FORUMTEOLOGI
Karya tulis Anda menghidupkan kami

March 27, 2010

TEOLOGI KEKUASAAN DARI BAWAH : PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Filed under: Teologi Kontekstual, Tafsir — Martin @ 8:34 am

”Belajar Dari Kisah Kepemimpinan Teokrasi Nehemia”
oleh: Andreas Kristianto

Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang berdasarkan kepada nation state artinya suatu pemerintahan yang berlandaskan semangat kebangsaan. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragam dan plural. Bangsa yang mempunyai banyak perbedaan baik dari segi suku, agama, ras maupun golongan. Bangsa Indonesia diakui oleh manca negara sebagai bangsa yang khas dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan tersebut sangat melekat dalam diri masyarakat Indonesia. Tetapi, apakah semboyan tersebut masih tetap berlaku dan relevan hingga masa sekarang?
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang ini banyak aliran maupun institusi keagamaan yang ingin memperjuangkan idea teokrasi di Indonesia. Hal itu tentunya merupakan respon dari kekuasaan demokrasi (pemerintahan rakyat) yang sedang berlangsung di Indonesia. Pandangan-pandangan negatif dilontarkan kepada idea agama teokrasi ini karena pemerintahan yang diterapkannya adalah berasal dari kedaulatan Tuhan. Keyakinan ideologi ini menjadi kuat, sehingga termanifestasi dalam bentuk pelaksanan ajaran agama yaitu sebagai hukum positif dan terlebih lagi semangat teokrasi ini diwarnai dengan totalitas yang radikal. Padahal negara Indonesia bukan berasal dari konsep religion state, tetapi nation state. Barangkali, konsep idea teokrasi dapat menggugat disintegrasi bangsa Indonesia, tetapi apakah negara teokrasi merupakan negara dengan sistem yang bersifat menindas dan mendatangkan ketidaksejahteraan masyarakat? Pada kesempatan ini, idea teokrasi akan menjadi sebuah topik yang akan dibahas lebih lanjut dengan mencari wacana pembelajaran dari teologi kekuasaan dari bawah oleh Nehemia.

Melihat Idea Positif: Teori Kekuasaan dari Bawah
Saya melihat bahwa idea masyarakat teokrasi mempunyai sisi positif yang dapat memberikan tawaran sebagai sistem pemerintahan di Indonesia. Idea tersebut akan dilihat dari perspektif teori kekuasaan dari bawah oleh Prof. Bernard Adeney Risakotta . Teori-teorinya adalah sebagai berikut:
1. Kekuasaan dan Kekerasan
Dalam diskusi-diskusi, kekuasaan sering dikaitkan dengan kekerasan karena di dalamnya terdapat dominasi dan paksaan. C. Wright Mills mengatakan bahwa semua politik adalah perjuangan untuk merebut kekuasaan (power); kekuasaan yang paling hebat adalah kekerasan. Namun Bernard Adeney Risakkota menolak pandangan ini dan menawarkan sebuah paham mengenai kekuasaan yang berasal dari masyarakat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kekuasaan ini lebih melibatkan seluruh lapisan dan status yang sudah ada, sehingga kekuasaan tidak menjadi dominasi yang menindas, tetapi lebih memperlihatkan adanya pergerakan masyarakat yang berasal dari bawah.
2. Kekuasaan yang Terletak dalam Masyarakat
Dari pandangan ini, bidang politik mempertanyakan bagaimana masyarakat bisa dikendalikan demi hasil yang terbaik bagi semua orang? Bernard Adeney Risakotta memberikan pemahaman bahwa kekuasaan bukan milik satu orang saja, tetapi merangkul kemampuan masyarakat yang pluralistis untuk mencapai tujuan mereka bersama. Masyarakat adalah berkuasa sejauh mana mereka bisa hidup secara rukun, adil dan sejahtera. Kekuasaan masih tetap berasal dari mayarakat dan tergantung dari mayarakat. Ketika pemimpin tidak diakui oleh rakyat, kekuasaan juga berkurang. Hal ini merupakan sesuatu yang ideal dalam impian suatu masyarakat, tetapi Niccolo Machiavelli mengkritik dan mengasumsikan bahwa perilaku masyarakat mengandung nilai moral yang jelek (pathology politic) bahwa teori ini lebih mengarah kepada perilaku moral manusia daripada sesuatu yang ideal. Perilaku moral tersebut mengarah kepada tindakan yang negatif. Bernard Adeney Risakotta mengatakan bahwa diskripsi empiris perilaku masyarakat tidak dapat dipisahkan dari nilai moral tujuan politik dan cara yang dipakai untuk mencapainya yaitu sesuai dengan konteks dan tujuannya.
3. Kekuatan Individu dan Sosial sebagai Unsur Kekuasaan
Menurut teori Arend, kekuatan (strength) adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang diri sendiri. Tetapi sebenarnya kalau dicermati bahwa kekuatan tidak dimiliki oleh seseorang saja. Kekuatan merangkul makna individu dan sosial. Kekuatan tersebut menjadi berpotensi tergantung oleh faktor-faktor seperti misalnya, semangat, visi, strategi, kepemimpinan, teknologi. Kekuasaan individu menjadi berpotensi apabila memperhatikan kekuatan sosial. Peran individu bersama dengan kekuasaan sosial menjadi sebuah daya dan semangat dalam mengembangkan kekuasaan yang berorientasi kepada rakyat. Rakyat bertanggungjawab membentuk pemerintah yang menguatkan kekuasaan rakyat.
4. Kekuasaan Demi Keseimbangan dan Integrasi Masyarakat
Niebuhr sangat pesimis tentang kemampuan proses politik untuk membangun sesuatu yang positif dalam masyarakat. Rakyat lebih mungkin ditindas daripada ditolong oleh pemerintah. Bernard Adeney Risakotta mengatakan bahwa tujuan politik tidak hanya membatasi kekuasaan dan menghindari kesewenangan, tetapi ada upaya pemerintah untuk membangun keseimbangan dan integrasi mayarakat yang lebih adil. Keseimbangan dan integrasi tersebut diperlukan dalam menciptakan masyarakat yang hidup rukun bersama dan terbebas dari konflik. Peran pemerintah menjadi sangat penting dalam menciptakan stabilitas kehidupan individu alamiah manusia dengan menyeimbangkan kehidupan yang bersifat sosial.

Dari sinilah, saya akan memberikan sebuah idea negara teokrasi dari Nehemia yang mampu menciptakan kekuasaan demi suatu pemberdayaan masyarakat. Jika kita menyimak, Kitab Nehemia adalah suatu kitab yang sangat kuat dalam membangun negara teokrasi. Di dalamnya, Nehemia melakukan sebuah pemberdayaan terhadap mayarakat yahudi yang terpuruk akan keruntuhan tembok bait suci Yerusalem. Pemberdayaan tersebut dilakukan oleh Nehemia dengan berlandasakan akan teori kekuasaan dari bawah. Kekuasaan Nehemia juga melibatkatkan masyarakat dari kedudukan tinggi sampai bawah. Dalam sebuah kepemimpinan, kekuasaan dari bawah bukan hanya dapat memunculkan energi yang positif bagi kesejahteraan masyarakat, namun juga dapat memunculkan energi yang negatif apabila kekuasaan tersebut disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Prof. Bernard Adeney Risakotta telah menuliskan teori mengenai kekuasaan dari bawah tersebut. Dari tulisannya itu, saya melihat bahwa ada kaitan antara kekuasaan dari bawah yang mampu memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan dalam masyarakat teokrasi.
Dari permasalahan di atas, maka saya akan memberikan sebuah wacana teologi yang berkaitan dengan usaha menciptakan pemberdayaan masyarakat melalui peran-peran di dalamnya. Kita akan melihat dan belajar melalui sebuah kisah dari Nehemia. Orang yang terpanggil dalam mewujudkan sebuah pemberdayaan dalam jemaat, sehingga peran-peran tersebut dapat dijalankan dengan efektif. Dalam kitab Nehemia, saya menangkap asumsi dasar mengenai kepemimpinan yang lahir dari bawah. Maksudnya, bukan dilihat dari kedudukan atau status perannya, tetapi dilihat dari sebuah usaha pergerakan yang dilakukannya benar-benar dari bawah, sehingga keterlibatan bersama dengan masyarakat merupakan sebuah langkah kekuasaan yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat dan bukannya kepentingan pribadi. Nehemia dalam kekuasaan tersebut memunculkan relasi komunikasi dalam komunitas bagi pemulihan (restorasi) jemaat. Nehemia memperlihatkan suatu usaha kekuasaan yang ingin mewujudkan negara agama atau teokrasi. Dengan model kepemimpinan ini, bangsa Yahudi dapat hidup dengan baik dan sejahtera (post pembuangan).

Negara Teokrasi Menurut Nehemia
Negara Teokrasi menurut Nehemia ini merupakan tanggapan keimaman dalam perjuangan iman bangsa Yahudi. Perjuangan iman bangsa Yahudi ini diwarnai dengan sebuah harapan dengan kepulangannya dari pembuangan yang ditawan oleh Babel. Kata Ibrani mengatakan bahwa hagola yaitu mereka yang kembali dari pembuangan. Kerajaan Babel dikalahkan oleh Persia pada tahun 540 SZB, sehingga raja Persia yaitu Koresy (550-529 SZB) memberikan izin pada orang-orang Yahudi yang ada di Babel untuk kembali ke Palestina. Setting keterpurukan akan keruntuhan bait suci menjadi titik poin dalam usaha kekuasaan Nehemia mengembangkan pemberdayaan masyarakat Yahudi.
Nehemia mempunyai kepekaan dan keprihatinan dalam melihat situasi dan keadaan masyarakat Yahudi pasca pembuangan. Kekuasaan yang dimiliki oleh Nehemia menjadi seorang juru minum raja Persia merupakan kedudukan yang tinggi. Seorang juru minum tersebut memiliki kedekatan dan kepercayaan dari Raja Artahsasta, tetapi dari kekuasaan yang dari atas ini, dia mempunyai keinginan untuk benar-benar melakukan pergerakan kekuasaan dari bawah. Kekuasaan yang diberlakukan untuk keluar dari zona nyaman dan terlibat dengan masyarakat yahudi dalam menghadapi krisis yang berlangsung. Krisis-krisis dalam masyarakat Yahudi ternyata mempengaruhi dalam beberapa segi bidang kehidupan masyarakat, sehingga Nehemia melakukan usaha kekuasaan dan pergerakannya untuk memberikan pemberdayaan kepada masyarakat Yahudi.
Nehemia merespon panggilan Tuhan dengan melakukan pembangunan tembok Yahudi dan peduli terhadap keadaan bait Allah. Tempat yang dulunya menjadi tempat kehadiran Allah kini telah hancur, tembok-tembok kota yang melindungi mereka pun kini tinggal puing bahkan pintu gerbang kota pun sudah terbakar habis. Itu semua membuat mereka tertekan, menderita dan diliputi oleh rasa malu. Segala segi kehidupan telah hancur dan keadaan mereka sangat memprihatinkan. Dari segi ekonomi, jelas tatanan ekonomi bangsa sudah rusak, kemiskinan menggerogoti hidup mereka sebaliknya kaum berpunya justru memeras dengan meminjam uang disertai bunga tinggi (Neh 5: 1-19), kesenjangan yang miskin dan kaya semakin melebar, tidak ada lagi tatanan ekonomi yang menjanjikan keadilan bagi semua golongan. Dari segi sosial, kehidupan mereka menjadi rusak karena melakukan kawin campur yaitu dengan menikahi wanita kafir serta meninggalkan ibadah kepada Allah, bahkan lebih parah lagi anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain dan tidak lagi berbahasa Yahudi (Neh 13: 23-27). Dari segi politik, kehancuran tembok bait suci ini menyebabkan posisi mereka mudah terbuka dan diserang dari arah manapun. Pendek kata, bahwa masyarakat Yahudi pada zaman Nehemia sudah rusak parah baik dari segi ekonomi, sosial, politik maupun keagamaan. Namun dengan peran dari Nehemia, mereka bangkit kembali dan memberikan sebuah upaya dalam pemberdayaannya di tengah krisis yang terjadi dan membelenggu mereka.
Dari pembahasan di atas, saya menemukan pemberdayaan yang dilakukan oleh Nehemia. Pemberdayaan-pemberdayaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pemberdayaan Spiritualitas
Menurut Richard O’ Brien, spiritualitas berkaitan erat dengan pengalaman bersama Allah dan transformasi kesadaran kita dan kehidupan kita sebagai pengalaman, sehingga transformasi kesadaran tersebut terwujud dalam relasi bersama dengan Tuhan, manusia, ciptaan. Nehemia mendengar berita keruntuhan tersebut langsung duduk, menangis dan berkabung selama beberapa hari (Neh 1:4). Pengalaman anomali kehidupan ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri oleh Nehemia, tetapi Nehemia mewujudkan sebuah transformasi dalam setiap perjumpaan dengan Tuhan dan sesama bangsanya. Dia mengakui dosa di hadapan Tuhan dengan tujuan adanya kemurnian bangsa Yahudi.
Seorang yang mempunyai kekuasaan tentunya tidak terlepas dengan spiritualitas. Kekuasaan yang diperlihatkan oleh Nehemia merupakan sebuah kekuasaan yang berorientasi kepada masyarakat. Kekuasaan yang tidak melihat akan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tetapi tertuju kepada keadaan dan kepentingan masyarakat. Nehemia rela untuk keluar dari zona nyaman dan terjun kepada masyarakat yang mengalami krisis dan penderitaan. Nehemia dalam doanya secara pribadi ingin mewujudkan sebuah transformasi pemberdayaan bersama dengan Allah, karena tindakan masyarakat Yahudi pasca pembuangan adalah tindakan yang penuh dengan kekejian di hadapan Tuhan dan melanggar perjanjian Tuhan. Nehemia meminta belas kasihan kepada Tuhan untuk melakukan pemberdayaan kepada mayarakat (Neh 1:10).
Pada waktu berdoa, Nehemia selalu memikirkan doanya yaitu ”demi bangsanya”, sehingga Nehemia mempunyai kerinduan untuk berdoa terhadap bangsanya sendiri. Doa tersebut menandakan bahwa Nehemia merupakan pemimpin yang bertanggung jawab dan berusaha untuk menggunakan prinsip solidaritas. Dia seakan-akan mengatakan bahwa ”semua itu dosanya sendiri”. Prinsip ini adalah sebuah usaha adanya kekuatan individu dari Nehemia dalam melihat jati dirinya mengenai pergumulan bangsanya. Intropeksi mengenai kesadaran diri diperlukan dalam membangun sebuah kekuasaan, karena biasanya orang yang mempunyai kekuasaan lupa akan kesadaran yang sudah melekat dalam keberadaan dirinya.

2. Pemberdayaan Sosial, Ekonomi dan Hak Asasi Manusia
Pembangunan tembok bait suci tersebut merupakan sesuatu hal yang sangat central dalam masyarakat yahudi. Usaha tersebut dibutuhkan adanya keterlibatan dari masyarakat dari berbagai kalangan dan pihak. Nehemia mewujudkan usaha untuk menciptakan adanya kekuatan dan kekuasaan sosial dalam menciptakan sinergi dan integritas masyarakat Yahudi. Nehemia melibatkan masyarakat yaitu para imam, para pemuka, para penguasa dan para petugas lainnya. Keterlibatan tersebut menciptakan sebuah keseimbangan dalam masyarakat yahudi.
Pembangunan tembok bait suci ini dikatakan sebagai ”mendatangkan kesejahteraan Israel” (Neh 2:10). Dalam bahasa Ibrani kesejahteraan adalah hb’ÞAj ===(((()†ôbâ, (good, pleasant, agreeble, benefit) arti kata ini yaitu sesuatu yang baik, berguna dan pembebasan dari dakwaan (benefit). Ini memperlihatkan bahwa Nehemia berjuang untuk sesuatu yang berguna dan bersifat membebaskan masyarakat Yahudi. Lalu kata yang digunakan untuk membangun tembok bait suci adalah bäna atau ”rebuild”, sehingga pembangunan tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat mental bagi masyarakat yahudi.
Selain, pembangunan tembok bait suci, pemberdayaan juga terlihat dalam segi sosial masyarakat. Adanya setting mengenai keluhan umat Yahudi berkenaan dengan permasalahan keluarga. Penggambaran keluhan tersebut dilakukan oleh para istri dan seakan-akan narasinya ingin menceritakan bahwa suatu perjuangan yang berat untuk mendapatkan makanan. Ladang mereka digadaikan demi mendapatkan gandum untuk kebutuhan sehari-hari. Nehemia 5: 3-4 merupakan ungkapan penderitaan yang dialami oleh keluarga-keluarga Yahudi. Saya melihat ada suatu penindasan secara struktural diantara bangsa Yahudi sendiri. Mereka mengalami krisis dan membuat orang berlomba-lomba untuk menciptakan kesejahteraan secara individu dan mengabaikan kepentingan pihak lain. Keluarga yang mempunyai kuasa, uang dan wibawa memperlihatkan adanya budaya dominasi dan menekan dengan cara memberikan pajak, sehingga kehidupan masyarakat menjadi tidak seimbang. Selain itu, penindasan tersebut dilakukan dengan cara anak laki-laki dan perempuan yang ditindas menjadi budak oleh majikan. Ini memperlihatkan suatu penyalahgunaan kekuasaan dan berujung kepada kekerasan struktural dan potensi masyarakat yang ditindas, ditekan dan diperdayakan demi keuntungan keluaraga atau kelompok kecil. Kesenjangan masyarakat menciptakan dunia yang tidak adil baik secara fisik maupun harkat dan martabat.
Respon Nehemia mendengar keluhan tersebut adalah dengan berkata didepan umum dan memanggil para pemuka agama dan penguasa. Saya melihat bahwa kritikan Nehemia tertuju kepada orang-orang yang berperan penting dalam masyarakat. Kritikan tersebut bersifat mengikat dan membebaskan suatu masyarakat menuju kesejahteraan. Pembebasan yang dilakukan oleh Nehemia menciptakan suatu tatanan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera karena dunia yang didominasi oleh pihak tertentu menyebabkan adanya kepincangan dalam suatu tatanan nilai. Saya melihat bahwa pembebasan yang dilakukan oleh Nehemia menciptakan suatu kondisi yang berhasil memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan dilakukan dengan suasana keadilan dan keseimbangan di tengah masyarakat.

3. Pemberdayaan Politik
Bait suci merupakan sebuh pusat central penyembahan umat Israel dalam mengembangkan religius umat, tetapi kehadiran bait suci ini juga berkaitan dengan pemberdayaan dalam bidang politik. Secara historis memang terlihat bahwa sistem yang digunakan oleh Persia menggunakan sistem kekuasaan otonomi kepada daerah jajahannya. Hak tersebut dipunyai oleh setiap wilayah dalam mengembangkan dan memajukan daerah termasuk Yehuda. Tetapi anehnya adalah hak otonomi yang diterapkan pemerintah Persia membuat daerah-daerah lokal memiliki wewenang untuk mengatur sendiri tata hukumnya berdasarkan kebudayaan dan keagamaan setempat, namun tata hukum lokal tidak boleh bertentangan dengan tata hukum persia. Pemberian hak otonomi yang diberlakukan oleh Persia sebenarnya bertujuan agar terjadi stabilitas dalam setiap daerah di kekuasaan Persia, begitu juga terhadap daerah Yehuda. Sistem tersebut memang terlihat tampak memberikan kesejahteraan dalam masyarakat Yehuda, tetapi itu semua adalah akal-akalan dari Persia dalam memperkuat kedudukan dan kekuasaan pemerintahannya.
Desas-desus yang diberikan oleh Sanbalat dan Tobia merupakan suatu cara dan strategi untuk menjatuhkan Nehemia dalam kekuasaan besar di Yehuda. Nehemia diangkat menjadi gubernur bagi Yehuda oleh Persia adalah untuk mempertahankan dominasi Persia di Palestina yang mulai terancam dengan munculnya kekuatan Yunani di bagian barat Yehuda, dengan membangun kembali tembok Yerusalem. Hal ini mengakibatkan bahwa nilai tawar dalam kekuasaan Nehemia menjadi kuat karena slentingan dari pihak kuasa lain seperti Sanbalat dan Tobia adalah pihak yang kalah dalam permainan politik Persia. Persia berusaha membuat suatu kedudukan yang kuat dengan memanfaatkan daearah jajahannya, tetapi di sisi lain Nehemia mengambil keuntungan positif untuk warga Yahudi dalam pembangunan Bait suci Yerusalem. Masyarakat Yahudi mempunyai keinginan kuat dalam pembangunan tembok Yerusalem, karena tembok Yerusalem merupakan bangunan yang dulu pernah ada dalam zaman sebelum pembuangan. Masyarakat Yahudi yang kembali dari pembuangan memiliki cita-cita untuk membangun kembali Yerusalem sama seperti pada zaman sebelum pembuangan. Oleh karena itu, kehadiran bait suci tersebut memperkuat kedudukan politis dari masyarakat Yahudi untuk kepentingan pihak Persia dan serangan pihak luar (keamanan politik).

4. Pemberdayaan Tradisi Keagamaan
Demikian juga dalam tradisi keagamaan, bahwa Nehemia memberikan perhatian kepada masyarakat yahudi berkaitan dengan ibadah dan pembinaan rohani. Hal yang dilakukan adalah dengan pembacaan kitab suci yang membuat adanya perubahan dalam masyarakat (Neh 8:3), lalu kaum Yahudi merayakan Hari Raya Pondok Daun, sehingga membuat mereka menyadari akan keberadaan Allah dan siapa diri mereka sebenarnya. Pembinaan tradisi keagamaan tersebut dilakukan dengan pembacaan kitab suci, berdoa bersama dan sujud menyembah Allah (Neh 9:3). Nehemia juga melakukan kemurnian bait Allah, ia mentahirkan kembali bait Allah dari pencemaran yang dilakukan oleh Imam Elyasib (Neh 13: 8-9). Pembaruan ibadah dan pembinaan rohani dilakukan oleh Nehemia telah membuahkan kesadaran transformasi bangsa Yahudi. Masyarakat disadarkan akan keberadaan mereka sebagai umat perjanjian. Harga diri sebagai bangsa yang bermartabatpun pulih. Hal ini menjadi sangat penting karena terlihat dalam ungkapan doa di awal setting Nehemia kepada Tuhan. Ungkapan doa yang bersifat berkat dan kutuk tersebut memberikan suatu gambaran bahwa Allah adalah Allah yang masih memegang perjanjian dan kasih setia dan tidak akan membiarkan hidup suatu bangsanya ke dalam keadaan yang terbelenggu.

Penilaian Idea Teokrasi Nehemia
Tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman teokrasi merupakan semangat yang berlandaskan kedaulatan dari Tuhan, tetapi Nehemia memberikan sebuah pembelajaran mengenai suatu semangat teokrasi yang berguna demi kesejahteraan masyarakat. Semangat teokrasi yang tidak mengabaikan masyarakat, namun melibatkannya dalam pembangunan. Semangat teokrasi tersebut tidak dicapai dengan suasana dominasi dan paksaan sebagai pembelaan Tuhan secara radikal, tetapi semangat tersebut lebih memperhatikan keadaan masyarakat yang tertindas.
Nehemia sebagai wakil dari Teokrasi Allah merupakan kekuatan dan kekuasaan yang bersifat individu dalam rangka membangun masyarakat, tetapi dia melibatkan dan merangkul masyarakat yahudi dalam menciptakan sebuah keadaan yang lebih baik. Pemberdayaan dari bidang keagamaan, politik, sosial, ekonomi dan keluarga. Mayarakat tidak saja dibiarkan menjadi sebuah objek dalam pembangunan, tetapi juga dilihat sebagai subjek yang bersama-sama Nehemia mengembangkan masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.
Perilaku moral masyarakat memang pada kenyataan empiris terlihat merosot dan jelek. Saya setuju dengan pendapat Niccolo Machieavelli, tetapi apa yang dikatakan oleh Bernard Adeney Risakotta adalah sebuah tawaran yang baik dalam mengarahkan masyarakat menjadi subjek politik yang bermoral. Saya melihat bahwa pembangunan bait suci adalah kehidupan sentral masyarakat yahudi. Hal ini memperlihatkan adanya suatu tatanan religius yang dapat mengarahkan perilaku moral kehidupan manusia menjadi lebih baik. Perilaku tersebut membuat kehidupan menjadi lebih seimbang antara kehidupan religius dan permasalahan kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi dll. Nilai tujuan politik tersebut secara jelas diberikan Nehemia kepada masyarakat Yahudi supaya kehidupannya mendatangkan berkat dalam perjanjian bersama dengan Tuhan.
Dengan kata lain, Nehemia tidak saja membangun kembali (rebuilding) tembok Yerusalem, tetapi ia juga memperbaruhi (reform) bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan Tuhan. Seluruh tatanan kehidupan sosial pun mengalami pembaruan termasuk kehidupan ekonomi yang lebih berkeadilan, mereka dibangkitkan kesadaran sebagai bangsa yang bermartabat dan terpenting kekuasaan Nehemia membangkitkan kembali (revival) kehidupan beragama ditandai dengan kebangkitan dan pembaruan batin orang Israel. Mereka pun bertekad untuk mentaati hukum-hukum Allah dan melihat sejarah bangsanya dalam lingkup perjanjian dengan Allah. Suatu kekuasaan menuju pemberdayaan yang utuh atas kaum Yahudi. Semua itu dilakukan dengan prinsip partisipatif, melibatkan seluruh masyarakat dari kalangan imam, pemuka, penguasa, budak dan masyarakat biasa. Kekuasaan yang penuh dengan kerjasama menumbuhkan motivasi internal bangsa Yahudi.

Situasi Politik Negara Indonesia
Di satu sisi, kedaulatan yang bersumber pada Tuhan mampu menciptakan adanya pembelaan dan pembenaran terhadap Tuhan secara radikal. Totalitas pembelaan tersebut diwujudkan dalam kekerasan dan menampik penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan hukum dan keadilan Tuhan. Ini berarti, agama dan negara memiliki hubungan mutualisme yang bisa disatukan dengan wilayah yang sama. Mereka menampikan idea demokrasi yang dianggap sebagai sistem sekuler yang mempunyai banyak kelemahan karena dipimpin oleh manusia. Berbeda dengan idea teokrasi yang langsung dipimpin oleh Tuhan. Negara agama di satu sisi menumbuhkan revitalisasi nilai-nilai moral dan ritual keagamaan, namun di sisi lain menimbulkan berbagai permasalahan hingga menimbulkan ketegangan sosial (berkaitan dengan pluralitas agama). Mereka ingin memperlihatkan suatu world view yang berkaitan dengan ide dan nilai-nilai yang religius dalam tataran politik dan sosial. Oleh karena itu, dalam negara agama kebenaran datang dari Allah dan bukan dari suara mayoritas. Mereka menganggap bahwa sistem sekuler adalah sistem yang sudah tidak berlaku lagi sekarang ini. Contohnya: ada aliran-aliran agama yang mengedepankan konsep radikal yang bersifat militan dan fundamentalisme seperti: FPI (front Pemberla Islam), FBR (Forum Betawi Rempug), Laskar Jihad, dan Majelis Mujahiddin Indonesia. Aliran ini secara tidak langsung memperjuangkan syariah dengan cara pemberantasan tempat maksiat, penerapan syariat di daerah konflik seperti Ambon, demonstrasi, latihan militer, pengiriman pasukan jihad ke tempat-tempat konflik agama.
Menarik untuk disimak, adanya suatu organisasi yang berkembang di Indonesia yaitu Front Pembela Islam (FPI) yang tetap exist hingga sekarang. Organisasi itu lahir pada 17 Agustus 1998 di Pondok Pesantren Al Umm, Cempaka Putih, Ciputat. Jika dilihat dari sejarahnya, FPI telah ada dan berkembang sebelum Presiden Soeharto lengser. FPI baru memunculkan batang hidungnya setelah Soeharto lengser. FPI sengaja dikerahkan untuk menghadang aksi-aksi demonstrasi mahasiswa pada SI MPR 1998, yang lebih dikenal sebagai Pam Swakarsa yang diorganisasi dan dipersenjatai dengan berbagai senjata tajam.
Keberadaan FPI hampir selalu dikaitkan dengan aksi-aksi penyisiran, penyerangan dan perusakan tempat-tempat yang dianggap sebagai sumber kemaksiatan yakni diskotik, tempat-tempat prostitusi, bar dan karaoke, tempat perjudian dll. Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk menegakan amar ma’ruf nahi munkar terhadap segala macam perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai syariah. Hingga pada tanggal 1 Juni 2008 terjadi insiden Monas bersama dengan kesatuan pemuda pancasila. Aliran-aliran yang berkembang dari suatu agama ini berlandaskan dengan kekuasaan Tuhan dengan kebulatan tekad yang radikal. Dia berjuang untuk nama Tuhan dan mengabaikan kepentingan yang lain yaitu masyarakat.
Pasca reformasi ini kehidupan pemerintahan Indonesia belum menunjukan adanya suatu hal yang signifikan berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di dalam segi kehidupan. Banyak aliran dari agama tertentu yang ingin mencoba memperbaiki suatu tatanan Indonesia menjadi lebih baik. Salah satunya adalah dengan membangun suasana dan semangat negara agama (teokrasi). Tentunya, banyak kalangan yang khawatir dan cemas apabila konsep negara ini diberlakukan oleh negara pusat. Ada beberapa daearah yang sudah menerapkan konsep agama ini seperti Aceh, Banten dan Papua. Teokratisme didasarkan pada suatu pandangan bahwa segala sesuatu yang ada di atas dunia ini adalah ciptaan Tuhan, termasuk negara. Karena negara diciptakan dan dibentuk atas kehendak Tuhan, maka pemimpin-pemimpinnya pun adalah orang-orang yang ditunjuk dan dikehendaki Tuhan. Karena itu, kekuasaan para raja dan pemimpin negara adalah suci. Pelanggaran terhadap kekuasaan raja dan pemimpin negara berarti pelanggaran terhadap kehendak Tuhan. Dengan demikian, raja dan segenap pemimpin negara hanya bertanggung jawab kepada Tuhan. Setiap kebijaksanaan, keputusan politik dan penyelenggaraan pemerintahan negara ditentukan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam agama.
Reformasi politik yang digulirkan sejak lensernya Preiden Soeharto 1998, membuka kebebasan untuk mengekspresikan hak sipil dan hak politik bagi seluruh rakyat. Tentu juga berlaku bagi kalangan gerakan baik Islam dan Kristen untuk menyatakan pendapat, membentuk organisasi, memilih ideologi dan platformnya, berbagai kegiatan da’wah dalam aktifitas politik. Gerakan berbagai organisasi ini lebih bercorak konfrontatif terhadap sisitem sosial dan politik yang ada. Gerakan ini hendak mengubah secara mendasar sistem yang ada saat ini (yang mereka sebut sebagai: sekuler atau jahiliyah modern), dan sebagai gantinya adalah sistem Islam (nidzam Islami).

Refleksi teologis
Menuju kepada suatu negara yang Theokrasi memanglah akan banyak hambatan dan penghalang karena akan ada banyak oknum maupun golongan yang dengan semena-mena mengatasnamakan Tuhan sebagai tameng seluruh tindak-tanduk mereka. Namun, saya menawarkan bahwa konsep theokrasi dapat dijalankan dengan baik di Negara Indonesia ini dengan sebuah prinsip kepemimpinan dari bawah. Melalui kisah Nahemia di atas, setidaknya kita dapat belajar bagaimanakah kepemimpinan yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Begitu pula dengan menyimak adanya teori dari Prof. Bernard Adeney Risakotta yang berkaitan dengan kekuasaan dari bawah.
Kepemimpinan yang telah kita simak merupakan bukti bahwa pemberdayaan terhadap masyarakat tidaklah membutuhkan pangkat maupun ”mencari nama” bagi diri sendiri. Maksudnya, seperti yang dilakukan oleh Nehemia yang berani mengambil sikap untuk menyejahterakan masyarakat mulai dari bawah, padahal ia adalah seorang juru minum Raja. Tentu saja, ia berkedudukan tinggi dalam kerajaan tersebut. Keberanian dan ketangguhannya dalam mengemban misi mulia tersebut telah memberikan dampak yang besar dan baik bagi masyarakat pada waktu itu.
Jika kita mengingat, Bunda Teresa pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Nehemia. Bunda Teresa adalah seorang biarawati yang penuh perhatian dan belas kasihan terhadap kaum miskin yang tersisih dan menderita kelaparan di daerah Kalkuta. Bunda Teresa merasakan bahwa ia dapat menemukan Tuhan melalui orang-orang miskin dari pada segala kehidupan di biara. Lalu, ia memberanikan diri untuk keluar dari biara tersebut dengan sebuah tujuan mulianya yaitu menolong dan memberdayakan para kaum miskin di Kalkuta. Dengan kata lain, ia telah meninggalkan zona nyamannya demi kepentingan orang lain (masyarakat miskin di Kalkuta). Sungguh, betapa mulia hati dan tujuan Bunda Teresa ini. Bukankah teladan dari Bunda Teresa ini hampir sama dengan teladan Nehemia? Lantas, bagaimana dengan teladan kepemimpinan Bangsa Indonesia pada umumnya dan kita sendiri pada khususnya?

DAFTAR PUSTAKA

Bernard A. Risakotta. Teori Kekuasaan dari Bawah. Dalam RENAI (III/1, 2002/03) H, dalam Kumpulan Bacaan Teori Sosial Agama dan Masyarakat

Norman K. Gottwald, The Hebrew Bible – A Socio-Literary Introduction, Philadelphia: Fortress Press, 1987

Rainer Albertz, A History of Israelite Religion in the Old Testament Period Vol. 2, Terj. John Bowden, London: SCM Press Ltd, 1994

Togi Simanjuntak (editor), Premanisme Politik. (Jakarta: ISAI, 2000). Dalam artikel Genealogi Islam Radikal di Indonesia.

Bahan Bacaan Lanjut:

Collins. John J. Introduction To The Hebrew Bible. Fortress Press Minneapolis. 2004

J. M. Miller & J. H. Hayes, A History of Ancient Israel and Judah, Philadelphia: John Knox Press, 1986

McNutt, Paula M. Reconstructing the Society of Ancient Israel, London: SPCK & Louisville, Kentucky: WJK Press. 1999

Noth, Martin The History of Israel, 2nd English Edition, New York: Harper & Brothers Publisher, 1960

James D. Purvis, Exile and Return: From the Babylonian Destruction to the Reconstruction of the Jewish State, dalam Hershel Shanks (ed), Ancient Israel: From Abraham to the Roman Destruction of the Temple, USA: Prentice

Singgih, Emmanuel Gerrit, Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress