“Bhineka Tunggal Ika”
Disusun oleh : Hendrikus. A. R
Bab I : Pendahuluan
Judul dari makalah ini merupakan pepatah lawas (=lama) yang menggambarkan keadaan Indonesia. Kalimat Bhineka Tunggal Ika berasala dari bahasa Sansekerta. Bhineka=berbeda, Tunggal=satu, Ika=tetapi. Berarti Bhineka tunggal ika adalah berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam kalimat tersebut mengandung arti bahwa Indonesia sangatlah plural . Plural dari segi apa? banyak hal. Dalam hal ekonomi, politik, budaya, dan yang akan menjadi topik pembahasan kali ini adalah plural dalam hal agama. Oleh sebab itu dalam makalah kali ini penulis akan menyajikan konsep model Teologi Agama-Agama dari Paul Knitter . Kemudian penulis akan menilai model manakah yang sesuai dengan keadaaan Indonesia yang plural, terutama dalam hal pluralitas agama. Bab I membicarakan tentang apa yag hendak ditulis dalam makalah ini dan juga sitematika sederhana dari makalah ini. Bab II akan membicarakan tentang konteks Indonesia pluralitas agama di Indonesia secara khusus. Kemudian dilanjutkan dengan permasalahan tentang pluralitas agama yang sering terjadi di Indonesia. Pada Bab III akan membicarakan model apakah yang menurut penulis sesuai dengan keadaan Indonesia. Kemudian Pada Bab IV penulis akan membahas mengenai pentingnya dialog sebagai upaya berteologi Agama-Agama dalam konteks Indonesia. Kemudian pada bagian terakhir, yakni Bab V merupakan penutup dari makalah ini yang berisi kesimpulan, harapan, dan keoptimisan penulis akan perdamaian diantara pluralitas agama di Indonesia. Selamat membaca…
Bab II : Konteks Indonesia
Terdapat enam agama resmi diakui di Indonesia. Islam merupakan agama yang paling banyak dianut di Indonesia. Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan yang paling akhir di sahkan yakni Konghuchu. Meskipun Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh orang Indonesia, dasar kenegaraan yang berlaku di Indonesia bukanlah dasar Negara Islam, melainkan Negara pancasila yang mengakui dan menghormati enam agama resmi yang ada di Indonesia.
Dari konteks Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pluralitas merupakan hal yang tidak dapat disangkal dalam keberadaan Negara Indonesia, termasuk pluralitas agama. Akan tetapi apakah dengan pengakuan akan adanya pluralitas agama ini tidak membawa permasalahan? Ternyata tidak. Sepanjang sejarah Indonesia tak jarang terjadi konflik yang menyangkut agama tertentu. Beberapa konflik yang menyangkut agama beberapa diantaranya adalah konflik di Ambon dan konflik di Poso yang melibatkan umat beragama Islam dan Kristen. Konflik ini merupakan konflik yang tidak sederhana karena banyak memakan korban jiwa dan kerusakan materi, serta banyak warga yang mengalami traumatis. Selain itu juga terjadi konflik di Jawa Barat yang juga melibatkan umat beragama Kristen dan Islam yang mengakibatkan sejumlah gereja harus “tutup” karena disegel dan dihancurkan.
Dari ketiga konflik tersebut maka dapat dilihat bahwa pluralitas agama menjadi sesuatu yang mengerikan karena berpotensi untuk melahirkan konflik horisontal . Lalu bagaimana kita sebagai orang Kristen melihat pluralitas agama di Indonesia kini? Apakah benar ungkapan “Bhineka tunggal ika” bisa di aplikasikan dalam pluralitas agama?
Bab III : Model-model (Pendekatan)
Knitter mengemukakan terdapat empat model yang bisa digunakan dalam berteologi Agama-Agama. Ke empat model tersebut adalah [1]Model Penggantian, [2]Model Pemenuhan, [3]Model Mutualis, [4]Model Penerimaan. Dari empat model yang ditawarkan Knitter, Model Penggantian kurang sesuai dengan konteks Indonesia karena Indonesia sangat plural dan rawan terjadi konflik bila menggunakan pendekatan pertama ini. Model Pemenuhan lebih baik dari pada model pertama, tetapi menurut saya juga masih bisa diterima di konteks plural karena menganggap agama lain harus menerima pemenuhan yang datang dari Yesus . Sedangkan model keempat merupakan model “sorgawi” karena model inilah yang paling ideal. Karena idealnya, model pendekatan ini kurang realistis untuk konteks pluralitas agama di Indonesia. Oleh sebab itu menurut saya model pendekatan yang realistis untuk pluralitas agama di Indonesia adalah Model ketiga, Model Mutualis.
Mutualitas, berasal dari kata mutual berarti saling memberi, saling menguntungkan. Hal ini berarti pendekatan ini memperhitungkan adanya agama-agama lain yang ada di dunia. Dalam makalah ini (konteks Indonesia) berarti memperhitungkan adanya agama lain. Untuk mengerti lebih jelas bagaimana mekanismenya, Knitter mengemukakan terdapat tiga jembatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi untuk menuju ke Model Mutualitas.
Jembatan Filosofis-Historis
Pemikiran John Hick banyak dipakai untuk membahas jembatan Filosofis-Historis ini. Menurut saya terdapat tiga hal yang menjadi point penting dalam membahas jembatan Filosofis-Historis. [1] Hick menggunakan pemikiran Nikolaus Copernicus, seorang astronom. Copernicus berpendapat bahwa matahari merupakan pusat dari tata surya. Pendapatnya ini melawan pemikiran sebelumnya (yang ada di Alkitab) bahwa bumi merupakan pusat dari tata surya. Hick menganalogikan matahari merupakan Tuhan , sedangkan agama-agama merupakan tata suryanya. Hal ini berarti Yang Nyata merupakan pusat dari seluruh agama yang ada. Pemikiran Hick ini hendak melawan paham Ptolematik yang mengungkapkan bahwa keKristenan merupakan pusat dari seluruh agama-agama dunia ini . Semua agama berproses menuju kepada Yang Nyata. [2] Akan tetapi pemikiran Hick ini rawan dengan apa yang disebut dengan Relativis. Hal ini disebabkan karena memandang semua agama sama saja karena sama-sama berproses menuju ke Yang Nyata. Akan tetapi Hick menjelaskan bahwa setiap agama memiliki filter tersendiri agar tidak terjatuh kepada Relativis. Filter itu adalah etika, bukan dogma atau pengalaman . [3] Yesus sebagai “Anak Allah” dipandang sebagai ungkapan metafor yang menunjukkan kekhasan Yesus . Yesus bukan dipandang sebagai satu-satunya “Anak Allah”, melainkan “Anak Allah” harus dipandang juga sebagai orang-orang Kristen. Selain itu, ungkapan Yesus sebagai “Anak Allah” janganlah dipandang sebagai ungkapan faktual, riil, dan metafisik, yang bersifat eksklusif. Jadi menurut saya terbuka kemungkinan ada “Anak Allah” lain selain Yesus.
Jembatan Religius-Mistik
Pemikiran Raimundo Pannikar banyak mewarnai penjelasan Jembatan Filosofis-Historis ini. Beberapa pemikiran penting yang diangkat dari pemikiran Pannikar adalah: [1] Pengalaman mistik harus dipandang sebagai kesatuan kosmitreandric (kosmis=dunia, teos=Tuhan, aner=manusia). Oleh sebab itu pengalaman terus berkembang dan terus berubah bergantung dengan hubungan antara manusia menyadari dan memberi respon terhadap Tuhan dan dunia . [2] Panikkar mengkritik Hick yang mengemukakan bahwa Yang ilahi hanya ada satu dan semua agama berpusat kepada Yang ilahi tersebut. Menurut Panikkar, Yang ilahi tidak hanya satu, tapi beragam dan berbeda satu sama lain . Oleh sebab itu dibutuhkan dialog yang didasari oleh Roh yang “saling menyuburkan” . [3] Yesus berbeda dengan Kristus. Kristus dipandang sebagai manifestasi Allah. Oleh sebab itu Yesus adalah Kristus, tetapi Kristus tidak sama dengan Yesus . Selain itu, ungkapan Yesus adalah satu-satunya Allah dan juru selamat harus dimaknai ulang. Menurut Panikkar, Ungkapan tersebut merupakan ungkapan yang bersifat konvensional(pengakuan) dari jemaat perdana yang membutuhkan pengakuan pribadi mengenai siapa Yesus menurut mereka .
Jembatan Etis-Praktis
Beberapa pemikiran dari Knitter mengenai Jemabatan Etis-Praktis ini adalah: [1] Antar agama memiliki satu fokus bersama yakni melaksanakan tanggung jawab Global. Tanggung jawab Global ini adalah bertanggung jawab kepada dunia dan penghuninya . Tanggung jawab global ini secara teknis haruslah berpijak pada Realitas universal yang benar-benar terjadi yakni problem penderitaan. [2] Oleh sebab itu dibutuhkan dialog dalam menyikapi problem penderitaan ini. Dialog yang dibutuhkan bukanlah dialog dogmatis yang dilakukan oleh cindekiawan guna memperdebatkan perbedaan dogma pada masing-masing agama , melainkan dialog kehidupan yang dilakukan oleh warga sipil yang mau berdialog untuk bersama-sama berperan mengatasi problem penderitaan . [3] Yesus dipandang sebagai seorang pembebas yang mengungkapkan kepedulian hatinya yakni memberitakan, melaksanakan, dan mengembangkan kerajaan Allah . [4] Melalui “bekerja” bersama untuk menangani problem penderitaan, diharapkan masing-masing orang mampu menemukan Yang Ilahi melalui karya bersama. Menemukan Yang Ilahi dalam panggilan-Nya untuk mengatasi permasalahan penderitaan.
Dari ketiga jembatan yang ada, menurut saya yang sesuai dengan konteks Indonesia, kita bisa menerapkan jembatan Etis-Praktis (tetapi tidak melupakan ke dua jembatan yang lain). Mekanisme yang bisa dilakukan melalui jembatan ini adalah melalui Dialog. Pertanyaan selanjutnya adalah dialog yang seperti apa?
Bab IV : Dialog
Armanda Riyanto mengemukakan terdapat empat jenis dialog yakni: [1] Dialog Kehidupan. Dialog kehidupan ini digerakkan oleh sikap solider dan kebersamaan. [2] Dialog Karya. Sasaran dari dialog ini adalah pembangunan manusia dan meningkatkan martabat manusia. [3] Dialog Pandangan Teologis. Dialog ini bertujuan untuk memahami pandangan Teologis agama lain. [4] Dialog Pengalaman Keagamaan. Dialog ini berbagi pengalaman doa, kontemplasi, dan pengalaman iman yang mendalam.
Kemudian menurut Panikkar terdapat beberapa syarat-syarat dalam perjumpaan agama , antara lain: bebas dari apologi umum dan khusus, berani menghadapi tantangan pertobatan, tidak terpusat pada dimensi historis, bukan sekedar kongres filsafat, bukan sekedar simposium teologis, bukan sekedar ambisi pemuka agama, melandasi perjumpaan agama dalam iman, harapan, dan kasih. Selain itu, Aloys Budi Purnomo mengemukakan juga dibutuhkan keterbukaan dan mengenal nilai-nilai agama lain .
Dari beberapa jenis dialog yang dikemukakan Riyanto, dan juga untuk menjawab pertanyaan akhir bab III, menurut saya untuk konteks Indonesia, Dialog karya merupakan hal yang bisa diwujudkan di masa kini. Hal ini tidak dapat di lepaskan dari konteks kemiskinan di Indonesia. Menurut data dari BPS terdapat kurang lebih 10% jumlah warga Indonesia yang masuk dalam kategori miskin . Dengan Dialog karya maka akan merintangi batasan-batasan keagamaan di Indonesia. Apalagi bila permasalahan yang dihadapi adalah permasalahan bersama, yakni problem kemiskinan.
Bab V : “Bhineka Tunggal Ika” yang baru dalam perspektif pluralitas agama di Indonesia. (penutup)
Model mutualitas merupakan model yang menurut saya relevan bila di terapkan di Indonesia. Memang model ini tak lepas dari kritikan dan memang saya mengakui bahwa model Mutualis memiliki aroma Relativis yang menyengat. Meski demikian menurut saya model Mutualitas bukanlah relatif karena tetap menghargai keunikan yang ada pada setiap agama. Oleh sebab itu makalah saya ini saya beri judul Bhineka Tunggal Ika dengan huruf miring. Artinya adalah terdapat pemaknaan baru pada kalimat Bhineka Tunggal Ika dalam konteks pluralitas agama di Indonesia. Pemaknaan tersebut adalah Bhineka=agama yang berbeda, tunggal=satu Yang Nyata (baca:Tuhan). Jadi dengan kata lain artinya adalah banyak agama tetapi tetapi satu Yang Nyata. Saya menyetujui pandangan Hick (Jembatan Filosofis-Historis) yang mengungkapkan bahwa ada satu Yang Nyata. Dan semua agama berproses menuju ke arah yang Nyata. Yang Nyata apapun namanya memiliki satu kehendak, yakni kebaikan bagi dunia ini. Semua agama mepercayai bahwa agama mereka mendatangkan kebaikan bagi manusia, bukan sebaliknya. Dalam perspektif Kristen disebut sebagai Kerajaan Allah yang membawa damai sejahtera bagi seluruh ciptaan (Jembatan Etis-Praktis). Tetapi sekali lagi, setiap agama tidaklah sama, melainkan memiliki keunikan tersendiri dan mungkin sekali untuk saling melengkapi.
Dalam teknisnya, digunakanlah Dialog untuk mewujudkan model Teologi Agama-agama Mutualis ini. Dengan berdialog, terutama dialog karya, diharapkan mampu mereduksi isu-isu agamanisasi. Tentu dalam berdialog tetap memiliki syarat-syarat agar dialog karya ini mampu berlangsung dengan optimal. Setelah dialog karya bisa tersosialisasikan di Indonesia, barulah beranjak ke dialog pandangan Teologis dan mudah-mudahan bisa sampai pada Dialog Pengalaman Keagamaan. Inilah sebuah tugas besar yang harus di lakukan oleh “Anak Allah”.
-SDG-
Daftar pustaka
Karkkainen, Veli-Matti, “An introduction to the theology of religions”, Inter Varsity Press: USA, 2003.
Knitter, Paul. F, Pengantar Teologi Agama-Agama, Kanisius: Yogyakarta, 2008.
Panikkar, Raimundo, Dialog intra religius, Kanisius: Yogyakarta, 1994.
Purnomo, Aloys Budi, Membangun teologi inklusif-pluralistik, Kompas: Jakarta, 2003.
Riyanto, Armada, Dialog agama. Dalam pandangan Katolik. Kanisius: Yogyakarta, 1995.
TEOLOGI