FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

September 24, 2009

HOMOSEKSUALITAS

Filed under: Teologi Praktis & Pastoral, Teologi Kontekstual — admin @ 7:51 pm

Oleh: Putra
PENDAHULUAN

Homoseksualitas dan segala permasalahannya masih seperti banyak persoalan lain yang sampai saat menjadi masalah yang tidak kunjung sampai pada suatu pandangan yang mufakat dari kalangan masyarakat umum sampai di tingkat internasional sekalipun. Di sana-sini masih terdapat perdebatan mengenai penerimaan keberadaan kaum homoseksual secara “biasa” di tengah-tengah masyarakat. Masih sebagian besar masyarakat tidak dapat menerima keberadaan kaum homoseksual dalam lingkungan hidup sekitar manusia heteroseksual. Untuk masalah ini, orang-orang juga masih bingung harus menggunakan dasar apa untuk menyatakan benar atau salahnya – kalau ini adalah masalah hukum –, diterima atau tidaknya.
Dalam tulisan ini saya akan mencoba memberikan pandangan mengenai keberadaan kelompok homoseksual, seperti yang telah dilakukan oleh banyak orang bahkan para ahli dari berbagai bidang. Tulisan yang saya dasarkan pada pandangan dan pemahaman saya terhadap ajaran kekristenan, baik pandangan secara alkitabiah maupun pandangan gereja-gereja. Arahannya adalah agar penerimaan terhadap kelompok homoseksual kembali dipertimbangkan di dalam masyarakat, khususnya kristen. Penerimaan yang bukan berarti pasif, tetapi aktif. Maksudnya, melalui tulisan ini, kelompok homoseksual memperoleh tempat di tengah-tengah masyarakat, dan melalui penerimaan itu diharapkan dapat terjadi transformasi di dalam diri kelompok homoseksual dan juga di dalam kelompok heteroseksual. Demikian pula di lingkungan gereja.

PEMBAHASAN

HOMOSEKSUALITAS : DEFENISI, PENYEBAB DAN PERSOALANNYA
Jika dilihat dari bentuk katanya, homoseks – kata benda – secara singkat dapat dikatakan sebagai sama atau satu jenis kelamin. Namun dalam pengertian yang sudah diterima meluas oleh masyarakat, homoseks diartikan dengan seseorang yang mempunyai orientasi seks terhadap orang lain yang berjenis kelamin sama dengannya. Jika dia laki-laki, mempunyai orientasi seks terhadap laki-laki, dan perempuan dengan perempuan.1 Jika sekilas dilihat dari penyebab seseorang dapat menjadi homoseks, ada beberapa faktor yang menyebabkanya, seperti yang saya kutip melalui sebuah artikel berbahasa Melayu di internet :2
Terdapat beberapa faktor yang memungkinkan seseorang itu menjadi homoseksual.
1. Faktor Keluarga. Pengalaman / trauma di alam. Contohnya: Dikasari oleh ibu/bapa sehingga si anak beranggapan semua lelaki/perempuan bersikap kasar, bengis dan panas baran yang memungkinkan si anak berasa benci pada golongan itu.
Predominan dalam pemilihan identiti iaitu melalui hubungan yang renggang dengan ibu bapa
2. Persekitaran. Contohnya: Bersangkutan dengan pergaulan dan keadaan sekeliling.
3.Faktor biologis. Perasaan dan nafsu tersebut terhasil disebabkan oleh bahan kimia dan hormon yang dikeluarkan dalam badan (luar kawalan). Pendapat ini masih lagi dalam dibincangkan dan tidak dapat dibuktikan secara menyeluruh oleh pakar dalam bidang ini.
4. Faktor pendorong individu. Rentetan dari proses pembelajaran sewaktu kecil.
5. Faktor penarik individu terhadap homoseksual. Harga diri tidak boleh diperolehi dari hubungan lain
6. Peranan utama aktiviti seksual. Sekiranya individu merasakan pengalaman homoseksual pertama menyeronokkan, individu akan meneruskan aktiviti homoseksual secara berterusan.

Dari berbagai faktor yang disebutkan di atas, belum semua faktor yang dapat diterima sebagai alasan seseorang menjadi homoseks. Saya pun beranggapan demikian karena setelah kurang lebih 2 tahun saya bergaul dengan para homoseksual – khususnya di Jogjakarta –, kebanyakan di antara mereka menjadi seorang homoseksual karena faktor nomor 1, 2, dan 6. Dari pengalaman saya tersebut, faktor penyebab terbesar adalah faktor nomor 1. Besarnya jumlah homoseksual yang disebabkan fa1tor nomor 1 ini sangat berhubunga dengan tingginya kasus KDRT di lingkungan rumah tangga di Indonesia umumnya dan di Yogyakarta khususnya.3
Untuk faktor penyebab nomor 2, dari pengalaman saya, banyaknya orang yang menjadi homoseksual karena pergaulan di luar rumah. Pada dasarnya sama dengan faktor nomor 1 yaitu diawali dengan trauma. Namun bedanya dapat dilihat dari lingkungannya, keluarga dengan luar keluarga. Contohnya seorang anak laki-laki yang berteman dengan seorang gay (homoseksual laki-laki) pernah mengalami pelecehan seksual oleh gay tersebut sampai mengakibatkan trauma pada anak tersebut. Trauma itu yang akhirnya menjadikan anak tersebut menjadi seorang gay juga. Mungkin lebih tepatnya dengan penjelasan psikologis.
Faktor nomor 1dan nomor 2 ini sangat berhubungan raet dengan factor nomor 6. Namun berdasarkan pengalaman saya untuk factor nomor 6 ini – seseorang menjadi homoseksual karena pernah merasakan hubungan seks dengan sesame dan menikmati aktivitas seks tersebut dan melanjutkannya – saya katakan faktor yang sampai saat ini membuat saya berpikir keras. Jika dihubungkan dengan faktor trauma dalam keluarga (nomor 1) dan faktor trauma dalam pergaulan (nomor 2), intinya adalah saat seseorang tersebut untuk pertama kali melakukan aktivitas seks dengan sesame, orang tersebut menikmatinya sehingga tertarik untuk melakukannya lagi. Jika dengan alas an seperti ini, masih dapat saya terima dengan mudah. Namun ada pengalaman yang lain yang pernah saya peroleh dari kelompok homoseksual. Ada diantara mereka menjadi homoseksual karena pernah melakukan aktivitas seks dengan sama jenis, karena bagi mereka sudah saatnya mencari pengalaman seks baru selain dengan lawan jenis. Inti yang saya tangkap adalah diawali dengan coba-coba dengan sesama jenis. Hal ini membuat saya masih berpikir keras untuk menerima alasan ini karena menurut saya dilakukan dengan sengaja dan disadari, hanya karena persoalan kebosanan.
Alasan-alasan tersebut mengantar saya pada pemahaman bahwa menjadi seorang heteroseks atau homoseks adalah pilihan hidup seseorang.4 Tentunya bertentangan dengan pandangan masyrakat yang belum dapat menerima keberadaan kaum homoseks yang mendirikan pandangan mereka di atas dasar pandangan bahwa kelompok homoseksual dengan sengaja seseorang menjadi homoseksual, hanya karena dorongan seksnya semata-mata. Memang ada benarnya jika kita melihat faktor tertentu, misalnya saja seperti faktor penyebab yang telah saya sampaikan di alinea sebelum ini. Namun menurut saya kita juga perlu melihat alasan lain, contohnya alasan traumatis sebagai alasan terbanyak dari pengalaman pergaulan saya dengan para homoseksual. Ada anggapan, kalau pun seseorang mengalami trauma pada masa lalunya, toh tidak semua orang yang mengalami trauma tersebut menjadi homoseks. Memang ada orang yang berhasil lepas dari traumanya sehingga menjadi seorang heteroseks. Namun sejauh perngalaman dan pergaulan saya dengan para homoseks, trauma di masa lalu tetap menjadi penyebab seseorang menjadi homoseks. Sekali lagi, baik disengaja atau pun tidak.
Selanjutnya, yang menjadi arah utama dari tulisan ini adalah agar hendaknya sebagai pengikut Kristus, kekristenan memberi jalan terang terhadap sikap atau pandangan yang harus diambil terhadap kelompok homoseks. Dengan berdasar pada kabar keselamatan yang telah dibawa Kristus, pada akhirnya kelompk homoseks dan heteroseks dapat saling membuka diri dan saling menerima keberadaan satu sama lain, atau bahkan keadaan satu sama lain. Karena, banyak dari kelompk homoseksual yang enggan untuk berubah menjadi heteroseksual karena merasa bahwa sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk berubah di mata orang-orang yang heteroseksual.5 Jika terdapat kemungkinan bahwa orang-orang heteroseksual akhirnya dapat merubah pikirannya dengan demikian lebih dimungkinkan untuk memikirkan bersama-sama sikap yang sama bagi para homoseksual.

KERISTENAN : PENCIPTAAN SEBAGAI DASAR IDENTITAS MANUSIA
Selanjutnya, saya akan mencoba membahas masalah homoseksualitas ini dari segi keristenan, dan berbagai pandangan yang pernah ada. Untuk mengawalinya, saya mencoba untuk melihat kembali kisah penciptaan manusia sebagai salah satu pertimbangan yang paling mendasar tentang hakikat seorang manusia.
Saya coba berangkat dari tulisan Jhon Stott. Dalam pembahasannya mengenai homoseksual dengan sopan dan hati-hati memulai dengan mengingatkan bahwa manusia adalah person-person insani yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.6 Hal ini memang jelas tercatat dalam kitab suci Kejadian 1 : 26-27. Pada ayat yang ke-27, bahkan telah jelas digambarkan bahwa sejak semual Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Walau pun pada bagian lain kitab Kejadian yang menceritakan kisah penciptaan terhadap manusia terjadi secara bertahap.7 Namun, yang mana pun dari kedua kisah penciptaan manusia ini, kembali saya tegaskan bahwa Allah menciptakan manusia itu dengan 2 jenis, laki-laki dan perempuan. Allah melihat bahwa “kesendirian” yang dialami laki-laki ciptaan-Nya tersebut tidak baik. Maka Allah pun menciptakan perempuan bukan dari tanah, tetapi dari tulang rusuk laki-laki pertama tersebut. Allah melihat bahwa berpasangan itu lebih baik. Sampai di sini saja belum cukup jelas mengenai hidup berpasangan seperti apa yang Allah kehendaki atau belum ada pernyataan bahwa Allah tidak menghendaki adanya praktek homoseksual. Namun di sisi lain, kalau hanya persoalan berpasangan yang hendak disampaikan, memang menjadi pertanyaan apakah memang harus perempuan yang menjadi pasangan laki-laki. Pasangan seperti apa yang dimaksudkan oleh Tuhan dalam kisah penciptaan ini. Perlu dirujuk lebih jauh dan lebih banyak lagi kisah-kisah dalam Alkitab mengenai hal ini.
Selanjutnya Stott menyampaikan bahwa manusia juga adalah insan seksual, adalah asasi bagi kemanusiaan kita. Artinya bahwa seks adalah bagian dari diri manusia karena itu adalah jati diri manusia. Alsiter E. McGrath dalam The Blackwell Encyclopedia of Modern Christian Thought (1996 : 598) juga berpendapat sama bahwa :
‘Sexual identity is fundamental to human beings. Sexuality is a biological reality. Our chromosomal make up is the basis of our masculinity or feminimity. As the person develops from childhood to adulthood, sexual organ grow and the bodily changes are matched by hormonal, phsycological, and behavioural changes.’

McGrath berpendapat bahwa seksualitas adalah kebaradaan manusia yang mendasar yang tercipta secara biologis dan terus berkembang menuju fungsinya sendiri.
Namun dalam hal ini, saya kira perlu diberi catatan bahwa yang dimaksud dengan seks sebagai sesuatu yang fundamental dalam diri manusia adalah dalam hal jenis kelamin. Jadi belum berbicara mengenai fungsi dari kelamin itu sendiri, yang untuk mencapai fungsi itu perlu proses. Karena dalam pemahaman yang seperti inilah masyarakat sering jatuh pada kecuriagaan bahkan menghakimi seseorang benar atau tidak dari segi seksualitasnya. Maksudnya, masyarakat sering menilai seseorang yang berjenis kelamin tertentu dianggap “tidak normal” hanya karena tingkah laku maupun cara berpikir yang tidak sama dengan yang seharusnya. Misalnya, seorang laki-laki dewasa yang berteman dengan laki-laki saja dan belum pernah diketahui berpacaran dengan seorang gadis, bisa dengan cepat dicap sebagai homoseks atau abormal. Atau seseorang yang seumur hidupnya melajang, dipandang tidak mempunyai kualitas seksual yang baik. Pada hal belum tentu. Karena kembali bahwa semuanya itu adalah pilihan.
Mengenai hidup melajang, memang pada penjelasan sebelumnya telah dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia secara berpasangan. Namun pada perkembangan selanjutnya, Allah sendiri menyetujui dan tidak pernah melarang manusia itu hidup melajang. Itu tercermin dalam diri Yesus yang kita sebagai umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah jelmaan Allah dalam rupa manusia di muka bumi. Sampai saat ini kita percaya bahwa Yesus tidak pernah kawin dan menjalankan fungsi seksualnya sebagai laki-laki terhadap perempuan yang menjadi pasangan-Nya. Bahkan Yesus banyak dikelilingi dan sangat dekat dengan laki-laki, paling tidak keduabelas murid. Jika dilihat dari kemanusiaan Yesus yang paling manusiawi, tentunya masyarakat umum khususnya orang Kristen saat ini tidak berani berpikiran jauh apalagi memperbincangkan tentang fungsi dan orientasi seksual Yesus sebagai laki-laki.

HOMOSEKSUALITAS DALAM ALKITAB
Setelah mencoba berpikir tentang hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan dengan cap laki-laki dan perempuan, sekarang saya mencoba untuk berpikir dan melihat pandangan Alkitab tentang aktivitas maupun orientasi seksual manusia sebagai laki-laki dan perempuan.
Setidaknya ada beberapa bagian dalam Alkitab yang menceritakan dan kemudian ditafsirkan sebagai sikap terhadap praktek homoseksual yang pernah terjadi pada masa lalu. Mulai dari kisah Sodom dan Gomora, dalam Imamat 18:22, Imamat 20:13, Roma 1:26-27, 1 Korintus 6:9-10, 1 Timotius 1:9-11. Kisah-kisah tersebut dikisahkan secara berbeda-beda, namun pemahaman dan penafsiran yang muncul mengarah pada satu kesimpulan bahwa praktek-praktek homoseksual tidak sesuai di hadapan Allah.8 Hal ini dihubungkan dengan kekudusan atau kenajisan umat manusia.
Merujuk pada pemaparan Stott, bahwa pada masa Perjanjian Lama ataupun Peranjian Baru, praktek homoseksual dilakukan untuk tujuan tertentu. Pada nats Imamat, ada dugaan jauh bahwa praktek homoseksual dilakukan untuk tujuan ritus keagamaan (namun hal ini adalah pendapat yang disanggah Stott). Pada masa Perjanjian Baru, terdapat praktek homoseksual untuk tujuan komersil. Sementara, untuk masa sekarang ini, praktek homoseksual dilakukan dengan alasan yang lebih beragam.
Namun, bagaimana sebenarnya hubungan antara seksualitas manusia dengan pemikiran theologi kristen yang berkembang? Dalam hal ini saya kembali mengutip buku The Blackwell Encyclopedia bahwa :
‘The key link beetwen the biological account of sexuality and theological thought has been the Natural Law. They have focused on the ways in wich human bodies were designed and how male and female bodies fit together in a natural way and come together in such a way that procreation accours. This has led the valuing of such ‘natural’ process as good and right and consequently all deviation from the natural as bad and wrong. In this way, masturbation, contraception, and sexual expression of homosexuality have been dismissed as unnatural and wrong. There are in addition to such natural law arguments, biblical ground for judgements on the issues.’

Pada pemaparan yang selengkapnya Alister berpendapat bahwa hubungan antara keberadaan bilogis yang benar dari seorang manusia dipandang sebagai hukum alam. Seksualitas sebagai bagian di dalamnya merupakan kenyataan bilogis manusia yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Jadi saat terjadi penyimpangan bentuk dari kenyataan tersebut, manusia itulah yang dipandang salah, tidak benar. Allah menciptakan Adam dan Hawa, sampai pada manusia-manusia di Sodom dan Gomora, selanjutnya manusia pada jaman Paulus dan sampai saat ini pun tetap dua jenis, laki-laki dan perempuan. Dari kedua jenis ini, Allah menghendaki manusia untuk melanjutkan karya penciptaan-Nya di muka bumi dengan berkembang biak, beranak cucu, dan bertambah banyak untuk memenuhi dan mengolah bumi. Dan satu-satunya cara untuk berkembang biak secara manusia adalah dengan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Melalui persetubuhan itu pulalah fungsi seks yang lebih mendalam nyata dalam diri dan hidup seorang manusia. Laki-laki memberikan benih manusia – dalam hal ini sperma – kepada perempuan untuk mebuahi sel telur sehingga terjadi proses yang disebutkan di atas tadi, yaitu proses seseorang dari masa kehamilan, kelahiran, anak dan akhirnya dewasa.
Hal reproduksi yang seperti inilah yang tidak dapat terjadi melalui hubugan seksual yang dilakukan dengan sejenis. Keinginan Allah agar manusia dan pasangannya hidup untuk saling melengkapi tidak akan pernah tercapai. Sesama laki-laki tidak akan pernah membuahkan keturunan dari hubungan seks mereka karena keduanya hanya akan menghasilkan sperma dan tidak terjadi keturunan, demikian juga dengan perempuan homoseksual yang tidak dapat mengalami pembuahan sel telur melalui hubungan seks dengan pasangannya. Dengan demikian, dengan tegas dan mungkin kejam harus diakui bahwa dengan melakukan praktek homoseksual, para homoseksual telah melanggar kenendak Allah dalam hidup manusia untuk berkembang biak dan bertambah banyak. Pertama, melanggar kehendak Allah agar manusia itu hidup berpasangan, laki-laki dan perempuan. Kedua, kehendak Allah agar manusia memenuhi bumi dam mengusahakan bumi dengan keturunannya. Ketiga, kehendak agar manusia menjaga kesucian seksualitasnya yang dengan lawan jenis saja dapat dikatakan bersalah dengan kasus tertentu, dan sebagainya. Jika alasannya adalah semata-mata agar manusia mempunyai pasangan dalam artian teman, hubungan antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan dapat dibenarkan, jika hanya sebatas pertemanan, atau persahabatan. Bukan partner dalam seks. Karena kembali pada kisah penciptaan manusia, bahwa tidak baik manusia itu sendiri saja.9
REFLEKSI TEOLOGIS : SIKAP YANG KRISTIANI TERHADAP HOMOSEKSUALITAS
Setelah mengusahakan berbagai penjelasan yang berkenaan dengan masalah homoseksualitas, maka sebelum sampai pada sikap yang kristiani terhadap masalah homoseksual, saya ingin menekankan bahwa jika dipandang dari segi benar atau salahnya praktek homoseksualitas menurut saya, dengan tegas saya menyatakan bahwa aktivitas seksual atau persetubuhan homoseksual yang dijalankan oleh kelompok homoseksual adalah salah jika berangkat dari pandangan Alkitab, yang diyakini sebagai kumpulan ilham para penulisnya yangberasal dari Tuhan. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa Alkitab menadang salah aktivitas seksual yang adalah kegiatan-kegiatan penyaluran nafsu seksual terhadap sesama jenis.
Namun, saya pun tidak ingin hanya menyalahkan praktek homoseksual yang menjadi fenomena yang saat ini hampir biasa di kalangan masyarakat.10 Perlu juga diberikan pembelaan terhadap kelompok homoseksual yang terus menerus mendapatkan tekanan dari masyarakat umum. Bahkan di kalangan gereja, belum semua orang – dan juga pelayan gereja – yang dapat menerima keberadaan kelompok homseksual di dalam gereja. Masih sangat banyak orang yang merasa najis atau jijik dengan homoseks, karena dicap menderita kelainan, dan positf HIV/AIDS.
Dari percakapan yang pernah saya lakukan, beberapa teman dari kelompok homoseks meyatakan pesimis untuk kembali menjadi heteroseks karena ragu akan penerimaan dari masyarakat. Bagi mereka, cap yang telah diberikan pada mereka sebagai manusia yang tidak normal, menjadi senjata balik bagi mereka untuk bertahan menjadi homoseks.
Lebih spesifik tentang kekristenan, bagi beberapa gereja – khususnya gereja barat – telah mengupayakan ruang untuk penerimaan homoseksual di dalam jemaatnya.11 Namun kebanyakan gereja masih tidak dapat menerima homoseksual. Alasannya memang tetap pada pandangan bahwa praktek homoseksual adalah dosa. Saya setuju jika gereja tidak menerima pemberkatan nikah dari pasangan homoseksual. Tetapi saya sangat tidak setuju jika keberadaan homoseksual sama sekali tidak diterima di dalam sebeuah gereja. Apalagi jika yang menjadi alasan adalah bahwa praktek homoseksual adalah najis di mata Allah, oleh karena itu seorang homoseksual tidak dapat masuk gereja apalagi melayani jemaat jika belum “bertobat” dan mengaku diri. Karena Yesus sendiri telah meluruskan tentang hal kenajisan di mata Allah12. Dengan jelas Yesus mengatakan bahwa apa yang menajiskan orang adalah apa yang keluar dari dalam hatinya13
‘Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.’

Sebagai orang Kristen, yang berarti pengikut Kristus hendaknya mencoba untuk membuka hati dan pikiran sama seperti Yesus yang selalu mau membuka hati bagi orang berdosa. Yesus yang sebagai manusia tetapi sekaligus adalah Tuhan mau merendahkan diri dan menerima para pendosa. Yesus mau agar setiap orang mengalami pertobatan. Dalam Lukas 24:46-48 Yesus mengatakan bahwa :
46 … “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, 47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. 48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Bagi Yesus,mati di kayu salib adalah tanda pertobatan bagi semua orang, segala bangsa. Tidak ada tertutup kesempatan bagi setiap orang yang ingin bertobat dan kembali ke jalan Allah. Karena Yesus juga menghendaki agar setiap orang beroleh jalan keselamatan kepada Bapa melaui Dia.
Sebagai pengikut Kristus, yang penting sekarang adalah bagaimana agar dengan terang hidup yang kita miliki, kita dapat menerima keberadaan kelompok homoseksual. Seperti yang dikatakan Fletcher bahwa kelakuan dan sikap yang dituntut Allah dari manusia adalah sifat yang seperti Kristus atau christlike.14 Dalam hal ini pula dengan kaitannya dengan etika Kristen, Fletcher mencatat bahwa tumpuan kita adalah pada anugerah dan pengampunan Ilahi saja.15 Homoseksual maupun heteroseksual sama-sama mempunyai dosa. Jika kelompok heteroseksual menganggap diri lebih baik,. Fletcher berpendapat bahwa perbuatan yang paling baik dari seorang manusia pun tidak dapat dianggap sempurna. Perbuatan manusia selamanya tidak akan pernah sempurna, dan karena itu begantung pada pengampunan Allah saja.16
Diharapkan, melalui hati yang terbuka untuk mau menerima kelompok homoseks, pada homoseks mempunyai jiwa yang optimis untuk mengalami perubahan. Melalui penerimaan itu, sebuah upaya untuk membantu pertobatan dari sesama manusia yang menjadi homoseks dapat kita upayakan. Paling tidak agar mereka – homoseksual – dapat “menerima” keadaan mereka yang sejati. Bukan hanya keadaan sebagai homoseksual, tetapi keadaan yang lebih mendasar sebagai mahluk ciptaan dan milik Tuhan. Yang diciptakan melalui debu tanah, dan diberi nafas kehidupan sebagai laki-laki dan perempuan.
PENUTUP

KESIMPULAN

Akhirnya, saya sampai pada bagian kesimpulan dari makalah ini. Setelah saya mengawali makalah ini dengan mengingatkan bahwa permasalah homoseksual bukanlah masalah yang baru. Topik seperti ini menjadi salah satu topik yang sudah ada dari jaman para nabi Perjanjian Lama, sampai hari ini.
Masyarakat masih terbagi dua dalam menyikapi masalah ini, antara menerima dan menolak keberadaan kelompok homoseksual di dalam masyarakat. Sama halnya dengan gereja yang juga masih dalam kesimpangsiuran terhadap penerimaan kelompok ini. Sebagai jemaat suatu gereja saya sendiri pun dengan tegas menolak aktivitas seksual homoseksual karena dengan jelas dari awal Allah, Yesus, dan para Bapa gereja menolak prkatek homoseksual yang berarti melanggar hukum alam, kodrat manusia yang telah ditentukan Allah, berdasarkan ajaran Alkitab. Allah menciptakan hanya dua macam manusia, laki-laki dan perempuan, dan Allah menghendaki manusia itu hidup berpasangan, beranak cucu dan bertambah banyak, serta dengan keturunannya mengusahakan bumi. Merupakan perintah yang hanya dapat dipenuhi dengan hidup berpasangan antara seorang laki-laki dan perempuan.
Yesus sebagai teladan umat Kristen sebenarnya telah memberikan jalan untuk dapat meredakan keadaan seperti ini. Kristus yang mau menerima semua keberadaan orang berdosa, akhirnya dapat membalikkan kedaan orang tersebut yang penuh dosa menjadi penuh pertobatan. Namun, di satu pihak, Yesus jelas menolak dan membenci praktek dosa mereka, dan seluruh umat manusia.

SARAN
Penjelasan pada alinea di atas menjadi satu-satunya saran yang saya tawarkan dalam masalah ini. agar umat Kristen mau terus mengembangkan penerimaan terhadap homoseks di dalam kesatuan umat Allah. Umat Kristen dapat menolak praktek aktivitas seksual homoseksual dan dengan tegas menolak dengan berlandaskan ajaran Alkitab. Tetapi tetap menerima keberadaan homoseks sebagai cipataan Allah, umat Allah, yang sama dengan heteroseksual.

DAFTAR PUSTAKA

Abrar, Anna Nadhya dan Tamtiatri, Wini (Ed.). Konstruksi Seksualitas : Antara Hak dan Kewajiban. Yogyakarta. PPK-UGM. 2001.

Bungin, Burhan. Pornomedia :Konstruksi Sosial Teknologi Telematika dan Perayaan Seks di Media Massa. Jakarta. Prenada Media. 2003. Hal. 66-77.

Fletcher. Verne H. Lihatlah Sang Manusia : Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar. Yogyakarta. Duta Wacana University Press. 1990.

Gunawan, FX. Rudy. Refleksi atas Kelamin : Potret Seksualitas Manusia Modern. Magelang. Indonesia Tera. 2000. Hal. 3-10.

Stott. John. Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani : Penilaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer. Jakarta. YKBK. 2005.

www.religioustollerance.com

www.wikipedia.com/homoseksual

www.wikipedia.com/homosexuality and christianity

www.wikipedia.com/list of christian denominational positions on homosexuality

www.wikipedia.com/religion and homosexuality

www.wikipedia.com/religion and sexuality

LAMPIRAN
List of Christian denominational positions on homosexuality

Denomination
Allows as members
Ordains
Blesses unions
Marries
Adventist
Yes
No
No
No
African Methodist Episcopal Zion
Don’t know
Don’t know
Don’t know
Don’t know
Anglican
Yes[citation needed]
Varies[citation needed] (allowed in most developed countries, banned in African provinces (except Southern Africa)
Varies[citation needed]
No[citation needed]
Baptist
Varies
No
No
No
Christian Reformed
Yes
Varies[citation needed]
Varies
No
The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (”Mormons”)
Varies
No
No
No
Eastern Orthodox
Yes
No
No
No
Jehovah’s Witnesses
No
No
No
No
Lutheran
Yes
Many LWF=Yes, ELCA, some other LWF. & Others (ILC, CELC, etc) =No
LWF=Varies, ELCA, Others (ILC, CELC, etc) =No
No
Methodist
Yes
Varies
Varies
No
Metropolitan Community Church
Yes
Yes
Yes
Yes
Moravian
Yes
Moratorium on debate
Moratorium on debate
Moratorium on debate
New Apostolic
Yes
No
No
No
Pentecostal
Yes
No
No
No
Presbyterian
Yes
PCUSA= No, Others = No
PCUSA and Church of Scotland=Yes, URC and Canada=No
No
Reformed (URC and CANRC)
No
No
No
No
Religious Society of Friends (Quaker)
Yes
No ordained clergy
Varies by meeting
Varies by meeting
Roman Catholic
Yes
No
No
No
Old Catholic
Yes
Yes
Yes (Europe) in Netherlands, Germany, Austria and Switzerland
No
Swedenborgian
Yes
New Church=No; Swedenborgian Church=Yes
New Church=No; Swedenborgian Church=Minister’s discretion
New Church=No; Swedenborgian Church=Minister’s discretion
Unification Church
Yes
No
No
No
Unitarian Universalist
Yes
Yes
Yes
Yes
United Church of Canada
Yes
Yes, congregation may decline to call
Not applicable
yes, but only with approval of local session
United Church of Christ
Yes Varies by congregation[citation needed]
Generally Yes, but Varies by Association
Generally Yes, Varies by congregation
Generally Yes, Varies by congregation
Uniting Church in Australia
Yes
Yes, Presbytery’s discretion
?
No

1 Comment »

  1. Syalom,
    saya tergelitik utk mengomentari artikel sdr Putra tentang masaalah homo seksualitas yg sampai saat ini menjadi
    perdebatan yg tak kunjung habis.
    Homseksualitas tidak semudah yg kita pikirkan,seharusnya aspek dunia kedokteranpun harus dimasukan sebagai bahan acuan literatur t.u. bidang psikiatri,endokrin,biologi/molekuler.
    Soal seks tidak hanya melihat seorang sebagai laki laki atau perempuan dari bentuk penampilan luar(morfologi genitalia eksterna), banyak faktor yg berperan yi. morfologi genitalia interna, hormon seks,susunan kromosom dll.
    Contohnya dalam dunia perjanjian lama penyakit kusta dulu dianggap penyakit kutukan/tdak dapat disembuhkan ternyata dengan berkembangnya dunia kedokteran kita mengetahui bahwa itu disebabkan oleh bakteri dan dapat diobati.
    Untuk itu saran saya utk memberi penilaian terhadap sesuatu hal sebaiknya kita melihat dari segala aspek,saya masih bertanya tanya mengapa sdr sdr kita yg dikatakan beda dengan org normal mis.homoseksualitas,lesbian atau jenis lain dianggap “hrs bertobat”,apakah mereka dengan sengaja melakukan penyimpangan?,saya pikir tidak.
    menerima mereka sebagai anggota jemaat saya sangat setuju tapi secara utuh termasuk kegiatan mereka,perlu saya tambahkan bahwa tidak semua yg kita sebut “penyimpangan perilaku” termasuk seks dapat disembuhkan ,kita seharusnya dapatnmemanfaatakan ilmu karunia Tuhan utk memberikan pencerahan terhadap sesama kita,utk saling menerima bukan menyalahkan.
    saran saya untuk bahan perbandingan, saya usulkan untuk mencari literatur ilmiah dibidang kedokteran yi. psikiatri,endokrin,molekuler biologi.
    semoga hal yg saya samapikan ini dapat bermanfaat utk kita semua GBU
    Bara Tambing,dokter

    Comment by Bara Tambing — October 14, 2009 @ 6:04 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress