FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

September 20, 2009

Ayub 4:1-21

Filed under: Artikel, Tafsir — admin @ 7:58 pm

KARENA MANUSIA ITU TIDAK ADA YANG BENAR DAN SUCI DI HADAPAN PENCIPTA MAKA IA DAPAT MENDERITA
Oleh: Admin

Pasal 2 ayat 13 mengatakan bahwa penderitaan Ayub sangat berat, dan sebagai yang mengalaminya, Ayub merespon penderitaan itu dengan keluh kesah sampai-sampai ia mempertanyakan kenapa ia hadir di dunia ini jikan hanya untuk menderita (pasal 3). Merujuk pada respon itu maka kitab Ayub melanjutkan perenungannya keapa ada penderitaan di bumi ini, bahkan penderitaan yang bisa dialami oleh orang yang saleh seperti halnya dalam diri figur Ayub. Dengan mencermati bagaimana agala Yahwistis secara tradisional menjawab pertanyaan tersebut, kitab Ayub nampaknya mengiritisi pandangan tradisional dogmatis itu sebagaimana yang diungkapkan lewat dialog antara Ayub dengan sahabat-sahabatnya.

Bahwa sahabat Ayub adalah Elifas dan Teman, Bildad orang Suah dan Zofar orang Naama bukanlah hal kebetulan yang dicatat oleh kitab Ayub. Suah adalah keturunan Abraham (Kej. 25:2) dan nampaknya daerah Suah itu di dekat sungai Efrat. Teman menurut Kej. 36:11, 15 adalah keturunan Edom (lihat Yer 49:7) sedangkan Naama mungkin perbatasan Palestina Arab. Semua ini merupakan daerah-daerah yang letaknya dekat dengan Uz (yang sanagt mungkin di timur Palestina juga (Ratapan 4:21). Jikalau peta geografis ini benar maka ada dua hal yang perlu kita prhatikan yaitu: apakah sahabat-sahabat ini mewakili pandangan agama-agama yang ada di Asia Barat Daya kuno dalam menjawab masalah penderitaan manusia, atau justru sebaliknya bahwa kelompok orang-orang Yahwistis yang dipandang tidak menjawab masalah penderitaan manusia dengan pandangan tradisionalnya. Kemungkinan ini cukup beralasan jika kisah orang Majus dari Timur dalam Mat. 2juga ikut berperan dalam mlihat hadirnya Yesus sebagai Mesias. Artinya sejak jaman pasca pembuangan ada nuansa-nuansa pemikiran religius bukan Yahudi melulu yang ikut bermain dalam religiusitas umat jaman Perjanjian Lama.

Sahabat-sahabat Ayub (Elifas, Bildaddan Zofar) merupakan sahabat-sahabat yang nampaknya mewakili pola-pola tradisonal dogmatis dalam melihat penderitaan yang dialami Ayub. Jikalau pasal 4:1-21 ini dimulai dengan Elifas yang berbicara, ada kemungkinan bahwa Elifas merupakan figur yang lebih senior dibanding dengan yang lain. Hal ini disimpulkan dari karakter pasal 4 dan 5 ini yang menampakkan penggunaan-penggunaan prototipe kehidupan patriarchal, misalnya dalam hal seseornag menerima pernyataan Allah (4:13).

Setelah selama tujuh hari diam bersama Ayub, Elifas mulai berbicara karena dorongan internal yang sangat kuat (sebagaimana tradisi kenabian dalam Yer. 20:9). Ia tidak dapat “menutup mulut” (atsar = menahan tidak berbicara), karena seorang yangsaatnya tepat untuk berbicara. Apa yang disampaikan Elifas sebenarnya merupakan usaha untuk mengingatkan kembali akan apa yang Ayub prnak lakukan dan ajarkan yaitu bahwa takut akan Tuhan itu menjadi sandaran dan hidup saleh itu merupakan pengharapan (ayat 6). Tidak akan ada orang yang tak bersalah itu binasa dan juga bahwa orang jujur itu dipunahkan (ayat 7). Elifas seolah menekankan validiatas ajaran yang sudah turun temurun ini “camkanlah” dan mengajak Ayub untuk sebagai teman, menggeluti dasar-dasar kesalehan (yir’a = takut akan Tuhan). Tekankan dalam ayat 7 ini menunjukkan bahwa bagi Elifas kaerna Ayub belum binasa (‘abad) maka ia masih punya harapan untuk kembali seperti sediakala. Namun ajakan dan secercah harapan ini dilihat oleh Ayub sebagai pertanda bahwa Elifas tidak memahami kekesalan Ayub dan bahwa ia telah kehilangan rasa percaya pada Allah (6:14 dbr).

Elifas bukan hanya mengajak untuk melihat ajaran dan doktrin yang telah ada, melainkan ia juga memberikan nsihat yang didasarkan pengalaman hidup (ayat 8-9). Ayat-ayat juga menekankan apa yang ditekankan dalam ayat 7, bahwa kebinasaan hanya terjadi karena seseorang telah menabur kesusahannya sendiri. Tetapi kesusahan ini juga dilihat sebagai sesuatu yang tidak dalam jangkauan tindakan manusia, melainkan oleh Ayub dilihat juga sebagai bagian dari kegiatan Allah yang ditujukan pada manusia (7:1-3).

Setelah nasihat-nasihat baik dari aspek ajaran religius maujpun pengalaman hidup, ayat 12-16 memberikan keterangan tentang adaya pengalaman pernyataan yang menggetarkan Elifas. Dan jika kita simak sampai ayat yang ke 21, nampak sekali pengalaman menerima pernyataan itu menyadarkan Elifas bahwa pada hakikatnya manusia tidak ada yang benar dan suci di hadapan sang pencipta, manusia itu hanya lah tanah liat, Ia sangat rentan untuk hancur dan binasa (17-21).

Yang menarik dari ayat 12-21 ini ialah bahwa pernyataan sang pencipta tidak secara tegas dikatakan sebagai pernyataan Allah sebagimana pernyataan yang diterima nabi-nabi atau imam israel. Visi yang diterima dalam keadaan tidur nyenyak (tardema) lebih dekat dengan pengalaman visioner Abraham (Kej 15:12). Lewat pengalaman visioner yang diberikan sang pencipta yang dialami dalamkeadaan tardema inilah maka pahad (sesuatu yang menakutkan/menyengsarakan) yang membuat Ayub menderita (3:25) dipahami oleh Elifas sebagai pahad yang merupakan pernyataan sang pencipta. Dalam hubungan semacam ini awen (kejahatan) dan amal (kesusahan) dapat dimengerti.

Melihat penekanan-penekanan diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa pada bagian ini kitab Ayub hendak memperlihatkan bahwa ajaran doktrinal tradisonal mengajarkan bahwa kesalehan akan menimbulkan harapan untuk hidup, namun jika masih tetap ada penderitaan itu disebabkan karena pada kahikatnya manusia tidak ada yang benar di hadapan Allah, dan itu hanya dapat dimengerti jika manusia mempunyai pengalaman tardema. Sama seperti ketika Adam tardema ketika Tuhan Allah menciptakan perempuan sebagai penolongnya (Kej. 2:21).

1. Pastoral yang dogmatis dan berdasarkan pegalaman religius tradisioal nampaknya dikritisi sebagai hal yang tidak senantiasa tepat dalam menghadpai orang yang sedang tertimpa kemalangan. Bagaimana pendapat anda, dan bagaimana pengalaman di lapangan.
2. Ayat 12-21 nampaknya agak mengarah pada usulan bahwa hubungan mistis dengan sang penciptalah sebagai salah satu cara memahami kenapa kemalangan bisa terjadi atas manusia. Benarkah?

1 Comment »

  1. http://immunodiffusionracecourses.blogspot.com/2010/03/video-immunodiffusion.html

    free fun funny top downloads.

    Comment by NahapparlHete — March 4, 2010 @ 9:01 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress