TRAGEDY of COMPROMISE (bagian 2b)
oleh: Ernest D. Pickering, terjemahan: Hasan Karman, MM
Bayangan Kompromi Yang Memanjang
Injili Baru, seperti yang sudah dikatakan, berkembang di dalam pikiran para pemimpin yang hebat dan langsung memberi pengaruh yang luas dan mendapat banyak eksponen yang memiliki kemampuan. Pengaruh Injili Baru menjadi sangat kuat. Tangan-tangannya merambah sehingga menjangkau setiap area utama berkat usaha keras injili.
Pembentuk Pikiran Mahasiswa
Secara umum dikatakan bahwa seorang pribadi mencerminkan hasil pendidikan yang diperolehnya. Ia merupakan cerminan dari sekolah dimana ia belajar. Kebanyakan pemimpin Injili Baru yang orisinil merupakan cendekiawan dan pemimpin dari berbagai lembaga pendidikan. Nilai dari sekolah dan seminari yang tertanam tidak pernah terhapus dari dalam diri mereka. Untuk mengabadikan prinsip-prinsip mereka, mereka harus menyusup ke dalam kelas-kelas sekolah Kristen, sehingga mempengaruhi generasi pemimpin yang akan datang. Hal ini bisa mereka lakukan dengan kesuksesan yang luar biasa.
Salah satu sumber pemikiran Injili Baru mula-mula adalah Wheaton College, yang dihormati oleh banyak kalangan sebagai sebuah contoh klasik sekolah tinggi Kristen yang hebat. Secara bertahap posisinya memburuk sampai menampung dosen-dosen yang memegang faham evolusi theistik dan doktrin-doktrin sesat lainnya di fakultas mereka. Ia merupakan salah satu dari beberapa sekolah tinggi Kristen yang menjadi sumber studi yang dikumpulkan oleh James Davidson Hunter di dalam bukunya, “Evangelicalism: The Coming Generation”. Secara mendasar, buku itu menguraikan kecenderungan liberalisasi yang sedang berlangsung di dalam banyak sekolah tinggi dan seminari injili yang diakui selama bertahun-tahun. Buku itu mendokumentasikan bagaimana mereka meninggalkan pandangan tradisional alkitabiah mengenai masalah keluarga, theologi, moral, politik, dan pendidikan. Buku tersebut merupakan buku yang menakutkan, yang memfokus kepada informasi yang berasal dari wawancara atas enambelas sekolah tinggi sastra dan seminari liberal yang menyatakan diri injili - Sekolah Tinggi: Wheaton College, Gordon College, Westmont College, Taylor University, Messiah College, George Fox College, Bethel College, Seattle-Pacific University, dan Houghton College; Seminari: Fuller Theological Seminary, Gordon-Conwell Theological Seminary, Westminster Theological Seminary, Asbury Theological Seminary, Talbot Theological Seminary, Wheaton Graduate School, dan Conservative Baptist Theological Seminary. Tepat sekali pengamatan Hunter ketika ia mengatakan, “Contoh-contoh sekolah tinggi dan seminari ini mewakili pendidikan tinggi yang menjadi jantung Injili Amerika”.[42] Hunter tidak melakukan pendekatan terhadap subyeknya sebagai fundamentalis, namun pengertiannya bercerita banyak.
Bertahun-tahun yang lalu, ketika Injili Baru boleh dikatakan hampir belum berkembang atau menyebar seperti sekarang, seorang penulis mencatat, “Sejumlah sekolah berkembang yang di masa lalu dikenal berpendirian fundamentalisme, kini memiliki staf pengajar yang berbicara sangat keras untuk neo-evangelikalisme dan mengajarkan prinsip-prinsipnya kepada para mahasiswa. Hasilnya telah dan akan terus merusak”.[43]
Ketika kita memeriksa daftar sekolah yang diteliti oleh Hunter, pikiran kita akan menelusuri kembali masa lalu untuk merenungkan permulaan dari beberapa sekolah tersebut. Gordon College, misalnya, berasal dari institut Alkitab yang dimulai oleh A. J. Gordon, seorang gembala fundamentalis yang hebat dan misionari yang bersemangat. Houghton College dimulai oleh orang-orang konservatif yang saleh, seperti juga halnya dengan Asbury. Conservative Baptist Seminary of Denver terbentuk sebagai sebuah protes terhadap lembaga-lembaga liberal yang ada di dalam Northern Baptist Convention lama, tetapi ia segera tergelincir masuk ke dalam Injili Baru; banyak orang yang bersuka-cita atas kemunculan tersebut akhirnya menangisi kemundurannya dan keluar dari kepengurusannya. Westminster Seminary terbentuk sebagai akibat peperangan antara J. Gresham Machen menentang liberalisme di dalam Presbyterian.
Bagaimana kita merangkum penyimpangan pusat pengetahuan Injili Baru yang dipelajari Hunter? Berikut ini adalah kesimpulan yang diberikannya:
Namun hal ini sangat jelas: Protestanisme konservatif telah berubah secara signifikan sejak awal abad itu, dan dari segala sudut, ia terus berubah … Hal terpenting yang dipermasalahkan adalah mengenai tempat Alkitab. Kalau bisa, seperti sikap yang terus berkembang di dalam Injili, Alkitab akan ditafsirkan secara subyektif dan memandang perikop-perikop Alkitab secara simbolis atau tidak mengikat, Alkitab dilepaskan otoritasnya yang menuntut ketaatan. Alkitab boleh saja merupakan wahyu, tetapi secara substansial telah dilucuti.[44]
Dengan kata lain, Hunter berkata bahwa sekolah-sekolah tinggi dan seminari injili menganut pandangan Alkitab yang longgar. Jika hal ini mulai terjadi, maka otoritas Alkitab telah diruntuhkan dan ia bukan lagi Firman dari Allah yang final, melainkan telah menjadi sebuah karung undian dimana setiap orang bisa mendapatkan dukungan untuk menyokong pendapat terakhir yang beredar.
Kaum injili tersengat oleh “serangga prestise akademis”. Serangga tersebut dapat menyebabkan penyakit yang fatal. Dalam meneliti perubahan fundamentalis ke Injili Baru, ada yang menunjukkan akar penyebab permasalahan tersebut - pengaruh dari sekolah-sekolah yang tidak alkitabiah.
Tak pelak lagi, sejumlah tertentu mahasiswa muda (dari latar-belakang injili) dan para gembala yang kurang berpengaruh yang pernah berkecimpung di Yale, Universitas Chicago, atau universitas terkemuka lainnya, telah merumuskan kembali keyakinan religius mereka ketika masih berada di dalam lembaga-lembaga tersebut.
Dalam hal itu, mereka tidak selalu mempertahankan pedoman mereka kepada sikap injili terhadap Alkitab. Seminari-seminari khususnya kerapkali harus mengambil pilihan yang sulit dalam mempekerjakan staf pengajar di antara orang-orang yang terlatih tersebut. Kerugian rohani bisa terjadi ketika seseorang dipekerjakan yang tetap memakai nama Evangelikal tanpa kebenaran Evangelikalisme yang mempertahankan infalibilitas atau ketiadasalahan Alkitab.[45]
Sehelai Kain Linen Kotor
Secara tradisi seminari-seminari telah menjadi sumber pelayan-pelayan Tuhan yang terlatih. Sayangnya, tidak banyak lagi seminari yang tetap berdiri di atas iman lama dan pengajaran orthodoks Alkitab. Dalam ruang penelitian ini, kita tidak bisa secara terperinci menguji spektrum seminari yang luas itu. Terlalu banyak kain linen yang harus diuji, namun kita harus membatasi diri kita kepada satu contoh jelas yang bisa dipakai untuk menggambarkan masalah itu. Contoh yang kita pilih adalah Fuller Theological Seminary. Untuk mendapat hasil studi yang lengkap mengenai permasalahan di Fuller, orang harus membaca karya hebat dari George Marsden yang berjudul Reforming Fundamentalism: Fuller Seminary and the New Evangelicalism. Buku tersebut mengembangkan tujuh masalah:
(1) Fuller Seminary dimulai dengan tujuan khusus untuk mengubah citra dan arah fundamentalisme. Penulis ini ingat ketika seminari itu mulai didirikan. Pada saat itu ia adalah seorang mahasiswa di Bob Jones University. Dr. Bob Jones, Sr., baru kembali dari perjalanannya di West Coast (Pantai Barat) dimana ia mengunjungi sahabatnya, Charles Fuller, pengkhotbah radio yang terkenal. Dr. Jones berkata kepada mahasiswa-mahasiswa theologinya, “Anak-anak, saya baru saja mengunjungi Charlie [Fuller]. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia akan memulai sebuah seminari yang akan menghasilkan orang-orang yang akan mengubah denominasi-denominasi sesat yang lama. Saya mengatakan kepada Charlie, bahwa hal itu tidak akan terjadi dan bahwa ia akan menyesali keputusannya itu”. Saya tidak ingat semua hal lain yang dikatakan Dr. Jones pada hari itu, namun ia sangat terganggu oleh masalah tersebut. Sebagai seorang mahasiswa muda, saya tidak menyerap penuh signifikansi mengenai apa yang dikatakannya, namun terbukti perkiraannya benar.
(2) Ketegangan muncul pada masa awal di Fuller ketika sekolah itu berusaha mempertahankan hubungan dengan kaum fundamentalis, sementara tetap berusaha mengejar perubahan. Wilbur Smith menjadi sandungan khusus di kalangan yang berusaha keras untuk melakukan perubahan radikal. Smith berasal dari “kelompok lama” dan prihatin dengan apa yang dianggapnya sebagai kecenderungan doktrinal yang tidak sehat.
(3) Kaum fundamentalis semakin hari semakin menolak seminari tersebut.
(4) Pertentangan terjadi di antara staf pengajar mengenai sifat inspirasi Alkitab dan masalah-masalah lainnya.
(5) Anggota staf pengajar yang konservatif mulai keluar. Mereka termasuk Wilbur Smith, Charles Woodbridge dan Harold Lindsell. Alasan utama dibalik pengunduran diri ini adalah melemahnya posisi sekolah tersebut terhadap sikap kemutlakan Alkitab. Lindsell mendokumentasikan perjuangan mengenai hal ini di dalam bab “The Strange Case of Fuller Theological Seminary” (”Kasus Aneh Seminari Theologi Fuller”) di dalam bukunya The Battle for the Bible (”Pertempuran demi Alkitab”).[46]
(6) Seminari tersebut mengubah pernyataan doktrinalnya untuk mengakomodasi kelompok yang tidak percaya bahwa Alkitab tidak ada kesalahan. Di antara pemimpin kelompok ini adalah putera sang pendiri sendiri, Daniel Fuller, yang menjadi dekan fakultas tersebut. Ini merupakan gerakan final yang memacu sekolah itu menuju posisi theologis yang semakin ke sayap kiri.
Cerita menyedihkan tentang bubarnya Fuller Seminary tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak yang bermaksud meliberalisasi doktrin-doktrin Alkitab. Awal kompromi pasti akan berkembang semakin besar dengan berlalunya waktu. Ada kalangan yang memandang kompromi di dalam theologi sebagai suatu tanda kedewasaan. Wuthnow mencatat bahwa para cendekiawan injili masa kini “kurang dogmatis dalam menghadapi kalangan yang menganut pandangan yang berbeda”.[47] Memang begitulah kenyataannya, namun sikap tersebut telah menjadi kehancuran gerakan injili. Kita harus “memegang ajaran yang sehat” (2 Tim. 1: 13). Kewaspadaan dan perjuangan terus-menerus adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan iman. Ada satu semangat perjuangan tertentu yang diperlukan jika kita ingin mempertahankan “iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3).
Salah satu ilustrasi paling menyedihkan mengenai betapa jauhnya arus kompromi menyeret seorang cendekiawan dapat dilihat di dalam kasus Bernard Ramm. Karena ketika masih muda Ramm diasuh di dalam lingkungan fundamentalis yang kuat, maka karya-karya awalnya sangat menolong (misalnya Protestant Biblical Interpretation). Namun karena menyimpan keinginan untuk diterima secara akademis, Ramm bergeser semakin jauh dari posisi theologis yang mantap. Betapa mengagetkannya jika kita membaca dengan teliti bukunya yang berjudul After Fundamentalism yang terbit tahun 1983 dan mendapatkan ia membela sistem theologi Karl Barth, yang menolak ketiadasalahan Alkitab (inerrancy) serta doktrin-doktrin utama lainnya. “Betapa besarnya kejatuhan itu!”
Turun ke Tengah-tengah Jalan
Untuk menyebarkan pendapat dibutuhkan publikasi. Injili Baru segera menggunakan media tulisan agar bisa menyebarkan pengajaran mereka. Banyak sekali cendekiawan yang mampu menulis di antara mereka, dan banyak badan penerbit yang siap menerbitkan karya-karya mereka. Salah satu langkah awal dan yang signifikan dalam menyebarkan injil Injili Baru adalah didirikannya majalah Christianity Today. Harold Ockenga dan Billy Graham, dengan bantuan seorang Presbyterian awam yang kaya, J. Howard Pew, mewujudkan terbitan berkala yang menjadi suara terkemuka Injili Baru tersebut. Dalam pembicaraan mengenai pendirian majalah itu, Billy Graham mengusulkan kepada Harold Lindsell agar Carl Henry dipertimbangkan untuk menempati posisi editor, karena kemungkinan ia juga fundamentalistik. Marsden, dalam analisisnya mengenai kecocokan Graham dan Lindsell dalam kutipannya menulis,
Majalah baru tersebut, seperti yang diharapkan Graham, akan “menancapkan bendera injili di tengah-tengah jalan, dengan mengambil posisi theologis konservatif, tetapi dengan pendekatan liberal yang nyata terhadap permasalahan sosial. Ia akan memadukan (sisi) liberalisme yang terbaik dengan (sisi) fundamentalisme yang terbaik tanpa berkompromi secara theologis”. Ia akan dinilai baik maupun buruk oleh Dewan Gereja National dan Dunia (the World and National Council of Churches). Lebih spesifik lagi, “Pandangannya tentang Penginspirasian Alkitab agak sama jalurnya dengan buku Bernard Ramm yang terakhir [The Christian View of Science and the Scripture], yang menurut pendapat saya tidak bergeser jauh dari Penginspirasian, namun sebaliknya memberi dukungan yang kuat kepada keyakinan kita mengenai Penginspirasian Alkitab”.[48]
Frase “di tengah-tengah jalan” adalah istilah yang sangat cocok digunakan untuk para pendukung Injili Baru. Strategi aslinya adalah menekankan sifat kesamaan di antara para pemimpin ekumenis, sehingga bisa menghasilkan pengetahuan yang lebih luas untuk majalah tersebut. Demi kehormatannya, Carl Henry tidak menyetujui pendekatan ini, meskipun dengan berjalannya waktu, pendekatan ini menjadi pendorong yang umum dari majalah itu. Dalam terbitan awalnya, muncul dua editorial kunci: “Beranikah Kita Hidupkan Kembali Konflik Modernis-Fundamentalis?” (10 Juni 1957) dan “Beranikah Kita Mengulang Kontroversi Itu?” (24 Juni 1957). Editorial tersebut menggambarkan perkembangan ketidaksabaran yang berusaha terus menghidupkan perdebatan antara liberalisme dan fundamentalisme. Editorial yang lain menyatakan bahwa majalah tersebut akan “membawa dampak positif yang luas dan konstruktif, bukan negatif dan destruktif.”[49]Dengan demikian halaman-halaman Christianity Today terus-menerus mencerminkan filosofi ini, yaitu penolakan terhadap semangat perjuangan menentang kesesatan dan para pencetus ekumenisnya.
Kebanyakan orang Injili Baru mula-mula merupakan penulis yang produktif. Orang-orang seperti Carl Henry, Bernard Ramm, Edward J. Carnell, Vernon Grounds, dan Harold Ockenga menghasilkan banyak buku. Carnell terutama sangat keras menentang fundamentalisme dan menumpahkan kebenciannya di dalam The Case for Orthodoxy. Posisi lemah mengenai inspirasi Alkitab dinyatakan di dalam buku Dewey Beegle, The Inspiration of Scripture. Usaha untuk membela praktek penginjilan ekumene dilakukan oleh Robert Ferm di dalam terbitannya, Cooperative Evangelism. Pembahasan telah dilakukan lebih dahulu di dalam buku Carl Henry, The Uneasy Conscience of Modern Fundamentalism, dimana ia memberikan tempat yang lebih besar kepada kaum injili untuk terlibat di dalam masalah sosial. Karyanya, Remaking the Modern Mind juga merupakan sebuah hasil signifikan pada masa itu. Bernard Ramm berusaha menyesuaikan pengajaran alkitabiah dengan pandangan ilmiah yang beredar di dalam karyanya Christian View of Science and Scripture.
Semua karya tersebut mempunyai kesamaan karakteristik (ciri) tertentu. Pertama-tama, mandat akademis dan kemampuan dari para penulis itu terbukti. Mereka dibaca luas dan sangat berpengetahuan. Hal ini membuat tulisan mereka mendapat kredibilitas besar, terutama di antara para injili yang lebih muda, yang merasa bahwa fundamentalisme kurang mendapat penghargaan akademis. Dalam banyak karya mereka, kaum Injili Baru mula-mula memberikan kepercayaan yang amat besar kepada tulisan musuh-musuh Kekristenan. Kecenderungan ini berlangsung sampai saat ini. Karya kaum Injili Baru penuh dengan catatan kaki dan bibliografi yang diambil dari para penulis liberal dan neo-orthodoks, namun secara khusus kurang rujukannya dengan karya-karya dari kaum fundamentalis yang solid. Ini merupakan bagian dari usaha terus-menerus untuk membentuk iman Kristen agar sesuai dengan konteks modern. Proses inilah yang kini disebut “kontekstualisasi” oleh beberapa kalangan, yakni usaha untuk “memodernisasikan” pengajaran dan metode gereja agar lebih sesuai dengan budaya sekitarnya pada masa kita.
Dampak dari Organisasi ‘ Parachurch ‘
Injili Baru bukan saja menyusup ke dalam gereja-gereja mapan, namun juga menyebar melalui perantaraan pelbagai kelompok inter-denominasi, di antaranya ada yang sangat berpengaruh. Salah satu organisasi demikian adalah Campus Crusade-nya Bill Bright. Bright merupakan mahasiswa di Fuller Seminary ketika ia merasa prihatin atas kebutuhan rohani para mahasiswa dan mulai melayani di antara mereka. Ia tidak menyelesaikan kuliah, namun meninggalkan kampus pada tahun 1951 untuk mendirikan organisasinya. Selama bertahun-tahun anggota Crusade memiliki hubungan yang dekat dengan Fuller Seminary dan telah banyak menyerap pandangan posisi itu. Dalam bukunya, Revolution Now, Bright menyatakan bahwa Kristus adalah seorang revolusioner terbesar yang pernah ada dan mengajak para pengikutNya untuk mencari suatu strategi yang dapat membantu mengubah dunia. Sebuah film yang diproduksi oleh Crusade menggunakan judul demikian - Come Help Change the World. Ini kelihatannya mengabaikan pengajaran alkitabiah yang jelas, bahwa misi jemaat bukanlah mengubah dunia, namun memberitakan Injil, sehingga dapat membawa kumpulan orang keluar dari dunia untuk menjadi mempelai bagi Kristus. Crusade memiliki hubungan yang erat dengan tim penginjilan ekumenis Billy Graham, dan banyak Injili Baru terkemuka terlibat di dalam dewan Campus Crusade, orang-orang seperti Harold Ockenga, Mark Hatfield dan Dan Fuller. Seorang mantan pengerja Campus Crusade menyebutkan karakteristik pelayanan mereka:
Salah satu alasan mengapa pengajaran Campus Crusade demikian populer adalah karena pengerja Campus Crusade diajarkan untuk tidak menggunakan “jargon Kristen”, seperti saksi, bertobat, berubah, darah, neraka, dosa, diselamatkan, kekudusan, dan kesesatan … Kebanyakan mahasiswa dan anggota staff Campus Crusade yang bergabung bersama saya tetap menolak untuk meninggalkan gereja-gereja dan denominasi yang sesat … Dalam semua pertemuan Campus Crusade yang pernah saya hadiri, saya merasa tidak pernah sekalipun mendengar kata baptisan itu disebutkan … Mereka kelihatannya menganggap jemaat lokal sebagai sebuah tubuh malang dan meronta-ronta yang terdesak membutuhkan program dan metodologi super-semarak yang memberi nafas hidup dari Crusade.[50]
Kelompok lain yang mewakili semangat Injili Baru adalah Inter-Varsity dan World Vision. Kelompok-kelompok kurang terkenal lainnya yang tak terhitung dapat ditambahkan ke jumlah tersebut.
Salah satu dari media terkuat untuk penyebaran pengajaran Injili Baru adalah National Association of Evangelicals (NAE). Didirikan pada tahun 1942, organisasi ini telah menjadi corong suara dari para pemimpin gerakan Injili Baru. Sementara NAE mendahului munculnya Injili Baru, kaum Injili Baru ketika sungguh-sungguh mulai tampil, meneguhkan dan mempromosikan NAE. Berbagai denominasi yang tercakup di dalam NAE akan memberikan gagasan theologis untuk dimasukkan ke dalam organisasi itu. Beberapa di antara anggota kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
The Baptist General Conference
Assemblies of God
Christian and Missionary Alliance
Evangelical Free Church
Church of God
The Wesleyan Church
International Pentecostal Holiness Church
Free Methodist Church
Keanggotaannya dibebani dengan kekudusan yang berat dan gereja-gereja Pentakosta. Sebenarnya, keanggotaan NAE-lah yang telah memberi banyak kehormatan kepada badan-badan tersebut di dalam kalangan injili, sehingga mereka tidak perlu mengedepankan identifikasi mereka.
NAE memiliki kecenderungan ekumenis yang luas, baik pada tingkat nasional maupun melalui afiliasi regional mereka. Virgil Law, pemimpin dan jurubicara Washington Association of Evangelicals, menyatakan bahwa “kaum injili kadang-kadang merasa mereka lebih sama dengan kaum Protestan liberal yang mereka tinggalkan 40 tahun yang lalu dibandingkan dengan saudara-saudara dari kaum fundamentalis”.[51] Ia meneruskan pengamatannya bahwa “kaum injili menyambut hangat kaum liberal”.[52]
NAE mengambil posisi yang jelas menentang pemisahan gerejawi (church/ecclesiastical separation). Ketua pertamanya, Harold Ockenga, yang pada saat itu merupakan gembala Park Street Church di Boston, menjelaskan keyakinannya sebagai berikut: “Strategi fundamentalis adalah salah. Hal ini memunculkan semboyan untuk memiliki jemaat yang murni, baik sebagai jemaat maupun sebagai denominasi. Eksegesis 2 Kor. 6: 14-18 dan perumpamaan tentang ilalang merupakan dasar ekklesiologinya. Praktek menyedihkan yang disebut “paham keluar-dari” berkembang. Keyakinan bahwa seseorang harus memiliki dan akan menemukan sebuah jemaat yang murni di dunia menyebabkan perpecahan”.[53]
NAE mempunyai karakteristik semangat damai dan kooperatif. Mereka berusaha sedapat mungkin untuk inklusif. Ia sungguh-sungguh merupakan “koalisi injili baru”.[54]Sementara para pemimpin yang mendirikan NAE terutama berasal dari kaum Calvinis, mereka melihat ada peluang untuk mengembangkan kerjasama yang luas di antara berbagai kelompok yang berbeda, yang dalam penilaian mereka, tidak harus mengorbankan keyakinan pribadi. Sehingga judul sejarah pertama yang definitif dari kelompok itu adalah Cooperation Without Compromise (Kerjasama Tanpa Kompromi).
NAE mempunyai banyak organisasi afiliasi. Salah satunya adalah National Religious Broadcasters (NRB = Badan Penyiar Agama Nasional). Salah satu alasan utama dibentuknya organisasi NRB adalah konflik mengenai siaran agama. Federal Council of Churches (pendahulu dari National Council of Churches yang sekarang) membujuk jaringan-jaringan utama untuk menolak menjual jam-siar kepada penyiar-penyiar agama dengan alasan bahwa hal ini akan menghentikan masalah “keributan agama”. Namun sebenarnya, penyiar fundamentalis telah berhasil menjangkau semakin banyak pendengar yang bisa ditolerir oleh para pemimpin yang sesat, sehingga mereka berusaha menghentikannya. Pembatasan siaran rohani merupakan bagian dari perang mereka melawan fundamentalisme. NRB dibentuk pada tahun 1944 untuk melindungi hak penyiar injili dan untuk memungkinkan mereka untuk terus mengudara. NRB kini menaungi spektrum yang luas, termasuk radio rohani, pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok televisi (kebanyakan orang Injili Baru) dan telah menjangkau keluar benua Amerika Serikat, termasuk orang-orang dari negara lain.
Mengkontaminasi Amanat Agung
Injili Baru mempunyai pengaruh yang mendunia melalui berbagai organisasi misi, demikian juga melalui konferensi-konferensi dunia yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai negara. Jadi, permasalahan Injili Baru tidak terbatas di Amerika Serikat saja, tetapi akan dihadapi oleh misionari dari negeri lain.
Salah satu faktor utama awal mendunianya penyebaran pengajaran Injili Baru adalah Kongres Dunia Injili yang diselenggarakan di Berlin pada tahun 1966. Billy Graham menjadi motivator utama di balik kongres ini. Banyak informasi mengenai hal itu bisa diperoleh di dalam dua buku-besar, One Race, One Gospel, One Task, yang diedit oleh Carl Henry dan Stanley Mooneyham. Carl McIntire, seorang pemimpin fundamentalis, dilarang masuk kongres tersebut, walaupun ia memegang surat kepercayaan pers. Namun, Oral Roberts, pemimpin Pentakosta, disambut dengan tangan terbuka. Ini merupakan salah satu pertemuan internasional yang menyebarkan virus Injili Baru kepada sejumlah besar para pemimpin dari negeri lain. Pada tahun 1969 Kongres Injili Amerika Serikat dilaksanakan di Minneapolis. Kira-kira lima ribu orang hadir dan pembicaranya adalah Billy Graham dan yang lain. Dalam pertemuan itu ditekankan masalah aksi sosial.
Key ‘73 merupakan jaringan lain dari rangkaian usaha keras misi ekumenis itu. Ia merupakan usaha penginjilan ke kota-kota dan masyarakat-masyarakat secara serentak dan membenua. Terdapat 130 kelompok gereja yang berpartisipasi. Komite Eksekutifnya terdiri dari Presbyterian, Baptis Amerika, Methodis, Southern Baptist, Anglikan dan lain-lain. Themanya adalah “Memanggil Benua Kita Datang Kepada Kristus”. Gagasan usaha tersebut lahir dalam sebuah pertemuan khusus di Marriot Key Bridge Motor Hotel di Arlington, Virginia, pada tahun 1967. Apa yang dinamakan dengan Key Bridge Consultation ini dipimpin oleh Billy Graham dan Carl Henry dan terdiri atas kira-kira empatpuluh pemimpin. Mereka memutuskan mengembangkan beberapa rencana untuk menghadapi setiap orang di Amerika Utara dengan Injil. Walau itu merupakan tujuan yang mulia, namun metode pencapaiannya diputuskan secara ekumenis. Para pemimpin di antara beberapa denominasi yang paling sesat, seperti misalnya United Methodist Church, turut ambil bagian. Demikian juga dengan kelompok-kelompok Katolik Roma. Perhatikan penjelasan para uskup Katolik di Missouri ketika mereka memanggil orang setia untuk turut ambil bagian:
Kami, Uskup-uskup Katolik Missouri, dengan sukacita mengumumkan kepada anda semua, bahwa sebagai wakil umat Katolik, kami telah menerima sebuah undangan untuk bergabung di dalam program yang dikenal dengan Key ‘73 …
Ia akan dipenuhi dengan semangat ekumenisme yang asli… Salah satu cara untuk memupuk pembaharuan hubungan pribadi kita dengan Kristus adalah dengan sepenuh hati mengambil bagian di dalam pengorbanan diri Kristus di dalam Misa, ketaatan penuh kepada Kristus yang hadir di dalam Ekaristi, yakni pertemuan pribadi dengan Kristus sang Pemulih dan Pendamai di dalam Sakramen Penebusan Dosa… penggunaan Rosario… Kita harus berusaha keras untuk memperdalam ketaatan dan kesetiaan kepada Bapa Tersuci. Paus Paulus VII.[55]
Sedikit sekali yang memperhatikan perbedaan antara kesesatan dan orang percaya. Salah satu brosur Key ‘73 berkata, “Key ‘73 merupakan sebuah tanda yang penuh pengharapan, sehingga peperangan antara sebuah fundamentalisme yang mati dan sebuah liberalisme yang tidak bernyawa kini ditinggalkan di belakang, dan hanya merupakan perang bagi mereka yang ingin hidup dengan masa lalu”.[56] Pernyataan ini tentu saja hanya merupakan wujud suatu angan-angan, yaitu, bahwa fundamentalisme dan liberalisme telah mati, sehingga kita pindah kepada masalah yang lebih besar dan lebih baik. Sebenarnya, masih ada peperangan sengit antara kesalahan, seperti yang terwujud di dalam liberalisme. Dan kebenaran, seperti yang terwujud di dalam fundamentalisme.
Pada tahun 1974 langkah berikutnya diambil untuk memperluas cakupan Injili Baru ke seluruh dunia. Kongres Internasional Penginjilan Dunia diselenggarakan di Lausanne, Switzerland. Sekali lagi, sebuah semangat ekumenis menang. Billy Graham menjadi ketua kehormatan. Tokoh lain yang menjadi komite perencana adalah Bill Bright, Leighton Ford, Don Hoke, Harold Lindsell, Stan Mooneyham, dan Clyde Taylor. Graham dan Carl Henry berbicara disitu, demikian juga Malcolm Muggeridge, Ralph Winter, George Peters, Rene Padilla, Donald McGavran, John Stott dan lain-lain. Ada yang berkomentar, bahwa kongres tersebut jelas sekali merupakan “Sebuah Konsorsium Kompromi”. Sekitar dua-perlima orang injili yang hadir adalah anggota gereja yang berafiliasi dengan World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja Dunia). Billy Graham menegaskan kembali fakta bahwa ia mempunyai “hubungan yang hangat” dengan World Council of Churches dan berharap akan terus demikian. Konsep penginjilan ekumenis didorong dengan kuat.
Pertemuan di Lausanne memberikan dorongan yang besar kepada apa yang dinamakan “ethno-theological” atau pendekatan “kontekstualisasi” bagi pekerjaan misi luar negeri. Salah satu sub-komitenya adalah “Konsultasi Lausanne mengenai Injil dan Budaya”. diketuai oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa “hanya … dengan hasil Kongres Lausanne mengenai Penginjilan Dunia pada tahun 1974, para pemilih injili yang secara bulat mengakui budaya sebagai pusat kepentingan sebagai jalan komunikasi yang efektif bagi Injil”[57] Ini memang sebuah pernyataan yang sangat signifikan. Benarkah “budaya” memiliki peran utama yang terpenting di dalam memberitakan Injil? Ini jelas suatu penyimpangan dari pandangan misi yang tradisional (dan, kami yakin, yang alkitabiah). Kita tidak boleh mengadaptasikan diri kepada manusia. Manusia yang seharusnya menundukkan diri kepada Allah. Allah tidak mempunyai pengajaran yang harus dibentuk oleh budaya manusia. Ia mempunyai pengajaran yang menyatakan sebuah ultimatum kepada manusia yang tersesat, bahwa mereka harus bertobat dan kembali kepadaNya.
Apa yang dimaksud dengan “kontekstualisasi”? Ada yang mengatakan istilah tersebut “mengacu kepada titik yang meninggalkan pemikiran theologi sistematik menuju kepada pandangan sejarah kontemporer yang bertentangan dengan tradisi alkitabiah”.[58]Dengan kata lain, orang berusaha agar pengajaran dapat disesuaikan dengan keinginan manusia dan pemikiran mereka, bukan yang memanggil mereka untuk menerima pola pemikiran Alkitab. McGavran, sang ‘imam agung’ “Gerakan Pertumbuhan Gereja” menyampaikan hasil penelitian yang mengagetkan ini: “Hambatan besar orang untuk bertobat adalah masalah sosial, bukan theologis. Akan banyak orang Islam dan Hindu yang segera bertobat, jika ada jalan bagi mereka untuk menjadi Kristen tanpa meninggalkan saudara mereka, yang bagi mereka kelihatan seperti pengkhianatan”.[59]
Kitab Suci secara khusus menyatakan bahwa hambatan pertobatan adalah karena masalah theologis. Manusia sudah mati karena dosa-dosanya (Ef. 2: 1), dan benar-benar buta akan kebenaran rohani (2 Kor. 4: 3-4). Tidak seorangpun yang mencari Allah (Rom. 3: 11); mereka dihinggapi kekerasan hati (Rom. 2: 5). Semua penyesuaian kultural (budaya) di dunia tidak akan mengatasi keadaan-keadaan ini. Hanya pekerjaan Roh Allah yang berkuasa melalui pemberitaan Injillah yang akan menghasilkan perubahan!
Dari pertemuan Lausanne I (dibandingkan dengan pertemuan Lausanne II yang berikutnya), hadirlah gegap-gempita “Perjanjian Lausanne”. Keputusan pertemuan itu menghasilkan limabelas pernyataan yang dianggap merupakan cermin “konsensus injili” dalam hal-hal tertentu yang menjadi pedoman bagi doktrin dan praktek. Ada dua hal yang perlu dicatat. Yang pertama berkaitan dengan Kitab Suci. Pernyataan itu berbunyi, “Kami mengakui inspirasi, kepenuhan kebenaran dan otoritas Allah, baik di dalam keseluruhan Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebagai satu-satunya Firman Allah yang tertulis, tanpa kesalahan di dalam semua pernyataannnya, dan merupakan satu-satunya pedoman iman dan praktek yang sempurna”.[60]Susunan kata tersebut diciptakan untuk memenuhi keinginan Injili Baru yang mempertahankan posisi bahwa Alkitab tidak “tegas” (mengajar dengan otoritas yang mutlak) mengenai hal-hal seperti geografis, ilmu pengetahuan, atau rincian sejarah, kecuali hanya doktrin yang penting untuk keselamatan. Bidang lain adalah yang berkaitan dengan Roh Kudus. Pernyataan itu mendorong orang Kristen untuk berdoa mohon kunjungan khusus dari Roh Kudus, sehingga “segala karuniaNya bisa memperkaya tubuh Kristus”.[61]Hal ini termasuk untuk mengakomodasi kaum kharismatik yang hadir dalam jumlah besar. Salah satu uraian yang paling menyedihkan mengenai keadaan evangelikalisme pada saat itu adalah keterangan yang dimuat di dalam sebuah artikel yang ditulis oleh pimpinan salah satu seminari injili yang paling bergengsi di Amerika, sebuah institusi yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai fundamentalis. Sebagai peserta yang diundang, ia menyimpulkan bahwa walaupun kita tidak setuju dengan metode orang lain, kita tidak boleh mengkritik mereka yang mencoba menginjil. Sebagai anggota Independent Fundamental Churches of America (Gereja-gereja Fundamental Independen Amerika), ia menulis sebuah artikel untuk publikasi resmi mereka. (Harus dicamkan secara terbuka, bahwa banyak anggota organisasi tersebut tidak menyetujui kesimpulannya.) Penulis tersebut mengatakan,
Bagi penulis, tantangan yang kita hadapi di dalam IFCA bukanlah pertanyaan mengenai apakah Konferensi Lausanne itu harus begini atau begitu… Masalah sesungguhnya yang kita hadapi adalah pertanyaan mengenai apa yang harus kita lakukan secara konstruktif sebagai sebuah gerakan dan sebagai individu dan gereja agar Injil bisa diberitakan kepada segala makhluk. Sebelum kita sendiri secara bulat menyepakati tugas penginjilan dunia, kita tidak boleh mengkritik orang lain yang secara jujur berusaha ke arah itu.[62]
Sayangnya, pengamatan yang baru dikutip di atas merupakan ciri-ciri jawaban dari berbagai kalangan injili untuk mengkompromikan program sejenis ini. Ia kekurangan semangat juang untuk membongkar kesalahan yang seharusnya diperoleh di dalam analisis seorang pemimpin Kristen terhadap pandangan theologis yang demikian campur-aduk seperti yang ditemukan di dalam konferensi di Lausanne. Penulis menyurati pemimpin Kristen tersebut pada saat itu. Sebagian surat tersebut dikutip disini, karena membahas beberapa hal yang sangat penting yang harus dihadapi orang Kristen.
Saya baru saja selesai membaca artikel anda dalam Voice edisi Maret-April tentang Kongres Penginjilan Dunia di Lausanne. Saya sangat kecewa dengan artikel tersebut. Artikel itu tidak memaparkan bahaya tersembunyi dan kompromi terbuka dari pertemuan tersebut yang dulu pernah dinyatakan di dalam Kongres Berlin beberapa tahun yang lalu. Anda memang menyebutkan fakta bahwa ada diantara mereka yang orthodoksi theologisnya diragukan, tetapi anda tidak menekankan hal penting ini seperti yang dikatakan Kitab Suci. Jelas “khalayak ramai yang campur-aduk” ini sama sekali tidak mewakili posisi historis IFCA seperti yang saya pahami. Bagi saya kelihatannya tantangan yang dihadapi IFCA berkaitan langsung dengan pertanyaan “mengenai apakah Konferensi Lausanne memang harus demikian”.
Hal ini merupakan masalah yang sangat penting. Ada atau tidaknya orang-orang yang hadir disitu yang mempunyai hati bagi misi dunia dan keprihatinan kepada orang-orang yang terhilang ada disamping masalah ini. Masalahnya adalah apakah keprihatinan ini dinyatakan di dalam kerangka alkitabiah atau tidak. Saya yakin tidak …
Gaya kompromi yang dicerminkan di Lausanne harus benar-benar diungkapkan oleh orang-orang yang memegang posisi pimpinan dan memiliki pengaruh. Banyak diantara kita yang “sungguh-sungguh memiliki beban komitmen untuk penginjilan dunia”, karena itu kita percaya bahwa kita memiliki hak dan kewajiban alkitabiah untuk mengkritik mereka yang berusaha keras untuk menginjil dalam konteks yang tidak alkitabiah.[63]
Christian Century yang liberal memberikan komentar mengenai pertemuan Lausanne: “Selain itu, ‘Perjanjian Lausanne’, yang merupakan sebuah penegasan iman dan kesaksian injili yang singkat namun berbasis luas, membuat jelas bahwa banyak orang Protestan konservatif telah siap menumpahkan isi koper fundamentalis yang menghambat mereka untuk mengambil bagian secara penuh di dalam kehidupan gerejawi yang mendunia”.[64]
Pada tahun 1989 Kongres Penginjilan Dunia Internasional kedua bersidang di Manila. Billy Graham juga merupakan salah seorang pendukung pertemuan ini. Ada yang menyebut pertemuan itu sebagai “Global Camp Meeting” . Pertemuan itu diikuti oleh berbagai peserta yang berasal dari latar-belakang dan perspektif theologis yang berbeda. Paling sedikit ada tiga masalah menonjol yang muncul dari pertemuan ini:
1. Bisakah kharismatik dan non-kharismatik bekerjasama?
2. Sampai tahap apa misi injili akan menjangkau pelayanan sosial?
3. Bagaimana orang menanggapi suara yang berkembang dari gereja “Dunia Ketiga”?
Leighton Ford menjadi ketua kongres tersebut. Pesertanya berasal dari setiap denominasi besar mulai dari Katolik Roma sampai kelompok injili, dan dari garis utama Protestan sampai kelompok kharismatik. Ada yang menyebut kongres tersebut merupakan pertemuan antar-kultural dan antar-denominasional terbesar yang pernah ada.
Nomor pertama dari ketiga masalah yang disebut di atas secara khusus sangat penting. Kelompok kharismatik hadir dalam jumlah yang besar. Jack Hayford, seorang gembala Pentakosta dari California, mengajukan satu permintaan yang kuat kepada semua kalangan injili agar terbuka bagi manifestasi “tanda-tanda dan mujizat” yang ajaib. Katanya, gereja akan berkembang, jika mengalami “tanda-tanda dan mujizat”.
Ada desakan luas agar orang Kristen terlibat dengan masalah sosial. Banyak yang merasa, bahwa “Manifesto Manila” yang dicetuskan itu merupakan pernyataan resmi kongres tersebut, terlalu berat mencerminkan theologi pembebasan. Dalam keadaan yang terbaik, theologi pembebasan menekankan perlunya untuk mengoreksi penyakit-penyakit sosial dunia melalui usaha gereja. Bagi para theolog pembebasan, keselamatan dipersamakan dengan transformasi sosial dan politis. Dalam keadaan yang terburuk, theologi pembebasan merupakan suatu gerakan sosial yang keras, revolusioner, yang diwarnai dengan Marxisme.
Banyak yang gembira dengan keluasan yang ditunjukkan di dalam pertemuan itu. “Lebih-lebih karena konferensi tersebut memanifestasikan rasa persatuan yang luar biasa, sebab kaum kharismatik dan non-kharismatik bergandengan tangan dan beribadah bersama, dan orang Katolik Roma dan Orthodoks disambut sebagai peserta dan mendapat perlakuan yang sama”.[65]Pengamat yang sama mencatat, “Perkembangan penting lainnya adalah melunaknya sikap keras Lausanne yang ada sampai saat ini terhadap Dewan Gereja-gereja Dunia. Sebuah ranting zaitun diulurkan bagi gerakan ekumenis”.[66]
Richard Heldenbrand meneliti dampak Injili Baru terhadap misi dalam karyanya yang sangat berwawasan, Christianity and New Evangelical Philosophies. Dengan secara khusus mengevaluasi dampak pekerjaan misi Charles Kraft dan Eugene Nida, Heldenbrand mencatat bahwa pekerjaan mereka membawa efek yang merugikan. Pada masa itu Kraft adalah dosen di Fuller Theological Seminary dan Nida menjadi Sekretaris di Persatuan Terjemahan Alkitab Amerika. Mereka mengemukakan sebuah pendekatan terjemahan Alkitab dan pemberitaan Injil yang mengatakan bahwa pertimbangan yang terpenting adalah apakah para pendengar itu memahami pesan yang disampaikan, bukan apakah pesan itu akurat atau tidak. “Fokus lama di dalam penerjemahan adalah bentuk dari pesan tersebut … Tetapi fokus yang baru telah berubah dari bentuk pesan menjadi tanggapan dari si penerima pesan”.[67]
Sementara kita jelas menginginkan terjemahan yang bisa dimengerti oleh orang biasa, kita juga harus selalu waspada agar terjemahan tersebut membawa arti yang sesungguhnya dari teks yang asli. Jika kita tidak melakukan hal itu, maka Kitab Suci hanya merupakan sebongkah tanah liat yang bisa dibentuk seenaknya oleh si penerjemah. Penekanan harus selalu diberikan kepada pesan tersebut, karena ia adalah pesan dari Allah dan tidak boleh dirusak dengan cara apapun. “Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firmanKu, biarlah menceritakan firmanKu itu dengan benar! … Bukankah firmanKu seperti api, demikianlah firman Tuhan dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?” (Yer. 23: 28-29).
Melihat Melalui Kacamata Kitab Suci
Bagaimana orang harus menguji Injili Baru dari sudut Kitab Suci? Pertama-tama harus dicatat bahwa prinsip akomodatif tidak diajarkan di dalam Perjanjian Baru. Kita tidak boleh memangkas pesan atau mengubah metode Allah agar pesan kita didengar orang. Hamba Allah harus “memilah firman kebenaran itu dengan benar” (rightly dividing the word of truth - KJV). LAI menerjemahkan dengan “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (II Tim 2: 15). Ada yang menerjemahkannya “memotong dengan lurus” (cutting a straight course) di dalam Firman Kebenaran, dan ada juga yang menerjemahkannya “memperlakukan dengan benar” (correctly handling). Permasalahannya adalah kita tidak boleh menyesuaikan Firman Allah dengan keinginan manusia. Kita tidak boleh “serupa dengan dunia ini” (Rom. 12: 2), atau seperti yang dikatakan orang, “Jangan biarkan dunia membentuk anda menurut cetakannya”.
Sementara semangat ekumenis bagi beberapa kalangan kelihatan sangat bersaudara dan baik, namun hal ini tidak sesuai dengan instruksi Allah kepada orang percaya. Kerapkali konsep yang ada di balik pendekatan ini adalah mengutamakan kasih daripada doktrin. Kaum ekumenis kadang-kadang merujuk Yoh. 17: 11, dimana Yesus mendoakan “supaya mereka menjadi satu”. Mereka mencela orang Kristen yang menentang gerakan ekumene, menuduh mereka tidak taat kepada perintah ini dan membangkitkan “dosa perpecahan”. Namun kita perlu diingatkan, bahwa permintaan Tuhan kita ini telah terjawab, dan orang-orang percaya adalah satu di dalam tubuh Kristus (I Kor. 12: 13; Ef. 2: 22). Ayat tersebut tidak berbicara tentang kesatuan organisasional, tetapi berbicara tentang kesatuan rohani. Mencapai kesatuan organisasional dengan mengkompromikan doktrin adalah salah. Secara khusus Paulus menulis, “Tetapi aku menasehatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16: 17).
Salah satu aspek Injili Baru yang memprihatinkan kaum fundamentalis adalah theologi kharismatik yang sudah merembes ke dalamnya. Para pendiri Injili Baru itu sendiri bukan kharismatik, tetapi mereka memberikan suatu penghargaan baru dengan mendesak bahwa kita harus menerima doktrin kharismatik sebagai sebuah pilihan hidup, bukan mencelanya sebagai sebuah kesalahan yang tidak alkitabiah. Kelihatannya penulis harus mengemukakan dua hal: (1) Pandangan kaum kharismatik mengenai Roh Kudus dan pekerjaanNya adalah salah. (2) Kita harus menolak posisi mereka dan orang Kristen harus diajarkan bahwa theologi dan praktek kharismatik adalah bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Namun pendekatan ini tidak populer bagi kaum injili modern. Hal ini terlalu konfrontatif, terlalu memecah-belah, dan tidak ada kasih.
Buku ini tidak akan membahas kelemahan kharismatik.[68]Paulus bicara dengan jelas mengenai kewajiban kita sebagai gembala dan pemimpin-pemimpin Kristen: “… berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasehati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya” (Titus 1: 9). Itu adalah bagian positif dari pelayanan. Bagian yang negatif juga sama pentingnya. Ketika bicara tentang mereka yang mengajarkan doktrin yang salah, Paulus mengatakan, “… Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman” (Titus 1: 13). Membiarkan pengajaran sesat disebarluaskan bukanlah suatu tanda keluwesan atau keramahan.
Injili Baru telah melakukan kerusakan besar. Ia telah merembes di dalam kalangan injili. Ia telah melemahkan fondasi alkitabiah banyak gereja dan organisasi dan menekankan prinsip pragmatis terhadap theologi. Dalam bab berikut, kita akan meneliti satu orang yang mempopulerkan pendekatan ini lebih dari yang lain, yakni Evangelis Billy Graham.>
[1]Harold Lindsell, “The Bible in the Balance”, hal. 320.
[2]Sherman Roddy, “Fundamentalists and Ecumenicity”, Christian Century, 1 October 1958, hal. 1110.
[3]Vernon Grounds, “Fundamentalism and Evangelicalism: Legitimate Labels or Illicit Libels?” Dicetak oleh Conservative Baptist Theological Seminary, Denver.
[4]George Marsden, “From Fundamentalism to Evangelicalism: A Historical Analysis”, dalam The Evangelicals, diedit oleh David Wells dan John Woodbridge.
[5]Richard Quebedeaux, “The Worldly Evangelicals”, hal. 85.
[6]Surat dari Edward J. Carnell kepada konstituensi Sekolah Theologi Fuller.
[7]Arnold Hearn, “Fundamentalist Renaissance”, Christian Century, 30 April 1958, hal. 528.
[8]Harold Ockenga, “Resurgent Evangelical Leadership”, Christianity Today, 10 Oktober 1960, hal. 13.
[9]Carl Henry, “YFC’s ‘Cheer for Jesus’ No Substitute for the Apostles’ Creed”, World, 11 Maret 1990.
[10]George Marsden, “Reforming Fundamentalism”, hal. 63.
[11] Ibid.
[12]George Marsden, “Understanding Fundamentalism and Evangelicalism”, hal. 67.
[13] Ibid., hal. 71-72.
[14]James D. Hunter, “Evangelicalism: The Coming Generation”, hal. 33.
[15]Carl F. H. Henry, “The New Coalitions”, Christianity Today, 17 September 1989, hal. 26.
[16]”Is Evangelical Theology Changing?” Christian Life, Maret 1956.
[17]Ronald Nash, “The New Evangelicalism”, hal. 42.
[18] “Is Evangelical Theology Changing?”Christian Life, Maret 1956, hal. 19.
[19]Donald Bloesch, “The Evangelical Renaissance”, hal. 149.
[20] Ibid., hal. 150.
[21] Ibid.
[22]J. Randall Peterson, “Evangelicalism: A Movement’s Direction”, Evangelical Newsletter, 20 Desember 1985, hal. 4.
[23]J. Elwin Wright, “The Issue of Separation”, United Evangelical Action, 15 Agustus 1945, hal. 13.
[24] Ibid.
[25]Marsden, “Reforming Fundamentalism”, hal. 6-7.
[26] Ibid., hal. 7-8.
[27] Ibid., hal. 6-7.
[28]David Wells, “An American Evangelical Theology: The Painful Transition from Theoria to Praxis”, dalam “Evangelicalism and Modern America”, diedit oleh George Marsden, hal. 90.
[29]Franky Schaeffer, “Bad News for Modern Man”, hal. 45.
[30]David Neff, “Bad News for Modern Man”, hal. 45.
[31] Christian Beacon, 17 Januari 1957.
[32]Ian Murray, “David Martyn Lloyd-Jones: The Fight of Faith”, hal. 504.
[33] Ibid., hal. 666.
[34] Ibid., hal. 444.
[35]Schaeffer, hal. 67.
[36] Ibid., hal. 68.
[37]Marsden, “Reforming Fundamentalism”, hal. 266-267.
[38]Francis A. Schaeffer, hal. 100.
[39]Francis A. Schaeffer, interview, “Schaeffer Reflects on 50 Years of Denominational Ins and Outs”, Christianity Today, 10 April 1981, hal. 29.
[40]Hunter, hal. 183.
[41] Ibid.
[42] Ibid., hal. 9.
[43]Robert Ligthner, “Neoevangelicalism Today”, hal. 171.
[44]Hunter, hal. 184.
[45]John Woodbridge, Mark Noll, Nathan Hatch, “The Gospel in America”, hal. 130.
[46]Harold Lindsell, “The Strange Case of Fuller Theological Seminary”, dalam “The Battle for the Bible”, hal. 106-121.
[47]Robert Wutnow, “The Struggle for America’s Soul”, hal. 175.
[48]Marsden, “Reforming Fundamentalism”, hal. 158.
[49]Editorial, “On Meeting Changing Issues”, Christianity Today, 4 Maret 1957, hal. 20.
[50]Charles Dunn, “Campus Crusade: Its Message and Methods”, Faith for the Family, Oktober 1980, hal. 3, 18-19.
[51]John McCoy, “Evangelical Churches Have Foot in Each Camp”, Seattle Post-Intelligencer, 22 Febr 1986, hal. 6.
[52] Ibid.
[53]Harold Ockenga, “From Fundamentalism Through New Evangelicalism to Evangelicalism”, dalam Evangelical Roots, diedit oleh Kenneth Kantzer, hal. 42.
[54]Joel Carpenter, “The Fundamentalist Leaven and the Rise of an Evangelical United Front”, dalam The Evangelical Tradition in America, diedit oleh Leonard Sweet, hal. 283.
[55]M. H. Reynolds, “Key ‘73: An Appraisal”, Hal. 22.
[56] Ibid., hal. 35.
[57]John R.W. Stott, “Kata Pengantar” untuk Down to Earth, diedit oleh John R. W. Stott dan Robert Coote, hal. Vii.
[58]Nikos A. Nissiotis, Surat edaran, Oktober 1970.
[59]Donald McGavran, “Understanding Church Growth”, hal. 310.
[60]John Millheim, “A Consortium of Compromise”, Baptist Bulletin, Oktober 1974.
[61] Ibid.
[62]John F. Walvoord, “The Lausanne Congress on Evangelism”, Voice, Maret-April 1975, hal. 22.
[63]Surat pribadi Ernest Pickering kepada John F. Walvoord.
[64]Richard Pierard, “Lausanne II: Reshaping World Evangelicalism”, Voice, Maret-April 1975, hal. 22.
[65] Ibid.
[66] Ibid. (Ranting zaitun merupakan simbol perdamaian - penerjemah).
[67]Eugene Nida dan Charles Taber, “The Theory and Practice of Translation”, hal. 1.
[68]Beberapa kesalahan mendasar dari gerakan kharismatik dapat diringkas sebagai berikut: (1) tidak menyadari bahwa mujizat Perjanjian Baru adalah dibatasi sampai pada masa rasul, (2) mengangkat karunia yang kecil peranannya (bahasa lidah) ke tempat yang lebih tinggi, (3) tidak bisa membedakan karunia-karunia rohani yang permanen dengan karunia-karunia yang bersifat sementara, (4) salah-paham terhadap tujuan dari karunia bahasa lidah yang asli, dan (5) penekanan pada iman yang berpusat pada pengalaman yang bertentangan dengan iman yang theologis. Untuk informasi yang lebih mendalam mengenai gerakan kharismatik, silakan merujuk kepada buku-buku: Victor Budgen, “Charismatics and the Word of God”; Thomas R. Edgar, “Miraculous Gifts: Are They for Today?”; Robert Gromacki, “The Modern Tongues Movement”; John F. MacArthur, “Charismatic Chaos”; dan Ernest D. Pickering, “Charismatic Confusion”.
TEOLOGI