Veda
sumber dari: J.Petrus Lazuardi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Veda adalah dokumen tertulis tertua di dunia yang memuat berbagai inti sari kehidupan dan rahasia-rahasia alam duniawi dan rohani. Berbagai rongrongan, hujatan dan tipu daya ditujukan kepada Sanatana Dharma (Hindu) demi untuk mengejar pengikut sebanyak-banyaknya dengan didorong oleh fanatik sempit oleh sekian banyak oknum dari kalangan agama-agama yang tergolong agama Timur Tengah (Berger, 1981). Mulai dari usaha kalangan misionaris Kristen yang memiliki misi menterjemahkan Veda dalam bahasa Inggris denggan tujuan memutar balikkan isi Veda sampai dengan kebohongan yang dibuat-buat kepada pengikut Veda yang pemahaman tentang ajarannya masih dangkal sehingga terbujuk meninggalkan gudang mutiara Veda.
Benarkah Veda adalah dokumen kuno yang sangat kolot dan ketinggalan zaman? Apakah Hindu agamanya orang-orang pra-sejarah? Golongan orang-orang musrik penyembah berhala? Sudah saatnya kita membuka mata lebar-lebar, memilah-milah manakah kamus lengkap dan mana kamus yang cuma buat contekan. Mari kita bandingkan antara Al-kitab yang hanya terdiri dari beberapa buku (setelah diadakan pengeditan oleh Paulus I), bahkan jika dibandingkan ternyata hanya sebagian kecil dari kitab Bhagavad Gita (Ellsberg, 1991). Al-Quran yang terdiri dari sekitar 9000 ayat. Dan tahukah kita bagaimana dengan Veda? Sudahkah kita sebagai Hindu melihat atau mungkin memiliki Veda yang lengkap? Ya, ternyata Veda begitu luas dan memang susah menelah semua isinya. Banyak isi-isi Veda yang mungkin tidak masuk dinalar tetapi sungguh-sungguh terjadi. Ambil saja contoh ayat yang menyatakan kotoran sapi sebagai penyucian segala mala, Siapa yang percaya? Tetapi ternyata dari teknologi modern saat ini memang benar bahwa kotoran sapi dapat menyembuhkan berbagai penyakit oleh bakteri, jamur maupun virus karena kandungan senyawa anti biotiknya. Inilah Veda, kamus lengkap yang menaungi semua kamus-kamus kecil lainnya. Tetapi sayangnya kita sebagai pewaris ternyata tidak pernah tahu bagaimana Veda sesungguhnya, hanya bisa bengong menyaksikan unjuk kebolehan orang lain yang ternyata tidak melebihi dari seperempat saja pernyataan-pernyataan kebenaran Veda. Kita hanya bisa menunggu sampai orang lain menyelidiki dan mengemukakan keluar biasaan isi Veda.
Dalam tulisan kecil ini saya akan mencoba untuk menelah sloka-sloka Veda tentang energi Nuklir sesuai dengan bidang studi yang saya geluti saat ini di Fakultas Teknik UGM. Disamping itu sebagai tambahan saya akan coba menghubungkan Veda dengan ilmu pengetahuan populer lainnya. Mari kita cermati sisi-sisi lain, sisi yang sangat luar biasa, hal yang memang belum banyak disadari oleh pengikut Veda sendiri. Inilah satu dari ribuan sisi luar biasa Veda. Semoga kebenaran datang dari segala penjuru.
B. Tujuan
Tidak dapat dipungkiri, generasi Hindu kita saat ini sudah mulai mengalami kebutaan, kebodohan dengan mencampakkan mutiara Veda dan lebih tertarik dengan perhiasan-perhiasan tembaga dan perunggu, lebih tertarik untuk diselamatkan. Apakah itu memang benar? Siapakah yang salah? Menurut pengamatan saya, ada begitu banyak motif orang berpindah agama, diantaranya adalah :
1. Karena harta benda. Ternyata hal ini sangat banyak terjadi di sekitar kita. Dalam menjalankan misi kemisionarisannya, terdapat sekian banyak oknum Kristen dengan menjanjikan uang bagi mereka yang mau ikut seiman sebagai orang Kristiani. Dan sedihnya lagi ternyata para misionaris mendapatkan uang dari setiap kepala yang berhasil mereka konversi.
2. Kecintaan duniawi. Adalah hal yang sangat lumrah dan biasa jika seseorang rela melepas agamanya demi seorang kekasih. Meskipun dia belum tahu tentang agama yang akan dia anut apakah dengan ajaran lebih baik, lebih sesuai dengan dirinya atau malah sebaliknya? Mungkin tidak masalah jika itu sesuai dengan nuraninya, tetapi jika bertentangan, ternyata dia juga lebih memilih kekasihnya. Meski Krisna sendiri bersabda dalam Bhagavad Gita bahwa begitu banyak jalan menuju Beliau, tetapi banyak aspek lain yang harus dipertimbangkan, terlebih lebih dalam jaman kali ini.
3. Balas budi. Ada sebuah kisah keluarga yang saya temui, ternyata mereka masuk agama tertentu hanya karena mereka dibantu waktu mereka mengalami kesusahan materi. Secara tersembunyi mereka sering diajak mengikuti ritual keagaman agama tertentu. Sampai akhirnya dengan rasa hutang budi mereka mengikuti agama orang itu tanpa mengerti sedikitpun tentang isi kitab sucinya.
4. Kebodohan. Banyak orang merasa kalau agama tertentu lebih baik hanya dengan mendengar dakwah-dakwah orang saja. Merasa malu akan hujatan dan pernyataan miring yang ditujukan kepadanya. Padahal sebenarnya pengetahuan mereka tentang agamanya sendiri sangat dangkal. Inilah kasus-kasus yang sering menimpa saudara-saudara kita. Bahkan setelah pindah agama sering kali mereka menjelek-jeleknya agama yang pernah mereka anut, meskipun sebenarnya dia tidak pernah tahu hal yang sesungguhnya tentang agama tersebut. Tidak pernah membandingkan kedua kitab suci-nya, karena mereka hanya tahu dari isu-isu orang tanpa pernah mau membuktikannya. Bukan hal yang salah jika ada saudara kita masuk agama lain, asalkan mereka memang bisa lebih baik dan lebih yakin dengan agama mereka yang baru.
5. Paksaan. Bukan hal asing dalam sejarang manusia, sekelompok orang tega-teganya memaksakan keyakinannya kepada orang lain dengan dalih agama. Setidaknya inilah yang saya baca dari metode penyebaran islam melalui dakwah dalam tulisan-tulisan Harun Yahya. Silahkan anda cek di internet. Di Jogja sendiri banyak saudara- saudara kita dikawinkan dan dipaksa untuk masuk agama tertentu. Mereka tidak bisa menolak dan tidak mampu bergeming karena kebodohan mereka sendiri tentang Veda. Dan masih banyak lagi motif-motif lainnya yang tidak bisa kita bahas satu persatu dalam makalah singkat ini.
Tujuan utama dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dan kewajiban dalam mengikuti kuliah agama Hindu, dan sekaligus saya ingin menyampaikan sebatas pengetahuan saya kepada pembaca paper ini tentang hakekat Veda yang tidak pernah bertentangan dengan IPTEK. Veda benar-benar selaras dengan teknologi itu sendiri. Dan sebagai tujuan terselubung saya ingin mengajak pembaca untuk lebih mencintai Veda, mencintai Hindu. Pelajarilah Dia, dalam Veda tidak ada istilah murtat Jika kita mengutak-atik dan membuktikan kebenaran sloka-slokanya. Tetapi saya tidak yakin jika pembaca bisa melakukan hal serupa terhadap kitab agama-agama timur tengah. Andaikan ada saudara kita yang berminat pindah agama, silakan! Itu haknya, tetapi saya harap coba cermati isi-isi Veda dan bandingkanlah dengan kitab suci agama yang ingin dituju. Saya yakin orang-orang pintar akan memilih Veda, tetapi kita yang bodoh malah sebaliknya. Hal ini terbukti dengan perkembangan Veda di barat yang sangat pesatnya pada abad ini, dianut oleh cendikiawan dan ilmuwan terkenal, tetapi sebaliknya disini kita bagaikan menyia-nyiakan mutiara ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
Memperoleh kebenaran ilmiah, pengetahuan modern memakai langkah-langkah baku yang dikenal sebagai metode ilmiah. Dalam Hindu yakni dalam filsafat Samkhya, langkah-langkah tersebut disebut dengan Tri Premana yang merupakan metode ilmiah dalam Hindu. Jika hidup dipandang sebagai sebuah eksperiment (menyitir pendapat Mahatma Ghandi), maka Tri Premana adalah landasannya. Eksperiment bermula dari adanya problem yang harus dipecahkan. Pemecahan masalah didasarkan atas pengamatan atas gejala-gejala yang timbul (Anumana Premana). Mengumpulkan keterangan dari sumber tertulis atau pengalaman orang lain/data sekunder (Agama Premana) serta dibuktikan dengan pengamatan langsung/ data primer (Praktiasa Premana) (Suja, 2000).
Agama masa depan adalah agama alam semesta. Agama yang menghindari dogma dan teologi. Berlaku secara alamiah dan batiniah, serta berdasarkan pengertian agama yang muncul karena berbagai pengalaman, baik fisik maupun spiritual dan merupakan satu kesatuan yang sangat berarti. (Strathern, 2003).
Problem Gandhi dengan Kristen, semata-mata hanya pada pemahaman teologis dan etnis. Dia tidak dapat mengimani bahwa Yesus Kristus hanya satu-satunya anak Allah, juga tidak dapat menerima bahwa keselamatan bergantung pada pengakuan tersebut. Pada saat yang sama, tingkah laku orang-orang Kristen membuatnya ragu, bahwa agama mereka memiliki banyak klaim-klaim tentang kebenaran. Tidak hanya perilaku orang-orang Kristen barat yang telah memunculkan dua kali perang dunia sepanjang hidup Ghandi, tetapi juga perilaku monarki Inggris dan seluruh agen-agen kekaisaran yang merupakan pemuja Kristus di gereja (Ellsberg, 1991).
Sumber paling berharga di antara karya-karya Tustari yang luas yang mencakup inti ajarannya adalah tafsir mengenai Al-Quran, dimana Tustari sebagai pengarang utamanya dan sejumlah teman serta murid-muridnya sebagai penyusun aktual. Tafsir ini, Tafsir Al-Quran terdiri dari kompendium yang paling berharga dari tradisi Tustari dan disusun dalam bentuk finalnya antara 888 dan 910. Ia dihargai sebagai produk awal tafsir sufi mengenai Al-Quran. Sebagai tafsir Al-Quran sufi tertua yang masih bertahan dan sebagai pelopor literatur yang berwawasan luas dan penting, meskipun kaum sufi dianggap sebagai golongan sesat dalam Islam ( Berger, 1981).
Di dunia ini semua pekerjaan untuk memperoleh ganjaran atau dengan kata lain untuk mendapatkan hasil. Jika pekerjaan itu tidak mendatangkan hasil, manusia tidak akan bekerja sama sekali. Apakah keberatan Krishna kalau Arjuna menghendaki hasil perbuatannya? Bila semua orang bekerja menghendaki hasil, apakah arti yang lebih mendalam ajaran Krishna kepada Arjuna untuk bekerja untuk tidak mengharapkan ganjaran? Tujuan Krishna adalah agar segala karma atau perbuatan yang dilakukan oleh Arjuna dirubah menjadi Yoga sehingga semua perbuatannya itu membawanya menuju kebebasan. Ajaran Krishna adalah agar perbuatan Arjuna tidak hanya menjadi karma, tapi perbuatan itu harus menjadi sasaran bagi Arjuna untuk menjadi tujuan spiritual, dengan kata lain agar perbuatanya itu menjadi karma yoga. (Drucker, 1988).
Ajaran Veda ternyata sangat banyak mengandung wacana ilmiah. Veda mengajarkan bahwa secara fisik alam semesta ini terdiri atas Bhutakala (materi dan energi), dan interaksi antara keduanya itulah menyebabkan terjadinya perubahan dan karma. Menurut hukum Thermodinamika, partikel-partikel penyusun materi senantiasa menghindari dari keterikatan untuk menuju kebebasan, yang sangat relevan dengan konsep Moksa dalam Veda. Dalam hal penciptaan, sains dewasa ini dapat menerima teori ledakan besar (Big Bang), yang ternyata sesuai dengan penciptaan alam semesta menurut pandangan Waisasika Darsana. Ajaran filsafat tersebut juga telah memperkenalkan konsep atom (Anu) yang menyusun materi. Bhuana agung dan Bhuana alit juga sudah diperkenalkan berbentuk lonjong dan disimbolkan dengan lingga. Banyak lagi konsep ilmiah dalam Veda (Suja, 2000).
BAB III
TINJAUAN VEDA SECARA ILMIAH
Sebelum kita berbicara mengenai masalah pokok, yaitu mengenai hubungan Veda dengan Nuklir, mungkin ada baiknya kita juga membahas Veda dalam kontek kehidupan modern dan membandingkannya dengan agama lain. Dan dilanjutkan dengan pandangan ilmiah tentang teknologi yang sudah barang tentu didalamnya juga ada tentang teknologi nuklir.
Saya menyadari sepenuhnya aspek-aspek kehidupan begitu luas, karena itu saya akan berusaha menuliskan beberapa hal yang sesuai dengan tingkat pemahaman saya sebagai mahluk ciptaan-Nya yang tidak lepas dari maya dan kebodohan.
A. Kenapa di dunia ada banyak kitab suci?
Bertolak dari filsafat Veda, Tuhan telah memberikan jalan bagi segenap mahkluk hidup untuk kembali ke sisinya, mencapai kebebasan dengan cara menghilangkan kebodohan yang menghinggapi segenap mahkluk hidup melalui ajaran-ajaran suci yang di Wahyukan-Nya. Pertanyaannya kenapa ada banyak agama? Yang pada kenyataannya berbagai keributan, kerusuhan yang datang silih berganti selalu berkedok agama? Bhagavad Gita bab IX.29 menyebutkan: “Aku sama bagi semua mahkluk, tidak seorangpun yang terbenci dan tersayang oleh-Ku, tetapi bagi mereka yang memuja Ku dengan penuh pengabdian, maka Aku ada di dalam mereka dan mereka ada di dalam-Ku”. Veda sendiri tidak membatasi bagaimana cara seseorang memuja Tuhan, selama cara-cara itu tidak merugikan dan menyakiti mahkluk lain. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk ajaran Catur Marga Yoga yang meliputi Bhakti, Karma, Jnana dan Raja Yoga. Terus apakah yang salah dengan saudara-saudara kita yang setiap saat menghujat orang yang tidak sekelompok dengannya dengan bertamengkan agama? Tidak bisa kita pungkiri memang seperti itulah perintah-perintah yang tertulis dalam berbagai kitab tafsirnya. Siapa yang salah? Tuhan sebagai pewahyu-Nya ataukah orang yang menafsirkannya? Hal yang sangat jarang disadari oleh sekelompok orang dengan egonya yang besar.
Inilah fanatik sempit dengan dasar ajaran rohani yang masih rendah, hanya karena mereka masih terbelenggu kebodohan mereka sendiri. Mari kita menengok kembali ke belakang bagaimana ajaran agama itu diturunkan. Sesuai dengan namanya, Sanatana Dharma (dharma = agama, sanatana = abadi, itulah Hindu) dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan dan penyimpangan. Atas dasar ini, setiap penyimpangan yang terjadi pada Veda akan selalu mengalami pelurusan dengan turunnya berbagai Avatara. Avatara sendiri menurut kitab Visnu Purana terdapat tiga jenis, yaitu Avatara dari Tuhan itu sendiri yang meliputi Dasa Avatara, Avatara para Dewa (seperti Sankara Carya yang disebutkan Avatara dari Dewa Siwa) dan Avatara dari manusia yang diberi kekuatan khusus dari Tuhan untuk mengemban suatu misi (contohnya Muhammad dan Yesus). Hindu bagaikan kebudayaan yang terlahir berulang-ulang kali dan tampak selalu baru, bukan hanya dari orang Hindu sendiri, tapi ilmuwan barat juga telah mengakuinya. Hanya karena Veda telah menurunkan kitab-kitab khusus, ajaran-ajaran tertentu untuk masing-masing jaman dalam satu kalpa. Ingatlah setiap ajaran diturunkan sesuai dengan tempat dan waktunya.
Kenapa dulunya orang Islam dulunya diwajibkan sholat 50 kali dalam sehari dan pada akhirnya sekarang tereduksi menjadi 5 kali? Kenapa Islam cenderung keras dengan jihadnya? Dengan peraturannya yang keras dan mengikat? Tidak lebih karena keadaan masyarakat waktu Al-Qur’an diturunkan yang cenderung keras dan hanya bisa dihadapi dengan kekerasan. Sampai-sampai Nabi Muhammad sendiri harus hijrah ke Madinah karena dikejar-kejar orang-orang “bodoh”. Dalam Al-Qur’an, Muhammad sendiri menyatakan terdapat tiga ajaran yang dia miliki, ajaran yang harus dia ajarkan pada masyarakat disana, ajaran yang boleh diajarkan dan ajaran yang tidak boleh dia ajarkan. Kenapa hal ini terjadi? Karena kecerdasan masyarakat waktu itu belum mampu menerima seluruh ajaran yang Beliau bawa.
Demikian juga dengan Yesus, kenapa Beliau hanya mengajarkan 10 ajaran pokok saja? Dan berkata dalam Injil : “Ajaran jasmaniah ini saja belum bisa engkau amalkan, bagaimana bisa Aku mengajarkan ajaran rohaniah yang lebih tinggi seperti ini?” Taukah kita kalau Yesus pernah pergi dan belajar Bhakti Yoga di India selama 13 tahun dan Kitab Kristen ada yang membahas reinkarnasi? Kalau dilihat dari sejarah Kristen, dapat dikatakan kalau Kristen dibentuk oleh Paulus I. Beliau sendiri sebenarnya berlatar belakangnya adalah penjahat. Karena kesadarannya akhirnya mengumpulkan kitab-kitab tersebut dengan mengadakan seleksi yang menurutnya benar. Ada sumber yang mengatakan Kristen sebenarnya memiliki sekitar 52 kitab, tetapi oleh Paulus telah direduksi seperti sekarang ini, bahkan apa kita masih ingat atas pernyataan Galileo tentang pusat tata surya adalah matahari, bukan bumi seperti yang akhirnya ditentang gereja karena tidak sesuai dengan Injil? Artinya apa? Memang benar banyak isi dari kita Perjanjian Lama kebenarannya masih diragukan. Bahkan pengarangnya saja tidak jelas. Tentunya bukan salah Yesusnya, tetapi oleh oknum yang seenak perutnya sendiri mengedit isi kitab suci.
Bagaimana dengan Budha? Sang Budha terpaksa menolak Veda karena masyarakat dunia, khususnya India waktu itu telah menjadikan Veda sebagai tameng dalam melakukan Himsa karma demi kepuasan sendiri dengan kedok korban suci. Tanpa ada pilihan akhirnya sang Budha harus menyatakan ajaran baru yang kelihatannya sama sekali baru dari Veda dan membentuk agama baru dengan tujuan sebagai batu loncatan. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya Avatara Ciwa sebagai Sankarya Carya sebagai penerus misi Budha dan dilanjutkan oleh Sri Caitanya untuk meluruskan ajaran Veda.
Semua kejadian, semua agama telah diramalkan sebelumnya dalam Veda yaitu pada kitab-kitab Purana dan sampai saat ini belum ada satupun kejadian yang menyimpang dari ramalan tersebut. Jadi intinya semua ajaran pada dasarnya benar, tetapi harus disesuaikan sesuai dengan tempat dan waktunya. Dan kita tidak boleh malu mengatakan Veda wahyu yang pertama dan merupakan sumber dari semua kitab suci yang lain. Veda adalah saksi terpendam mengenai semua itu. Banggalah sebagai penganut Veda, Banggalah sebagai Hindu. Mari kita bangkitkan kesadaran kita tentang keluarbiasaan Veda.
B. Apa yang bisa Veda ajarkan tentang teknologi modern?
Kalau kita mengikuti perkembangan dunia barat, maka tidak jarang kita mendengar ungkapan “Sangat sulit mencari titik temu antara agama dan teknologi yang selalu bertentangan”. Benarkah semua itu? Orang barat biasanya akan cenderung membenarkan hal tersebut, mereka memang jarang bahkan tidak menemukan inti-inti teknologi dalam agama mereka yang pada umumnya Nasrani. Apa di Injil memang tidak menyinggung teknologi? Menurut penerbit buku “Hindu agama terbesar di dunia” menyatakan kalau beliau sangat tidak puas dengan ajaran agamanya, sehingga memaksanya mempelajari kitab suci lain sampai akhirnya beliau jatuh cinta pada Veda dan menjadi pengikutnya. Apa Injil itu salah? Untuk menjawab pertanyaan ini kembali harus kita sadari bahwa Tuhan akan mewahyukan kitab sesuai dengan waktu dan tempatnya. Bagaimana dengan Veda? Apakah mengalami nasib yang sama? Ternyata tidak. Veda begitu lengkap dan kita baru menyadarinya setelah peneliti-peneliti dari barat mengungkapkannya. Mereka beralih ke Veda karena pengetahuannya, tapi kita sebagai generasi pewarisnya malah menyia-nyiakan dan memilih untuk diselamatkan dengan kamus-kamus kecil yang tidak sebanding dengan Veda. Semua hanya karena ketidaktahuan kita sendiri.
Dalam Atharva Veda bab VII.107.1 menyebutkan “ Ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmayah” artinya matahari memiliki tujuh jenis sinar, mereka adalah sumber hujan. Masih ingat dengan warna pelangi? Tentang cahaya polikromatis yang terbiaskan menjadi tujuh jenis? Cahaya memang terdiri atas dua jenis, cahaya polikromatis seperti cahaya matahari dan cahaya monokromatis, contohnya sinar laser. Dengan menggunakan pembias, atas dasar perbedaan sudut deviasi setiap jenis sinar monokromatis, maka sinar matahari sebagai sinar polikromatis dapat dipecah menjadi tujuh bagian, yang sering disebut dengan warna pelangi. Sangat tepat bukan?
Yayur Veda bab XVIII.40 mengatakan “Susumnah suryarasmiscandrama susumnah” artinya sinar matahari yang disebut susumna menerangi bulan. Bukankah hal ini juga dibuktikan dengan teknologi modern saat ini? Apa pantas golongan agama radikanl yang menyerang Hindu dewasa ini mengatakan Veda menuntun pengikutnya sebagai penyembah matahari dan bulan? Bukankah itu hanya sebagai objek konsentrasi kita atas keagungan Tuhan yang tidak terbatas?
Ternyata dasar-dasar ilmu kimia juga terdapat dalam veda. Hal ini terbukti dengan sloka dalam Atharva Veda bab III.13.5 yang menyebutkan “Agnisomau bibhratiapa it tah” artinya air terdiri atas Oksigen dan Hidrogen. Sungguh tepat sekali, semua air tersusun atas dua unsur ini, H2O untuk air biasa. D2O untuk air berat, yaitu air yang digunakan dalam reaktor nuklir PHWR sebagai moderatornya. D adalah Deutrium, Hidrogen dengan kelebihan satu neutron. Masih bisakah kita mengatakan kebudayaan Veda sebagai kebudayaan kuno yang kolot? Ya Veda memang kuno, tetapi inilah dokumen kuno yang paling modern yang pernah ada.
Dalam Sama Veda juga disebutkan “ Tam it samanam vaninas ca virudhoantarvatis ca suvate ca vivaha” Tumbuh-tumbuhan menghasilkan udara vital yang disebut samana (Oksigen) secara teratur. Lebih lanjut dalam Reg Veda VIII.72.16 disebutkan “Adhuksat pipyusim isam urjam, suryasya sapta rasmibhih” artinya tumbuh-tumbuhan menyerap tenaga yang merupakan makanan bergisi dari matahari. Coba kita tengok mengenai teori photosintesis saat ini. Apa yang anda ketahui?
Inilah sebagian kecil sloka-sloka Veda yang secara implinsit menyebutkan dasar-dasar teori modern. Begitu banyak sloka-sloka sejenis yang masih tercecer di setiap bagian Veda dan menunggu tangan-tangan kita untuk menjamahnya demi kesejahteraan umat manusia. Bukan hanya golongan kelompok tertentu saja.
C. Adakah teori ilmiah yang terselubung dalam Veda?
Tentunya sebagai umat Hindu kita sudah tidak asing lagi dengan kitab Itihasa, kitab Smrti yang sangat terkenal yaitu kisah Ramayana dan Mahabarata. Sebelumnya mari kita samakan persepsi mengenai kebenaran kisah Itihasa. Epos Ramayana dan Mahabharata ternyata bukan sekedar cerita fiksi belaka, tetapi memang benar-benar kisah nyata. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya jembatan yang menghubungkan India dengan Srilangka sebagai saksi bisu kisah jembatan yang dibangun pasukan kera dalam Ramayana. Ditemukannya puing-puing kerajaan yang tenggelam di tengah laut dan sangat tepat dengan kisah tenggelamnya kerajaan Krisna dalam Mahabarata. Serta didukung dengan banyak lagi bukti-bukti menguatkan lainnya, baik berupa benda sejarah, tulisan-tulisan dari kitab-kitab lainnya yang saling berhubungan erat, sampai pada penampakan dari luar angkasa melalui pengindraan satelit.
Mari kita tengok kisah Rsi Wiyasa yang mengembalikan keperawanan ibunya seperti sedia kala, kisah kelahiran satus korawa yang tidak lain melalui teknologi bayi tabung dan kelahiran pandawa melalui bioteknologi kloning yang dikarenakan Maharaja Pandu tidak dapat melakukan kewajibannya sebagai suami. Ternyata teknologi saat ini seperti bedah plastik, teknologi genetika sampai pada masalah kloning yang baru berkembang di dunia modern pada abad 20 ini telah terinspirasikan pada jaman Veda yang begitu tua.
Dalam Mahabarata juga disinggung tentang kemungkinan laki-laki dapat mendapatkan keturunan tanpa melalui bantuan wanita. Hal ini dikisahkan ketika Maha Rsi Wiyasa menginginkan seorang putra pada saat perang bharata yuda berlangsung. Beliau mengeluarkan kama petak yang pada akhirnya berkembang menjadi anak laki-laki (Bhagawan Suka). Saat ini, seorang wanita yang menginginkan keturunan tanpa kehadiran seorang pria sudah benar-benar dapat diwujudkan. Kapankah bioteknologi seperti kisah kelahiran Bhagawan Suka ini akan benar-benar terwujud di jaman kali ini?
Masih ingat tentang teknologi jalan layang yang dikemukakan oleh Tjokorde Raka Sukawati? Ternyata semua ini telah terinspirasi dari Veda yaitu dari Prabu Sosrobahu dalam kisah Ramayana. Dan penemuan inipun diberi nama sesuai dengan sumber inspirasinya.
D. Energi Nuklir dalam perspektif Veda
Inilah ceceran-ceceran teknologi Veda yang ternyata sangat modern. Bahkan ada yang belum sampai dibayangkan oleh manusia jaman sekarang telah lebih dahulu terlukiskan oleh Veda. Sungguh luar biasa bukan? Secarik tulisan di atas hanyalah setetes pengetahuan tentang teknologi dalam Veda, masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya dari luasnya samudra pengetahuan Veda. Nah sampailah kita pada maksud dibuatnya makalah ini, yaitu bagaimana hubungan Nuklir sebagai bidang studi yang saya geluti saat ini dengan Veda sebagai kitab suci Hindu.
Energi nuklir muncul atas dasar teori kesetaran antara materi dengan energi yang dikumandangkan oleh Einstein dengan rumusannya yang sangat terkenal, E = m C2. Suatu penemuan yang sangat mencengakan bahkan mengantarkannya sebagai predikat orang terjenius di dunia. Tetapi mungkin berbeda ceritranya dengan seorang ahli Veda yang mendengar penemuan Einstein, kenapa? Di dalam Rgveda bab II.72.4 disebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Ternyata teori yang mencengakan ini telah tersurat jauh sebelum moyang dari Einstein lahir. Jadi siapa yang lebih hebat, Einstein apa Veda? Inilah dokumen Tuhan Yang Maha Esa dengan tanpa cacatnya. Adapun kejanggalan yang kita temukan hanya karena keterbatasan pemikiran kita sendiri yang terselimuti oleh maya dan kebodohan.
Dengan adanya teori kesetaraan energi dan materi, mulai awal abad ke-19 perkembangan teknologi begitu pesatnya. Banyak rahasia alam yang mulai dapat terungkap, tapi sayangnya ternyata kita sebagai kaum intelektual muda Hindu buta akan kitab suci sendiri. Kita hanya menunggu orang lain untuk mengungkapnya. Betapa tidak, ternyata kenyataan bahwa sumber energi utama di bumi ini adalah matahari tercantum dalam Rgveda bab II.13.6 yang menyebutkan “Yo bhojanam ca dayase ca vhardanam. Artinya : matahari menyediakan makanan yang bergisi pada alam semesta. Seperti kita ketahui dalam matahari (bintang) terjadi reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi antara inti-inti Hidrogen menjadi Helium dengan melepas energi yang sangat besar. Jika kita bandingkan antara massa awal sebelum terjadinya reaksi dengan setelah reaksi ternyata terjadi penyusutan massa, massa yang hilang inilah yang terkonversi menjadi energi yang selanjutnya memancar ke seluruh penjuru dan sampai pada planet Bumi sebagai sumber energi yang paling utama.
Ada sebuah sloka dalam Atharva Veda bab XIII.3.10 menyebutkan “Yasmin surya arpitah sapta sakam” artinya : Tuhan Yang Maha Agung menciptakan tujuh buah matahari/tata surya yang kuat secara serempak. Mungkin yang dimaksud sloka ini jumlah tata surya yang mirip dengan tata surya kita dengan pusat matahari ada tujuh buah dalam satu galaksi Bima sakti ini. Dan sangat mungkin di tempat itu juga terdapat kehidupan seperti di bumi meskipun dengan corak yang berbeda. Kita buktikan saja.
Kembali beralih kepada reaksi nuklir yang terjadi pada bintang atau matahari. Dalam Rgveda bab I.164.43 menyebutkan “Sakamayam dhunam arad apasyam, visuva para enavarena” artinya : matahari pada semua sisinya dikelilingi oleh gas yang kuat. Seperti kita bahas di atas, reaksi fusi dalam matahari berbahan bakar Hidrogen dan menghasilkan produk sisa berupa Helium. Berdasarkan analisa radiasinya dan pengamatan pada saat berlangsungnya gerhana matahari, sebagian besar unsur matahari memang tersusun oleh gas, tapi karena gaya gravitasinya menyebabkan kepadatan pada bagian inti matahari jauh lebih besar dari bagian luarnya. Daerah terluar mendapat gravitasi yang paling lemah dan disini terjadi semburan lidah api dan gas-gas yang memiliki kecepatan luar biasa yang disebut korona seperti apa yang diungkapkan sloka diatas. Kalau kita ingin menyelidiki kelanjutan dari hasil reaksi nuklir dalam matahari yang selanjutnya dapat menghidupi segenap mahkluk hidup juga dapat dijelaskan secara tepat dalam banyak sloka-sloka Veda.
Mari kita tengok era nuklir dalam sejarah Veda. Ada penemuan unik yang menyebutkan pada daerah bekas perang kuru sekarang ternyata terdapat sumber radiasi yang cukup tinggi yang terpusat hanya pada daerah ini. Jika kita tarik hubungan antara senjata-senjata yang dikatakan memiliki daya ledak tinggi milik Arjuna serta senjata hebat milik ksatria-ksartia lainnya yang meledak dalam Bharata yuda, apa tidak mungkin kalau senjata yang digunakan mengandung unsur radioaktif?
Dalam peperangan antara Arjuna dengan Asvatama juga dikisahkan penggunaan senjata sakti Brahmasirah yang dapat menyemburkan api sebesar gunung. Senjata apa yang bisa mengeluarkan energi seperti itu? Andaikan minyak bumi, perlu berapa barel minyak? Sedangkan dengan bahan bakar nuklir hanya perlu sekitar 1 gram saja. Satu lagi kisah yang sangat menarik yang diceritrakan dalam mausala parwa, yaitu meledaknya senjata mausala yang menyebabkan musnahnya bangsa Wresni dan sekaligus menenggelamkan kerajaan Krisna ke dasar laut. Dengan teknologi kita sekarang ini, senjata apa yang bisa menghancurkan sedasyat itu? Bom Hidrogen? Bom dari Uranium atau yang lain? Hanya rekasi nuklir baik itu fisi (pembelahan, contoh pada Uranium) maupun fusi (penyatuan, contoh bom Hidrogen) yang memiliki daya hancur seperti itu.
Bagaimana kita bisa menolak semua kebenaran ini? Semua isi Veda yang kita ketahui benar hanyalah sebagian kecil kebenaran yang telah dibuktikan dengan cara manusia, sedangkan disana masih tersimpan banyak kebenaran yang belum bisa diketahui dengan metode manusia. Semua hanya karena ketidaktahuan dan kebodohan kita yang buta akan kebenaran suci Veda.
BAB VI
KESIMPULAN & PENUTUP
Sebagai dokumen tertulis tertua yang sampai saat inipun belum ada sarjana-sarjana dan para ahli mampu mengungkap kapan Veda diwahyukan. Mereka hanya mampu memberikan angka yang tidak pasti dengan rentang panjang yaitu sekitar 5000 SM bahkan sampai 7000 SM. Kalau kita lihat sepihak dari isi Bhagavad Gita mungkin dapat dikatakan kalau kitab ini diwahyukan sekitar 6500 SM. Tapi bagaimana dengan kitab yang lain? Bukankah Veda begitu luas dan diwahyukan bukan dalam waktu bersamaan? Bahkan dalam Bhagavad Gita disebutkan kalau Bhagavad Gita pernah diwahyukan untuk pertama kalinya oleh Krisna sebagai kepribadian Tuhan kepada Dewa Surya sekitar satu jutaan tahun sebelumnya. Dan kemudian oleh Dewa Surya diturunkan kepada Manu, nenek moyang umat manusia. Oleh karena garis perguruannya terputus, akhirnya diwahyukan kembali kepada Arjuna seperti sekarang ini. Mungkinkah itu? Berdasarkan tahun Kalpa alam semesta akan berumur sekitar 4.300.000.000 sampai akhirnya di pralaya kembali. Menurut fosil-fosil yang diketemukan dan dengan memanfaatkan kandungan Karbon-14 di dalamnya yang bersifat radioaktif dan terus meluruh dengan waktu paruh tertentu, umur suatu fosil dapat diketahui. Dan terbukti umurnya memang jutaan tahun. Kalau bagian dari Veda telah diwahyukan selama itu bukankah sangat mungkin sekali? Dan perlu digaris bawahi bahwa hukum Darwin mengenai evolusi manusia tidak pernah ada. Ilmu genetika telah membuktikan kesalahan teori Darwin sejak tahun 2000 silam. Semua ini telah dibuktikan secara ilmiah maupun dari sloka-sloka Veda. Jadi, pada dasarnya Veda menaungi semua ajaran kehidupan baik jasmani maupun yang bersifat rohani, secara tertulis dan tidak tertulis. Sebagai kitab suci tertua Veda sudah menjelaskan dan memprediksikan apa saja yang akan terjadi di masa depan, membekali manusia dengan teknologi-teknologi yang tak terbatas dan sungguh sayang ternyata kita belum mampu menangkap semua kebenaran itu. Dimana Veda disimpangkan, disanalah Avatara akan muncul dan meluruskan ajaran kebenaran Veda yang abadi. Setiap agama dengan kitab sucinya yang muncul adalah bagian dari pelurusan ajaran Veda yang disimpangkan, bukan untuk dipertentangkan. Tetapi sayangnya pertentangan inilah yang kerap kali muncul dari pikiran-pikiran fanatik karena ketidaktahuan mereka sendiri. Kebenaran hanya ada satu, yang manakah yang benar? Kitab suci Veda sebagai wahyu pertama ataukah kitab suci lain sebagai wahyu terakhir sebelum dunia ini pralaya? Pelajarilah Veda dengan hati terbuka, penuh dengan rasa Bhakti dibawah bimbingan seorang guru rohani yang terpercaya dan bandingkan dengan kitab suci-kitab suci lainnya. Saya yakin andapun akan mengerti kenapa Veda selalu eksis sejak jaman manu, saat manusia pertama diciptakan sampai saat ini. Banggalah sebagai orang Hindu, sebagai pengikut Veda! Dharma akan tetap eksis selamanya.
DAFTAR PUSTAKA
Aripta Wibawa, I Made, Pengetahuan dan Pengendalian Prana, Paramita, Surabaya
Berger, Peter L, 2003. Sisi lain Tuhan, Qirtas, Yogyakarta
Catur Veda
Drucker, A, Bhagavan Sri Satya Sai Baba Discourses on Bhagavad Gita, Sri Sathya SAI Books, Andhra Pradesh
Ellsberg, Robert, 1991. Gandhi on Christianity, LkiS, Yogyakarta
Suja, I Wayan, Titik temu IPTEK dan Agama Hindu, Manik geni, Denpasar
Subba Rao, Gandhikota V, Saitri Manthra Yanthra Thanthra, Paramita, Surabaya.
Prabhupada, 1989. Bhagavad Gita As It Is, The Bhaktivedanta Book Trust International, Sweden
TEOLOGI
Satu hal yang membuat saya kagum akan Hindu adalah penyebutan manusia pertama yang disebut sebagai SWAYAMBUMANU atau MANU (yang menjadi asal kata manusia atau man (Inggris). Artinya : manusia berpikir yang menjadikan dirinya sendiri. Dia bukan individu, tapi populasi. Ini sangat relevan dengan salah satu kebenaran umum dalam sains yaitu teori evolusi. Teori evolusi bercerita tentang sejarah keanekaragaman makhluk hidup, dan manusia adalah salah satu produk evolusi itu. Ketika organ berpikir makhluk yang berevolusi bertambah sempurna, disitu lah kemampuan berpikirnya meningkat. Seperti kata Rene Descartes : COGITO ERGO SUM, karena berpikir aku ada(jangan2 dia menyitir Weda???). Artinya apa? Dengan berpikir lah manusia menyadari kemanusiaannya. Coba kembali buka sejarah peradaban manusia, sejak jaman purba hingga jaman modern. Kemampuan berpikir lah yang menjadikan kita seperti sekarang.
Sisi ilmiah kitab suci harus kita pandang dari sisi kosmik, lebih luas. Begitu lah seharusnya kita memahami kitab suci, apa pun namanya.
Comment by tugendut — May 13, 2009 @ 7:03 pm
apatis mas..
Comment by apatis boy — May 22, 2009 @ 4:22 am
Senang dengan dengan penjelasan di atas yg sudah bisa saya simak sedikit demi sedikit. Keluarga besar saya Bapak Adrianus Ceningan akan disudikan kembali ke Hindu bulan Maret 2010, rencana pensudian akan dilakukan secara massal di Geria Pagesangan Lombok Barat di rumah Pedanda Kertha kalau tidak terjadi halangan.
Comment by sion — December 24, 2009 @ 2:02 am