O Tuhan Segala Tarian Cinta …
(Kristologi relasional berbasis budaya)
oleh: Raharjo Widhipangreksa
Pencipta segala keindahan dan kebaikan,
semoga aku mencintai dan memuliakan-Mu sepanjang masa.
Semoga aku memantulkan rahmat ilahi-Mu dalam tubuh ini.
O Tuhan segala tarian cinta,
bolehkah aku mengikuti iramaMu dalam langkah-langkahku?
(Saju George, SJ)
Saju George adalah seorang Yesuit India yang menjadi seniman, penari profesional. Ia meraih gelar doktor dengan desertasi berjudul “The Religious Fondations of Indian Dance” di Universitas Madras India, di bawah bimbingan Anand Amaladas, SJ. Ia terinspirasi surat Paulus kepada jemaat Korintus: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus…karena itu muliakanlah Allah dengan Tubuhmu” (1 Korintus 6:19-20)
Pendahuluan
Seni kadang kala dinilai sekedar merupakan hiburan yang hanya memuaskan kehausan indera manusia. Namun seni dapat dijadikan sarana penghayatan kehidupan rohani. Sebuah karya seni yang indah dapat menyampaikan pesan yang menggugah dalam nuansa rasa agar suatu pesan dapat diterima dengan baik. Di dalam kehidupan iman Kristen sering kita jumpai ketegangan dengan berbagai argumentasi tentang dogma iman yang benar yang ingin memastikan konsep cara penghayatan iman yang benar. Tidak jarang perdebatan tentang dogma memunculkan perselisihan atau bahkan perseteruan baik sesama orang Kristen maupun saudara yang beragama lain. Sedangkan yang diinginkan oleh Allah bukanlah pengetahuan yang mutlak tentang kebenaran konsep beriman, namun bagaimana menjalani kehidupan secara indah dalam kasih-Nya melalui perantaraan Yesus dan Roh Kudus. Kehidupan orang Kristen seharusnya adalah hidup yang menampilkan keindahan yang memuliakan Allah. Mewartakan iman akan kasih Allah bersama apapun yang berada disekeliling kita.
Demikian juga seni dan budaya yang juga membentuk kita dapat diberdayakan sebagai alternatif untuk memahami iman di dalam Yesus. Tarian (dalam konteks Jawa) diambil sebagai sample seni budaya yang dicoba pencarian maknanya untuk mengungkapkan iman Kristen. Bagaimana nuansa rasa dalam tarian sebagai sarana menghayati kehidupan rohani mungkin diwujudkan? Bagaimana ungkapan iman yang sudah ada ini dilengkapi atau didampingi dengan sebuah alternatif ungkapan iman melalui tarian (non-preposisional )?
Bahasa dogma ke bahasa alkitab.
Ajaran iman Kristen melalui Kristus (Trinitaris) berakar pada pergumulan historis dengan penghayatan, dan pengalaman oleh gereja mula-mula. Namun kemudian penalaran dan pemikiran semakin berkembang sehingga muncul berbagai kesulitan yang sedikitnya menyita waktu lima abad kontroversi penalaran iman Kristen. Maka menyusullah banyak kajian teologis misteri trinitas yang cenderung spekulatif yang menjadi ajaran baku (dogma). Padahal iman Kristen yang trinitaris hidup dalam sebuah “pengalaman relasi” dengan Allah melalui Kristus dan bukan hanya cukup dengan sekedar sebuah doktrin yang rasional.
Pengalaman dan pemahaman iman trinitaris yang ada dalam peristiwa Yesus menyiratkan kebebasan pribadi tetapi sekaligus relasi yang dinamis. Sehingga sesungguhnya beriman kepada Kristus berarti hidup dalam teladan Yesus yang merdeka dan mampu berelasi dengan Allah tanpa adanya keterkekangan. Jadi umat Kristen yang mengamini sang Kristus akan hidup dalam iman yang berelasi dengan Allah sebagai Bapa melalui Yesus, dan Roh Kudus ada menyertai kehidupan mereka sebagai orang percaya. Para pujangga dari Kapadokia menegaskan bahwa Allah (Bapa) menyatakan segala sabda-Nya lewat Roh Kudus dalam suatu relasi “persekutuan yang sempurna” di dalam iman kepada Kristus. Dengan demikian trinitas hanya bisa dipahami sebagai struktur relasi timbal-balik antara cinta dan kebenaran. Jadi perumusan mengenai pemahaman iman Kristen secara sistematis akan menjadi kurang menyentuh, jika tidak mengalami “relasi persekutuan trinitaris” iman dalam Kristus.
Dalam kehidupan beriman jemaat gereja Protestan, dengan “sola scriptura-nya”, terasa kecenderungan untuk mendasarkan imannya (juga dalam ibadahnya) pada firman Tuhan (kotbah), melalui pernyataan-pernyataan firman yang mengisi dan meneguhkan kebutuhan spiritualitas mereka. Secara pribadi saya masih banyak terpengaruh pola pada posisi ini. Namun penekanan pada rumusan kata-kata, kadang kala cenderung mengukuhkan kalimat itu sebagai sesuatu yang baku, dan membangun sebuah dogma. Sola scriptura, “hanya oleh firman” telah mendasari sistem pengajaran iman Kristen dalam kerangka tradisi dogmatik.
Dogma iman Kristen lahir karena dirasakan kebutuhannya untuk memperjelas dan mempertahankan tradisi iman Kristen dalam konteksnya (baca=tradisi Barat). Namun bahasa di dalam dogma bukan persis sama adalah bahasa dalam alkitab. Dengan memperhatikan bahwa konteks tidaklah sama, pada saat yang lain dan pada tempat lain, maka sumber ajaran Kristen yaitu alkitab tidaklah harus dikekang oleh dogma yang ada (bukan berarti rumusan-rumusan dogma yang ada harus ditentang dan di hapus, karena rumusan itu produk sejarah yang tetap masih berguna bagi kita sekarang).
Jika pengajaran iman Kristen dalam kehidupan jemaat (gereja) melalui katekisasi dipenuhi dengan dogma maka akan terasa menjadi kering, bagaikan batang kering (tanpa kambium) yang ditanamkan di tanah tidak akan pernah berumbuh namun lapuk oleh waktu. Sehingga pengajaran iman Kristen yang relasional hendaknya tidak dalam kurungan dogma (dimensi logis yang kering), namun diupayakan agar dapat dikembalikan dari bahasa dogma kepada bahasa alkitab yang membuka kemungkinan “sapaan lain” yang segar dari Allah kepada manusia. Pembinaan iman Kristen tidak harus sesuai dengan dogma yang dibakukan dalam liturgi, atau peribadatan. Perlu juga dicermati juga bahwa pola-pola dogma ini melandasi paradigma iman jemaat secara kaku yang secara tidak sadar tertanam melalui kebiasaan liturgi yang baku. Katekisasi mengajarkan kasih Allah melalui Yesus tidak harus disampaikan dalam kerangka sistematis dogma namun secara hidup digambarkan dalam sebuah cerita yang mungkin dapat berdialog dengan cerita yang “akrab” dari akar budaya setempat (budaya kita).
Saat kita berhadapan dengan teks alkitab, sebelum benar-benar memahami ceritanya, seringkali tanpa sadar ajaran yang ada sudah membatasi cara kita membacanya dengan kacamata dogma. Sehingga apa yang kita baca hanya sekedar mengingatkan ajaran apa yang sudah kita terima sebelumnya, dan menutup kemungkian mengalami perjumpaan “baru” dengan yang ilahi. Memang dimensi penalaran logis yang dibantu dengan kerangka berpikir (baca=dogma) dapat membantu pemahaman iman, namun jangan sampai kita terkurung oleh dogma, kita juga dapat mulai bereksplorasi dan membuka dimensi perasaan kita yang terbebasas dari dogma.
Iman Kristiani juga relasional antara teks dan konteks
Umat Kristen melandaskan imannya terutama pada sumber pencarian kebenaran yaitu firman Tuhan dalam alkitab (teks). Kisah-kisah dalam alkitab khususnya Perjanjian Baru adalah kesaksian para Rasul yang menjadi sumber kajian bagi orang Kristen untuk membangun imannya. Kisah dalam Perjanjian Baru bertujuan memperkenalkan Yesus dari Nasaret sebagai Kristus (Mesias) dan bahwa melalui Yesus manusia dapat mengenal Allah. Namun kisah Yesus sang Mesias itu hidup dalam situasi yang konkret dan terbatas dalam konteksnya. Firman itu telah menjadi manusia dalam seluruh hidup dan karya Yesus, maka iman Kristen yang adalah iman terhadap firman yang hidup itu juga harus hidup nyata dalam kehidupan kita. Itu berarti selayaknya iman itu akan hidup dan bertumbuh dalam konteks kehidupan kita.
Kalimat yang khas dari Yesus adalah ” Kamu telah mendengar firman:…, Tetapi Aku berkata kepadamu:…” (Matius 5 :27-28 ; 38-39). Dari kalimat itu kita belajar bahwa kita tidak cukup hanya tahu (telah mendengar firman) namun perlu penghayatan akan firman, itu berarti secara pribadi perlu mengaktualisasikan diri (Tetapi Aku berkata kepadamu..). Yesus selalu menanggapi firman sesuai dengan konteksnya. Sehingga Yesus memang sering menghardik para “cendikiawan” ahli taurat dan orang farisi yang tahu banyak tentang firman Allah, namun gagal menghayatinya dan mengaplikasikannya dengan benar. Apa yang mereka pikirkan dan lakukan telah dibelenggu aturan (legalistis) dan bukan tanggapan yang Allah inginkan yang muncul dari pergumulan iman pribadinya yang benar.
Pengenalan akan Allah melalui Yesus Kristus, dalam relasi kasih sebagai “aksi” Allah itu tentu membutuhkan tanggapan dari manusia oleh Roh Kudus. Tanggapan (respond) manusia dalam imannya ini bukan hanya berarti sekedar “reaksi” menyesuaikan secara harafiah apa yang tertulis dalam alkitab, namun tanggapan ini juga sebuah “kreasi” untuk mengekspresikan keindahan kasih itu (seni) dalam situasi yang konkret terbatas dalam konteks hidup kita. Konteks budaya yang kita hadapi sehari-hari dapat menjadi sarana pengungkapan relasi kita kepada Allah yang bernilai “estetis”.
Melihat teks alkitab sebagai karya seni yang mengajak berkarya seni
Para penulis alkitab menyampaikan kehendak Allah kepada para pembacanya tentu bukan asal-asalan, atau sama saja dengan berbicara / bercakap-cakap. Pesan itu perlu ditulis sedemikian rupa agar dapat dipahami dengan baik oleh pembacanya. Saya memahami bahwa, para penulis alkitab menyampaikan pesan dari Allah (baca=firman) kepada pembacanya dengan juga melibatkan rasa kemudian diolahnya, jadi tulisannya itu sebenarnya tidak di luar lingkup seni (sastra) .
Memahami alkitab sebagai karya seni mungkin terasa memudarkan wibawa ayat-ayat alkitab sebagai firman Allah yang berkuasa. Memang ada kekuatiran dari orang-orang Kristen seperti itu (mungkin saya termasuk di dalamnya). Kekuatiran yang ada itu bukanlah hal yang salah, memang itu membuat kita waspada akan kemungkinan perekayasaan yang tidak membagun iman (baca=merusak), namun kekuatiran bukanlah alasan untuk mundur dan tidak mencoba.
Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan olah rasa yang tinggi (bahkan manusia diciptakan dalam citra Allah). Sehingga manusia dapat peka merasakan perubahan / dinamika yang bermakna. Makna adalah suatu pesan yang telah dimengerti manusia. Jika demikian, apakah saat Allah menyampaikan pesan pada manusia, maka pesan itu selalu berarti “firman” (tulisan / kata-kata) atau ajaran? Bukankah Allah juga dapat berpesan melalui seni pada manusia? Demikian juga, manusia dapat juga menanggapi pesan Allah melalui seni?
Seniman, seni mengungkap iman
Usaha untuk memahami Allah dan berelasi denganNya membutuhkan media yang efektif. Dalam tulisan ini akan dicoba suatu alternatif pendekatan pemahaman iman yang tidak dogmatis. Sebuah explorasi pencarian alternatif media penghantar untuk memahami dan merasakan kehadiran sang ilahi (Allah Bapa), melalui dialog dengan akar seni-budaya setempat (tempat kita sekarang). Seni pada mulanya merupakan upaya manusia menjawab kebutuhan rohaninya, yang menghibur dan terkait dengan soal religi yang juga memungkinkan untuk membentuk kepribadian. Bukankah seniman adalah teolog yang mula-mula? Dalam peradaban manusia yang masih sangat awal, senimanlah yang membentuk sebuah ekspresi hubungan dengan yang ilahi. Relasi tersebut diekspresikan bukan dengan kata-kata komunikasi sehari-hari (kata-kata adalah cara berbicara biasa pada sesama manusia) tetapi dengan simbol-simbol yang menggambarkan kehadiran ilahi, Sang Maha Kuasa. Simbol-Simbol itu diwujudkan dalm ritual kreasi (baca=seni) manusia, sebagai ekspresi manusia kepada yang ilahi. Maka kiranya dimungkinkan juga sebuah pemahaman iman Kristen (berteologi) melalui seni saat ini.
Dalam tulisan ini akan dicoba, bagaimana pertumbuhan iman Kristen bukan hanya dibina dalam dimensi logika berpikir (dogma) namun iman juga diolah melalui dimensi rasa, yaitu melalui seni? Jika memang dalam diri manusia yang kodrati telah dimiliki sarana berekspresi kepada yang ilahi melalui nilai rasa yaitu seni, mengapa kita tidak mencoba berhubungan dengan yang ilahi melalui karya seni-budaya?
“Seniman”, seni mengungkap iman, suatu upaya memahami keilahian Yesus dengan media seni. Seni beriman merupakan sebuah ekspresi / ungkapan iman akan relasi yang indah “estetik” dengan yang ilahi. Sebuah karya seni yang dibaca banyak orang, mampu menggugah kesadaran seseorang. Seni musik dan suara memang sudah sangat akrab bagi kehidupan orang Kristen. Dalam hal ini walaupun bagi saya pribadi cukup sulit, namun saya sedang-bertanya-tanya dan mencoba mengeksplorasi ide ungkapan iman dengan seni tari “gerak”. Tentu masih memerlukan banyak sekali kritik bagi tulisan ini oleh karena saya bukanlah ahli seni, hanya saja kebetulan saya berinteraksi dengan para seniman tari jawa ada dalam hidup saya.
Nilai-nilai seni tari budaya Jawa dalam iman Kristiani
Memang tarian adalah gambar yang sangat terbatas, namun tarian dapat merupakan simbol yang membantu pemahaman dan perjumpaan dengan sang ilahi. Yesus juga terbatas dalam konteksnya, namun justru dengan keterbatasan itu, Yesus menjadi semakin konkret dan efektif memberikan dampak bagi kehidupan manusia. Memang di dalam injil, Yesus tidak diceritakan menari, namun Yesus memberikan gambaran tentang relasi manusia dengan yang ilahi dengan peragaan-Nya. Yesus tidak sekedar memberikan ajaran yang abstrak namun ia memperagakan apa yang dimaksudkannya. Tentu dalam konteks yang terbatas. Ia memberikan ajaran dengan gambaran apa yang dihadapiNya. Yesus mengambil anak kecil, memeluknya di depan murid-muridNya dan mengajarkan “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Markus 9:37)
Seperti halnya peragaan Yesus, tarian membawa suatu pesan pada para pemirsanya (atau mungkin diri sendiri sebagai tarian kontemplatif). Tarian akan lebih baik jika diperagakan dengan iringian musik yang juga mendukung pesan / makna yang akan disampaikan.
Dalam budaya Jawa ada landasan penghayatan dalam menari, yaitu tiga “w”, wiraga, wirasa, wirama .
1. Wiraga: Secara mendasar menari adalah persoalan raga, yang diolah agar bergerak lentur mengikuti tata tari. Wiraga meliputi kesesuaian gerak tubuh dengan maksud tarian (karakter) atau pesan tarian yang ditarikan dengan tempo yang tepat dan mengalir. Gerakannya bisa sigrak, lincah / semangat atau kalem / lemah lembut. Anggun atau brangasan.
2. Wirasa: Raga harus patuh pada rasa, tanpa perasaan maka gerakan itu sia-sia. Dalam khasanah budaya Jawa “ngrasakke” mempunyai makna sangat dalam, yaitu merasakan kehadiran diri manusia. Wirasa adalah penghayatan, lebih dari gerakan yaitu expresi penjiwaan. Wirasa merupakan integrasi irama dan gerakan yang terkulminasi dalam rasa atau expresi yang terlihat dalam mimik (ketulusan expresi). Secara menyeluruh sebuah taian dihayati melaui wirasa.
3. Wirama: Irama tidak sekedar melakukan sesuai dengan ketukan nada musik. Seorang penari mutlak harus bisa merasakan irama. Menari akan nikmat jika ada iringan musik, atau hitungan beat dari pemusik. Irama akan terasa indah jika mampu mendalaminya sebagai teman menari tetapi akan menjadi sangat tidak menarik jika gerakan tubuhnya tidak mampu menyesuiakan irama.
Jika wiraga, wirasa, wirama tidak selaras maka pesannya tidak sampai dengan baik, sehingga penonton kurang dapat menikmati tarian itu. Dalam analogi dengan kehidupan iman Kristen, maka demikian juga iman dalam relasi kasih yang indah dengan Allah tidak akan terungkap dengan baik dalam kehidupan kita jika wiraga, wirasa, wirama, tidak selaras. Iman dan perbuatan orang Kristen hendaknya selaras dengan irama kehidupan pergaulan dan dalam relasi yang harmonis dengan masyarakat.
Tarian dalam ibadah Kristen (diambil sample dalam budaya Jawa).
Di dalam kebaktian gereja Protestan biasanya yang ditunggu-tunggu adalah kotbah, karena di dalam kotbah Allah dipercaya hadir melalui firman dan penjelasannya. Suasana ibadah dipenuhi dengan kata-kata sebagai ungkapan iman kepada Allah. Relasi dengan Tuhan diwujudkan melalui pernyataan-pernyataan yang berpusat pada logika pikiran, nuansa rasa memang sudah disentuh dalam musik dan suara, namun syairnya-pun sering kali mengadung kalimat dogma yang tanpa sadar tertanam dalam liturgi ibadah. Bagaimana dengan nuansa rasa dalam gerak “tari” sebagai sarana menghayati kehidupan rohani? Rasanya nuansa raga kurang disentuh dalam ekspresi sebagai sebuah alternatif wujud ungkapan iman. Bagaimana ungkapan iman yang sudah ada (preposisional) ini dilengkapi atau didampingi (bukan ingin menggantikan) dengan sebuah alternatif ungkapan iman melalui tarian (non-preposisional)?
Apakah mungkin melalui tarian Kristus dihadirkan? Seperti halnya yang dinyatakan : “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18 :20). Menyebut nama adalah hal yang penting dalam budaya Semitik. Dengan menyebut nama artinya mengakui otoritas dan kehadiran Kristus. Itu juga berarti mengarahkan ekspresi dan perhatian pada Kristus sebagai ungkapan iman dan keyakinannya.
Bagaimana jika (tidak dalam tradisi Semitik) menyebut nama yang identik dengan mengungkapkan iman itu digantikan dengan menari yang bukan sekedar ritual tapi mengungkapkan pengakuan akan Yesus agar Yesus hadir. Di dalam tradisi Jawa, “guyub” sangat penting, lalu mungkinkah dapat dikontekstualisasikan pernyataan Yesus dalam Matius 18 :20 tadi menjadi “Sebab di mana dua atau tiga orang menari dalam suasana guyub sebagai pengakuan iman akan Aku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kehadiran Allah tentu bukanlah Allah secara langsung karena Dia Maha Mulia dan manusia tidak tahan terhadap kemulianNya. Namun melalui roh yaitu roh Yesus yang adalah karya kasih yang sempurna dalam wujud sebuah ke”guyub”an.
Menghadirkan Yesus bukan dengan menyebut nama (kata-kata) tetapi dengan melakukan laku ritual yaitu sebuah tarian. Dengan keserasian gerakan tertentu dalam rasa dan suasana guyub sebagai penyembahan, ungkapan iman untuk menghadirkan relasi yang istimewa dengan Allah melalui perantaraNya, Yesus di dalam Roh. Saya cukup optimis akan kemungkinan ini karena pada dasarnya kita telah mengimani Kristus, dan Kristen sudah menjadi identitas kita yang mungkin tidak harus pengakuan itu diungkap dengan kata-kata.
Seandainya ide ini berhasil menjadi alternatif, maka kemungkinan kreativitas yang ada yaitu:
1. Diciptakan tarian baru sebagai ungkapan iman yang menghadirkan Yesus.
2. Tarian yang sudah ada dalam budaya Jawa dikelola untuk ditarikan secara Kristen sebagai ungkapan iman menghadirkan Kristus dengan makna baru.
3. Tarian bisa menjadi bagian dalam liturgi yang bukan sekedar tontonan, tetapi bagian dari tata ibadah yang dilakukan secara sederhana namun rampak dilakukan bersama.
Memang kreativitas membutuhkan suatu keberanian untuk mencapai sesuatu dalam suatu pergumulan akan keterbatasan. Namun kreativitas ini dapat berarti ungkapan iman yang berbuah yang akan membawa pada kesadaran yang baru tentang hidup kita sehingga lahirlah visi / ide baru yang lebih tinggi dan seterusnya. Ada kecenderungan kreativitas menjadi “lemah” karena kekangan dogma. Namun dengan kretivitas (seni) dimungkinkan kesadaran baru akan Allah yang akan mengubah kualitas hubungan kita dengan diri sendiri, sesama dan segala sesuatu yang lain. Pertumbuhan iman yang benar tidak berada dalam kekangan namun kepekaan / kesadaran akan semua realitas .
Dalam hal kreativitas ini saya merasakan keraguan juga. Saya mengakui ketidak cocokan Yesus yang orang Yahudi dengan budaya Jawa. Memanggil Yesus agar Yesus hadir di tengah-tengah orang percaya yang menari dalam keguyuban tarian Jawa mungkin tidaklah sesuai dengan Yesus yang berbudaya Yahudi. Agaknya lebih sesuai jika menggunakan budaya yang dimiliki Yesus yaitu menyebut nama yang lebih mempunyai makna dalam tradisi Yahudi. Mungkin Yesus tidak terbiasa dengan cara memanggil Yesus dalam tarian guyub orang Jawa, namun paling sedikt mungkin Yesus tersenyum atau tertawa karena merasa janggal. Itu artinya sudah terjalin relasi yang hidup, Yesus telah hadir. Jadi mengundang kehadiran Yesus dengan tarian Jawa dapat menjadi alternatif dalam mengungkapkan iman Kristen. Namun tentu saja ide ini bukanlah sebuah teologi yang final, masih bayak memerlukan kritik atau koreksi.
Daftar Pustaka:
Bramasti, Danang
2006, Seni Memuliakan Allah, dalam majalah “ROHANI” bulan April 2006
Yogyakarta : Kanisius
Bonowiratma, JB
2007 Dari Bahasa Dogma ke Bahasa Alkitab, Bahan kuliah Kristologi program Magiter Divinitas
Boff, Leonardo
2004, Allah Persekutuan, Ajaran Tentang Allah Tritunggal, Maumere : Ledalero
Darmawan, Whani
2006, Mengolah Nurani dengan Seni dalam majalah “ROHANI” bulan April 2006 Yogyakarta : Kanisius
Jacob, Tom
2000, IMANUEL Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, Yogyakarta : Kanisius
Keating, Tomas
2006, Intim Bersama Allah, Yogyakarta : Kanisius.
TEOLOGI