FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

October 17, 2009

“LINGKARAN KEMISKINAN”

Filed under: Teologi Kontekstual — admin @ 3:10 am

UPAYA MEMBANGUN PARADIGMA BARU TENTANG KEMISKINAN
Martin Krisanto Nugroho

I. Pendahuluan.
Kemiskinan merupakan topik terbesar manusia yang tak pernah selesai dibahas namun tidak membuat umat kristiani berhenti dalam mengupayakan yang terbaik untuk memecahkan berbagai masalah didalamnya. Ada beberapa tujuan penulisan membahas sebagian dari kemiskinan agar membuka peluang perubahan; pertama adalah manusia sebagai mahluk ciptaan yang pada dasarnya telah dibangun dalam kerangka “Ego” yang kodrati adanya. Bagaimana merubah peranan “Ego” ini ke arah yang lebih bersifat inklusif (terbuka), sehingga memungkinkan pertemuan-pertemuan dengan sebanyak mungkin “Ego” yang lain dengan tetap menyadari bahwa tetap ada gradasi antara eksklusif sampai pada inklusif. Di tambah lagi dengan sifat mem-prioritaskan aspek-aspek dalam ke “ego” an yang berbeda. Contoh: Seseorang pada umumnya senang membicarakan keluarganya, pekerjaannya, status sosialnya, seseorang mungkin lebih senang bila bicara masalah kebutuhannya dan juga mungkin seseorang yang sama tidak begitu senang membicarakannya.
Kedua; manusia sebagai bukan ciptaan yang berdiri sendiri. Dibutuhkan suatu pemahaman yang komprenhensif agar seseorang dapat berkeinginan untuk melibatkan diri dalam suatu kelompok dalam berbagai macam skala kelompok. Dan ketiga; Manusia sebagai ciptaan Tuhan dapat lebih mengetahui, menyadari dan terus mengejar pengertian lalu berusaha keras melakukan apa yang diinginkan oleh penciptanya. Sehingga dalam konteks tertentu manapun dapat lebih leluasa melaksanakan amanat agung dari Tuhan yaitu: “Merawat Dunia Ciptaan-Nya”
Beberapa definisi dipakai untuk mempertajam uraian adalah yang dimaksud dengan teologi kontekstual, dalam kontekstualisasi kita dihadapkan dengan kontek kebudayaan dan agama yang traditional disatu pihak, tapi dipihak lain bergumul dengan konteks modernisasi yang menyebabkan perubahan-perubahan nilai, khususnya sehubungan dengan martabat manusia . Selain itu dapat diartikan luas sebagai teologi sosial semacam teologi fundamental, yaitu merupakan orientasi seluruh teologi dan bukan merupakan cabang teologi tertentu. Jadi seluruh usaha teologi harus mempunyai ciri kontekstual atau sosial juga dapat diartikan sempit sebagai teologi sosial yaitu teologi khusus tentang keterlibatan umat dalam masalah-masalah masyarakat.
Definisi umum yang telah diketahui tentang kemiskinan adalah suatu keadaan dasar manusia yang menemukan dirinya baik secara sadar maupun tidak, dalam suatu kondisi atau situasi yang membutuhkan bantuan atau pertolongan dari pihak diluar dirinya. Di dalam kemiskinan terdapat berbagai jenis atau aspek yang mendominasi yaitu miskin wawasan, miskin spiritual, miskin material, miskin kebijaksanaan, dan lain sebagainya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia kemiskinan berarti: tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah), hanya dapat memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, dan perumahan pada tingkat kehidupan yang minimum. Definisi umum ini akan mendapatkan paradigma baru yang coba dibangun melalui bahasan lebih lanjut.

II. Berbagi Kisah dan Cerita Nyata.
Berawal dari ingin berbagi (kisah di Desa Peguyangan kangin – Denpasar): Rasa ingin berbagi semangat, kebisaan dan berbagai hal yang juga berada dibatas kemampuan finansial yang terbatas melahirkan kesadaran untuk membagikan pengalaman dalam bersekolah dan kegiatan belajar-mengajar. Namun disadari bahwa pembagian waktu haruslah jitu agar pekerjaan utama sebagai ASM (Area Sales Manager) sebuah perusahaan distributor lampu tidak terbengkalai.
Latar belakang kehidupan cukup sederhana, manager ini hanyalah seorang pemuda yang mempunyai sebuah sepeda motor, membawa handphone bekas, tinggal di ruko milik perusahaan, tabungan hanya beberapa ratus ribu rupiah. Karena tuntutan penampilan maka semua kemeja yang kebetulan tidak pernah dibelinya sendiri harus dipakai secara maksimal. Pemuda ini mengawali kariernya di pulau dewata dengan penghasilan dibawah rata-rata penghasilan seorang manager dengan pendidikan S1 yaitu dibawah Delapan ratus ribu rupiah (1999).

Membuka hubungan baik dengan suatu lingkungan di desa, untuk menawarkan semacam les bebas biaya untuk pelajaran yang umumnya dibutuhkan untuk didukung. Les bahasa Inggris dan Matematika ditambah beberapa yang lain seperti fisika, bahasa Indonesia, mendapat sambutan baik dari lingkungan itu. Para pengajarpun dihimpun terdiri dari tujuh rekan muda yang rindu untuk berbagi, mereka mengajar antara 25-45 orang anak yang terkumpul selama kurang lebih satu bulan.
Berangkat tiap dua kali seminggu (th.2000) ke masyarakat pedesaan yang hanya berjarak 10 menit dari kota Denpasar dengan mobil dinas perusahaan, menemukan kesenjangan kualitas pendidikan. Anak SD kelas IV yang tidak mengalami kesulitan ketika membantu dalam memeriksa hasil pekerjaan tugas matematika anak SD kelas VI di desa Peguyangan Kangin itu. Kegiatan les gratis di tempat ini cukup membawa semangat bagi kegiatan belajar.
Tempat yang dipakai untuk belajar adalah di dua rumah keluarga, yang satu rumah keluarga katolik yang mengelola sebuah warung dan yang lain rumah keluarga muslim dengan kepala keluarganya yaitu nelayan tradisional. Mereka berada dalam lingkungan yang mayoritas agamanya Hindu namun perbedaan agama tidak nampak dipermukaan terutama dalam berbicara kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
Kegiatan ini berjalan kurang lebih satu setengah tahun lamanya sebelum timbul suatu masalah yaitu guru sekolah mereka membuat les wajib yang mengambil hari dan waktu yang sama seperti waktu les yang telah berlangsung ini.
Beberapa tinjauan seputar kegiatan diatas adalah:
• Antusias anak-anak ini dalam mengikuti pelajaran les sangatlah tinggi walau tempat sangat terbatas dibandingkan sekolah mereka sendiri.
• Orang tua mereka juga sangat mendukung, dapat diartikan bahwa kesadaran mereka untuk mendukung anaknya agar dapat berprestasi maupun hanya sekadar agar tidak mengalami tinggal kelas merupakan modal yang baik.
• Les gratis inipun tidak menghalangi mekanisme pengaturan jadual les, tidak menyebabkan mereka tidak datang atau terlambat, malah seringkali rekan dari kotalah yang terlambat karena ada kerja lembur dan lain hal.
• Persiapan-persiapan seperti absensi, tes-tes kecil, hadiah sederhana dan pembagian kelas dapat memperlancar proses belajar dan mengajar ini.
Dalam proses belajar dan mengajar ini jelas melibatkan dua pihak selaku pelajar dan pengajar, rekan pengajar les dalam hal tertentu misalnya mengenai semangat, ketepatan waktu, kepolosan dalam berpendapat mereka dapatkan dari anak-anak di desa ini. Kegiatan ini bisa harmonis karena rekan dari kota ini datang bukan sebagai “Pembagi hadiah” melainkan motivator dan inspirator bagi mereka. Terkadang justru merekalah yang memberi hadiah atau makanan pada rekan-rekan pengajar.
Dalam hal ini kedua pihak melakukan “take and give” sebagai suasana kebersamaan. Tidak ada rasa miskin dan kaya dalam arti materi maupun lainnya, kedua belah pihak sama-sama merasa penting untuk belajar bahasa Inggris dan Matematika, dan terutama merasa perlu satu sama lain dalam ruang kehidupan yang nyata. Ketika rekan dari kota tidak bisa datang, merekapun memakluminya dan tidak bersungut-sungut karena pernah dijelaskan sebelumnya tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin menghalangi. Pintu bagi rekan-rekan ini sangatlah terbuka lebar kapan saja.
Suasana spiritual juga kental terasa dimana bila ada upacara keagamaan atau perayaan keagamaan tertentu yang lain walau tetap berkumpul atau tidak, tidak berkeberatan dengan kesadaran penuh bahwa hidup kita semua membutuhkan Tuhan sebagai sumber berkah dan rahmat.

III. Pendekatan dengan Analisa Sosial
Struktur masyarakat di desa Peguyangan secara ekonomi tergolong menengah ke bawah, status sosial mereka juga dapat dikatakan rendah karena profesi mereka sebagai nelayan, guru sekolah negeri, pedagang kaki lima dan toko-toko sangat sederhana. Kendaraan yang dipakai umumnya adalah sepeda motor dan sepeda gayung, banyak diantara mereka yang berjalan kaki. Listrik yang dikonsumsi oleh mereka mempunyai kapasitas antara 450-900 watt karena tidak banyak dipakai peralatan elektronik.
Para pengajar yang terlibat adalah pendatang dari luar Bali dan tinggal di kos atau mes selama berdomisili di pulau ini. Mereka adalah karyawan dari berbagai macam perusahaan swasta yang pemiliknya juga pendatang, masa kerja mereka masih cukup muda yaitu dibawah dua tahun. Dapat dikatakan bahwa mereka tergolong dalam ekonomi menengah. Secara statusnya mereka tergolong menengah pula dan tidak ada sesuatu yang istimewa.
Pertemuan antara para pengajar dan masyarakat desa Peguyangan kangin merupakan pertemuan antara golongan menengah dan menengah kebawah. Jarak antar kedua golongan tidak begitu mencolok walaupun secara penampilan ada perbedaan yang nampak jelas dari sudut etnisnya, ada beberapa pengajar yang etnis Tionghoa dan etnis Batak yang kebetulan tidak ada masyarakat desa yang sama etnisnya.
Berbicara mengenai kemiskinan dari sudut ekonomi memang ada perbedaan yaitu para pengajar dapat dikatakan lebih dari rata-rata sementara masyarakat ditempat itu miskin. Dari sudut pendidikan maka ada perbedaan yang mencolok antara keduanya, disatu sisi para pengajar minimum telah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi sementara masyarakat disitu rata-rata pendidikannya adalah tamatan bangku SMA bahkan cukup banyak yang lulusan SMP atau SD.
Contoh diatas dipilih untuk melihat kesenjangan yang tidak terlalu drastis secara sosial tanpa meninggalkan kenyataan-kenyataan lain yang bila dibandingkan sangatlah mudah menentukan mana yang kaya dan mana yang miskin seperti penduduk di Etiopia dibanding dengan penduduk di pusat Singapura.

IV Sudut Pandang yang Dibangun Secara Teologis
Dalam bagian ini akan dipaparkan bagaimana pendapat yang telah dibangun oleh beberapa tokoh diantaranya adalah A. Pieris; menurutnya pilihan untuk mengikut Yesus adalah pilihan menjadi miskin yang merupakan pemihakan kepada kaum miskin. Dimana Yesus dan kaum miskin bersekutu melawan mamon, spiritual yang ditanamkan adalah berjuang menjadi miskin sekaligus berjuang bagi kaum miskin. Semangat yang memotivasi karena godaan yang baru akan membawa serta motif dan cara baru untuk “menjadi miskin seperti Yesus miskin” .
Verne H. Fletcher juga menulis bahwa perilaku Yesus yang mengesankan bagi para penginjil adalah ketekunan-Nya untuk mendahulukan kaum miskin dan terlantar, Yesus juga bersikap terbuka terhadap semua orang yang dijumpai-Nya dengan memusatkan perhatian pada golongan rendah. Kehadiran Yesus memberi teladan kepada kita agar melakukan aksi yang riil untuk berinteraksi langsung dengan kaum miskin.
Secara menarik selanjutnya membawa kita ke dalam paradigma baru yang berusaha dibangun melalui karya tulis ini adalah; Ketika Kristus menjadi miskin sama seperti manusia, siapapun kita diletakkan secara adil oleh Kristus sebagai kaum miskin. Jadi berbeda dengan pendapat Pieris yang “berjuang menjadi” dan “berjuang untuk” sesungguhnya adalah “berjuang dalam” atau “berjuang bersama” kemiskinan. Memang benar bila diungkapkan Yesus menjadi miskin namun siapakah kita sehingga meneladan Yesus untuk menjadi miskin padahal sesungguhnya siapapun kita dan didalam status serta golongan apapun, semua kita adalah miskin. Pemahaman ini justru dapat menentukan siapakah kita dan apa yang kita lakukan bagi sesama yang sama-sama dalam keadaan miskin? Memotivasi diri untuk berjuang bersama menemukan keadilan dan kesejahteraan hidup bukan didalam dunia tetapi hidup didalam Kristus. Sehingga kehadiran Yesus menjadi miskin tidak membedakan keadaan dan sudut pandang apapun bahwa semua manusia adalah miskin. Yang lebih diperjuangkan Kristus bukanlah kemiskinan yang selalu ada melainkan ketidakadilan yang merajalela.

V. Upaya Membangun Teologi Kontekstual
Beberapa komponen pembentukan lingkaran kemiskinan:
1. Wujud keberadaan secara holistik dunia nyata (kosmos) pada hakekatnya adalah miskin. Daud pada mazmur-nya Mzm 86:1 melupakan status sosialnya untuk melanjutkan pengertian dalam menghayati suatu kemiskinan sebagai suatu kesesakan (ayat 7) dan tuntutan yang mendalam pada kuasa Allah agar ada perubahan dan pembenahan diri yang lebih pribadi sifatnya (ayat 11). Situasi pemikiran kemiskinan dalam bentuk sosial & ekonomi menjadi bukti keberadaan lingkaran kemiskinan.
2. Yesus paham betul pola berpikir manusia tentang orang miskin yang berkecenderungan kuat tidak merasa dirinya miskin (Markus 10:21)
3. Dalam perjanjian baru apabila kita memulai dari Matius, sebagai kitab pertama dalam Alkitab, maka Yesus telah menyatakan dirinya melalui suatu paradigma baru yang berparadoks kental sebagai ciri khas pengajaran-Nya pada pasalnya yang ke lima pada ayat 3. “Blessed are the poor in spirit, For theirs is the kingdom of heaven”. Secara gamblang Yesus mengutarakan bahwa engkau yang telah menerima hakekat manusiawimu yang miskin itu, mulailah dari situ, karena berdasarkan itulah, dan didalam lingkaran itulah kamu akan berbahagia dalam berhadapan dengan Allah penciptamu. Sehingga atas dasar kesadaran itu pulalah engkau akan diselamatkan.
4. Untuk mempelajari fenomena kemiskinan ini maka alangkah baiknya bila kita membandingkan dengan salah satu fenomena ekologi ciptaan Tuhan yang berkesan merusak namun pada pertumbuhan ilmunya manusia melangkah terus dalam mengolahnya, walaupun tidak ada kesempurnaan yang dicapai dalam menangani fenomena itu. Fenomena petir atau halilintar bukanlah asing bagi kita, coba kita pakai analisa petir ini sebagai pembanding yang tidak berimbang namun menyelaraskan mekanisme berpikir.(diambil dari bahan TA, Martin K. Nugroho ST. STTS 1999), Bahwa potensi merusak petir atau pembandingnya kemiskinan (selanjutnya disebut dengan “gangguan”) sepertinya dibatasi dengan membuat area perlindungan, perubahan cara mengatasinya sangat menarik, yaitu bagaimana gangguan yang tidak mungkin tidak selalu terjadi pada area tertentu berusaha untuk ditangkal, perisai dibuat sedemikian rupa seperti sangkar Faraday, kemiskinan seakan-akan dibendung sedini mungkin, permukaan tajam yang secara elektris mengumpulkan muatan penyeimbang merupakan usaha-usaha para ahli untuk menghadapi dengan berani dan menjadi pahlawan agar kemiskinan menemuinya lalu diolahnya dengan melanjutkannya pada pihak-pihak yang lebih berkompentensi untuk melakukan penyelesaikan praktis dikarenakan tidak mungkin menghilangkan fenomena itu sendiri. Tanpa disadari fenomena itu berkembang dan serba tidak diduga, semua yang berkaitan secara elektris, bahkan yang bernafas dapat menjadi korban kegagalan pengiriman “potensial gangguan” itu.
5. Bila seseorang dalam hidupnya telah mencair dengan kemiskinan seperti pada Matius 5:3 (Lukas 6:20), maka dapat dipastikan bahwa selain garis keberadaan diposisi ini, manusia rentan dan kuat cenderung masuk pada segmen-segmen kemiskinan yang sudah eksis, sehingga tinggal memilih, diposisi manakah sebenarnya dia berada. Sehingga kemiskinan telah menjadi “kemiskinan” bahkan bisa menjadi suatu kekayaan yang luar biasa. Banyak tokoh-tokoh yang telah mendahului menjalani hidup yang tidak dikendalikan oleh sosial – budaya – ekonomi, tapi berkontekstual dan menjawab permasalahan seputar ketiga hal tadi dengan kekayaan “kemiskinan” ini. Kita tidak mengatakan diluar penyakit lepra, cacat bukanlah suatu kemiskinan, (Matius 11:5, Lukas 7:22) karena Yesus dalam tulisannya ini jelas mengungkapkan kesetaraan proses jawaban penebusannya yang menjawab secara luas baik secara tubuh jasmani sekaligus menjawab kematian dengan penyelamatan dan meletakkan kemiskinan sebagai suatu nuansa pola hidup, pola berpikir yang menyusun suatu spiritualitas yang harus dijawab melalui Injil Yesus Kristus sendiri.
6. Matius 26:9 bdk Markus 14:5, bandingkan dengan Matius 26:11 bdk Markus 14:7, ketika Yesus membiarkan kepalanya diberi minyak wangi yang mahal. Nyata benar cara pandang kemanusiaan pada murid tentang kemiskinan berbeda dengan pemahaman Yesus, jelas sekali diutarakan bahwa para murid menilai kemiskinan dengan perhitungan matematis ekonomi, sementara Yesus mengingatkan bahwa “kemiskinan” selalu ada pada diri mereka. Berita ini mengajak bahwa “kemiskinan” adalah bagian dari lingkaran kehidupan yang manusia tidak dapat keluar dari dalamnya. Berdasarkan kemiskinan inilah kita menyatu kepada konteks dimana kita melakukan pelayanan seperti yang telah Yesus dahului. Bagi Yesus perhitungan matematis ekonomi itu hanyalah salah satu dari bakat manusia yang perlu dikembangkan, bandingkan dengan perumpamaan tentang “talenta”.
7. Rasul Paulus dalam surat-suratnya memakai kata “miskin” dalam beberapa pemahaman, dalam Roma 15:26 seperti pengertian materi/ekonomi pada umumnya, dalam 2 Kor 6:10, bagaimana kemiskinan justru memperkaya orang lain, dibedakan dengan kata orang tak bermilik yang memiliki segala sesuatu. Bahkan dalam pergumulan pelayanannya, Paulus mengutarakan keberadaan lingkaran “kemiskinan” inilah yang menjadi tujuan penyelamatan Yesus sehingga ia membahasakannya dengan “supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Apa yang ditulis ini telah mengalami pergumulan yang cukup dalam, agar cara berada hidup yang lebih humanis menjawab solidaritas kemiskinan terutama tidak dalam pola sosial saja.

VI. Kajian Alkitabiah
Semua perkataan Yesus tentang kemiskinan dapat diungkapkan baik dalam artian
a. Pt?khos = (sangat) miskin, yang berharap akan Tuhan; yang tidak berguna. Secara harafiah berarti yang mengemis
b. Pt?kheu? = menjadi (sangat) miskin. Secara harafiah berarti menjadi pengemis. Kata-kata ini dipakai Paulus menjelaskan tentang kasih karunia Kristus sehingga Kristus menunjukkan keberadaan-Nya yang berkeadaan seorang pengemis (2 Korintus 8:9)
c. Pt?kheia = kemiskinan (yang sangat), secara harafiah berarti keadaan seorang pengemis. (2 Kor 8:9, 2 Kor 8:2, Why 2:9),

Akan dibahas bagaimana kata-kata ini dipakai untuk mengungkapkan perkataan Yesus tentang miskin dan kemiskinan, dalam konteks yang bagaimana:
1. Matius 5:3, “yang miskina” disini dipakai “poor in the Spirit” terdapat juga arti poor dalam Yunani yakni“pen?s” yang berarti harus bekerja untuk hidup, yang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan tangannya sendiri, sehingga tidak ada yang diluar kebutuhan. Tetapi bukan kata ini yang dipakai yang dimaksud mendatangkan kebahagiaan (beatitude), melainkan “Absolutely destitude” ; usang, dikalahkan, ditinggalkan dimana lututnya terpaku hingga membungkuk atau jongkok. Dalam Ibrani “miskin” diartikan kesederhanaan dan tidak tertolongkan yang meletakkan sepenuhnya pada Tuhan. Bila kedua arti Yunani dan Ibrani digabungkan maka menjadi: “Berbahagia orang yang sadar bahwa seluruh dirinya tidak berdaya dan meletakkan seluruh kepercayaan dan keyakinannya pada Tuhan.
2. Lukas 6:20-26, ayat 20 “Gusti Yesus banjur mirsani para sakabate lan ngandika: “Rahayu kowe kang saiki padha mlarat, amarga kowe kang padha nduweni Kratoning Allah. …”padha mlarata” disini agak berbeda dengan Matius tadi, penekanan ditujukan lebih kepada kontras antara dua macam manusia. “kaya” dalam Yunaninya “Plousios”, dalam arti dipuaskan oleh barang-barang jasmani, sejahtera secara kesehatan/fisik, nama yang baik diantara manusia – dan tidak menginginkan yang lain lagi: tidak perlu berteriak pada Allah dalam doa, sebab mereka menyangka bahwa mereka mempunyai cukup banyak . “kamu telah memperoleh penghiburanmu” penghiburan disini dalam kata Yunani = Parakl?sis yang artinya; dorongan; nasihat; penghiburan.
3. Wahyu 2:9 Walau dalam kemiskinan yang sangat, Yesus tetap mengatakan bahwa pada hakekatnya tetaplah yang miskin ini adalah kaya “-namun engkau kaya-” menyatakan bahwa “miskin” bukanlah kosakata yang lahir dari Tuhan melainkan lahir dari bagaimana dunia menjawab penderitaan, tekanan, ketidakberdayaan dalam berbagai segi. Sehingga bagi Yesus layaklah kekristenan hidup sebagai bagian dari kemiskinan itu walau akan tetap menjadi kaya karena pengenalan akan anugerah dari Allah melalui Yesus dan Roh Kudus.

VII. Kesimpulan
Dari kisah nyata yang secara sederhana dipaparkan tadi menjelaskan bahwa paradigma baru diatas telah terjadi dalam komunitas kecil di desa Peguyangan Kangin – Denpasar, Bali. Kekristenan tidak lagi membuat tempurung bagi umat kristiani melainkan untuk mengerjakan bagiannya didalam kemiskinan yang meneladan pada Yesus. Dimana selanjutnya dapat dikembangkan untuk mencari terus akar-akar dari ketidakadilan yang pada gilirannya selalu merusak tatanan.
Lingkaran kemiskinan sebagai konsep utama untuk terlebih dahulu ditanamkan sebagai pemahaman baru yang ditawarkan untuk menjadi salah satu alternatif guna mendobrak peluang-peluang akan kesombongan status atau usaha-usaha mempertahankan posisi aman didalam percaturan kehidupan yang penuh tuntutan akan keadilan.

E. Gerrit Singgih, Ph.D, Berteologi dalam konteks, Kanisius dan BPK Gunung Mulia, 2004.
J.B. Banawiratma SJ. J. Müller, SJ. Berteologi sosial lintas ilmu, Kanisius, 1995.
Aloysius Pieris, Berteologi dalam Konteks Asia, Kanisius, Yogyakarta, 1996, hlm. 39, 44.
Verne H. Fletcher, Lihatlah Sang Manusia!, Duta Wacana University Press, Yogyakarta, 1990, hlm. 235.
Cf. Tulisan dalam J.B. Banawiratma SJ., 10 Agenda Pastoral Transformatif (Yogyakarta: Kanisius, 2002)
William Barclay, The Daily Study Bible, The Gospel of Matthew volume 1 Chapters 1-10. (Edinburg, 1975), p. 90.
P.D. Nilakandi, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius – Wahyu. (BPK Gunung Mulia, 1983), p. 214.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress