FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

January 22, 2009

TRAGEDY of COMPROMISE (bagian 2a)

Filed under: Artikel — admin @ 7:17 pm

oleh: Ernest D. Pickering, terjemahan: Hasan Karman, MM
Membangun Sikap Netral,

Awal dan Perkembangan Injili Baru
Pada tahun 1920-an dan 1930-an, garis pertempuran ditarik dengan jelas antara fundamentalisme dan modernisme. Kontroversi yang hebat meletus di dalam berbagai denominasi. Perjuangan itu berat dan kadang-kadang terasa pahit. Masa depan gereja, sekolah theologi, seminari, dan badan-badan misi dipertaruhkan. Orang-orang yang meyakini Alkitab mencurahkan hidup dan sumber-daya mereka ke dalam entitas-entitas tersebut dan tidak rela mereka jatuh ke tangan musuh-musuh kebenaran

Namun sementara pertempuran berlangsung, beberapa kalangan jatuh keletihan. Tidak semuanya senang menjadi ‘fundamentalis yang bertempur,’ dan kontroversi terasa terlalu panjang bagi beberapa pihak. Mereka berpikir, sudah saatnya untuk mengubah pendekatan. Dari pemikiran ini, lahirlah gerakan yang kita rujuk sebagai “Injili Baru” (”The New Evangelicalism”).

Angin Baru Bertiup
Beberapa tahun yang lalu seorang fundamentalis terkemuka menyatakan dengan tepat bahwa Injili Baru lahir dengan sebuah ‘mood’ (’suasana hati’). Sulit untuk mendefinisikan ‘mood’, namun meskipun begitu ia sangat nyata dan kuat. Seseorang yang sedang dalam ‘mood’ yang jelek dapat mengakibatkan banyak masalah. Sebaliknya, orang yang sedang dalam ‘mood’ yang baik dapat meningkatkan semangat semua orang di sekelilingnya. Sayangnya, suasana hati yang berkembang di antara fundamentalis muda tertentu adalah yang tidak sabar dan tidak puas dengan konflik yang berkelanjutan dengan kaum liberal.

Jelas suasana hati ini sebagian disebabkan oleh lelucon beberapa fundamentalis yang memalukan dan suka berkelahi serta oleh semangat kasar dari yang lain. Beberapa pemimpin fundamentalis suka membantah dan susah bergaul. Timbullah ’sikut-menyikut’ yang tidak perlu, dan beberapa fundamentalis melakukan serangan yang tidak benar terhadap yang lain. Semangat dari beberapa kalangan ini mengecilkan kalangan yang lebih muda, dan dengan disertai faktor-faktor lain yang akan dibahas kemudian, mendorong mereka bersikap lebih lemah dan terbuka.

Kaum fundamentalis yang jujur harus mengakui bahwa beberapa kalangan dari mereka telah berbuat keterlaluan dan bersikap tidak alkitabiah. Ada di antara mereka yang telah bersikap kedagingan dan tidak di dalam Roh. Beberapa di antara mereka memaksakan bahwa setiap orang yang bersekutu dengan orang yang lain harus menerangkan dengan sejelas-jelasnya seperti yang mereka lakukan. Dengan kata lain, kaum fundamentalis telah cukup menunjukkan fakta, bahwa mereka juga mempunyai ’sifat-dasar yang tua’. Namun, fakta ini tidak membenarkan cakupan kekeliruan filosofi, theologi atau metodologi. Bertahun-tahun penulis telah memperingatkan para pengkhotbah muda, bahwa mereka tidak boleh menolak posisi alkitabiah, karena beberapa fundamentalis telah terbukti memalukan atas perkara itu.

Berkembangnya Posisi Kompromi
Harold Ockenga, gembala yang lama melayani di Park Street Church di Boston, menyatakan telah menemukan istilah “New Evangelicals” (”Injili Baru”) di dalam sebuah pidato pertemuan di Fuller Theological Seminary (Sekolah Theologi Fuller) pada tahun 1948. Ockenga, yang juga merupakan rektor pertama dari Fuller Theological Seminary, sering disebut sebagai “Bapak Injili Baru” (The Father of the New Evangelicalism). Sebagai seorang gembala dan cendekiawan yang terkemuka, Ockenga mempunyai pengaruh yang luar biasa.

Faktor-faktor apakah yang memicu munculnya posisi yang disebut “Injili Baru” ini? Tentu saja bisa kita kutip beberapa faktor, namun enam faktor berikut merupakan yang paling signifikan.

1. Sebagai reaksi terhadap apa yang dirasakan sebagai negativisme yang berlebihan dari kaum fundamentalis

Para pemimpin Injili Baru yang mula-mula berusaha keras untuk menegaskan fakta bahwa kaum fundamentalis terlalu banyak ‘menentang’ dan tidak cukup banyak ‘berbuat’. Dalih mereka adalah “Marilah bersikap positif dan jangan negatif”. Meski pernyataan ini menyentuh perasaan banyak orang, namun pernyataan ini sama sekali bukan filosofi yang alkitabiah. Kitab Suci memiliki sisi yang positif maupun yang negatif - ia diperuntukkan bagi suatu hal dan juga menentang hal yang lainnya. Kita harus berusaha mempertahankan keseimbangan ini.

2. Adanya keinginan agar dapat diterima oleh seluruh cendekiawan di dunia
Banyak cendekiawan muda fundamentalis menjadi marah dengan kenyataan bahwa mereka tidak dipandang sebelah mata oleh sesama cendekiawan yang menekuni disiplin ilmu khusus mereka. Karena mereka fundamentalis, maka mereka dianggap kurang intelek, dan karya mereka tidak diakui oleh para cendekiawan dunia secara utuh. Hal ini menyakitkan, sehingga memotivasi mereka untuk menyesuaikan pandangan dan gaya mereka sedemikian rupa agar bisa lebih diterima oleh para pemimpin intelektual pada masa itu. Ada orang Kristen di dalam jemaat zaman kerasulan yang mempunyai kecenderungan yang serupa, sehingga Paulus mengatakan, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kol. 2: 8). Hasrat untuk memperoleh penghargaan intelektual di mata dunia yang tidak mengenal Allah itu telah menghancurkan banyak cendekiawan yang mempunyai masa depan.

3. Pengaruh dari pendidikan di lembaga-lembaga liberal
Seseorang umumnya mencerminkan filosofi dari sekolah dimana ia dididik. Banyak cendekiawan muda fundamentalis pada tahun 1940-an, 1950-an dan 1960-an mendaftar dan kuliah di lembaga-lembaga liberal di negeri ini dan di luar negeri untuk meneruskan pendidikan kesarjanaan. Meskipun mereka tidak selalu menelan segala sesuatu yang diajarkan kepada mereka, namun posisi mereka sangat dipengaruhi oleh orang-orang tidak percaya di tempat mereka belajar. Bagi mereka hal tersebut merupakan pengalaman “yang memperluas wawasan”. Namun kita diingatkan oleh hasil observasi tidak enak dari Vance Havner beberapa tahun yang lalu ketika ia mengatakan, “Apa yang dirasakan beberapa kalangan yang mengatakan wawasan mereka bertambah luas hanyalah sekedar karena suara hati mereka yang melunak”. Sementara beberapa kalangan berhasil melewati badai ketidakpercayaan ketika belajar di lembaga-lembaga liberal, banyak juga yang tidak mampu melewatinya dan keluar dengan noda pemikiran yang tidak alkitabiah.

4. Pola berpikir umum dan semangat pada masa itu
Dogmatisme menjadi suatu konsep yang dibenci. Muncullah seruan “keterbukaan” dan menerima pandangan yang bervariasi sebagai sesuatu yang setidak-tidaknya menjadi pilihan aktif bagi orang percaya. Pendekatan hermeneutik (penafsiran) baru menjadi model di kalangan yang disebut kaum injili, yang menyerukan semangat damai menggantikan semangat militan. Semangat damai merupakan bagian dari pasangan yang tak terpisahkan di dalam Injil Baru.

5. Sebagai reaksi terhadap kritik bahwa fundamentalisme kurang mempunyai visi untuk aksi sosial
Awal 1900-an terjadi suatu peningkatan antusiasme yang sangat besar terhadap program sosial untuk mengoreksi penyakit-penyakit yang dirasakan di dalam masyarakat dan untuk menyeimbangkan status warga masyarakat. Hal ini menimbulkan apa yang disebut injil sosial yang menawan denominasi-denominasi utama, sehingga menggantikan khotbah dan pengajaran Firman Allah. Sementara Injili Baru tidak bertindak lebih jauh seperti yang dilakukan kaum liberal dalam memegang penekanan baru ini, namun mereka jelas sangat terpengaruh oleh penekanan tersebut. Tersengat oleh kritik yang terus-menerus bahwa kaum fundamentalis kurang memperhatikan orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, Injili Baru berusaha memperkenalkan suatu “kesadaran sosial” yang lebih luas. Buku Carl F. Henry, The Uneasy Conscience of Modern Fundamentalism (”Nurani yang Mengusik Fundamentalisme Modern”) mengeluarkan nada demikian.

6. Berkembangnya semangat ekumenis yang menganggap kaum fundamentalis terlalu separatis
Gerakan ekumene memperoleh momentum pada tahun 1950-an dan 1960-an ketika Injili Baru sedang bangkit. “Mari kita bersatu-padu” - inilah seruan tersebut. Kaum Injili juga terpengaruh oleh keinginan ini. “Barangkali pikiran kita telah menjadi sempit. Mari kita membuka tangan persekutuan kepada orang lain yang tidak sepenuhnya sependapat dengan kita.” Menolak (atau menyangkal) merupakan perintah Rasul Yohanes: “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2 Yoh. 10-11).

Akibat dari faktor-faktor tersebut, dan barangkali juga faktor-faktor lainnya, sebuah gerakan yang dikenal dengan Injili Baru mulai berkembang dengan cepat. Istilah fundamentalis ditolak dan diganti dengan istilah injili. Dalam sebuah edisi terbitan awal Christianity Today, editornya mengatakan, “Pertumbuhan yang lebih menyukai istilah injili berkembang pada tahun-tahun terakhir… Sementara di sisi lain, fundamentalisme, harus puas dengan keadaannya yang semakin merosot dan mendapat predikat tidak alkitabiah.”[1] Sementara mereka jelas telah berubah, mereka tidak ingin masyarakat fundamentalis mengetahui bahwa mereka telah banyak berubah. Mereka sesungguhnya mempunyai ‘agenda yang tersembunyi’. Perjuangan mereka untuk menjadi Injili Baru sementara masih tampil sebagai fundamentalis diceritakan dengan terperinci di dalam buku Marsden yang mengagumkan, Reforming Fundamentalism (”Mereformasi Fundamentalisme”). Alat liberal, Christian Century, dalam menilai kebangkitan Injili Baru, dengan tajam memperhatikan bahwa kelompok ini dipimpin oleh “sekelompok anak muda yang tidak sabar dengan fundamentalisme seperti yang mereka rasakan. Mereka menyebut diri sebagai injili baru … Mereka harus mengenakan pakaian lama fundamentalisme sementara berusaha mengubah orang yang di dalamnya.”[2] Yang lainnya menyatakan sebagai berikut: “Injili baru … sebenarnya mencoba merehabilitasi fundamentalisme lama … Injili baru sebenarnya adalah fundamentalisme lama.”[3]

Meskipun ada pertalian historis antara fundamentalisme dan Injili Baru, namun perbedaan sudah mulai muncul pada tahapan awal. Di antaranya terdapat perbedaan penekanan, dalam semangat, dan di dalam persepsi mengenai gereja dan tujuannya. Marsden menggambarkan pendekatan Injili Baru sebagai berikut:

Mereka [Injili Baru] terus menentang liberalisme theologi, tetapi melepaskan militansi sebagai aspek utama identitas mereka. Mereka bersedia meninjau-ulang beberapa warisan theologis mereka sendiri, dan seringkali meninggalkan posisi dispensasionalisme, walaupun biasanya bukan posisi premillennialisme, serta memperbolehkan perdebatan setidak-tidaknya mempertanyakan inerrancy Alkitab. Karena berhasrat menjadi suatu koalisi theologis Protestan konservatif yang luas, mereka biasanya toleran dengan beberapa perbedaan doktrin yang lain, termasuk Pentakostalisme. Evangelisme (Injili), seperti yang disingkat oleh Billy Graham, tetap merupakan aktivitas utama mereka, walaupun kini bentuk perwujudannya kadang-kadang menghindari penekanan kepada Injil yang mempunyai sifat offensif (menyerang).[4]

Tonggak Sejarah Menuju Kompromi

Injili Baru menginginkan suara yang lebih bulat dan suatu struktur organisasi dimana prinsip-prinsip mereka dapat disebarluaskan. Keinginan ini menyebabkan dibentuknya The National Association of Evangelicals (NAE/Asosiasi Injili Nasional) pada tahun 1942. Pada saat yang hampir bersamaan, Carl McIntire membentuk The American Council of Christian Churches (ACCC/Dewan Gereja-gereja Kristen Amerika). Kedua organisasi tersebut mengadakan pembicaraan, namun para pemimpin NAE yang baru dibentuk itu menganggap ACCC terlalu militan, terlalu separatis, dan terlalu vokal menentang gerakan ekumene dan para pemimpinnya. Mereka merasa bahwa pendekatan ini akan menghalangi mereka dalam mengerjakan tujuan mereka. NAE menjadi kendaraan organisasional terkemuka bagi penyebaran Injili Baru.

Pendirian Fuller Theological Seminary (Sekolah Theologi Fuller) di Pasadena, California, pada tahun 1947 merupakan tonggak sejarah lain dan memang sangat monumental. Seorang penulis menggambarkannya sebagai “pusat terkenal bagi pendidikan injili kiri.”[5] Di dalam sebuah surat edaran dari rektor, Edward J. Carnell, yang ditujukan kepada konstituensi sekolah, tertulis, “Tujuan yang telah kita tetapkan adalah untuk menghasilkan suatu injili yang besar dengan memadukan pembelajaran yang besar dengan kasih yang besar… demi menghasilkan suatu ‘injili baru.’ “[6] Nama sekolah tersebut diambil dari nama penyumbang dan pendirinya, Charles Fuller, direktur dari radio siaran yang terkenal, “The Old Fashioned Revival Hour,” namun posisi theologisnya segera menuju sedikit persamaan dengan apa yang melambungkan nama Fuller.

Pada Maret 1956 dunia fundamentalis digoncang oleh sebuah artikel di dalam sebuah majalah yang kemudian menjadi populer, Christian Life, yang berjudul, “Apakah Theologi Injili Berubah? (Is Evangelical Theology Changing?)”. Beberapa kontributor kunci artikel tersebut adalah Terrelle Crum, Dekan Sekolah Alkitab Providence-Barrington; Vernon Grounds, Rektor Sekolah Theologi Baptis Konservatif; Carl F. H. Henry, Profesor Theologi Sistematika di Sekolah Theologi Fuller; Lloyd Kalland, Profesor Agama di Sekolah Theologi Gordon; Kenneth Kantzer, Profesor Alkitab di Wheaton College; dan Warren Young, Dekan Sekolah Theologi Baptis Utara. Artikel tersebut menegaskan apa yang telah diketahui banyak orang - individu-individu terkemuka, yang dulunya disebut “fundamentalis” tergeser dari posisi asli fundamentalismenya menuju pendirian yang lebih luas dan lebih akomodatif.

Pada tahun 1956 juga, Christianity Today mulai terbit. Ia diterbitkan untuk menjawab pengaruh dari suara liberalisme theologis yang terkenal - Christian Century. Dengan dorongan dari Billy Graham dan promosi para pemimpin Injili Baru lainnya, majalah tersebut segera dikenal luas dan menjadi suara yang disegani dari gerakan baru itu.

Pada tahun 1957 gelombang pasang mulai berubah ke pihak penyebaran injili yang besar. Billy Graham, seorang bintang yang tampil di atas horizon injili, memutuskan untuk memperluas pendekatannya dan memimpin perjuangan ekumenisnya yang pertama di New York City. Banyak di antara sahabatnya yang memberi peringatan yang menentangnya, dan banyak yang menolak untuk bekerjasama, tetapi ia tetap meneruskan jalannya. Gereja-gereja liberal kota metropolis besar tersebut dimobilisasi di dalam kampanye itu, dan pelajaran Graham ditaruh sebagai bagian akhir dari pelayanannya.

Pada tahun akhir 1950-an dan awal 1960-an sebuah peperangan yang hebat terjadi antara gerakan Baptis Konservatif dan Injili Baru. Sekolah Theologi Baptis Konservatif di Denver, Colorado, di bawah pimpinan Vernon Grounds, menjadi pusat pengajaran Injili Baru. Pengajaran ini ditentang oleh Pillsbury College, yang dipimpin oleh Monroe Parker; Sekolah Theologi Baptis Konservatif San Francisco, yang dipimpin oleh Arno dan Archer Weniger; dan Sekolah Theologi Baptis Konservatif Pusat, yang didirikan oleh Richard V. Clearwaters. Ratusan gereja dikalahkan oleh Gerakan Baptis Konservatif, dan sebuah dewan misi baru lahir - The World Conservative Baptist Mission (kini disebut Baptist World Mission). Banyak gereja yang gugur tidak mempunyai afiliasi. Sebagian masuk menjadi bagian dari Asosiasi Gereja-gereja Baptis Perjanjian Baru (The New Testament Association of Baptist Churches). Peperangan ini hanya merupakan salah satu contoh konflik yang diciptakan oleh Injili Baru.

Prinsip-prinsip Injili Baru
Bagaimana para pendiri Injili Baru memandang diri mereka sendiri? Prinsip-prinsip apakah yang ingin mereka bangun? Salah satu penilaian yang lebih tajam mengenai Injili Baru yang sedang berkembang saat itu ditemukan di dalam majalah liberal, Christian Century. Penulisnya mencatat dengan rasa kagum mengenai awal-mula gerakan tersebut. Secara khusus ia menunjuk perbedaan mood antara kaum fundamentalis dan Injili Baru.

Sebuah generasi baru intelektual yang saleh muncul di dalam jajaran kelompok-kelompok fundamentalis dan lembaga-lembaga pendidikan yang diakui. Para pemikir tersebut secara pribadi tidak pernah merasakan goresan peperangan yang menoreh para pemimpin yang terlibat peperangan sebelumnya, yang gagal untuk menghentikan ‘modernisme”, dan mereka sendiri kini terlibat di dalam pergumulan mengenai politik ekklesiastikal (gerejawi). Seuntai irenicism (keinginan untuk berdamai dengan semua kalangan - penerjemah) merasuk ke pikiran mereka. Mereka bisa melihat kelompok theologi yang lain dengan lebih obyektif dan lebih respek dibandingkan dengan para pendahulu mereka… Fleksibilitas baru berkembang di dalam pernyataan-ulang mengenai orthodoksi Protestan mereka yang di dalamnya terdapat kapasitas untuk membuat permasalahan yang dimaksud lebih sensitif dengan integritas pemikiran modern.[7]

Harold Ockenga menyimpulkan tujuan Injili Baru sebagai berikut:

1. Mereka prihatin dengan budaya kontemporer yang telah kehilangan sentuhan dengan Allah yang sejati dan ingin melihat suatu kebangkitan iman Kristen yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap budaya sekuler.

2. Mereka mengeluh kurangnya respek terhadap injili (evangelikalisme) di kalangan akademisi dan ingin mendapatkan kembali respek itu melalui usaha para cendekiawan yang mampu mempertahankan Kekristenan berdasarkan intelektual.

3. Mereka ingin merebut kembali kepemimpinan atas denominasi dari tangan kaum liberal.

4. Mereka ingin melihat gereja menjadi alat yang menghasilkan reformasi masyarakat.[8]

Butir ketiga perlu diberi perhatian khusus. Proses ‘penyusupan’ (usaha merebut kendali denominasi dari kaum liberal secara bertahap) tidak didukung oleh Firman Tuhan. Perintahnya sudah jelas. Apakah ada orang yang memiliki suatu “bentuk ketuhanan” (mengaku beriman Kristen secara luar), namun yang “menyangkal kuasa daripadanya”? Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3: 5). Kegagalan tragis Injili Baru pada masa kini terlihat dimana-mana. Denominasi-denominasi yang tetap berpijak di posisi mereka, sama sekali bukan lagi berposisi orthodoks seperti tahun-tahun sebelumnya. “Sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan” (2 Tim. 3: 13). Kita tidak bisa menghentikan arus pasang orang yang tidak percaya; ia akan terus bergulir mencapai puncaknya sebagai Pelacur masa depan yang dahsyat (Why. 17).

Garis besar lain yang lebih terperinci mengenai prinsip-prinsip Injili Baru diberikan di dalam Christian Life pada Maret 1956. Artikel tersebut menyebutkan delapan hal tentang gerakan yang muncul itu:
1. “sikap bersahabat terhadap ilmu pengetahuan sekuler”

2. “keterbukaan untuk menguji-ulang keyakinan yang berkaitan dengan pekerjaan Roh Kudus”

3. “sikap yang lebih toleran terhadap berbagai pandangan mengenai eskhatologi”

4. “bergeser dari apa yang disebut dengan dispensasionalisme ekstrim”

5. “meningkatnya penekanan terhadap kecendekiawanan”

6. “pengakuan yang lebih definitif terhadap tanggungjawab sosial”

7. “membuka kembali masalah mengenai penginspirasian Alkitab”

8. “semakin berkembangnya kehendak dari para theolog injili untuk berdialog dengan para theolog liberal.”

Karena hal-hal tersebut mencerminkan kesimpulan mengenai prinsip-prinsip Injili Baru yang paling awal, beberapa komentar perlu dibereskan.

Permasalahan Ilmu Pengetahuan
Berbagai usaha dilakukan untuk menyatukan pengajaran Alkitab dengan berbagai teori ilmu-pengetahuan yang sedang berkembang. Para cendekiawan Injili Baru kelihatannya malu melihat bahwa alam pemikiran kaum fundamentalis sangat bertentangan dengan alam pemikiran kaum liberal. Karena itu, mereka merasa harus mempersempit kesenjangan itu. Carl Henry, salah satu arsitek orisinil Injili Baru di tahun-tahun kemudian mengeluh tentang kenyataan bahwa orang-orang yang lebih muda sudah bertindak terlalu jauh berusaha untuk meredakan pemberhalaan.

“Kompromi saling pengertian” terdapat di antara generasi cendekiawan injili yang lebih muda, di antara mereka terdapat Edward John Carnell di Fuller Seminary… dan Arthur Holmes di Wheaton College… [Sebuah buku yang ditulis oleh Holmes], dalam menyajikan evolusi theistik, tidak mengindahkan kritik serius terhadap teori evolusi Darwin yang bahkan berasal dari para ilmuwan kontemporer. Wheaton memodifikasi pernyataan mereka yang sebelumnya mengenai penciptaan illahi untuk mengakomodasi evolusi theistik, walaupun mereka menekankan bahwa asal-usul manusia berkaitan dengan intervensi mujizat illahi.[9]

Usaha-usaha untuk menyatukan pengajaran alkitabiah tentang alam semesta fisik dengan menggantikannya dengan pengajaran iblis sama sekali tidak didukung oleh eksegesis yang alkitabiah, tetapi didorong oleh keinginan untuk membuat pandangan Kristen menjadi lebih bisa menerima para intelektual yang fasik. Paulus memperingati kita bahwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging” (Gal. 6: 12). Frase ini mempunyai arti “jangan mengandalkan penampilan hebat dari luarnya saja,’ yaitu berusaha mengesankan manusia, sehingga menghinakan salib.

Pekerjaan Roh Kudus
“Keterbukaan untuk menguji-ulang keyakinan yang berkaitan dengan pekerjaan Roh Kudus” membuka lebar jalan bagi arus besar pengajaran kharismatik yang akhir-akhir ini melanda gereja. Pembentukan kelompok seperti NAE menyebabkan Pentakostalisme dan gerakan kharismatik baru mendapat ‘perhatian penuh’ yang belum pernah mereka nikmati sebelumnya. Walaupun banyak cendekiawan Injili Baru tidak mendukung pandangan-pandangan tersebut, namun fakta yang menunjukkan bahwa mereka memberi toleransi tanpa menegur memberi pandangan-pandangan tersebut suatu batu-loncatan di dalam masyarakat injili.

Penafsiran Profetik
Toleransi terhadap berbagai pandangan tentang eskhatologi juga disebutkan sebagai sebuah tanda posisi Injili Baru. Sampai tahun 1950-an mayoritas fundamentalis merupakan penganut pra-millennialis dan sejumlah besar dispensasionalis (meskipun ada juga fundamentalis yang bukan penganut kedua-duanya, seperti misalnya T. T. Shields). Kini sikap yang semakin terbuka dielu-elukan sebagai sebuah tanda kedewasaan yang makin bertumbuh. Beberapa tahun yang lalu penulis diundang untuk memberi ceramah tentang “Mengapa Saya Menjadi Seorang Fundamentalis” di sebuah seminari Injili Baru. Setelah ceramah dan sesi tanya-jawab, saya diajak minum kopi di fakultas tersebut. Ketika mengobrol di ruang duduk fakultas, saya bertanya kepada dosen theologinya tentang pola eskhatologi apa yang didukung dan diajarkan oleh seminari tersebut di dalam kelas. Ia tertawa dan menjawab, “Saya mengajarkan semuanya. Dan ketika kami menyelesaikan pelajaran, para mahasiswa bahkan tidak tahu apa yang saya yakini.” Ia menganggap hal ini sebagai pelajaran yang bagus sekali. Namun kita diingatkan oleh pengajaran dari Tuhan, dimana dikatakan, bahwa “Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7: 29). Dalam menanggapi kutipan Alkitab, ahli-ahli Taurat biasa menggunakan logika yang memutar-mutar, mengutip berbagai cendekiawan, dan menghindari dogmatisme hal-hal yang diperdebatkan. Sebaliknya Kristus berbicara dengan sangat jelas dan dengan penuh otoritas.

Dispensasionalisme
Seperti yang sudah disebutkan, sejumlah besar fundamentalis mula-mula adalah dispensasionalis. (Tetapi tidak semua fundamentalis merupakan dispensasionalis.) Sistem pengajaran yang dikenal sebagai dispensasionalisme dipopulerkan oleh Alkitab terjemahan Scofield dan juga melalui pendidikan yang diberikan oleh banyak sekolah tinggi theologi dan seminari. Injili Baru tidak menyukai dispensasionalisme. Salah satu penyebab utama ketidaksukaan mereka adalah apa yang mereka istilahkan dengan pemikiran ‘pesimistis’ tentang sejarah dunia, terutama mengenai sejarah gerejawi. Kaum dispensasionalis memegang pengajaran bahwa akan berkembang kesesatan di dalam gereja yang tidak ada obatnya, kecuali separasi (pemisahan diri). Injili Baru bukanlah kaum separatis, sehingga menolak kesimpulan tak terhindarkan yang timbul sebagai konsekwensi pemikiran dispensasionalis. Injili Baru menentang apa yang mereka lihat sebagai pandangan dispensasionalis gereja - yaitu “berlindung di dalam sebuah budaya yang sudah hancur.”[10]Mereka lebih cenderung mengadopsi “pandangan Puritan-Calvinis bahwa gereja harus memainkan peran utama pembangunan-kemasyarakatan.”[11]Dalam membahas peperangan kaum fundamentalis mula-mula dengan liberalisme, Marsden mencatat bahwa banyak di antara mereka yang mulai menolak pemikiran bahwa penyesatan dapat dienyahkan dan semakin mempertahankan keyakinan bahwa orang Kristen yang taat harus memisahkan diri dari kesesatan. “Penafsiran dispensasional-premillenial terhadap sejarah, yang telah tersebar luas di antara kaum fundamentalis, mendorong kecenderungan separatis ini… Pada tahun 1930-an kalangan fundamentalis garis keras yang semakin meningkat, menyatakan kewajiban untuk melakukan separasi ekklesiastikal.”[12]Dalam pembahasan berikutnya ia menambahkan: “Pandangan pesimistis dispensasionalisme terhadap budaya yang berlaku mendorong berkurangnya penekanan terhadap masalah sosial di dalam gerakan itu. Penilaian negatif dispensasionalisme terhadap gereja-gereja besar mendorong separatisme”.[13]

Ke cendekiawan
Injili Baru yang sedang naik-daun menjadi gelisah karena kontribusi mereka benar-benar dikesampingkan oleh kalangan cendekiawan. Namun, kita tidak perlu merasa heran, jika kaum cendekiawan fundamentalis yang tetap setia terhadap ketiadasalahan (inerrancy) Alkitab dan secara intelektual tunduk kepada otoritas Firman Allah, tidak terlalu antusias jika karya mereka akan diterima di antara para penyokong kesalahan. Firman Allah melalui Yeremia (yang jelas merupakan sebuah karya “ilmiah” karena dihasilkan oleh Roh Kudus) meskipun dikoyak-koyak dengan pisau raut sang raja (Yer. 36: 23-24). Kebenaran Alkitab senantiasa merupakan “kebodohan” bagi mereka yang tidak percaya, lebih-lebih bagi orang tidak percaya yang berpendidikan (1 Kor. 1: 18). Paulus tidak memberitakan Firman Allah dengan “kata-kata hikmat yang meyakinkan” (1 Kor. 2: 4), tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.

Injili Baru cenderung memandang kaum fundamentalis sebagai suatu ketidakjelasan dan anti-intelektual. Pendapat ini tak pelak lagi muncul karena fakta bahwa kaum fundamentalis mencurigai benteng kuat dan para pemimpin terpelajar yang hampir semuanya merupakan lawan radikal atas kebenaran Alkitab. Dunia intelektual, pada umumnya, adalah sebuah dunia yang dikendalikan oleh penguasa kejahatan, yakni Setan sendiri. Kaum fundamentalis menerima pengajaran Alkitab yang jelas tentang mereka: “…dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka” (Ef. 4: 18). Kebanyakan orang yang mengejar kehormatan intelektual sebagai keyakinannya pada masa yang lalu terbukti merupakan musuh berat gereja.

Peran kaum intelektual dalam merusak ideologi-ideologi yang sudah mapan (sekalipun tidak disengaja), setidak-tidaknya sejak Pencerahan, terdokumentasi dengan baik… Ironinya kasus Injili adalah penekanan yang ditujukan untuk mendapatkan kredibilitas intelektual dalam menyokong posisi Injili (sejak tahun 1940-an sampai kini), pada akhirnya secara tidak sengaja membawa konsekwensi merusak posisi Injili. Apa yang dimulai sebagai sebuah keberanian untuk mempertahankan orthodoksi secara terbuka dan dengan integritas intelektual, bisa mengakibatkan pelemahan atau bahkan kematian orthodoksi seperti yang telah ditegaskan di bagian lain masa ini. Dengan semakin mengkristalnya pelemahan akal-sehat pendekatan tradisional atas Alkitab di antara para intelektual Injili, sehingga menandakan dinamika yang sama di antara populasi Injili yang lebih luas. Pola itu terdokumentasi dengan baik. Inovasi dan pemikiran filosofis yang umumnya berasal dari suatu eselon elitis di dalam masyarakat mempunyai ciri kecenderungan untuk merembes ke dalam seluruh masyarakat yang ada.[14]

Namun dengan jujur harus kita akui, bahwa memang ada kalangan fundamentalis yang terbukti mempunyai sikap anti-intelektual. Orang-orang demikian dijauhi atau dicela oleh kaum fundamentalis yang saleh yang sungguh-sungguh berusaha menyelidiki Alkitab yang penuh kekayaan. Kaum fundamentalis demikian memuaskan diri mereka dengan pendekatan pada ‘luarnya’ saja.

Ada keseimbangan yang patut kita cari. Pikiran kita harus sepenuhnya berserah kepada Allah dan otoritas wahyuNya. Kita harus “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Kor. 10: 5). Allah telah memberikan kita akal-budi untuk dipakai demi kemuliaanNya. “Sebab itu siapkanlah akal-budimu” (1 Ptr. 1: 13) adalah perintah Allah. Perikop ini memberitahukan dengan jelas bahwa akal-budi kita adalah penting dan bahwa iman Kristen jelas mempunyai ekspresi intelektual.

Keterlibatan Sosial
Carl Henry merupakan salah seorang penyumbang utama konsep bahwa jemaat Kristus harus lebih banyak terlibat dalam aksi sosial. Dalam mempertahankan konsep ini, Henry menulis,

Sejak masa penarikan diri dari masyarakat dan politik sampai masa pendukung Katolik konservatif yang suka berperang dan bangsa Amerika lainnya mengalami masa yang panjang, namun beberapa jurubicara injili tidak sabar mendesak pengharapan tersebut, meski kontroversi itu mengandung resiko.

Yang tertinggal sangat jauh adalah kaum fundamentalis pada era 1930-50an yang pandangan sejarah pesimistisnya membuat mereka melepaskan diri dari keterlibatan sosial-politik dan keterikatan kultural agar bisa berkonsentrasi pada penginjilan pribadi dalam menantikan kedatangan kembali Kristus yang sudah dekat. … Pandangan ini masih memiliki dukungan di dalam kalangan Bob Jones dan konstituensi Dallas Seminary yang lebih tua… Kebanyakan injili mengganggap bahwa kita harus terlibat aktif dalam urusan publik.[15]

Bagaimana caranya kita menilai usaha Injili Baru yang menggalang program sosial yang ditujukan untuk mengatasi penyakit masyarakat itu? Memang masyarakat modern kita memiliki banyak permasalahan menyedihkan yang memilukan hati orang percaya. Namun kita harus mengikuti Alkitab, bukan mengikuti perasaan kita. Dalam Perjanjian Baru tidak diperoleh bukti adanya suatu program sosial yang disponsori jemaat untuk tujuan mengurangi penderitaan manusia di dalam dunia yang tidak aman ini. Penelitian yang seksama terhadap Perjanjian Baru akan menyingkapkan bahwa usaha untuk memenuhi kebutuhan sosial lebih diutamakan untuk sesama orang percaya (Kis. 4: 32-37). Yakobus mendesak kita untuk menunjukkan iman kita dengan membantu saudara seiman yang tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari (Yak. 2: 15). Ilustrasi tersebut dan yang lainnya menunjukkan kepada kita bahwa perhatian sosial orang-orang percaya mula-mula terutama ditujukan kepada sesama orang percaya dan bukan kepada dunia secara umum. Ini bukan berarti bahwa pribadi-pribadi orang percaya tidak bisa dan tidak boleh menunjukkan kebaikan dan kemurahan kepada dunia yang memerlukannya. Tentu saja perilaku demikian sesuai dan mencerminkan semangat Kristus. Tetapi Injili Baru, sebagai reaksi terhadap genderang kritik kaum liberal yang mengatakan bahwa kaum fundamentalis tidak mempunyai perhatian terhadap orang lain, telah bertindak terlalu jauh di dalam dukungan program sosial mereka. Tugas utama jemaat-jemaat Kristus bukan melayani kebutuhan manusia dari segi luar dan lahiriah, namun untuk memberitakan Injil Anak Allah yang berbicara tentang kebutuhan yang lebih mendalam dan lebih kekal - yakni keselamatan jiwa. Supaya fair, harus juga dicatat bahwa kaum fundamentalis selama bertahun-tahun telah menunjukkan kebaikan dan kasih kepada orang-orang yang hidup di dalam dosa, kerapkali perbuatan baik tersebut diiringi dengan pemberitaan Injil (misalnya seperti di dalam misi pelayanan penyelamatan).

Alkitab Yang Diinspirasikan
Kesediaan untuk menetapkan kembali dan mengevaluasi kembali posisi historis jemaat mengenai inspirasi verbal Alkitab sebenarnya adalah membuka sebuah kotak Pandora, seperti yang kini bisa dilihat setelah beberapa generasi kemudian. Dalam artikel Christian Life yang orisinil, pembukaan kembali permasalahan inspirasi Alkitab digambarkan sebagai “hanya sebuah kerikil di dalam kolam theologi konservatif” yang bisa “berkembang menjadi sesuatu yang amat mengejutkan evangelikalisme abad pertengahan.”[16] Sungguh tepat perkataan tersebut! Dengan sangat cepat semakin banyak pemimpin yang menyatakan diri “injili” menyimpang dari posisi solid ketiadasalahan Alkitab yang berlaku sepanjang zaman menjadi suatu posisi yang berubah total. Sampai kinipun adalah benar bahwa “segala tulisan [setiap dan semua tulisan] diilhamkan Allah” (2 Tim. 3: 16). Hal ini mencakup segala sesuatu - rujukan geografis, rujukan historis, dan rujukan ilmu pengetahuan maupun pengajaran theologis. Beberapa tahun yang lalu, Ronald Nash berbicara mendukung pergeseran pandangan Injili Baru terhadap bibliologi: “Jika injili telah mengubah pandangan pengilhaman (penginspirasian) fundamentalis, dengan cara apapun, maka perubahan tersebut adalah sebuah langkah yang benar. Maksud saya, dengan demikian tindakan itu merupakan langkah positif yang mengarah kepada posisi pengilhaman Alkitab yang lebih bisa dipahami dan dapat dipertahankan”.[17]

Tetapi Nash salah. Perhatikan kebebasan besar yang kini diperoleh oleh para cendekiawan “injili” terhadap teks Alkitab. Hal tersebut telah menjadi seperti sebongkah tanah liat yang bisa ditekuk menjadi bentuk yang sangat aneh dan kemudian dinyatakan sebagai sesuatu yang sangat normal.

Akhirnya Injili Baru bertekad untuk mengajak para theolog liberal untuk mengadakan pembicaraan yang ‘penuh arti’. Vernon Grounds, yang pada saat itu menjadi Pimpinan Conservative Baptist Seminary di Denver, mengajukan pemikiran ini: “Seorang injili secara organisasional dapat memisahkan diri dari persekutuan yang menyangkal Kristus, tetapi juga bisa memperoleh manfaat dengan mengadakan tukar-pikiran dengan orang yang bukan injili”.[18] Grounds memiliki gagasan bahwa persaudaraan dengan cendekiawan yang menolak Alkitab bagaimanapun juga mempunyai suatu pengaruh positif terhadap orang-orang yang melakukannya.

Sebagian masalah yang terjadi dengan banyak Injili Baru adalah bahwa mereka tidak mengakui para penganut theologi liberal sebagai jiwa-jiwa tersesat yang menggapai-gapai di dalam kegelapan rohani, “mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat” (2 Ptr. 2: 17). Banyak injili dengan enteng memandang kaum liberal sebagai kalangan yang salah arah, namun merupakan orang Kristen yang bermaksud baik yang membutuhkan kasih dan persekutuan kita. Karena itu, kita dapat menuntun mereka berbalik dari jalan mereka yang salah. Bloesch, ketika mengomentari beberapa aspek fundamentalisme mula-mula, bertentangan dengan cendekiawan hebat J. Gresham Machen yang menulis buku klasik, Christianity and Liberalism. Machen, dalam penilaian Bloesch, “tidak cukup memberi pengakuan atas fakta bahwa kaum liberal tetap masih bisa menjadi manusia yang memiliki iman pribadi yang mendalam, meskipun pemikiran mereka salah”.[19] Selain orang-orang yang dipersoalkan tersebut, kita sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih luas dari sekedar beberapa intektual yang salah. Kita sedang bicara mengenai pemberontakan yang menyolok terhadap Allah yang maha kuasa dan otoritas FirmanNya yang kudus. Bloesch melanjutkan, “Injili tidak boleh menolak persekutuan dengan kaum ekumenis dan liberal yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Liberalisme sebagai suatu sistem theologis tentu saja harus ditolak, namun tidak bolehkah kita berusaha berdamai dengan orang liberal selaku pribadi?”[20] Namun memang haruskah kita melakukannya? Allah dengan jelas memberitahukan apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang - “pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3: 5). Sayangnya, Injili Baru tidak memperhatikan peringatan itu. Bloesch menyimpulkan pembahasan atas masalah itu dengan menyatakan, “Adalah membesarkan hati melihat sebuah semangat baru keterbukaan yang berasal dari kaum injili, yang kebanyakan merupakan anak-anak fundamentalisme”.[21] Kecenderungan ini, yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah langkah maju, jika dipandang dari sudut wahyu alkitabiah hanya bisa dipandang sebagai sebuah langkah mundur.

Masalah Khusus - Separasi Gereja
Salah satu perbedaan utama antara Injili Baru dan fundamentalis mengenai pandangan masing-masing pihak adalah apa yang dikenal dengan “separasi (pemisahan diri) gereja” (”ecclesiastical separation”). Kaum fundamentalis separatis percaya bahwa harus ada separasi sepenuhnya dari semua gereja dan persekutuan gereja-gereja yang mentoleransi kefasikan atau kompromi dengan kesalahan. Dalam memperbandingkan fundamentalisme dan injili, Peterson melihat, “Semangat injili… lebih ramah. Kita menganggap adalah penting untuk memelihara persekutuan dengan orang Kristen lainnya, meskipun mereka salah dalam hal-hal tertentu, terutama jika mereka bisa bergabung dengan kita dalam mengembangkan injil”.[22] Pengamatan ini sangat cocok dengan sikap umum Injili Baru - “mari kita mengkompromikan masalah doktrin demi penginjilan”. Hal ini akan dibahas lebih jauh di bagian belakang nanti.

Beberapa tahun yang lalu, ketika perpecahan muncul di antara Asosiasi Injili Nasional (NAE) dan Dewan Gereja-gereja Kristen Amerika (The American Council of Christian Churches/ACCC), terbukti ada perpecahan besar mengenai masalah separasi dari kesesatan. J. Elwin Wright, salah seorang pimpinan awal NAE, menjelaskan posisi NAE berkenaan dengan masalah separasi gereja, di dalam komentarnya terhadap apa yang dipahaminya sebagai perikop kunci - 2 Korintus 6: 17, “Saya yakin… bahwa surat Korintus sama sekali bukan menganjurkan penarikan diri dari suatu gereja yang dihinggapi para pendosa, bidat, atau yang telah bergeser dari standar doktrin dan moral Firman Tuhan. (Meskipun) Surat itu memang mengajarkan bahwa orang-orang beriman harus membersihkan gereja dari orang-orang fasik tersebut”.[23] Untuk lebih mendukung pandangannya, Wright memunculkan kesaksian dari Perjanjian Lama ketika menuliskan, “Penelitian terhadap Perjanjian Lama dari Kejadian sampai Maleakhi sama sekali tidak mengungkapkan suatu contoh gerakan pemisahan diri (schismatic) di Israel yang diizinkan Tuhan”.[24]

Ada dua hal yang perlu dicatat mengenai posisi Wright, yang masih mencerminkan posisi NAE. Dengan jelas ia menyatakan bahwa meskipun sebuah tubuh telah meninggalkan “doktrin…. Firman Tuhan”, sebagai orang Kristen kita tidak diharuskan memisahkan diri dari tubuh tersebut. Kedua, ia mempertahankan posisi ini dengan menyatakan bahwa tidak ada separasi yang ditetapkan Allah dari bangsa Israel. Wright tidak memahami fakta bahwa Israel dan gereja (jemaat) adalah tidak sama dan bahwa demikian juga halnya, prinsip persekutuan yang mengatur sebuah theokrasi tidak berlaku bagi jemaat Yesus Kristus. Bangsa Israel bukan merupakan kumpulan orang percaya yang dengan kehendak sendiri berkumpul membentuk sebuah jemaat lokal. Ia adalah sebuah entitas nasional, politis dan ekonomis, dimana seseorang secara jasmaniah dilahirkan. Jemaat-jemaat Perjanjian Baru berbeda di dalam susunannya. Mereka adalah entitas berdaulat yang mempunyai tanggungjawab untuk memelihara kekudusan mereka sendiri dengan menaati pengajaran Perjanjian Baru.

Mengapa manusia menolak perintah Alkitab untuk memutuskan hubungan dengan mereka yang menyangkal iman dan mengembangkan posisi yang tidak alkitabiah? Tak pelak lagi, salah satu alasannya adalah fakta bahwa mengambil sikap menentang orang fasik sangat mahal harganya. Hal ini terlihat jelas di dalam konflik yang muncul di dalam beberapa denominasi beberapa tahun yang lalu. Kebanyakan orang melayani di dalam lingkungan kelompok denominasi tertentu. Mereka memiliki persahabatan, dan lebih dari itu, mereka memiliki investasi finansial disitu. Mereka terikat dengan program pensiun denominasional, dan jika mereka keluar maka mereka akan kehilangan paket tersebut. Hal tersebut merupakan harga sangat mahal yang harus dibayar oleh beberapa kalangan.

Barangkali sebuah alasan yang bahkan lebih kuat adalah fakta bahwa ada prestise dan pengaruh tertentu yang dapat dimiliki di dalam posisi kepemimpinan denominasional yang tidak bisa didapatkan jika menjadi seorang independen di luar struktur organisasi denominasi-denominasi. Dalam menganalisis perkembangan Injili Baru, Marsden mengatakan bahwa masalah paling eksplosif yang dihadapi para pemimpin Injili Baru adalah masalah tentang pemisahan diri dari afiliasi mereka. Pendapatnya sangat mudah dipahami dan tentu saja bisa menjelaskan mengapa banyak orang tidak mau memisahkan diri dari denominasi dimana mereka berada.

Haruskah mereka memisahkan diri dari denominasi-denominasi yang sudah menyeleweng? Injili baru bukan saja berusaha mereformasi fundamentalisme, pada saat yang sama mereka tetap merupakan fundamentalis loyal yang menganggap misi mereka yang lebih mendasar sebagai reformasi atas Protestanisme yang sudah merosot. Apakah mereka yang bersaksi menghadapi kesesatan berat yang merupakan jemaat-jemaat yang menyenangkan dan secara kultural dihormati harus memisahkan diri dari kesesatan?… Haruskah mereka keluar dan menjadi suara sayup-sayup di padang gurun, atau bertahan dan terus bekerja untuk mereformasi dari dalam dengan posisi mereka yang lebih berpengaruh?[25]

Pengaruh. Posisi. Penghargaan. Apakah semua itu lebih penting daripada ketaatan kepada Allah? Bukankah selama berabad-abad sudah banyak “suara sayup-sayup”, baik yang di luar pengaruh dan kuasa duniawi maupun yang berasal dari ekklesiastikal yang berkuasa? Bukankah ada seorang bernama Henokh yang berjalan mengiringi Allah tanpa mendapat restu dan persetujuan dari orang-orang sezamannya? Dan bukankah ada Nuh yang telah berusaha dengan hanya didukung tujuh orang? Dan bagaimana dengan Yeremia yang mempunyai keberanian untuk menegur orang-orang berdosa yang hidup pada zamannya dan menerima penderitaan caci-maki terbuka dan penganiayaan fisik? Pertimbangkan juga Rasul Paulus yang bekerja di dalam keletihan, sakit, dan berbagai bahaya, serta merana di dalam banyak penjara demi Yesus. Atau bagaimana dengan kelompok hebat “bersuara sayup-sayup” yang ditinggikan di dalam Kitab Suci karena “dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang, dan menderita …” (Ibr. 11: 37), mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung, melepaskan segala sesuatu yang dianggap penting di dalam hidup ini demi Tuhan. Tidak ada posisi ‘berpengaruh’ disini. Mereka seperti Yohanes Pembaptis yang merupakan “suara yang berseru-seru di padang gurun”, “orang-orang yang lain”, “suara sayup-sayup di padang gurun” yang demikian dijauhi oleh para pemimpin Injili Baru.

Mari kita berterus terang. Berdiri teguh untuk kebenaran dan bersikap benar adalah sangat mahal harganya. Beberapa orang telah membayar harga yang mahal untuk bersikap benar di hadapan Allah. Pada masa ini banyak orang Injili Baru menghormati Charles Haddon Spurgeon, namun jika mereka benar-benar membawa filosofi mereka, maka tak seorangpun akan berdiri di pihaknya ketika Persatuan Baptis Inggris (The British Baptist Union) mengucilkannya, karena sikap militannya dalam menentang kesesatan yang ditoleransi di dalam persekutuan tersebut. Dalam kasus “Pertentangan Downgrade” (”Downgrade Controversy”) yang mengguncangkan Baptis Inggris Raya, para bekas mahasiswa Spurgeon-pun bahkan bersikap menentangnya. Ia telah memberikan mereka pakaian, menyediakan makanan di atas meja mereka, dan mengantarkan mereka ke pendidikan pelayanan. Namun, kesetiaan denominasional terbukti terlalu kuat bagi kebanyakan dari mereka. Guru mereka terlalu militan, sehingga mereka memberikan suara mereka untuk menentangnya dan Spurgeon benar-benar ditinggalkan sendiri. Tetapi tangan Tuhan menyertainya, dan gerejanya jauh lebih cemerlang dibandingkan mereka yang ambruk menjadi musuh Allah. Beberapa tahun yang lalu, D. M. Panton mengatakan, “Mengidentifikasikan seseorang dengan kebenaran adalah menempatkan diri seseorang ke dalam sebuah pusat badai yang tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri”.

Selanjutnya dalam menyingkapkan alasan bahwa Injili Baru bergeser dari prinsip separasi ekklesiastikal, kita perlu mencatat fakta bahwa konsep mereka tentang tujuan berjemaat adalah berbeda dengan yang dipegang oleh kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis umumnya mempertahankan apa yang disebut dengan konsep gereja “Donatist” (Donatis) di atas konsep “Augustinian”, yakni mereka menempatkan kekudusan gereja (jemaat) yang kelihatan (visible) sebagai hal yang paling utama daripada persatuan gereja (jemaat) yang kelihatan. Augustine, seorang pemimpin dan cendekiawan gereja mula-mula, menentang kaum Donatis yang merupakan separatis dan yang tidak mau bersekutu dengan unsur-unsur gereja yang kelihatan yang mereka anggap sebagai kompromi. Perhatian Augustine terhadap persatuan di dalam gereja cenderung merusak tujuan kemurnian alkitabiah di dalam gereja. Kaum separatis fundamentalis masa kini percaya bahwa tujuan dari sebuah gereja yang kelihatan sama sekali bukanlah sekedar untuk memelihara persatuan dari segi luarnya, tetapi untuk memelihara dan mempertahankan kebenaran Allah dan kemurnian tubuh Kristus.

Selanjutnya, para cendekiawan injili mula-mula, meletakkan dasar bagi gerakan yang lebih hebat, yaitu bangkit dan memandang misi gereja sebagai alat untuk menembus dunia dengan nilai-nilai Kristen. Mereka mengatakan bahwa kaum fundamentalis sudah cukup puas jika memenangkan jiwa bagi Kristus dan memuridkan mereka. Ini belum cukup. Gereja harus bangkit dan berusaha mempengaruhi bidang sosial, politik dan ekonomi masyarakat dengan prinsip-prinsip Kristen. Misi gereja tidak hanya terbatas pada pemberitaan Injil dan bertujuan sebagai santapan rohani saja, namun diperluas mencakup suatu tanggungjawab untuk mempengaruhi masyarakat dengan standar Kristen. Salah seorang penulis mengatakannya demikian:

Penolakan injili baru terhadap separatisme sebagai suatu keyakinan berkaitan dengan konsepsi mereka terhadap peranan budaya fundamentalisme atau evangelikalisme. Mereka lebih dekat dengan warisan gubernur Massachusetts yang puritan, John Winthrop, yang bercita-cita ingin membangun suatu masyarakat Kristen, sehingga mereka berselisih dengan Roger Williams, yang menekankan suatu jemaat separatis murni dan menganggap negara sebagai hal sekuler yang tidak berpengharapan… Karena itulah, para reformator injili baru memberi lebih banyak penekanan kepada … transformasi budaya.[26]

Pengkajian Perjanjian Baru yang dilakukan dengan seksama tidak bisa menemukan satupun amanat yang ditujukan kepada gereja untuk melaksanakan “transformasi budaya”. Amanat Agung Tuhan sama sekali tidak mengandung perintah demikian. Penguasa kegelapan merupakan pemimpin politis dan religius sistem duniawi ini dan akan terus berlangsung demikian hingga tiba saatnya ia sepenuhnya dikalahkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 16: 11; 2 Kor. 4: 4). Tidak ada bukti di dalam surat-surat Perjanjian Baru, bahwa jemaat harus mereformasi kebudayaan dunia ini. Roh Kudus Allah masa kini bergerak di antara bangsa-bangsa di bumi “dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi namaNya” (Kis. 15: 14). Ia tidak berikhtiar untuk mengkristenkan bangsa-bangsa.

Berusaha Menjadi ” Orang Baik ”
Kami rasa adalah fair untuk mengatakan bahwa semangat Injili Baru adalah semangat yang kompromistis, menghindari kontroversi. Menariknya, dalam melukiskan permasalahan mula-mula yang terjadi antara Fuller Seminary dengan denominasi Presbyterian, Marsden melaporkan bahwa Presbyterian mengira seminari tersebut memecah belah. Untuk menghadapi persepsi tersebut dan mempertahankan nama baik mereka dengan para pemimpin denominasi, pemimpin Fuller “menghindari kontroversi”.[27] Injili Baru mengkhususkan diri di dalam “menghindari kontroversi”. Apa yang kita butuhkan, menurut kebanyakan pemimpin-pemimpin tersebut, bukan konfrontrasi, tetapi kontekstualisasi. “Yang dibutuhkan bukan hanya sekedar penerapan doktrin alkitabiah secara praktis, namun menerjemahkan doktrin itu ke dalam konseptualitas yang berkaitan dengan realitas struktur sosial kita dan pola hidup yang dominan pada suatu masa”.[28] Kelihatannya ia ingin mengatakan bahwa gereja harus beradaptasi, bahwa jemaat harus memberi akomodasi. Gereja harus menyampaikan pemberitaannya dengan pola yang dapat diterima oleh masyarakat di dalam suatu masa tertentu.

Francis Schaeffer bukan seorang separatis yang konsisten. Ia memulai pelayanan pada saat berkecamuknya kontroversi yang mengiringi keluarnya J. Gresham Machen dan lainnya dari gereja Presbyterian. Namun kemudian ia merangkul persekutuan yang lebih luas dan bukan dikenal sebagai seorang fundamentalis yang kuat lagi. Namun di tahun-tahun pelayanannya yang terakhir, ia menyuarakan suatu peringatan yang keras kepada gereja. Secara khusus ia memperingatkan umat Allah akan bahayanya suatu semangat yang akomodatif. Putera Francis Schaeffer, Franky, mengeluhkan apa yang dikatakannya “sikap buru-buru menyesuaikan diri yang menyedihkan”.[29]

Semua orang ingin menjadi “orang baik”; tak seorangpun mau menjadi “orang jahat”. “Orang jahat” memecah-belah persekutuan yang menyenangkan, mereka adalah “tukang siul” theologis dan ekklesiastikal - dan sedikit sekali orang yang mau mendengarkan siulan itu. Akibat usaha kebanyakan dari mereka yang ingin menjadi “orang baik”, penggalan pinggir kekristenan tersebut menjadi tumpul. Jelaslah jika dikatakan bahwa “kebaikan injili telah memperlunak kesaksiannya secara serius”, dan karena sadar akan hal itu, “kita harus berhati-hati terhadap kesopanan yang mengembangkan sifat takut-takut”.[30]

Tentu saja orang Kristen tidak boleh menerima para theolog sesat dan para pendukungnya. Tetapi tetap saja beberapa kalangan injili menolak keras pentingnya sikap ini, mereka sama sekali tidak ingin “menyerang” dan “menang”. J. Gresham Machen pada tahun 1924 memberikan pidato pada Founder’s Week (’Minggu Pertemuan Para Pendiri’) di Moody Bible Institute. Judul pidatonya adalah “Kejujuran dan Kebebasan di dalam Pelayanan Kristen”. Ia berkata, “Dosa terberat masa kini adalah mengatakan bahwa anda setuju dengan iman Kristen dan percaya kepada Alkitab, tetapi kemudian berpihak kepada mereka yang menyangkal kenyataan kekristenan yang mendasar. Tak ada yang lebih jelas lagi bahwa orang yang tidak di dalam Kristus adalah orang yang menentang Dia”.[31]

Sangat menarik untuk membaca konflik yang terjadi antara pengkhotbah besar Inggris, Martyn Lloyd-Jones, dengan orang-orang di negerinya, Inggris Raya, yang ingin melunakkan tuntutan Alkitab dan berkompromi dengan berbagai bujukan doktrinal. Lloyd-Jones, yang merupakan seorang pengkhotbah doktrinal yang kuat, tidak bisa mendiamkan orang-orang yang lemah dalam urusan ini. Ia mengeluhkan munculnya suatu “keturunan baru”: “Sebuah suasana pemikiran baru masuk dengan cepat sekali … Jadi mereka sama sekali tidak sabar dengan orang yang menekankan doktrin yang benar… Mereka sangat tidak suka dengan para nabi. Mereka menginginkan orang yang tidak berbahaya dan tidak menyakiti, yang sama sekali tidak akan mengganggu siapapun”.[32]

Beberapa kalangan Injili Baru tidak ragu-ragu untuk bersoal-jawab dengan kaum liberal mengenai masalah inspirasi Alkitab atau keillahian Kristus. Tetapi banyak yang tidak mau membuat pernyataan dogmatis dan mempertahankan posisi yang kuat dalam bidang-bidang doktrin yang diperselisihkan di antara kaum injili. Karena itulah banyak yang berkata, “Secara pribadi saya bukan seorang kharismatik, tetapi saya tidak yakin harus “menampar” mereka yang mempertahankan pandangan kharismatik”. Ini merupakan suatu semangat akseptasi (menerima), kelonggaran, dan kesediaan untuk memperbolehkan berbagai posisi yang berbeda. Apakah yang menimbulkan sikap ini di dalam gereja Kristen? “Pertama, hal itu terjadi karena derajat semangat dan sikap duniawi telah merembes ke dalam gereja. Bukanlah kebetulan jika injili mulai menyukai keterbukaan dan menolak ‘keeksklusifan’ pada saat-saat ketika suasana pemikiran umum sedang menentang dogmatisme pada setiap bidang pengetahuan. Suasana hati pada saat itu adalah menentang segala keabsolutan”.[33]

Semangat ini telah mengakibatkan para penafsir Alkitab masa itu dengan segala cara berusaha menggali pengajaran baru yang menakjubkan yang terkubur di dalam Alkitab yang belum pernah dibuka oleh para cendekiawan orthodoks sampai pada generasi ini. Lihat dan perhatikan baik-baik, atas nama evangelikalisme (injili), kini banyak yang membela homoseksual, aborsi dan feminisme. Bagaimana mereka sampai kepada sikap demikian? Mereka menghasilkannya dengan mengakomodasi Firman Allah dengan perkembangan mode-mode intelektual yang terakhir.

Sedikit sekali yang mau dikenal sebagai ‘orang kontroversial’. Mereka ingin dianggap mengasihi, ramah dan rasional. Orang dianggap ‘rasional’ jika ia tidak dogmatis. Seorang pengamat yang tajam dengan tepat mencatat hal ini ketika merenungkan semakin melemahnya keyakinan kaum injili itu. Ia mengatakan, bahwa “ada ketakutan yang berlebihan akan dianggap negatif, kontroversial dan suka bertengkar. Kritikan terhadap hampir segala hal telah menjadi hal yang tidak populer di antara orang-orang yang mengaku Kristen. Sikap mengasihi dianggap sebagai sebuah sikap yang menerima setiap orang sebagaimana adanya …Kewajiban ‘mempertahankan iman dengan tekun’ bahkan semakin direndahkan. Menekankan hal-hal tersebut berarti mengambil resiko untuk kehilangan meningkatnya akseptasi yang diharapkan kaum injili’ “.[34]

Ada suatu keinginan yang besar di antara kaum injili masa kini untuk bisa diterima oleh para penggerak dan pengguncang dunia ini. Mereka tidak mau dianggap sebagai kelompok penganut theologi sempit yang ‘terbelakang’. Mereka ingin menjadi sorotan. Pengakuan dunia merupakan keinginan mereka yang menyala-nyala. Dan banyak yang rela membayar mahal untuk menerima posisi demikian.

Orang merasa ngeri membaca kritikan dari salah seorang pengamat, namun kebenarannya harus diakui: “Kelompok injili menjilat kesana-kemari untuk mendapatkan perhatian dunia sekuler yang tidak ambil peduli. Mereka menunjukkan dirinya patut dikasihani, bukannya mempunyai pikiran yang luas, lebih menunjukkan pengkhianatan daripada mengakomodasi … yang bahkan lebih rela meninggalkan prinsip iman yang mendasar, seperti ketiadasalahan Alkitab, daripada tampil tidak sesuai mode”.[35]Penulis yang sama ini melanjutkan,

Seperti para petani yang menggigil kedinginan di gubuknya yang terletak di lahan gedung tuan tanah yang luas, para pemimpin injili kerapkali kelihatannya merindukan sebuah tempat di dalam istana - dengan lampu yang terang-benderang, balon-balon dan hiasan-hiasan mutakhirnya - atau paling tidak pandangan doktrinalnya mendapat pengakuan dari World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja Dunia), atau jika tidak mendapat pengakuan tersebut, setidak-tidaknya dimuat di dalam Christian Century. Sungguh sebuah sikap rendah diri yang menyedihkan, yaitu sikap selalu mengacu kepada pandangan yang lain, sementara pandangan sendiri tidak dipertahankan, dan kompromi yang tak henti-hentinya, sangat mewujudkan injili masa kini.[36]

Ketika Fuller Seminary didirikan, ia dipuji-puji sebagai sebuah institusi yang lebih “terbuka pikirannya”. Sementara beberapa kalangan anggota fakultas yang mula-mula tidak senang dengan segala yang dibawa, mereka segera keluar dan seminari tersebut terbenam di jalur kompromi. Dalam perkembangan berikutnya, Marsden menulis, “Perlunya keterbukaan yang membentuk sebuah koalisi injili baru sebetulnya beresiko … Itu juga berarti bahwa sebuah penekanan baru bisa tak terkendali”.[37] Ya, jelas ia menjadi “tak terkendali”. Penginjil radio terkenal, Charles Fuller seharusnya menunduk malu atas pemikiran yang berasal dari Fuller Seminary yang menggunakan nama evangelikalisme (injili).

Apa yang akan terjadi jika orang mengkompromikan kebenaran yang vital? Institusi, gereja, dan gerakan-gerakan dimana mereka terlibat akan mengalami pembusukan rohani. Bahkan seorang seperti Thomas Oden, seorang liberal, melihat bahaya akomodasi tersebut. “Pokok masalah theologi kontemporer adalah akomodatif terhadap modernitas … Semangat akomodasi telah … [mengarah kepada] pembusukan yang terus-menerus selama ratusan tahun dan bencana dekade-dekade terakhir”.[38]Para pemimpin Injili Baru mula-mula tidak pernah bermimpi panjang bahwa para pengikut mereka akan meninggalkan posisi alkitabiah yang dihargai agar lebih mendapat pengakuan dan penerimaan yang lebih baik dari masyarakat, sehingga menghinakan tuntutan kebenaran Firman Allah yang tak boleh diubah. Semakin banyak orang injili yang mulai “mencurangi” doktrin inspirasi penuh yang dihormati sepanjang masa. Dalam sebuah penelitian yang mengagumkan, Schaeffer menunjukkan hubungan antara kompromi asli dengan kesesatan dan kompromi yang kemudian dengan doktrin esensial.

Mereka yang tidak meninggalkan denominasi yang dikendalikan liberal 50 tahun yang lalu juga berkembang menjadi dua sikap. Yang pertama adalah lahirnya latitudinarianisme umum (faham yang tidak menganggap penting dogma - penerjemah) … Jika seseorang memegang faham latitudinarianisme gerejawi, maka akan gampang baginya masuk ke dalam latitudinarianisme kooperatif yang mudah sekali bergeser ke doktrin, termasuk pandangan seseorang terhadap Alkitab. Secara historis inilah yang terjadi. Karena latitudinarianisme gerejawi pada tahun 30-an dan 40-an muncullah kekecewaan terhadap Alkitab dalam hal-hal tertentu dari injili tahun 80-an.[39]

Gagasannya adalah bahwa semangat akomodatif yang banyak tertanam di dalam denominasi-denominasi lama yang telah sesat, yang menolak untuk memisahkan diri, tetap bertahan selama bertahun-tahun. Mereka tidak menghendaki adanya peperangan theologis. Mereka memperluas parameter penerimaan theologis sepanjang mereka berani mengakomodasi kelompok yang berbeda pandangan. Kubu mereka sangat besar. Hunter dengan jitu mengatakan bahwa “batas simbolis orthodoksi Protestan tidak dipertahankan atau diperkuat”.[40]Ia bertanya-tanya apakah Protestan kontemporer kini tidak sanggup mempertahankan batas-batas tersebut. Dan kepada apakah ia menghubungkan ketidakmampuan yang menakutkan ini? Ini ada hubungannya dengan apa yang disebutnya “etika kesopanan”.

Pada umumnya kaum injili dan khususnya generasi mendatang telah mengadopsi berbagai tahapan kode etik sopan-santun politis. Hal ini bukan saja memaksa mereka untuk bertoleransi terhadap keyakinan, pendapat dan gaya-hidup yang berbeda, tetapi yang lebih penting lagi adalah mereka bisa diterima oleh pihak lain. Dogma yang kritis adalah bukan untuk menyerang, tetapi bersikap sopan dan menjaga hubungan sosial. Adopsi etika ini selain mencerminkan diri mereka secara politis, ia juga mencerminkan diri mereka sebagai sebuah gaya religius … Pengertian yang terakhir ini membawa kelonggaran penekanan aspek evangelikalisme yang lebih ofensif, seperti tudingan sesat, dosa, amoral, dan paganisme, serta pokok-pokok penghakiman, kemurkaan Allah, kutukan, dan neraka. Segala sesuatu yang mengisyaratkan keabsolutan moral atau religius dan tidak-toleran adalah sikap yang menghambat.[41]

Bagaimana mungkin semangat yang lazim di dalam evangelikalisme yang berkembang ini cocok dengan Firman Allah? Apakah rasul Paulus dan para pemimpin besar gereja mula-mula berusaha mengakomodasi pengajaran mereka terhadap para pendengar duniawi dan belum diselamatkan? Kepada orang Korintus ia menulis, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu… Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan…” (1 Kor. 2: 1, 4). Dalam pengajarannya di Tesalonika, Paulus tidak pernah “bermulut manis” (kata-kata yang dimaksudkan untuk memberikan kesan yang menyenangkan mereka, 1 Tes. 2: 5). Ia tidak berputar-putar, namun menyatakan kebenaran dengan jelas dan tanpa distorsi atau berusaha untuk membuatnya “cocok’ dengan keinginan para pendengarnya (2 Kor. 4: 1-2). Banyak orang yang marah dengan pengajarannya, sehingga menyebabkan mereka berusaha untuk membunuhnya (Kis. 9: 23, 29). Ia terus-terang menyatakan bahwa pemberitaannya yang jelas dan tidak dibuat-buat adalah “kebodohan” bagi pendengar yang berpengalaman dengan hal-hal duniawi pada zamannya (1 Kor. 1: 23), meskipun demikian ia berjanji tidak akan ragu sedikitpun dalam memberitakan Injil yang tidak populer (1 Kor. 2: 2). Daripada mengelu-elukan hikmat dunia sebagai sesuatu yang didambakan, ia mengecamnya sebagai “kebodohan bagi Allah” (1 Kor. 3 : 19). Paulus bukan mengembangkan layar untuk berlayar di dunia ini. Ia memberitakan kebenaran dan bersandar kepada Roh Kudus untuk menerangi pikiran para pendengarnya. Paulus tidak memiliki semangat Injili Baru. Ia merupakan pejuang iman, yang memegang dan menggunakan pedang Roh untuk menghadapi musuh Allah.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress