SOPHIA, A Title for Jesus
Yosua Agung Nugroho & Lenta Enni Simbolon
Ulasan singkat tentang Sophia (Wisdom of God), kaitanNya dengan Yesus, serta pandangan kekristenan mengenai personifikasi perempuan Allah.
Sophia
For she is more beautiful than the sun,
and excels every constellation of the stars.
Compared with the light she is found to be superior,
for its is succeeded by the night,
but against wisdom evil does not prevail.
(Wisd. 7:29-30)
Wisdom: mystery of God in female symbol
Wisdom, dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Hikmat atau Hikmah atau Kebijaksanaan, adalah personifikasi kehadiran dan aktivitas Tuhan yang paling sering digunakan dalam Kitab-kitab Ibrani (Perjanjian Lama). Penggunaan kata hikmah itu sendiri dalam penulisannya menggunakan kata-kata feminim: ????? (ibr.), sophia (yun.), dan sapientia (lat.). Penggambaran Hikmat juga selalu digambarkan sebagai perempuan, contohnya: sebagai ibu, saudara perempuan, kekasih, koki, nyonya rumah, pejuang perempuan, dan banyak peran-peran lain yang menyimbolkan kekuatan transenden yang mengatur dan melegakan dunia.
Sophia dicovered
Dalam Ayub 28:12-28 menyatakan bahwa Hikmat adalah sesuatu yang tidak diketahui datangnya dari mana, dan tidak ada yang tahu dimana Hikmat bisa ditemukan, kecuali Allah. Yang unik disini, pada ayat 27, diceritakan bahwa Allahpun harus mencari Hikmah. Di sini, kita bisa melihat adanya tanda-tanda personifikasi Hikmah . Terdapat gambaran Hikmah yang lebih mendetail lagi dalam kitab Amsal 1:20-33. Dalam terjemahan Indonesia, Hikmah (baik dalam Amsal, maupun kitab-kitab lainnya) hanya dirujuk sebagai ‘Dia’ tanpa menjelaskan lebih lanjut penggunaan istilah feminim ato maskulin, sedangkan pada KJV Hikmah disebut sebagai ‘She’ sesuai dengan istilah Ibrani hokmah. Maka karena itu, makalah ini akan sering menggunakan terjemahan Inggris (KJV) dan naskah Ibrani .
Kembali seperti yang tertulis di kitab Amsal, Sophia disini digambarkan sebagai penginjil jalanan, nabi yang berseru-seru di pasar dan di pintu kota, menyerukan celaan, hukuman, dan janji. Dengan kuasanya, Dia menyatakan bahwa siapa yang menolak untuk mendengar akan dihancurkan, dan siapa yang mendengar akan hidup aman tanpa takut akan kejahatan. Di bagian lain kitab Amsal, Sophia digambarkan sebagai pemberi kehidupan, dan siapa yang menemukan Dia akan menemukan hidup (Ams. 4:13; 8:35)
Kemunculan Sophia yang kedua (Ams
lebih bersifat pengenalan akan diriNya sendiri. Dia menyatakan bahwa dirinya memiliki pengetahuan, wawasan, dan kekuatan. Kata-katanya adalah kebenaran. Dia membenci kesombongan dan kejahatan. Hanya melalui Dia pemerintahan di dunia ini dapat menjadi pemerintahan yang benar. Lebih lagi, Sophia turut serta dalam karya penciptaan Allah, “Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi” (Ams 3:19). Keturutsertaan Sophia ini dapat dilihat lebih jauh di Amsal 8:22-31 dimana disitu tertulis bahwa Sophia (ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama “aku”) sudah diciptakan sebelum awal dunia ini sebagai karya pertama Tuhan. Kemudian Ia ada beserta Tuhan saat penciptaan.
Kemunculan Sophia yang terakhir di kitab Amsal dapat dibaca di pasal 9: 1-6, dimana Ia muncul sebagai pekerja bangunan, penjagal ternak, penjual anggur, mengutus nabi-nabi, dan nyonya rumah yang memanggil orang-orang untuk masuk ke rumahNya. Panggilan Sophia disini adalah panggilan untuk meninggalkan jalan hidup yang bodoh dan mengikuti jalan hidup Sophia yang penuh dengan wawasan, kehidupan, dan kedamaian.
Ketiga puisi besar tentang Hikmat di pasal 1, 8, dan 9, semua menyatakan figur yang walaupun transenden, namun bersedia untuk datang kepada manusia, menguji, dan menantang mereka. Secara terus menerus, Sophia berusaha untuk menarik manusia kepada kehidupan.
Gaya penggambaran Sophia yang dramatis, ditinggikan dan memiliki macam-macam karakter, dengan segera menarik perhatian para peneliti untuk menghubungkan Sophia dengan dewi-dewi kuno dan potret kehidupan wanita umumnya pada masa itu.
Sophia di dalam Kitab Sirach
Di dalam kitab Sirach, hubungan antara Sophia dan barang siapa yang mengikuti Dia dijelaskan lebih detail. Pada pasal 51:26, Sophia menghimbau pengikutnya untuk memikul kuk (Ing: yoke) perintah-perintahNya demi mendapat harta yang tak ternilai harganya. Hubungan antara Sophia dan Tuhan Pencipta juga dijelaskan lebih lanjut. Pada kitab Sirach, Sophia menceritakan bahwa Ia datang dari mulut Sang Maha Tinggi dan memenuhi bumi bagai kabut, bagaimana tahtaNya ada di dalam pilar awan, bahwa dia memiliki kepemilikan atas langit bumi dan orang-orang didalamnya, bagaimana dia kemudian mencari tempat istirahat di bumi, dan kemudian diperintahkan oleh Tuhan Pencipta untuk berdiam di Israel. Dalam puncak nyanyian Sophia, penulis kitab Sirach menyatakan identitas Sophia yang sensasional. Sophia mewakili Torah, kitab perjanjian Tuhan Yang Maha Tinggi (24:23). Dengan demikian, Sophia menjadi berkaitan erat dengan sejarah dan perjanjian bangsa Israel.
Sophia di dalam Wisdom of Solomon
Figur personifikasi Hikmat mencapai puncak perkembanganNya di dalam kitab Kebijaksanaan Salomo, ditulis kira-kira abad pertama B.C.E. di Alexandria, Mesir. Karena dari itu kitab ini memiliki pengaruh budaya yang lebih luas dari kitab-kitab lainnya. Identitas Sophia disini dijelaskan dalam lima metafora (7:25-26) :
1. Sophia adalah nafas kekuatan Tuhan
2. Emisi murni kemuliaan Tuhan
3. Pancaran cahaya abadi
4. Cermin sempurna dari Allah yang bekerja
5. Gambaran kebaikan yang sempurna
Dalam ayat-ayat berikutnya, dijelaskan hal-hal yang mampu dilakukan oleh Sophia, sbb:
1. Sophia dapat memperindah segala hal (7:12)
2. “Ibu” dari segala hal yang baik (7:22)
3. Memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia dengan harmonis (8:1)
4. Sumber pencerahan, memberikan pengetahuan (7:17-22)
5. Memperbaharui segala hal (7:27)
6. Memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan (7:27)
Gaya hidup manusia diperbaharui oleh ajaran Sophia, sehingga manusia belajar untuk menyenangkan Tuhan, dengan demikian manusia diselamatkan melalui Sophia/Hikmat.
Sophia di kitab Baruch dan Enoch
Kitab Baruch menambahkan satu elemen ke dalam gambaran Sophia, bahwa Dia turun ke dunia dan hidup diantara manusia (3:37). Sedangkan dalam kitab Enoch, Sophia juga turun ke dunia mencari tempat tinggal diantara manusia, namun tidak menemukannya. Karena ditolak, Sophia kembali ke surga dan duduk diantara para malaikat (41:1-2).
Then, who is Sophia?
Kemunculan Sophia di berbagai kitab yang ditulis dalam berbagai konteks tidak memungkinkan adanya interpretasi tunggal akan siapa Sophia sebenarnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, ada sedikitnya beberapa pandangan yang dianggap dapat menerangkan siapa Sophia sebenarnya:
a. Banyak beranggapan bahwa Sophia adalah sisa-sisa dewi-dewi kuno yang tersebar di dareah sekitar Laut Tengah
b. Beberapa orang menganggap Sophia sebagai personifikasi keteraturan alam, yang ditanamkan oleh Tuhan dalam penciptaan.
c. Sophia dianggap sebagai personifikasi hikmat yang dicari dan dipelajari oleh kaum pelajar Israel.
d. Banyak yang masih menganggap Sophia sebagai atribut ketuhanan, semisal pengetahuan Tuhan.
e. Ada pandangan yang melihat Sophia sebagai penengah antara dunia dengan Tuhan orang Yahudi yang transenden.
f. Personifikasi perempuan Tuhan dalam menciptakan dan menyelamatkan dunia.
Interpretation of Sophia: a female personification of God in creating and saving the world
Alasan utama mengapa interpretasi di atas diutarakan adalah, karena adanya kesamaan antara karya-karya yang dilakukan Sophia dengan Tuhan . Apa yang dilakukan Sophia sudah ditulis di Taurat sebagai karya Tuhan Allah Israel (YHWH). Dalam table 2 dapat kita lihat kesamaan antara Sophia dengan YHWH.
Table 2 Persamaan sifat Sophia dengan YHWH
Persamaan sifat antara Sophia dan YHWH
Maha Tahu
Maha Kuasa
Hadir di mana-mana
Memperbaharui semua hal
Hadir dalam penciptaan
Menyelamatkan umat pilihanNya
Membimbing dan melindungi umat pilihan dalam pergumulan
Membawa keselamatan bagi yang menaati FirmanNya
Mengirim utusan-utusan untuk bersekutu dengan umat
Dengan sinarNya raja-raja memerintah dengan benar dan yang jahat dihukum
Terlibat langsung dalam hubungan dengan manusia
Adanya kesamaan-kesamaan ini tidak dapat diterima di kalangan orang Yahudi, yang hanya mengakui satu Tuhan. Namun ada beberapa pendapat yang merasa bahwa penolakan orang Yahudi untuk mengakui Sophia sebagai personifikasi Tuhan, hanya dikarenakan karena istilah gender yang dipergunakan. Guru-guru agama Yahudi berargumen bahwa personifikasi Tuhan (entah itu Hikmah ataupun Firman, ataupun Roh/Shekinah) diperkenalkan ke dunia bukan untuk menghilangkan sifat transenden Tuhan, melainkan untuk menggambarkan hubungan kedekatan Tuhan (yang transenden) dengan dunia. Maka dari itu, semua hubungan antara Sophia dengan ciptaan, di pikiran orang Yahudi adalah hubungan ciptaan dengan Tuhan. “The Wisdom of God in Jewish thought is simply God…. Sophia’s activity is none other than the activity of God.”
Intermezzo: Why female symbols of God?
Banyak teolog, liturgis, dan orang-orang saat ini menyebut Tuhan tanpa menyertakan penggunaan ‘he/she’ di tulisan-tulisan mereka untuk menanggulangi budaya patriakal yang ada. Namun, menurut Elizabeth Johnson, hal ini belumlah cukup. Penggunaan sistem patriakal yang masih banyak diaplikasikan di kehidupan sehari-hari (termasuk dalam agama) secara terus menerus dapat menyebabkan interpretasi terhadap Tuhan menjadi berkurang ruang geraknya. Penggunaan simbol-simbol feminim untuk menginterpretasikan Tuhan tidak dimungkinkan. Yang lebih terasa adalah adanya pesan tersirat bahwa realitas keberadaan perempuan tidak layak untuk merepresentasikan Tuhan.
Sifat Tuhan yang tidak dapat dipahami dengan akal manusia seringkali membuat kita berpikir tentang Tuhan dengan simbol-simbol supernatural/superpersonal (mis: Misteri Ilahi, Dasar Kehidupan, dll). Namun, adanya pemikiran superpersonal seperti diatas menimbulkan pula kesempatan untuk memahami Tuhan dalam perspektif personal. Hal ini dirasa pantas karena banyak karakteristik Tuhan (terutama dalam hubunganNya dengan dunia) juga kita temui dalam manusia (person). Di sinilah pertanyaan tentang gender kembali mencuat. Pengaruh patriakal dalam konsep kita mengenai Tuhan sudah mencapai titik dimana koreksi lingual saja tidaklah cukup. Gambaran dominasi laki-laki pada Tuhan begitu kuat, sehingga perlu adanya figur lain dimunculkan supaya konsep kita mengenai Tuhan jangan menemui jalan buntu.
Salah satu cara yang paling efektif adalah memasukkan simbol-simbol feminim dalam pemahaman kita mengenai misteri Ilahi. Memang proses ini sangat kompleks, namun bukan berarti harus selalu menjurus ke arah emansipasi. Cara ini dengan sederhana dapat menggugat dominasi laki-laki dalam pikiran kita, dan membuka kemungkinan baru akan interpretasi akan Tuhan. Lebih penting lagi, memulihkan derajat perempuan dalam gambaran Tuhan.
Sophia: A Christian trajectory
Kembali ke Sophia. Perkembangan Sophia dalam konteks kekristenan mempengaruhi 3 hal: pneumatologi, Kristologi, dan Mariology.
Spirit-Sophia
Sophia di dalam kitab Wisdom 1:6 digambarkan sebagai Roh yang penyayang, ramah kepada manusia. Kemudian dalam bacaan selanjutnya, Sophia selain merupakan Roh, namun juga memiliki Roh. Roh ini dijelaskan memiliki 21 atribut (tiga kali lipat angka sempurna) yaitu, pintar, suci, unik, berlipat ganda, halus, aktif, bersih, tidak tercemar, istimewa, tak terkalahkan, mencintai kebaikan, tekun, tidak dapat ditolak, dermawan, manusiawi, sabar, pasti, bebas dari kecemasan, maha kuasa, maha melihat, melebihi roh-roh lain. (Wis 7:22-23)
Mother-Sophia
Dalam pemahaman Mariology, hubungan antara Tuhan dengan manusia digambarkan seperti seorang ibu dan anaknya. Bagaimana seorang ibu berusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya. Dalam tradisi Katolik, sosok Maria merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam menggambarkan hubungan ini. Maria, seorang perempuan desa, Ibu Yesus (Ibu dari Tuhan), merupakan ikon Tuhan yang keibuan. Maria mengungkapkan cinta kasih Tuhan sebagai kasih yang murah hati, tertarik dengan orang-orang yang miskin dan lemah. Bahkan seperti seorang ibu yang tidak akan membiarkan anaknya tersesat.
Jesus-Sophia
GAMBAR 1 Jesus Sophia inside the Hagia Sophia
Para pengikut Yesus di abad pertama, dalam upaya mereka untuk menyebarkan karya keselamatan Yesus, mengambil (Elizabeth Johnson menyebut upaya ini ‘merampok’) tradisi agama Yahudi dan tradisi sekitar untuk digunakan sebagai alat interpretasi. Logos, Mesias, Anak Manusia, dan Sophia/Hikmat merupakan contoh tradisi-tradisi itu. Apa yang dikatakan agama Yahudi akan Sophia, dikatakan pula oleh para rasul akan Yesus
Table 3 Kesamaan Sophia dengan Yesus
Gambaran Tuhan yang Maha Kuasa Kol 1:15
Cahaya kemuliaan Tuhan Ibr 1:3
Hasil ciptaan yang pertama kali Kol 1:15
Segala sesuatu berasal dari Dia 1 Cor 8:6
Memanggil semua yang berbeban berat Mat 11:28-30
Membuat manusia teman Tuhan Yoh 15:15
Memberi kehidupan Yoh 17:2
Diri Yesus dikaitkan begitu erat dengan Sophia, bukan hanya sebagai Guru hikmat, ataupun sebagai anak dan utusan Sophia, namun sebagai perwujudan diri Sophia. Dalam 1 Kor 1:22-24, dikatakan bahwa Kristus adalah Hikmat, dalam versi KJV disebutkan the Wisdom of God. Saat Kristus, Sophia Tuhan, disalibkan, maka terjadi perubahan nilai-nilai terkait dengan pengajaran, kematian, dan kebangkitan Kristus. Jati diri Sophia tidak dinyatakan dalam aksi-aksi kemuliaan, namun dinyatakan dalam solidaritas Tuhan dengan orang-orang yang menderita. Kristus, sang Sophia Tuhan, menderita dan mati di kayu salib.
Matius menggambarkan hubungan Yesus-Sophia demikian:
1. Yesus menyampaikan kebaikanNya melalui pertemanan dengan orang-orang-orang buangan (terbuang dari masyarakat).
2. Yesus menyampaikan pesan-pesan yang juga disampaikan oleh ajaran Sophia. Ia juga memanggil orang-orang yang berbeban berat, menganjurkan mereka untuk memakai kuk (yoke) supaya mereka mendapatkan ketenangan.
3. Yesus menyampaikan kebenaran walaupun dikritik keras oleh orang lain, bahkan seperti Sophia, Yesus ditolak oleh dunia.
Gerhard von Rad, teolog asal Jerman, menyatakan bahwa tindakan Yesus memakai istilah ‘kuk’ sebagai ‘kuk-Ku’ bukanlah sekedar meminjam istilah dari Sophia tanpa tujuan. Namun pemakaian kata itu adalah sebuah paradigma Kristen yang dibuat oleh Matius, untuk menyatakan bahwa Yesus adalah penggenapan Taurat. Bahkan, menegaskan bahwa Yesus adalah Sophia-Torah.
Bukan hanya Matius, Yohanes juga mengidentikkan Yesus dengan Sophia. Hal ini bisa dilihat dari apa yang ditulis di kitab Yohanes 1:1-18 . Seperti Sophia, Yesus juga berseru-seru di tempat umum menyuarakan berkat, janji, dan juga teguran (Yoh 7:28, 37). Yesus juga menggunakan sudut pandang orang pertama, “Aku” (Yoh 6:51, 10:14, 11:25). Baik Yesus maupun Sophia diidentikkan dengan Taurat, yakni terang dan kehidupan bagi manusia. Sama seperti ada dengan Sophia, siapa yang mengasihi Yesus, dikasihi Allah (Yoh 14:23) dan memasuki hubungan baik dengan Allah sehingga disebut sahabat (Yoh 15:15).
Sophia vs. Logos?
Lantas, bila memang Yohanes mengidentikkan Yesus dengan Sophia, mengapa ia menggunakan kata Logos untuk mengganti kata Sophia? Hal ini disinyalir terjadi karena penggunaan Logos sudah sangat popular dalam filosofi Hellenistik, sedangkan Sophia sudah terlebih dahulu diadopsi oleh kaum gnostik. Salah satu filsuf Hellenis Yahudi bernama Philo dalam karyanya mempermasalahkan hubungan antara Sophia dengan Logos, yang pada akhir tulisannya Sophia dikesampingkan karena unsur feminim yang terkandung di dalam nama Sophia. Aksi ‘penekanan’ terhadap Sophia ini banyak dikaitkan para teolog sebagai dampak bertumbuhnya isu gender di kalangan orang Kristen. Padahal setelah periode jaman Alkitab terlewati, sering sekali Logos ditempatkan sejajar dengan Sophia. Contohnya dari kutipan tulisan Origen berikut ini:
“We believe that the very Word of the Father, the Wisdom of God himself, was enclosed within the limits of that man who appeared in Judea; nay more, that God’s Wisdom entered a woman’s womb, was born as an infant, and wailed like crying children.”
Hubungan Yesus-Tuhan (Abba) dibandingkan dengan Sophia-Tuhan
Bukan hanya perkataan dan tindakan Sophia yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan Yesus, tapi juga hubungan erat Sophia dengan Tuhan. Dengan melihat kembali kitab Baruch dan Wisdom, kita bisa melihat bahwa Tuhan mengenal Dia (Sophia) dan menemukan Dia dalam pemahamanNya(Bar 3:32), Tuhan mengasihi Dia. Karena Dia mengetahui rahasia Tuhan dan turut campur dalam karyaNya (Wis 8:3-4), Dia mengerti jalan Tuhan, dan tahu hal-hal apa yang menyenangkan hatiNya (Wis 9:9). Matius mengadaptasi tradisi ini untuk menghadirkan Yesus yang berbicara sebagai Sophia. Kemudian penulis Injil memakai gambaran ‘Father and Son’ untuk memberikan gambaran bahwa hubungan Yesus dengan Tuhan, adalah sama seperti hubungan saling mengerti antara Tuhan dengan Sophia. Jadi bukan tradisi ‘anak laki-laki’ yang mendasari hubungan Yesus dengan Bapa, namun tradisi Hikmat/tradisi Sophia.
Sophia dalam pandangan feminis: Pandangan Kaum Feminis tentang Kristologi
Ada dua jenis teologi feminis yang umum:
- feminis revolusioner
aliran yang diciptakan perempuan-perempuan yang setelah menyelidiki tradisi kristiani, mengambil kesimpulan bahwa tradisi itu didominasi kaum laki-laki dan menyatakan bahwa tradisi itu tidak dapat memberikan harapan perbaikan dan pergi meninggalkan gereja. Mereka menyapa Allah dengan sebutan “Dewi”
- feminis reformis
aliran yang sependapat bahwa tradisi kristiani didominasi oleh laki-laki tetapi aliran ini tidak pergi meninggalkan gereja melainkan berharap bahwa tradisi kristiani masih bisa berubah, dan mereka berusaha mengadakan pembaharuan.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa perempuan seringkali diposisikan kedudukan yang lebih rendah dari Laki-laki, hal ini banyak terdapat serta dijumpai dalam berbagai kebudayaan dibelahan dunia manapun; bahkan saat modernisasi yang menyentuh banyak bidang dan sisi kehidupan yang lain, ketidaksetaraan masih sering terjadi dalam berbagai hal. Perempuan menjadi golongan kelas ke-dua dibandingkan dengan Laki-laki yang nampaknya menjadi ciptaan yang paling sempurna dan unggul diatas ciptaan yang lain, bukan hanya dalam kebudayaan akan tetapi juga dalam hal agama, yang seolah-olah membenarkan ketidaksetaraan antara Laki-laki dan perempuan.
Menurut Elizabeth A.Jhonson beberapa kenyataan bahwa perempaun tertindas secara sistematis seperti ditunjukkan beberapa statistik PBB :
- Separoh penduduk dunia adalah perempuan
- Tetapi perempaun mengerjakan ¾ pekerjaan di dunia ini
- Tetapi hanya menerima 1/10 dari gaji di dunia
- Hanya memiliki 1/100 tanah di dunia
- 2/3 orang dewasa yang buta huruf adalh perempuan
- > ¾ orang kelaparan adalah perempuan dan anak2
Secara jasmani perempuan diperas, dimanfatkan, dihajar dan diperkosa. Kenyataan itulah yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan dan perempuan tidak tidak melakukan cara yang sama pada laki-laki.
Jika diselidiki dalam tradisi, maka Agama Kristen juga tidak luput dari budaya patriarkal, hal ini nampak seperti dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus (I Kor 11:3 kepala dari perempuan ialah laki-laki) sehingga kerap menjadi justifikasi untuk perlakuan ketidaksetaraan yang terjadi hingga saat ini, menuntut penundukan penuh perempuan pada Laki-laki. Beberapa teolog feminis, seperti Cady Stanton berpendapat bahwa ajaran-ajaran Paulus mengindikasikan seksis bahkan yang telah terlihat dimasa awal Kekristenan; dalam lingkungan Kristen yang menggaungkan kasih dan kemanusiaan yang begitu agung sehingga hal ini menjadi ironi bila dilihat. Kaum feminis mengatakan bahwa Alkitab sarat dengan unsur-unsur seksis yang menjunjung budaya patriarkal dan androsentris.
Patriarkal adalah struktrur dalam masyarakat dimana kekuasaan di dominasi oleh laki-laki, yang membawa garis keluarga adAlah Bapak atAu laki-laki, sedangkan perempuan ditentukan oleh pemiliknya, jadi perempuan hampir tidak memiliki tempat dalam struktur.
Androsentris berasal dari bahsa Yunani andros = laki-laki dewasa artinya kemanusiaan berpusat pada laki-laki. Kemanusiaan laki-laki menjadi Norman untuk semua orang.
Para penulis Perjanjian Baru yang hampir semuanya adalah laki-laki, bukan hanya peduli tentang apa yang Yesus telah lakukan dan katakan tetapi mereka berniat untuk ingin lebih memahami apa yang Yesus maksudkan bagi pengikut-pengikut pertamanya dan memiliki arti apa hidup Yesus di masanya dan dalam lingkungan masyarakatnya. Sehingga Yesus yang saat ini kita kenal gambarannya melalui Injil yang kita baca telah melalui proses transmisi dan redaksi dalam sudut pandang Laki-laki; gambaran Yesus ini haruslah di renungkan, kemudian di diskusikan, di tafsirkan, di terima maupun di tolak untuk memahami impuls dan pentingnya kehidupan Yesus. Sejauh ini Injil melihat perempuan dalam kehidupan Yesus hanyalah sepintas lalu saja, mengenai perempuan-perempuan yang ada dalam kehidupan Yesus dalam sejarah, dan saat itu terjadi kisah yang disampaikan tersebut memperlihatkan komunitas masyarakat yang kepadanya kisah tersebut disampaikan. Sudah saatnya penafsiran dari sudut pandang perempuan sesuai dengan pengalaman imannya mendalami personifikasi Allah yang lain yang memedulikan perempuan. Yang membedakan gerakan Yesus yang ada di Palestina ialah Yesus pengajaran berpusat pada pemberitaan Kerajaan Allah, namun tradisi Injil di masa tulisan pra-Rasul, dan paska-Rasul merupakan proklamasi kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang terlihat jelas didalamnya. Sehingga paradigma ingatan Injil terhadap Yesus sendiri bukanlah hal yang komprehensif mengenai Yesus sejarah namun merupakan ekspresi komunitas dan individual yang mencoba mengatakan Yesus signifikansi dalam situasi yang mereka hadapi saat Injil ditulis; yang pada masa keemasan budaya Yunani yang sangat Hellenis dan berusaha menembus unsur-unsur patriarkal yang androsentris dengan pandangan-pandangan Yesus sebagai suatu agama baru dan dianggap suatu bidat dari agama Yahudi yang terkenal dengan monoteismenya diantara kebudayaan politeisme yang umum saat itu. Sebagai suatu agama baru yang berasal dari agama Yahudi, namun agama Yahudi bukanlah bagian integral dari gerakan Yesus—meskipun Yesus dan rasul-rasulnya merupakan pemeluk agama Yahudi yang taat—karena mengusung pembaruan. Sebab pada awal masa pertumbuhan gerejapun, perempuan-perempuan Yahudi pun menjadi pembawa berita Injil setara dengan murid-murid laki-laki Yesus.
Injil Lukas 7:22 “22 Dan Yesus menjawab mereka: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”, menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis dan menegaskan bahwa Yesus mengembalikan kemanusiaan melalui perbuatan-perbuatannya sambil mewartakan Kerajaan Allah. Bagi Yesus Kerajaan Allah bukanlah diukur dari kesucian dan kemurnian dalam menjalankan hukum Taurat, namun merupakan keutuhan citra diri (self-image) manusia. Yesus menjadi mediasi bagi mereka yang dipandang rendah dan hina karena kemiskinan, sakit pekerjaan dan bahkan karena menjadi perempuan itu sendiri. Praxis and vision Yesus mengenai Kerajaan Allah merupakan mediasi terhadap masa depan bagi Allah dalam struktur dan pengalamannya di masanya dan bagi masyarakat saat itu. Pergaulan Yesus yang meliputi “pemungut cukai, pendosa, dan pelacur” sangatlah mengundang kontroversi di antara kaum Farisi. Pelacur di masa itu adalah para perempuan yang tidak memiliki keahlian, menjadi budak, atau dijual/disewakan oleh orangtua maupun suami mereka, perempuan miskin, janda, orangtua tunggal, tawanan, perempuan yang di beli untuk tentara, dan lainnya. Perempuan-perempuan ini adalah mereka yang tidak dapat meraih posisi dalam keluarga patriarkal ataupun mereka yang bekerja namun tidak berada di golongan atas atau menengah dalam hal profesi. Yesus mengundang semua orang untuk ikut serta masuk dalam pandangannya mengenai Kerajaan Allah tanpa terkecuali bahkan wanita dan pelacur, karena untuk Yesus yang terutama adalah keutuhan seseorang; pribadi yang utuh, sehat, kuat dan tahir. Saat Yesus mengusir roh jahat dalam diri seorang perempuan yang kerasukan tujuh setan, Yesus mengembalikan keutuhan pribadi perempuan itu, mengembalikan kemanusiaannya sehingga hadirat dan kuasa Allah nampak. Dalam perumpamaannya pun Yesus banyak menggunakan gambaran perempuan.
Beberapa hal penting kristologi kaum feminis :
a. Pengajaran Yesus memaklumkan keadilan dan damai sejahtera untuk semua orang, termasuk perempuan.
b. Yesus memanggil Allah ”Abba” juga mengandung makna pembebasan karena ”Abba” adalah kebalikan dari struktur patriarkhi yang mendominasi. Abba adalah penuh belas kasihan, mesra, memberi dan menerima.
c. Prilaku Yesus yang khas yaitu memihak kaum marjinal,meliputi kaum perempuan sebagi pihak yang tertindas. Ia memperlakukan perempuan dengan lemah lembut, hormat, sesuai dengan martabat perempuan. Menyembuhkan, mengampuni, mengusir setan dari perempuan dan memulihkan mereka. Seorang teolog feminis bahkan menyatakan ”masalah terpenting bukanlah bahwa Yesus itu laki-laki atau bukan? tetapi masalahnya adalah alangkah banyaknya laki-laki yang tidak seperti Yesus”.
d. Apabila kisah-kisah tentang perempuan difsir dalam sudut pandang feminis, maka akan sangat jelas bahwa walaupun hal ini telah disihkan dalam tradisi androsentrik, Yesus tetap memanggil perempuan-perempuan menjadi muridNya. Perempuan-perempuan itu menemani Yesus di galilea, menyediakan dana utk pelayananNya, mencukupi kebutuhan Yesus dan murid-murid, menyediakan rumah mereka sebagi tumpangan dll. Nama-nama perempuan yang sering terlupakan itu antara lain Maria Magdalena, Yohana, Susana, Salome, Maria istri Kleopas, Marta, bahkan perempuan Samaria yang bersaksi ke banyak orang.
e. Selain berkeliling bersama Yesus, perempuan yang menjadi muridNya juga mengikutiNya sampai ke Yerusalem. Jika kita membaca Injil, maka perempuan-perempuan itu tidak lari dan bersembunyi tetapi senantiasa disampingNya pada saat penderitaanNya. Bahkan dikatakan Maria Magdalena ada disamping salib, mereka juga ikut mengurapi Dia sebelum dikubur, hingga sapai pada kebangkitan, perempauna dalah saksi pertama tentang kubur kosong dan yang pertama kali mendenga kebangkitanNya adalah perempuan.
f. Dalam dasawarsa pertama gereja ada bukti yang kuat bahwa Perempuan-perempuan menunaikan pelayanan yang sangat gigih sebagi rekan dari laki-laki.
g. Kematian Yesus selalu dihubungkan dengan pelayananNya. Kekuatan yang menetang dalam pelayananNya membawaNya kepada kematian. Dalam pandangan feminis, dimasukanNya perempuan dalam kerajaan Allah dengankedudukan yang sederajat dengan laki-laki merupakan bagian dari pertentangan yang ada dalam pelayanan Yesus. Dan penyaliban juga bisa bermakna dijunkirbalikannya kekuasan patriarkhi, atau kekuasan laki-laki.
h. Dalam kebangkitanNya, Roh Allah ( bersifat feminine ) memnuhi Yesus dengan hidup baru. Ia menjadi bati penjuru kerjaan Allah yang akan datang dan Roh Nya dicurahkan kepada semua orang percaya, tidak hanya utk laki-laki tetapi perempuan juga.
Kristus Sang Pembebas, menemukan bahwa pembebas bukan dalam arti yang umum tetapi khususnya berkenaan dengan perempuan.
Keberadaan Sophia di Gereja Timur dan Gereja Barat
Dalam teologi mistik Gereja Ortodox Timur, Hikmat dipahami sebagai Logos yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus. Sophia juga sering direpresentasikan dalam Holy Family sebagai Theotokos . Selain itu Sophia dirujuk sebagai Hikmat Suci (bagi Tuhan dan para orang suci), yang hanya bisa diperoleh dengan cara merendahkan hati (humility). Dalam tradisi Orthodox Timur, humility adalah tingkatan Hikmat yang paling tinggi dan harus lebih ditamakan daripada nilai-bilai kebaikan yang lain. Humility dipandang sebagai jalan menuju keselamatan. Penghargaan terhadap Hikmat juga dapat dilihat dari pembangunan Gereja besar di ibukota Konstantinopel, dan didedikasikan untuk Yesus Kristus dengan gelar Hagia Sophia (Holy Wisdom).
GAMBAR 2 Hagia Sophia’s interior
Di Gereja Barat, para teolog juga masih menggunakan Sophia (Hikmat) sebagai gelar Kristus. Contohnya seperti apa yang ditulis oleh Augustine berikut ini: “But she is sent in one way that she may be with human being; she has been sent in another way that she herself might be a human being ”. Dari tulisan ini kemudian disimpulkan bahwa Yesus Kristus adalah wujud manusia dari Sophia.
Penutup
Tokoh yang penuh kasih dan kemurah-hatiannya mengasihi dalam bentuk personifikasi Sophia yang memang melekat pada Allah. Allah Sophia merupakan satu personifikasi yang begitu akrab dengan penderitaan kaum perempuan yang mengutus anakNya Yesus untuk memberitakan bahwa Allah yang mencipta dan memberi hidup serta kebijaksanaan bagi siapa saja yang memintanya, yang mengajarkan misteri dunia yang tersembunyi dan melindungi, menebus serta menegakkan keadilan juga membela kaum miskin, tertindas, terbuang, hina. Yesus yang penuh kebijaksanaan berperilaku sesuai teladan Sophia sendiri sehingga melekat gelar Yesus Sophia; ketika direndahkan dengan disalibkan, Ia dimuliakan karena perbuatannya. Suatu pendekatan feminis yang mendeskripsikan pribadi unik yang kompleks dari Yesus Sophia.
Refleksi Kristologi sampai saat ini lebih memilih melihat Yesus dalam gambaran Logos atau Putra Allah (Son), sedangkan wujud perempuan dari Tuhan diturunkan kepada Maria dari Nazaret. Sedangkan Sophia sendiri banyak dilupakan, namun tetap menjadi bagian dari teks-teks alkitabiah sebagai personifikasi feminim Tuhan, dan gambaran kedekatan Sang Maha Kuasa dengan dunia ini.
Bibliography
Clark, Elizabeth. 1977. Women and Religion. Harper & Row. New York.
Clifford, Anne M. 2001. Introducing Feminist Theology. Orbiss Books. New York.
Frymer-Kensky, Tikva. 1992. In The Wake of the Goddesses: Women, Culture, and the Biblical Transformation of Pagan Myth. Free Press. New York
Johnson, Elizabeth A. 1996. She Who Is. Crossroad. New York
Johnson, Elizabeth A. 2003. Kristologi di mata kaum feminis: Gelombang pembaruan dalam kristologi. Kanisius. Jogjakarta
Meyers, Carol; Craven, Toni; Kraemer, Ross S. 2001. Women In Scriptures: A dictionary of named and unamed women in the Hebrew Bible, The Apocyphal/Deuterocanonical books, and the New Testament. Wm. B. Eerdmans Publishing Co. Michigan
Rad, Gerhard von. 1972. Wisdom In Israel. SCM Press. London
Ruether, Rosemary R. 1998. Introducing Redemption in Christian Feminism. Sheffield Academic Press. Sheffield
TEOLOGI