahan melalui karya tulisan Peter Lombarad Sentences (+1160), yang sebagian besar berisi kutipan-kutipan Agustinus. Dengan cara ini, pemikiran-pemikiran Agustinus bersama-sama dengan sistimatika neo-platonik datang untuk mendominasi filosofi dan teologi skolastik baik dalam segi metode maupun isi hingga pertengahan abad ke 13. Pada masa ini Thomas Aquinas (+1274) masih dianggap sebagai teolog yang kontroversial, dikecam sebagai tokoh modern oleh teolog-teolog tradisional (pendukung pemikiran Agustinus), dipanggil ke Paris oleh Ordo Dominika dan dikecam secara resmi sebagai penggagas teologi baru oleh otoritas gereja di Paris dan Oxford, namun diberikan perlindungan oleh Ordonya. Teologinya dalam karya tulisannya Summa Theologiae, baru diterima di luar Ordonya beberapa saat sebelum Reformasi dengan adanya komentari pertama atas seluruh Summa oleh Cardinal Cajetan, penafsir klasik Aquinas yang berseberangan dengan Luther dan atas peranan Francisco de Vittoria, Bapak skolastik Spanyol, yang memperkenalkan Summa Theologiae sebagai salah satu buku teks di Universitas Salamanca; dilanjutkan oleh Lovain yang mendapatkan dua gelar profesor dalam teologi Aquinas dan perkuliahan tujuh tahun mendalami Summa Theologiae, dan pada abad sekarang (1924) sudah dicetak 90 komentari tentang keseluruhan Summa dan 218 komentari untuk bagian pertama. Pada skala yang lebih kecil adalah teolog-teolog Reformis dengan karya tulisan mereka yang membuat sejarah, yakni Loci Melancthon dan Institutio Calvin serta Laws of Ecclesiastical Polity tokoh Anglican Hooker.
Dalam teologi, seperti halnya dalam sains alam, ada pemikiran-pemikiran yang seperti ‘sains normal’, yaitu riset yang secara ketat didasari oleh satu atau lebih pencapaian sains di masa lalu yang diakui oleh beberapa masyarakat sains tertentu untuk suatu masa tertentu sebagai memberikan landasan untuk praktek lebih lanjut. Konstruksi-kontruksi teoritis yang ulung ini memberikan contoh, pola, paradigma, model pemahaman untuk praktek sains sehari-hari.
Dalam sains alam, pada bidang fisika contohnya adalah model astronomi Ptolemaeus yang kemudian digantikan oleh model Copernicus, model Aristoteles yang kemudian digantikan oleh model dinamika Newton, teori korpuskular yang kemudian digantikan oleh teori gelombang cahaya.
Sedangkan dalam teologi, adalah pemikiran Alexander yang kemudian digantikan oleh pengajaran Agustinus atau Thomas Aquinas, pengajaran Reformasi, Protestan Orthodox ataupun pengajaran-pengajaran teologi yang lebih baru. Setiap orang yang ingin memberikan pendapatnya dalam sains tertentu harus menguasai melalui studi yang mendalam tentang model-model pemahaman yang ada di dalamnya, yang meliputi model makro, meso maupun mikro.
Namun ada keanehan bahwa tokoh-tokoh pembaharuan tidak sungguh-sungguh diinginkan dalam lingkup model yang sudah terbentuk, baik dalam sains alam maupun teologi, karena mereka dianggap dapat merubah, mengacaukan, bahkan menghancurkan model penafsiran atau paradigma yang telah ada. Hal ini disebabkan sains normal sepenuhnya berfungsi untuk meneguhkan suatu model pemahaman atau paradigma, untuk menjadikannya lebih akurat, untuk melindunginya, serta memperluas penerapannya; kepentingannya adalah untuk pengembangan pengetahuan secara sedikit demi sedikit (agregasi, akumulasi) melalui proses yang lamban.
Dalam praktek, sains normal tidak tertarik pada falsifikasi yang dapat mengacaukan model yang sudah terbentuk, melainkan mau memecahkan sisa teka-teki yang belum terpecahkan. Karena itu dilakukan usaha-usaha untuk meneguhkan model yang ada - yang juga pada awalnya ditolak atau ditekan – dengan memasukkan fenomena-fenomena baru, contoh-contoh kebalikan serta anomali-anomali ke model yang sudah ada tersebut dan sejauh dimungkinkan model-model tersebut diperbaiki atau dirumuskan dengan cara baru.
Seperti halnya kasus Galileo yang berkaitan dengan teologi dan sains alam fisika, tidak hanya dalam teologi, namun juga dalam sains alam, pencetus gagasan-gagasan baru atau anomali-anomali yang mengacaukan model-model yang telah lazim digunakan pada mulanya seringkali dikecam secara moral sebagai ‘perusak kedamaian’, atau dilakukan upaya-upaya untuk mendiamkannya.

(b) Seperti halnya dalam sains alam, begitu juga halnya dalam masyarakat teologi, kesadaran akan tumbuhnya krisis merupakan titik awal untuk terjadi perubahan drastis pada asumsi-asumsi dasar yang telah ada, yang pada akhirnya akan membuat terobosan paradigma atau model pemahaman baru. Runtuhnya aturan-aturan dan metode-metode yang ada akan menyebabkan pencarian aturan-aturan dan metode-metode yang baru
Sains normal merupakan praktek yang lazim dilakukan oleh para mahasiswa yang menggunakannya sebagai acuan pemikirannya hingga batasan-batasan tertentu. Namun hal ini menimbulkan pertanyakan apakah perkembangan sains hanya berarti bahwa kemajuan dibuat secara lamban tapi diuji terhadap banyak kesalahan? Apakah kemajuan disiplin sains alam dan teologi hanya melalui perkembangan yang selangkah demi selangkah untuk semakin mendekati kebenaran?
Pandangan perkembangan organik ini dianut secara luas oleh para ilmuwan sains alam dan para teolog. Di teologi, khususnya di Katolik, teori ini mengakar pada abad 19 melalui usaha Newman, yang dipengaruhi oleh Hegel, khususnya di sekolah Katolik Tubingen. Secara paradoks teori ini populer di Roma untuk menjelaskan dogma konsepsi (1854) dan dogma-dogma lain.
Hans Kung memberikan contoh-contoh sejarah yang menunjukkan bahwa titik awal bagi penggantian suatu model penafsiran atau paradigma dalam sains alam maupun dalam teologi tidak disebabkan perkembangan organik yang sederhana melainkan disebabkan pra-kondisi adanya krisis-krisis mendasar (fundamental) pada model penafsiran atau paradigma yang ada pada masa itu.
Krisis-krisis yang terjadi dalam sains alam:
Pra-kondisi revolusi astronomi Kopernikus disebabkan oleh krisis pada model astronomi Ptolemaeus – antara lain disebabkan ketidak mampuannya mengatasi penyimpangan-penyimpangan yang tampak secara jelas dan anomali-anomali yang menunjukkan ketidak mampuan sains normal untuk memecahkan teka-teki yang berkaitan dengannya, khususnya dalam perhitungan ramalan jangka panjang posisi planet-planet.
Pra-kondisi terobosan Lavoisier dalam kimia adalah krisis teori flogiston yang ada saat itu yang menjelaskan bahwa pembakaran tubuh disebabkan oleh konsentrasi flogiston. Namun karena teori ini tidak bisa menjelaskan pengamatan semakin seringnya terjadi pertambahan berat saat berlangsungnya proses pembakaran, membuat Lavoisier akhirnya mengesampingkan keberadaan zat energi panas sampai pada akhirnya mengenali bahwa penyebab pembakaran adalah penyerapan oksigen. Penemuan ini merupakan landasan untuk perumusan kimia yang baru.
Pra-kondisi teori relativitas Einstein adalah krisis teori eter yang dominan pada waktu itu, yang tidak bisa menjelaskan mengapa tidak ada pergerakan, arus ataupun aliran eter yang bisa diamati, membuat Einstein mengesampingkan gagasan keberadaan zat perantara eter terhadap daya gravitasi dan gelombang cahaya; sampai akhirnya ia menemukan precepatan cahaya yang konstan untuk semua sistim referensi yang bergerak secara seragam ke satu sama lain.

Krisis-krisis yang terjadi dalam teologi:
Pada jaman Perjanjian Baru ada bermacam-macam model pemahaman Yahudi dan Hellenistik mengenai peristiwa-satu Kristus yang berdampingan satu sama lain sebelum akhirnya ditengahi oleh Paulus, Rasul Yahudi dan Hellenistik. Tidak tergenapinya pengharapan apokaliptik yang diharapkan akan segera terjadi mengenai kerajaan Allah yang disangka akan segera datang merupakan krisis pertama yang dihadapi orang-orang Kristen mula-mula. Model apokaliptik Yahudi dengan akhiran yang akan segera terjadi (Kristus sebagai akhir waktu) secara taktis diganti – terutama dalam tulisan-tulisan Lukas, dalam surat-surat pastoral serta surat Petrus yang kedua – dengan model penafsiran Katolik mula-mula yang dikaitkan dengan sejarah keselamatan, dengan menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat waktu dan membuat tenggang waktu yang lebih panjang dimana ada kelangsungan gereja. Namun dalam perkembangannya gereja secara tidak sadar melupakan asal usul teologi Yahudinya dan menjadi semakin condong menjadi hellenistik dan melembaga. Keadaan ini menyebabkan terjadinya krisis jati diri yang diwujudkan pada abad ke 2 dengan model penafsiran Gnostik, yang sepenuhnya mengabaikan asal usul sejarah Kristiani dan bergerak ke arah teologi mistis tidak-sejarah. Ada beberapa rangkaian suksesi model-model teologi di gereja dalam usaha menghadapi tantangan ini. Di abad ke 2 muncul teologi Apologetik yang mencoba membela identitas dan pengesahan universal Kekristenan secara rasional dengan bantuan konsep-konsep filosofi populer dan dengan menekankan Firman Yohanes yang Hellenistik ke seluruh dunia. Kemudian pada peralihan abad ke 2 ke abad ke3, muncul teologi alkitabiah Irenaeus yang condong ke sejarah keselamatan, yang mengarahkan kembali ke Alkitab dan tradisi kerasulan sebagai penolakan terhadap teologi gnostik. Setelah itu di abad ke 3 (sebagai tambahan teologi Tertullian di Barat), di Timur muncul teologi Alexandrian oleh Clement dan Origen, yang menyatukan semua teologi-teologi yang ada (termasuk teologi gnostik) – dalam diskusi dengan filosofi neo-platonik – yang mengembangkan model teologi makro pertama yang matang dan memiliki otoritas dalam jangka waktu yang panjang. Unsur-unsur struktural dari teologi Yunani ini terbuka untuk dunia namun sepenuhnya eklesial, secara sejarah benar, namun berlandaskan refleksi filosofis, merupakan kanon alkitabiah dan aturan-aturan daripada iman serta pemikiran neo-platonik. Penafsiran ulang Origen terhadap Alkitab secara allegoris dan simbolis dan penafsirannya yang rohani-pneumatik secara keseluruhan tetap bertahan di teologi – bahkan tetap bertahan terhadap tentangan terutama dari Sekolah Antiochene yang pendukung teologi Aristotelian dan condong pada pendekatan penafsiran Alkitab secara historis dan gramatikal. Hal ini membuka jalan bagi titik balik teologi Constantin, yang diperbaiki pada abad ke 4 dan dikembangkan lebih lanjut, khususnya oleh Athanasius dan Cappadocians (Basil, Gregory Narianzen dan Gregory dari Nyssa) dan menjadi model Orthodoksi Yunani (John Damascene).
Di Barat, meskipun solidaritas yang kuat (khususnya dalam penafsiran Alkitabiah) dengan Yunani, yang berkembang adalah model makro teologi Agustinus yang sangat berbeda, yang menjadi otoritas untuk jangka waktu yang panjang. Teologi ini muncul di tengah krisis Kerajaan Romawi akibat krisis pribadi Agustinus, peralihannya dari dualistik Manichaeisme dan skeptisme cendekiawan, dan kembalinya ke iman gereja, ke Neoplatonisme, ke pendekatan allegoris, ke Paulus, ke asketisme Kekristenan, dan akhirnya ke jabatan episkopal. Namun yang utama menentukan model teologi Agustinus adalah dua krisis dalam sejarah gereja dan sejarah teologi, yakni krisis Donatis yang melahirkan konsep Agustinus mengenai Gereja dan sakramen-sakramennya dan membentuk teologi Barat secara keseluruhan, dan krisis Pelagian yang secara meyakinkan membentuk teologi dosa dan anugerah sampai Reformasi dan Jansenisme.
Pra-kondisi yang menyebabkan Thomas Aquinas, teolog paling modern abad ke 13, melakukan penilaian ulang yang baru mengenai alasan yang terkait dengan iman, mengenai pertimbangan literalisme dalam penafsiran Alkitab yang terkait dengan penfasiran secara allegoris dan spiritual, mengenai keberadaan kodrat alamiah terkait dengan anugerah, mengenai filosofi yang terkait dengan teologi, dan sintesa teologinya yang baru yang berskala besar, yang menentukan skolastik Spanyol dan neo-skolastik pada abad ke 19 dan 20 adalah krisis Agustinus, yang dipicu oleh sejarah Eropa secara umum dan terutama penerimaan karya Aristoteles secara penuh di Kekristenan Eropa. Krisis ini menimbulkan konflik-konflik atau pertentangan-pertentangan dengan hasil-hasil penemuan baru, khususnya dalam sains alam, dengan filosofi Arab yang mirip dengan aliran Aristoteles. Dengan pengukuhan teologi di universitas sebagai suatu disiplin ilmu, Aquinas dengan metodologi yang ketat dan ketrampilan dialektikal menyesuakian pemikiran-pemikiran platonik-Agustinus ke sistim teologi filsafatnya yang baru, tanpa terlibat dalam polemik. Ia tidak ragu-ragu menafsirkan ulang seluruhnya ataupun meninggalkannya bagian-bagian yang tidak sesuai baginya.
Pra-kondisi yang menjadi titik awal Luther bagi pemahamannya yang baru mengenai Firman dan iman, mengenai pembenaran dari Tuhan dan dari manusia, juga kelahiran teologi alkitabiah yang Kristo-sentris secara keseluruhan, dan penolakan penafsiran Alkitab secara allegoris ke penafsiran Alkitab yang ketat secara gramatik-linguistik adalah krisis dalam gereja dan masyarakat pada akhir abad pertengahan, yakni krisis skolastik yang sistematik dan spekulatif, yang semakin menjauh dari sumber Alkitabiah, mengabaikan kebenaran-kebenaran dasar dan karakter eksistensial daripada iman, dan justru mengumpulkan kesimpulan-kesimpulan rasional murni.
Pra-kondisi yang menjadi titik awal munculnya teologi kritis modern secara meyakinkan pada masa Pencerahan Jerman di abad ke 17-18 adalah usaha untuk menjaga ciri sains dalam teologi terhadap semua piestitik biblikal, dan karakter sejarah iman Kristen terhadap semua teologi deistik alami. Dalam rangka semangat rasionalitas modern yang ketat, kaum teolog berusaha untuk memberikan pertanggung jawaban yang kritis mengenai iman yang Alkitabiah, melalui exegesis yang tidak dogmatik maka doktrin yang diturunkan dari inspirasi verbal dihilangkan dan diganti dengan asimilasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip tulisan-tulisan Alkitab dengan literatur lain dan dengan penafsiran Alkitab yang tidak semata-mata filologis dan historis. Dengan demikian, titik awalnya adalah krisis Protestanisme ortodoks yang muncul pada akhir periode pengakuan dan perang agama. Dengan melihat kembali ke Aristoteles dan ortodoksi Lutheran dan Calvinis, krisis ini telah membangun dan mengkonsolidasikan model teologi skolastik-Protestan. Namun teologi ini runtuh pada titik balik besar ke toleransi, pemikiran modern, visi-dunia yang modern, ketika Aristotelianisme tidak lagi menjadi standar mode pemikiran untuk semua sains. Resultan daripada emansipasi filosofi baru, dari sains-sains perorangan, dan akhirnya keadaan masyarakat secara besaran dari otoritas teologi dan gereja akhirnya membawa ke gerakan-gerakan revolusioner segar yang berkesinambungan dalam filosofi dan sains perorangan, dan akhirnya ke pemahaman teologi secara keseluruhan ke paradigma kritis modern yang baru.
Contoh-contoh yang diberikan Hans Kung menggambarkan perkembangan sejarah di dalam masyarakat teologi yang sangat kompleks dalam sebab-akibat, inisiasi dan perkembangan, yang hampir tidak pernah dicapai oleh satu orang sendirian, dan bukan perubahan yang terjadi secara seketika (paradigm switch). Adalah ironis bahwa sebagian besar sejarah – baik dalam sains alam maupun teologi - sains normal itu sendiri secara tidak sengaja menyebabkan penurunan daripada model yang sudah mapan. Hal ini disebabkan semakin canggih dan terspesialisasinya model membawa pencerahan informasi-informasi tambahan baru yang tidak sesuai dengan model tradisional dan membuat teorinya menjadi rumit.
Dalam sains alam, pergerakan bintang-bintang semakin diteliti dan diperbaiki menurut kerangka model jagad raya Ptolemaeus, semakin banyak informasi yang diperoleh yang justru bertentangan dengan model tersebut. Sedangkan dalam teologi, semakin Protestanisme ortodoks memakai pendekatan neo-Aristoteles ke sains, semakin tampak ketidak ilmiahan biblisme pietisme yang sederhana dan teologi rasional alami-tidak historis dari Pencerahan. Dengan kata lain, semakin ne-skolastik pada abad ini berusaha untuk berpegang pada tesis-tesis spekulatif tertentu – seperti aturan gereja, primasi papal dan infalibitas - semakin banyak ditemukan aspek-aspek yang menyebabkan tidak bisa diterimanya model tersebut.
Sebagaimana halnya dalam sains alam, dalam teologi penggantian suatu model penjelasan pada umumnya didahului masa transisi dalam ketidak pastian, di mana iman dalam model yang sudah mapan tersebut diguncang, orang-orang melihat melampaui kerangka model yang ada, semakin longgar ikatan-ikatan yang ada, berkurangnya sekolah-sekolah tradisional dan munculnya gagasan-gagasan baru yang bersaing untuk memperebutkan tempat.
Teologi Katolik yang ketinggalan jauh dibelakang perkembangan modern dan tren-tren teologi Protestan, dihadapkan dengan masa transisi pada waktu Vatikan II dengan adanya perubahan di dalam aliran-aliran neo-skolastik klasik - aliran-aliran Thomis dan Scotis, Thomis dan Molinis - yang tidak lagi memainkan peranan dan kemunculan gagasan-gagasan teologi baru untuk menggantikannya membuat teologi Katolik nampak seperti tidak pasti.
Namun, walaupun perkembangan teologi demikian kompleks dan bermacam-macam, semakin jelas bahwa kemunculan model-model baru penafsiran-penafsiran teologi bukan disebabkan karena teolog-teolog perorangan senang untuk membuat model-model baru dalam studi mereka, tapi disebabkan karena model-model penafsiran yang lama telah runtuh. Keruntuhan model penafsiran lama disebabkan karena ‘pemikir-pemikir lama’, ‘pemecah teka-teki’ teologi normal, dalam menghadapi cakrawala sejarah yang baru dengan tantangan-tantangannya yang baru, tidak mendapatkan jawaban memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan baru dan oleh karena itu ‘penguji-penguji model’, ‘pemikir-pemikir baru’, membuat teologi luar biasa bersama-sama dengan teologi normal.
Kuhn menyatakan bahwa krisis bukan penyebab satu-satunya untuk penggantian model, tapi krisis merupakan pendahuluan biasa yang memicu mekanisme perbaikan-sendiri yang memastikan bahwa kekakuan dari sains normal tidak pernah tidak tertantang (hal. 181).
(c) Seperti halnya dalam sains alam, juga terjadi pada masyarakat teologi, paradigma atau model pemahaman yang lama diganti saat ada yang baru.
Hans Kung mengacu pada hasil pengamatan Kuhn atas sejarah sains alam bahwa yang diperlukan untuk mengganti model penafsiran atau paradigma yang ada bukan saja adanya situasi kritis di dalam model penafsiran atau paradigma yang lama tetapi juga munculnya suatu model penafsiran atau paradigma baru.
Dalam sains, penggantian ke model baru - astronomi, fisika, kimia, biologi, teori relativitas umum - jelas menunjukkan bahwa keputusan untuk meninggalkan model lama terjadi bersamaan dengan keputusan untuk menerima model baru. Model yang hendak diganti perlu model yang layak yang dapat dipertanggung jawabkan untuk menggantikannya dengan baik sebelum diganti, dengan kata lain diperlukan ‘calon paradigma baru’.
Namun bila calon pengganti itu sudah ada, penggantian tidak terjadi melalui perkembangan ‘organik’ yang berkesinambungan, tapi melalui proses sains normal yang biasa yang sifatnya kumulatif. Yang terjadi bukanlah perbaikan arah tetapi perubahan arah, secara revolusioner maupun tidak, pengorganisasian ulang dasar-dasar sains secara keseluruhan yang meliputi konsep-konsep, metode-metode, kriteria-kriterianya, yang seringkali diiringi implikasi-implikasi sosio-politis yang besar. Perubahan-perubahan seperti ini terjadi dari waktu ke waktu, baik dalam lingkup mikro dan meso yang terbatas maupun dalam makro yang luas.
Dalam sains, perubahan dari satu teori ke teori lain seperti penggantian dari teori geosentris ke heliosentris, dari kimia flogiston ke oksigen, dari korpuskular ke gelombang.
Dalam teologi, perubahan dari teologi yang satu ke teologi yang lain mengubah konsep-konsep baku yang sudah dikenal, menggeser aturan-aturan dan kriteria-kriteria yang mengontrol penerimaan masalah-masalah dan solusi-solusi, serta mengacaukan teori-teori dan metode-metode yang ada. Dengan kata lain, paradigma atau model pemahaman diganti seluruhnya dengan perangkat metode-metode, lingkup permasalahan dan pemecahan-pemecahan yang berbeda dari apa yang sebelumnya dikenal oleh masyarakat teologi yang bersangkutan. Para teolog menyesuaikan diri untuk memandang dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu melihatnya dalam konteks model yang berbeda. Konsekwensinya adalah bahwa beberapa hal yang dulu tidak terlihat sekarang menjadi terlihat, dan mungkin beberapa hal yang dulunya terlihat sekarang tidak terlihat lagi. Misalnya masyarakat teologi mulai melihat hubungan manusia-dunia-Tuhan dengan sudut pandang yang baru, di mana gambaran secara keseluruhan maupun secara terperinci kini dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Pada masa pergolakan yang besar, teologi menemukan bentuk baru, antara lain dalam pengungkapan sastra di dalam lingkup projek-projek sistematika komprehensif seperti tampak pada perbandingan-perbandingan karya-karya teologi klasik Paidagogos Clement dan Peri archon Origen terhadap Enchiridion atau De doctrina christiana Agustinus, atau Summae di abad pertengahan, dan karya-karya abad pertengahan ini dengan Sendschreiben Luther tahun 1520 atau dengan katekisasi-katekisasinya.
Dalam jaman Perjanjian Baru, perubahan drastis yang pertama terjadi ketika model pengharapan iminen apokaliptik yang diambil dari Yudaisme digantikan oleh gagasan Hellenistik bahwa Yesus Kristus di dalam sejarah keselamatan sebagai pusat waktu. Model ini disempurnakan oleh Clement dan Origen, yang melihat seluruh sejarah manusia sebagai proses pendidikan berkesinambungan yang mengarah ke atas (paideia) bahwa gambaran Allah dalam diri manusia telah dirusak oleh rasa bersalah dan dosa namun dipulihkan oleh perintah Allah sendiri dan digenapi. Dalam rencana Allah (oikonomia-Nya), Allah menjadi manusia sebagai pra-kondisi manusia menjadi Allah. Peristiwa pokok keselamatan mengacu kepada inkarnasi daripada kepada salib dan kebangkitan sebagaimana Perjanjian Baru.
Perubahan teologi sejenis yang drastis terjadi di Barat, dilakukan di Barat oleh Aurelius Agustinus, sosok yang duniawi, pemikir dan dialektik yang trampil, psikologis berbakat dan pengarah gaya yang cemerlang serta orang beriman yang sangat bersemangat. Ia melandaskan teologinya pada intelektualitas dan pengalaman-pengalaman rohaninya dan juga pengalaman-pengalaman seksualnya di masa lalu, dan akhirnya pengalaman-pengalamannya dalam jabatan gereja. Seperti pandangan Yunani, ia ingin membuat sintesa iman Kristen dengan pemikiran-pemikiran neo-platonik. Tetapi semuanya berubah akibat perkembangan kariernya, konflik-konflik serta pertentangan-pertentangannya dengan Donatisme dan Pelagian, dan krisis Kerajaan Romawi. Karakter teologinya adalah predestinasi ganda yang misterius – predestinasi beberapa orang ke sukacita dan predestinasi beberapa orang ke kehancuran; pandangan baru tentang dosa yang dikondisikan secara seksual sebagai dosa mula-mula dan consupiscence; teologi baru tentang sejarah, keberadaan kota Allah dan kota di bumi; perumusan psikologis baru tentang hubungan Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang dimulai dari satu sifat ilahi yang tidak terpisahkan. Teologi-teologi ini menjadi teologi model makro yang berpengaruh hampir selama satu milineum. Dapat dipahami bahwa teologi ini dicurigai oleh orang-orang Yunani sampai saat ini, meskipun kesatuan dari logika, filsafat dan teologinya meyakinkan.
Perubahan teologi yang drastis yang melalui pergumulan yang berat kembali dilakukan oleh Aquinas dan kemudian dalam skala yang lebih besar oleh Luther. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana perubahan paradigma ini memiliki pra-suposisi-politis yang sangat khusus dan pada saat bersamaan juga dampak sosio-politis yang besar.
Dampaknya ambivalen: konsep paideia Kristen-Hellenistik untuk Gereja-gereja Byzantium, teori dua kota atau dua kerajaan dari Agustinus di abad pertengahan, teologi eklesiologi papalis Aquinas atau pemahaman baru Luther tentang pembenaran, Gereja dan sakramen-sakramennya untuk jaman modern. Setelah Luther atau ortodoksi Reformasi, ada teologi-teologi terus berkembang untuk membuat perubahan teologi yang drastis.
(d) Seperti halnya dalam sains alam, juga di masyarakat teologi, dalam penerimaan maupun penolakan suatu paradigma baru, tidak hanya faktor-faktor ilmiah, tapi juga faktor-faktor tidak-ilmiah berperan, sehingga peralihan ke suatu model baru tidak bisa secara murni rasional terjadi, tapi bisa dijelaskan sebagai suatu ‘peralihan’ (yang diibaratkan seperti orang pindah agama).
Sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah mengenai para teolog besar - tidak ada sesuatu yang baru yang diterima dalam masyarakat teologi (dan gereja).
Situasi subyektif dalam model perubahan yang khusus ini harus didefinisikan secara lebih jelas dengan mengacu pada penelitian akademis. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi keputusan para teolog untuk menerima suatu model baru, baik sebagai penggagas ataupun sebagai penerima, dan biasanya proses penerimaan itu lama dan rumit. Ini tersirat antara lain dalam pengakuan dan surat-surat Agustinus, biografi dan kesaksian-kesaksian pribadi Luther.
Hans Kung menjabarkan faktor-faktor yang bisa mempengaruhi keputusan para teolog untuk menerima suatu model baru dengan mensejajarkan pada pengamatan Kuhn akan apa yang terjadi dalam masyarakat sains.
Pengamatan pertama: dalam krisis-krisis besar, tidak hanya para teolog, tapi juga para ilmuwan, mempunyai keragu-raguan tentang iman ketika sains normal dan sistem tradisinya gagal memuaskannya, yang membuatnya harus mencari sesuatu yang baru.
Pengamatan ke dua: baik dalam masyarakat teologi maupun sains, ketika ada perubahan paradigma, faktor-faktor tidak-ilmiah juga dipertimbangkan selain faktor-faktor ilmiah, sehingga ada campuran objektifitas dan subyektifitas, faktor-faktor individual dan logika sosial, asal usul, karir, kepribadian orang-orang yang terlibat, bahkan seringkali juga kebangsaan, reputasi dan guru-guru (khususnya dari penggagas), dan juga daya tarik solusi yang dikondisikan secara indah (aestetika); konsistensi, transparansi, efektifitas, keanggunan, kesederhanaan, lingkup universal dari paradigma yang diajukan.
Pengamatan ke tiga: Kuhn tidak mengamati pengaruh keyakinan agama pada keputusan-keputusan yang murni sains. Namun menurut Hans Kung, hal ini ditemukan tidak hanya pada teolog-teolog besar tapi juga pada fisikawan-fisikawan besar seperti Copernicus, Newton, Einstein. Einstein, fisikawan terbesar abad ini, tidak mau terlibat dalam pengembangan fisika lebih lanjut dengan mekanika kuantum karena alasan agama, seperti tampak dalam suratnya kepada Max Born, yang berisi kutipannya yang terkenal bahwa ‘si tua’ tidak bermain dadu.
Pengamatan ke empat, tidak hanya di teologi, tapi juga di sains alam, suatu model pemahaman baru menuntut sesuatu seperti ‘peralihan’ yang tidak bisa dilakukan dengan cara yang sepenuhnya rasional. Hal ini berlaku pada si penerima yang memutuskan untuk menerima atau menolak, daripada si penggagas (disebabkan pengalaman intuisi yang tiba-tiba ataupun proses pematangan yang lama) menyarankan suatu model baru. Si penerima yang adalah pembela model lama ataupun baru tidak boleh diremehkan. Mereka hidup dalam dunia yang berbeda pemikiran dan bahasanya. Seringkali mereka jarang mengenal satu sama lain. Terjemahan dari bahasa yang lama ke bahasa yang baru diperlukan, tapi pada saat bersamaan harus lahir suatu keyakinan baru, suatu peralihan yang diibaratkan sebagai orang yang ‘pindah atau beralih agama’.
Alasan-alasan objektif penting untuk peralihan keyakinan seperti ini, namun alasan-alasan yang baik saja tidak memadai untuk menghasilkan peralihan, karena perkaranya bukan sekedar proses yang rasional melainkan juga berkaitan dengan ‘proses mempercayai’, untuk memutuskan model mana yang bisa memiliki masa depan lebih cerah untuk mengatasi masalah-masalah baru dan pada saat yang bersamaan paling banyak bisa mempertahankan cara-cara pemccahan-pemecahan lama terhadap permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, pembahasan antara dua aliran pemikiran dan dunia bahasa yang berbeda lebih cenderung dilakukan dengan usaha-usaha rekrutmen, persuasi dan merubah daripada dengan perdebatan rasional. Kedua belah pihak memiliki daftar masalah-masalah, prioritas-prioritas, norma-norma dan rumusan-rumusan serta titik-titik tolak yang berseberangan, dan pihak yang berseberangan diharapkan unuk menerima titik tolaknya yang paling nyata, serta menerima apapun premisi yang dimilikinya. Dalam masyarakat penelitian, penerimaan suatu model baru tergantung kepada keputusan ilmuwan perorangan untuk menyetujui suatu titik tolak dengan persyaratan-persyaratan (premisi) tertentu. Hal ini tidak mudah karena bukan pernyataan teoritis murni.
Pengamatan ke lima: tidak hanya di teologi, tapi juga di sains alam, suatu model baru pertama-tama harus punya beberapa pembela yang pada umumnya lebih muda.
Dalam sains alam, Kopernikus berusia 34 tahun ketika ia menghasilkan karya sistim heliosentris, Newton, penemu fisika modern, merumuskan hukum gravitasi ketika ia berusia 23 tahun, Lovisier, penermu kimia modern berusia 26 tahun ketika ia mendepositokan ke Akademi Perancis kesaksiannya yang dimeteraikan tentang keragu-raguannya mengenai teori flogiston yang dominan pada waktu itu.
Dalam teologi, Origen, cendekiawan Kristen pertama yang menggunakan metodelogi penelitian, berusia 18 ketika ia mengambil alih pendidikan Kristen yang terabaikan sejak kepergian Clement dari kaum intelektual di Alexandria. Agustinus berusia 32 pada saat ‘peralihannya’ yang terakhir dan Aquinas belum genap berusia 30 ketika ia memulai komentarinya di bawah semangat Aristoteles. Luther berusia 34 ketika ia mencetak tesisnya mengenai pembenaran.
Kuhn menemukan bahwa peningkatan jumlah ilmuwan yang beralih ke paradigma baru terjadi dengan berlalunya waktu, oleh generasi yang lebih muda, di masyarakat sains maupun teologi. Kesulitan penerimaan ini bukan saja disebabkan kekakuan seiring meningkatnya usia, tapi juga karena adanya keterlekatan pada model lama sehingga seringkali peneliti tua yang berpengalaman dengan model lama bersiteguh menentang model baru sepanjang hidup mereka. Seperti ditulis oleh Darwin pada pendahuluannya di Origin of Species, pada akhirnya, penerimaan suatu paradigma atau model pemahaman baru tidak lagi ditentukan oleh pandangan perorangan, melainkan oleh masyarakat sains secara keseluruhan, seperti dikatakan oleh fisikawan terkemuka Max Planck dalam Scientific Autobiography (1949, hal. 33-34) bahwa: ‘Kebenaran sains yang baru tidak dimenangkan melalui usaha meyakinkan penentang-penentangnya dengan cara membuat mereka melihat pencerahan itu, melainkan karena penentang-penentangnya pada akhirnya akan meninggal dan digantikan oleh generasi baru yang lebih terbiasa dengan kebenaran itu’.
(e) Dalam masyarakat teologi sebagaimana halnya dalam sains normal, bisa diramalkan meskipun dengan sangat sulit, apakah suatu paradigma baru yang sedang dipertentangkan bisa diserap ke paradigma lama untuk menggantikan paradigma lama itu ataukah akan didiamkan untuk jangka waktu yang lama. Namun jika diterima, penemuan baru itu dijadikan tradisi baru.
Menurut Hans Kung, ada tiga kemungkinan pemecahan krisis dalam hal penerimaan paradigma atau model pemahaman baru:
Kemungkinan pertama, model pemahaman baru diserap ke model yang lama. Sains normal menangani masalah-masalah yang mengakibatkan krisis dengan mengasimilasi temuan-temuan baru tertentu dan memperbaiki model yang ada tanpa harus melenyapkannya
Ini merupakan situasi yang dialami oleh pandangan Agustinusme setelah Aquinas dan Thomisme setelah Luther. Agustinusme dari Sekolah Fransiscan menyerap pemikiran-pemikiran Aquinas, dan berhasil bertahan lama bahkan setelah pemikiran Aquinas pudar, kemudian di serap ke dalam Scotisme modern dan akhirnya berakhir dalam Ockhamisme di mana kemungkinan mempengaruhi teologi Luther.
Thomisme berhasil berlanjut ke abad modern (khususnya di daerah-daerah terpencil di Spanyol), namun karena mengabaikan sains dan filsafat modern, dari kedudukan pengaruh teologisnya yang mendominasi abad ke 13 dan dihidupkan kembali pada abad ke 17 dan pada ke 19 (dipromosikan kembali sebagai neo-Thomisme oleh Roma), kehilangan dominasinya di Gereja Katolik hanya di Vatican II.
Kemungkinan kedua, model pemahaman baru berhasil melampaui sains normal dan menggantikan model pemahaman yang lama, yang diikuti dengan penggantian atau penulisan ulang buku-buku ilmiah yang didasari pemahaman dan penafsiran model lama dengan yang baru. Apa yang dulunya merupakan gagasan baru yang mutakhir dengan cepat menjadi gagasan lama yang ketinggalan; apa yang dimulai sebagai sebuah ramalan inovasi dengan cepat menjadi tradisi yang usang.
Semua ini bisa diamati dengan model makro baik dalam sains alam maupun teologi. Buku teks umumnya hanya menjelaskan hasil akhir dari suatu perubahan yang besar dan cenderung menyembunyikan rincian fakta-fakta perubahan besar itu sendiri, gejolak-gejolak yang muncul dan tingkat pertentangan yang terjadi, sehingga seringkali buku-buku teks fisika dan kimia, maupun dogma atau etik, memberikan kesan yang keliru tentang proses pengetahuan, dan membuatnya tampak seperti proses evolusi, perluasan pengetahuan tradisional semata-mata, perkembangan kumulatif biasa dari fisika ataupun perkembangan organik yang biasa dari dogma-dogma.
Kemungkinan ketiga, situasi pergumulan permasalahan pada jaman itu menolak secara keras gagasan-gagasan baru tersebut, dan untuk sementara waktu masalah-masalah yang digumuli oleh gagasan baru tersebut serta pemecahannya dalam bentuk model baru itu di peti-es kan.
Menyimpan model baru seperti ini bisa merupakan proses sains yang murni. Tetapi khususnya di teologi dan gereja, hal ini seringkali dilakukan dengan sikap pertentangan, bukannya membuat kesejajaran-kesejajaran tetapi dengan mempertentangkan perbedaan-perbedaan antara sains normal dan teologi.
Hans Kung mengutip perkataan Albert Eistein “Lebih sulit untuk menghancurkan prasangka-prasangka daripada menghancurkan atom-atom”, untuk menggambarkan betapa sulitnya menghilangkan sikap berprasangka dalam menanggapi gagasan-gagasan baru, namun ia menambahkan bahwa sebagaimana halnya dengan atom apabila prasangka-prasangka tersebut berhasil dihilangkan maka akan diperolah suatu kekuatan yang dahsyat yang mungkin mampu memindahkan gunung.

Hans Kung menunjukkan kesejajaran-kesejajaran, kesamaan-kesamaan struktur antara sains alam dengan teologi dalam menanggapi kemunculan gagasan-gagasan baru dengan acuan kerangka teori paradigma Kuhn sampai di sini. Selanjutnya ia melontarkan pertanyaan untuk bahan diskusi: Bukankan teologi, bahkan kebenaran Kristen itu sendiri, saat dihadapkan dengan perubahan paradigma dan gagasan-gagasan baru, menjadi korban relativisme sejarah, yang membuatnya tidak mampu lagi untuk melihat realitas Kristen dan membuat setiap paradigma sama-sama benar, sama-sama berlaku?
Menurut Hans Kung, sains alam tidak begitu mempermasalahkan hal ini, tetapi konsekwensinya sangat besar untuk teolog Kristen sehubungan dengan teologi Kristen, pemahaman Kristiani tentang kebenaran dan teologi ekumenis kritis modern.

4. Pertanyaan tentang kontinuitas

Berdasarkan hasil pengamatan Kuhn, perubahan paradigma yang diakibatkan oleh revolusi-revolusi ilmiah di sains alam, tidak pernah ada penghentian paradigma lama secara total namun selalu ada kesinambungan yang mendasar. Kuhn menekankan fakta bahwa dalam sains normal digunakan paket data yang sama dengan yang sebelumnya, yang ditempatkan dalam sistim hubungan yang baru satu terhadap yang lain (Kuhn, hal. 85). Peralihan dari mekanisme Newton ke mekanisme Einstein tidak memperkenalkan gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru, melainkan merubah jejaring konseptual dengan mana ilmuwan melihat dunia (hal. 102). Setelah revolusi sains, para ilmuwan tetap melihat dunia yang sama, juga menggunakan bahasa yang sama, meskipun mungkin digunakan dengan cara yang berbeda, dan menggunakan sarana penelitian yang sebagian besar sama dengan sebelumnya.
Hans Kung menegaskan adanya kesinambungan paradigma yang lama dengan yang baru dalam pergantian paradigma dengan menunjukkan bahwa adanya bahasa yang lazim digunakan untuk bahasan teoritis dan prosedur untuk membandingkan hasil-hasil membuat peralihan tidak menjadi peristiwa yang tidak-rasional, tidak tanpa melalui perdebatan yang memberikan sanksi terhadap perubahan pada suatu titik tolak pandang, menyebabkan tidak pernah ada penghentian secara total dari masa lalu. Hans Kung mengutip pernyataan Toulmin bahwa perubahan paradigma yang seketika (paradigm switch) tidak pernah sempurna seperti diartikan oleh definisinya; bahwa pardigma-paradigma saingan sesungguhnya tidak bisa mengisi pandangan-pandangan alternatif tentang dunia; dan bahwa ketidak-sinambungan dalam tingkat teoritis pada sains menyembunyikan suatu kesinambungan yang terjadi pada tingkat metodelogi yang lebih mendalam (hal. 105f).
Hans Kung meyakini bahwa dalam memahami teologi harus dihindari pilihan antara kemutlakan dengan relativisme, kesinambungan yang radikal dengan ketidak-sinambungan yang radikal, karena setiap perubahan paradigma menunjukkan adanya kedua sisi pada saat bersamaan baik itu kesinambungan dan ketidak-sinambungan, rasionalitas dan ketidak-rasionalitas, kemapanan konseptual dan perubahan konseptual, unsur evolusi dan unsur revolusi. Jika seseorang tidak mau berbicara tentang perubahan ‘revolusioner’, orang tersebut bisa berbicara tentang perubahan yang drastis (tidak hanya yang bertahap) dan perubahan ‘paradigmatik’ (tidak hanya yang konseptual), yang tentu saja mencakup perubahan-perubahan secara bertahap dan konseptual.
Di teologi (dan dalam sains sejarah) lebih banyak daripada di dalam sains alam yang tidak-sejarah, penyebutan bapak-bapak dan tokoh-tokoh berjasa dalam bidang mereka di bagian pendahuluan dan isi, menunjukkan adanya daur ulang tradisi sebagai perumusan baru suatu tradisi yang dilihat dari pencerahan paradigma baru. Karena itu, model-model pemahaman baru, walaupun jarang memiliki semua kemampuan yang dimiliki model pemahaman yang lama, biasanya harus mempertahankan bagian konkrit utama dari suatu pencapaian di masa lalu, dan juga memberikan peluang untuk pemecahan-pemecahan permasalahan konkrit tambahan (Kuhn, hal. 169).
Persoalan kesinambungan di teologi berkaitan dengan hal yang lebih mendalam, yaitu mengenai kebenaran (Kuhn, hal. 170), mengenai kebenaran tentang kehidupan atau dengan masalah-masalah kehidupan menurut Wittgenstein. Hal ini menyebabkan para teolog tidak hanya harus mendapatkan pengakuan dari para ahli namun juga penerimaan oleh khayalak luas, lebih daripada para ilmuwan sains (hal. 164). Teologi menyangkut pertanyaan-pertanyaan penting tentang manusia dan dunia, seperti: makna tertinggi dan asal-usulnya, standar, nilai-nilai, dan norma-norma, dan juga mengenai realita tertinggi dan asal-usulnya yang berkaitan dengan kepercayaan untuk meyakini yang bisa diterima oleh akal. Tanggung jawab untuk menangani hal-hal ini terletak pada teologi sebagai sains, teologi sebagai eksposisi rasional atau pemahaman akan Tuhan (Agustinus, De civitate Dei, III, 1: de divinitate ration sive sermo) di mana tanggung jawab ini harus dipraktekkan selaras dengan metodenya. Seperti halnya pertanyaan tentang alam, kejiwaan dan masyarakat, hukum, politik, sejarah, estetika, maka pertanyaan tentang moralitas dan agama harus diperlakukan selaras dengan metode dan gayanya sendiri yang sesuai dengan objeknya. Apakah implikasinya?

5. Perbedaan antara sains alam dan teologi

Ciri khas teologi Kristen sebagai sains dengan pra-anggapan (presupposition) dan objek yaitu pesan Kristiani, yang bersumber pada Alkitab, yang telah diteruskan berabad-abad oleh masyarakat gereja, dan sebagaimana diproklamirkan hari ini. Karakter sains ini menunjukkan bahwa teologi Kristen pada dasarnya dicirikan oleh sejarah.
Dalam teologi Kristen, pertanyaannya adalah tentang kebenaran sejarah yang dibedakan dari: (1) teologi-teologi mitologis tidak-sejarah berupa dongeng-dongeng, kesaksian-kesaksian dewa
dewa yang dijadikan mitos oleh penyair-penyair dan pendeta-pendeta kultus (Plato
menggunakan istilah teologi pertama kali dalam konteks ini sekaligus juga mengkritisi
penggunaan istilah teologi dalam konteks ini)
(2) teologi-teologi supra-historis filosofis yaitu doktrin-doktrin tentang Tuhan yang dibuat oleh
filsuf-filsuf.

Teologi Kristen diputuskan sebagai uraian yang rasional mengenai kebenaran-kebenaran dalam iman Kristen, yaitu iman yang terkait dengan hakekat Yesus Kristus – Tuhan – manusia. Yesus Kristus bukanlah mitos tidak-sejarah, ataupun gagasan, doktrin atau ideologi supra-sejarah, namun ia adalah Yesus dari Nazaret, yang adalah Kristus Tuhan menurut tulisan-tulisan kitab Perjanjian Baru, menjadi acuan untuk umat serta Gereja-gereja sepanjang masa, dan acuan bagi teologi Kristen.
Hans Kung menegaskan kesahihan teologi Kristen yang mengacu pada aspek-aspek di atas sebagai karya yang tidak mengabaikan aspek keilmiahan dengan menunjukkan bahwa para teolog dalam kesetiaan kritis tidak boleh menerjemahkan sejarah di luar aturan yang telah ditentukan. Untuk dapat tetap sebagai teolog Kristen, dalam kesetiaan kritisnya ia tidak boleh mempertimbangkan kesaksian iman di luar daripada sumber Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang telah diteruskan sepanjang waktu oleh masyarakat gereja dalam berbagai bentuk bahasa dan yang harus secara terus menerus diterjemahkan secara segar untuk orang-orang di masa sekarang.
Dalam pengertian ini, teologi Kristen, berbeda dari sains alam, tidak hanya terkait dengan masa kini dan masa yang akan datang, dan berbeda dari sains sejarah (sejarah sastra, seni, filosofi dunia) – tidak hanya terkait dengan tradisi, lebih daripada itu, teologi Kristen terkait secara penuh dan khusus terkait dengan asal usul. Untuk teologi, peristiwa-peristiwa primordial dalam sejarah bangsa Israel dan Yesus Kristus dan juga kesaksian-kesaksian primordial, naskah asli Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tidak saja merupakan sumber sejarah iman Kristen, tetapi juga merupakan titik tolak ke mana ia harus balik secara terus menerus.

Bagian II
Apa Arti Perubahan Paradigma?
Oleh: Hans Kung

Permasalahan teologi pada abad ini adalah adanya berbagai persaingan dan pertentangan konflik yang tidak saja disebabkan oleh perbedaan teologi tapi juga oleh perbedaan paradigma-paradigma. Konflik ini merupakan akibat dari pola-pola penafsiran daripada para teolog dan perwakilan gereja-gereja sepanjang sejarah tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu teori paradigma Kuhn diharapkan bisa memberikan pencerahan dengan memberikan analisa terhadap paradigma-paradigma besar yang berbeda ini, yang bisa saling tumpang tindih dan saling berebut untuk mendominasi, yang ada pada periode yang sama. Karena itu tujuan pembahasan ini bukanlah untuk mengembangkan satu paradigma tunggal teologi dan gereja yang kaku dan seragam, karena kenyataan yang ada bahwa ada beragam variasi dalam lingkup teologi. Pada masa sekarang, seperti halnya di masa lalu, paradigma teologi dan gereja memiliki pluralitas dari berbagai pandangan sekolah-sekolah, tren-tren intelektual, yang merupakan ungkapan kreativitas dan kehidupan tapi juga jadi sumber konflik dan pertentangan. Dengan melihat keragaman, perbedaan yang ada dalam ruang lingkup teologi, kita harus mengarahkan pemikiran pada masalah-masalah yang mendalam dan mendasar supaya bisa mengatasi teologi-teologi yang berbeda untuk mendapatkan titik temu.
Hans Kung mempergunakan pemikiran-pemikiran dasar model paradigma Kuhn dalam perkembangan sejarah sains alam ke lingkup teologi sebagai alat bantu untuk melihat kondisi dan situasi dalam teologi masa kini. Ia memperiodisasi perubahan paradigma dalam teologi dan gereja berdasarkan sejarahnya.
Dari definisi ‘paradigma’ Thomas Kuhn: ‘Suatu paradigma bukanlah suatu teori atau gagasan yang memimpin (leading ideas), tetapi merupakan suatu perangkat keseluruhan daripada keyakinan-keyakinan, nilai-nilai,tehnik-tenik dan sebagainya yang dianut bersama oleh anggota-anggota daripada suatu masyarakat tertentu’, dapat ditarik kesimpulan bahwa paradigma bukanlah suatu teori atau gagasan. Dan bahwa beberapa teologi dimungkinkan di dalam suatu paradigma tunggal. Definisi paradigma inilah yang dipakai sebagai kerangka hipotesa. Penggantian daripada model penafsiran yang lama dengan suatu calon paradigma baru ini disebut dengan ‘perubahan paradigma’
Hans Kung memberi nama paradigma untuk model-model pemahaman teologi dan gereja yang utama dan menyeluruh. Model-model yang dibentuk saat adanya gejolak-gejolak mendasar yang berskala besar dengan dampak yang sangat luas, yang menandai mulainya suatu jaman baru, dinamai paradigma-makro yang meliputi serangkaian paradigma-meso dalam bidang teologi yang berbeda (misalnya dalam Kristologi ada doktrin tentang dua sifat alami, dalam soteriologi ada doktrin kepuasan Anselmian) serta banyak paradigma-mikro untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan teologi-teologi.
Dari usaha memperiodisasi sejarah, Hans Kung memngemukakan beberapa contoh perubahan paradigma yang telah terjadi dalam sejarah teologi Kristen. Meskipun para teolog seperti Ireneaus, Clement dan Origen, Tertullian dan Cyprian, Athanasius dan Cappadocian berbeda dalam pendekatan, pemecahan persoalan serta kesimpulan teologisnya, namun mereka dipersatukan oleh ‘suatu perangkat keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, tehnik-tehnik dsb, yang diyakini bersama oleh anggota-anggota masyarakat teolog dan gereja, di mana perangkat ini sesuai dengan konteks pergumulan pada jaman mereka, yang berbeda dari perangkat apokaliptik-eskatologis gereja mula-mula yang terdiri dari masyarakat Kristen Yahudi. Contoh lainnya adalah Anselm dan Abelard, Aquinas dan Bonaventure, Scotus dan Ockham, yang memiliki model penafsiran yang merefleksikan pergumulan teologi pada jaman abad pertengahan, yang berbeda dengan model penafsiran apokaliptik-eskatologis Gereja mula-mula, tetapi juga berbeda dari model penafsiran Yunani dan bapak-bapak Latin mula-mula. Demikian juga Luther, Zwingli dan Calvin, meskipun saling bertentangan satu sama lain, namun mereka dipersatukan oleh pertentangan mereka terhadap model penafsiran teologis Gereja Roma Katolik pada abad pertengahan. Dan meskipun pada permulaan jaman modern teologi terpecah ke dalam beberapa sekolah-sekolah yang berbeda, di bawah pengaruh rasionalis baru dan filosofi empiris dan sains, namun Semler, Reimarus, Schleiermacher seperti halnya dengan Baur, Ritschi, Harnack dan Troeltsch bahwa teologi pada jaman mereka tidak bisa disamakan dengan teologi jaman Reformasi ataupun jaman ortodoksi Protestan.
Hans Kung juga mengamati bahwa baik dalam kesinambungan maupun ketidak-sinambungan, apa yang mula-mula adalah inovasi kemudian berubah menjadi tradisi. Dalam situasi tertentu proses perubahan yang sangat bersejarah bisa diabaikan dan tradisi dirubah menjadi tradisionalisme dimana masyarakat mempertahankan model penafsiran yang telah mereka kenali dengan sangat baik dengan mencoba memperbaikinya dengan menambal bagian-bagian yang tidak layak. Misalnya dalam kerangka kerja Ortodoksi Yunani atau Rusia ada yang menjadi pembela model bapak-bapak hellenistik, yang ditunjukkan oleh kata-kata kuncinya paradosis, traditio dan patres. Dalam Katolik ada neo-skolastik yang mendukung sistim Roma Katolik pada abad pertengahan dan teologi Denzinger, yang ditunjukkan oleh kata-kata kuncinya ecclessia, papa dan magisterium. Dalam Protestan ada pendukung alkitabiah Lutheran atau ortodoksi Calvin dan fundamentalisme Protestan, kata kuncinya adalah Firman Tuhan dan tanpa kesalahan. Dan jaman sekarang ada tradisionalisme liberal yang menolak perubahan ke paska-Pencerahan dan situasi paska-modern, kata kuncinya adalah rasio dan sejarah.
Hans Kung menegaskan bahwa pembahasan ini tidak bertujuan untuk mengkampanyekan suatu keyakinan optimis yang naif tentang perkembangan (yang dilandasi oleh idealisme atau Marxisme, positivisme atau sosialisme Darwinisme) ataupun bertujuan untuk membedah teori penurunan yang pesimistik dan apostasy (menjauh dari Injil), melainkan untuk membuat penafsiran dialektis tentang sejarah teologi dan gereja, yang ditandai dengan kebangkitan dan kejatuhan; kemajuan pengetahuan dan pandangan, dan melupakan; kesinambungan dan ketidak-sinambungan, serta juga melibatkan usaha membanding-bandingkan, menegaskan untuk konservasi, dan transendensi yang berkelanjutan.
Hans Kung mencoba menggunakan landasan kerangka teori serta pengamatan Kuhn akan sejarah dan teori sains ke dalam lingkup kemanusiaan, khususnya dalam teologi, yang diharapkan akan dapat membantu memberikan pencerahan dalam merefleksi situasi dan kondisi teologi kontemporer saat ini yaitu persaingan-persaingan atau konflik-konflik antara teologi-teologi dan paradigma-paradigma yang berbeda. Menurut Hans Kung konflik ini disebabkan karena pola penafsiran yang dikerjakan oleh para teolog dan wakil-wakil gereja tidak terjadi pada waktu sejarah yang bersamaan, dimana terjadi tumpang tindih antara beberapa paradigma-paradigma besar yang berbeda-beda dalam satu periode yang sama. Pencerahan dari teori paradigma Kuhn diharapkan akan dapat membantu teologi kontemporer untuk melihat asal-usul serta masa depannya, dan dengan demikian dapat memberikan keadilan sejarah kepada paradigma-paradigma sesuai dengan jamannya. Oleh karena paradigma-paradigma ini bertumbuh matang secara lamban, mengakar secara mendalam, serta memiliki asumsi-asumsi dasar berpengaruh yang disadari maupun tidak disadari, hal ini mengakibatkan konflik-konflik antara pihak progresif dan konservatif di gereja-gereja yang berbeda-beda seringkali jadi sangat keras dan tidak dapat dipertemukan.
Hans Kung juga menganalisa bahwa dalam abad ini setelah dua perang dunia telah berkembang pendekatan-pendekatan teologi baru di teologi dan gereja yang merupakan usaha-usaha untuk menanggapi pergumulan-pergumulan sosial dan budaya sesuai dengan jaman ini. Meskipun cendekiawan seperti Barth, Bultmann dan Tillich, Niebuhr dan Rauschenbusch berbeda dalam pendekatan, metodelogi dan kesimpulan-kesimpulannya, namun mereka dipersatukan tidak hanya dalam kritik mereka terhadap sistem Katolik Romawi dan ortodoksi Protestan, tetapi juga dalam sensor mereka terhadap pemahaman akan rasio dan progres yang dilandasi Pencerahan, serta dalam penolakan mereka terhadap Protestanisme budaya dan sejarah. Secara singkat, mereka sepakat menolak liberalisme abad ke 19, dengan demikian mereka bersatu dalam menegaskan suatu ‘perangkat keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, cara-cara dsb, yang dianut secara bersama oleh suatu masyarakat khusus’. Oleh sebab itu teolog-teolog besar ini dapat dimasukkan dalam kerangka kerja paradigma teologi dan gereja yang baru, yakni paradigma modern, paska-Pencerahan atau paska-Modern.
Hans Kung menantang para teolog masa kini yang berasal dari latar belakang teologi yang berbeda-beda untuk membuat model penafsiran teologi dan gereja yang sesuai dengan pergumulan teologis jaman ini. Sebagaimana halnya teolog-teolog Ortodoksi timur dan Protestan barat berpikir oikumenis, teolog-teolog Katolik berpikir sesuai dengan Konsili Vatikan ke 2, yang sepertinya dipaksakan dalam semangat ekumenis modern untuk menerima dua perubahan paradigma Protestan pada saat bersamaan, yaitu: Reformasi dan Pencerahan.
Hans Kung melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk bahan diskusi sebagai berikut:
- Apa yang mempersatukan murid-murid dari berbagai guru-guru yang berbeda, semua yang pada akhirnya dapat dikelompokkan dalam satu paradigma?
- Apa, yang meskipun adanya perbedaan-perbedaan, mempersatukan semua wakil-wakil dari teologi-teologi yang dialektikal dan eksistensial, teologi hermenetik dan politis, teologi proses dan feminis, teologi pembebasan orang kulit hitam dan bukan barat?
- Apakah yang merupakan kondisi-kondisi – kondisi yang sama bagi kita semua – yang memungkinkan kita berteologi pada masa kini, yaitu kondisi-kondisi yang di bawah permukaan dari semua teologi-teologi yang bertentangan, mempersatukan teologi paska-Pencerahan dalam oikumene?
Hans Kung menegaskan bahwa pembahasan ini tidak bertujuan untuk menghasilkan kesepakatan mengenai doktrin ataupun dogma tertentu, melainkan untuk menghasilkan kesepakatan mengenai pemahaman teologi teoritis dan praktis yang sesuai untuk masa kini. Tujuannya bukan untuk membuat kanonisasi yang kaku tentang kebenaran-kebenaran yang tidak bisa dirubah, melainkan kanonisasi berdasarkan perubahan-perubahan dalam sejarah yang disebabkan kondisi-kondisi fundamental, yang diperlukan untuk membuat teologi kontemporer yang selaras dengan konteks waktu dan Injil.
Dalam penutupannya, Hans Kung menantang para teolog untuk menganalisa tren-tren teologi dari seluruh dunia, dari berbagai budaya dan pusat-pusat teologi, untuk diarahkan ke masa depan yang lebih cerah.

Periodisasi Hans Kung: (dalam bentuk file *.pdf)

TANGGAPAN

Tanggapan sehubungan dengan kuliah Filsafat Ilmu Sosial dan Teologia
Ada beberapa pokok pikiran penting dari uraian Hans Kung di atas:
1. Ilmu pengetahuan alam (sains alam) dengan ilmu sosial, khususnya teologi, dapat saling melengkapi untuk memberikan perspektif (pencerahan) baru dalam menganalisa permasalahan-permasalahan di masing-masing ilmu. Perkembangan Filsafat Ilmu dalam rangka memahami kebenaran telah mengalami perubahan secara epistemologi dari penekanan pada analisa abstrak, positivisme logis, rasio-kritis, linguistik yang terutama digunakan dalam disiplin ilmu sains alam yang eksak untuk juga menggunakan historis-hermeunetik (sejarah) dan faktor subyektivitas manusia yang banyak dipergunakan dalam displin ilmu sosial kemanusiaan, khususnya di teologi. Di pihak lain, perkembangan penemuan-penemuan sains alam juga telah mempengaruhi perkembangan di teologi, dalam memaknai kebenaran.
2. Perkembangan teologi dalam sejarah dilihat sebagai perubahan paradigma-paradigma yang meliputi paradigma dalam skala makro, meso dan mikro, di mana paradigma/model pemahaman baru menggantikan paradigma/model pemahaman yang ada, didahului oleh adanya pra-kondisi situasi kritis dalam konteks zaman itu yang tidak mampu dipenuhi secara memuaskan oleh paradigma/model pemahaman yang ada (situasi seperti anomali dalam sains alam). Dengan kata lain, gagasan-gagasan teologi baru pada hakekatnya muncul untuk memenuhi suatu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh teologi yang ada secara memadai dalam konteks situasi kontemporer zaman itu, yang ruang lingkup pengaruhnya dibedakan atas pengaruh yang besar, (makro), sedang (meso) dan kecil (mikro). Pengertian ini diharapkan dapat membantu para teolog dan gereja untuk melihat permasalahan pertentangan-pertentangan teologis (baik teologi klasik yang masih relevan maupun gagasan teologi baru) pada masa kini dengan lebih jernih (tanpa emosi yang berlebihan), yang pada akhirnya akan membantu upaya-upaya ekumenis serta pengelompokkan dan pengembangan teologi kontemporer yang selaras dengan kebutuhan pada konteks masa kini.
3. Setiap paradigma/model pemahaman teologi baru harus melalui suatu proses penerimaan sebelum akhirnya dapat diterima oleh masyarakat teologi dan gereja. Hal ini diharapkan akan membantu penggagas teologi baru dalam menghadapi tentangan-tentangan sehubungan dengan gagasannya serta pihak penerima gagasan untuk bersikap lebih bijak dalam menyikapi gagasan-gagasan baru.
4. Terakhir, seperti ditunjukkan oleh sejarah, usaha manusia untuk mencari pemahaman akan kebenaran tidak pernah berakhir, terjadi terus menerus sepanjang sejarah kemanusiaan. Kebenaran yang dimiliki tidak pernah mutlak, namun terus menerus diperbaharui sejalan dengan tantangan pergumulan serta tingkat pengetahuan yang dimiliki yang merupakan akumulasi dari pengetahuan-pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Mengingatkan kepada kita untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap pandangan-pandangan baru serta menyikapi perbedaan-perbedaan dalam cara memandang kebenaran dengan lebih bijak.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress