FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

August 17, 2009

SEJARAH KEHADIRAN AGAMA KHONGHUCU

Filed under: Artikel, Teologi Agama-agama, Budaya Populer — admin @ 3:07 am

Martin Krisanto Nugroho

Agama Khonghucu dalam istilah aslinya disebut Ji Kau, yang bearti agama bagi yang lembut hati,yang terbimbing, yang terpelajar. Orang-orang barat nampaknya menemui kesukaran menterjemakan istilah Ji Kau, sehingga mereka menterjemahkan Ji Kau menjadi Konfusianisme. Istilah ini begitu populer sehingga sehingga kita disini menterjemahkan Ji Kau atau Confucianisme menjadi agama Khonghucu. Confucianisme diambil dari kata Confusius, yaitu cara orang barat menyebut kata Khonghucu atau nabi Khongcu.
Ji Kau atau agama Khonghucu timbul, berkembang dan mencapai bentuknya yang terakhir didalam hidup nabi Khongcu. Kitab suci yang tertua ditulis pada abad ke XXIII SM, dan kitab sucinya yang termuda ditulis pada abad ke IV SM. Karena itu, kitab suci agama Khonghucu dibagi dua : Kitab yang lima ( Ngo King ) dan kitab yang empat ( Su Si ).
Kitab yang lima adalah kitab suci Ji Kau yang sudah tua usianya, yang dipilih dan digunakan nabi Khongcu membina dan membimbing murid-murid dan penganut-penganutnya. Kitab ini menjadi kitab suci yang mendasari ajaran agama Konghucu, yang mengandung pengertian dan gambaran yang jelas akan ajaran nabi Khongcu. Kitab ini terdiri atas lima kitab :
1. Si King atau kitab sanjak, berisi kumpulan sanjak-sanjak, nyanyian-nyanyian pujian yang beragam bentunya. Nyanyian yang tertua ditulis pada aad ke XV SM dan termuda pada abad ke VIII SM.
2. Su King atau kita umpulan dokumentasi sejarah, berisi kumpulan tulisan-tulisan, nasehat-nasehat, sabda-sabda nabi-nabi purba dan raja-raja suci purba. Naskah yang tertua ditulis pada abad ke XXIII SM dan yang termuda pada abad ke VII SM.
3. Ya King atau kitab peribadahan, adalah kitab wahyu yang berisi ajaran-ajarantentang kejadian alam semestadengan segala peristiwanya. Ditulis pada abad ke XII SM.
4. Lee King atau kitab kesusilaandan peribadahan, berisi ajaran-ajaran kesusilaan, peribadahan dan berbagai segi masalah kehidupan. Periode penulisan kitab ini terbagi tiga, yang dua ditulis pada abad ke XII SM sedang sisanya ditulis oleh murid-murid dan penganut nabi Khongcu pada abad ke VI SM.
5. Kitab catatan sejarah jaman Chun Chiu ( 722 SM – 481 SM ), kitab ini ditulis sendiri oleh nabi Khongcu untuk mencatat secara kronologis berbagai peristiwa sejarah jaman itu. Tidak hanya peristiwanya, tapi nabi Khongcu juga mencantumkan penilaiannya atas berbagai peristiwa itu, yang baik dipuji dan yang tidak baik dicela untuk suri teladan bagaimana orang wajib hidup didalam jalan suci.

Su King atau kitab yang keempat adalah kitab suci Ji Kau yang langsung bersumberkan kepada ajaran atau sabda-sabda yang diucapkan oleh nabi Khongcu. Kitab ini terdiri atas empat bagian :
1. Thai Hak atau ajaran besar. Kitab ini dibukukan oleh Cingcu, murid nabi Khongcu. Berisi ajaran tentang apa kewajiban, dan tujuan hidup manusia sebagai pertanggungjawaban kepada Tuhan dan sesamanya dan bagaimana melakukan pembinaan diri didalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, bernegara dan sebagai warga dunia.
2. Tiong Yong atau tengah sempurna. Kitab ini dibukukan oleh Cu Su, cucu nabi Khongcu. Berisi pokok-pokok ajaran keimanan seseorang umat khongcu sehingga didalam hidup ini dapat menempatkan diri dan bersikap tengah tepat, harmonis didalam jalan suci yang difirmankan Tuhan bagi hidup insani.
3. Lun Gi atau sabda suci. Merupakan kumpulan catatan yang ditulis oleh murid dan cucu murid nabi Khongcu. Berisi berbagai sabda dan ajaran nabi Khongcu.
4. Kitab Bingcu. Merupakan kitab suci yang terakhir yang ditulis oleh seorang penganut besarnabi Khongcu atau Bingcu atau Mencius yang hidup pada abad ke IV SM. Isinya bersifat menjelaskan berbagai ajaran nabi Khongcu. Kitab ini juga dipercaya sebagai penjelasan yang lurus yang menerangi penyelewengan tentang ajaran nabi Khongcu.

Demikianlah terlihat bahwa nabi Khongcu itu adalah penerus dan yang menyempurnakan Ji Kau, bukan yang menciptakan. Beliau adalah orang yang dipilih Tuhan sebagai Bok Tok Nya atau genta rohani yang memberitakan firman Tuhan bagi manusia yang mau mendengarnya. Beliau dijadian Tuhan sebagai Sing Jien atau nabi yang meneruskan dan menyempurnakan ajaran-ajaran suci para nabi dan raja suci purba. Hal ini dapat kita lihat didalam ajaran-ajaran yang terdapat didalam kitab Su Si, khususnya Lun Gi dan Bing Cu.

Didalam ajaran agama Khonghucu terdapat delaan ajaran iman atau Pat Sing Ciam Kwi, dengan pokok-pokok :
1. Sepenuh iman yakin / percaya kepada Thian, TYME, yang maha besar kuasanya. Jangan mendua hati, jangan bimbang, Tuhan yang maha tinggi itu besertamu.
2. Sepenuh iman menjunjung kebajikan, tiada jarak jauh tidak terjangkau, sungguh padanya hati Tuhan berkenan.
3. Sepenuh iman menegakkan firman gemilang , jagalah hati, rawatlah watak sejati, demikianlah mengenal dan mengabdi kepada Tuhan.
4. Sepenuh hati menyadari / mengerti adanya nyawa ( Kwi : kekuatan hidup lahir ) dan Roh ( Sien : kekuatan hidup rohani ), tekunlah menbina diri, mengurangi keinginan-keinginan ( nafsu ) timbul, semunya dijaga tetap dibatas tengah ( tepat ).
5. Sepenuh iman merawat cita berbakti, tegakkan diri, menempuh jalan suci, demi memuliakan ayah bunda.
6. Sepenuh iman mengikuti genta rohani ( Bok Tok : nabi Khongcu ) yang terjunjung, nabi agung, yang senantiasa melindungkan firman Thian.
7. Sepenuh iman memuliakan kitab suci Su Si, kitab suci besar bagi dunia, pokok besar untuk tegakkan firman.
8. Sepenuh iman menempuh jalan suci yang besar, sekejabpun tidak berpisah, tempat sentosa yang tanpa batas.

Didalam bab utama ayat 1 Tiong Yong : “Firman Thian itulah dinamai watak sejati, berbuat mengikuti watak sejati itulah dinamai menempuh jalan suci, dan pimpinan untuk menempuh jalan suci itu dinamai agama”
Ayat suci ini bermakana bahwa seorang umat Khonghucu itu mengimani, menyakini, menghayati bahwa TYME itu menghendaki sesuatu tentang hidup kita. Firman Tuhan itu senantiasa mengetuk didalam hati sanubari kita, bahkan firman itu menjadi kodrat kemanusiaan kita, menjadi watak sejati kita. Firman Tuhan itu dapat kita pelajari dari ajaran-ajaran suci yang diwariskan para nabi-nabi. Aan tetapi firman Tuhan itupun suatu yang senantiasa hidup didalam nurani kita, tiap saat beserta kita, berbicara kepada kita untuk menempuh jalan suci, jalan yang benar, jalan yang diridhoi Tuhan. Disini dapat disimpulkan bahwa seorang umat Khonghucu itu ialah seorang insan yang menaruh percaya kepada Tuhan, yang percaya hidupnya ini mengemban firman Tuhan dan firman Tuhan itu tercermin dan mewujud didalam watak sejatinya. Hidup yang benar-benar mengembankan benih-benih suci didalam watak sejati dimana seseorang disebutkan menempuh jalan suci yang dihayati sebagai jalan yang paling indah, luhur, dan kewajiban suci hidup ini.
Bagaimanakah hidup mengembangkan benih-benih suci watak sejati, demi untuk memenuhi panggilan Firman Thian itu? Didalam kitab Thai Hak bab 1 : 1 ditulis : “Adapun jalan suci yang dibawakan Thai Hak ini ialah menggemilangkan kebajikan yang bercahaya itu, mengasihi rakyat dan berhenti pada puncak baik”. Ayat ini menegaskan bahwa jalan suci yang dibawakan dalam agama Khonghucu itu ada 3 perkara :
1. Hal menggemilangkan kebajikan
Didalam ajaran agama Khonghucu, Tik atau kebajikan itu bukan sekedar ajaran moral tentang baik dan tidak baik tetapi kebajikan itu adalah menyatakan kuasa, dan kemuliaan Tuhan sendiri. Sejarah keimanan agama Khonghucu, adalah sejarah tentang betapa wajib menaruh percaya dan berusaha mengembangkan kebajikan sebagai pernyataan takut, hormat, memuliakan khalik kita, TYME. Bik Tik itu adalah kewajiban suci, pertanggungjawaban kita selaku makhluk kepada khalik, tentang hidup rohani kita. Kebajikan didalam hidup manusia denyatakan dengan adanya empat kekuatan moral, hidup rohani yang kita namakan : Jien, Gi, Lee, Ti atau cinta kasih, kesadaran akan kebenaran / keadilan / kewajiban, perasaan keindahan atau kesusilaan dan kemampuan kecerdasan atau kebijaksanaan. Keempat aspek daripada kebajikan itu bukan sekedar ukuran moral, tuntunan masyarakat, tetapi itu mencerminkan kemuliaan kebajikan Tuhan.
2. Mengasihi Rakyat
Menggemilangkan kebajikan tidak selesai dengan menyempurnakan diri sendiri dihadapan Tuhan, tetapi genapnya menggemilangkan kewajiban itu didalam perbuatan kita terhadap sesama manusia bahkan kepada segenap makhluk dan benda. Didalam kitab Tiong Yong XXIV ditulis : “iman itu harus disempurnakan sendiri dan jalan suci itu harus dijalani sendiri. Iman itulah pangkal dan ujung segenap wujud, tanpa iman suatupun tiada. Maka seorang susilawan memuliakan iman. Iman itu bukan dimaksudkan selesai dengan menyempurnakan diri sendiri melainkan menyempurnakan segenap wujud juga. Cinta kasih itu menyempurnakan diri dan bijaksana itu menyempurnakan segenap wujud”. Dengan prinsip menggemilangkan kebajikan itu wajib digenapkan dengan mengasihi rakyat, maka insan itu menjadi orang yang benar-benar dapat dipercaya dihadapan Tuhan maupun dihadapan sesamanya.
3. Puncak Baik
Berhenti pada puncak baik, mengandung pengertian bahwa hal menggemilangkan kebajikan, mengasihi rakyat itu benar-benar dibina, dihayati, diamalkan dengan sepenuh iman, dengan sebulat tekad. Itu bukan sekedar dorongan dari semangat yang berwatakkan duniawi belaka, melainkan oleh iman kepada Tuhan. Maka berhenti pada puncak baik adalah perkara yang terluhur, trindah bagi hidup manusia. Didalamnya terletak karunia, rahmat dan menjalinkan hubungan yang indah antara manusia kepada Tuhannya. Sentosa dipuncak baik adalah sentosa dan bahagia terbesar didalam hidup manusia.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress