Antara Reality Show Televisi dan Real Christianity
by: Rony C. Kristanto, M.Th
Tersungkur, berteriak histeris sambil meneteskan air mata dan terkadang sampai pingsan. Kehebohan apa yang sedang terjadi? Mungkin beberapa waktu yang lalu kita pernah menyaksikan kejadian tadi dalam sebuah acara reality show di layar televisi. Dalam tayangan itu sengaja dipilih orang-orang sederhana mulai dari pengayuh becak, penjaja asongan, penjual koran, hingga buruh cuci serabutan. Mereka adalah orang-orang yang menjalani keseharian hidupnya dengan aktivitas itu-itu saja.
Pada kesempatan tertentu mungkin pernah terbersit dalam impian mereka untuk menikmati berbagai kenyamanan hidup yang selama ini hanya bisa mereka saksikan melalui layar televisi ataupun di perumahan elit yang mengepung perkampungan kumuh tempat mereka tinggal. Ataupun keinginan memiliki setumpuk uang yang memudahkan mereka membeli kebutuhan hidup sehari-hari dan mungkin beberapa peralatan elektronik yang bisa memudahkan dan menghibur hidup mereka, atau mungkin sekedar sebagai peningkat gengsi penanda status sosial.
Bagaimana kalau angan dan impian tadi menjadi kenyataan? Ya, kehebohan seperti yang saya sebutkan di atas itulah yang biasanya mengisi episode demi episode tayangan tersebut. Bagaimana tidak heboh kalau biasanya hanya memegang uang beberapa lembar ribuan atau puluhan ribu saja, kini mereka disodori setumpuk uang bernilai total sepuluh juta rupiah. Belum juga selesai terkaget dengan kejutan itu, mereka diminta segera membelanjakan uang itu sampai habis dalam waktu tigapuluh menit.
Dengan tergopoh mereka berlarian menuju pasar atau swalayan terdekat, membeli bermacam barang yang selama ini sekedar hadir dalam impian. Ada yang segera membeli sepeda motor, kulkas, televisi, kipas angin, radio tape, perhiasan emas, baju, beberapa bahkan membeli beras, gula, mie instan dan rokok, ada juga yang membeli sandal dan beberapa barang lain yang mungkin terlihat tidak terlalu berharga, tapi bisa jadi itu yang terpendam dalam hasrat mereka selama ini. Biasanya selesai berbelanja maka tangis keharuanlah yang meliputi mereka, tak jarang diikuti sujud syukur dan pelukan serta ucapan terima kasih tiada henti kepada si pembawa acara yang tampil dengan samaran kostum serba hitam itu.
Menerima kejutan memang bisa memuncukan beragam tanggapan apalagi bagi mereka yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Seperti itu juga rupanya kisah dan pengalaman para gembala yang dituturkan oleh penulis Injil Lukas dalam Lukas 2: 8-20. Dalam Ensiklopedi Perjanjian Baru, Xavier Leon-Dufour menuturkan bahwa “semasa kehidupan Yesus, para gembala termasuk masyarakat yang paling sederhana; mereka tidak mengenal dan tidak mempraktekkan Hukum” (Kanisius, 1993: 239). Selain menduduki strata bawah secara sosial, bisa jadi mereka juga termasuk orang yang tidak berpendidikan, karena ‘tidak mempraktekkan Hukum’ juga bisa bermakna tidak mengenal ilmu dan tradisi agama dengan baik.
Para gembala juga lebih sering hidup dengan ternak-ternaknya di luar kota daripada berjumpa dengan manusia lain yang ada dalam lingkup kota. Mereka menjalani keseharian hidupnya dengan ternak, padang rumput, ancaman binatang liar, serta petikan kecapi yang mengiringi rutinitas kesehariannya. Hidupnya biasa-biasa saja, jauh dari istimewa, hingga sering mereka tidak diterima sebagaimana mestinya.
Di tengah keseharian dan kesederhanaan hidup itu, kejutan datang dalam hidup mereka. Bukan reality show yang menawarkan segepok uang, tetapi “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka” (Luk 2:9). Kalau sorotan kamera dan tawaran uang sepuluh juta bisa menimbulkan kehebohan sedemikian, bagaimana kalau dengan kunjungan malaikat? Rupanya Kitab Suci mencatat bahwa “mereka sangat ketakutan” (Luk 2:9). Sebuah respon yang wajar, karena bisa jadi selama ini yang mereka jumpai dan ajak berkomunikasi hanyalah domba gembalaan saja.
Malaikat yang melihat respon ketakutan para gembala rupanya kembali menyapa untuk meneduhkan mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:10-11). Mungkin sambil mencubit lengannya dan mengusap-usap kedua matanya, para gembala ini masih meragukan yang mereka dengar dan lihat. Belum hilang keterkejutannya akan kehadiran malaikat, tiba-tiba ada berita mengenai: kesukaan besar, Juruselamat, Kristus, Tuhan. Breaking News!
Namun, kalimat selanjutnya dari berita malaikat itu mungkin menimbulkan tanda tanya dan keraguan besar di benak mereka. Karena malaikat kemudian berkata kepada para gembala “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12). Ah, yang benar saja, penyampai beritanya saja istimewa, bahkan sampai membuat ketakutan hingga mungkin terkencing di celana, beritanya juga luar biasa tentang kesukaan besar, bukan hanya bagi para gembala, tapi bahkan bagi seluruh bangsa. Lha kok tandanya hanya bayi yang dibungkus lampin dan dibaringkan dalam palungan? Para gembala mungkin saja menggumam dalam logat Semarangan “kami memang bodo dan miskin, tapi kalau mau menipu mbok yang rada masuk akal, pembukaannya saja keren mosok tandanya cuma bayi, lampin dan palungan, koq yo ono-ono wae.”
Mungkin untuk menjawab keraguan tadi, malaikat merasa perlu memberi kejutan lagi bagi para gembala “Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” “ (Luk 2:13-14). Tapi apa istimewanya bayi, lampin dan palungan. Bayi bisa lahir kapan saja dan di mana saja, lampin juga bisa dibeli oleh siapa saja, sedangkan palungan tiap hari ada di depan mata mereka dan mengenai baunya, uughh, lebih baik cepat-cepat tutup hidung bagi yang tidak terbiasa. Coba saja kalau bayi itu dibungkus kain sutra, dalam istana penguasa, dan dibaringkan di atas ranjang berhias permata. Penanda itu akan memudahkan siapa saja untuk percaya bahwa yang lahir itu bukanlah bayi biasa, setidaknya orangtuanya pastilah dari kalangan berada.
Tapi rupanya para gembala tidaklah seperti dalam imajinasi saya. Mereka memiliki respon yang berbeda, alih-alih mengabaikan berita dan tanda itu, “…gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk 2: 15). Mereka bukanlah jenis manusia yang mau mudahnya saja, tapi berani mencoba dan menguji tawaran yang datang dan disodorkan. Keraguan mungkin saja meliputi, namun hasrat keingintahuan yang besar (curiosity) mengalahkan gelayut tanda tanya di benak dan batin mereka. “Ayo ke Betlehem!”
Dengan bergegas mereka berangkat “Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk 2:17). Ah, rupanya tidak percuma mereka menempuh perjalanan mencari pembuktian. Meskipun semua orang, kecuali Maria, hanya bisa heran, entah takjub atau sekedar bengong, mendengar cerita mereka. Para gembala tidak lantas bertanya keuntungan apa yang akan kami terima? Jabatan apa yang akan kami sandang? Atau fasilitas apa yang bisa kami nikmati? Tetapi, malahan mereka pulang “sambil memuji dan memuliakan Allah” (Luk 2: 20) bukan karena mengantongi sekerat permata, tapi “karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” (Luk 2: 20). Pujian yang mengalun dari hati lantaran ada kesetiaan yang teruji. Inilah Real Christianity (kekristenan sejati) dan bukan sekedar Reality Show televisi!
diambil dari: blogspot pribadi penulis
TEOLOGI