PENGAKUAN IMAN TOMAS : “YA TUHANKU DAN ALLAHKU” Yoh. 20,28
oleh Maximilianus Slamet
Pengakuan Tomas ini dianggap sebagai puncak atau kesimpulan dari injil Yohanes. Dalam injilnya Yohanes memaparkan segala hal tentang Yesus. Dan, dalam pengakuan Tomas ini Yohanes menampilkan suatu kepastian iman pada pembacanya. Yesus yang menampakkan diri pada Tomas adalah Yesus yang telah menderita sengsara, wafat, bangkit, dan telah naik kepada Bapa serta telah menerima kemuliaan dari Bapa . Kemuliaan tersebut kini dipertegas melalui mulut Tomas bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.
1. ARTI KATA
Kata, “Tuhan dan Allah” merupakan gabungan kata yang diterjemahkan dari kata Yunani, Kyrios-Theos. Pada jaman itu kata ini kerap kali digunakan dalam dunia kafir. Kata ini digunakan dan ditujukan kepada kaisar. Sudah menjadi hal yang umum bahwa kaisar dianggap sebagai Kyrios-Theos, Dominus et Deus, Tuan dan Dewa , karena sebagai pemimpin tertinggi kaisar dianggap sebagai titisan dewa. Sedangkan di dalam LXX kata Kyrios-Theos menerjemahkan kata Ibrani YAHWEH ELOHIM. Kata yang digunakan dalam pengakuan Tomas, ”Ya Tuhanku dan Allahku” dapat ditemukan di dalam kitab Mazmur 35,23. Di dalam mazmur kata tersebut mempunyai konteks doa. Sedangkan di dalam pengakuan Tomas kata ini bukan dalam konteks doa, melainkan murni sebagai pengakuan iman .
Dapat dikatakan di situ ada dua kebudayaan yang digabung, Yunani dan Yahudi. Gabungan dua kata tersebut, yang diletakkan dalam mulut Tomas, hendak menggambarkan keilahian Kristus secara universal , sebab budaya Yunani pada jaman itu dianggap sebagai lambang dari sesuatu yang universal, sesuatu yang mendunia. Selain itu, kata Tuhan dalam budaya Yunani-Yahudi hendak dilukiskan sebagai kekuatan esakatologis dari Allah dan dewa-dewa. Allah dan Dewa-dewa dianggap mempunyai kekuatan yang mengetahui dunia masa yang akan datang, dunia eskaton. Sedangkan kata Allah hendak menggambarkan kekuatan daya cipta dari Allah dan para dewa . Allah dan Dewa-dewa mempunyai kekuasaan untuk menciptakan apa yang ada di bumi ini. Jadi, pengakuan Tomas dapat dimengerti sebagai atribut dua kekuatan ilahi yang ada pada Kristus.
2. KONTEKS DALAM INJIL YOHANES
a. Kata Tuhan
Dalam injil Yohanes kata Tuhan sendiri digunakan dalam konteks yang berbeda-beda. Kata Tuhan dalam injil tersebut digunakan sebanyak 52 kali. Namun, penggunaan tersebut bukan hanya dalam konteks Tuhan yang sudah bangkit, karena ada yang hanya menggunakan kata Tuhan dalam arti sebagai kesopanan saja atau dalam arti ”tuan” (bdk 6,23.68; 11,28; 13,13). Kata Tuhan dalam konteks Tuhan yang mulia yang telah bangkit nampak jelas digunakan dalam kisah penampakkan setelah kebangkitan melalui mulut Maria Magdalena (20,17), para murid (20,20), pengakuan Tomas (20,28), dan para murid (21,4). Kata Tuhan yang digunakan Yohanes memang nampaktercampur, apakah yang dimaksud adalah Tuhan yang sudah mulia atau hanya bersifat kesopanan saja.
Dari situ nampak bahwa kata Tuhan rupanya sudah kerap digunakan atau sudah menjadi lazim dalam tradisi gereja perdana . Misalnya dalam tradisi Paulus, gelar Kyrios yang ditujukan secara khusus pada Yesus Kristus sudah menjadi hal yang biasa dipakai (Rm 10,13.16; I Kor 1,31; 10,22; II Kor 10,17; Ef 4,8; II Tes 1,8-12) . Sedangkan Allah (theos) pada gereja perdana merupakan sebutan yang dikhususkan kepada Bapa, yang artinya Allah sebagai asal-usul dari segala sesuatu yang telah menjadi Bapa Yesus Kristus dan umatNya (lh.1 Kor 8, 6) . Mereka hampir tidak pernah memberikan nama Allah yang ditujukan kepada Yesus. Maka dapat dikatakan bahwa kata Tuhan sudah menjadi umum di dalam tradisi gereja perdana yang ditujukan pada Yesus, dan kata Allah merupakan nama yang dikhususkan kepada Allah Bapa. Oleh karena itu, kata Tuhan tidak atau kurang menjadi sasaran dan tujuan dari tulisan Yohanes.
b. Kata Allah
Tulisan Yohanes berbeda dengan tulisan Paulus dan gereja perdana. Ia lebih menfokuskan diri kepada keallahan Yesus. Hal ini merupakan sesuatu yang baru dan tidak lazim pada gereja awal. Dengan pengakuan Tomas, dia hendak menampilkan bahwa Yesus tidak hanya Tuhan sebagaimana yang sudah biasa disebut pada jemaat perdana. Di sini Yohanes hendak menegaskan bahwa Yesus juga adalah Allah. Dengan kalimat lain, Yohanes hendak menyamakan atau mengidentifikasikan Yesus dengan Allah (10,30.33) . Dalam kerangka berpikir seperti itu Yohanes menuliskan seluruh injilnya. Dan, rupanya hal itu menjadi suatu pusat Kristologi Yohanes . Ia dengan menampilkan injilnya dari awal sampai akhir dengan menggambarkan siapakah, dari manakah, dan bagaimanakah Yesus.
Peng-identifikasi-an Yesus yang disamakan dengan Allah dimulai dalam prolog. Yohanes mengawalinya dengan pernyataan bahwa pada mulanya adalah firman, dan firman itu adalah Allah (1,1). Firman tersebut telah menjadi daging dan tinggal di antara manusia (1,14), dan firman tersebut adalah Yesus (1,17). Maka dengan demikian, Yesus sama dengan Allah. Sebagai Allah dengan sendirinya Yesus berasal dari Allah, maka dari itu tidak mengherankan bila dikatakan bahwa Ia ada sebelum Abraham ada (8,58), bahkan sebelum dunia dijadikan Ia sudah ada (17,24) . Di situ hendak ditekankan keberadaan Yesus yang bereksistensi sebelum segalanya ada seperti halnya Allah (konsep pra-eksistensi Yesus). Yohanes pun mengutip dari Perjanjian Lama bahwa nabi Yesaya telah melihat kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia (12,41). Di situ Yohanes hendak menekankan bahwa dengan melihat Yesus orang akan melihat Allah (14,9; bdk 8,19) sebab Yesus berada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Yesus (10,38; 14,10; 17,21), sehingga dapat dikatakan ada kesatuan antara Yesus dan Bapa, ”Aku dan Bapa adalah satu” (10,30).
Yohanes juga memberi tekanan secara khusus bahwa Yesus adalah Allah dengan berulangkali menampilkan kata “AKULAH DIA” (8, 24.28.58; 13,19) . Memang tidak semua kata tersebut dalam injilnya yang menyatakan kesamaan dengan Allah, namun keempat ayat (8,24.28.58; 13,19) jelas menegaskan bahwa Yesus adalah Allah. Ungkapan ini diambil atau diadopsi oleh Yohanes dari Perjanjian Lama yang menekankan pernyataan diri Allah. Dalam Yesaya 43,10 dikatakan, ”supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti bahwa Akulah Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Akulah Allah dan tidak ada penyelamat selain daripada-Ku”. Hal ini jelas bila Yesaya dibaca dalam terjemahan Yunani (LXX), yang menggunakan kata yang sama seperti yang digunakan Yohanes, yang menerjemahkan kata Akulah Dia, yaitu ”ego eimi” .
Penginjil sadar bahwa kata-kata Yesus yang menyamakan diri dengan Allah ini sangat ditentang oleh orang Yahudi. Mereka bereaksi atas pernyataan Yesus tersebut dengan hendak merajam Yesus (8,25.59), karena bagi orang Yahudi menyebut diri atau menyamakan diri dengan Allah dianggap sebagai penghujatan terhadap Allah (bdk 10,33.36). Hal ini menandakan dengan jelas bahwa penginjil memang dengan sengaja dan sadar memberikan kata-kata tersebut dalam injilnya sebagai suatu pengidentifikasian Yesus yang disamakan dengan Allah . Dengan kata lain, dia hendak mengakui bahwa Yesus adalah Allah.
Dan, pengakuan Tomas ini menjadi suatu puncak dari keterangan Yohanes bahwa Yesus adalah Allah. Penghormatan kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang diletakkan oleh penginjil dalam mulut Tomas merupakan suatu pemenuhan dari seluruh tulisannya bahwa dengan menghormati Anak berarti juga menghormati Bapa (5,23), dan bila Anak ditinggikan, maka kamu akan tahu bahwa Akulah Dia (8,28) . Di situ memang hendak menegaskan bahwa Tuhan yang telah bangkit adalah benar-benar Allah . Dengan demikian, pengakuan Tomas ini mengakhiri dan menyimpulkan seluruh injilnya.
3. PENUTUP
Dengan mengakukan bahwa Yesus tidak hanya Tuhan, tetapi juga adalah Allah, Yohanes hendak menekankan bahwa keselamatan Allah dinyatakan dalam wujud baru. Kehadiran Allah yang dulu tinggal di antara manusia, di tengah-tengah umat-Nya, sekarang peranan-Nya digantikan oleh Yesus . Allah mewahyukan diri-Nya dalam Anak-Nya yang Tunggal (1,18; 3,16; 8,19), yaitu Yesus dari Nazaret. Dan, melalui Anak-Nya tersebut Dia berbicara, mewartakan, mengidentifikasi, dan menjadi pengatara Bapa. Oleh karena itu, penginjil hendak mengatakan bahwa dengan mengenal Yesus para murid akan mengenal Allah , sebab Yesus adalah Allah sendiri.
Tentu saja pengakuan Tomas tersebut tidak dapat dilepaskan dari maksud dan tujuan dari injil Yohanes. Maksud dan tujuan dari injil tersebut tidak lain adalah hendak meyakinkan kepada pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah (20,31).
TEOLOGI