FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

December 28, 2008

TRAGEDY of COMPROMISE (Terjemahan buku)

Filed under: Artikel — admin @ 6:54 pm

PENDAHULUAN
oleh: Ernest D. Pickering, terjemahan: Hasan Karman, MM
akan ditampilkan lanjutannya di bulan Januari 2009

*Penerjemah Hasan Karman, MM (sekarang Walikota Singkawang)*

Dikatakan bahwa politik adalah “seni kompromi yang tinggi.” Mungkin ini
benar dalam hal politik pragmatis, tetapi jelas tidak mungkin diterapkan di
dalam theologi Kristen. Dahulu sejarah The *National Association of
Evangelicals* (NAE/Persatuan Injili Nasional) menyandang semboyan, Kerjasama
Tanpa Kompromi. Walau tidak banyak yang akan membantah ketepatan kata
pertama yang digunakan untuk menggambarkan NAE, namun banyak pertanyaan
serius akan muncul berkenaan dua kata yang terakhir.

Ada saat-saat kompromi merupakan hal yang bijak dan baik. Dalam pergaulan
hidup sehari-hari, ada saat-saat ketika individu-individu atau
kelompok-kelompok harus keluar dari sikap yang lebih ekstrim ke sikap yang
lebih moderat. Suami dan isteri kadang-kadang harus saling mengalah.
Komisi-komisi yang berusaha memecahkan masalah dan menentukan tujuan harus
menerima persyaratan bersama. Orang-orang yang beritikad baik harus belajar
untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi demi mencapai pemecahan yang
dapat diterima bersama. Kompromi seperti ini adalah benar dan baik dan
memperluas hubungan yang lebih harmonis antara sesama manusia. Dengan kata
lain, tidak semua kompromi itu jahat.

Di lain pihak, ada kebenaran-kebenaran, keyakinan dan sikap-sikap tertentu
yang tidak bisa dikompromikan. Martin Luther, ketika ditekan oleh
musuh-musuh politis dan gerejawinya dengan tegas menolak untuk mengubah
tulisannya dan berkata kepada lawan-lawannya, “Disinilah aku berdiri; Aku
tidak bisa berbuat lain.” Athanasius, pembela keillahian Kristus yang
sempurna dalam menghadapi kaum Arian yang menentangnya, diperingatkan oleh
seorang rekannya, “Seluruh dunia menentang engkau.” Athanasius menjawab,
“Kalau begitu aku akan melawan seluruh dunia.” Tidak ada kata kompromi
baginya berkenaan dengan masalah yang demikian krusial itu.

Kompromi mengenai masalah-masalah keyakinan Kristen yang vital secara
bertahap dapat membuat pribadi, gereja, atau institusi keluar dari
pengajaran Firman Allah yang sehat. Injili Baru telah menjadi suara wanita
penggoda yang menarik orang keluar dari jalan alkitabiah yang lurus menuju
goncangan kehancuran rohani.

*W.B. Riley*, pemimpin fundamentalis terkemuka dan gembala yang lama
melayani di *First Baptist Church of Minneapolis*, ketika membahas orang
Yebus, orang Hewi, orang Amalek, dan berbagai kaum yang lain, memperingatkan
bahwa yang paling berbahaya adalah “kaum yang di tengah-tengah.” Kelompok
ini merupakan orang-orang yang tidak mau memihak dan tetap bersahabat dengan
semua pihak. *Dr. Bob Jones, Sr*., menyamakan mereka dengan orang yang pada
masa Perang Saudara (di Amerika) berusaha menyelamatkan jiwanya dengan
memakai baju Konfederasi dan celana Union. Kaum Yankee menembak pada baju
mereka, sedangkan kaum Pemberontak menembak di bagian celana mereka. Tidak
ada kemenangan di dalam kekalahan. Tidak ada pemihakan pada kompromi.

Dalam buku ini, selain tidak ragu-ragu untuk menyebut nama, kami juga
mengutamakan pembahasan prinsip. Nama-nama bisa berubah, dan pemimpin datang
dan pergi, namun prinsip tetap sama.

Jelas dalam membahas masalah-masalah yang ada di hadapan kita, akan timbul
ketidaksepakatan di antara kaum fundamentalis mengenai beberapa hal
penafsiran. Namun meskipun ada ketidaksepakatan demikian, kaum fundamentalis
sejati harus bersatu dalam bersikap menghadapi pengajaran Injili Baru yang
tidak alkitabiah.

Ada yang mempertanyakan kelayakan sikap yang secara terbuka menentang
kepercayaan dan praktek para sahabat seiman. Tetapi hal tersebut adalah
preseden yang baik. Ketika Petrus, pemimpin besar gereja mula-mula, cacat
dalam doktrin dan prakteknya, Rasul Paulus berkata, “… aku berterus-terang
menentangnya, sebab ia salah” (Gal. 2: 11). Inilah saatnya untuk menghadapi
orang-orang percaya yang sedang menyimpang dari kebenaran. Waktunya adalah
sekarang.

Saya sangat berutang kepada isteri saya, Yvonne, karena menghabiskan waktu
yang lama untuk menyunting, merevisi, dan mereproduksi naskah akhir buku
ini. Dukungannya yang tiada henti merupakan pertolongan besar bagi saya.
Penghargaan juga saya sampaikan kepada Ny. Dennis Whitehead, mantan
sekretaris saya, yang mengetik draft yang pertama. Putera saya, Lloyd,
‘jagoan komputer’ dalam keluarga, yang sangat membantu dalam hal-hal teknis.
Juga banyak terima kasih kepada staff terlatih di Bob Jones University Press
dengan pekerjaan hebat dalam publikasi akhir buku ini.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress