FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

March 13, 2009

Dibutuhkan Kesungguhan Beriman (Keluaran 17:1-4)

Filed under: Artikel, Tafsir — admin @ 5:39 pm

Oleh: Pdt. A. Gosseling (alumni STT CIPANAS)

Kualitas beriman, akan nampak, bukan saat segalanya tercukupi. Bukan disaat segala kebutuhan dimiliki. Tidak disaat tawa serta kebanggaan mewarnai hari-hari. Melainkan, ketika kebutuhan, baik yang berkaitan dengan persoalan: ekonomi, kenyamanan, keamanan, sedang dilanda kesulitan.

Kualitas beriman, akan nampak dari cara seseorang atau umat, dalam memaknai keadaan. Ini yang dinamakan pergumulan. Bukan sekedar persoalan bagaimana caranya bertahan. Namun, tentang bagaimana caranya mempercayakan diri pada Allah. Percaya akan sesuatu yang kelak akan terjadi.. Percaya, dalam keadaan terdesak oleh belbagai kesusahan serta kesulitan. Percaya walau keadaan kritis. Percaya meski airmata tak henti-henti mengalir. Percaya dalam keadaan yang tak dapat menghindari sakitnya penderitaan. Percaya pada masa depan lebih baik, meski dalam keadaan yang tidak baik. Namun ini bukan hal mudah. Ini perjuangan serius. Akan banyak pengorbanan dituntut. Seperti bimbang serta putus-asa. Akan tetapi, pertanyaannya adalah: apakah ada orang beriman yang bisa dijadikan refrensi sebagai teladan beriman demikian!? Abraham, sempat gagal dalam hal ini, karena takut keamanan dirinya terancam, maka Sara pun disangkal sebagai isteri –baca Kejadian 12:11-12. Dan masih banyak lagi bagian perjalanan hidup para leluhur beriman kita yang kisahnya sempat mengalami kegagalan dalam hal beriman. Salah satunya adalah kisah perjalanan keluaran dari Mesir, seperti terurai dalam keluaran 17:1-4 ini.

Lantas, apa tujuan penulis Alkitab meyajikan kisah kegagalan beriman itu sendiri!? Pertama. Hendak mengingatkan umat, bahwa, persoalan hari-hari, seperti makan-minum, keamanan-kenyamanan, kedamaian-kebahagian, berpotensi menciptakan kegagalan beriman pada Allah. Berpotensi mematikan semangat beriman, sebab, dapat memancing berpikir pada sisi akali semata. Sehingga ruang-ruang perenungan, ruang-ruang keyakinan, kalah atas nama rasionalitas yang tak beraturan. Sebab yang rasional itu umumnya dikatakan bahwa orang butuh makan, butuh minum, butuh kenyamanan, butuh keamanan, butuh hiburan atau kesenangan, juga butuh kedamaian. Jadi tak heran, jika orang Israel yang tengah berjalan keluar dari Mesir, kemudian merasa meyesal. Mereka berpikir secara rasional, bahwa, sekalipun statusnya budak saat berada di Mesir, namun itu jauh lebih baik, sebab segala kebutuhan hari-hari bisa terpenuhi. Ketimbang jadi orang merdeka, namun alami kesusahan.

Orang-orang Israel yang kalap karena merasa kebutuhannya terancam, tidak peduli lagi dengan belbagai mujizat yang sebelumnya dilihat. Mereka tidak mau tahu dengan banyaknya tulah yang Allah buat di Mesir. Peristiwa laut terbelah dua, tidak lagi jadi sesuatu yang bisa jadi alasan punya semangat beriman pada Allah. Karena yang rasional saat itu adalah, mereka butuh air. Mereka perlu minum. Benar memang! Air sangat dibutuhkan saat itu. Kesalahannya adalah, ketika tuntutan kebutuhan itu merubah keyakinan mereka kalau Allah sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya! Dan mereka telah terlalu jauh meninggalkan ruang-ruang perenungan imannya. Apalagi ketika menganggap, bahwa, panggilan Allah hanya menjerumuskan pada kesulitan. Akibatnya, meyesal telah percaya pada-Nya. Kisah ini ditulis, lalu dikotbahkan, agar umat yang kemudian, tidak mengulangi lagi kesalahan serupa. Masalahnya, sedikit sekali kemampuan merenung. Sehingga, kesalahan demi kesalahan terus berulang. Bak keledai yang terperosok dua kali pada lubang yang sama, demikian sejarah gereja terus mencatat pengulangan kesalahan seperti umat Israel masa lalu dalam bentuk terbaru. Versi aktual ditiap zamannya. Seperti halnya Isarel dimasa lampau yang melulu mencari keuntungan diri sendiri, cuma memikirkan dirinya, tiap zamannya, hal yang sama juga nampak dalam hidup umat beriman. Bahkan, lagi-lagi, seperti yang dilakukan umat Israel masa lalu, banyak orang percaya Allah hanya untuk mengejar keuntungan. Bahkan, menjadi imam Allah pun orientasinya banyak yang pelan-pelan – sebenarnya secara malu-malu namun nekad – mencari keuntungan diri sendiri. Dasarnya, ya atas nama rasionalitas, bahwa kebutuhan tidak boleh diabaikan demi kelancaran pelayanan. Di sisi lain, atas nama pengorbanan, sebenarnya diam-diam secara sadar mau meyusahkan para imam, pelayanan diidentikan dengan kesiapan diri disusahkan. Kesusahan yang dengan sadar diciptakan. Perhatikan bacaan tadi, Musa berada dalam posisi sulit sebab diciptakan secara sadar oleh umat. Dan tidak sedikt juga Pelayan, khususnya pendeta dimasa kini dipersusahkan secara sadar oleh umat bukan!? Herannya, ada banyak orang bersaksi telah melihat mujizat terjadi, dan tanpa malu, setiap ia hadir, bukan menjernihkan masalah, namun justeru sebagai pencipta persoalan itu sendiri! Mujizat yang dilihat dan kesaksian-kesaksiannya, tak nampak dengan perubahan karakter diri. Seperti nonton film, kagum sebentar, setelah lewat sehari, lupa! Itu namanya orang beriman panadol! Lupa terus akan perjalanan sebelumnya. Banyak melihat, namun tidak tahu apa-apa. Miskin wawasan. Banyak mendengar, namun tidak satupun diingat! Bayangkan, apa yang akan tejadi, jika mentalitas mencari keuntungan bagi diri sendiri dan gampang melupakan karya Allah itu nampak dalam diri, mulai dari jemaat sampai pelayan, termasuk para pendeta!? Maka yang pasti, dengan mengutip kata Alkitab: “Ibadahmu suam-suam kukuh! Tidak panas dan tidak dingin! Mau muntah Aku!”

Kedua. Penulis Alkitab mau mengingatkan, bahwa, Allah selalu jadi harapan. Ia adalah jalan keluar bagi segala kesusahan. Dia tidak akan memanggil hanya untuk mempersulit keadaan diri umat. Jika orang Israel dalam bacaan tadi merasa lebih baik jadi budak, asal nyaman dan aman kebutuhannya, maka Allah menghendaki hal berbeda. Ia ingin, agar harkat serta martabat manusia diberi penghargaan setinggi-tingginya. Dan untuk hal itu, Allah bersedia menghancurkan siapa pun yang secara sadar melakukan upaya perendahan terhadap sesama. Karena setiap airmata yang keluar karena jadi korban yang disusahkan sesama, selalu menarik bela rasa Allah. Itu sebabnya, Israel dibebaskan dari Mesir. Hal yang sama juga pasti akan Ia lakukan saat ini. Jadi, jika ingin Allah membebaskan anda dari segala derita, maka, dibutuhkan kesungguhan beriman pada-Nya. Serta, jangan berpikir keuntungan dari mengikuti-Nya. Karena keuntungan hanya akibat dari beriman itu sendiri. Bukan sebab! Mujizat terjadi sebagai akibat dari beriman pada-Nya. Jangan dibalik, sebagai sebab! Karena itu hanya menjerumuskan kita pada kesalahan umat Israel dimasa lalu, sebagaimana tadi dalam bacaan. Kini, apakah kita akan menjadi manusia-manusia beriman yang hadir untuk menuliskan sejarah beriman lebih baik atau, justeru bak keledai yang jatuh pada lubang sama untuk kedua kali?!

2 Comments »

  1. Gua setuju banget.

    Comment by Yohan Kalibato — March 16, 2009 @ 11:40 pm

  2. Bagi sebagian orang (boleh jadi sebagian sangat besar) kita tengah mengada di suatu zaman yang “kering mukjizat”.Bagi kita tiada lagi tiang awan dan api atau manna yang tercurah dari langit. Namun benarkah demikian? Benarkah ketika fenomen-fenomen telah mendapatkan eksplikasi ilmiahnya dalam sains, mukjizat tidak lagi nyata?
    Paul Davies, dalam essainya pada kompendium essay saintis “Third Culture”, mendaku bahwa hanya tersisa tiga ranah yang belum dapat dijelaskan sains dengan memadai (sehingga “iman kepada realitas transenden” masih mendapatkan vitalitasnya):muasal semesta, muasal kehidupan, dan realitas dimensi waktu. Seolah “iman” adalah sebentuk anakron dalam zaman yang mengagulkan rasionalitas–iman tersisih kepada segala yang “irasional”. Namun, benarkah demikian?
    Bagi saya, kegagalan untuk melihat keseharian kita yang bersahaja dan “tidak ajaib” sebagai mukjizat yang sesungguhnya adalah sebuah kesalahan yang tidak terperi. “Iman” adalah mengenai “melihat” wahyu ilahi bahkan pada iota tersederhana kehidupan kita. “Iman” adalah, untuk meminjam kosakata Heidegger, prakarsa untuk mencandra kehidupan melampaui wajah banalnya yang ontis. Namun setiap pencandraan yang “eksistensial” senantiasa bertolak dari dan melampaui lokus banalitas dan ontisitas kehidupan.
    Mungkin Goenawan Mohamad benar ketika mengatakan: “Iman justru tak kunjung jera ketika Tuhn tidak menjadi bagian dari benda-benda yang terang”.

    Comment by Risang A. Elliarso — May 21, 2009 @ 9:27 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress