“Khonghucu dan Taoisme”
Kelompok : Des Elniat, Martin Krisanto Nugroho, Oktavianus Sumule, Veronika Puspitasari (2004-2005)
Pendahuluan.
Studi mengenai suatu aliran dalam Tri Dharma yaitu Khonghucu dan Taoisme yang mengambil tempat di Klenteng jalan Poncowinatan – pusat kota Yogyakarta. Studi ini berusaha mengenal lebih dekat tentang pola berpikir atau pemahaman yang berlaku dan diwakili dalam bentuk wawancara pada pemuka Klenteng ini. Bangunan Klenteng di jalan Poncowinatan ini didirikan tahun 1881, perayaan hari jadi tahunan di Klenteng ini yaitu tanggal 24 Juni yang didapat dari perhitungan pen-tanggalan Imlek. Salah satu tokoh sebagai nara sumber studi kami ini adalah Bp. Chandra Gunawan. Beliau juga menandaskan bahwa tidak ingin pembicaraan yang menyinggung tentang agama lain.
Pola pikir yang dipakai sangatlah penting untuk diperhatikan agar tidak terjadi salah paham yang disebabkan perbedaan mendasar dari pola pikir penganut Konfusianisme dan Taoisme dengan agama lainnya. Adapun pola pikirnya adalah bagaimana berpikir dengan tidak dipengaruhi oleh berbagai paham atau pengertian akibat ilmu pengetahuan, pencatatan sejarah, juga buku-buku yang dianggap benar atau telah ditanamkan kepada kita dalam kerangka agama tertentu sejak kecil.
Karya tulis ini memakai pendekatan aktual dan ilmiah, jadi selain wawancara memang tetap mengacu pada buku-buku hasil usaha beberapa orang untuk menjelaskan beberapa hal yang terkait dalam konfusianisme dan Taoisme. Selain itu juga dijelaskan beberapa aktualisasi pengajaran kedua aliran tadi sehingga pembaca dapat lebih memahami dan tidak menimbulkan prasangka-prasangka yang keliru dalam usaha memperhatikan kebenaran yang terkandung didalamnya
I. Pemahaman Khong Hu Cu dan Taoisme di Klenteng Poncowinatan.
Tata Sujud
Dalam upacara penghormatan baik kepada “Orang Tua” dan kepada Dewa-Dewi, pada penganut dapat melakukannya sewaktu-waktu dan dilandasi oleh rasa kesadaran yang amatlah tinggi. Penghormatan dilakukan diutamakan pada orang tua yang melahirkan kita. Adalah suatu pertanyaan yang penting dan harus dihayati dalam pemahaman mendasar mengenai “mengapa kita menghormati orang tua kita?”. Sebagai jawaban atas pertanyaan ini adalah; kita semua akan menjadi tua dan peristiwa alam ini tidak mungkin lepas dari manusia kita dan atas kesadaran inilah kita dapat memproyeksikan diri secara umum bagaimana seandainya kita mempunyai anak yang tidak menghormati kita? Hal ini amatlah penting karena merefleksikan bagaimana penghormatan kita pada Tuhan Yang Maha Esa yang selanjutnya disebut “Thian”.
Bagaimana kita dapat menghormati Thian yang begitu transenden sehingga dapat dikatakan adakah kita tahu siapakah Thian? Apabila orang tua yang jelas siapa dan ada didepan mata kita tidaklah kita hormati? Penghormatan tentunya mengarah pada totaliter. Karena sebagai salah satu jalan menuju “Perdamaian” adalah melakukan penghayatan akan penghormatan tersebut.
“Sujud” dilakukan dengan menggenggam tangan kanan dengan tangan kiri sebagai simbol “Perdamaian” dan kedua ibu jari terletak diatasnya sebagai simbol penghormatan kepada orang tua. Pengertian orang tua dapat diperluas dengan memahami bahwa tiap keberadaan kita tidak terlepas dari nenek moyang kita. Jika orang tua kita tidak sayang kepada nenek dan kakek kita maka haruslah kita tidak terpengaruh olehnya bahkan tetap menghormati orang tua kita.
Sebelum melakukan penghormatan kita dapat mengawali dengan gerakan genggaman tangan tadi dimulai dari kening turun ke mulut dan terakhir di dada. Gerakan ini bertujuan agar kita disadarkan kembali apakah kita sudah sungguh-sungguh jujur kepada pikiran kita, jujur kepada apa yang kita bicarakan melalui kata-kata / ucapan kita dan jujur kepada apa yang kita rasakan. Jelas bagi kita agar sikap sujud ini melibatkan keduanya yaitu nalar dan perasaan saat kita bersujud memberikan penghormatan, sehingga dengan jujur terhadap diri sendiri sebelum sujud kepada Thian mengarahkan kita untuk dapat jujur pada orang lain.
1.2. Menyalakan Tiga Dupa
Dalam rangkaian penghormatan ini, kita memakai tiga buah dupa yang mempunyai arti; dupa pertama berarti “Berteduhkan Langit” bahwa kita benar-benar hidup dibawah langit yang begitu luas, dupa kedua berarti “Menghirup hawa alam semesta” dimana kehidupan dan nafas kita sangat bergantung kepadanya dan dupa ketiga berarti “Berinjakkan bumi”, dapat bersentuhan dengan tempat manusia berada. Pemaknaan ini adalah bagian dari penjelasan hakekat kemanusiaan manusia sehingga dimanapun kita berada kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan itu. Contoh: Bukankah kita akan berteduh bila ada hujan?, semua ini mengarahkan kepada pencapaian perdamaian.
1.3. Karma
Konteks dari kata-kata “karma” dapat diolah kedalam pembalikan suku kata menjadi “Ma – Kar” ketika hal ini dipertanyakan maka jawaban yang kita berikan adalah “Ya” sehingga ketika dirangkaikan menjadi “Makarya” yang artinya bekerja atau berkarya. Hal ini kental berkaitan dengan dengan kesungguhan, ketelitian, kesabaran dan segala hal etis yang baik dan saleh untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Tentulah “Makarya” ini akan berbalik kembali menjadi “Karma” yang diartikan sebagai hasil dari pekerjaan dan karya kita tadi.
Seseorang yang membetulkan sepatu maka ia akan menjadi tukang sepatu, orang yang berbohong maka ia akan menjadi tukang bohong. Karma sebagai hasil tuaian tidak akan menyimpang dari apa yang mengawalinya. Analogi sebab akibat atau keterkaitan satu sama lain merupakan suatu hal yang sangatlah wajar dapat dihayati kejadiannya. Berkaitan dengan hal tadi maka dipakailah simbol “Im – Yang”;
Yaitu dua unsur yang selalu menyeimbangkan seperti pada analogi antara dua hal yang terkait erat, seperti: Siang dan Malam, perbuatan dan akibat, Api dan asap, laki-laki dan perempuan.
Simbol Im-Yang ini juga dipakai ditengah simbol bangun segi delapan yang melambangkan delapan arah mata angin. Dimana arah mata angin ini berisikan segala hal yang berkaitan antara lain dengan waktu dan perhitungannya berkaitan dengan bagaimana seseorang sudah ditakdirkan atau berusaha untuk tetap kojnsisten pada unsur-unsur pembentuknya. Perhitungan ini biasa dipakai dalam hal “Hong Sui” yang dapat menghitung dari tanggal lahir seseorang yang terdapat pada delapan arah mata angin (Pat-Koa) mana untuk ditelusuri pada bidang apakah atau bagaimana orang ini dapat melakukan nafkah dengan amat berhasil.
1.4. Inkarnasi
Pemahaman mengenai inkarnasi dapat disaksikan pada kehidupan Bapak Chandra Gunawan dimana istrinya yang telah lama meninggal dunia ber-inkarnasi dalam diri cucunya. Bagaimana hal ini dapat dipastikan yaitu ketika ada tanda-tanda lahiriah yang sama, sifat-sifatnya, kesukaannya. Selain percaya tentang inkarnasi kita tetap diajak untuk melakukan penalaran terhadap segala konteks yang terjadi.
1.5. Surga dan Neraka
Mengerti kearah pemahaman akan neraka dimana karena kelakuan seseorang sebelum dan sampai pada kematiannya yang dapat mengakibatkan tidak mendapat tempat di surga sementara di dunia juga tidak dapat berada pada tubuh jasmaninya maka roh ini dalam kebingungannya dan tetap melakukan hal yang tidak baik seperti dulu ketika berada dengan tubuh jasmaninya dan apabila ia tidak sadar juga maka roh berkeliaran, bisa jadi berada dimanapun dan pada dirinya roh ini sangatlah tersiksa. Peristiwa inilah yang dipahami sebagai “Neraka”.
Apabila roh ini sadar atau seseorang yang selama hidupnya banyak melakukan kebaikan maka dimungkinkan rohnya ke surga atau juga bisa ber-inkarnasi kembali ke dalam dunia .
1.6. Adanya Tuhan Yang Maha Esa
Tuhan Yang Maha Esa (selanjutnya disebut Thian), tidak perlu dipertanyakan lagi keberadaannya, namun “Thian” tidak dapat didefinisikan atau dijelaskan dengan cara apapun. Manusia tidak tahu menahu tentang siapakah Tuhan? Walaupun demikian kehadiran Tuhan dalam hati dan perasaan tidaklah bisa hilang karena ketika hal yang secara wajar, nalar dan ada di dunia ini telah diusahakan dilakukan guna mengatasi suatu masalah, tibalah saatnya insan manusia tetap berdoa memohon kepada Thian. Apa yang terjadi setelah kita mengutarakan kepada Thian, maka Thian akan menolong secara nyata dapat dirasakan.
1.7. Upacara Pernikahan dan Kematian
Klenteng terbuka bagi calon pasangan suami-istri untuk melangsungkan penikahannya dengan mengucapkan janji setia satu sama lain sampai mati. Kata “terbuka” disini adalah tanpa aspek-aspek seperti: antar agama, antar budaya, bentuk budaya yang dipakai. Skala kemeriahan acara ditentukan sepenuhnya oleh pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, yang pasti tidak diperkenankan untuk melangsungkan resepsi pernikahan dilingkungan Klenteng. Mengenai kemeriahan dan skala besar kecilnya acara di Klenteng sepenuhnya ditentukan oleh keluarga dan pasangan yang akan menikah tersebut.
Pernikahan disini berarti juga tidak adanya perceraian. Selama masa bakti Bapak Chandra Gunawan belum pernah ada kasus perceraian yang terjadi, karena pasangan yang menikah akan terus bekerja keras didalam ikatan ini. Kalau saja terjadi perceraian yang akhirnya rujuk lagi, maka dalam hal ini pernikahan dan janji yang pernah dilakukan selanjutnya tetap berlaku (tidak ada pernikahan kedua kalinya).
Saksi utama pernikahan ini adalah orang tua sebagai pihak yang secara sah mengetahui pertanggunganjawab kedua orang yang akan menikah ini, jadi pihak Klenteng mengambil peranannya dalam hal pernyataan sumpah diantara pasangan yang akan menikah. Tentu saja pihak catatan sipil tetap menjadi bagian dari keterlibatan hukum didalam pernikahan yang telah dipaparkan sebelumnya .
II. Studi Literatur Pengajaran dan Keimanan dalam Konfusianisme.
Tuhan Yang Maha Esa
Kenyataan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mudah dimengerti, manusia serba terbatas tidaklah pantas untuk memperkirakan, lebih-lebih menetapkan. Kenyataan Tuhan yang halus itu tidak dapat kita sembunyikan dari iman kita, dan iman kepada Thian adalah hal yang terutama karena Thian-lah yang menjadikan semua kenyataan-kenyataan alam ini ada. Sang Maha Sempurna yang didalam kitab Yaking disebut dengan: “Tai Cai Khian Gwan, Ban But Cu Si” yang artinya adalah Maha Besar Tuhan yang menjadi mula berlaksa benda ini.
“Thian Yang Maha Tinggi dan Pendukung semuanya itu tiada bersuara dan tiada berbau. Demikianlah kesempurnaanya”, Nabi bersabda:”Kemuliaan yang tidak berkesudahan seperti matahari, bulan beredar dari timur ke barat dengan tiada berkesudahan, itulah karena Jalan Suci Thian; dengan tanpa berbuat semuanya jadi, itulah jalan suci Thian; kesempurnaan yang gilang gemilang itulah Jalan Suci Thian. Maka seorang yang berperi Cinta-kasih, ia tidak berbuat yang berkelebihan, seorang anak yang berbaktipun tidak berbuat yang berkelebihan. Maka seorang yang berperi Cinta-kasih itu didalam mengabdi kepada orangtua / sesama manusia, ia berbuat seolah mengabdi kepada Thian dan didalam mengabdi kepada Thian ia berbuat seperti kepada orang tua / sesama manusia. Maka seorang anak yang berbakti, ia dapat menyempurnakan diri”. (kitab Lee Ki XXVII:3)
Thian adalah yang Maha mengetahui, Thian mencintai rakyatnya, Thian menilik, membimbing dan menyertai kita didalam kebajikanNya. “Dalam belajar dari tempat yang rendah ini, terus maju menuju tinggi, Thianlah yang mengenal diriku” (Lun Gi XIV:35) dan semua hal diatas adalah bagaimana hendaknya iman kita kepada Thian Yang Maha Esa yang diajarkan oleh Nabi Khongcu.
Sebutan yang paling umum dari Tuhan YME adalah Thian dan Tee, sesungguhnya keduanya menunjukkan satu pengertian. Nabi Khongcu yang hidup pada jaman dinasti Ciu memakai istilah Thian untuk menyebut Tuhan YME didalam Kitab Suci Su Si, kecuali untuk kalimat-kalimat yang dipetik dari Kitab Suci yang lebih tua (Kitab Su King dan Si King) memakai istilah Tee atau Siang Tee. Bahkan ada tambahan seperti; Siang Thian (Maha Tinggi), Hoo Thian (Maha Besar/Meliputi), Chong Thian (Maha Luhur/Tinggi), Bien Thian (Maha Belaskasih / Pengasih), Hong Thian (Maha Kuasa) dan Siang Tee (Maha Tinggi) .
2.2. Keimanan, Membina Diri dan Kebajikan
Iman disebut dengan “Sing” asalnya terdiri dari rangkaian kata “Gan” (bicara/sabda/kalam) dan “Sing” (sempurna dalam hati, perkataan dan perbuatan). Iman adalah pangkal dari segenap wujud, tanpa iman suatu apapun tidak ada. Maka dasar-dasar keimanan inilah yang membimbing dalam mengabdi dan melaksanakan Firman Thian, maka dikenal delapan ajaran iman (Pat Sing Ci) yang disebut Pat Sing Ciam Kwi .
Didalam ajaran agama Khonghucu terdapat delaan ajaran iman atau Pat Sing Ciam Kwi, dengan pokok-pokok :
1. Sepenuh iman yakin / percaya kepada Thian, TYME, yang maha besar kuasanya. Jangan mendua hati, jangan bimbang, Tuhan yang maha tinggi itu besertamu.
2. Sepenuh iman menjunjung kebajikan, tiada jarak jauh tidak terjangkau, sungguh padanya hati Tuhan berkenan.
3. Sepenuh iman menegakkan firman gemilang , jagalah hati, rawatlah watak sejati, demikianlah mengenal dan mengabdi kepada Tuhan.
4. Sepenuh hati menyadari / mengerti adanya nyawa ( Kwi : kekuatan hidup lahir ) dan Roh ( Sien : kekuatan hidup rohani ), tekunlah menbina diri, mengurangi keinginan-keinginan ( nafsu ) timbul, semunya dijaga tetap dibatas tengah ( tepat ).
5. Sepenuh iman merawat cita berbakti, tegakkan diri, menempuh jalan suci, demi memuliakan ayah bunda.
6. Sepenuh iman mengikuti genta rohani ( Bok Tok : nabi Khongcu ) yang terjunjung, nabi agung, yang senantiasa melindungkan firman Thian.
7. Sepenuh iman memuliakan kitab suci Su Si, kitab suci besar bagi dunia, pokok besar untuk tegakkan firman.
8. Sepenuh iman menempuh jalan suci yang besar, sekejabpun tidak berpisah, tempat sentosa yang tanpa batas.
2.3. Kitab-Kitab Khonghucu
Kitab suci yang tertua ditulis pada abad ke XXIII SM, dan yang termuda ditulis pada abad ke IV SM. Karena itu, kitab suci agama Khonghucu dibagi dua : Kitab yang lima ( Ngo King ) dan kitab yang empat ( Su Si ).
Kitab yang lima adalah kitab suci Ji Kau yang sudah tua usianya, yang dipilih dan digunakan Nabi Khongcu membina dan membimbing murid-murid dan penganut-penganutnya. Kitab ini menjadi kitab suci yang mendasari ajaran agama Khonghucu, yang mengandung pengertian dan gambaran yang jelas akan ajaran Nabi Khongcu. Kitab ini terdiri atas lima kitab:
1. Si King atau kitab sanjak, berisi kumpulan sanjak-sanjak, nyanyian-nyanyian pujian yang beragam bentuknya. Nyanyian yang tertua ditulis pada aad ke XV SM dan termuda pada abad ke VIII SM.
2. Su King atau kita kumpulan dokumentasi sejarah, berisi kumpulan tulisan-tulisan, nasehat-nasehat, sabda-sabda Nabi-Nabi purba dan raja-raja suci purba. Naskah yang tertua ditulis pada abad ke XXIII SM dan yang termuda pada abad ke VII SM.
3. Ya King atau kitab peribadahan, adalah kitab wahyu yang berisi ajaran-ajaran tentang kejadian alam semesta dengan segala peristiwanya. Ditulis pada abad ke XII SM.
4. Lee King atau kitab kesusilaan dan peribadahan, berisi ajaran-ajaran kesusilaan, peribadahan dan berbagai segi masalah kehidupan. Periode penulisan kitab ini terbagi tiga, yang dua ditulis pada abad ke XII SM sedang sisanya ditulis oleh murid-murid dan penganut Nabi Khongcu pada abad ke VI SM.
5. Kitab catatan sejarah jaman Chun Chiu ( 722 SM – 481 SM ), kitab ini ditulis sendiri oleh Nabi Khongcu untuk mencatat secara kronologis berbagai peristiwa sejarah jaman itu. Tidak hanya peristiwanya, tapi Nabi Khongcu juga mencantumkan penilaiannya atas berbagai peristiwa itu, yang baik dipuji dan yang tidak baik dicela untuk suri teladan bagaimana orang wajib hidup didalam jalan suci.
Su King atau kitab yang keempat adalah kitab suci Ji Kau yang langsung bersumberkan kepada ajaran atau sabda-sabda yang diucapkan oleh Nabi Khongcu. Kitab ini terdiri atas empat bagian :
1. Thai Hak atau ajaran besar. Kitab ini dibukukan oleh Cingcu, murid Nabi Khongcu. Berisi ajaran tentang apa kewajiban, dan tujuan hidup manusia sebagai pertanggungjawaban kepada Tuhan dan sesamanya dan bagaimana melakukan pembinaan diri didalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, bernegara dan sebagai warga dunia.
2. Tiong Yong atau tengah sempurna. Kitab ini dibukukan oleh Cu Su, cucu Nabi Khongcu. Berisi pokok-pokok ajaran keimanan seseorang umat khongcu sehingga didalam hidup ini dapat menempatkan diri dan bersikap tengah tepat, harmonis didalam jalan suci yang difirmankan Tuhan bagi hidup insani.
3. Lun Gi atau sabda suci. Merupakan kumpulan catatan yang ditulis oleh murid dan cucu murid Nabi Khongcu. Berisi berbagai sabda dan ajaran Nabi Khongcu.
4. Kitab Bingcu. Merupakan kitab suci yang terakhir yang ditulis oleh seorang penganut besar Nabi Khongcu atau Bingcu atau Mencius yang hidup pada abad ke IV SM. Isinya bersifat menjelaskan berbagai ajaran Nabi Khongcu. Kitab ini juga dipercaya sebagai penjelasan yang lurus yang menerangi penyelewengan tentang ajaran Nabi Khongcu (551-479 Seb.M)
Dapat dilihat bahwa Nabi Khongcu adalah penerus dan penyempurna Ji Kau, bukan yang menciptakan. Beliau adalah orang yang dipilih Tuhan sebagai Bok Tok Nya atau genta rohani yang memberitakan firman Tuhan bagi manusia yang mau mendengarnya. Beliau dijadian Tuhan sebagai Sing Jien atau Nabi yang meneruskan dan menyempurnakan ajaran-ajaran suci para Nabi dan raja suci purba.
III. Pengajaran Taoisme Suatu Studi Literatur.
3.1. Tao Te Ching
Tao Te Ching adalah sebuah buku kecil berisikan filsafat Cina klasik yang sering oleh penganut Taoisme sebagai “Nabi”nya . “Tao” berarti jalan, dalam arti luas: realitas absolut yang tidak terselami dasar penyebabnya, akal budi, logos. “Ching” artinya buku klasik. Buku ini ditulis oleh seorang ilmuwan berbakat yang bekerja sebagai pengurus arsip kerajaan Tjou bernama Lao Tse (disebut juga Li Er). Ia sejaman dengan Konfusius yaitu (551-479 Seb. M).
Ada berbagai terjemaahan mengenai “Tao” ; “Tao yang dapat dikatakan bukanlah Tao Absolut” (Lin Yutang), “Jalan yang dapat dilukiskan bukan lagi jalan yang sesungguhnya” (Houang Kia Tcheng), “Adanya berada di luar jangkauan daya kata-kata yang mendefinisikan” (Witter Bynner), “Nama yang dapat dinamakan bukanlah nama yang abadi” (Martin Buber), “Arus yang dapat diikuti bukanlah arus yang sebenarnya” (Alan Watts). Jalan setiap individu adalah kodratnya, kebiasaannya, hukum perkembangannya, segala keseluruhannya. Tao adalah asal asli dan pemersatu segala sesuatu.
3.2. Kebajikan
Wu-wei diterjemahkan tidak mencampuri, lawan kekerasan; “tanpa aksi” atau “jangan memaksa” (Alan Watts) dan “Ketenangan kreatif” (Huston Smith). Semua yang berada dibawah langit mempunyai jalannya, mengikuti jejak yang sama, tanpa mencoba pandangannya yang sempit, tanpa hendak menyeleweng dari yang alamiah demi keuntungan pribadi. Lao-Tse yakin bahwa memakai kekuatan menunjukkan gejala kelemahan dan akhirnya akan menghasilkan kegagalan.
Berdasarkan kebajikan dasar “tidak mencampuri”, muncul tiga kebajikan: lemah lembut, rendah hati, dan menyangkal diri. Kelembutan sewarna dengan keramahan, rendah hati mengarah kepada kejujuran dan kesederhanaan. Sedangkan sikap yang paling mulia dari seorang yang bijaksana adalah mengingkari diri, meluluhkan diri ke dalam Tao. Wu-wei dan ketiga kebajikan tadi membentuk semangat Taoisme.
Taoisme dianggap orang sementara ini adalah aliran romantis karena ajarannya tidak memupuk ambisi, persaingan. Keberuntungan, kesuksesan dan keharuman nama laksana asap yang hilang begitu saja. Berikut kutipan kata-kata Lao Tse:
“Pribadi yang berkembang berpegang kepada Tao
Dan menganggap dunia sebagai Pola mereka.
Mereka tidak menonjolkan dirinya;
Maka mereka disinari.
Mereka tidak menyatakan dirinya;
Maka mereka dibedakan.
Mereka tidak menuntut;
Maka mereka dipercaya.
Mereka tidak membual;
Maka mereka maju .”
3.3. Tao Kekuatan, Dari Alam dan Pendekatan Pikiran.
Tao kekuatan (Te) yang terpendam pada tiap individu akan muncul ketika seorang menyadari dan menyesuaikan dengan kekuatan alam (Tao). Maksudnya kesadaran yang terus-menerus akan terhadap pola alam akan membawa penerangan pada pola paralel perilaku manusia; contoh: terlalu banyak gaya tarik bumi akan menjatuhkan bulan, terlalu banyak rasa memiliki akan menghancurkan sebuah ide. Musim semi mengikuti musim dingin, pertumbuhan mengikuti tekanan dalam masyarakatnya.
Menurut Lao Tse jika seseorang tidak memiliki rasa kekuatan maka akan membenci dan tidak bekerja sama, sebaliknya seseorang yang kuat tidak akan menunjukkan kekuatan mereka karena pengetahuan naluriah alami akan terpancar dan terus mengalir memalui mereka bila diteruskan. Kekuatan sejati ialah mampu mempengaruhi dan mengubah dunia dengan hidup sederhana, cerdik dan mengalami keberadaan. Pengaruhnya dipancarkan melalui teladan sikap, daya tarik intelektual dan pengaruh terhadap pikiran orang yang mereka hadapi.
Tao dari alam. Sebagai ahli fisika teoritis, Lao Tse mengabdikan energi intelektual untuk mengamati alam dan hukum fisiknya. Paradoks dipakainya untuk merangsang kesadaran dalam menjelaskan pola dan siklus, keseimbangan dan kelengkapan, yang bertumpu pada kekuatan fisik dalam alam raya. Pusat Tao Te Ching adalah polaritas, yang didapat dari pandangan Taoisme tentang asal usul kosmologi jagat raya. Sebagai teori sebelum keberadaan terdapat ide yang mutlak, selanjutnya disebut T’ aiChi (Yang paling mutlak). Teori ini mengatakan bahwa “mutlak” dalam keinginannya yang besar dan tiba-tiba untuk mengenal dirinya, membagi dirinya dari ketiadaan dalam suatu peristiwa perubahan tiba-tiba yang menghasilkan sebab dan akibat tanpa akhir. Teori ini berparalel dengan apa yang disebut Teori Dentuman Besar (Big Bang). Dan ruang angkasa terbentuk dan waktu dimulai serta dua keadaan memujud, Yin / Im (negatif) dan Yang (positif) yang merupakan zat dan energi yang tidak terpisahkan. Jadi Hukum dan siklus fisika khusus yang menguasai dan mengatur realitas Tao, dan tindakan Tao adalah wujud yang lebih besar (mutlak). Kesadaran hukum alam yang dinyatakan dalam budaya manusia menjadi komponen utama pertumbuhan dan evolusi pribadi. Dengan demikian pengetahuan naluriah menjadi informasi termurni. Pandangan-pandangan semacam inilah yang selalu membawa kekuatan untuk memperngaruhi dunia seperti pandangan seniman, filsuf dan peramal .
Pendekatan pikiran filsuf barat berbeda dengan sastra Cina yang lebih berasal dari ruang otak bagian kanan, yang mencoba mengerti, mencakup, dalam kesannya, semua detail perubahan peristiwa walau tidak dapat menganalisanya (lebih luas daripada detail). Ketika seseorang membiarkan alam menentukan jalur intelektualnya melalui Tao Te Ching maka menemukan bahwa pendekatan acak terhadap teks akan memicu semangat dan membuka pikiran pada penemuan diri. Salah satu karya sastra filsafat Cina (abad 1 SM) selain T’ ai Hsuan Ching adalah I Ching. Di dalamnya terdapat enampuluh empat bab yang diwakili sebuah heksagram (terdiri dari enam garis bertumpuk dari dua tipe “padat dan patah”. Ada (82) 64 kemungkinan susunan dari dua tipe garis ini (26). Dan oleh orang Cina dikembangkan dalam sistem penomoran biner hampir tiga ribu tahun sebelum system mencapai seluruh dunia. Tentu bahwa Tao Te Ching juga tersusun dalam system biner yaitu (92) 81 bab. Keanggunan angka ini diungkapkan dalam diagram matematis “Tetragram” (padat, patah, patah dua) sehingga ada 81 kemungkinan guna mempelajari 81 bacaan.
Otak bagian kiri akan mengerti dengan mengukur, menganalisis dan menggolongkan tiap detail peristiwa, membangun pengertian, memeriksa dan berfungsi sebagai eksplorasi formal dari Tao Te Ching. Maka dengan demikian secara lengkap dapat membantu dalam menentukan daerah kekuatan yang ingin dipelajari. Dalam hal ini Tao Te Ching membahas 6 bagian topik kekuatan yaitu:
• Kekuatan dalam alam
• Kekuatan dalam kesadaran
• Kekuatan dalam proyeksi
• Kekuatan dalam kepemimpinan
• Kekuatan dalam organisasi
• Kekuatan dalam tidak mencampuri
Ketika seluruh pikiran digunakan maka manusia dapat berinteraksi dan memahami dunia sekitarnya. Pikiran duniawi dapat merumuskan reaksi logis karena berpusat pada realitas fisik (melalui indera fisik) dan pikiran universal dapat mengumpulkan dan menjawab kesan realitas fisik dan non-fisik.
IV. Titik Temu
Pengajaran di Klenteng Poncowinatan tidak seperti di agama Kristen dan Islam. Umat tidak dikumpulkan dalam jumlah banyak lalu ada pimpinan agama yang menyampaikan kotbah, melainkan bersifat informal. Yang dimaksud adalah dapat dilakukan perbincangan dengan pengurus sewaktu-waktu pada jam-jam yang lasimnya. Penekanan pengajaran terutama pada dua hal yaitu; Penghormatan pada orang tua dan Pemakaian “Nalar”.
Dapat dipahami bahwa penghormatan-penghormatan yang dilakukan di Klenteng Poncowinatan adalah perwujudan dari pengajaran Khonghucu. Sedangkan pemakaian “nalar” sebagai intelektual lebih diboboti oleh pengajaran dari “Tooisme” (Taoisme). Penghayatan lainnya tidak dapat dipisahkan dari kultur Cina klasik yang baik dan indah untuk diterapkan. Tujuan kearah “Perdamaian” menjadi warna yang dominan dalam memahami diri sebagai umat yang taat bersembahyang kepada Thian di Klenteng ini.
TEOLOGI