FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

January 14, 2009

PENGARUH PIETISME TERHADAP PERKEMBANGAN KEHIDUPAN BERGEREJA

Filed under: Agama dan Masyarakat, Sejarah — admin @ 10:18 pm

Kristien R.W.

I.PENDAHULUAN
Dalam sejarah perkembangan gereja, gerakan Pietisme sangat berpengaruh dalam masuknya Injil ke Indonesia. Tak dapat dipungkiri pula bahwa gerakan ini juga mempengaruhi cara orang Kristen menafsirkan ibadah mereka.
Pietisme pertama-tama muncul sebagai reaksi atas Ortodoksi yang terlalu menekankan akal dalam mempelajari agama sedangkan orang-orang Pietis berpendapat bahwa beragama bukanlah tentang pengetahuan akan Allah, melainkan pengetahuan akan bagaimana hidup untuk Allah. Ortodoksi terlalu mementingkan anugerah sehingga mengabaikan etika. Kehidupan para pemuka agama dan pejabat pemerintah sangat buruk. Kemiskinan dan kekacauan melanda akibat perang agama. Kaum Pietis tergerak untuk mengubaha keadaan.
Pietisme berasal dari kata pius atau pietas yang artinya saleh. Pietisme berarti gerakan atau paham atau aliran kesalehan.Pada mulanya istilah Pietis adalah bentuk ejekan bagi orang-orang yang terhimpun dalam gerakan ini. Mereka berusaha memperbaiki kemerosotan moral yang terjadi pada masa itu dengan membentuk kelompok-kelompok yang membangun.
Pietisme sebenarnya bukan merupakan gerakan yang baru sama sekali. Gerakan-gerakan yang mengilhami lahirnya Pietisme di antaranya Gerakan Pembaharuan di Perancis, gerakan-gerakan penentang skolastik. Gerakan Pembaharuan merupakan gerakan yang menentang sekularisasi gereja. Selain dari kedua gerakan tersebut, ada juga gerakan pietisme yang terjadi dalam Gereja Roma Katolik.

II. GERAKAN PIETISME
Setelah Reformasi pecah, Eropa dilanda pertentangan-pertentangan. Semula, pertentangan-pertentangan itu adalah pertentangan agama, tetapi kemudian berubah arah menjadi pertentangan politik. Eropa bergejolak dengan perang yang luas yang mengakibatkan kekacauan yang besar. Kemiskinan dan kemerosatan moral merajalela. Gereja Reformasi yang dipelopori Luther menjadi kacau balau karena gereja ini sangat bergantung dengan pemerintah. Para pegawai pemerintah memanfaatkan jabatan mereka untuk kepentinga mereka sendiri. Disiplin gereja tidak berlaku bagi mereka. Para pendeta melakukan hal-hal yang tidak pantas mereka lakukan, misalnya menjadi polisi rahasia atau menjadi pegawai pemerintah. Keadaan ini menimbulkan kerinduan masyarakat akan kehidupan yang saleh, bermoral, lahir baru, hidup dalam pertobatan, dan sebagainya (Hale, p.7).
Gerakan Pietisme muncul di Jerman di mana Lutheran berkembang, dan bukan di wilayah-wilayah di mana Calvinisme berpengaruh. Sebabnya ialah di gereja-gereja yang dipengaruhi oleh Calvinisme, kesalehan dan disiplin tumbuh baik dalam kehidupan beragama maupun kehidupan pemerintahan, sedangkan di gereja-gereja Lutheran hal seperti itu tidak tumbuh. Ini disebabkan oleh gereja yang dikuasai oleh para raja, sedangkan para pendeta sibuk dengan kehidupan keluarganya. Selain kehidupan para pegawai pemerintah yang seenaknya, para pemuka gereja sibuk dengan dogma masing-masing aliran. Aliran yang satu menyerang aliran yang lain. Sementara itu rasionalisme dan sekularisme dirasa mengancam kehidupan beragama. Menyikapi hal ini, muncullah gerakan Pietisme di Jerman. Di Inggris dan Amerika, gerakan semacam ini dikenal dengan Revival. Maksud dari gerakan ini adalah dihidupkannya kembali keadaan gereja yang menurut mereka pada waktu itu telah mati.
Kaum Pietis menganggap apa yang dilakukan oleh gereja hanyalah berkutat soal dogma dan teologia pada saat itu. Teologia yang berkembang pada saat itu mendasarkan pada akal atau pikiran manusia semata. Mereka menilai bahwa gereja dan teologia tidak dapat menjawab kritik dari Pencerahan yang lebih mengandalkan akal budi dan merasionalkan segala sesuatu. Selain itu gereja juga tidak lagi memenuhi panggilannya sepenuhnya. Gereja tidak mengajarkan perlunya menghayati iman kristen dan perlunya jemaat terlibat dalam pekerjaan gerejani. Karena itu banyak orang yang tidak menyukai keadan ini dan berusaha untuk menghidpkan kembali gereja.
Gerakan Pietisme pertama kali dimulai sekitar tahun 1675. Hal-hal yang dilakukan mereka antara lain penghayatan kesalehan peroranganyang menekankan pada pertobatan yang sungguh-sungguh. Setelah itu, orang itu harus membuktikannya dengan sungguh-sungguh imannya itu dalam kehidupan sehari-hari. Ciri-ciri Pietisme menurut Hartono adalah sebagai berikut:
a. Kegemaran beraskese
b. Hidup dalam moralisme
c. Kuat mengharapkan akhir zaman
d. Bersikap separatis.
Sedangkan menurut Gerdes (dalam Hale, p.13-17), ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Natura Pietatis yang beranggapan bahwa sifat dasar manusia dapat mnnjadi baik, karena itu kelahiran baru adalah sebuah proses di mana antara manusia lama dan baru saling bergumul.
b. Collegia Pietatis: hakikat kekristenan adalah hubungan pribadi antara individu dengan Allah.
c. Praksis Pietatis: menekankan hal-hal yang praktis dalam kehidupan yaitu kebenaran hidup orang-orang kristen. Mereka tidak mementingkan kemurnian doktrin atau dogma, tetapi etika.
d. Reformatio Pietatis: menurut mereka, reformasi yang dilakukan oleh Luther belumlah selesai, karena itu perlu diadakan Reformasi kedua, yaitu pembaharuan kehidupan. Pembaharuan ini seharusnya tidak hanya di dalam Gereja saja tetapi seharusnya mempengaruhi dunia juga. Pembaharuan yang dimaksud adalah pembaharuan moral, karena menurut mereka, dunia kurang bermoral.

1. Aliran-aliran Pietisme
Tokoh-tokoh Pietisme sangat mempengaruhi perkembangan Pietisme itu sendiri. Mereka memberi corak tersendiri bagi warna aliran-aliran Pietisme itu. Berikut adalah aliran Pietisme dan tokoh-tokoh yang mempengaruhi corak atau warna aliran tersebut.
A. Pietisme Halle
Pietisme Halle sangat dipengaruhi oleh Spener meskipun Spener sendiri tidak menetap disana. Spener disebut sebagai Bapa Pietisme karena gagasan-gagasannya sangat mempengaruhi arah Pietisme. Pietisme a la Spener sangat dipengaruhi oleh kesalehan Kaum Puritan maupun Arndtian. John Arndt dalam ajarannya sangat menekankan pertobatan, hidup suci dan hidup dalam satu kesatuan dengan Kristus. Gagasan Spener tertuang dalam bukunya Pia Desideria yanga berisi kecaman-kecaman terhadap kondisi dalam gereja protestan yang kacau balau dan harapannya akan perbaikan gereja. Selain itu, ia juga mengusulkan pembaharuan dalam gereja dengan cara:
- Penggunaan Firman Allah secara ekstensif dimana ia mengusulkan supaya semua bagian Alkitab dikhotbahkan dan bukan hanya bagian-bagian tertenru saja.
- Imamat am orang percaya, artinyaseluruh jemaat adalah imam dan bukan hanya pendeta saja, tetapi fungsi ini ditekankan terutama dalam rumah tangga dan keluarganya sendiri.
- Iman harus dipraktekkan bukan hanya sebatas pengetahuan saja, terutama ditekankan pada hukum kasih.
- Sikap mengasihi juga ditunjukkan kepada orang-orang di luar jemaat, dan bukan menentang atau berdebat.
- Usulan untuk calon pendeta harus menekankan unsur kesalehan dan persiapan-persiapan praktis dalam penggembalaan, khotbah, membaca literatur tentang kesalehan, mistik, dan lain-lain, dan mereka harus berada dalam collegia pietatis untuk saling membangun.
- Alat-alat yang dipakai Allah seperti Firman Tuhan dan Sakramen harus terarah kepada batin manusia.
Dalam hal ini, Spener sebenarnya tidak bermaksud memisahkan diri dari Gereja, atau mendirikan gereja disamping gereja melalui collegia pietatis, melainkan supaya jemaatsaling memperbaiki dan menopang, meskipun kemudian terjadi juga perpecahan dalam jemaat pada akhirnya.
Berkaitan dengan Alkitab, Spener menentang sikap orang-orang Lutheran yang membaca Alkitab hanya untuk menambah pengetahuan saja. Ia mengatakan bahwa Alkitab tak dapat dipisahkan dari Roh Kudus, karena itu, sebelum membaca Alkitab orang seharusnya berdoa terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh supaya diberi Roh Kudus yang akan menolong orang untuk memahami isi Alkitab sesuai dengan kebutuhan orang itu.
Mengenai keselamatan, Spener menuliskan bahwa ordo salutis mempunyai sasaran pribadi. Karya penyelamatan bukanlah sekedar pembenaran, tetapi sebuah regenerasi. Karya penyelamatan Allah haruslah diterima dengan respon yang aktif, dan bukan dengan cara yang pasif seperti yang diajarkan oleh Ortodoksi. Artinya, Allah bertindak untuk menyelamatkan manusia, namun tidak berarti manusia hanya berdiam diri saja dan sudah diselamatkan, tetapi manusia itu harus merespon dengan tindakan ketaatan kepada Allah untuk hidup suci setiap hari.
Hal penting yang lain yang perlu diperhatikan adalah konsep Spener tentang eskatologi. Spener menggambarkan Gereje Lutheran sebagai keadaan yang sangat buruk dan karenanya harus dihukum. Alat penghukuman itu adalah gereja Romawi yang disamakan dengan Babel dalam Kitab Wahyu.
Selain Spener, tokoh dari Halle yang lain adalah August Herman Francke. Ia lahir dan besar di lingkungan Ortodoksi yang dan mempunyai pengetahuan yang baik tentang etis yang harus diwujudkan dalam masyarakat.
Francke meneruskan gagasan Spener. Sama seperti Spener, ia juga dipengaruhi oleh Arndt. Hal lain yang mempengaruhi Francke adalah mistik. Meskipun ia menolak mistik, ia terkesan dengan penelaahan mistik, misalnya tentang kerendahan hati, pemusatan pada Kristus, dan lain-lain.seperti alnya dengan Spener, ia juga belajar dari orang-orang Pietisme Puritan. Karenanya, pokok-pokok ajaran Francke menjadi sebagai berikut: pertobatan, penyesalan hati, dan lahir baru. Ia setuju dengan Luther bahwa hidup baru adalah anugerah Allah, tetapi ia juga berbicara tentang tanggung jawab manusia untuk meresponsnya dengan hidup menurut Kristus.
Perbedaan antara Francke dengan Spener adalah perlunya revisi seluruh sistem pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Untuk mewujudkannya, Francke memulai dari Halle sebagai percontohan. Untuk itu ia mendirikan “Sanatorium Selectum Praeceptorum” di mana calon guru dididik selama lima tahun. Selain itu ia mendirikan panti asuhan, menaruh minat pada pekabaran Injil, dan menginspirasi tercetaknya Alkitab murah sehingga dapat dimiliki oleh banyak orang.
B. Pietisme Herrnhut
Tokohnya adalah Nikolaus Ludwig von Zinzendorf. Ia sangat dipengaruhi oleh Pietisme Halle. Ia adalah murid dari lembaga-lembaga Francke di Halle. Selain itu, ia juga belajar hukum di Wittenberg yang merupakan pusat Ortodoksi Lutheran. Selain itu, ia juga belajar di Perancis dan Belanda.
Herrnhut artinya adalah perlindungan Tuhan. Nama ini diambil karena orang-orang Moravia yang melarikan diri dari penghambatan di negerinya ditampung oleh Zinzendorf di tempat ini. Kegiatan mereka antara lain meringkaskan khotbah dan kemudian mendiskusikannya, perjamuan kasih, mengambil keputusan dengan membuang undi, kebaktian fajar pada hari Paskah, berjaga sepanjang malam, dan juga mengabarkan Injil ke mana-mana, bahkan sampai ke benua Amerika (Hale, p.32)
Pietisme Herrnhut mempunyai gaya yang berbeda dari Pietisme Halle. Pietisme a la Zinzendorf tidak sistematis dan lebih menekankan perasaan dalam berteologi, karena menurutnya agama bukanlah memikirkan tentang Allah, tetapi mengalami Allah. Tetapi tidak berarti bahwa perasaan adalah satu-satunya kriteria beragama. Ia menekankan bahwa iman tidak didasarka pada perasaan, tetapi perasaanlah yang didasarkan pada iman.dan menurutnya, iman adalah percaya kepada Allah yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus berdasarkan pada Alkitab dan dibuktikan melaluipengalaman pribadi. Karena itu, ia menolak Pencerahan dan Ortodoksi.
Zinzendorf dituduh sebagai tokoh anti Trinitas karena penilaiannya yang berbeda dari tokoh lain. Ia melukiskan Trinitas dengan cara yang berbeda dengan sesuai dengan pengalamannya. Ia tidak bermaksud melukiskan Allah Secara ontologis, melainkan hanya berusaha mengkomunikasiskannya dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.
Perbedaan lain antara Pietisme Herrnhut dengan Pietisme Halle adalah tentang penyesalan. Pietisme Halle sangat menekankan pada penyesalan. Sedangkan Pietisme Herrnhut memandang pengalaman pertobatan adalah pengalaman sukacita yang membawa serta jaminan keselamatan. Zinzendorf memandang inti dari kekristenan adalah Kristus yang menebus dan bukan pertobatan manusia.
Pietisme Herrnhut inilah yang kemudian membawa pengaruh besar bagi dunia misi. Salah satunya terlihat dalam gerakan yang dipelopori oleh Wesley bersaudara.

C. Pietisme Wurtenberg
Pietisme Wurtenberg diilhami oleh Johann Andreas Hochstetter. Aliran ini merupakan gabungan antara Ortodoksi dan Pietisme.kelompok ini dimulai oleh beberapa dosen yang berkumpul untuk membahas Alkitab. Kelompok yang dinamakan Stift ini kemudia diikuti oleh banyak orang sehingga terjadi semacam kebangunan rohani disana.
Salah satu tokoh dari kelompok ini adalah Johann Albrecht Bengel. Ciri dari aliran ini adalah penekanan pada penyesalan dan hidup baru. Bedanya dari Pietisme Halle adalahtidak menekankan dosa manusia dengan berlebihan.
Sumbangan dari Bengel adalah kritik teks Alkitab. Ia melakukan kritik teks Alkitab sebagai suatu penghormatan terhadap Alkitab dan bukan sebaliknya. Ia ingin agar orang dapat mengerti Alkitab dengan lebih baik. Ia memakai eksegese dan kritik teks dalam pekerjaannya.

D. Pietisme Radikal
Pietisme Radikal banyak dipengaruhi oleh unsur mistik. Tokohnya adalah Gottfried Arnold. Arnold berpendapat bahwa teologi masa itu dibagi menjadi dua, yaitu:
- Pendekatan Aristotelian yang berpusat pada akal yang logis yang menurutnya pendekatan ini dibenci Tuhan karena tidak memberikan pengetahuan yang berarti, tetapi malah menimbulkan perdebatan.
- Teologi Mistik yang menekankan pada unsur pengalaman. Inipun tidak disetujuinya karena yang mengalami Tuhan hanya para teolog sedangkan para teolog itu menghabiskan waktu mereka dengan pertentangan-pertentangan.
Menurutnya, untuk menjadi teolog yang baik bukanlah dengan mempelajari ilmu-ilmu teologia murni, melainkan dengan keterbukaan terhadap kebenaran Allahyang datang kepada manusia lewat Alkitab dan contoh-contoh dari umat Allah. Menjadi Kristen artinya ia harus lahir baru dan hidup dalam kehidupan baru, yaitu hidup dalam kasih Allah yang dinyatakan dalam perbuatan baik kepada sesama manusia dan taat kepada hukum-hukum Tuhan.
Tokoh lain dari aliran ini adalah Gerhard Tersteegen. Ia dianggap radikal karena ia sangat menekankan pada mistik dan mengabaikan organisasi gereja. Meskipun demikian, ia dicintai banyak orang lain yang menilai kasihnya hangat.
Sisi mistik Tersteegen terlihat dari pandangannya bahwa inti agama adalah mengasihi Allah yang diekspresikan dengan mengasihi sesama manusia. Perbedannya dengan Arnold adalah bahwa ia tidak mengecam gereja tetapi menganjurkan orang untuk menjadi ragi melalui peran individu.

E. Neo Pietisme
Neo Pietisme berbeda dengan aliran Pietisme yang lain. Jika Pietisme yang lain menekankan pada mistik dan menolak pencerahan, maka Neo Pietisme mengakomodasikan diri dengan roh-roh pengajaran yang ada pada saat itu. Ciri-ciri Pietisme ini adalah:
- Melawan otonomi manusia dan menekankan wibawa Alkitab sebagai otoritas final bagi iman dan kehidupan manusia
- Melawan etik natural dan menekankan etik penyataan
- Melawan reduksi teologi Kristen oleh prinsip-prinsip akal dan mennekankan pada penyataan Alkitab tentang aktivitas Allah yang menyelamatkan.

III. Pengaruh Pietisme Terhadap Dunia
Gerakan Pietisme sangat mempengaruhi kehidupan bergereja pada zamannya. Gerakan ini di satu sisi memberi pengaruh positif, tetapi tak dapat dipungkiri ia juga memberri pengaruh negatif pada perkembangan gereja. Segi positif dari gerakan ini adalah munculnya kembali gairah bergereja. Tetapi di lain pihak ia membawa pengaruh separatisme. Ini dikarenakan adanya “ecclesiolae in ecclesia”, meskipun sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai gerakan separatis. Tujuan sebenarnya dimaksudkan agar orang-orang yang berdedikasi bekerja keras untuk menambahkan reformasi kehidupan pada reformasi doktrin. ( Hale, p 24 )
Pietisme ingin membawa gereja kepada kehidupan agama yang benar. Selain itu, pekerjaan misi mulai berkembang, bahkan sampai ke Amerika dan juga Asia. Indonesia pun menerima pengaruh ini dengan datangnya beberapa misionaris seperti Nommensen, Kam, Riddel, maupun Kruyt.
Selain berkembangnya misi, kaum Pietis juga mengembangkan sarana-sarana kemanusiaan, misalnya tempat-tempat pendidikan, panti asuhan, dan sarana penunjang pendidikan misalnya perpustakaan dan percetakan. Selain itu mereka mendirikan rumah sakit dan laboratorium.
Pietisme juga mempengaruhi gereja-gereja lain, misalnya di Inggris muncul gereja metodis yang dipelopori oleh John Wesley, dan di Amerika terjadi gerakan “the great awakening”. Berkaitan dengan percetakan, di Inggris didirikan percetakan Alkitab untuk Inggris dan luar negeri. Berdirinya percetakan ini, menjadi titik tolak bagi kegiatan pekabaran Injil dan gerakan Oikumene. Di beberapa tempat, kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat seperti mabuk-mabukan dan kekasaran menjadi berkurang.
Selain dampak positif dari Pietisme, orang juga menilai Pietisme memberi dampak negatif bagi gereja. Pietisme yang selalu muncul akibat kemunduran yang terjadi dalam gereja mengakibatkan orang-orang Pietis mengikatkan diri pada persekutuan kecil dimana mereka memperoleh cita-cita keagamaan yang tidak dapat mereka temukan dalam gereja. Akibatnya, gereja memandang hal ini sebagai separatisme dan menjadi ancaman bagi gereja seperti yang dikatakan Hale : “Sehingga ada gereja terpaksa harus membentuk persekutuan-persekutuan doa agar tersedia sarana bagi anggota-anggota jemaat dan mereka tidak jajan diluar gereja.”
Selain ancaman tersebut, gereja juga merasa terancam karena menurut gereja sikap kaum Pietis itu individualistis sehingga mereka cenderung memelihara hubungan mereka hanya dengan Allah dan menelantarkan atau mengabaikan gereja.

IV. Pietisme dan Perkembangan Gereja Masa Kini
Menurut Hale, Pietisme tekah sangat berpengaruh dalam kehidupan berjemaat di Indonesia. Ia menyatakan bahwa kelompok-kelompok kecil yang dinamis telah berkembang di dalam kehidupan bergereja. Ia menyebut ini sebagai suatu bentuk “collegia pietatis” yang terlepas dari gereja. Yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok ini berpendapat bahwa gereja merupakan hambatan, sedangkan gereja berpikiran kelompok-kelompok ini sebagai saingan.
Adalah hal yang sangat disayangkan jika gereja berpendapat bahwa Pietisme adalah sebuah saingan dan / atau jika kaum Pietis menganggap gereja adalah sebuah hambatan. Menurut hemat saya, alangkah baiknya jika gereja dan Pietisme bekerjasama. Di dalam perjalanan bergereja, sering kali gereja kewalahan dengan begitu banyaknya persoalan yang dihadapi baik secara lembaga ataupun dalam pelayanan para hamba Tuhan yang melayani di gereja terhadap jemaatnya. Ini nampak sekali dalam kehidupan gereja-gereja besar yang mempunyai jemaat begitu banyak dan/atau cakupan wilayah kerja yang luas. Seringkali tidak semua warga dapat dilayani dengan baik.
Salah satu contoh kehidupan bersama yang serasi antara gereja dan gerakan Pietisme sebenarnya banyak. Banyak anggota gereja yang bergabung dalam gerakan Pietisme, tetapi mereka tetap peduli pada hidup bergereja mereka. Sebenarnya jika dirunut, apa yang menadi kerinduan kaum pietisme adalah keadaan seperti kehidupan gereja mula-mula seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul dimana gereja menjadi suatu teladan bagi masyarakat sekitarnya yang di dalam Injil Matius digambarkan sebagai garam dan terang dunia.
Hale mengatakan bahwa Pietisme terlalu menekankan etika (sehingga terlalu antroposentris) sebagai kritik atas Ortodoksi yang menekankan pada Anugerah sehingga pada saat itu jemaat hidup terlalu leluasa sehingga banyak pelanggaran terjadi. Gereja tidak lagi menjadi garam dan terang dunia. Ketika Pietisme muncul, timbul reaksi dengan menilai pietisme telah meninggalkan ajaran tentang anugerah dan lebih menekankan pada etika sehingga dikatakan Pietisme meletakkan Taurat baru.
Mengenai hal ini, Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5:17). Barangkali benar pada waktu tertentu kaum Pietis terlalu menekankan pada etika sehingga “melupakan” anugerah. Tetapi perlu kita pahami bahwa mungkin keadaan sebenarnya tidaklah demikian. Stoeffer menyatakan bahwa karena Ortodoksi terlaluanugerah Allah sehingga etika dan moral manusia kurang diperhatikan. Untuk hal ini, kaum Pietis menyatakan bahwa mereka tidak sedang menolak anugerah Allah, tetapi manusia mempunyai tanggung jawab pastoral (Stoeffler dalam Hale, p.123). Dengan demikian ajara bagi kaum Pietis tidak terlalu penting jika tidak berkaitan dengan pengalaman religius. Bukan berarti Firman Allah tidak penting, tetapi implementasinyalah yang lebih penting, dan firman Allah merupakan sumber kesalehan mereka.
Hal lain yang menyebabkan lahirnya Pietisme adalah karena Ortodoksi terlalu menekankan akal di dalam beragama, maka sebagai reaksinya, gerakan Pietisme meletakkan perasaan sebagai salah satu unsur beragama. Tetapi para penggagas Pietisme itu tidak semata-mata menjadikan perasaan sebagai dasar beriman, melainkan pada Allah.
Seperti sudah disebutkan diatas, Pietisme tidak menekankan ajaran mereka pada sisi kemanusiaan semata, melainkan pada firman Allah yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sepertinya tidak perlu lagi bagi gereja untuk mencurigai Pietisme sebagai gerakan yang akan menyaingi gereja, melainkan perlu memupuk kerjasama dengan kaum Pietis untuk membangun jemaat yang semakin bertumbuh. Meskipun demikian, perlu juga untuk “menguji setiap roh” sehingga terhindar dari akibat-akibat yang kurang baik. Jika kita kembali kepada tujuan awal berdirinya gereja untuk menjadi saksi Kristus, bersekutu dan melayani , maka jika masing-masing menghormati satu sama lain, maka bukan tidak mungkin Oikumene seperti cita-cita Kristus dalam Yohanis 17 akan tercapai. Jika masing-masing pihak masih menghakimi satu dengan yang lain, alangkah jauhnya Gereja dari cita-cita Kristus itu, sehingga perlu dipertanyakan apakah sebenarnya tujuan utama kita bergereja. “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”(I korintus 3:6). Jadi, apakah gereja akan mengatakan Paulus yang benar dan Apolos salah? Tetapi Allah yang memberi pertumbuhan! Amin!

BIBLIOGRAFI

End, Th. Van Den, Harta Dalam Bejana, BPK Gunung Mulia, 2007
Hale, Leonard, Pdt. M.Th, Jujur Terhadap Pietisme :
Menilai Kembali Reputasi Pietisme pada Gereja- Gereja Indonesia, BPK Gunung Mulia, 1993
Hartono, Chris, Pietisme di Indonesia dan Pengaruhnya di Indonesia, BPK Gunung Mulia,
1974
Lane, Tony, Runtut Pijar : Sejarah Pemikiran Kristiani, BPK Gunung Mulia, 2005

2 Comments »

  1. saya,pengkaji agama dan masyarakat,saya ditugaskan untuk mengulaskan jurnal,dan saya telah memilih jurnal anda kerana saya rasa ia amat menarik dan ingin mengkaji lagi serta ingin membuat ulasan jurnal,tetapi masalahnya dalam kandungan jurnal mesti ditulis tentang biodata penulis,jadi saya harapkan anda dapat menulis biadata anda dan hantar dekat email saya,segala kerjasama anda amat saya hargai.
    Sekian,terima kasih.

    Comment by ZURAIDA — August 18, 2009 @ 5:12 am

  2. Gerakan Pietis ini hampir mirip dengan munculnya gerakan tasawuf yg dikembangkan oleh Imam Al Ghazali dalam Islam. Belia juga karena prihatin melihat kondisi umat Islam pada saat itu yang sudah sgt jauh tenggelam dalam cinta dunia dan enggan melakukan ibadah kepada Allah maka Al Ghazali menysun sebuah buku yg sgt terkenal yaitu Ihya Ulumudien yang artinya Menghidupkan Kembali Ilmu2 Agama untuk memotivasi umat Islam agar kembali kepada cahaya keimanan yg benderang.
    Perpecahan dalam suatu agama mmg hal yg biasa terjadi, terlebih lagi ketika umat sdh jauh sang nabi sbg gurunya, maka tafsiran terhadap suatu ajaran menjadi beragam yang ini menimbulkan perpecahan…

    Comment by Siti Nurhayati — December 3, 2009 @ 1:20 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress