<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Dibutuhkan Kesungguhan Beriman (Keluaran 17:1-4)</title>
	<link>http://forumteologi.com/blog/2009/03/13/dibutuhkan-kesungguhan-beriman-keluaran-171-4/</link>
	<description>Karya tulis Anda menghidupkan kami</description>
	<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 16:57:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=wordpress-mu-1.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: Risang A. Elliarso</title>
		<link>http://forumteologi.com/blog/2009/03/13/dibutuhkan-kesungguhan-beriman-keluaran-171-4/#comment-44022</link>
		<author>Risang A. Elliarso</author>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 16:27:05 +0000</pubDate>
		<guid>http://forumteologi.com/blog/2009/03/13/dibutuhkan-kesungguhan-beriman-keluaran-171-4/#comment-44022</guid>
		<description>Bagi sebagian orang (boleh jadi sebagian sangat besar) kita tengah mengada di suatu zaman yang "kering mukjizat".Bagi kita tiada lagi tiang awan dan api atau manna yang tercurah dari langit. Namun benarkah demikian? Benarkah ketika fenomen-fenomen telah mendapatkan eksplikasi ilmiahnya dalam sains, mukjizat tidak lagi nyata?
Paul Davies, dalam essainya pada kompendium essay saintis "Third Culture", mendaku bahwa hanya tersisa tiga ranah yang belum dapat dijelaskan sains dengan memadai (sehingga "iman kepada realitas transenden" masih mendapatkan vitalitasnya):muasal semesta, muasal kehidupan, dan realitas dimensi waktu. Seolah "iman" adalah sebentuk anakron dalam zaman yang mengagulkan rasionalitas--iman tersisih kepada segala yang "irasional". Namun, benarkah demikian?
Bagi saya, kegagalan untuk melihat keseharian kita yang bersahaja dan "tidak ajaib" sebagai mukjizat yang sesungguhnya adalah sebuah kesalahan yang tidak terperi. "Iman" adalah mengenai "melihat" wahyu ilahi bahkan pada iota tersederhana kehidupan kita. "Iman" adalah, untuk meminjam kosakata Heidegger, prakarsa untuk mencandra kehidupan melampaui wajah banalnya yang ontis. Namun setiap pencandraan yang "eksistensial" senantiasa bertolak dari dan melampaui lokus banalitas dan ontisitas kehidupan. 
Mungkin Goenawan Mohamad benar ketika mengatakan: "Iman justru tak kunjung jera ketika Tuhn tidak menjadi bagian dari benda-benda yang terang".</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian orang (boleh jadi sebagian sangat besar) kita tengah mengada di suatu zaman yang &#8220;kering mukjizat&#8221;.Bagi kita tiada lagi tiang awan dan api atau manna yang tercurah dari langit. Namun benarkah demikian? Benarkah ketika fenomen-fenomen telah mendapatkan eksplikasi ilmiahnya dalam sains, mukjizat tidak lagi nyata?<br />
Paul Davies, dalam essainya pada kompendium essay saintis &#8220;Third Culture&#8221;, mendaku bahwa hanya tersisa tiga ranah yang belum dapat dijelaskan sains dengan memadai (sehingga &#8220;iman kepada realitas transenden&#8221; masih mendapatkan vitalitasnya):muasal semesta, muasal kehidupan, dan realitas dimensi waktu. Seolah &#8220;iman&#8221; adalah sebentuk anakron dalam zaman yang mengagulkan rasionalitas&#8211;iman tersisih kepada segala yang &#8220;irasional&#8221;. Namun, benarkah demikian?<br />
Bagi saya, kegagalan untuk melihat keseharian kita yang bersahaja dan &#8220;tidak ajaib&#8221; sebagai mukjizat yang sesungguhnya adalah sebuah kesalahan yang tidak terperi. &#8220;Iman&#8221; adalah mengenai &#8220;melihat&#8221; wahyu ilahi bahkan pada iota tersederhana kehidupan kita. &#8220;Iman&#8221; adalah, untuk meminjam kosakata Heidegger, prakarsa untuk mencandra kehidupan melampaui wajah banalnya yang ontis. Namun setiap pencandraan yang &#8220;eksistensial&#8221; senantiasa bertolak dari dan melampaui lokus banalitas dan ontisitas kehidupan.<br />
Mungkin Goenawan Mohamad benar ketika mengatakan: &#8220;Iman justru tak kunjung jera ketika Tuhn tidak menjadi bagian dari benda-benda yang terang&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yohan Kalibato</title>
		<link>http://forumteologi.com/blog/2009/03/13/dibutuhkan-kesungguhan-beriman-keluaran-171-4/#comment-43288</link>
		<author>Yohan Kalibato</author>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 06:40:32 +0000</pubDate>
		<guid>http://forumteologi.com/blog/2009/03/13/dibutuhkan-kesungguhan-beriman-keluaran-171-4/#comment-43288</guid>
		<description>Gua setuju banget.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gua setuju banget.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
