FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

October 29, 2008

BUDAYA POPULER, MIGRANSI, DAN SEMANGAT INJIL YESUS KRISTUS

Filed under: Budaya Populer — admin @ 6:09 pm

(Merumuskan Dasar Teologi Budaya Populer Sebagai Sarana Religiositas Kristiani)
WAWUK KRISTIAN WIJAYA

Nilai-nilai kehidupan yang positif dan pesan-pesan kemanusiaan melalui film dan musik produk budaya populer, seringkali malah dapat tersebar secara meluas di masyarakat dibandingkan dengan bentuk pertunjukkan atau model ibadah yang disakralkan dan diselenggarakan lembaga agama.

A. Pengantar: Melihat Sisi Positif Kehadiran Budaya Populer
Betapa saya harus berterimakasih untuk pencerahan dan wawasan baru yang saya terima dari mengikuti Mata Kuliah Teologi dan Budaya Populer. Mata kuliah ini amat mencerahkan dan menerangi, membuka selubung-selubung kesempitan pikiran, sangat menantang, dan menajamkan cara pandang untuk tidak lagi menilai secara serampangan terhadap perkembangan budaya populer di tengah masyarakat. Melalui mata kuliah ini saya menangkap bahwa di dalam budaya populer terkandung nilai-nilai kehidupan yang baik yang seringkali lebih mengena dan meresap di hati masyarakat daripada keberadaan atau kehadiran lembaga agamawi . Nilai-nilai kehidupan yang positif dan pesan-pesan kemanusiaan melalui film dan musik produk budaya populer, seringkali malah dapat tersebar secara meluas di masyarakat dibandingkan dengan bentuk pertunjukkan atau model ibadah yang disakralkan dan diselenggarakan lembaga agama. Nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi semangat inti agama sering mampu mewujud lebih efektif di dalam realitas sosial melalui berbagai-bagai bentuk budaya populer yang diserap masyarakat. Bagi saya bentuk-bentuk makna dari kehadiran budaya populer yang diterangkan dalam Mata Kuliah Teologi dan Budaya Populer ini bagai cara kerja Roh Kudus yang tidak bisa dibatasi oleh tembok-tembok yang mengkotakkan nilai religiositas maupun spiritualitas dalam kotak lembaga keagamaan saja .

Di dalam kekaguman saya terhadap mata kuliah ini, saya berusaha melihat keterkaitan antara kehadiran dan kenyataan budaya populer yang mampu menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan yang menggembirakan dan memerdekakan dengan pesan dan inti semangat Injil Yesus Kristus yang beresensikan tindakan Yesus yang menyatakan kemurahan Allah dan menindakkan perbuatan yang berisikan semangat kemerdekaan dan kegembiraan yang manusiawi. Mengapa hal ini menarik minat saya? Sebab kehadiran budaya populer yang sebenarnya bisa berdampak positif seringkali dicela dan dipertentangkan oleh Gereja tertentu maupun sebagian umat di dalamnya dengan nilai-nilai (yang dianggap kristiani) yang merupakan dasar dari paham atau doktrin Gereja itu.

Gereja lebih sering berkonflik dengan kebudayaan populer tanpa mencermati esensi dari nilai-nilai yang terkandung di dalam narasi yang diungkapkan oleh produk budaya populer terlebih dahulu. Malah secara apriori dalam pengajarannya Gereja cenderung represif terhadap kehadiran budaya populer. Gereja menganggap budaya populer sebagai perusak moral, penyebab dehumanisasi, dan perusak martabat manusia seperti pandangan yang dikemukakan Sutan Takdir Alisjahbana tentang budaya populer maupun para penganut ideologi yang menentang kehadiran budaya populer lainnya. Gereja sekadar melarang: tidak boleh menonton ini, tidak boleh membaca itu, tidak boleh mendengarkan anu, bakan ada yang ekstrem menganggap budaya populer sebagai karya setan. Padahal Gereja atau oknum di dalamnya belum masuk terlibat mendalami dan berupaya mengerti secara aposteriori terhadap fungsi dan makna di dalam karya budaya populer yang dilarang untuk dinikmati itu. Dalam hal ini Gereja sering menjadi lebih Marxis dari kelompok beridiologi Marxian seperti mazhab Frankfurt dalam menolak kehadiran budaya populer . Tanpa sadar Gereja malah terjebak pada larangan yang tidak mendewasakan umat serta tidak memberikan jalan keluar yang baik bagi masyarakat dalam menyikapi kehadiran budaya populer. Bisa jadi dengan kecenderungan semacam ini, tidak sengaja Gereja malah terlibat dalam pelecehan spiritual. Dengan apriori menganggap sesuatu yang sebenarnya secara esensial baik -bahkan bisa jadi Roh Kudus benar-benar hadir berkarya di dalamnya- sebagai sesuatu yang merusak dan semata-mata buruk serta berasal dari setan .

Tetapi bukankah dengan demikian Gereja malah teralienasi ketika bergaul di dalam dunia padahal seharusnya Gereja perlu hadir berelasi secara intim penuh kasih, terbuka, namun kritis agar mampu menjadi agen perubahan yang efektif di tengah-tengah masyarakat luas di dunia ini. Dengan menutup mata pada kehadiran budaya populer dan melestarikan konflik dengannya justru Gereja mengeklusikan warganya dari pergaulan yang luas dan inklusif. Keadaan semacam ini sering membuat Gereja tergagap-gagap menyikapi berbagai isu dan menangani permasalahan di masyarakat yang semakin kompleks saja seperti soal seksualitas, perselingkuhan, masalah kawin campur, sampai soal kawin cerai yang tidak hanya terjadi pada artis saja tetapi bisa juga terjadi pada kehidupan warga jemaat, soal pergaulan remaja, hingga soal model kehidupan modern model perkotaan yang egaliter dan bebas.

Mengaitkan kehadiran budaya populer dan migransi dengan semangat Injil Yesus Kristus menjadi sebuah usaha penting untuk menemukan dasar teologi bagi Gereja untuk tidak selalu menutup mata dan apriori pada kehadiran budaya populer, melainkan bisa ikut terlibat memakai budaya populer sebagai sarana menyampaikan semangat Injil. Dalam kalimat saya, Gereja tidak perlu lagi menjadi kuper, kurang pergaulan dalam menyikapi perkembangan kebudayaan populer dan berbagai-bagai persoalan yang semakin canggih dan rumit saja. Di tengah konteks kehidupan yang dilingkungi dan semakin dipengaruhi oleh perkembangan kebudayaan populer yang semakin pesat Gereja tidak perlu melestarikan sikap oposisi dan dikotomi terhadap kehadiran budaya populer maupun kebudayaan secara luas, sebab ini hanya akan menjadi bom waktu bagi sumbangan dan karya Gereja di tengah masyarakat. Melalui kehadiran budaya populer dan proses migransi, jika dimanfaatkan dengan baik, Gereja malah secara kritis bisa berkembang dan lebih membumi dalam konteks kehidupan yang hendak dihidupinya. Kajian untuk mencari ruang temu antara budaya populer dan semangat Injil Yesus Kristus di sini adalah upaya agar Gereja mampu mengenali semangat Injil dan karya Roh Kudus yang dimungkinkan juga hadir berkarya melalui produk budaya populer dan proses migransi.

B. Budaya Populer dan Esensi Pokok Kehadirannya
Secara definitif, makna budaya populer memang konfliktual penuh kontroversi. Eksistensi budaya populer yang dijauhi Gereja, dalam kenyataan masih diperdebatkan oleh para teoritisi bahkan beberapa di antaranya dengan ekstrem menyatakan budaya populer tidak termasuk sebagai budaya karena keberadaannya yang dianggap merusak dan menciptakan degradasi moral. Menurut mereka pengertian budaya adalah hasil peran sentral dari akal atau pikiran atau budi manusia untuk pencapaian kehidupan yang lebih baik dan demi pencapaian kesempurnaan hidup serta perwujudan nilai-nilai, sehingga budaya populer yang dianggap negatif dan merusak berada di luar makna kebudayaan . Di samping itu, ada tujuh macam kontroversi tentang makna budaya populer yang menjadi perdebatan para teoritisi sosial. Hikmat Budiman menyebut tujuh kontroversi pemaknaan budaya populer itu sebagai berikut :
1. Budaya populer sebagai budaya yang secara luas digemari banyak orang.
2. Budaya populer sebagai budaya residu atau sampah dibanding budaya tinggi. Intinya budaya populer sebagai budaya di bawah standar.
3. Budaya populer sebagai budaya komersial yang diproduksi secara massal untuk konsumsi massa yang pasif dan dungu.
4. Budaya populer dianggap sebagai ancaman yang mengakibatkan lenyapnya komunitas organik atau tergusurnya budaya rakyat (folk culture).
5. Budaya populer adalah budaya rakyat yang autentik dari rakyat untuk rakyat.
6. Menurut perspektif Gramscian budaya populer dilihat sebagai pergulatan kekuatan-kekuatan resistensi kelompok subordinan dan kekuatan inkorporasi kelompok-kelompok dominan di dalam masyarakat, dan tidak boleh secara negatif menolaknya maupun menerimanya tanpa kekritisan.
7. Budaya populer sebagai yang baik kelahiran maupun pertumbuhannya mengikuti pertumbuhan industrialisasi dan urbanisasi.

Tetapi di dalam makalah ini saya tidak mau terjebak ke dalam perdebatan kontroversial yang panjang lebar itu. Saya lebih memilih menggunakan beberapa kontroversi yang sekiranya bermanfaat tentang definisi budaya populer dari sisi yang bernilai positif, tidak beroposisi terhadap kehadiran budaya populer, sehingga bisa terlibat mendalami dengan terbuka makna budaya populer sendiri dan melihat manfaatnya.

Ada empat kontroversi dari tujuh kontroversi pemaknaan budaya populer yang bisa ditelaah untuk meletakkan landasan yang baik dalam memaknai keberadaan budaya populer dalam semangatnya yang positif. Yang pertama bahwa budaya populer digemari banyak orang, kedua bahwa budaya populer sebagai budaya rakyat yang autentik –yang mana hal ini berkaitan dengan kontroversi bahwa budaya populer dianggap lebih rendah dari budaya tinggi, dan soal pemaknaan budaya populer dalam paradigma Gramscian yang menurut paradigma ini tidak boleh secara negatif menolak budaya populer maupun menerima budaya populer tanpa kekritisan. Paradigma Gramscian menjadi dasar yang baik untuk mendalami budaya populer secara kristis dan tidak apriori. Sebab berbicara menurut perspektif Gramscian budaya populer dinilai sangat positif, diinterpretasikan dalam pengertian melawan hegemoni yang dijalankan di dalam institusi masyarakat sipil , baik terhadap prasangka hegemoni kapitalisme yang senantiasa digembar-gemborkan oleh para idiolog yang menegatifkan keberadaan budaya populer.

Bahwa budaya populer adalah budaya yang digemari banyak orang sudah sangat jelas pengertiannya. Dalam terminologi Hikmat Budiman budaya populer yang juga disebut sebagai budaya massa dimaknai sebagai budaya yang sangat populer di kalangan masyarakat banyak, masyarakat di dunia. Menurut Budiman, daya tarik dan jangkauan budaya populer oleh banyak orang jauh menembus batas kelas-kelas masyarakat maupun batas-batas fisik mentalitas masyarakat-masyarakat manusia secara global. Pandangan Hikmat Budiman ini sesuai dengan kesimpulan Yahya Wijaya, dari beberapa teoritisi yang menyimpulkan budaya populer sebagai budaya yang tersebar secara global, menembus batas-batas geografis, bahasa, dan perbedaan-perbedaan primordial maupun sosial . Kehadiran budaya populer dalam pengertian semacam ini, menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar, kenapa kehadiran budaya populer mampu digemari banyak orang yang tersebar secara global, menembus batas-batas geografi, bahasa dan perbedaan primordial maupun sosial? Kenapa produk budaya populer sangat digemari di kalangan masyarakat dunia, tidak terbatas masyarakat tertentu saja?

Saya kira pertanyaan tersebut adalah kunci untuk memasuki roh yang positif dari keberadaan budaya populer. Bagi saya jawaban dari pertanyaan ini harus diterangkan dari soal hasrat masyarakat luas yang bosan terhadap budaya elit yang hanya dinikmati secara terbatas. Kerinduan massal akan kesamaan derajat atau kesetaraan dan nilai-nilai kehidupan yang universal menembus batas kelas-kelas sosial adalah pokok penting yang perlu diterangkan. Hal ini bersentuhan dengan Revolusi Perancis dengan tiga idiom pokoknya, yaitu kemerdekaan (liberte), persaudaraan (fraternite), dan kesetaraan (egalite) menjadi tonggak dasar kemunculan budaya populer. Dari sini jelas bahwa kehadiran budaya populer pertama-tama memang terkait soal perlawanan terhadap arogansi elit yang menggunakan kebudayaan sebagai sarana mempertahankan kelas kepenguasaaannya sementara massa luas yang dibatasi aksesnya sehingga tidak mampu menikmati kebudayaan semacam itu sudah muak dan mencari alternatif baru.

Arogansi elit sendiri berlanjut pada munculnya klaim bahwa high culture sebagai budaya adiluhung tanpa mengindahkan kehendak dan kehausan masyarakat dalam kelompok di luarnya maupun anggota di dalam kelas elit sendiri akan keterasingan dan akan hiburan yang memenuhi kerinduan jiwa seluruh kalangan. Keadaan ini menimbulkan ketegangan di kalangan elit terhadap hasrat kemerdekaan massa untuk menikmati kebudayaan yang menumbuhkan budaya populer, sehingga budaya populer dianggap sebagai budaya yang lebih rendah daripada budaya tinggi. Hal ini menunjukkan kenyataan bahwa kehadiran budaya populer memang meresahkan bagi penganut high culture di satu sisi. Sampai sekarang kontroversi ini masih menjadi kontroversi yang dimunculkan oleh teoritisi penganut pandangan elit maupun teoritisi yang mungkin berasal dari kalangan aristokrat yang merasa resah karena kekuasaannya mulai tergoncang atas kehadiran budaya populer sendiri.

Realitas ini merupakan risiko dari kehadiran budaya populer sebagai alternatif dari kejenuhan masyarakat luas atas klaim elitisme dan kebudayaan penguasa bahwa kebudayaan merekalah sebagai satu-satunya yang bermutu. Klaim semacam ini saya kira wajar terjadi dalam ketegangan atas rasa bosan massa terhadap budaya elit dan budaya yang diklaim penguasa sebagai yang paling beradab. Kontroversi antara high culture dan popular culture bagi saya merupakan landasan pertama yang perlu dicermati untuk nanti bisa melihat hubungan lebih jauh antara kehadiran budaya populer dengan semangat Injil.

Tetapi kontroversi semacam ini perlu dibahas lebih teliti, sebab jangan sampai jatuh menyamakan budaya populer dengan budaya rakyat jelata atau folk culture. Malah kehadiran budaya populer yang dirindukan untuk memenuhi hasrat akan sesuatu yang universal dibutuhkan banyak manusia dan akan kesamaan derajat, sehingga budaya populer bisa dinikmati oleh orang dari kelompok elite maupun rakyat jelata sekaligus , juga merevisi eksistensi folk culture yang sifatnya terbatas untuk kalangan bawah saja. Budaya populer adalah reaksi terhadap budaya tinggi sekaligus berarti reaksi terhadap folk culture . Budaya populer juga menggugat keterbatasan dari folk culture sehingga proses marginalisasi kalangan elit oleh kalangan bawah pun juga berusaha dieliminasi oleh keadiran budaya populer. Saya kira di dalam hal semacam inipun juga memercikkan ketegangan seperti adanya gugatan ekstrem dalam kontroversi bahwa kehadiran budaya populer bisa mematikan komunitas organis dan budaya rakyat. Tetapi ketegangan ini bisa diatasi dengan teori atau proses migransi antara budaya populer dengan konteks organis komunitas setempat yang akan dibahas pada bagian tersendiri, dan tidak memunculkan ketegangan yang sekuat konflik antara budaya populer dengan budaya elit atau budaya tinggi (high culture).

Jawaban berikutnya dari pertanyaan kunci di atas adalah apakah sebenarnya esensi atau muatan pokok dari keberadaan budaya populer, sehingga hadirnya budaya populer begitu diminati dan menembus batas-batas geografis, primordial, dan sosial? Selain soal hasrat yang menjadi dasar melawan budaya tinggi, hasrat apa yang ada di dalam masyarakat sehingga mereka begitu butuh dan menggandrungi kehadiran budaya populer? Inilah pokok yang perlu di dalami Gereja untuk tidak mentah-mentah menolak kehadiran budaya populer seperti yang dilakukan oleh William D. Romanowski seorang teolog evangelical yang dengan teliti mampu melihat berbagai dimensi positif kehadiran budaya populer.

Romanowski yang berusaha melihat kehadiran budaya populer banyak mengungkapkan kandungan nilai-nilai moral yang luas dan tidak sekadar moralistis belaka . Kehausan nilai-nilai yang tidak moralistis tetapi mengandung jangkauan moral dan nilai-nilai yang lebih luas di dalam budaya populer merupakan hasrat pokok yang dirindukan oleh masyarakat luas yang jenuh akan formalisasi nilai dan moral. Masyarakat luas haus akan hasrat untuk mendapatkan kebebasan dari aturan yang mengekang. Hasrat akan nilai kemanusiaan, nilai kesetaraan dan kesamaan, kesetiaan dalam hidup, hasrat akan kebebasan, dan perjuangan manusiawi untuk mencapai kebahagiaanlah yang mendasari semangat khalayak luas mengagumi dan menerima kehadiran budaya populer yang bermutu.

Karena hasrat akan nilai-nilai yang demikianlah saya kira acara Kick Andy yang menampilkan sisi mulia dan kerja keras dari orang-orang yang cacat, maupun sisi kurang dari orang-orang terhormat dan para pejabat pada saat ini begitu digemari oleh penonton Metro TV. Juga show Oprah yang di dalam tayangannya sering menampilkan kisah pengampunan, nilai-nilai cinta kasih, serta nilai syukur yang dikemas dalam bahasa sekuler, serta nilai kesamaan ras sangat digandrungi oleh masyarakat dunia para pemirsanya. Demikian pula dengan film-film Holiwood seperti The Dance With Wolf yang dibintangi Kevin Costner, yang amat populer dan mendapatkan Oscar pada tahun 1990-an, sangat digemari karena narasinya menyingkapkan nilai kesetaraan antar suku, penghormatan kepada ras yang berbeda, yaitu persahabatan antara kulit putih dengan Indian. Kehausan akan hal ini juga menjadi alasan kenapa buku-buku yang ditulis Karl May, baik tentang kisah persahabatan antara Old Shatterhand dan Winnetou yang membantu suku Indian, maupun kisah perjalanannya yang menghadirkan semangat kemanusiaan yang lain sangat laris di toko buku Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Kehausan akan semangat kerja keras dan kekaguman akan semangat perjuangan juga kentara dari larisnya film Beautiful Mind di bioskop-bioskop di dunia, termasuk di perkotaan Indonesia beberapa tahun lalu. Kisah film Beautiful Mind yang sarat akan semangat perjuangan dan kesetiaan di balik kelemahan penyakit schizofrenia yang diderita tokoh utamanya yang di dalam kisah itu akhirnya mengantarkan sang tokoh utama (yang diperankan Russel Crowe) meraih nobel menjadi inspirasi bagi pemirsa akan bagaimana nilai-nilai kerja keras di balik penderitaan jiwa dikemas dengan amat menarik dan indah. Juga film dalam negeri yang sangat heroik dan narasinya begitu menghanyutkan, Naga Bonar Jadi 2, yang tahun lalu melejit di bioskop-bioskop Tanah Air menyampaikan pesan soal tingginya hasrat untuk menyampaikan kritik sosial melawan komersialisme, kekuasaan uang, ketidakpedulian yang mengancam semangat kehidupan sosial di Indonesia, serta perlawanan terhadap apatisme dan pembatasan akan pergaulan antara kaum kaya-miskin seolah nyata di dalam realitas film yang digarap Dedy Mizwar dengan memukau itu.

Saya kira hasrat akan nilai-nilai tersebutlah yang membikin produk-produk budaya populer sebagai budaya autentik dari hasrat kemanusiaan begitu menyedot perasaan para peminatnya. Budaya populer menjadikan hasrat yang autentik dari kehausan rakyat (yang tentunya terdiri atas beragam golongan, tidak hanya mengacu pada masyarakat kelas bawah saja) akan kebutuhan anti diskriminasi, anti feodalisme, mengutamakan kebebasan dan transparansi, dan penentangan terhadap hierarkhi yang represif menjadi terpuaskan . Pada pengertian demikian tepatlah bila budaya populer dimaknai sebagai budaya autentik dari rakyat untuk rakyat. Sebab makna autentik di sini bersinggungan langsung akan kebutuhan mendasar dari masyarakat akan suatu nilai pokok yang ingin dijangkaunya.

Juga makna autentik di sini terkait soal keaslian jalan cerita maupun autentisitas nalar dari narasi di dalam kreasi dari produk budaya populer sendiri. Memang, budaya populer yang semangat dan narasinya tidak autentik dan hanya menjiplak mentah-mentah popularitas dari program tayangan yang berbeda seperti terjadi dalam program-program televisi di Indonesia seringkali malah menurunkan kualitas budaya populer dan akan menjadi acara yang sangat menjenuhkan saja. Produk budaya populer yang bermutu pada dasarnya memang autentik esensinya. Kisahnya tidak sekadar mencontek, tetapi benar-benar hasil pengolahan ide yang memuat nilai-nilai kehidupan yang dirindukan dan menjadi kebutuhan dasar hasrat manusiawi .

Tentang ini, lihat saja misalnya kepopuleran kisah film Doraemon maupun komik-komiknya yang masih bertahan sampai sekarang karena idenya memang sangat menarik, cerdas dan khas, senantiasa baru, serta menyatakan realitas nilai-nilai persahabatan dan nilai dasar realitas manusia sebagai homo ludens. Idenya yang asli membuat film kartun ini mampu bertahan sepuluh tahun lebih disiarkan di RCTI. Kita juga bisa bercermin dari film Kera Sakti yang bercerita tentang kiprah kesetiaan Sun Go Kong yang sering mengambil tindakan kreatif tak terduga dengan masuk mengacau di kahyangan sebagai protes kepada para dewa atas ketidakberesan masalah di bumi. Kisah Sun Go Kong yang merupakan kera nakal yang memiliki kebaikan budi serta kesaktian dan dua murid lainnya dalam menemani sang guru, Biksu Tong, berjalan ke Barat mencari Kitab Suci di tengah berbagai rintangan dan segala tantangan menjadi cerminan asli akan kerinduan massa untuk mempertanyakan bahkan mendobrak takdir kekuasaan di luar kendali mereka yang seringkali menindas. Pula, drama Asia yang sangat saya gemari seperti Dae Janggeum yang secara autentik mengisahkan perjuangan dan kesetiaan di tengah kesengsaraan juru masak istana yang merintis karier dari bawah dari luar istana dengan menembus ketatnya tembok tradisi istana, yang pada tahun 2006 mendapati rating pemirsa yang sangat tinggi melalui TV Indosiar. Bandingkan dengan sinetron-sinetron produksi dalam negeri sekarang ini yang ceritanya menjiplak film asing bahkan sering kisahnya sangat tidak realistis. Sangat tidak bermutu dan mengelabui hasrat penontonnya untuk mendapatkan nilai-nilai kehidupan.

C. Migransi: Berpadunya Nilai Kemanusiaan Universal dalam Komunitas Lokal
Proses migransi menurut pengertian Edwin Jurriens adalah kondisi sosial dari para musafir dunia yang memperlihatkan kesadarannya terhadap akibat-akibat budaya dari safari yang ditempuhnya dan berusaha mengatasi lokasi budaya yang berubah-ubah . Dari pengertian ini, jelasnya migransi adalah pengolahan dari bentuk budaya populer agar bersenyawa dalam bahasa dan kebudayaan masyarakat setempat. Migransi merupakan cara atau proses merasuknya budaya populer yang universal menembus batas-batas geografis yang membawa masuk budaya populer ke ruang sosial tertentu yang partikular dan membuat ruang yang partikular bersentuhan dengan yang universal. Proses migransi menjadi pengikat antara budaya yang partikular dengan universalitas yang dihasilkan dari budaya populer. Migransi membuat keduanya saling berinteraksi dan berpadu, sehingga kebudayaan populer bahasanya ditangkap dan diterima oleh bagian-bagian primordial dari ruang sosial tertentu. Singkatnya, migransi membumikan budaya populer yang berisi nilai universal dalam lokalitas konteks tertentu. Migransi membuat budaya populer sebagai budaya global bertemu dengan kebudayaan lokal, sehingga keduanya saling mengolah dan saling mempengaruhi.

Proses migransi mengolah yang lokal dalam fenomena global, dan yang global dimengerti dalam bahasa lokal. Terkait maknanya yang demikian, juga berhubungan dengan pemaknaan budaya populer di atas, proses migransi berfungsi merembeskan nilai-nilai universal yang termuat di dalam budaya populer dalam konteks setempat. Proses semacam ini tidak sekadar proses pengimitasian, melainkan sudah melibatkan pendalaman secara kultural, baik kultur populer maupun kultur lokal. Kultur lokal diolah menuju nilai-nilai universal humanitas. Sebaliknya menuru Jurriens, objek-objek global direpresentasikan dengan memadukan unsur budaya lokal, sehingga dapat dipahami masyarakat dalam kultur lokal. Dengan demikian, proses migransi membarui dan menggenapi tradisi setempat di dalam nilai dan semangat kemanusiaan yang diusung budaya populer sebaliknya juga memperindah unsur budaya populer dengan kultur lokal. Proses migransi juga membarui yang global dalam dimensi lokal yang mampu diserap masyarakat dalam lokalitas setempat. Proses migransi seperti ini memberikan manfaat kepada individu-individu bagian komunitas lokal untuk menggenapkan wawasan mereka yang partikularitas ke dalam kelengkapan cara pandang global yang universal tanpa mengalami ketercerabutan dari akarnya.

Di dalam pemaknaan semacam inilah kontekstualisasi yang sedang dituju Gereja seharusnya mendapatkan tempat dan menemukan bentuknya yang pas. Jika bicara jauh ke belakang , lewat proses migransi semacam itulah kontekstualisasi ala Kyai Sadrach dan Coolen berhasil menarik minat banyak orang Jawa menerima nilai-nilai kekristenan. Sebab dua tokoh ini berbicara tentang Kristus yang universal dalam kemasan migransi ala mereka yang pas untuk lokalitas Jawa. Mereka mengolah nilai Injil yang universal dalam perpaduan lokalitas yang berhasil mereka dalami. Namun sayangnya migransi dan kontekstualisasi semacam ini ditolak oleh para Zending yang pietis menganggap lokalitas sebagai kebudayaan yang harus dibunuh dan dimasukkan ke dalam neraka. Dalam konteks masa kini sikap penolakan untuk melakukan migransi semacam ini masih lestari lewat perlawanan dan tidak penerimaan Gereja terhadap budaya setempat maupun kepada budaya populer yang mengelilinginya pada masa kini, sehingga proses migransi untuk mengolah nilai-nilai universalitas Injil di dalam konteks lokal sering gagal dilakukan oleh Gereja.

D. Meneropong Budaya Populer dalam Tinjauan Injil Yesus Kristus
Untuk mendasari pendalaman budaya populer dalam tinjauan Injil Yesus Kristus harus diletakkan dalam pijakan bahwa tindakan Yesus sendiri adalah karya kebudayaan. Kegagalan Gereja dalam memahami budaya populer dan pola migransi dalam semangat Injil bisa jadi merupakan kegagalan Gereja dalam memahami tindakan Yesus Kristus sebagai tindakan kultural. Narasi Injil tentang tindakan Yesus sering luput dari pemahaman Gereja sebagai dinamika kultural. Mungkin di mata Gereja tindakan Yesus tidak terlihat sebagai tindakan yang berkenaan dengan kebudayaan. Kebudayaan dianggap berada di luar tindakan Yesus, dan bukannya sebagai tindakan Yesus sendiri. Tindakan Yesus dianggap terpisah dari kebudayaan, terpisah dari dunia. Di sini mungkin Gereja lupa bahwa Yesus benar-benar hadir di dunia. Gereja juga lupa bahwa makna kebudayaan adalah hasil dari akal budi manusia. Bila mengingat makna kebudayaan sedemikian rupa, bukankah perlu ditegaskan bahwa tindakan dan karya Yesus adalah buah dari kebudayaan, sebab apa yang dilakukan-Nya merupakan buah pengolahan budi dari totalitas-Nya sebagai manusia yang hidup sepenuhnya dalam dimensi sosial seperti menurut Niebuhr, bahwa kehidupan sosial adalah selalu kultural .

Mungkin di sini kita tidak perlu berdebat dengan soal yang sudah lama dibahas oleh Niebuhr di dalam buku Christ and Culture. Tetapi baiklah kita melihat semangat Injil Yesus Kristus untuk bisa melihat sisi yang sinambung antara semangat positif yang diusung budaya populer dengan semangat Injil. Ada beberapa semangat Injil yang mungkin bisa menopang kehadiran budaya populer. Beberapa pokok semangat Injil yang dikemukakan di sini memiliki benang merah dengan keberadaan budaya populer.

D.1 Semangat Injil I: Yesus (Sebagai Budaya Populer) yang Hadir Di Tengah Massa
Di dalam keempat Injil yang memberitakan tindakan Yesus, selalu dikisahkan bagaimana Yesus yang hadir di tengah massa. Kisah perjalanan Yesus senantiasa menarik minat massa untuk berada di dekat Yesus. Keberadaan Yesus benar-benar menyedot perhatian massa. Di dalam Injil Markus sejak pertama berkarya keberadaan Yesus begitu populer di tengah massa luas (Markus 1:28). Keberadaan Yesus pada masa pra-penyaliban-Nya senantiasa di tunggu-tunggu (Markus 1: 33), dicari banyak orang (Markus 1:45), dinanti-nantikan dan diikuti oleh khalayak luas (Markus 2:15; 3:7-9; 4:1; 5:21; 6: 30-34; 9: 25a; 10:1, 46; 11:8; 12:37).

Injil Lukas, juga mengisahkan kepopuleran Yesus di antara banyak orang (Lukas 4:37). Injil Lukas mencatat bagaimana banyak orang mencari dan mengerumuni Yesus (Lukas 4: 42; 5:1). Sama halnya seperti Injil Markus, Lukas menyaksikan bahwa kehadiran Yesus memang sungguh menarik minat massa untuk mendatangi dan berkerumun di dekat-Nya (Lukas 5: 15, 19; 6:17-19; 7:11; 8: 4, 19, 40). ; 9:11). Mungkin bila Hikmat Budiman melukiskan kajiannya tentang budaya populer sebagai lubang hitam kebudayaan, maka kehadiran Yesus menurut kisah Injil menjadi lubang terang yang menyedot arus massa dan membuat banyak orang berbondong-bondong melekat kepada-Nya, mencari dan menantikan kehadiran-Nya di mana-mana.

Di dalam Injil yang lain daya kepopuleran Yesus kisahnya juga mendapat tempat. Seperti di Injil Matius, yang memang sinoptik dengan Markus dan Lukas kisah kehadiran Yesus yang menyedot massa mendapatkan porsi penceritaan yang tidak kalah banyak. Malah dari awal (Matius 2: 1-12), sejak kelahiran-Nya, Yesus sudah menyedot perhatian orang dari luar Israel untuk menyaksikan-Nya. Sama seperti yang dicatat Markus dan Lukas kehadiran Yesus yang dinanti-nantikan dan dicari banyak orang mendapat bagian dalam kisah Matius (Matius 4:25; 5:1; 8:1,18; 9:8, 36; 12:15b, 13: 2; 15:30; 17:14; 19:2; 20:29; 21:8; 23:1). Saking populernya, orang banyak begitu tergila-gila dengan keberadaan Yesus (Matius 14:13-14), sehingga seringkali Yesus harus mencari waktu untuk sendirian. Kehadiran Yesus sungguhlah menghisap minat orang banyak dari berbagai kota (Matius 4: 25).

Injil Yohanes, sebagai Injil yang mistis pun juga memberikan porsi soal kehadiran Yesus di tengah massa. Di dalam kisah Yohanes, Yesus juga ditampilkan sebagai budaya populer. Kehadiran Yesus di tengah massa dan benar-benar dicari orang banyak mendapat tempat dalam kisah Yohanes walau tidak sebanyak dalam Injil Sinoptik (lihat Yohanes 6:2, 22, 25; 8:2, 12, 21; 10: 40-42; 12:12-13, 17-18). Popularitas Yesus, yang membuat-Nya sebagai ikon budaya populer dalam konteksnya waktu itu, memanglah mencengangkan. Orang banyak benar-benar takjub akan kehadiran Yesus (Matius 7: 28-29). Dan tampaknya soal mengapa ada ketakjuban ini disebabkan ada nilai baru yang autentik bagi massa pada zaman Yesus, bahwa pengajaran Yesus sungguh unik, lain daripada yang lain, berbeda dari pengajaran yang dilakukan ahli-ahli Taurat (Matius 7:28-29). Ini menjadi semacam ketakjuban terhadap keautentikan yang terkandung di dalam makna budaya populer.

Kehadiran Yesus dalam kisah-kisah Injil menunjukkan bagaimana eksistensi Yesus di tengah-tengah khalayak luas. Yesus yang hadir di tengah massa juga berada di beragam kalangan, tidak hanya rakyat jelata, tetapi juga di antara pemungut cukai maupun para elit seperti Nikodemus dan orang Farisi lainnya. Juga kepopuleran Yesus menjangkau jauh di luar sekat ke-Yahudian. Perempuan Samaria mengaguminya (Yohanes 4:1-42), perempuan Kanaan mencari-Nya dan memohon pertolongan-Nya karena kagum akan kuasa Yesus (Matius 15: 21-28), perwira Kapernaum (yang mungkin adalah Romawi) yang mendengarkan daya kuasa Yesus pun meminta hamba-hambanya untuk datang meminta tolong kepada Yesus (Lukas 7:1-10). Pergerakan Yesus benar-benar dikagumi semua kalangan seperti Zakheus dari kalangan kaya yang sangat tertarik kepada Yesus, sehingga ia perlu memanjat pohon untuk sekadar melihat Yesus. Kisah Zakheus ini semacam kisah penggemar berat yang menunggu dan berusaha melihat artis kesayangannya. Yesus sungguh-sungguh populer, bak artis yang luar biasa dikagumi massa penggemarnya pada masa kini. Yesus benar-benar dikagumi banyak orang.

Di sini kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwasannya kehadiran Yesus adalah merupakan kehadiran budaya populer pada masa-Nya. Yesus adalah budaya populer yang memikat banyak orang dari beragam kelas dan kalangan. Keberadaan Yesus yang memikat menembus batas primordial dan kelas sosial, menembus batas fisik seperti yang terjadi terhadap perwira Kapernaum. Sehingga dengan hanya melalui perantara saja, kekaguman akan keberadaan Yesus di tunjukkan oleh Perwira Kapernaum (Lukas 7: 1-10). Kehadiran Yesus di tengah massa adalah kehadiran budaya populer pada zaman itu. Jadi kesimpulan pertama pada bagian ini adalah di dalam semangat Injil, Yesus sendiri yang populer karena daya kuasa-Nya yang menyembuhkan dan kata-kata-Nya yang menghibur memang hadir sebagai budaya populer yang sungguhlah bermutu di dalam konteks lingkungan yang pernah dipijak-Nya. Yesus sendiri ”memanfaatkan” budaya populer sebagai jalan pemberitaan diri-Nya dalam menggenapi Taurat.

D.2 Semangat Injil II: Tindakan Yesus melawan Tradisi Elitis dan Budaya Tinggi
Terkait kehadiran budaya populer sebagai wujud kejenuhan terhadap budaya tinggi dan elitis, kita bisa menyaksikan tindakan Yesus sebagai tindakan kultural melawan budaya tinggi para orang Farisi dan ahli Taurat. Tindakan Yesus terkait perlawanan-Nya terhadap sikap elitis orang Farisi dan ahli Taurat bisa menjadi bahan refleksi Gereja atas kehadiran budaya populer yang melingkungi Gereja.

Kebudayaan yang dibawa dan ditindakkan Yesus adalah protes terhadap kebudayaan yang ditindakkan ahli Taurat dan para elit agama Yahudi yang eklusif dan memarginalkan kalangan lain. Tindakan Yesus adalah solusi atas ketertutupan sistem di Bait Allah yang dikuasai oleh budaya tinggi para ahli agama. Sehingga ketertarikan massa akan kehadiran Yesus juga menunjukan hasrat kejenuhan massa kepada tingkah laku elitis yang meminggirkan mereka. Elitisme Yahudi dalam diri ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menutup langkah orang-orang jelata maupun kalangan yang lain mendapati kebebasan, nyata didobrak oleh Yesus. Lihat saja ketika Yesus menyembuhkan seorang yang tiga puluh delapan tahun sakit di tepi kolam Betesda (Yohanes 5: 1-18) yang cukup lama diacuhkan oleh sistem kebudayaan elit di Bait Allah. Bahkan peraturan Mishnah tentang Sabat yang dijadikan landasan tradisi budaya tinggi Bait Allah untuk tidak mempedulikan orang-orang pinggiran diabaikan oleh Yesus. Pada hari Sabat yang menurut tradisi Mishnah melarang orang untuk melakukan sesuatu dilawan dan dilanggar Yesus. Yesus berani bertindak bertentangan dengan kebudayaan ahli Taurat dan orang Farisi dengan tindakan-Nya menyembuhkan. Apa yang dilakukan Yesus ini juga menunjukkan kemerdekaan dan ketidakterikatan-Nya akan kebudayaan tinggi Yahudi yang menekan dan membebani masyarakat.

Kehadiran Yesus sungguhlah melucuti sikap moralistis dari hukum Taurat yang dipaksakan oleh kebudayaan tinggi yang dipegang erat-erat para ahli agama. Larangan berkumpul dan makan dengan orang berdosa dilanggar oleh Yesus. Tindakan Yesus memang menjebol dinding kuat kebudayaan tinggi Yahudi yang mengkotak-kotakkan dan tidak memanusiakan. Tindakan kebudayaan Yesus yang menghadirkan kebudayaan yang membebaskan ini tercermin dari peristiwa terbelahnya Bait Suci pada saat kematian Yesus (Markus 15: 37-38). Peristiwa tersingkap dan terbelahnya tabir Bait Suci menjadi simbol bahwa di dalam peristiwa penyaliban Yesus, Yesus sudah menghancurkan elitisme dan menjebol kebudayaan tinggi Yahudi yang eklusif berpusatkan pada Bait Suci. Terbelahnya Bait Suci yang menjadi pusat budaya tinggi yang tertutup menjadi lambang bahwa kehadiran Yesus adalah seperti kehadiran budaya populer yang hadir untuk semua kelas dan seluruh kalangan, bagi kaum jelata maupun kelas elit. Terbelahnya Bait Suci adalah tanda yang menegaskan bahwa kehadiran Yesus sungguh menciptakan ruang kebudayaan yang luas, universal, dan anti ketertutupan seperti yang selama itu disuguhkan oleh kebudayaan Bait Suci yang meminggirkan dan hanya dikuasai oleh elit ahli-ahli agama saja.

Tetapi di balik sikap-Nya itu, Yesus tidak hanya menyerang budaya tinggi darin kalangan Yahudi, melainkan juga mengkritisi dan membarui budaya jelata yang sering anut grubyug dan apatis. Yesus yang tinggal di tengah masyarakat jelata dan berasal dari kalangan rakyat, di dalam identitasnya sebagai anak Yusuf, sebagai tukang kayu juga mengkritisi budaya jelata di Nazaret (Matius 13:53-58).

D.3 Semangat Injil III : Nilai-nilai Kebenaran yang Memerdekakan (Yoh. 8:30-36)
Semangat Injil berpusatkan kepada nilai-nilai kebenaran yang memerdekakan. Nilai kebenaran Yesus memerdekakan bagi mereka yang diresapi nilai-nilai yang diajarkan-Nya. Nilai-nilai yang diajarkan Yesus itu sungguh luas, mendalam, serta tidak bisa diterapkan dalam aturan yang mati . Sabda Yesus mengemukakan suatu model kelakuan hidup yang kebenarannya selalu aktual dalam makna hidup manusia sepanjang masa. Nilai kebenaran Yesus tidak hanya formalitas menunjukkan moralitas yang kaku, tetapi merasuk dalam dimensi kehidupan informal, dalam keseharian, dan merambah ke seluruh ruang kehidupan sehari-hari manusia.

Nilai kebenaran yang diajarkan dan dilakukan Yesus berbeda dari kebenaran yang diajarkan dan dilaksanakan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena apa yang mereka lakukan membebani kehidupan (Matius 23:1-36). Moralitas orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sebagai moralitas yang picik dan munafik serta mencelakai dibongkar oleh Yesus. Yesus membongkar itu semua dengan nilai-nilai yang diajarkan dan dilakukan-Nya. Yesus menyatakan nilai-nilai baru dalam jiwa dan semangat perjuangan-Nya. Yesus menawarkan semangat baru dengan mendekatkan Allah kepada manusia dengan memanggil Allah sebagai Abba-Nya. Nilai-nilai Yesus yang memerdekakan merasuk dalam dimensi ruang yang sangat fleksibel dan dalam kebebasan, seperti gerakan budaya populer yang. Gerakan Yesus memberitakan nilai-nilai dan semangat kehidupan yang baru secara efektif dilakukan di dalam cara yang begitu bebas, tidak terikat oleh aturan-aturan seperti yang dilestarikan oleh para ahli agama yang berpusat di Bait Suci. Pergerakan Yesus begitu luas, tidak terpusat pada satu tempat, tetapi menjangkau berbagai wilayah geografi, serta menjangkau berbagai kawasan hati.

Nilai kebenaran Yesus yang memerdekakan itu, sungguhlah memerdekakan seperti terjadi membebaskan Zakheus dari beban batin karena menghisap uang rakyat. Memerdekakan Petrus dari tekanan kesalahan. Nilai kebenaran Yesus yang memerdekakan itu memang berintikan kebebasan yang sifatnya rohaniah. Nilai kebenaran Yesus yang memerdekakan itu penuh pengampunan dan nilai cinta kasih konkret yang menjadi hasrat dasariah manusia.

Pada bagian ini kita bisa menyimpulkan soal budaya populer yang menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang tidak moralis dan anti represi semangatnya juga terkandung di dalam Injil. Di dalam semangat kebenaran Yesus yang memerdekakan, yang tidak moralis seperti ahli-ahli Taurat, nilai-nilai kebenaran Yesus bisa menjadi sarana bagi kita Gereja untuk melihat budaya populer dalam semangat yang lebih baik dan juga kritis.

D.3 Semangat Injil IV : Ketika Allah Menjadi Manusia, yang Global Menjadi Lokal
Proses migransi sebenarnya mendapatkan tempatnya yang pokok di dalam Injil. Proses migransi yang di dalamnya berisikan perpaduan timbal balik antara yang universal dengan yang lokal atau partikular adalah dasar dari keberadaan Injil Yesus Kristus. Mengapa demikian? Sebab di dalam inkarnasi Allah atau inkarnasi Sabda Allah di dalam Yesus (Yohanes 1: 1-14), kita menjumpai proses migransi kehadiran Yesus. Sabda Allah yang universal masuk dalam lokalitas dan partikularitas kemanusiaan Yesus, tetapi Yesus sendiri tidak terperangkap dalam lokalitas keyahudian-Nya, karena Dia bergerak bebas di dalam mewujudkan Kerajaan Allah, serta tak terbatas oleh ruang dan waktu melalui kehadiran Roh-Nya (bdk. Lukas 4: 18-19). Dalam bahasa Niebuhr, Yesus adalah as man living God and God living men . Yesus adalah wujud migransi, perpaduan dari Allah yang universal ke dalam manusia yang partikular dan berdimensi lokal, sekaligus merupakan manusia dalam wujud-Nya yang partikular tetapi kehadiran-Nya mempengaruhi universalitas semesta. Yesus, sebagai pusat dari Injil adalah bahasa Sabda Allah yang universal di tengah kebudayaan dengan bahasa yang partikular di dalam lokalitas lingkungan geografi dan kebudayaan Yahudi. Yesus adalah wujud kontekstual kehadiran Allah dalam totalitas manusia di tengah kebudayaan lokal Yahudi atau Israel maupun kebudayaan Greco-Roman yang melingkupi konteks kebudayaan Israel pada masa itu.

Karya Yesus pun juga sangat menjelaskan adanya migransi antara pengaruh Yesus yang di penuhi semangat dan nilai universal dengan nilai lokalitas baik di Galilea, di Samaria di tengah perjumpaan-Nya dengan perempuan Samaria, maupun dalam lokalitas di Yerusalem di dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus maupun dengan para murid-Nya. Nilai universalitas Yesus diolah di tengah partikularitas pemikiran murid-murid-Nya maupun orang-orang yang berjumpa dengan-Nya di dalam proses migransi yang tidak sekejap. Proses migransi di dalam peristiwa Yesus selain ditunjukkan oleh inkarnasi Sabda Allah (menurut Injil Yohanes) menjadi manusia, sebaliknya juga ditunjukkan bagaimana Yesus yang partikular sebagai manusia itu, kembali kepada kodrat-Nya yang universalitas tatkala sebagai manusia Ia naik ke sorga. Proses migransi juga ditunjukkan kehadiran dan peran Roh Kudus yang membawa nilai universalitas dan nilai yang menembus batas-batas kebudayaan (nilai global) berkarya di dalam diri murid-murid-Nya yang hadir di dalam partikularitas kemanusiaan serta di dalam lokalitas kebudayaan dan geografis di mana mereka berkarya.

E. Kesimpulan: Perlunya Menemukan Kehadiran Yesus di dalam Budaya Populer
Hari ini kita tidak lagi berjumpa dengan Yesus yang badani. Tetapi Roh Kristus senantiasa bekerja melalui beragam cara. Jika kita mengenali kehadiran nilai-nilai kehidupan yang memerdekakan yang dibawa Roh Kristus di dalam budaya populer, budaya populer bisa menjadi alternatif tumbuhnya spiritualitas baru yang lebih universal di tengah kekeringan spiritualitas yang terjadi di sekitar Gereja. Mungkin juga di dalam Gereja budaya populer bisa menjadi sarana religiositas Kristiani. Terlebih di dunia yang semakin sekuler bisa menjadi sarana spiritualitas baru. Budaya populer menjadi sarana virtual untuk membangun hidup beriman di dalam terang Injil. Melalui studi ini ada beberapa pokok penting soal hubungan antara budaya populer dengan semangat Yesus Kristus yang bisa dikemukakan. Walau mungkin bangunan teologi untuk menyambungkan benang merah kehadiran budaya populer dengan semangat Injil Yesus Kristus di sini masih perlu lebih di dalami lagi, tetapi sudah dapat kita temukan beberapa kesamaan antara esensi budaya populer dengan semangat Injil, seperti yang bisa kita simpulkan di dalam skema Tabel 1. berikut ini:

Tabel 1. Titik Temu Budaya Populer dengan Injil Yesus Kristus
Budaya Populer Injil Yesus Kristus
1. Budaya Populer adalah budaya yang digemari banyak massa.

2. Budaya Populer lahir membawa semangat egaliter.

3. Budaya populer hadir sebagai kritik dan altrernatif terhadap budaya tinggi dan budaya jelata.

4. Budaya populer membawa nilai kebebasan, anti kemapanan, dan tidak moralistik.

5. Budaya populer yang anti represi dan anti hierarkhi.

6. Budaya populer menembus batas-batas geografis, batas-batas primordial dan kelas-kelas sosial.

7. Budaya populer mengabaikan nilai keseriusan dan formalitas. 1. Kehadiran Yesus dikagumi banyak orang

2. Yesus hadir membangun kasih dan kesetaraan di antara manusia (Matius 6:12).

3. Keberadaan Yesus yang mendobrak kebudayaan elit di Bait Suci dan mengkritisi budaya jelata di Nazaret.
4. Tindakan Yesus yang melucuti kemunafikan dan keluar dari formalitas para guru-guru agama serta tindakan-Nya melanggar Sabat untuk kepetingan kemanusiaan yang lebih pokok.
5. Yesus tidak mau tunduk kepada aturan para ahli agama dan orang Farisi yang menjadi elit di Bait Suci.
6. Yesus melalui daerah Samaria yang terlarang bagi orang Yahudi untuk melaluinya, Yesus berkomunikasi dengan perempuan Samaria, dengan perempuan Kanaan. Yesus bicara dengan Zakheus orang kaya pemungut cukai, bicara dengan Nikodemus dari kalangan bangsawan Farisi, tetapi juga dengan orang-orang berdosa dan orang-orang sait kusta.
7. Yesus duduk makan dengan orang berdosa. Yesus santai membiarkan murid-murid-Nya yang lapar memetik gandum pada hari Sabat.

Mungkin bangunan teologi untuk menyambungkan benang merah kehadiran budaya populer dengan semangat Injil Yesus Kristus di sini masih perlu lebih di dalami lagi. Kiranya tulisan ini dapat menjadi refleksi bagi Gereja untuk meniinjau kehadiran budaya populer dengan lebih positif.

Tentang upaya seacam ini kita bisa mengacu kepada Romanowski

Dalam tinjauan Injil Yesus Kristus semacam ini semoga Gereja menemukan pentingnya keberadaan budaya populer serta dapat memanfaatkannya untuk berkiprah di tengah massa zaman ini.

Daftar Pustaka
Beaudion, Tom. 1998. Virtual Faith: The Irreverent Spiritual Quest of Generation X. San Francisco: Jossey Bass.

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Darmawijaya, St. 1992. Jiwa dan Semangat Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius-Lembaga Biblika Indonesia.

Jacobs, Tom (ed.). 1986. Yesus Kristus Pusat Teologi. Yogyakarta: Kanisius.

Jurriens, Edwin. 2006. Ekspresi Lokal dalam Fenomena Global: Safari Budaya dan Migransi. Jakarta: LP3ES-KITLV

Niebuhr, H. Richard.1956. Christ and Culture. New York: Harper Torchbooks.

Romanowski, William D. 2007. Eyes Wide Open: Looking for God in Popular Culture. Michigan: Brazos Press.

Strinati, Dominic. 2004. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Bentang.
Lewat diskusi Mata Kuliah Teologi dan Budaya Populer dan banyak hal yang diterangkan oleh pengampu mata kuliah ini selama satu semester, saya menemukan kesimpulan ini. Walau memang perdebatan soal dampak budaya populer yang negatif di sana-sini masih merupakan perdebatan yang menarik, namun secara kritis bahwa budaya populer juga mampu menghasilkan hal yang positif patut dihargai.
Meski di sisi lain, di dalam produk-produk budaya populer tertentu yang murahan dan tidak bermutu, juga terkandung nilai-nilai yang memang negatif dan reduksionis.
Yang dimaksudkan Gereja di sini adalah Gereja yang melingkupi konteks kehidupan penulis, yaitu Gereja di Indonesia yang secara lebih khusus adalah Gereja yang dikenal oleh penulis, termasuk mungkin Gereja asal penulis sendiri. Namun istilah Gereja di sini tetaplah tidak boleh digeneralisasi, melainkan menyangkut Gereja-gereja atau kelompok-kelompok Kristen yang pada dasarnya memiliki doktrin yang melawan kehadiran budaya popular. Dan selanjutnya yang disebutkan sebagai Gereja pada makalah ini mengacu kepada pengertian ini.
Lihat Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, (Yogyakarta: 2002), hal. 210.
Para idiolog Marxian di dalam mazhab Frankfurt seperti Adorno memandang budaya populer sebagai semata-mata komoditas yang memicu konsumerisme, menyebarkan kapitalisme, dan menjadi candu budaya belaka. Lihat Dominic Strinati, Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, (Yogyakarta: 2004), hal.56-95.
Tentang ini lihat …., Pelecehan Spiritual,
Hal ini bisa dibandingkan dengan kisah di dalam Matius 12: 22-37 tentang perdebatan soal kuasa Yesus yang menurut orang Farisi berasal dari Beelzebul.
Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, (Yogyakarta: 2002), hal. 204.
Ibid., hal. 124-129.
Dominic Strinati, Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, (Yogyakarta: 2004), hal. 194.
Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, (Yogyakarta: 2002), hal. 51.
Lihat Yahya Wijaya, Perdebatan Akademis tentang Budaya Populer, Materi Kuliah Teologi dan Budaya Populer PPST UKDW Semester Genap 2007/2008.
Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, (Yogyakarta: 2002), hal 246.
Ibid., hal 222-223.
Pertanyaan soal muatan dari budaya populer sehingga ia membentuk penerimaan masyarakat yang luas juga disinggung oleh Hikmat Budiman. Ibid., hal. 52.
William D. Romanowski, Eyes Wide Open: Looking for God in Popular Culture, (Michigan: 2007), p. 122.
Lihat Yahya Wijaya, Perdebatan Akademis tentang Budaya Populer, Materi Kuliah Teologi dan Budaya Populer, PPST UKDW Semester Genap 2007/2008.
Paling tidak sampai saat ini saya sendiri masih sangat menggemari kartun cerdas ini, walaupun tidak bisa setiap mingggu menontonnya di televisi.
Yahya Wijaya menyatakan bahwa karya seni populer sebagai teks dari budaya popular adalah sarana yang vital dari komunikasi budaya karena menyatakan keutamaan cinta, nilai-nilai demokrasi, dan gagasan egalitarian seperti dalam film Titanic, Notting Hill, Platoon. Lihat: Yahya Wijaya, Karya Seni Populer, Materi Kuliah Teologi dan Budaya Populer PPST UKDW Semester Genap 2007/2008.
Edwin Jurriens, Ekspresi Lokal dalam Fenomena Global: Safari Budaya dan Migransi, (Jakarta: 2006), hal. 2.
Di sini bukannya saya hendak melihat nostalgia keberhasilan masa lampau yang mungkin sudah menjadi arkaisme. Tetapi contoh migransi model Sadrach dan Coolen dalam melakukan kontekstualisasi menurut pemahaman saya hingga kini belum ada yang berhasil menyaingi di kalangan Protestan, walau mungkin saja dalam konteks yang kecil-kecil sekarang sudah ada Gereja yang berhasil melakukannya.
Yang dimaksudkan universal di sini adalah bahwa Sadrach dan Coolen bicara tentang Kristus yang sebelumnya sudah dikenal oleh kalangan lain sesuai pengetahuan pada zamannya, baik menurut pengetahuan yang populer di kalangan Islam maupun Jawa yang kemudian mereka olah dengan menyambungkan pengetahuan khas Kristen dengan kebudayaan setempat.
H. Richard Niebuhr, Christ and Culture, (New York: 1956), p. 33.

Lihat B. Kieser, SJ. Perjanjian Baru –Apakah Membina Akhlak Umat Kristen? dalam Tom Jacobs (ed.), Yesus Kristus Pusat Teologi, (Yogyakarta: 1986), hal 81. Bagian ini juga berkenaan dengan sifat budaya popular yang tidak moralistis namun
H. Richard Niebuhr, Christ and Culture, (New York: 1956), p. 29.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress